cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Hortikultura
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 08537097     EISSN : 25025120     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Hortikultura (J.Hort) memuat artikel primer yang bersumber dari hasil penelitian hortikultura, yaitu tanaman sayuran, tanaman hias, tanaman buah tropika maupun subtropika. Jurnal Hortikultura diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian. Jurnal Hortikultura terbit pertama kali pada bulan Juni tahun 1991, dengan empat kali terbitan dalam setahun, yaitu setiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember.
Arjuna Subject : -
Articles 1,026 Documents
Karakter Fisiologis dan Kemangkusan Rizobakteri Indigenus Sulawesi Tenggara sebagai Pemacu Pertumbuhan Tanaman Cabai Sutariati, GAK
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejumlah besar mikroorganisme yang terdapat pada rizosfer tanaman diketahui berperan penting dalam pertanianberkelanjutan karena potensinya sebagai agens pengendali hayati dan pemacu pertumbuhan tanaman. Percobaan bertujuanmengevaluasi kemampuan isolat rizobakteri indigenus Sulawesi Tenggara yang dieksplorasi dari Kabupaten Konawe, Konawe Selatan,Kendari, Muna, dan Buton dalam memproduksi hormon tumbuh indole acetic acid (IAA) dan melarutkan fosfat. Evaluasi jugadilakukan untuk mengetahui kemangkusan isolat rizobakteri sebagai pemacu pertumbuhan tanaman cabai. Penelitian dilaksanakandi Laboratorium Agronomi dan Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Haluoleo Kendari, Sulawesi Tanggara, daribulan April sampai dengan Oktober 2009. Hasil percobaan menunjukkan bahwa isolat rizobakteri yang diuji memiliki kemampuanyang berbeda dalam mensintesis IAA . Rizobakteri dari kelompok Bacillus spp. memiliki kemampuan menghasilkan IAA dengankonsentrasi lebih tinggi (5,32–146,97 μg/ml) dibandingkan dengan Pseudomas fluorescens C179, (0,78 μg/ml), sementara Serratiasp. C175 tidak dapat mensintesis IAA. Di lain pihak, semua isolat rizobakteri yang diuji mampu melarutkan fosfat. Sementara itu,hasil pengaruh perlakuan benih dengan rizobakteri menunjukkan bahwa dari 10 isolat yang diuji, hanya isolat Bacillus spp. C061, P.fluorescens C179, dan Serratia sp.C175 yang konsisten memberikan efek yang lebih baik terhadap viabilitas benih dan pertumbuhanbibit cabai dibandingkan dengan kontrol dan isolat uji lainnya. Oleh karena itu isolat Bacillus spp. C061, P. fluorescens C179, danSerratia sp. C175 dapat direkomendasikan sebagai agens pemacu pertumbuhan cabai.ABSTRACTA vast number of microorganisms presentin rhizosphere have been considered as important in sustainable agriculture because of their biocontrol potential and ability topromote plant growth. The experiment was conducted at Agronomy Laboratory and Experimental Garden of Agriculture Faculty;Haluoleo University, Kendari, Southeast Sulawesi, from April till October 2009. The objective of this experiment was to evaluatethe ability of Southeast Sulawesi indigenous rhizobacteria isolates explorated and isolated from Konawe, South Konawe, Kendari,Muna, and Buton Regencies, to produce indole acetic acid (IAA), and solubilize phosphate. The experiments was also conductedto evaluate the effectiveness of those isolates as plant growth promoting rhizobacteria of hot pepper seedlings. Results of theexperiment showed that the rhizobacteria isolates had different ability to produce IAA. Rhizobacteria from Bacillus spp. producedhigh concentrations (5.32–146.97 μg/ml) of IAA. Pseudomonas fluorescens C179 produced IAA 0.78 μg/ml, while Serratia sp. C175did not produced IAA. On the other hand, all of isolates tested were able to be a solubilize phosphate. Meanwhile, results of theeffect of rhizobacterium-seed treatment showed that of 10 isolates tested, only isolates of Bacillus spp. C061, P. fluorescens C179,and Serratia sp. C175 who consistently provide a better effect on seed viability and seedling growth of hot peppers compared withcontrol and other isolates. Therefore Bacillus spp. C061, P. fluorescens C179, and Serratia sp. C175 isolates can be recommendedas promoting agents of hot peppers. 
