cover
Filter by Year
Biotropika
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -
Articles
196
Articles
Makroinvertebrata sebagai Bioindikator Kualitas Perairan Waduk Batujai di Lombok Tengah

Sukmaring Kalih, Lalu Achmad Tan Tilar Wangsajati, Septian, I Gede Nano, Sativa, Denianto Yoga

Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Waduk Batujai yang terletak di Kabupaten Lombok Tengah merupakan penampung dari beberapa aliran sungai di wilayah tersebut. Hal ini menjadikan Waduk Batujai menjadi tempat akumulasi berbagai bentuk bahan pencemar yang terbawa oleh sungai-sungai inletnya. Pengambilan contoh makroinvertebrata dilakukan dengan menggunakan jala atau jaring dengan ukuran bukaan 30x30 cm2. Selain itu, beberapa parameter fisik dan kimia lingkungan juga diamati seperti suhu, kecerahan, salinitas, dan pH. Analisis data dilakukan untuk mengetahui tingkat kelimpahan, keanekaragaman, dominansi, dan indeks penting biotik. Data hasil analisis diperoleh suatu bentuk kuantifikasi kondisi perairan yang selanjutnya diuraikan secara deskriptif. Makroinvertebrata yang telah teridentifikasi dari hasil sampling dalam penelitian ini sebanyak 495 individu dari 19 spesies dalam 10 famili berbeda. Spesies yang memiliki kelimpahan tertinggi yaitu Anisops breddini. Keberadaan makroinvertebrata yang ada di Waduk Batujai memperlihatkan nilai Family Biotic Index (FBI) sebesar 4,73. Nilai tersebut berada di kisaran 4,26-5,00 dengan kategori kualitas air yang “Baik”. Analisis SIGNAL 2 untuk makroinvertebrata Waduk Batujai menunjukkan nilai sebesar 5,73 yang mengkategorikan Waduk Batujai sebagai habitat yang baik.

Identifikasi Padi Lokal Jawa Timur Berdasarkan Gen BADH2 yang Berpotensi sebagai Padi Beraroma

Putra, Kurniawan Setia, Listyorini, Dwi, Suharti, Suharti

Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Padi lokal merupakan padi liar yang telah dibudidayakan oleh petani Indonesia. Potensi padi lokal dapat digunakan sebagai plasma nutfah yang memiliki berbagai gen dalam mengendalikan sifat tertentu. Beberapa beras di Indonesia memiliki potensi sebagai beras aromatik. Berbagai varietas padi aromatik berpotensi meningkatkan kualitas beras di Indonesia. Aroma beras dikendalikan oleh gen betain aldehid dehidrogenase (BADH). Gen ini terdiri dari dua alel yaitu BADH1 dan BADH2, mengkodekan enzim yang bertanggung jawab untuk mengkatalisis sintesis senyawa 2-acetyl-1-pyrroline (2-AP). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi aroma varietas Berlian. Gen BADH2 diisolasi dari daun pada ketiga varietas tersebut dan diamplifikasi menggunakan primer forward 5'-TTGTTTGGCTCTTGCTGATG -3' dan primer reverse 5'CATAGGAGCAGCTGAAATATATACC-3'. Fragmen gen BADH2 berhasil diamplifikasi dengan ukuran 258 bp (varietas Berlian). Sekuen BADH2 varietas Berlian menunjukkan kemiripan 100% dengan sekuen BADH2 padi tidak beraroma dan tidak memiliki kemiripan dengan sekuen BADH2 varietas padi beraroma. Analisis potensi padi beraroma menunjukkan bahwa varietas Berlian tidak berpotensi sebagai padi beraroma.

