cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Agro Ekonomi
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 02169053     EISSN : 25411527     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
JURNAL AGRO EKONOMI (JAE) adalah media ilmiah primer penyebaran hasil-hasil penelitian sosial-ekonomi pertanian dengan misi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan profesional para ahli sosial ekonomi pertanian serta informasi bagi pengambil kebijakan, pelaku, dan pemerhati pembangunan pertanian dan perdesaan. JAE diterbitkan oleh Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian dua nomor dalam setahun, terbit perdana pada Oktober 1981
Arjuna Subject : -
Articles 348 Documents
Poverty Mapping And Poverty Analysis In Indonesia Sari, Deffi Ayu Puspito; Kawashima, Shigekazu
Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v28n1.2010.95-111

Abstract

IndonesianTulisan ini menganalisis data-data kemiskinan di Indonesia di tingkat kabupaten dan kota. Pertama, peta kemiskinan dibuat dalam pembagian kabupaten atau kota untuk memberikan gambaran visual tentang kemiskinan. Kedua, menguji hubungan antara kemiskinan berdasarkan konsumsi dan kemiskinan berdasarkan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar hidup dengan analisis regresi menggunakan prinsip analisis komponen. Pendekatan ini memperjelas pengaruh tersedianya kebutuhan dasar hidup dan karakteristik kemiskinan lainnya terhadap kemiskinan berdasarkan konsumsi. Persentase penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan, Indeks Kedalaman Kemiskinan, dan Indeks Keparahan Kemiskinan tersebar di seluruh kabupaten dan kota, menunjukkan kecenderungan indeks kemiskinan yang lebih tinggi dan lebih parah di pulau-pulau timur Indonesia dibandingkan daerah lainnya. Tidak hanya pengeluaran untuk makanan, tapi kebutuhan dasar hidup dan sektor kerja juga sangat berhubungan dengan kemiskinan berdasarkan konsumsi. Ketersediaan kamar kecil, akses ke air bersih dan pelayanan kesehatan umum dan pendidikan, yang sering diukur sebagai dimensi kemiskinan berdasarkan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar hidup, sangat mempengaruhi kemiskinan berdasarkan konsumsi. Untuk mengurangi tingkat keparahan kemiskinan, akses terhadap air bersih paling penting diantara faktor-faktor dalam kesehatan umum. Faktor pendidikan juga berkaitan dengan Indeks Keparahan Kemiskinan; kelulusan dari sekolah dasar dan sekolah lanjutan tingkat atas berbanding terbalik dengan keparahan kemiskinan dan lebih berpengaruh daripada pengeluaran untuk makanan.EnglishThis paper analyzes poverty-related data in Indonesia at regency and city level. First, poverty mapping is carried out at disaggregated levels by regency or city to visually identify the prevalence of poverty. Second, the relationship between consumption-based poverty and capability-based poverty is examined using principal component regression. This approach clarifies the influence of basic needs availability and other poverty characteristics on consumption-based poverty. Poverty rate, poverty gap and severity poverty are scattered in all regencies and cities, showing the tendency that poverty indices are higher and more severe in eastern islands of the country compared to other regions. In addition to food expenditure, the basic needs and working sector are closely related to consumption-based poverty. The toilet availability, access to safe water and public health services and education, often measured as the dimensions of capability based poverty, are very important to have bearing on consumption-based poverty. To reduce severity of poverty, safe water access is especially the most important factor among other public health variables. Severity poverty also turns out to be correlated with education variables. Completion of elementary and higher education is negatively correlated with severity poverty and more important than food expenditures.
Pendugaan Fungsi Penawaran Normatif untuk Komoditas Palawija Berdasarkan Pemanfaatan Pola Tanam Optimal pada Lahan Kering di Lombok Rozi, Fachrur
Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1993): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v12n1.1993.1-8

Abstract

The aim of the research is to reveal the opportunity of increasing regional production in Lombok Island by optimal utilization of dry land, as commodities supply alternative of palawija. The survey was done in dryland area in Lombok, during May-August 1992. The analysis was conducted using linier programming. The results showed that design of optimal cropping patterns were able to increase regions production and income. Moreover, by knowing normative supply of the product,  supply of the commodities can be manipulated by using the optimal cropping patterns.
Peran Industri Berbasis Perkebunan dalam Pertumbuhan Ekonomi dan Pemerataan: Pendekatan Sistem Neraca Sosial Ekonomi Susila, Wayan R.; Setiawan, IDM Darma
Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v25n2.2007.125-147