Kajian Potensi Predator Coccinellidae untuk Pengendalian Bemisia tabaci (Gennadius) pada Cabai Merah Udiarto, Bagus Kukuh
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kutukebul Bemisia tabaci (Hemiptera: Aleyrodidae) merupakan hama penting pada pertanaman cabai merah dansatu-satunya penular virus Gemini (virus kuning). Virus kuning keriting yang disebabkan oleh virus Gemini sekarang menjadiepidemik di berbagai daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Sumatera Utara, dan Lampung, dengan intensitasserangan antara 20 sampai 100%. Tujuan penelitian untuk mendapatkan predator dari jenis Coccinellidae yang benar-benar efektifuntuk mengendalikan B. tabaci pada pertanaman sayuran khususnya cabai merah. Kajian potensi Coccinellidae sebagai predatorB. tabaci dilaksanakan pada tiga tahap percobaan, yaitu eksplorasi predator, uji daya pemangsaan, dan uji preferensi. Eksplorasipredator dilaksanakan dengan metode survei di tiga provinsi sentra produksi cabai merah dan daerah endemi penyakit virus kuningyaitu Jawa Barat (Kabupaten Cirebon dan Garut), Jawa Tengah (Kabupaten Brebes dan Magelang), dan DI Yogyakarta (KabupatenBantul dan Sleman). Eksplorasi predator dilakukan dengan mengumpulkan secara langsung serangga yang diduga sebagai predator(pendugaan predator berdasarkan pengamatan dan studi literatur), kemudian di inventarisasi dan diuji keefektifannya sebagai musuhalami melalui uji daya pemangsaan dan preferensi terhadap B. tabaci dan hama kutu daun cabai lainnya. Penelitian dilaksanakan ditiga provinsi, yaitu Jawa Barat (Kabupaten Cirebon dan Garut), Jawa Tengah (Kabupaten Brebes dan Magelang), dan DI Yogyakarta(Kabupaten Bantul dan Sleman) dari bulan Mei sampai dengan September 2010. Hasil eksplorasi dan identifikasi ditemukan 11 jenispredator yang berpotensi sebagai musuh alami B. tabaci, yang terdiri atas delapan jenis dari ordo Coleoptera famili Coccinellidae yaituMenochilus sexmaculatus, Coccinella transversalis, Verania lineata, Illeis sp., Curinus coeruleus, Delphastus sp., Harmonia sp., danMenochilus sp., satu jenis dari famili Stapilinidae yaitu Paederus fuscipes, satu jenis dari ordo Hemiptera: famili Miridae (Compylommasp.), satu jenis dari ordo Neuroptera famili Hemerobiidae, dan satu jenis ordo Diptera (Condylostylus sp). Berdasarkan distribusi,kelimpahan, uji daya pemangsaan dan uji preferensi terhadap B. tabaci, maka spesies predator yang berpotensi tertinggi sebagaiagens hayati B. tabaci ialah V. lineata, kemudian diikuti oleh M. sexmaculatus dan C. transversalis (Coleoptera : Coccinellidae).Pemanfaatan predator B. tabaci potensial dapat diuji dan diaplikasikan pada skala yang lebih besar.ABSTRACTWhitefly Bemisia tabaci (Homoptera:Aleyrodidae) is one of important pest on vegetable crops, especially on family of Solanaceae, particularly on chili peppers.Whiteflybecomes very critical pest because it become an important vector for Gemini virus. Many regions in West Java, Central Java,Yogyakarta, South Sumatera, and Lampung became endemic of leafroll yellow virus caused by Gemini virus in the recent year withdisease intensity from 20 till 100%. Objective of this research was to obtain potential and effective predators to control B. tabacifrom West Java, Central Java, and Yogyakarta. Study of Coccinellidae potency as natural enemy to control B. tabaci have beendone through three stages started from predator exploration, predation, and preference test. Predators exploration was done in chilipepper production centre area in three province, namely West Java (Cirebon and Garut Districts), Central Java (Brebes and MagelangDistrict), and Yogyakarta (Bantul and Sleman District). Those areas were choosen as exploration area because beside as chili peppersproduction centre areas, they were also indicated as Gemini virus endemic area. Predator exploration was done by collecting insectsthat were indicated as predator (based on literature study). Predators that found in this exploration then be identified and tested fortheir effectiveness as natural enemies (predation and preference test). From the exploration and identification, there were found11 species of predator, nine of eleven predator were member of Coleoptera (eight of them were member of family Coccinellidae,namely Menochilus sexmaculatus, Coccinella transversalis, Verania lineata, Illeis sp., Curinus coeruleus, Delphastus sp., Harmoniasp., Menochilus sp., and one of them was include in family of Staphylinidae Paederus fuscipes. We also find one species fromordo Hemiptera, i.e. member of Miridae family: Compylomma sp., one species from ordo Neuroptera, family Hemerobiidae, andone species from ordo Diptera (Condylostylus sp). Based on distribution, severity and effectiveness test, it could be concluded thatpredator species which have the highest potency as natural agent for controlling B. tabaci were V. lineata, M. sexmaculatus, and C.transversalis (Coleoptera : Coccinellidae). The use of B. tabaci high potential predators can be tested and applied in higher scale.The use of B. tabaci high potential predators can be tested and applied in higher scale.
