cover
Filter by Year
Buletin Palawija
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -
Buletin Palawija merupakan publikasi yang memuat makalah review (tinjauan) hasil penelitian tanaman kacang-kacangan dan umbi umbian. Buletin ini diterbitkan secara periodik dua kali dalam setahun (Mei dan Oktober) oleh Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi.
Articles
251
Articles
Pertumbuhan dan Hasil Beberapa Genotipe Kedelai pada Pola Tanam Baris Tunggal dan Baris Ganda

Artari, Rina, Sundari, Titik

Buletin Palawija Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui respons beberapa genotipe kedelai terhadap pola pengaturan baris tanaman. Percobaan dilakukan di Kebun Percobaan (KP) Kendalpayak, Malang mulai Februari hingga Juni 2017, menggunakan rancangan split plot tiga ulangan. Petak utama adalah pengaturan pola baris, yaitu B1 (baris tunggal = 40 cm ×15 cm) dan B2 (baris ganda = 60 cm ×(20 cm ×15 cm), anak petak adalah 15 genotipe kedelai, terdiri dari 12 galur, dan tiga varietas (Dena 1, Dena 2, dan Grobogan) sebagai pembanding. Pemupukan 50 kg Urea + 150 kg SP36 + 150 kg KCl/ha  dilakukan pada saat tanam. Pengendalian gulma dilakukan pada umur 2-4 minggu setelah tanam (MST). Pengamatan  tinggi tanaman, jumlah cabang dan daun, diameter batang, luas daun, dan indeks klorofil daun umur 3, 5, 7, dan 9 MST dilakukan secara destruktif. Pada saat panen diamati jumlah polong isi dan polong hampa, dan bobot biji per tanaman. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan respons genotipe kedelai terhadap pengaturan pola baris tanaman. Genotipe IBK/Argop-276-3, Grob/Pander-395-2, dan Grob/IT-7-2  memberikan respons positif terhadap pola baris tunggal dengan hasil biji  lebih tinggi dibanding ditanam dengan baris ganda. Genotipe Grob/Pander-397-6 dan Grob/Pander-428-1 memberikan respons positif terhadap pola baris ganda, dan mampu menghasilkan biji lebih tinggi daripada ditanam baris tunggal. Genotipe Grob/IT-7-5  memberikan hasil tinggi, baik pada pola baris tunggal maupun baris ganda.

Kedelai sebagai Bahan Pangan Kaya Isoflavon

Yulifianti, Rahmi, Muzaiyanah, Siti, Utomo, Joko Susilo

Buletin Palawija Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kedelai potensial sebagai bahan pangan fungsional, di samping sebagai sumber protein. Hal ini berkaitan dengan keberadaan 12 jenis isoflavon pada biji kedelai, baik dalam bentuk glikosida maupun aglikon. Senyawa isoflavon bermanfaat bagi kesehatan karena memiliki aktivitas antioksidan yang dapat mencegah kanker payudara, kanker kolon, osteoporosis, dan penyakit-penyakit degeneratif seperti penuaan dini, jantung koroner dan hipertensi, serta mengurangi sindrom menopause pada wanita. Kandungan isoflavon pada biji kedelai bervariasi dari 128 hingga 380 mg/100 g, dan yang dominan adalah genistein dan daidzein. Varietas unggul kedelai Devon 1 mengandung total isoflavon 221,97 mg/100 g dan varietas Devon 2 mengandung 30,37 mg/100 g untuk total genistein dan daidzein, sehingga masih terbuka peluang untuk meningkatkan kandungan isoflavon melalui perakitan varietas baru. Selain faktor genetis, kandungan isoflavon kedelai juga dipengaruhi oleh musim tanam, umur panen, pengairan, sinar UV dan kandungan unsur hara tanah, serta proses pengolahan. Perkecambahan dan fermentasi meningkatkan kandungan isoflavon, dan pemanasan dapat mengubah struktur kimia isoflavon. Tingkat konsumsi protein kedelai 25 g/hari atau setara asupan isoflavon 37-62 mg/hari diperkirakan dapat memenuhi 83% dari kebutuhan isoflavon harian yang dianjurkan.

