cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian terbit empat kali per tahun pada bulan Maret, Juni, September, dan Desember oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jurnal ini memuat artikel tinjauan (review) mengenai hasil-hasil penelitian yang telah diterbitkan, dikaitkan dengan teori, evaluasi hasil penelitian lain, dengan atau ketentuan kebijakan, dan ditujukan kepada pengambil kebijakan sebagai bahan pengambilan keputusan. Jurnal ini terbit pertama kali tahun 1979 dan telah terakreditasi oleh LIPI.
Arjuna Subject : -
Articles 216 Documents
Keracunan sianida pada hewan dan upaya pencegahannya Yuningsih, .
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sianida adalah senyawa kimia yang sangat toksik atau berpotensi menimbulkan efek kematian. Senyawa sianida dalam bentuk gas (HCN, CNCl) lebih cepat aktif dibandingkan dalam bentuk bubuk [NaCN, KCN, dan Ca(CN)2]. Hampir 40% dari 35 kasus keracunan senyawa toksik pada hewan di Indonesia pada tahun 1992-2005 disebabkan oleh keracunan sianida sintetis NaCN atau KCN yang sengaja ditambahkan ke dalam pakan (unsur kriminal). Oleh karena itu, keracunan sianida sangat mengkhawatirkan para peternak. Untuk mengatasi masalah tersebut perlu diketahui keberadaan racun sianida di alam (bentuk alami atau sintetis) berikut toksisitasnya serta cara mendiagnosis gejala keracunan pada ternak melalui analisis kandungan sianida dalam sampel pakan yang diduga mengandung sianida. Gejala spesifik keracunan sianida adalah kematian akut dengan perubahan warna darah menjadi merah terang. Pengobatan dapat dilakukan dengan cara menginjeksikan sodium nitrit dan sodium tiosulfat secara intravena untuk memecah cytochrome-cyanide bone dan secara langsung memisahkan sianida kompleks serta membentuk tiosianat yang diekskresikan melalui urine. Pencegahan utama dapat dilakukan dengan memantau kandungan sianida pada tanaman yang berpotensi mengandung sianogen pada kondisi tertentu, seperti kekeringan, tanaman muda, dan perlakuan herbisida sehingga akan meningkatkan kandungan sianida.
Prospek Penggunaan Mikroba Antagonis sebagai agens pengendali hayati penyakit utama pada tanaman hias dan sayuran ., Hanudin; Marwoto, Budi
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cultivation of ornamental plants and vegetables faces various problems that inhibit efforts to increase plant production. One of the most important constraints is disease incidences, i.e. wilt disease (Fusarium spp.) on carnation, damping off (Rhizoctonia spp.) on chrysanthemum, bacterial wilt (Ralstonia solanacearum) on Solanaceae, and club root (Plasmodiophora brassicae) on Barssicaceae. One of environmentally-friendly control methods is application of antagonistic microorganisms. The purpose of this paper is to inform prospects of the use of microbial antagonists as biological control agents of major diseases on ornamental plants and vegetables. Antagonistic microbes are the bacteria, fungi, actinomycetes or virus that can suppress other microbes. Antagonistic bacteria (Bacillus subtilis and Pseudomonas fluorescens), antagonistic fungi (Trichoderma harzianum, Gliocladium sp., and non-pathogenic Fusarium), actinomycetes (Streptomyces spp.), and virus (Carna-5 vaccine) are known to be effective as biological control agents. Their use as a biological control agent is proven to be  prospective since their isolation techniques, propagation and biopesticide formulation are well known by inventors in Indonesia. Nowdays, the microbes have been formulated by various research institutes as microbial pesticides and licenced to private company and commercialized widely to the domestic market. This indicates that prospect of application of antagonistic microbe is very bright to control major diseases of ornamental plants and vegetables. 