Perbanyakan Massal Embrio Kalamondin Melalui Teknologi Somatik Embriogenesis Menggunakan Bioreaktor Devy, Nirmala Frianti; Yulianti, Farida; Hardiyanto, Hardiyanto
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sejauh ini, penelitian perbanyakan somatik embriogenesis baik untuk penyediaan semaian batang bawah maupun varietas komersial jeruk menghasilkan laju multiplikasi yang relatif lambat. Kombinasi antara perbanyakan melalui metode somatik embriogenesis dengan penggunaan bioreaktor, diharapkan mampu meningkatkan laju produksi kalus embrionik menjadi planlet.  Kajian awal dilakukan menggunakan nuselus Kalamondin (Citrus mitis Blanco) sebagai sumber kalus. Kalus yang dihasilkan diinduksi dan diperbanyak menjadi kalus embrionik dan embrio dengan cara dikulturkan pada shaker (100 rpm) serta bulb bioreactor. Tujuan penelitian ini ialah membandingkan produksi embrio Kalamondin melalui teknologi somatik embriogenesis pada kultur cair menggunakan shaker dan bioreaktor. Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, dari September 2008 sampai dengan Desember 2009.  Pada tahapan perbanyakan embrio dengan metode shaker, diperoleh bahwa rerata kemampuan kalus menghasilkan embrio dalam kultur selama 10 minggu ialah 18,12 embrio/g kalus. Dengan kisaran waktu yang sama, total embrio yang dihasilkan 3 g kalus/300 cc media cair di dalam bioreaktor menghasilkan 46 embrio/g kalus atau setara 2,53 kali dibandingkan metode shaker. Embrio yang tumbuh pada bioreaktor dapat berkembang hampir 100% menjadi planlet. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa aplikasi bioreaktor untuk tujuan perbanyakan massal embrio Kalamondin memiliki pengaruh yang signifikan terhadap laju multiplikasinya.ABSTRAKSo far, research on somatic embryogenesis for rootstock and citrus commercial varieties has been faced by low multiplication rate of embryos. Combination of somatic embryogenesis method and bioreactor hypothezed can increase multiplication rate of embryos and improve regeneration of embryogenic calli to produce plantlets.  Kalamondin explants were inducted and proliferated to be embryonic calli and embryos using both shaker (100 rpm) and bulb bioreactor. The aimed of this research was to compare the production of Kalamondin embryos through somatic embryogenesis method on liquid media using shaker and bulb bioreactor. Research was conducted at Tissue Culture Laboratory of Indonesian Citrus and Subtropical Fruit Research Institute from September 2008 to December 2009.  Kalamondin nucelus as a callus source was used in this research. Results of the study indicated that the average of embryos production through shaker technique within 10 weeks of culture incubation was 18.12 embryos/g callus, while application of bioreactor imrpoved embryo productivity up to  46 embryos/g calli (3 g/300 cc media). The multiplication rate using the bioreactor increased up to 2.53 fold compare to shaker method. Results of the study give the real evidence that application of biorector for in vitro mass propagation of Kalamondin embryos had high significant effect on embryo multiplication rate.
Pengaruh Pengemasan dan Penyimpanan terhadap Masa Kesegaran Bunga Mawar Potong Amiarsi, Dwi
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Larutan pulsing merupakan suatu larutan nutrisi sebagai sumber karbohidrat dan dapat melindungi tangkai bunga dari serangan mikroorganisme penyebab penyumbatan dan mampu mempertahankan mutu bunga mawar potong. Tujuan penelitian ialah untuk memperoleh cara pengemasan dan penyimpanan yang tepat dalam upaya memperpanjang masa kesegaran bunga mawar potong. Bunga mawar dipanen di daerah Sukabumi, Jawa Barat, pada pagi hari pukul 07:00 dengan stadia kuncup dua petal terluar terbuka, kemudian direndam dalam 20 ppm AgNO3 + 5% gula pasir + 320 ppm asam sitrat selama 12 jam. Selanjutnya bunga mawar dikemas dalam kantong plastik PE dengan ketebalan 0,03 mm sebagai kemasan primer. Setelah itu dimasukkan ke dalam kotak karton ukuran 75 x 20 x 8 cm sebagai kemasan sekunder. Sebagai kontrol digunakan bunga tanpa perlakuan perendaman. Selanjutnya disimpan dalam ruang dingin suhu 5–10oC. Penelitian dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman Hias Pasarminggu, dari bulan Agustus 2006 sampai dengan Maret 2007 menggunakan rancangan acak kelompok pola faktorial dengan dua faktor, yaitu cara pengemasan (A), enam taraf  terdiri atas (a1) pengemasan dalam kantong plastik PE dengan ketebalan 0,03 mm, 16 lubang mikro, kapasitas 10 tangkai bunga mawar potong; (a2) pengemasan dalam kantung plastik PE dengan  ketebalan 0,03 mm, 16 lubang mikro, kapasitas satu tangkai bunga mawar potong; (a3) pengemasan dalam kantong plastik PE dengan  ketebalan 0,03 mm, tanpa lubang, kapasitas 10 tangkai bunga mawar potong; (a4) pengemasan dalam kantong plastik PE dengan  ketebalan 0,03 mm, tanpa lubang, kapasitas 1 tangkai bunga mawar potong; (a5) tanpa pengemasan (langsung dimasukkan ke dalam kotak karton); dan (a6) tanpa pulsing dan pengemasan. Lama penyimpanan (B), tiga taraf terdiri atas (b1) penyimpanan 2 hari; (b2) penyimpanan 4 hari; dan (b3) penyimpanan 6 hari dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengemasan primer dengan kantong plastik PE 0,03 mm, dalam kotak karton single corrugated (ukuran 75 x 20 x 8 cm) dengan lama penyimpanan 2 hari, memberi hasil yang terbaik dengan masa kesegaran mencapai 6,81 hari (2 hari lebih lama dibanding kontrol) dengan diameter bunga berkisar 5,23-7,11 cm dan larutan terserap yang