Varietas Padi Lokal Jawa Timur Tahan Cekaman Kekeringan Berdasarkan Gen DREB2A

Lathif, Yudrik, Listyorini, Dwi, Suharti, Suharti

Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Padi (Oryza sativa L.) adalah tanaman pangan utama masyarakat Indonesia. Masalah kekeringan dalam upaya penanaman padi adalah hal yang biasa di kalangan petani. Penelitian tahan cekaman kekeringan pada padi perlu dilakukan untuk mengatasi masalah ketersediaan pangan. Sifat tahan cekaman kekeringan pada tanaman salah satunya dikendalikan oleh gen DREB2A. Varietas padi lokal Indonesia untuk tahan cekaman kekeringan belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari varietas padi lokal Jawa Timur yang tahan terhadap cekaman kekeringan menggunakan gen DREB2A, yang diisolasi menggunakan primer forward 5’-CCT CAT TGG GTC AGG AAG AA-3’ dan primer reverse 5’-GGA TCT CAG CCA CCC ACT TA-3’. Penelitian ini menggunakan tiga varietas padi lokal, yaitu Berlian dan SOJ A3, keduanya dari Banyuwangi, dan varietas Jawa dari Malang. Isolasi DNA total dilakukan mengikuti protokol Kit Macherey-Nagel. Amplifikasi gen DREB2A dilakukan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Fragmen gen DREB2A berhasil diamplifikasi sepanjang 239 bp (varietas Berlian), 239 bp (varietas SOJ A3), dan 240 bp (varietas Jawa). Analisis sampel gen DREB2A varietas padi lokal Jawa Timur menunjukkan hilangnya kemampuan gen DREB2A dari varietas Jawa untuk mengikat cis-regulator elemen promotor gen target.

Hubungan antara Aktivitas Manusia dan Keberadaan Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) di Kawasan Hutan Lindung di RPH Sumbermanjing Kulon, Jawa Timur

Aryanti, Nirmala Ayu, Hartono, Naufal Akbar, Ramadhan, Fajar, Pahrurrobi, Pahrurrobi

Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Keberadaan hutan lindung yang tersisa di kawasan Malang Selatan sangat rentan akan kerusakan habitat satwa liar akibat tingginya aktivitas manusia. Keberadaan kukang Jawa (Nycticebus javanicus) saat ini mampu bertahan hidup pada kawasan yang dikeliling oleh aktivitas manusia yang tinggi. Oleh karena itu, pengaruh aktivitas manusia terhadap keberadaan kukang Jawa yang ada di hutan lindung RPH Sumbermanjing Kulon, Jawa Timur perlu diketahui. Pengambilan data titik keberadaan individu kukang Jawa dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Wawancara dengan masyarakat dan pencatatan bentuk aktivitas manusia di sekitar hutan lindung RPH Sumbermanjing Kulon, Jawa Timur juga dilakukan untuk mengambil data. Analisis data dilakukan dengan mengukur jarak antara keberadaan kukang Jawa dengan keberadaan aktivitas masyarakat menggunakan program ArcGis 10.3. Berdasarkan perjumpaan langsung dan informasi dari masyarakat ditemukan enam individu kukang Jawa. Kukang Jawa cenderung ditemukanjauh dari pemukiman dan jalan setapak, namun ditemukan dekat dengan jalan utama dan wisata pantai yang berada di sekitar hutan lindung. Oleh karena itu, keutuhan kawasan hutan lindung perlu tetap dijaga dari segala bentuk aktivitas manusia yang tinggi.

Pengaruh Desinfektan dan Lama Perendaman pada Sterilisasi Eksplan Daun Sukun (Artocarpus altilis (Parkinson ex. F.A Zorn) Fosberg)

