cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. gowa,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Lentera Pendidikan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue " Vol 16, No 1 (2013)" : 20 Documents clear
EFIKASI DIRI, KEPUASAN KERJA, DAN ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR PADA GURU MAN DI SULAWESI Rahman, Ulfiani
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Vol 16, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lp.2013v16n1a1

Abstract

Abstrak: Ada  tiga  tujuan  penelitian  ini  yaitu  untuk  mengetahui  hubungan  antara  efikasi diri dengan perilaku organisasi, hubungan antara kepuasan kerja dengan perila- ku kerja organisasi dan peranan kepuasan kerja sebagai mediator dalam hubung- an antara efikasi diri dengan perilku kerja organisasi. Ada tiga skala yang digu- nakan dalam penelitian ini, yakni skala perilaku kerja organisasi, skala efikasi diri guru,  dan  angket  kepuasan  Minnesta.  Penelitian  ini  dilaksanakan  di  11  sekolah agama  yang  berlokasi  di  bagian  Utara,  Timur,  Selatan,  Barat,  dan  Tengah provinsi  Sulawesi  Selatan.  Sampel  terdiri  dari  208  guru.  Hasil  penelitian  ini menunjukkan bahwa ada hubungan positif dan signifikan antara efikasi diri dan perilaku  kerja  organisasi.  Hasil  penelitian  ini  juga  menunjukkan  bahwa  ada hubungan  positif  dan  signifikan  antara  kepuasan  kerja  dengan  perilaku  kerja organisasi.  Ada  peranan  kepuasan  kerja  dalam  hubungan  antara  efikasi  diri dengan  perilaku  kerja  organisasi.  Hal  ini  berarti  bahwa  efikasi  diri  mempe- ngaruhi  perilaku  kerja  organisasi  guru  di  MAN  dimana  kepuasan  kerja  sebagai mediasi. Abstract : There are three objectives in this study namely to know the relationship between self efficacy and  organizational citizenship  behavior, relationship between  job satis- faction  and  organizational  citizenship  behavior),  and  the  role  of  job  satisfaction  as mediator in the relationship between self efficacy and organizational citizenship be- havior (OCB). There are three scales used in this research which are organizationnal citizenship  behavior  scale,  teacher  self  efficacy,  and  minnesta  satisfaction  ques- tionnaire. The study was conducted on 11 religious schools located in a portion of North, East, South, West, and the Middle of South Sulawesi, Indonesia. The popu- lation of the research was 208 people then are used as a sample. Result of study was resulted that a positive and significant relationship between self efficacy and organizational citizenship behavior. Then, there is a positive and significant relation- ship  between  job  satisfaction  and  organizational  citizenship  behavior.  There  is  the role of job satisfaction in the relationship between self efficacy and  organizational citizenship behavior. This means that self efficacy influences teachers organizational citizenship behavior in MAN by job satisfaction as a mediation. 
FAKTOR SITUASIONAL, ORIENTASI TUJUAN, DAN LOCUS OF CONTROL SEBAGAI PREDIKTOR PRAKTEK MENYONTEK: PENYUSUNAN DAN PENGUJIAN MODEL Mujahidah, Mujahidah
Lentera Pendidikan : Jurnal Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Vol 16, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/lp.2013v16n1a3

Abstract

Abstrak: Masalah  menyontek  telah  menjadi  persoalan  krusial  dalam  dunia  pendidikan, khususnya  di  perguruan  tinggi.  Faktor  situasional,  tujuan,  dan  locus  of  control adalah  sebagian  faktor  yang  dianggap  mempengaruhi  maraknya  praktek  me- nyontek.  Berdasarkan  analisis  model  persamaan  struktural  dapat  disimpulkan model E lebih kuat daripada model A, Model B, Model C, dan model D. Hal ter- sebut  diketahui  berdasarkan  kriteria  nilai  chi-square,  nilai  CFI,  dan  nilai  p  sehingga terdapat kesesuaian antara model dan data. Ketiga hipotesis minor  yang diajukan diterima secara signifikan. Abstract:The  problem  of  cheating  has  become  a  crucial  issue  in  education,  especially  in universities.  Situational  factors,  objectives,  and  locus  of  control  are  some  of  the factors considered affect a lot of cheating practice. Based on the analysis of struc- tural equation models, it can be inferred that E model is more powerful than the model A, Model B, Model C and Model D. It is known by the criteria of the chi- square value, the value of the CFI, and the value of p, therefore there is a corres- pondence between the model and the data. Three minor hypotheses proposed are received significantly.    