tertinggi. Implikasi ini merupakan metode pengemasan yang dapat digunakan pedagang untuk memperpanjang ketahanan simpan bunga mawar potong sehingga jangkauan distribusi dan pemasaran dapat diperluas.ABSTRACTPulsing solution containing sugar and germicides were used for flower stem dipping before packaging and long storage to serve as carbohydrate sources, prevent the plugged stems from microbe infestation, and keep the quality of rose cut flowers. The objective of the study was to determine the proper packaging and storage of rose cut flowers. The flowers were harvested at a flower rose garden in Sukabumi-West Java at 07:00 AM with two bud opening stages and then they were pulsed with solution of AgNO3 20 ppm + sucrose 5% + 320 ppm citric acid for 12 hours. Each flower was placed in a box (75 x 20 x 8 cm) with capacity of 10 inflorescences. All treated cut flowers were storage at temperature of 5–10oC. The experiment was conducted in Experimental Garden of Indonesian Ornamental Plant Research Institute from August 2006 until March 2007, arranged in a completely randomize design (packaging method, six level: (a1) packaging PE 0.03 mm, pink prick 16 micro, 10 cut rose flowers; (a2) packaging PE 0.03 mm, pink prick 16 micro, 1 cut rose flowers; (a3) packaging PE 0.03 mm, 10 cut rose flowers; (a4) packaging PE 0.03 mm, 1 cut rose flowers (a5) without packaging (put direct into the cartoon box), (a6) control. Storage duration (B), three level: (b1) two days; (b2) four days; and (b3) six days with three replication. The results showed that the primary packaging with polyethylene plastic bag (PE) 0.03 mm, in a cardboard box single corrugated (size 75 x 20 x 8 cm) and storage duration of 2 days, give the best results with the freshness reach 6.81 days (two days longer than the  control), with flower diameter 5.23-7.11 cm and highest take up solution. This method was beneficial to the grower because they can expand their potential to market the flower. 
Penentuan Status Hara Nitrogen pada Bibit Duku Hernita, Desi
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nitrogen merupakan unsur yang sangat memengaruhi pertumbuhan, perkembangan dan produksi tanaman.  Hara ini merupakan komponen esensial klorofil, protein, hormon, dan enzim. Gejala kekurangan atau kelebihan hara tersebut dapat terdeteksi secara visual pada penampilan daun, sehingga sangat penting untuk mencegah terjadinya kedua kondisi tersebut pada pertumbuhan bibit duku (Lansium domesticum Corr). Penelitian status hara nitrogen dilakukan pada bibit duku umur 2 tahun yang ditanam pada media pasir di Provinsi Jambi dari bulan Maret 2010 sampai dengan Maret 2011.  Percobaan disusun menggunakan rancangan acak kelompok, dengan lima perlakuan dosis nitrogen: 0, 100, 200, 400, dan 800 ppm/tanaman, diaplikasikan dalam bentuk air irigasi setiap 2 hari sekali dan masing-masing perlakuan terdiri dari tiga tanaman dan tiga ulangan.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa gejala kekurangan nitrogen pertama terlihat pada daun tua yang ditandai dengan perubahan warna daun menjadi hijau kekuningan (klorosis), tangkai daun lemah dan berwarna kuning, jumlah daun kurang atau sama dengan 4,2 helai, pertumbuhan terhambat, dan konsentrasi nitrogen daun kurang dari 1,13%. Kecukupan nitrogen ditandai dengan pertumbuhan yang normal, daun berwarna hijau tua, jumlah daun berkisar antara 5 sampai 5,5 helai dan konsentrasi nitrogen daun antara 1,13 sampai 1,44%. Kelebihan nitrogen terlihat pada daun yang berwarna coklat dan mengalami nekrosis, jumlah daun kurang dari 3,78 helai, pertumbuhan bibit terhambat, konsentrasi nitrogen daun lebih dari 1,44%. Pertumbuhan maksimum membutuhkan 381 ppm pupuk nitrogen/tanaman, yang setara dengan 8 g urea/l air atau 77 g Urea/tahun. Rekomendasi pemupukan N ini merupakan salah satu teknologi yang dapat meningkatkan ketersediaan bibit duku bermutu.ABSTRAKNitrogen greatly affects the growth, development and production of crops, since it is an essential component of chlorophyl, proteins, hormones, and enzymes. The deficiency or excessive symptoms of the nitrogen can be easily observed mainly and visually in leaves, so it is important to determine the nitrogen concentration in both conditions.  The status study of the nitrogen on duku (Lansium domesticum Corr) seedling planted in sand was conducted in Jambi Province from March 2010 until March 2011.  The experiment was arranged by a randomized complete block design with five treatments consisting of three plants in each treatment and three replications. The treatments were consisted of five levels of nitrogen fertilization of 0, 100, 200, 400, and 800 ppm/plant. The results showed that nitrogen deficiency symptoms were appeared in old leaves with color changing from light green and yellowish (chlorosis), weak petiole and yellow color, leaf number more than or equal with 4.2, stunted growth with leaf nitrogen concentration less than 1.13%.  Adequate nitrogen was characterized by normal growth, dark green leaves, number of leaves between 5–5.5, and leaf nitrogen concentration from 1.13–1.44%. The symptoms of excessive nitrogen showed brown leaves, dry leaf (necrosis), number of leaves ≤ 3.78, inhibited seedling growth, leaf nitrogen concentration more than 1,44%.  The maximum growth requires 381 ppm of nitrogen fertilizer/crop, equivalent to 8 g of  Urea/l of water or 77 g Urea/year. Recommendation of nitrogen fertilizer is one technology that will increase the availability of qualified duku seedlings.