Kemampuan Daya Saing Komoditas Kedelai pada Wilayah Perluasan Areal Tanam Baru (PATB)

Rozi, Fachrur ( Indonesian Legumes and Tuber Crops Research Institute ) , Harnowo, Didik

Buletin Palawija Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Swasembada kedelai nasional telah dicanangkan  kembali untuk dicapai pada tahun 2020. Namun, saat ini  areal tanam kedelai  cenderung turun  dan daya saingnya rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kesesuaian agroekonomi, dan mengidentifikasi permasalahan dan peluang pengembangan komoditas kedelai pada wilayah perluasan areal tanam baru (PATB). Penelitian dilakukan di lima wilayah yaitu Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Sumatera Utara, dan Lampung. Permasalahan dan peluang  PATB kedelai  diidentifikasi  internal dan  eksternalnya dengan teknik analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peta kekuatan PATB kedelai di masing-masing wilayah  berbeda, sehingga diperlukan strategi khusus untuk masing-masing lokasi tersebut. Dengan menghitung indeks daya saing kedelai terhadap tanaman kompetitor di masing-masing PATB dapat disimpulkan bahwa saat ini daya saing kedelai masih lemah dengan tanaman kompetitor kedelai antara lain jagung, ubi kayu, kacang tanah, tembakau, cabai, bawang merah, dan tanaman tahunan. Kemampuan daya saing kedelai di masing-masing wilayah PATB  bergantung kepada produktivitas kedelai, tingkat harga kedelai, produktivitas tanaman kompetitor dan tingkat harga komoditas kompetitor. Upaya untuk memperkuat daya saing sekaligus meningkatkan semangat berusahatani kedelai dapat dilakukan dengan penerapan regulasi harga dan atau peningkatan produktivitas kedelai.

Keragaan Pengering Hybrid Energi Surya dan Biomasa untuk Pengeringan Sawut Ubi Kayu Terfermentasi

Abadi, Farid R. ( Indonesian Legume and Tuber Crops Research Institute (ILETRI) ) , Ahmadi, Noor Roufiq ( Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Timur ) , Nurhasanah, Ana ( Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Mekanisasi Pertanian )

Buletin Palawija Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penggunaan pengering bertenaga hybrid memiliki keunggulan dapat memanfaatkan tenaga matahari dan biomasa sehingga dapat digunakan pada kondisi cuaca kurang baik, diantaranya untuk pengeringan sawut ubi kayu terfermentasi.  Tujuan penelitian ini mengevaluasi keragaan Pengering Hybrid Energi Surya dan Biomasa arang kayu (PHESB) untuk mengeringkan sawut ubi kayu terfermentasi. Keragaan PHESB dievaluasi  menggunakan model linier dan exponensial untuk menentukan laju pengeringan (% bb/jam), kapasitas pengeringan (kg/jam), dan kelayakan finansial penerapannya. Mutu hasil pengeringan dianalisis dengan uji homogenitas koefisien regresi (laju pengeringan) dari model pengeringan yang mempunyai tingkat koefisien derterminasi (R2) terbesar dari pengamatan kadar air sawut dalam arah tegak (atas, tengah, bawah) dan mendatar (depan, tengah, belakang). Hasil penelitian menunjukkan bahwa  pada  kadar air awal sawut ubi kayu 71,45% bb dan rata-rata suhu pengeringan 40,51 + 3,61 oC, penurunan kadar air sawut ubi kayu mengikuti model linier dengan R2 dari 0,969 sampai 0,984 dengan laju pengeringan homogen baik dalam arah tegak maupun mendatar. Karakteristik PHESB dapat dinyatakan dengan model linier y =-5,081x +78,30 (R2=0,978). Dengan model ini diperoleh kapasitas pengeringan 20,86 kg/jam untuk mencapai kadar air  sawut ubi kayu 14% bb. Dengan harga alat pengering Rp. 40 juta/unit dan ongkos jasa pengeringan sawut ubi kayu basah Rp 600/kg diperoleh nisbah keuntungan dengan biaya pengeringan (B/C)<1,0. Secara teknis PHESB layak digunakan, tetapi secara finansial masih belum layak diterapkan dalam bentuk penjualan jasa pengering sawut ubi kayu.