Setiani, Nur Asni, Nurwinda, Fitri, Astriany, Dewi

Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 6, No 3 (2018)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Daun sukun (Artocarpus altilis) merupakan herbal yang banyak dimanfaatkan untuk pengobatan. Kultur jaringan menjadi alternatif dalam meningkatkan produktivitas daun sukun dan metabolit sekunder yang dihasilkannya. Tahap pertama yang menentukan keberhasilan perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan adalah teknik sterilisasi. Penelitian ini bertujuan mendapatkan metode sterilisasi terbaik dengan melihat pengaruh penggunaan natrium hipoklorit 5,25% dan alkohol 70% serta waktu perendaman terhadap penurunan kontaminasi. Pada penelitian ini terdapat 10 kelompok yang terdiri dari kelompok kontrol positif, kontrol negatif, perendaman dengan alkohol 70% selama 5 menit dan 10 menit, perendaman dengan natrium hipoklorit 5,25% selama 5 menit dan 10 menit, serta kombinasi natrium hipoklorit 5,25% dan alkohol 70% selama 5 menit dan 10 menit.  Parameter pengamatan meliputi waktu pertama kontaminasi, persentase kontaminasi jamur dan bakteri, dan penampilan eksplan yang diamati selama 40 hari. Hasil penelitian pada penggunaan masing-masing desinfektan, baik alkohol 70% maupun natrium hipoklorit 5,25% dengan waktu perendaman 10 menit menunjukkan tidak adanya kontaminasi jamur dan bakteri, tetapi pada perlakuan natrium hipoklorit 5,25% terjadi perubahan warna eksplan menjadi kecoklatan. Kombinasi dari kedua desinfektan menunjukkan adanya kontaminasi jamur dan bakteri serta adanya perubahan warna eksplan. Sterilisasi eksplan daun sukun yang terbaik dapat dilakukan dengan cara perendaman menggunakan alkohol 70% selama 10 menit.

Efek Pelaparan dan Akumulasi Polifosfat terhadap Biopresipitasi Uranium pada Bacillus cereus A66

Octavia, Bernadetta, Yuwono, Triwibowo, Taftazani, Agus

Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pelaparan dan akumulasi polifosfat pada bakteri diduga dapat meningkatkan biopresipitasi uranium. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek pelaparan dan akumulasi polifosfat terhadap peningkatan biopresipitasi uranium pada Bacillus cereus A66. Pada penelitian ini B. cereus A66 ditumbuhkan terlebih dahulu (prakultur) dalam Tryptone Glucose Yeast Extract (TGY), pada suhu ruang (± 28ºC) hingga fase logaritmik (± 16 jam). Pada perlakuan pertama, prakultur B. cereus A66 diberi perlakuan pelaparan fosfat dalam medium P-free, selanjutnya dipindahkan ke medium P-uptake untuk akumulasi fosfat. Untuk mengamati biopresipitasi uranium, sel bakteri dipindahkan ke dalam larutan uranium 1 mM. Pada perlakuan kedua, prakultur B. cereus A66 langsung dipindahkan ke dalam larutan uranium tanpa fase pelaparan dan akumulasi polifosfat. Sedangkan pada perlakuan ketiga,  B. cereus A66 tanpa fase pelaparan dikultur dalam medium P-uptake kemudian dipindahkan ke larutan uranium. Pada perlakuan keempat, B. cereus A66 dikondisikan dengan pelaparan fosfat dalam medium P-free, diikuti dengan pemindahan ke dalam larutan uranium. Perlakuan kedua, ketiga dan keempat dirancang untuk mengkonfirmasi efek perlakuan pertama dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa B. cereus A66 yang mengalami pelaparan fosfat dapat mengakumulasi fosfat delapan kali lebih banyak ketika dipindahkan ke medium P-uptake, dibandingkan dengan B. cereus A66 yang tidak mengalami pelaparan fosfat. Selain itu, B. cereus A66 yang mengakumulasi lebih banyak fosfat juga menunjukkan peningkatan biopresipitasi uranium sebesar 1,5 kali lebih banyak dibandingkan dengan B. cereus A66 yang tidak mengalami pelaparan fosfat. Fenomena ini diyakini digerakkan oleh metabolisme polifosfat yang dikontrol oleh aktivitas gen PPK dan PPX. Secara keseluruhan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa semakin banyak polifosfat terakumulasi dalam sel, semakin meningkat respon biopresipitasi uranium dalam hal jumlah uranium yang diambil dari larutan dan efisiensi waktu pengambilannya. Strategi ini dapat dikembangkan lebih lanjut untuk bioremediasi air dan tanah yang terkontaminasi uranium.