Penggunaan Rumah Kasa untuk Mengatasi Serangan Organisme Pengganggu Tumbuhan pada Tanaman Cabai Merah di Dataran Rendah Moekasan, Tonny Koestani
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu dampak perubahan iklim terhadap budidaya cabai merah di dataran rendah ialah peningkatan intensitas serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Penelitian penggunaan rumah kasa untuk mengatasi serangan OPT pada budidaya cabai merah dilakukan di Kecamatan Kersana, Kabupaten  Brebes, Jawa Tengah pada bulan April sampai dengan Oktober 2010. Penelitian ini bertujuan  mengetahui pengaruh rumah kasa terhadap serangan OPT dan produksi cabai merah. Dua macam perlakuan yang diuji ialah (a) budidaya tanaman cabai merah di dalam rumah kasa dan penggunaan pestisida berdasarkan ambang pengendalian OPT dan (b) budidaya tanaman cabai merah di lahan terbuka dan penggunaan pestisida dengan sistem kalender 3 hari sekali. Penelitian dilakukan menggunakan metode petak berpasangan dan tiap perlakuan diulang tiga kali. Petak perlakuan berukuran 137,5 m2, varietas cabai yang ditanam ialah Tit Segitiga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan rumah kasa dapat mengurangi serangan OPT sebesar 12–28,52%, sehingga  biaya pestisida dapat dikurangi lebih dari 95% dengan produksi lebih tinggi sebesar 927,53% dibandingkan dengan budidaya tanaman cabai merah di lahan terbuka tanpa rumah kasa. Dengan demikian, penggunaan rumah kasa dapat direkomendasikan sebagai teknologi budidaya cabai merah di dataran rendah.ABSTRACTOne of impacts of climate change is increasing of pests and diseases infestation. Study of use of netting house for suppresing pests and diseases on hot peppers in the lowland area was carried out at Kersana Subdistrict, Brebes District, Central Java from April to October 2010. This study aimed to determine the effect of netting house on pests and diseases infestation and the yield on hot peppers cultivation. The treatments tested were : (a) hot pepper cultivation in the netting house and the use of pesticides based on the control threshold and (b) hot peppers  cultivation in open field and pesticide use every 3 days. The study was conducted with paired comparison and each treatment was repeated three times. The size of every plot was 137.5 m2. Hot pepper variety planted was Tit Segitiga. The results showed that the use of netting house could decrease pests and diseases infestation (12–28,52%), so that pesticide cost could be reduced more than 95% with the yield higher than 927.53% compared with those of hot peppers cultivation in open field. There for the use of netting house can be recommended for hot peppers cultivation in lowland area.
Penerapan Ambang Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan pada Budidaya Bawang Merah dalam Upaya Mengurangi Penggunaan Pestisida Moekasan, TK
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Organisme pengganggu tumbuhan (OPT) merupakan satu faktor pembatas dalam budidaya bawang merah di dataranrendah. Untuk mengatasi masalah tersebut, petani bawang merah menggunakan pestisida secara intensif. Keadaan tersebutmenyebabkan biaya produksi meningkat dan usahatani bawang merah menjadi tidak efisien. Salah satu upaya untuk mengurangipenggunaan pestisida ialah dengan penerapan ambang pengendalian OPT. Percobaan penerapan ambang pengendalian OPT padabudidaya bawang merah dilakukan di Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah (± 5 m dpl.) pada bulan April sampaidengan Juli 2009. Tujuan penelitian ialah mengetahui pengaruh penerapan ambang pengendalian terhadap pengurangan penggunaanpestisida. Dua macam perlakuan diaplikasikan pada penelitian ini, yaitu (A) penerapan ambang pengendalian OPT (Spodopteraexigua, Liriomyza sp., dan Alternaria porri) dibandingkan dengan (B) pengendalian OPT dengan sistem kalender aplikasi pestisidatiap 3 hari sekali. Percobaan dilakukan dengan metode petak berpasangan dan setiap perlakuan diulang enam kali. Bawang merahvarietas Bima Curut ditanam pada petak perlakuan seluas 37,5 m2. Hasil percobaan menunjukkan bahwa penerapan ambangpengendalian dapat mengurangi jumlah penyemprotan insektisida sebesar 43,75% dan fungisida sebesar 87,50%, volume semprotpestisida sebesar 52,83% dengan hasil panen tetap tinggi (36,40 t/ha). Teknologi ambang pengendalian tersebut secara ekonomilayak untuk diadopsi karena dapat meningkatkan pendapatan bersih dan mengurangi biaya penyemprotan dibandingkan denganteknologi pengendalian OPT sistem kalender.ABSTRACTPests and diseases are two of the limiting factors in shallotscultivation in the lowland areas. To overcome pest and disease problems, shallots farmers generally use pesticides intensively. Thesecircumstances led the increase of production costs and the inefficient on shallots cultivation. One effort to reduce using pesticide useis by applying the control threshold of pests and diseases. The experiment of the control threshold of pests and diseases on shallotscultivation was carried out in Kersana Subdistrict, Brebes District, Central Java (± 5 m asl.) in April until July 2009. This experimentaimed to determine the effect of control threshold on reduction of using pesticide. Two kind of treatments were applied, namely(A) the use of control threshold (Spodoptera exigua, Liriomyza sp., and Alternaria porri) compared with (B) with the calendarsystem via application of pesticides every 3 days. The study was conducted using paired comparison method and each treatment wasrepeated six times. Treatment plot size was 37.5 m2. The shallots variety planted was Bima Curut. The result showed that the controlthreshold could reduce insecticide and fungicide application by 43.75 and 87.50% respectively; spraying volume 52.83% with yieldremain high (36.40 t/ha). Implementation of the control threshold, was economically feasible to be adopted because it can increasenet revenues and reduce costs of pesticide compared with the calendar system of pests control, routinely applied every 3 days.
