cover
Contact Name
Hary Hermawan
Contact Email
hary@ampta.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
lp2m@ampta.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Wahana Informasi Pariwisata : MEDIA WISATA
ISSN : 16935969     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Media Wisata menerbitkan artikel hasil penelitian dan opini bidang kepariwsataan dengan ruang lingkup : manajemen destinasi pariwisata, hospitality, perhotelan, daya tarik wisata, majemen perjalanan, dan MICE.
Arjuna Subject : -
Articles 164 Documents
MANAJEMEN PELAYANAN INDUSTRI JASA Santosa, Santosa
Wahana Informasi Pariwisata : MEDIA WISATA Vol 2, No 2 (2004)
Publisher : STP AMPTA Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5325.36 KB)

Abstract

Perkembangan sektor jasa seiring dengan perkembangan perekonomian dunia. Di negara maju perkembangan sektor jasa justru melebihi sektor manufaktur dan industri barang. Hal ini menunjukkan bahwa sektor jasa semakin diperlukan oleh manusia. Pengelolaan industri jasa memiliki spesifikasi yaitu lebih menekankan dalam keterlibatan sumber daya manusia, artinya dalam industri jasa manusia berperan sangat penting dibanding faktor produksi yang lain (modal, teknologi). Kepentingan faktor tenaga kerja ini mengandung arti bahwa pelanggan lebih banyak mengharapkan adanya kontak langsung (direct contact) dalam proses pertukaran. Dengan demikian pelanggan dapat langsung memberikan penilaian tentang kinerja produk jasa memuaskan atau tidak memuaskan. konsekuensi terjadinya kontak langsung antara pembeli dan penjual itulah yang dinilai sebagai faktor pelayanan, oleh karenanya pelayanan telah menjadikan produk jasa bernilai tinggi dan rendah. Untuk menjamin kepuasan pelanggan maka penyelenggara jasa harus siap setiap waktu dalam keadaan prima (service excellent). Berkaitan denga hal diatas sebab itu pengelolaan organisasi jasa baik dalam hal pemasaran maupun dalam hal penyelenggaraan jasa bersifat sangat labil artinya sangat sulit untuk bisa diukur. Oleh sebab itu produk jasa sangat sulit distandarkan. Memasarkan dan mengelola produk jasa tidak sekedar janji tetapi harus bukti, memasarkan produk jasa diawali dari penyampaian tentang informasi produk, proses produk dan pelayanan pasca pembelian produk (after sales service).
PENGEMBANGAN PARIWISATA DI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DALAM MENYONGSONG ABAD XXI : Strategi Dalam Mewujudkan Ketahanan Sosial Budaya Saryani, Saryani
Wahana Informasi Pariwisata : MEDIA WISATA Vol 2, No 1 (2003)
Publisher : STP AMPTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam tulisan ini memadukan penelusuran empirik terhadap proses kebijakan untuk menghasilkan beberapa temuan yang relevan dengan sasaran kebijakan. Hasil analisis menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata dapat mendorong terwujudnya keuletan dan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi dan mengatasi tantangan dan hambatan. Strategi dan implikasi kebijakan pengembangan pariwisata dapat meningkatkan pendapatan daerah, swasta, dan masyarakat. Kedua, hasil analisis ini memberi gambaran bahwa strategi dan implikasi kebijakan pengembangan pariwisata dapat mewujudkan ketahanan sosial budaya dalam masyarakat berbangsa dan bernegara.
CARA PRAKTIS UNTUK MEWUJUDKAN KEPUASAN PELANGGAN Prihatno, Prihatno
Wahana Informasi Pariwisata : MEDIA WISATA Vol 3, No 1 (2005)
Publisher : STP AMPTA Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3674.997 KB)