Penyakit tular tanah (Sclerotium rolfsii dan Rhizoctonia Solani) pada tanaman kacang-kacangan dan umbi-umbian ., Sumartini
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyakit tular tanah merupakan salah satu faktor pembatas dalam peningkatan produksi tanaman kacang-kacangan dan umbi-umbian. Pada umumnya penyakit tular tanah disebabkan oleh cendawan Rhizoctonia solani atau Sclerotium rolfsii. Cendawan bertahan hidup di dalam tanah atau sisa-sisa tanaman dalam bentuk hifa atau sklerotia dan bersifat parasit fakultatif. Cendawan juga dapat hidup secara saprofit, dapat bertahan hidup secara terus-menerus meski tanpa tanaman inang. Sklerotia cendawan tahan terhadap keadaan lingkungan kekeringan dan suhu tinggi. Masa dorman cendawan akan berakhir jika kondisi lingkungan cocok untuk perkembangannya. Kedua cendawan tersebut mempunyai kisaran inang yang luas, antara lain padi, kacang hijau, kacang tanah, kedelai, ubi jalar, pisang, jeruk, gandum, keladi, dan kentang. Komponen pengendalian seperti rotasi tanaman, menanam varietas tahan, solarisasi tanah, dan pembajakan yang agak dalam sulit diterapkan di Indonesia. Pengendalian yang mungkin dilakukan adalah mencabut tanaman sakit yang dipadukan dengan aplikasi cendawan antagonis seperti Trichoderma dan Gliocladium, serta bakteri Bacillus, Pseudomonas, Streptomyces, atau Actinomycetes.
Karakteristik morfologis dan anatomis klon harapan tahan penggerek buah kakao sebagai sumber bahan tanam Limbongan, Jermia
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hama penggerek buah kakao (PBK, Conopomorpha cramerella Snell.) merupakan hama penting yang dapat menyebabkan kehilangan hasil kakao hingga 90%. Pengendalian hama ini dapat dilakukan dengan cara menanam klon kakao tahan hama PBK yang dihasilkan melalui perbanyakan secara generatif atau vegetatif (okulasi, sambung) dengan entres maupun teknik somatic embryogenesis (SE) dengan bahan tanam sel somatik. Untuk memenuhi permintaan bibit kakao yang terus meningkat baik kuantitas maupun kualitasnya, pemahaman tentang karakter morfologis dan anatomi klon tahan hama menjadi penting untuk menentukan klon harapan tahan hama PBK sebagai sumber bahan tanam. Karakter morfologi yang penting sebagai petunjuk untuk memilih klon harapan tahan PBK antara lain adalah bentuk buah elips dan oblong, kulit buah tebal dan permukaan halus, konstriksi buah tidak berlekuk, dan apeks buah tumpul. Karakter anatomis yang penting adalah volume plasenta besar, lapisan sklerotik tebal, persen biji lengket sedikit, jumlah lubang masuk dan keluar sedikit, lapisan perikarp tebal, lapisan endokarp keras, dan adanya kandungan inhibitor proteinase dalam buah.
Strategi Pengembangan Agribisnis Sayuran di Sulawesi Selatan Taufik, Muh
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan potensi produksi sayuran dan lahan di Sulawesi Selatan untuk penyusunan strategi pengembangan agribisnis sayuran dalam rangka menciptakan produk yang berkualitas dan bernilai tambah, untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Permasalahan utama dalam agribisnis sayuran adalah produksi dan produktivitas rendah, pemilikan lahan sempit, penanganan pascapanen masih tradisional, keterbatasan modal, infrastruktur terbatas, dan akses pemasaran kurang berkembang. Hasil analisis SWOT pada pengembangan agribisnis sayuran memperoleh empat strategi yang perlu dilakukan, yaitu: 1) strategi agresif (S-O), memaksimalkan potensi/kekuatan untuk meraih peluang dengan memanfaatkan teknologi produksi, perluasan lahan dan pangsa pasar, dukungan kebijakan pemerintah, penguatan kelembagaan, dan peningkatan kualitas SDM, 2) strategi diversifikasi (S–T), memaksimalkan potensi/kekuatan untuk mengurangi ancaman yang ada dengan melakukan kegiatan usaha tani yang ramah lingkungan, pemberdayaan penangkar benih, dan penerapan pengendalian hama terpadu (PHT), 3) strategi divestasi (W–O), meminimalkan kelemahan/hambatan untuk meraih peluang semaksimal mungkin melalui peningkatan produksi/produktivitas serta mutu produk, penguatan sarana usaha pertanian, diversifikasi, dan pengaturan pola tanam sesuai permintaan pasar, serta 4) strategi survival (W–T), meminimalkan kelemahan dan hambatan untuk mengatasi ancaman dengan meningkatkan efisiensi biaya produksi, memperluas informasi pasar, dan mengoptimalkan pemakaian input kimia.