Teknologi Haploid Anyelir: Studi Tahap Perkembangan Mikrospora dan Seleksi Tanaman Donor Anyelir Kartikaningrum, S
Jurnal Hortikultura Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan teknologi haploidisasi merupakan salah satu terobosan yang diharapkan mampumempercepat kebangkitan industri florikultura di Indonesia. Teknologi tersebut dapat menghasilkan tanaman homozigotmurni atau tanaman haploid ganda. Tujuan penelitian ialah (1) mengetahui tahap perkembangan bunga, mikrospora,dan viabilitasnya, (2) mendapatkan medium inisiasi yang potensial untuk kultur anter atau mikrospora anyelir.Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan, Balai Penelitian Tanaman Hias, Segunung dan LaboratoriumMicrotechnique, Departemen Agronomi, Institut Pertanian Bogor, mulai September 2009 sampai dengan Oktober 2010.Bahan tanaman yang digunakan ialah lima genotip Dianthus chinensis. Pengamatan mikrospora dengan pengecatanmenggunakan DAPI dan FDA, seleksi medium inisiasi, dan tanaman donor dilakukan dalam penelitian ini. Penelitianini menghasilkan lima genotip D. chinensis yang memiliki kecepatan anthesis yang relatif sama, yaitu berkisar antara14-16 hari, mempunyai ciri-ciri spesifik, yaitu adanya perubahan warna anter pada fase perkembangan kuncup bungayang sama dan pada genotip V11, V13, dan V15 yang memiliki ukuran mikrospora bervariasi. Jumlah mikrosporaper anter terbanyak ditemukan pada genotip V11, yaitu 30.400. Rasio tahap perkembangan mikrospora berubahsejalan dengan perubahan tahap perkembangan kuncup bunga dengan persentase late-uninucleate tertinggi (44,64%)pada saat kuncup bunga mencapai ukuran antara 1,31 dan 1,51 cm, dan belum ada perubahan warna anter. Viabilitasmikrospora berkisar antara 40-60% dan persentase tertinggi ditunjukkan oleh genotip V11. Fase perkembanganmikrospora T3 (ukuran kuncup 1,31-1,50 cm, warna anter putih) berpotensi untuk pengujian lebih lanjut. Mediuminisiasi yang dipilih ialah medium M2 dan M5 yang akan diuji lebih lanjut. Genotip V11 ditetapkan sebagai tanamandonor utama, sedang genotip lain yang berpotensi yaitu V13 dan V15. Hasil penelitian ini bermanfaat sebagai langkahawal pembuatan protokol kultur anter tanaman anyelir. AbstractThe development of haploid technology is one of the breakthrough innovation to fasten the revival of floricultureindustry in Indonesia. Homozygous double haploid plants can be produced through this technology. The aims of thisresearch were to determine (1) flower development stage, microspores, and survival, (2) isolation techniques andmedium having the potential for initiation of anther or microspores culture of carnation. The study was conducted atthe Tissue Culture Laboratory, Indonesian Ornamental Crops Research Institute, Segunung, and the MicrotechniqueLaboratory, Department of Agronomy, Bogor Agricultural University, from September 2009 to October 2010. Fivegenotypes of Dianthus chinensis were used in this study. Periodically observations of anther morphology, DAPI andFDA staining, selection of medium, and donor plants were done in this research. The results showed that the D. chinensisgenotypes tested had relatively the same growth speed of anther ranged from 14 to 16 days, special characteristics incolor change of anther of the flower bud stage development of the same genotype and variation of microspore sizeamong the genotypes V11, V13, and V15. The highest number of microspores per anther was presented in genotypeV11 (30,400). The ratio of microspore developmental stage changed in line with flower bud development stagewith the highest percentage of late-uninucleate (44.64%) at flower bud size between 1.31 to 1.51 cm, and there wasno change in color of anther. Microspore viability ranged between 40 and 60%, and the highest percentage shownby genotype V11. Microspore development phase of T3 (bud size 1.31-1.50 cm, white anther color) had potentialfor further testing. The selected initiation media were M2 and M5, which will be examined further. Genotype V11designated as a major donor plant, while the other potential genotypes were V13 and V15. The results of this studyare useful as a first step to develop anther culture protocol on carnation.