DESKRIPSI ANALISIS KEMAMPUAN MENGAJAR MAHASISWA PPL BIDANG STUDI PENDIDIKAN FISIKA SEMESTER VI PADA FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN IAIN RADEN INTAN LAMPUNG Yuberti, Yuberti
Lentera Pendidikan Vol 16, No 1 (2013): Jurnal Lentera Pendidikan
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mengetahui  kemampuan  mahasiswa  dalam  me- nyusun Komponen RPP, pelaksanaan pembelajaran, komponen kepribadian dan sosial  dan  komponen  laporan  PPL.  Penelitian  ini  mengggunakan  metode  des- kriptif dengan pengumpulan data melalui survey. Populasi adalah semua peserta PPL Pendidikan Fisika semester VI. Sampel dengan teknik total sampling dengan jumlah 30 orang. Berdasarkan hasil analisis ditemukan: (1). Penilaian Komponen RPP;  memperoleh  nilai  rata-rata  3,77  dari  nilai  total  yang  menjadi  acuan  pe- doman penilaian PPL; (2). Penilaian Komponen Pelaksanaan Pembelajaran; men- dapatkan nilai rata-rata 3,78, dari nilai total yang menjadi acuan pedoman peni- laian PPL. (3). Penilaian Komponen Kepribadian dan Sosial; rata-rata mendapat- kan nilai 3,84, dari nilai total yang menjadi acuan pedoman penilaian PPL. (4). Pe- nilaian Komponen Laporan PPL; mendapatkan nilai dengan rata-rata 3,65 dari ni- lai total yang menjadi acuan pedoman penilaian PPL. Abstract: This study aimed to determine the ability of the students in preparing the lesson plan components, implementation of learning, personality and social components and pre service teaching reports. This research is a descriptive methods using sur- veys  as  collection  data.  The  populations  were  all  of  the  pre  service  students  of physical  education  department.  The  samples  were  taken  by  using  census  samp- ling which were totally 30. Based on the data analysis, it is found that: (1) The as- sessment of lesson plan components obtains an average value of 3.77 of the total value of the reference pre service teaching assessment guidelines; (2) The assess- ment of learning implementation component  obtains an average value of 3.78 of the  total  value  of  the  reference  pre  service  teaching  assessment  guidelines.  (3). The assessment of personality and social components obtains an average value of 3.84 of the total value of the reference pre service teaching assessment guidelines. (4) The assessment of pre service teaching report obtains the average value of 3.65 of the total value of the reference pre service teaching assessment guidelines. 
EKSISTENSI PENDIDIKAN ISLAM DI MESIR MASA DAULAH FATIMIYAH Lahirnya Al-Azhar, Tokoh-tokoh Pendidikan pada Masa Daulah Fatimiyah dan Pengaruhnya terhadap Dunia Islam Amaliyah, Asriati
Lentera Pendidikan Vol 16, No 1 (2013): Jurnal Lentera Pendidikan
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Pada dasarnya pendidikan Islam merupakan sarana yang terpenting untuk membawa manusia mencapai tujuan hidupnya. Melalui pendidikan,  kehidupan individu  dapat  menjadi  suatu  pribadi  yang  mampu  berdiri  sendiri  dan  berinteraksi dalam  kehidupan  bersama  dengan  orang  lain  secara  konstruktif.  Pendidikan mampu  membentuk  dan  membangun  sebuah  peradaban  yang  agung  pada  zamannya.  Pada  masa  Daulah  Fatimiyah,  pendidikan  Islam  berkembang  dengan pesat dan maju. Al-Azhar pada masa Dinasti Fatimiyah merupakan lembaga pendidikan  Islam  yang  memberikan  kontribusi  nyata  pada  dunia  pendidikan  Islam pada  masa  itu.  Pada  masa  itu  al-Azhar  mampu  melahirkan  tokoh-tokoh  pendidikan  Islam  yang  menjadi  pemegang  tampuk  kepemimpinan  di  al-Azhar  dan memberikan konstruksi pemikiran yang sampai sekarang masih dapat dijadikan referensi. Abstract:Basically Islamic education is the  most important  means to bring people  achieving  their  life  goals. Education brings people into a personal  life  which is able  to stand alone and interact in a common life with others constructively. Education is able to establish and build a great civilization in his day. During the Fatimid Dynasty, Islamic education was growing rapidly and advanced. Al-Azhar in Fatimid Dynasty was an Islamic educational institutions that make a real contribution to the world of Islamic education. At that time, it emerged educational leaders who were  the  holders  of  leadership  in  al-Azhar  and  provide  a  way  of  thinking  that  can still be used as a reference now.    