Perakitan dan pengembangan varietas unggul baru padi ....... Hairmansis, Aris; ., Supartopo
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rendaman air merupakan salah satu faktor pembatas utama peningkatan produksi padi di lahan rawan banjir. Perubahan iklim global yang menyebabkan meningkatnya frekuensi banjir di berbagai wilayah dapat mengancam stabilitas produksi beras nasional. Salah satu strategi adaptasi untuk mengurangi dampak tersebut adalah dengan menanam varietas toleran rendaman air. Berkaitan dengan hal tersebut, Badan Litbang Pertanian bekerja sama dengan Lembaga Penelitian Padi Internasional (IRRI) di Filipina mengembangkan varietas unggul padi yang toleran terhadap rendaman penuh. Dua varietas unggul baru padi berhasil dilepas, yaitu Inpara 4 dan Inpara 5 yang mampu tumbuh dan berproduksi dengan baik meskipun terendam air penuh sampai dua minggu pada fase vegetatif. Kedua varietas tersebut dirakit dengan metode silang-balik dengan bantuan penanda molekuler terhadap tetua berulang yang merupakan varietas padi yang sangat populer. Inpara 4 memiliki latar belakang genetik varietas Swarna yang populer di Asia Selatan dan Inpara 5 memiliki latar belakang genetik varietas IR64 yang populer di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Rata-rata hasil gabah kedua varietas di daerah rawan banjir masing-masing adalah 4,69 dan 4,45 t/ha. Varietas Inpara 4 memiliki tekstur nasi pera, sedangkan Inpara 5 bertekstur pulen. Keduanya potensial untuk dikembangkan di daerah yang rawan terhadap rendaman akibat banjir, seperti lahan rawa lebak dangkal, lahan sawah bonorowo, dan lahan sawah di pesisir pantai.
Manfaat purun tikus (eleocharis dulcis) pada ekosistem sawah rawa Asikin, S; Thamrin, M
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Purun tikus adalah salah satu tumbuhan liar yang banyak terdapat di lahan rawa pasang surut sulfat masam.  Tumbuhan sejenis rumput ini mempunyai rimpang pendek dengan stolon memanjang berujung bulat gepeng, berwarna kecoklatan sampai hitam. Batang tegak, tidak bercabang, berwarna keabuan hingga hijau mengilap dengan panjang 50-200 cm dan tebal 2-8 mm. Makalah ini membahas manfaat tumbuhan purun tikus di lahan rawa pasang surut. Hasil penelitian menunjukkan, selain berfungsi sebagai tanaman perangkap penggerek batang padi putih, purun tikus juga dapat digunakan sebagai pupuk organik, biofilter, dan penyerap unsur beracun. Hama penggerek batang padi putih lebih menyukai meletakkan telur pada purun tikus dibanding pada padi dan ekstraknya berpotensi sebagai bahan atraktan. Dengan demikian, purun tikus dapat dikategorikan sebagai tanaman perangkap karena dapat mengurangi tingkat kerusakan padi yang disebabkan oleh penggerek batang putih. Tingkat kerusakan tanaman padi akibat penggerek batang pada daerah yang populasi purun tikusnya tinggi hanya berkisar 0,0-0,1%, dan meningkat pada daerah yang populasi purun tikusnya lebih rendah. Purun tikus juga merupakan tempat berlindung bagi serangga musuh alami. Kompos purun tikus dapat mengkhelat asam-asam organik, meningkatkan pH, Mg, dan Ca tanah serta sebagai tumbuhan hiperakumulator terhadap logam berat kadmium (Cd). Pemberian kompos purun tikus 2,5 t/ha setara dengan 2 t dolomit/ha, meningkatkan hasil padi masing-masing 25,73% dan 25,97%. Sebagai biofilter, purun tikus dapat memperbaiki kualitas air pada musim kemarau dengan menyerap senyawa toksik terlarut, seperti besi (Fe) dan sulfat (SO4) dalam saluran air masuk (irigasi) dan saluran air keluar (drainase), serta menyerap logam berat timbal (Pb) dari limbah cair industri kelapa sawit pada akar sebesar 0,32-0,54 ppm dan pada batang 0,24-0,27 ppm.