Respons Tanaman Bawang Merah Asal Biji True Shallot Seeds terhadap Kerapatan Tanaman pada Musim Hujan Sumarni, Nani
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerapatan tanaman merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi produksi umbi bawang merah asal true shallotsseed (TSS) pada musim hujan (off-season). Tujuan penelitian ialah menentukan kerapatan tanaman yang sesuai untuk produksi umbibeberapa varietas bawang merah dari TSS. Penelitian dilakukan di lahan petani di dataran rendah Cirebon, dari bulan November2010 sampai dengan Februari 2011. Rancangan percobaan yang digunakan ialah acak kelompok pola faktorial, dengan dua faktordan empat ulangan. Faktor pertama ialah tanaman asal TSS beberapa varietas bawang merah, yaitu Allium ascalonicum cv. Maja,Bima, dan Tuk-Tuk sebagai pembanding. Faktor kedua ialah kerapatan tanaman, yaitu 100 dan 150 tanaman per m2. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara varietas dan kerapatan tanaman terhadap pertumbuhan dan hasil umbi bawang merahasal TSS. Varietas dan kerapatan tanaman tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan hasil umbi bawang merah asal TSS, tetapiberpengaruh terhadap jumlah tanaman yang dapat dipanen umbinya. Varietas Tuk-Tuk sebagai pembanding dan kerapatan tanamanyang tinggi (150 tanaman per m2) menunjukkan jumlah tanaman yang dapat dipanen paling sedikit. Hasil umbi kering asal TSS palingtinggi diperoleh pada A. ascalonicum cv. varietas Maja dengan kerapatan 100 tanaman/m2, yaitu sebesar 5,15 t/ha. Hasil penelitianini diharapkan bermanfaat bagi pengguna untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas umbi bawang merah pada musim hujan.ABSTRACTThe plant density is one of important factors affecting productivity of shallots derived fromtrue shallot seeds in rainy season. The objective of this experiment was to find out the proper plant density for producing bulbfrom true shallot seeds on several shallots varieties derived from true shallot seeds. The experiment was conducted at farmer fieldin Cirebon lowland from November 2010 to February 2011. Factorial experiment was arranged by a randomized complete blockdesign with two factors and four replications. First factor was TSS varieties, viz. Allium ascalonicum cv. Maja, Bima, and Tuk-Tuk as control. Second factor was plant densities, viz. 100 and 150 plants per m2. The results showed that there was no interactioneffect between varieties and plant densities on plant growth and bulb yield of shallots from TSS. Plant growth and bulb yield ofshallots from TSS were not affected by varieties and plant densities, but the varieties and plant densities affected the number ofplant harvested. The lowest of the number of plant harvested was on Tuk-Tuk variety with plant density of 150 plants per m2.The highest dry bulb yield up to 5.2 t/ha was obtained by Maja variety with plant density of 100 plants per m2. The researchresults expected can give significant benefit for farmer in increasing productivity and quality of shallots bulb in rainy season.
Perbaikan Pembungaan dan Pembijian Beberapa Varietas Bawang Merah dengan Pemberian Naungan Plastik Transparan dan Aplikasi Asam Gibberelat Sumarni, Nani
Jurnal Hortikultura Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012
Publisher : Indonesian Center for Horticultural Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah utama dalam produksi true shallot seeds (TSS) di Indonesia sebagai sumber benih yang sehat ialah pembungaandan pembijian bawang merah yang masih rendah. Penelitian ini dilakukan di Kebun Percobaan Balai Penelitian Tanaman SayuranLembang (1.250 m dpl.), pada bulan Mei sampai dengan November 2010. Tujuan penelitian ialah untuk mengetahui pengaruh varietas,zat pengatur tumbuh (ZPT) asam gibberelat, dan naungan plastik transparan terhadap pembungaan dan hasil biji bawang merah TSS.Rancangan percobaan yang digunakan ialah petak terpisah, dengan tiga ulangan. Petak utama ialah tiga varietas bawang merah, yaituMaja, Bima, dan Kuning. Anak petak terdiri atas empat kombinasi perlakuan ZPT asam gibberelat dan naungan plastik transparan, yaitutanpa naungan + tanpa asam gibberelat, tanpa naungan + asam gibberelat 200 ppm, naungan plastik transparan + tanpa asam gibberelat,dan naungan plastik transparan + asam gibberelat 200 ppm. Sebelum ditanam, umbi bibit divernalisasi dengan suhu 10oC selama 3minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi yang nyata antara varietas dengan aplikasi asam gibberelat + naungan plastiktransparan hanya terjadi pada persentase jumlah tanaman bawang merah yang berbunga. Jumlah tanaman yang berbunga paling banyakterdapat pada varietas Bima dengan tanpa aplikasi naungan plastik transparan + asam gibberelat, yaitu sebesar 54,06%. Hasil biji bawangmerah TSS paling tinggi diperoleh dengan aplikasi naungan plastik trasparan + 200 ppm asam gibberelat, yaitu pada varietas Majasebesar 16,11 kg/ha, Bima 13,07 