Abstract

EnglishThe economic crisis in Indonesia since 1997 has caused three fundamental problems, namely, economic depression, increasing number of unemployment, and worsening income distribution. To overcome these problems, the development of estate crop-based industries can be one of the realistic alternatives. This study is aimed at analyzing the potential roles of estate crop-based industries in promoting economic growth, employment, income and improvement of income distribution. For simultaneous analysis of these aspects, Social Accounting Matrix with disaggregation of primary and downstream industries of estate crops (Estate-Crop SAM) was applied. The results of this study map the potential roles of estate crop-based industry as a leading sector or an adjusting sector through their effectiveness in promoting economic growth, employment, income, and income distribution based on factorial and household income group. The Estate-Crop SAM can also be used to assess the impact of various policies related to estate crop-based industries on various aspects of Indonesian economy.IndonesianKrisis ekonomi yang terjadi di Indonesia sejak tahun 1997 telah menyebabkan tiga masalah utama, yaitu depresi ekonomi, meningkatnya jumlah pengangguran, dan memburuknya distribusi pendapatan. Untuk mengatasi masalah tersebut, pengembangan industri berbasis perkebunan menjadi salah satu pilihan yang realistis. Sejalan dengan hal ini, tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi peran industri berbasis perkebunan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja dan pendapatan, serta perbaikan distribusi pendapatan.  Agar semua aspek tersebut  dapat dianalisis secara simultan, Sistem Neraca Sosial Ekonomi yang mendisagregasikan industri hulu dan hilir perkebunan (SNSE Perkebunan) akan digunakan dalam studi ini. Hasil studi ini berhasil memetakan potensi peranan industri berbasis perkebunan, baik sebagai leading sector, atau adjusting sector berdasarkan efektivitasnya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, lapangan pekerjaan, pendapatan, dan perbaikan distribusi pendapatan, berdasarkan pendapatan faktor produksi dan kelompok pendapatan rumah tangga. SNSE tersebut juga dapat digunakan untuk menganalisis dampak dari berbagai kebijakan yang berkaitan dengan industri berbasis perkebunan pada berbagai aspek ekonomi Indonesia.
Identifikasi Ciri Rumah Tangga Defisit Energi Rachmat, Muchjidin; Suryana, Achmad
Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v9n1.1990.12-25

Abstract

EnglishImprovement of energy consumption is one of poverty alleviation efforts and is one of development programs on equity. Even though in aggregate term per capita energy consumption has been achieved, but because of imbalance in regional distribution, households with energy deficit are still exist in each province, ranging from 5.5 percent to 21.1 percent. In term of energy consumption which can be traced through average per capita consumption, ratio of riil per capita consumption to its requirements, and percentage of deficit energy household; households in rural areas are better off than those in urban region. Variables which can be used to identify the deficit energy households are household expenditures, household income, and level of educational attainment of housewife. In rural villages households with energy deficit are characterized by low level of expenditures, agriculture as main income source, and education level of housewife below primary school. In urban area, household deficit energy are those who have low income and work at service sectors. Those households with low level of energy consumption are the right target group of poverty alleviation programs.IndonesianPerbaikan konsumsi energi merupakan upaya penanggulangan kemiskinan sebagai perwujudan pemerataan  pembangunan.  Walaupun  secara  agregat  konsumsi  energi  per  kapita  telah  terpenuhi. Adanya masalah dalam distribusi konsumsi menyebabkan pada tiap propinsi masih terdapat rumah tangga defisit energi yang besarnya antara 5,5 persen sampai 21,1 persen. Dalam konsumsi energi tersebut di pedesaan relatif lebih baik dibanding perkotaan yang terlihat dari besarnya tingkat konsumsi, persentase pemenuhan terhadap kebutuhan dan lebih kecilnya persentase rumah tangga defisit energi. Peubah yang dapat dipakai dalam mengidentifikasi rumah tangga defisit energi adalah tingkat pengeluaran, pendapatan rumah tangga dan pendidikan istri. Di pedesaan rumah tangga defisit energi dicirikan berada pada tingkat pengeluaran rendah, sumber pendapatan sebagian besar di pertanian dan dengan tingkat pendidikan istri dibawah SD. Di perkotaan rumah tangga defisit energi berada pada kelompok pendapatan rendah dan sebagian besar bergerak di sektor jasa. Dalam rangka mengurangi tingkat rumah tangga defisit energi maka perhatian lebih haruslah diarahkan kepada kelompok rumah tangga tersebut sebagai target grup. Pendekatan melalui peningkatan pengetahuan dan kesadaran gizi dari ibu rumah tangga (istri) merupakan langkah yang paling strategis.
Market Performance of the Corn Seed Industry in East Java Sayaka, Bambang
Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v21n1.2003.26-49