KESIAPAN TEKNOLOGI PANEN DAN PASCAPANEN PADI DALAM MENEKAN KEHILANGAN HASIL DAN MENINGKATKAN MUTU BERAS Iswari, Kasma
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penanganan panen dan pascapanen padi memiliki kontribusi cukup besar terhadap pengamanan produksi berasnasional. Kehilangan hasil akibat penanganan panen dan pascapanen yang tidak sempurna mencapai 20,51%. Jikaproduksi padi nasional mencapai 54,34 juta ton maka kerugian tersebut setara dengan Rp15 triliun. Makalah inimenyajikan kesiapan teknologi panen dan pascapanen padi dalam upaya menekan kehilangan hasil dan meningkatkanmutu beras serta pemahaman petani/pengguna teknologi terhadap upaya menekan kehilangan hasil panen. Teknologidimaksud mencakup penentuan umur panen, cara panen, perontokan gabah, pengeringan, penggilingan, pelembutanlapisan aleuron, dan peningkatan mutu beras. Berkaitan dengan mutu beras, hasil pemeriksaan mutu beras padatujuh kabupaten dan kota di Sumatera Barat menunjukkan bahwa beras kelas terbaik hanya menempati mutu IImengacu kepada standar SNI 6128:2008. Ditinjau dari sisi petani/pengguna teknologi, tidak semua petani mampudan mau menerapkan teknologi pascapanen karena dipengaruhi oleh kemampuan, budaya seperti kebiasaan petaniyang belum mau menerima pembaharuan, serta masalah sosial lainnya. Kelembagaan petani di Sumatera Baratsebagian masih berorientasi untuk mendapatkan fasilitas pemerintah, belum sepenuhnya berperilaku untukmemanfaatkan usaha tersebut sebagai penopang ekonomi.
TEKNOLOGI PROSES PRODUKSI FOOD INGREDIENT DARI TAPIOKA TERMODIFIKASI Herawati, Heny
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia memiliki potensi bahan baku yang cukup besar untuk produksi pati termodifikasi. Salah satu potensitersebut yaitu ubi kayu yang dapat diolah menjadi tapioka. Pengembangan proses produksi ubi kayu menjadibeberapa produk lanjutan memiliki potensi yang cukup besar, terkait dengan peningkatan nilai tambah, salahsatunya yaitu dapat digunakan sebagai food ingredient. Impor produk pati termodifikasi di Indonesia masih cukupbesar sehingga perlu dilakukan pengembangan teknologi proses produksi food ingredient dari tapioka termodifikasi.Makalah ini membahas teknologi modifikasi tapioka dan aplikasinya untuk food ingredient, yang meliputi patiester, dekstrin, dan pati resisten (tahan cerna). Berdasarkan peluang tersebut, diharapkan tulisan ini dapat memberikankontribusi bagi pengembangan produk lanjutan dari ubi kayu dalam upaya meningkatkan nilai tambah, menekanimpor produk pati termodifikasi, dan menambah pendapatan para pelaku bisnis di bidang tersebut.