Respons Pertumbuhan Vegetatif dan Generatif Varietas Kacang Tanah terhadap Pemberian Pupuk Organik di Dataran Tinggi Lahan Kering Iklim Kering

Rahmianna, Agustina Asri ( Indonesia Legumes and Tuber Crops Research Institute ) , Wijanarko, Andy ( Balitkabi ) , Bombo, Yeremias ( BPTP NTT )

Buletin Palawija Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Lahan kering iklim kering merupakan lahan potensial untuk berusahatani komoditas kacang tanah, mengingat bahwa Provinsi Nusa Tenggara Timur yang didominasi lahan kering dan iklim kering merupakan sentra keenam terbesar kacang tanah di Indonesia. Salah satu strategi untuk meningkatkan produksi kacang tanah jangka pendek adalah menanam varietas unggul berdaya hasil tinggi. Uji adaptasi suatu calon varietas selama ini dilakukan di sentra-sentra produksi yang terletak di dataran rendah di P. Jawa pada tipe iklim yang lebih basah. Oleh kerana itu, perlu dilakukan uji adaptasi varietas-varietas unggul di lahan kering iklim kering (LKIK). Penelitian dilaksanakan di LKIK tadah hujan di Desa Pambotan Jara, Kecamatan Waingapu yang terletak pada ketinggian 600 m dpl mulai April hingga Juni 2016. Rancangan strip plot dengan tiga ulangan digunakan pada penelitian ini. Faktor horizontal adalah enam varietas (Lokal Sandel, Kancil, Kelinci, Talam 1, Takar 1, dan takar 2), faktor vertikal adalah tiga dosis pupuk kandang (0, 2500, dan 5000 kg/ha). Pada makalah ini hanya dibahas keragaan pertumbuhan vegetatif dan generatif enam varietas tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan vegetatif dan generatif varietas unggul Kancil, Kelinci, Talam 1, Takar 1 dan Takar 2 lebih bagus dari pertumbuhan varietas lokal Sandel di lahan kering tadah hujan pada ketinggian tempat 600 m dpl. Kelima varietas ini ternyata beradaptasi pada lokasi dengan ketinggian tempat 600 m, walaupun uji adaptasinya dilakukan di sentra produksi di dataran rendah. Di antara kelima varietas yang diuji, varietas Kancil, Kelinci, dan Talam 1 mempunyai lebih banyak keunggulan dibanding varietas Takar 1 dan Takar 2. Satu-satunya keunggulan varietas lokal Sandel adalah bobot per polong yang paling tinggi. 

Peluang Heterosis Hasil Persilangan Terkendali pada Bobot Umbi dan Kadar Kalium Ubi Jalar

Indriani, Febria Cahya ( Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi ) , Restuono, Joko ( Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi )

Buletin Palawija Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Persilangan terkendali pada tanaman ubi jalar berpeluang untuk meningkatkan heterozigositas dibandingkan persilangan terbuka (open pollination). Penelitian bertujuan untuk mempelajari pola heterosis karakter bobot umbi per tanaman dan kadar kalium pada ubi jalar. Penelitian dilaksanakan di Poncokusumo, Malang, dan analisis kadar kalium di Laboratorium Kimia Tanah, Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi pada bulan Maret sampai Desember 2015. Bahan penelitian yang digunakan adalah benih F1 hasil persilangan terkendali dari enam kombinasi persilangan. Nilai heterosis diduga dengan membandingkan antara selisih F1 dengan rata-rata kedua tetua, sedangkan heterobeltiosis diduga dengan membandingkan antara F1 dengan tetua terbaik. Hasil penelitian menunjukkan adanya fenomena heterosis pada karakter bobot umbi per tanaman dan kadar kalium pada ubi jalar. Peluang heterosis untuk karakter bobot umbi per tanaman sebesar 16% dan heterobeltiosis 11%, sedangkan peluang heterosis kadar kalium sebesar 47% dan heterobeltiosis 21%. Varietas Beta 2 sangat potensial digunakan sebagai tetua untuk meningkatkan peluang heterosis bobot umbi per tanaman dan kadar kalium pada ubi jalar.