PENDIDIKAN SEBAGAI AGEN PERUBAHAN MENUJU MASYARAKAT INDONESIA SEUTUHNYA Idris, Ridwan
Lentera Pendidikan Vol 16, No 1 (2013): Jurnal Lentera Pendidikan
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Abstrak: Tulisan ini akan membahas tentang perubahan sosial di Indonesia, proses pendi- dikan di Indonesia, masyarakat Indonesia seutuhnya dan peranan pendidikan sebagai agen perubahan sosial. Saat sekarang ini, pendidikan kita masih jauh untuk dapat  dikatakan  menjadi  agen  perubahan.  Hal  tersebut  dikarenakan  variatifnya tantangan seperti; masalah mutu pendidikan, relevansi pendidikan, akses pendidikan,  manajemen  sistem  pendidikan  nasional,  sumber  pembiayaan,  perbedaan prioritas pengelolaan pendidikan antar-kabupaten/kota sebagai konsekuensi otonomi daerah. Tantangan mesti dihadapi untuk dapat mewujudkan manusia Indonesia yang; religius dan bermoral, menguasai ilmu pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian dan bertanggung jawab. Untuk mewujudkan  masyarakat  Indonesia  seutuhnya,  pendidikan  harus  relevan  dengan empat  pilar  belajar  yaitu;  learning  to  know,  learning  to  do,  learning  to  live  together, dan learning to be. Abstract: This paper discusses about social change in Indonesia, the process of education in Indonesia, the complete Indonesian people and the role of education as an agent of social change. Nowadays, our education is still far to be called as an agent of change.  That  is  because  of  the  varied  challenges  such  as  problems  of  education quality,  relevance  of  education,  access  to  education,  national  education  system management, financing sources, differences in management priorities inter regency/city as a consequence of regional autonomy. Challenges must be overcome to realize  the  Indonesian  people;  which  are  religious  and  moral,  master  of  science and skills, have physically and mentally healthy, have good personality and have responsiblity.  To  realize  the  complete  Indonesian  society,  education  should  be relevant to the four pillars of learning, namely: learning to know, learning to do, learning to live together, and learning to be.  
DAMPAK HUKUMAN FISIK TERHADAP PERILAKU DELINKUEN REMAJA Marhayati, Nelly
Lentera Pendidikan Vol 16, No 1 (2013): Jurnal Lentera Pendidikan
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui dampak pemberian hukuman fisik ter-hadap perkembangan perilaku delinkuen remaja. Remaja berada pada tahapan pencarian jati diri dalam prakteknya banyak mengalami guncangan, seperti ta-wuran, narkoba, perbuatan kriminal, sex bebas dan lain sebagainya. Dalam hal terjadinya penyimpangan perilaku, perilaku delinkuen juga sangat mungkin ter-jadi pada periode perkembangan remaja. Perilaku delinkuen ini diartikan sebagai perilaku anak yang nakal bahkan cenderung kepada melanggar hukum. Banyak penyebab terjadinya perilaku delinkuen ini. Berdasarkan beberapa sumber yang penulis paparkan ternyata pemberian hukuman fisik pada anak di sekolah bukan faktor utama perilaku delinkuen remaja. Namun, dalam tulisan ini belum dibahas secara medetail bagaimana jika hukuman fisik tersebut diterima anak dari pola asuh orangtua. Artinya hukuman fisik didapatkan anak dari orangtuanya di rumah.Abstract: This paper aims at finding out whether there is the effect of corporal punishment toward delinquency adolescent behavioral development or not. Adolescent who struggle with sense of identity experienced many shocks for instance involving in brawl, drugs, crime, free sex and so forth. In relation to the case, the delinquency behavior occur likely in the period of adolescent development. The delinquency behavior is interpreted as a naughty child behavior even it inclined to break the law. There are many of causes of this delinquency behavior. According to some sources that the authors describe, it shows that physical punishment of children in schools is not a major factor of delinquency adolescent behavior. However, in this paper, it has not been discussed in detail if the physical punishment of children received parental upbringing. This means that the physical punishment of children got from their parents at home.