ULAT BULU TANAMAN MANGGA DI PROBOLINGGO: IDENTIFIKASI, SEBARAN, TINGKAT SERANGAN, PEMICU, DAN CARA PENGENDALIAN Baliadi, Yuliantoro; ., Bedjo; ., Suharsono
Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012
Publisher : Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setelah terjadi ledakan populasi pada Maret-April 2011, ulat bulu dinyatakan sebagai hama potensial tanamanmangga di Probolinggo, Jawa Timur. Ledakan ulat bulu di Probolinggo telah dikaji melalui pengujian di laboratoriumdan observasi di lapangan. Terdapat empat spesies ulat bulu yang menyerang tanaman mangga, yaitu Arctornissubmarginata, Lymantria marginalis, Lymantria atemeles, dan Dasychira inclusa. Serangan ulat bulu terjadi disembilan desa dan kerusakan terparah terdapat di Kecamatan Leces, Tegal Siwalan, dan Sumberasih. Tingkatserangan hama ulat bulu berkisar antara 0−20% dari total populasi mangga dengan kehilangan daun mencapai100%. A. submarginata merupakan spesies yang dominan dan penyebab utama kehilangan daun pada tanamanmangga. Siklus hidup A. submarginata dari telur hingga ngengat berkisar 4−5 minggu. Musim hujan yang panjang,debu vulkanik, penanaman mangga yang menuju satu jenis, yakni manalagi, program hutan produksi, dan penggunaaninput agrokimia ditengarai menjadi penyebab utama menurunnya keanekaragaman hayati pada agroekosistemtanaman mangga sehingga menimbulkan ledakan populasi A. submarginata. Kekacauan populasi pascamigrasi A.submarginata dari pertanaman teh dan kemampuan adaptasinya yang tinggi pada tanaman mangga menyebabkanterjadinya peningkatan populasi ulat bulu pada tanaman mangga. Hal ini diperkuat oleh kenyataan bahwa jenis danpopulasi musuh alami ulat bulu tergolong tinggi, dan 60−75% pupa terinfeksi oleh patogen serangga (baculovirusdan cendawan) dan 10−15% mati oleh parasitoid. Pengendalian hama terpadu (PHT) untuk A. submarginata harusberdasarkan pada pemantauan dan penarikan contoh. Komponen teknologi PHT yang dianjurkan adalahpengendalian secara kultur teknis, pengendalian hayati, dan penggunaan pestisida berlabel hijau.

Page 1 of 22 | Total Record : 216


Filter by Year

2008 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 38, No 2 (2019): DESEMBER, 2019 Vol 38, No 1 (2019): Juni, 2019 Vol 37, No 2 (2018): Desember, 2018 Vol 37, No 1 (2018): Juni, 2018 Vol 36, No 2 (2017): Desember, 2017 Vol 36, No 1 (2017): Juni, 2017 Vol 35, No 4 (2016): Desember 2016 Vol 35, No 3 (2016): September 2016 Vol 35, No 2 (2016): Juni 2016 Vol 35, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 34, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 34, No 3 (2015): September 2015 Vol 34, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 34, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 33, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 33, No 3 (2014): September 2014 Vol 33, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 33, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 33, No 3 (2014): September 2014 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 32, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 32, No 3 (2013): September 2013 Vol 32, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 32, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 31, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 31, No 3 (2012): September 2012 Vol 31, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 31, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 30, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 30, No 4 (2011): Desember 2011 Vol 30, No 3 (2011): September 2011 Vol 30, No 2 (2011): Juni 2011 Vol 30, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 29, No 4 (2010): Desember, 2010 Vol 29, No 3 (2010): September 2010 Vol 29, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 29, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 28, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 28, No 1 (2009): Maret, 2009 Vol 27, No 1 (2008): Maret, 2008 More Issue