kg/ha, sedangkan pada varietas Kuning tidak dapat menghasilkan biji TSS karena bunga-bunganyamenjadi busuk terserang penyakit yang disebabkan oleh cendawan. Hasil dan kualitas biji TSS yang masih rendah disebabkan keadaancuaca tidak mendukung terjadinya pembuahan dan pembijian bawang merah yang optimal, akibat curah hujan yang cukup tinggi.ABSTRACTThe main problem in producing true shallotseed (TSS) as source of healthy seed in Indonesia is low flowering and seed set of shallots. The experiment was conducted atExperimental Garden of Indonesian Vegetable Research Institute (IVEGRI), Lembang (1,250 m asl.) from May to November2010. Objective of the study was to evaluate the effect of varieties, gibberellic acid, and transparent plastic shelter on flowering andtrue seed forming of shallots. A split plot design with three replications was used in this experiment. Main plots were three shallotvarieties i.e. Allium ascalonicum cv. Maja, Bima, and Kuning. Subplots were four combinations of gibberellic acid and transparentplastic sheltering i.e. (1) no sheltering and gibberellic acid applying; (2) no sheltering and applying 200 ppm gibberellic acid; (3)transparent plastic sheltering and no gibberellic acid application, and (4) transparent plastic sheltering and application of 200 ppmgibberellic acid. Before planting, mother bulb seed were vernalized in 10oC for 3 weeks. The results showed that there was interactionbetween variety, gibberellic acid, and transparent plastic sheltering on percentage of shallots plant number which produced flower.The highest percentage of shallots plant number producing flower up to 54.06% was obtained on A. ascalonicum cv. Bima withoutapplication of transparent plastic sheltering and gibberellic acid. The highest yield of TSS, viz. 16.11 kg/ha for Maja and 13.07 kg/ha for Bima was determined on application of transparent plastic sheltering and 200 ppm gibberellic acid. The flowers of Kuningvariety did not produce TSS because the flowers were attacked by fungi diseases. The quantity and quality of TSS yield were stilllow due to unsupporting weather for the flowering and seedling of shallots optimally.

Page 1 of 103 | Total Record : 1026


Filter by Year

1999 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 29, No 1 (2019): Juni 2019 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 28, No 1 (2018): Juni 2018 Vol 27, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 27, No 1 (2017): Juni 2017 Vol 26, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 26, No 1 (2016): Juni 2016 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 4 (2015): Desember 2015 Vol 25, No 3 (2015): September 2015 Vol 25, No 2 (2015): Juni 2015 Vol 25, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 24, No 4 (2014): Desember 2014 Vol 24, No 3 (2014): September 2014 Vol 24, No 2 (2014): Juni 2014 Vol 24, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 23, No 4 (2013): Desember 2013 Vol 23, No 3 (2013): September 2013 Vol 23, No 2 (2013): Juni 2013 Vol 23, No 1 (2013): Maret 2013 Vol 22, No 4 (2012): Desember 2012 Vol 22, No 4 (2012): Desember Vol 22, No 3 (2012): September 2012 Vol 22, No 2 (2012): Juni 2012 Vol 22, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 4 (2011): DESEMBER 2011 Vol 21, No 3 (2011): SEPTEMBER 2011 Vol 21, No 2 (2011): JUNI 2011 Vol 21, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 20, No 4 (2010): Desember 2010 Vol 20, No 3 (2010): September 2010 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2012 Vol 20, No 2 (2010): Juni 2010 Vol 20, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 19, No 4 (2009): Desember 2009 Vol 19, No 3 (2009): September 2009 Vol 19, No 2 (2009): Juni 2009 Vol 19, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 18, No 4 (2008): Desember 2008 Vol 18, No 3 (2008): September 2008 Vol 18, No 2 (2008): Juni 2008 Vol 18, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 17, No 4 (2007): Desember 2007 Vol 17, No 3 (2007): September 2007 Vol 17, No 2 (2007): Juni 2007 Vol 17, No 1 (2007): Maret 2007 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 16, No 4 (2006): Desember 2006 Vol 16, No 3 (2006): September 2006 Vol 16, No 2 (2006): Juni 2006 Vol 16, No 1 (2006): Maret 2006 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 15, No 4 (2005): Desember 2005 Vol 15, No 3 (2005): September 2005 Vol 15, No 2 (2005): Juni 2005 Vol 15, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 14, No 4 (2004): Desember 2004 Vol 14, No 3 (2004): September 2004 Vol 14, No 2 (2004): Juni 2004 Vol 14, No 1 (2004): Maret 2004 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 4 (2003): DESEMBER 2003 Vol 13, No 3 (2003): SEPTEMBER 2003 Vol 13, No 2 (2003): Juni 2003 Vol 13, No 1 (2003): Maret 2003 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 12, No 4 (2002): Desember 2002 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 Vol 9, No 1 (1999): Maret 1999 More Issue