Pemanfaatan Rhizobakteri dari Gulma di UB Forest sebagai Agen Antagonis Penyakit Layu Bakteri pada Kentang

Izza, Junda Fauzul, Aini, Luqman Qurata, Kusuma, Restu Rizkyta

Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penyakit layu bakteri yang diakibatkan oleh patogen Ralstonia solanacearum merupakan kendala yang sering terjadi pada budidaya tanaman kentang. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan rhizobakteri yang efektif mengendalikan penyakit layu bakteri dan meningkatkan pertumbuhan pada tanaman kentang. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, UB Forest, dan Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Rhizobakteri diisolasi  dari  perakaran gulma di UB Forest kemudian dilakukan pengujian aktivitas sebagai pemicu pertumbuhan. Rhizobakteri yang terpilih dilakukan pengujian sifat antagonis terhadap R. solanacearum secara in vitro dan penekanan terhadap angka kejadian penyakit serta pertumbuhan tanaman kentang. Identifikasi isolat dilakukan secara fisiologi, biokimia dan molekuler. Hasil eksplorasi didapatkan 20 isolat rhizobakteri yang bersifat antagonis terhadap R. solanacearum. Isolat AGR 2 memiliki diameter penghambatan yang sama dengan bakterisida secara in vitro. Secara in vivo isolat bakteri AGR 1, AGR 2 dan EPT 9 dapat meningkatkan rerata jumlah daun lebih tinggi dibandingkan dengan bakterisida pada 1 dan 2 MSA (minggu setelah aplikasi). EPT 9 mampu menekan angka kejadian penyakit layu bakteri 55,6 % setelah 5 MSA dan meningkatkan berat umbi sebesar 59,3 % lebih tinggi dari perlakuan kontrol. Isolat  AGR 2 diketahui sebagai Pseudomonas aeruginosa dan EPT 9 merupakan Bacillus cereus.

Potensi Penambahan Probiotik (Lactobacillus pentosus K50) untuk Meningkatkan Kualitas Pakan Ikan Air Tawar

Daten, Helena, Ardyati, Tri

Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pakan merupakan sumber nutrisi bagi ikan yang dapat diproses dengan penambahan probiotik. Probiotik merupakan mikroba yang berperan untuk meningkatkan kesehatan inang dan kualitas pakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui viabilitas bakteri asam laktat (BAL), jumlah bakteri Salmonella dan coliform, kapang, serta kandungan nutrisi pakan. Perlakuan fermentasi terdiri dari tanpa penambahan BAL (kontrol), penambahan BAL Sp. 1, probiotik (Lactobacillus pentosus K50), dan bakteri konsorsium (Lactobacillus pentosus K50 dan BAL Sp. 1). Jumlah BAL, Salmonella dan coliform serta kapang dideteksi dengan metode Total Plate Count. Kandungan protein diuji menggunakan metode Kjedahl, karbohidrat dengan metode total carbohydrate by difference, dan lemak, abu, serta air dengan metode gravimetri. Data dianalisis menggunakan one way ANOVA selang kepercayaan 95 %. Viabilitas BAL pada perlakuan penambahan BAL Sp.1 mengalami penurunan dari hari ke-0 sampai 20, sedangkan perlakuan dengan penambahan Lactobacillus pentosus K50 dan konsorsium meningkat dari hari ke- 0 sampai 20 berturut-turut 12,6 x 108 CFU/g menjadi 17,4 x 108 CFU/g dan 11,2 x 108 CFU/g menjadi 14,9 x 108 CFU/g. Bakteri Salmonella tidak tumbuh dalam pakan kontrol dan fermentasi. Jumlah bakteri coliform dan kapang dalam pakan terfermentasi dengan perlakuan probiotik dan bakteri konsorsium mengalami penurunan hari ke-5 sampai 20. Jumlah kapang pada perlakuan dengan penambahan BAL Sp. 1 mengalami fluktuasi disebabkan meningkatnya kadar air selama fermentasi. Kandungan protein relatif stabil, sedangkan kandungan lemak, karbohidrat, dan abu mengalami penurunan selama fermentasi. Penambahan probiotik dalam pakan dapat menghambat pertumbuhan bakteri coliform dan kapang, serta menjaga stabilitas nutrisi pakan.