FUNGSI NASKAH PRUDAK SINA DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT SASAK DALAM PERSPEKTIF NILAI AGAMA DAN PENDIDIKAN Sukri, Muhammad
Lentera Pendidikan Vol 16, No 1 (2013): Jurnal Lentera Pendidikan
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Prudak Sina adalah sebuah lakon/tokoh sebuah cerita yang arif dan bijaksana, dalam pikiran, perkataan dan perbuatannya. Ia adalah Lelananging Jagad yang di-cintai oleh lelaki di dunia dan sebagai tempat berlindung bagi wanita. Naskah ini mengandung makna yang dalam dilihat dari filsafat ajaran Islam. Naskah Prudak Sina dalam dialognya dengan isteri mengandung nilai dan fungsi yang merupa-kan corak khas masyarakat Sasak dulu, dan seharusnya menjadi dasar dan panut-an bagi setiap suami dalam menggauli isterinya. Penelitian qualitatif ini melibat-kan beberapa narasumber baik penikmat, pujangga, pemaos maupun penyukum yang cukup kredibel memahami dan mengembangkan naskah lontar. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis deskriptif dalam bentuk eks-traksi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa nilai yang terkandung dalam nas-kah yaitu, nilai-nilai religiusitas dan pendidikan. Ki Prudak Sina, penulis sekali-gus tokoh kisah berupaya mensyiarkan Islam melalui tembang-tembang seperti Prudak Sina. Berdasarkan kesimpulan, sarannya adalah agar mempelajari, meng-ambil hikmat dan contoh-contoh dari keteladanan yang ditonjolkan oleh tokoh khususnya dalam menggauli isteri.Abstrak: Prudak Sina is a character in wise and prudent story, either in thought, word and in deeds . He is Lelananging Jagad that should be loved by the men on earth and as a shelter for women. It contains very deep meaning in terms of the philosophy of the teachings of Islam. Prudak Sina’s script in dialogue with his wife contains a number of values and functions which is a typical pattern of Sasak people in the past, noble values that should be the basis and model for every man in thinking, saying and acting to his wife. This qualitative study involved some good resource such as connoisseur, poet, staff supporter, and script reader who are credible enough to understand and sing papyrus manuscript. The data obtained then ana-lyzed using descriptive analysis in the form of extraction. The results of this study are religiosity and education. Ki Prudak Sina, the author as well as the character of this story, preached Islam through songs such Prudak Sina song. Based on these conclusions, the author suggests to take wisdom and examples of exem-plary character highlighted by the author especially in intercourse with wife as a companion of life.
PENDIDIKAN ISLAM DALAM PERSPEKTIF ALIRAN KALAM: Qadariyah, Jabariyah, dan Asy’ariyah Samad, M. Yunus
Lentera Pendidikan Vol 16, No 1 (2013): Jurnal Lentera Pendidikan
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Bagaimana pun sederhananya peradaban suatu masyarakat, di dalamnya pasti berlangsung suatu proses pendidikan, sehingga sering dikatakan bahwa pendidi-kan telah ada sepanjang peradaban umat manusia. Proses pendidikan merupakan proses pengembangan segala potensi yang dimiliki manusia. Meskipun dalam Is-lam terdapat beberapa pandangan mengenai pendidikan Islam.Paham Qadariyah memandang proses pendidikan Islam dapat berlangsung dengan baik jika manu-sia bersungguh-sungguh berusaha dalam menanamkan nilai-nilai islami dalam kehidupannya. Paham Jabariyah memandang bahwa proses pendidikan tidak be-gitu berpengaruh sebab berhasil tidaknya sebuah proses pendidikan tersebut akan ditentukan oleh Allah. Sedangkan paham Asy’ariyah memandang pendidi-kan Islam merupakan proses yang dinamis, dalam artian manusia di samping te-lah memiliki potensi dasar untuk menerima proses pendidikan ia juga bergan-tung pada kepribadian seseorang.Abstract: No Matter how simple a civilization of society is, there must be a process of edu-cation, therefore it is frequently said that education has existed throughout hu-man civilization. The process of education is the process of developing the poten-tial of every human being. In Islam there are several views on islamic education. The idea of Qadariyah views that Islamic education process can take place pro-perly if the man earnestly try to instill Islamic values in his life. The idea of Jaba-riyah views that the education process is not so influential because the success or failure of an educational process will be determined by God. While the idea of Ashari views that Islamic education is a dynamic process, it means that human being not only has a basic potential to be educated but also they depend on their personality.