PATOLOGI DAN TEKNIS PENGUJIAN KESEHATAN BENIH TANAMAN ANEKA KACANG

Rahayu, Mudji ( Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi )

Buletin Palawija Vol 14, No 2 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 2, 2016
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.086 KB)

Abstract

Patologi benih merupakan salah satu bidang ilmu dari penyakit tanaman (fitopatologi), didefinisikan sebagai studi tentang penyakit pada benih untuk mengetahui faktor penyebab penyimpangan fungsi benih. Bidang ilmu ini juga mempelajari hubungan antara patogen dan inangnya yaitu peran biji sebagai sumber penyebaran dan penularan penyakit, serta tindakan yang perlu diambil untuk mengendalikan kerusakan yang diakibatkannya. Diperlukan dukungan pengetahuan lain di antaranya fitopatologi umum, mikrobiologi, dan teknologi benih dalam mempelajari patologi benih. Benih sehat memiliki arti bahwa biji yang digunakan sebagai benih atau bahan tanam, harus bebas dari infeksi ataupun kontaminasi patogen yang terdiri atas beberapa jenis seperti jamur, bakteri, dan virus. Patogen yang menginfeksi benih aneka kacang terdiri atas beberapa jenis jamur, bakteri, dan virus. Berbeda dengan penyakit pada bagian vegetatif tanaman seperti daun dan batang, penyakit benih seringkali tanpa gejala kerusakan sehingga sulit diketahui secara visual. Benih membawa penyakit biasanya dideteksi dengan metode standar dari ISTA (Seed International Seed Testing Association), suatu lembaga resmi di dunia yang menetapkan standar mutu benih termasuk pengujian kesehatan benih. Metode pengujian yang umum dilakukan adalah secara konvensional (pemeriksaan secara visual atau cara kering, cara basah dengan perendaman atau ekstraksi benih, dan inkubasi pada media buatan), deteksi secara serologi dan molekuler, serta metode pertumbuhan benih di rumah kaca. Uji kesehatan benih berperan penting dalam perbaikan mutu benih (seed improvement), perdagangan benih (seed trade), dan perlindungan tanaman (plant protection). ...

PELUANG PENGEMBANGAN KACANG TANAH DI LAHAN KERING NUSA TENGGARA TIMUR

Rozi, MP, Fachrur ( Indonesian Legumes and Tuber Crops Research Institute ) , Sutrisno, Imam ( Balitkabi ) , Rahmianna, Agustina Asri ( Balitkabi )

Buletin Palawija Vol 14, No 2 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 2, 2016
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.627 KB)

Abstract

Potensi pertanian lahan kering di Nusa Tenggara Timur cukup luas sekitar 1.528.308 ha dan di daerah ini cocok untuk dikembangkan kacang tanah. Tanaman kacang tanah masih dibudidayakan secara subsisten sehingga perlu diidentifikasi faktor-faktor penghambat dan pendukung dalam upaya pengembangannya. Penelitian dilakukan di Kabupaten Sumba Timur pada musim tanam 2015 dengan cara ‘Rapid Rural Appraisal (RRA)’. Metode analisis data yaitu analisis SWOT, tabulasi dan tingkat daya saing. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kesesuaian lahan untuk kacang tanah total nilai bobot (TNB=2,0) dan biomassa kacang tanah termanfaatkan untuk pakan (TNB=1,1) menjadi faktor penguat internal pengembangan kacang tanah di NTT. Sedang penguat eksternalnya adalah pasar kacang tanah sudah terbentuk (TNB=2,3) dan permintaan kacang tanah tinggi (1,6). Meskipun ada penghambat seperti faktor benih kacang tanah bermutu rendah (TNB=1,2) dan ada ancaman seperti faktor kekeringan (TNB=1,2), tetapi pengaruhnya lebih kecil dibanding penguat dan potensi sumberdaya yang dimiliki. Strategi pengembangan yang digunakan adalah (1) pengelolaan usahatani yang saat ini harus dilakukan lebih intensif dengan penggunaan VUB kacang tanah dan teknologi tanam, (2) peningkatan skala usaha dengan memanfaatkan lahan-lahan kosong dan peningkatan indeks pertanaman (IP). Komoditas kacang tanah dapat berkompetisi dengan jagung dan sorgum dan peningkatan daya saingnya mudah dilakukan dengan penggunaan VUB kacang tanah yang telah tersedia sesuai dengan agroekologi dan preferensi petani di NTT. Nilai ekonomi dalam pendapatan komoditas kacang tanah saat ini berkontribusi sebesar 30% terhadap pengeluaran keluarga dan berpeluang dapat ditingkatkan.