Abstract

IndonesianPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja pasar industri benih jagung di Provinsi Jawa Timur. Dalam hal efisiensi produktif, produsen lokal lebih unggul dari perusahaan multinasional. Walaupun demikian, volume benih jagung yang terjual oleh perusahaan multinasional jauh lebih banyak dibanding produsen lokal. Perusahaan multinasional mampu menghasilkan berbagai varietas benih jagung hibrida, tidak demikian halnya dengan produsen lokal. Produsen lokal maupun perusahaan multinasional mengalami penurunan volume penjualan selama empat tahun terakhir. Pedagang besar-pengecer mempunyai harga beli dan harga jual ang lebih murah dari pedagang pengecer, tetapi memperoleh keuntungan lebih tinggi. Hanya sedikit pedagang besar-pengecer, yang juga sebagai distributor, secara progresif menjual benih jagung. Secara umum, kinerja pasar benih jagung tidak terintegrasi pada tingkat perusahaan ke pedagang besar maupun dari pedagang besar ke pengecer. Hal ini menunjukkan bahwa produsen memberi kebebasan bagi para pedagang untuk menentukan marjin pemasaran. EnglishThis study is aimed at assessing market performance of the corn seed industry in East Java Province. In terms of productive efficiency, the local producers were better off than those of multinationals. Nevertheless, volumes of sales of the multinationals were higher than those of local producers. The multinationals were able to invent hybrid corn varieties, but not the local producers. Both multinationals and local producers experienced declining trend in volumes of sales. The wholesaler-retailers incurred lower buying price and selling price than those of the retailers but got higher profits. Only a few wholesaler-retailers, who were also as distributors, progressively distributed corn seed products. In general, the corn seed market performance was not integrated at both firm-to-wholesaler and wholesaler-to-retailer levels. It indicated that the firms deliberated the traders to determine their marketing margins.
Penanganan Pasca Panen Menunjang Pengembangan Usahatani Lahan Kering di DAS Citanduy Irawan, Bambang; Rasahan, Chairil A.
Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1988): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v7n1.1988.32-46

Abstract

EnglishSince 1978/1979 Model Farm have been performed in Citanduy River Basin (DAS Citanduy) in order to introduce farming technology which is not only to increase farmers income but also to take care of soil conservation aspect. The objective of this paper is to study whether or not there is a marketing approach that can be proposed to support these innovation. By chosing cloves and peanuts as commodity cases, the results of analysis indicated that approach in the improvement of the post harvest handling has been proven to be very prospective in supporting the expansion of the farming technology being introduced. Therefore, the innovation should not only be related to the improvement in the farming technology, but also cover the improvement of post harvest handling as well. In order to stimulate farmers to adopt post harvest treatment, three aspects need to be considered: (1) farmers must be directed to adopt post harvest handling through collective activities; (2) channelling of farm credit of paddy for the farmers must be expanded because capital constraint in this activities has negative impact indirectly to the post harvest handling of this secondary crops; and (3) supervision with respect to the post harvest handling should be done both to the extension services and to the farmers.IndonesianSejak 1978/1979 di DAS Citanduy telah dibentuk Usahatani Model dalam rangka mengintroduksikan teknologi usahatani yang tidak saja berupaya menaikkan pendapatan petani tetapi juga mementingkan aspek konservasi lahan. Tulisan ini mencoba mempelajari adakah pendekatan pemasaran yang dapat dilakukan guna menunjang inovasi tersebut. Dengan memilih komoditi cengkeh dan kacang tanah sebagai kasus, hasil analisa yang dilakukan menunjukkan bahwa perbaikan penanganan pasca panen merupakan pendekatan yang prospektif guna menunjang keberhasilan perluasan teknologi usahatani yang diintroduksikan. Karena itu inovasi yang dilakukan sebaiknya tidak hanya menyangkut perbaikan teknologi usahatani tetapi juga mencakup perbaikan penanganan pasca panen. Dalam rangka merangsang petani melakukan pasca panen tiga hal yang perlu diperhatikan adalah: (1) petani perlu diarahkan untuk melakukan pasca panen secara kolektif, (2) penyaluran kredit usahatani padi perlu diperluas karena secara tidak langsung keterbatasan modal dalam usahatani ini memberikan pengaruh negatif terhadap penanganan pasca panen pada tanaman sekunder, dan (3) pembinaan mengenai penanganan pasca panen baik pada petugas penyuluhan maupun petani perlu mendapat perhatian yang lebih serius.
Strategi Penguatan Kapasitas Pengolah Sagu Tradisional untuk Peningkatan Produktivitas Usaha di Maluku Damanik, Inta P. N.; Amanah, Siti; Madanijah, Siti; Tjitropranoto, Prabowo
Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v31n1.2013.37-51