EFIKASI DIRI, KEPUASAN KERJA, DAN ORGANIZATIONAL CITIZENSHIP BEHAVIOR PADA GURU MAN DI SULAWESI Rahman, Ulfiani
Lentera Pendidikan Vol 16, No 1 (2013): Jurnal Lentera Pendidikan
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Ada  tiga  tujuan  penelitian  ini  yaitu  untuk  mengetahui  hubungan  antara  efikasi diri dengan perilaku organisasi, hubungan antara kepuasan kerja dengan perila- ku kerja organisasi dan peranan kepuasan kerja sebagai mediator dalam hubung- an antara efikasi diri dengan perilku kerja organisasi. Ada tiga skala yang digu- nakan dalam penelitian ini, yakni skala perilaku kerja organisasi, skala efikasi diri guru,  dan  angket  kepuasan  Minnesta.  Penelitian  ini  dilaksanakan  di  11  sekolah agama  yang  berlokasi  di  bagian  Utara,  Timur,  Selatan,  Barat,  dan  Tengah provinsi  Sulawesi  Selatan.  Sampel  terdiri  dari  208  guru.  Hasil  penelitian  ini menunjukkan bahwa ada hubungan positif dan signifikan antara efikasi diri dan perilaku  kerja  organisasi.  Hasil  penelitian  ini  juga  menunjukkan  bahwa  ada hubungan  positif  dan  signifikan  antara  kepuasan  kerja  dengan  perilaku  kerja organisasi.  Ada  peranan  kepuasan  kerja  dalam  hubungan  antara  efikasi  diri dengan  perilaku  kerja  organisasi.  Hal  ini  berarti  bahwa  efikasi  diri  mempe- ngaruhi  perilaku  kerja  organisasi  guru  di  MAN  dimana  kepuasan  kerja  sebagai mediasi. Abstract : There are three objectives in this study namely to know the relationship between self efficacy and  organizational citizenship  behavior, relationship between  job satis- faction  and  organizational  citizenship  behavior),  and  the  role  of  job  satisfaction  as mediator in the relationship between self efficacy and organizational citizenship be- havior (OCB). There are three scales used in this research which are organizationnal citizenship  behavior  scale,  teacher  self  efficacy,  and  minnesta  satisfaction  ques- tionnaire. The study was conducted on 11 religious schools located in a portion of North, East, South, West, and the Middle of South Sulawesi, Indonesia. The popu- lation of the research was 208 people then are used as a sample. Result of study was resulted that a positive and significant relationship between self efficacy and organizational citizenship behavior. Then, there is a positive and significant relation- ship  between  job  satisfaction  and  organizational  citizenship  behavior.  There  is  the role of job satisfaction in the relationship between self efficacy and  organizational citizenship behavior. This means that self efficacy influences teachers organizational citizenship behavior in MAN by job satisfaction as a mediation. 
DIFFICULTIES ENCOUNTERED BY THE BUGINESE LEARNERS IN PRODUCING ENGLISH SOUNDS Nurpahmi, Sitti
Lentera Pendidikan Vol 16, No 1 (2013): Jurnal Lentera Pendidikan
Publisher : UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This paper discusses about difficulties encountered by Bugis learner in producing English phonemes. The learners who learn second language use their mother tongue to analyze the second language. They analyze the second language to find the differences and similarities both languages. The similarities can create ease to transfer the language, on the contrary the differences can creates difficulties. Based on the description above it informs that Bugis learners have difficulties in producing the following phonemes: The Labial consonant /f/ and /v/, The interdental consonant /θ/ and /d/, The alveolar consonant /z/, The consonant palatals /ŝ/ and /ž/, The vowel /æ/, The diphtong / iə, uə, əu, eə/, English also permits much longer sequences of consonant initially, medially, and finally in utterances. Both English and Buginese have consonant which are conveniently symbolized /t,d,s,z/. In English, however, these represent alveolar, whereas in Buginese they represent dentals. All of these differences constitute a major source of difficulty for the Bugis speakersin leaning English.Abstrak: Tulisan ini membahas tentang kesulitan yang dihadapi oleh pebelajar yang bahasa ibunya adalah bahasa Bugis dalam mengucapkan fonem. Pebelajar yang belajar bahasa kedua menggunakan bahasa ibu mereka untuk menganalisa bahasa kedua. Mereka menganalisa bahasa kedua untuk menemukan perbedaan dan persamaan diantara kedua bahasa. Persamaan akan memudahkan untuk mentansfer bahasa kedua, dan sebaliknya perbedaan dapat menyulitkan. Pebelajar yang bahasa ibunya adalah bahasa Bugis mempunyai kesulitan dalam menybutkan fnem-fonem berikut: konsonan bilabial/f/ dan /v/. konsonanm interdental /θ/ and /d/, konsonan alveolar/ z// the konsonan palatal /ŝ/ and /ž/, vokal /æ/, diftong / iə, uə, əu, eə/. Bahasa Inggris dan bahasa Bugis mempunyai konsonan /t,d,s,z/. Namun demikian dalam bahasa Inggris dikategorikan sebagai alveolar sementara dalam bahasa Bugis dikategorikan sebagai dental. Perbedaan-perbedaan tersebut menyebabkan kesulitan bagi pebelajar bahasa inggris untuk menghasilkan bunyi-bunyi dalam bahasa Inggris.

Page 1 of 2 | Total Record : 20