PENAMPILAN GALUR-GALUR KEDELAI TOLERAN NAUNGAN PADA UJI DAYA HASIL PENDAHULUAN DI DUA LINGKUNGAN

Sundari, Titik ( Balitkabi )

Buletin Palawija Vol 14, No 2 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 2, 2016
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.808 KB)

Abstract

Pemilihan genotipe yang adaptif di lingkungan naungan dan sekaligus di lingkungan tanpa naungan mempunyai peran penting dalam pengembangan di bawah naungan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan galur-galur kedelai toleran naungan yang mampu tumbuh, berkembang, dan berproduksi dengan baik pada lingkungan naungan maupun tanpa naungan, dengan nilai indeks toleransi terhadap cekaman (ITC) yang tinggi. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan kendalpayak, dengan menguji 146 galur dari sepuluh kombinasi persilangan dan 5 varietas pembanding pada dua lingkungan, yaitu lingkungan tanpa naungan dan naungan 50%. Lingkungan naungan diperoleh dari naungan buatan dengan menggunakan paranet hitam. Penempatan perlakuan pada masing-masing lingkungan didasarkan pada rancangan acak kelompok diulang tiga kali. Setiap unit percobaan ditanam pada dua baris dengan panjang 3 m, jarak tanam 40 cm x 15 cm, dua tanaman per rumpun. Pemupukan dilakukan pada saat tanam dengan Urea 50 kg, SP36 100 kg dan KCl 75 kg/ha. Pengamatan dilakukan terhadap umur berbunga dan masak, tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah buku, jumlah polong isi, bobot biji, dan bobot 100 biji. Pengukuran tingkat naungan dilakukan setiap hari dengan membandingkan antara intensitas di bawah naungan dengan di luar naungan. Pengamatan intensitas cahaya dilakukan setiap hari jam 12.00 -13.00 WIB, menggunakan Lux meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lingkungan naungan menyebabkan cekaman bagi galur-galur yang diuji dengan intensitas cekaman 20%, yang tergolong rendah. Galur/varietas yang diuji menunjukkan respon yang berbeda terhadap cekaman naungan. Berdasarkan nilai ITC, terdapat 48 galur dengan nilai ITC ≥ ITC Dena 1 (0,89) yang tergolong adaptif terhadap lingkungan naungan. Galur-galur terpilih tersebut teridentifikasi sebagai galur yang adaptif di dua lingkungan (tanpa naungan dan naungan).

Hubungan antar komponen morfologi dengan karakter hasil biji pada kedelai

Krisnawati, Ayda, Adie, M Muchlish

Buletin Palawija Vol 14, No 2 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 2, 2016
Publisher : Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.747 KB)