Abstract

EnglishIn the past sago processing business had an important role in increasing households’ income of traditional sago processors, use of sago product, and sago added value. They could not perform such function anymore since they deal with some problems that lower their competitiveness, such as limited capacity to enhance quantity and quality of the product. The processors are also difficult to access market and financial support. The research aims to analyze the factors affecting the capacities of sago traditional processors and to create a strategy for strengthening their capacity. Research was conducted in Regencies of Central Moluccas and Western Seram. Samples size was 204 households of sago starch processors. Data collection was undertaken from January 2012 until April 2012 and analyzed using a structural equation model (SEM). The results showed that social economic profile of sago processors (age, business experience, motivation and individual beliefs about the social and cultural values of sago) positively and significantly influence personal capacity. Personal capacity has positive and significant influence on business capacity. Agricultural extension as an institution positively and significantly affects personal and business capacity.  Business capacity also has positive and significant influence on productivity and the productivity has positive and significant influence on income from sago processing. Strengthening capacities of traditional sago processors needs agents of change (extension workers) with appropriate competencies, innovation messages, capital and equipment supports, market guarantee, government’s policies for sago consumption, and preparedness of traditional sago processors to change.IndonesianUsaha pengolahan sagu memiliki peran penting tidak hanya untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga pengolah sagu tradisional, tetapi juga meningkatkan pemanfaatan dan nilai tambah sagu. Pada kenyataannya, pengolah sagu tradisional belum mampu mengisi peran penting tersebut karena menghadapi berbagai kendala dalam mengembangkan usaha, diantaranya sulit meningkatkan kuantitas produk; produk yang dihasilkan bersifat monoton dari segi rasa, bentuk, dan jenis sehingga kurang kompetitif dibandingkan produk pangan lainnya;  sulit mengakses pasar yang lebih luas dan sumber-sumber permodalan. Berbagai kendala tersebut menyebabkan produktivitas usaha juga sulit meningkat yang berpengaruh terhadap pendapatan rumah tangga. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor penentu yang memengaruhi kapasitas pengolah sagu tradisional dan merancang strategi untuk meningkatkan kapasitas pengolah sagu tradisional. Penelitian dilakukan di Kabupaten Maluku Tengah dan Kabupaten Seram Bagian Barat dengan jumlah responden 204 rumah tangga pengolah sagu tradisional sejak Januari 2012 hingga April 2012.  Analisis data dilakukan dengan structural equation modeling (SEM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa profil social ekonomi pengolah sagu tradisional (umur, lama berusaha, motivasi, nilai fungsi sosial, dan budaya sagu) berpengaruh positif dan nyata terhadap kapasitas diri dan selanjutnya kapasitas diri berpengaruh positif dan nyata terhadap kapasitas usaha.Dukungan kelembagaan penyuluhan pertanian juga berpengaruh positif dan nyata terhadap kapasitas diri dan kapasitas usaha pengolah sagu tradisional. Kapasitas usaha berpengaruh positif dan nyata terhadap produktivitas usaha dan selanjutnya produktivitas usaha juga berpengaruh positif dan nyata terhadap pendapatan usaha. Strategi penguatan kapasitas pengolah sagu tradisional memerlukan penyuluh dengan kompetensi yang sesuai, pesan inovasi sesuai kebutuhan dan kemampuan pengolah sagu tradisional, dukungan modal dan peralatan/teknologi, jaminan pasar, kebijakan pemerintah terkait konsumsi sagu, dan kesiapan pengolah sagu tradisional untuk berubah.
Rice Market Integration in Indonesia: a Cointegration Analysis Kustiari, Reni; Suhaeti, Rita Nur
Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1998): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v17n1.1998.1-12