Study of Reptile and Amphibian Diversity at Ledok Amprong Poncokusumo, Malang East Java

Septiadi, Luhur, Hanifa, Berry Fakhry, Khatimah, Ainul, Indawati, Yunita, Alwi, Muhammad Zakaria, Erfanda, Muhammad Prayogi

Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Malang is one of the areas that have a high diversity of reptiles and amphibians because of the strategic ecosystem but still minimal in terms of research publications. The purpose of this study was to know the diversity of reptiles and amphibian through the existence of herpetofauna species, microhabitat and indicator species. Data was collected during the rainy season, once a month in the period of three months from October 2017 to January 2018 at night. Data collection was conducted using the Virtual Encounter Survey method with different zones and limited by time. The collected specimens were identified with the guidance of literatures. The collected specimens were then preserved at the Animal Physiology Laboratory, Department of Biology, State Islamic University of Maulana Malik Ibrahim Malang. Then, the data was analyzed to obtain the diversity index, frequency and dominance. The result showed that the number of reptiles found in the location site was seven species consisting of Famili Gekkonidae, Scincidae, Agamidae and Elapidae. Mean while for the species of amphibians, it was obtained nine species consisting of Famili Bufonidae, Ranidae, Rhacophoridae, Dicroglossidae, and Microhylidae. The ecosystem consisted of four habitat types including terrestrial, arboreal, semi-aquatic and aquatic. However, based on the value of diversity index, relative frequency, and dominance value, as well as the indicator species, this area has a relatively low diversity, the disturbed environment and therefore conservation efforts need to be undertaken.

Peran Komunitas Moluska dalam Mendukung Fungsi Kawasan Mangrove di Tanjung Lesung, Pandeglang, Banten

Isnaningsih, Nur Rohmatin, Patria, Mufti P.

Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kemampuan ekosistem mangrove untuk memberikan jasa lingkungan tidak terlepas dari peran berbagai fauna akuatik termasuk moluska. Penelitian di hutan mangrove Tanjung Lesung bertujuan untuk mengetahui peran komunitas moluska dalam mendukung fungsi hutan mangrove melalui penghitungan data-data penyusun struktur komunitas moluska, serta memberikan gambaran awal mengenai peluang moluska sebagai agen penyimpan karbon. Pengambilan sampel moluska dilakukan pada enam stasiun yang berbeda dengan metode petak contoh. Struktur komunitas moluska diketahui dengan menghitung nilai frekuensi, kepadatan, keanekaragaman, kemerataan, serta dominansi. Kandungan karbon pada cangkang diukur dengan menggunakan alat C-N analyzer. Komunitas moluska di hutan mangrove Tanjung Lesung terdiri dari delapan spesies. Tiga spesies dengan nilai kepadatan (Ki) dan Indek Nilai Penting (INP) tertinggi adalah Cerithidea cingulata (Ki=187 ind/m2; INP=76,71%), Clithon squarrosus (Ki=99 ind/m2; INP=39,95%) dan Terebralia palustris (Ki=42 ind/m2; INP=24,75%). Spesies T. palustris dan Telescopium telescopium merupakan moluska asli hutan mangrove sehingga kedua spesies tersebut memegang peran penting terutama sebagai pengurai serasah. Kandungan karbon dalam cangkang T. palustris dan T. Telescopium terukur berturut-turut sebesar 10,92 ± 2,33 dan 10,32 ± 0,63% berat kering. Namun, potensi kedua spesies moluska sebagai penyimpanan karbon masih membutuhkan evaluasi dan penelitian lebih lanjut