Abstract

Perakitan varietas berdaya hasil tinggi dapat dilakukan melalui seleksi secara langsung terhadap daya hasil atau tidak langsung melalui beberapa karakter lain yang terkait dengan daya hasil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antar komponen morfologi dengan karakter hasil biji pada kedelai. Penelitian dilaksanakan di Probolinggo, Jawa Timur pada MK1 (Februari - Mei) 2014. Bahan penelitian adalah 147 galur kedelai dan 3 varietas pembanding (Argomulyo, Anjasmoro, dan Grobogan). Peubah yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah cabang per tanaman, jumlah buku per tanaman, jumlah polong isi per tanaman, jumlah polong hampa per tanaman, umur berbunga (lama fase vegetatif), umur masak lama (fase generatif), nisbah fase vegetatif dan generatif (V/G), bobot 100 biji (g/100 biji), dan hasil biji (t/ha). Hasil sidik ragam menunjukkan terdapatnya perbedaan yang nyata antar genotipe untuk karakter umur berbunga, umur masak, fase generatif, nisbah vegetatif generatif, bobot 100 biji, dan hasil biji. Kajian terhadap tatahubungan antar karakter agronomi dengan karakter hasil biji menunjukkan bahwa hasil biji secara nyata ditentukan oleh empat karakter yaitu tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah buku dan jumlah polong. Karakter tinggi tanaman memiliki hubungan positif nyata dengan hasil (r = 0,315**), sedangkan tiga karakter lainya memiliki korelasi negatif nyata yakni jumlah cabang per tanaman (r = -0,278**), jumlah buku per tanaman (r = -0,168*), dan jumlah polong isi per tanaman (r = -0,162*). Pengaruh langsung tinggi tanaman terhadap hasil biji sebesar 0,312; sepadan dengan nilai koefisien korelasinya dengan hasil sebesar r = 0,315. Hal ini dapat disimpulkan bahwa seleksi langsung dengan menggunakan karakter tinggi tanaman dinilai efektif untuk mendapatkan hasil biji tinggi pada kedelai

Issues
All Issue Vol 16, No 2 (2018): Buletin Palawija Vol 16 no 2, 2018 Vol 16, No 1 (2018): Buletin Palawija Vol 16 No 1, 2018 Vol 15, No 2 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 2, 2017 Vol 15, No 1 (2017): Buletin Palawija Vol 15 No 1, 2017 Vol 14, No 2 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 2, 2016 Vol 14, No 2 (2016) Vol 14, No 1 (2016): Buletin Palawija Vol 14 No 1, 2016 Vol 13, No 1 (2015): Buletin Palawija Vol 13 No 1, 2015 No 29 (2015): Buletin Palawija No 29, 2015 No 28 (2014): Buletin Palawija No 28, 2014 No 28 (2014) No 27 (2014): Buletin Palawija No 27, 2014 No 27 (2014) No 26 (2013): Buletin Palawija No 26, 2013 No 26 (2013) No 25 (2013): Buletin Palawija No 25, 2012 No 25 (2013) No 24 (2012): Buletin Palawija No 24, 2012 No 24 (2012) No 23 (2012): Buletin Palawija No 23, 2012 No 23 (2012): BULETIN PALAWIJA Mei 2012 No 23 (2012) No 22 (2011): Buletin Palawija No 22, 2011 No 22 (2011) No 21 (2011): Buletin Palawija No 21, 2011 No 21 (2011) No 20 (2010): Buletin Palawija No 20, 2010 No 20 (2010) No 19 (2010): Buletin Palawija No 19, 2010 No 19 (2010) No 18 (2009): Buletin Palawija No 18, 2010 No 18 (2009) No 17 (2009): Buletin Palawija No 17, 2009 No 17 (2009) No 16 (2008): Buletin Palawija No 16, 2008 No 16 (2008) No 15 (2008): Buletin Palawija No 15, 2008 No 15 (2008) No 14 (2007): Buletin Palawija No 14, 2007 No 14 (2007) No 13 (2007): Buletin Palawija No 13, 2007 No 13 (2007) No 12 (2006): Buletin Palawija No 12, 2006 No 11 (2006): Buletin Palawija No 11, 2006 No 9 (2005): Buletin Palawija No 9, 2005 No 10 (2005): Buletin Palawija No 10, 2005 No 7-8 (2004): Buletin Palawija No 7-8, 2004 No 5-6 (2003): Buletin Palawija No 5 & 6, 2003 No 4 (2002): Buletin Palawija No 4, 2002 No 3 (2002): Buletin Palawija No 3, 2002 No 2 (2001): Buletin Palawija No 2, 2001 No 1 (2001): Buletin Palawija No 1, 2001