Abstract

IndonesianTulisan ini mencoba melihat integrasi pasar beras dengan menggunakan uji kointegrasi (cointegration test). Pendugaan kointegrasi pada bivariate sistem dilakukan dengan memperlakukan setiap peubah sebagai peubah endogenous dan exogenous secara bergantian (dua arah). Pada analisis ini digunakan model Engle dan Granger yang disebut Cointegrating Regression Durbin Watson (CRDW) dan Augmented Dickey Fuller (ADF). Selanjutnya analisis sebab-akibat Granger diterapkan pada pasar-pasar yang berkointegrasi untuk menentukan pasar sentral dan pasar regional. Hasil pengujian stationarity menunjukkan bahwa pada umumnya harga beras stationar pada order 1, sedangkan hasil uji kointegrasi memperlihatkan bahwa tidak semua pasar yang letaknya berdekatan berintegrasi satu sama lain. Dari 56 kombinasi hanya terdapat 26 kombinasi pasar yang berkointegrasi. Data harga beras yang digunakan adalah harga perdagangan besar dari tahun 1979-1995. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa kebijakan kontrol harga yang dilaksanakan oleh BULOG tidak dapat mencegah terjadinya segmentasi pasar.EnglishThis article analyzes integration of rice markets using co integration test. The co integration bivariate system were estimated in both directions. Cointegration analysis based on the Engle and Granger model, namely CRDW and ADF, is applied. Granger (cause) analysis applied to co integrated markets, to find central and regional markets. Test results show that most of rice prices are stationary of order 1. It is concluded that there seems to be long run relationships between markets which are relatively close to each other. Percentage of cointegrated market for rice is 46 percent out of 56 combinations. This high cointegration mainly due to marketing system of rice which is strongly controlled by the government. Hence rice price is subject to a controlled trade regime and floor/ceiling price. Rice prices is represented by monthly wholesale price. The periode covered in this study is 1979-1995. It was concluded that BULOGs Policies in controlling rice market to avoid market segmented did not work as expected.
Pengaruh Penggunaan Pompa Air terhadap Tingkat Pendapatan Petani: Studi Kasus di Daerah Karawang-Bekasi, Jawa Barat Saleh, Chaerul
Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1983): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v3n1.1983.19-29

Abstract

IndonesianProgram intensifikasi padi dan tanaman pangan lainnya perlu ditunjang dengan penyediaan air yang cukup agar program tersebut berhasil. Dalam menunjang program itu, pemerintah melakukan rehabilitasi prasarana pengairan diantaranya dengan memanfaatkan teknologi pompa air. Tulisan ini mencoba menganalisa pengaruh penggunaan pompa air terhadap tingkat pendapatan petani dari usahatani padi yang didasarkan atas hasil penelitian di daerah kabupaten Karawang dan Bekasi. Analisa ditekankan pada telaahan perubahan yang terjadi dalam pola tanam, intensitas tanam dan pendapatan. Selain itu dilakukan pula analisa kelayakan finansial usaha pompa air dengan menggunakan kriteria investasi. Dari hasil penelitian diperoleh petunjuk bahwa setelah petani memakai pompa air terjadi peningkatan, pola tanam, produktivitas dan pendapatan usahatani padi. Akan tetapi dilain pihak pengusaha pompa air secara finansial tidak menguntungkan karena nilai sewa yang diterima oleh pengusaha pompa air hanya dapat menutup biaya operasi saja.
Daya Saing Komoditas Promosi Ekspor Manggis, Sistem Pemasaran dan Kemantapannya di Dalam Negeri (Studi Kasus di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat) Muslim, Chairul; Nurasa, Tjetjep
Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Agro Ekonomi
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jae.v29n1.2011.87-111

Abstract

EnglishMangosteen export ranks first in that of fresh fruits. This fruit has comparative and comparative advantages for export markets. The research was conducted in September 2009 in Purwakarta Regency, West Java Province. Objectives this study were: (i) to analyze financial feasibility of mangostene farming, (ii) to analyze comparative and competitive advantages of mangosteen, and (iii) to assess the impacts of government policies and the influence of input and output price changes on the competitiveness of mangosteen in Indonesia. It applied a survey method using structured questionnaires. Primary data were collected from 20 mangosteen farmers, 5 merchants, and 2 exporters. Secondary data were collected from relevant agencies. Comparative and competitive advantages were estimated using a Policy Analysis Matrix (PAM). The results showed that profit of mangosteen farming could be determined after the sixth year after planting with production of 1.2 tons and profit of Rp 1.5 million per hectare. The highest production occurred in the 18th year with average production of 12.6 tons and benefit of Rp 68.5 million per hectare. Fruit production started decreasing in the 24th or 25th year. Results of PCR and DRC analyses showed values each of 0.40 and 0.19 implying that the mangostene farming having competitive and comparative advantages. Government policy on tradable inputs offered incentives to the farmers indicated by NPCI value of 0.76, but it had negative impact on mangostene price with NPCO value of 0.49. The government needs to pay attention to some indicators, such as those of trade and comparative and competitive advantages so that the mangostene farmers may benefit from them and get higher incomes.IndonesianSumbangan ekspor buah manggis beberapa tahun terakhir ini sangat besar dalam rangka meningkatkan devisa negara dan pendapatan petani. Ekspor manggis menempati urutan pertama ekspor buah segar ke mancanegara. Manggis Indonesia memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif yang nyata untuk pasar ekspor. Penelitian dilaksanakan pada Tahun 2009 pada bulan Septembar di Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Tujuan penelitian adalah : (i) menganalisis kelayakan finansial usahatani manggis, (ii) menganalisis keunggulan komparatif dan kompetitif manggis, dan (iii) mengkaji dampak kebijakan pemerintah serta pengaruh perubahan harga masukan dan keluaran terhadap daya saing manggis di Indonesia.  Penelitian menggunakan metode survei  terstruktur, wawancara langsung dengan responden menggunakan kuesioner.  Data primer dikumpulkan dari 20 petani manggis, 5 pedagang, dan 2 eksportir. Sedangkan data sekunder dikumpulkan dari instansi terkait. Kelayakan finansial usahatani manggis dihitung secara sederhana. Sedangkan keunggulan komparatif dan kompetitif diestimasi dengan menggunakan metode Policy Analysis Matrix (PAM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada awal tahun memperoleh keuntungan yaitu pada tahun ke 6 dimana produksi mencapai 1,2 ton dengan keuntungan yang dicapai Rp. 1,5 juta per ha. Produksi tertinggi terjadi pada tahun ke 18 yaitu 12,6 ton per ha, dengan keuntungan yang dapat dicapai Rp. 68,5 juta dan mengalami penurunan pada tahun ke 24 hingga 25. Hasil analisis nilai PCR sebesar 0.40 dan DRC 0.19 menyiratkan bahwa sistem komoditi ini juga memiliki keunggulan kompetitif maupun komparatif.  Kebijakan pemrintah pada faktor produksi yang dapat diperdagangkan terbukti memberikan insentif kepada petani manggis seperti diukur dari nilai NPCI  (0,76) kurang 1, dan kebijakan terhadap harga manggis berdampak negatif  dengan nilai NPCO (0,49) lebih kecil dari 1. Untuk kedepannya pemerintah perlu meluangkan perhatiannya sebagai pengambil kebijakan untuk mencermati beberapa indikator antara lain indikator perdagangan, serta indikator keunggulan kompetitif dan komparatif sehingga peluang untuk memanfaatkan perubahan tersebut dapat direalisasikan agar kesejahteraan petani manggis khususnya lebih terjamin.

Page 1 of 35 | Total Record : 348


Filter by Year

1981 2018


Filter By Issues
All Issue Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Agro Ekonomi: In Press Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 34, No 1 (2016): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 2 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 21, No 1 (2003): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 2 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 20, No 1 (2002): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 2 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 19, No 1 (2001): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 2 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 18, No 1 (1999): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 2 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 17, No 1 (1998): Jurnal Agro Ekonomi Vol 16, No 1-2 (1997): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 2 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 15, No 1 (1996): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 2 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 14, No 1 (1995): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 2 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 13, No 1 (1994): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 2 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 12, No 1 (1993): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 2 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 11, No 1 (1992): Jurnal Agro Ekonomi Vol 10, No 1-2 (1991): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 2 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 9, No 1 (1990): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 2 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 8, No 1 (1989): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 2 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 7, No 1 (1988): Jurnal Agro Ekonomi Vol 6, No 1-2 (1987): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 2 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 5, No 1 (1986): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 2 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 4, No 1 (1985): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 2 (1984): Jurnal Agro Ekonomi Vol 3, No 1 (1983): Jurnal Agro Ekonomi Vol 2, No 1 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 2 (1982): Jurnal Agro Ekonomi Vol 1, No 1 (1981): Jurnal Agro Ekonomi More Issue