Abstract

(KESIMPULAN) Kepuasan pelanggan ditentukan oleh persepsi pelanggan atas performance produk atau jasa alam memenuhi harapan pelanggan. Pelanggan merasa puas apabila harapannya terpenuhi atau akan sangat puas jika harapan pelanggan terlampaui. Pertanyaan yang fundamental adalah apa sebenarnya yang membuat pelanggan puas? Perusahaan harus menyusun strategi program peningkatan kepuasan pelanggan melalui 5 driver kepuasan pelanggan yaitu kualitas produk, harga, kualitas palayanan, emotional factor, dan yang kelima adalah berhubungan dengan biaya dan kemudahan untuk mendapatkan produk dan jasa. Setelah itu harus ditetapkan bobot tertinggi diantara kelima driver itu dalam menciptakan kepuasan pelanggan. Penentuan bobot harus mempertimbangkan produk yang dihasilkan dengan memperhatikan dinamisasi waktu. Besarnya bobot setiap driver dapat diketahui melalui survei pasar.
SIKAP MAHASISWA DALAM MEMILIH TEMPAT KOS Santosa, Santosa
Wahana Informasi Pariwisata : MEDIA WISATA Vol 2, No 1 (2003)
Publisher : STP AMPTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena tempat tinggal sementara bagi mahasiswa (rumah kost/kontra) di Yogyakarta telah menjadi kajian yang sangat menarik, karena semakin banyaknya jumlah mahasiswa luar Yogyakarta yang melakukan studi lanjut di Yogyakarta. Fenomena ini telah membawa pengaruh dengan semakin suburnya usaha jasa tempat tinggal sementara. Layaknya sebuah produk yang memiliki nilai jual yang cukup menjanjikan, maka semakin tahun semakin banyak pengusaha rumah tinggal sementara baik orang asli Yogyakarta maupun orang luar Yogyakarta. Mahasiswa sebagai konsumen yang berdaya beli potensial memiliki berbagai alternatif penilaian terhadap berbagai atribut yang melekat pada produk jasa rumah tinggal tersebut. Banyaknya atribut yang melekat tersebut akan berpengaruh pada sikap mahasiswa dalam menentukan pilihan rumah tinggal sementara. Karena sikap merupakan faktor utama dalam menentukan pilihan pembelian. Sikap akan dipengaruhi oleh banyak faktor di antaranya adalah jenis Perguruan Tinggi. Pada mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri relatif lebih sederhana dalam memilih tempat tinggal sementara, sedangkan kebanyakan mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta relatif lebih teliti dalam melakukan tindakan pembelian jasa rumah tinggal sementara. Kenyataan ini akan berimplikasi pada penyediaan berbagai macam produk rumah tinggal sementara yang disesuaikan dengan atribut yang dipilih oleh mahasiswa
DASAR PEMIKIRAN FILSAFATI PENGAMBANGAN DAERAH PARIWISATA Saryani, Saryani
Wahana Informasi Pariwisata : MEDIA WISATA Vol 2, No 2 (2004)
Publisher : STP AMPTA Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2617.658 KB)

Abstract

Speaking about tourisme it needs to look the global correlation that the object and tourist. Infrastructure is needed for both. The negative and positive effect found in tourisme developing. That is why the does have to pay more attention in constructing beetwen tourisme and human sourounding and the creative.
PENINGKATAN KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA PARIWISATA ABAD XXI Handoyo, Sapto
Wahana Informasi Pariwisata : MEDIA WISATA Vol 2, No 1 (2003)
Publisher : STP AMPTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan industri pariwisata di Indonesia pertumbuhannya membaik. Kondisi ini menuntut Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia pariwisata yang profesional dan trampil yang siap bekerja di dunia industri pariwisata. Beberapa langkah strategis dapat dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Dan tindakan nyata yang terkait dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia pariwisata harus segera diwujudkan. Diantaranya: Pertama. Pemerintah dan masyarakat harus aktif untuk turut membantu mengurangi penduduk Indonesia yang berpendidikan rendah, serta yang tidak bisa bersekolah. Misalnya, pemberian beasiswa-beasiswa harus terus ditingkatkan, mulai dari tingkat Sekolah Dasar, sampai pada Perguruan Tinggi. Di abad XXI seperti sekarang, generasi muda yang loyo, tidak berpendidikan, tidak berkualitas dan tidak profesional sangat tidak dibutuhkan dalam sektor jasa, khususnya pariwisata. Kedua, pelaksanaan sistem pendidikan "Link & Match" harus segera diwujudkan dengan sungguh-sungguh. Hal ini bisa dilakukan dengan On THe Job Training secara bertahap dan mendapatkan sertifikasi keahlian setara Internasional. Ketiga, menambah program S-1 pariwisata, dalam jangka pendek dan jalur program S2-S3 pariwisata dalam jangka panjang, dimana beberapa paket materi pengajaran yang berorientasi global dan beberapa mata kuliah global yang terkait dengan pariwisata. Demikian pula Tri Dharma terpadu dapat dimulai dari dharma penelitian eksploratif tentang sadar wisata masyarakat juga harus digalakkan. Keempat, dengan membentuk organisasi Masyarakat Peduli/Pecinta Pariwisata, Seni dan Budaya. Dengan cara memberikan wawasan pengetahuan dan pengalaman, juga bekal ketrampilan kepada anggota Masyarakat Peduli / Pecinta Pariwisata, Seni dan Budaya. Kelima, berkaitan dengan dikeluarkannya UU No. 22 Tahun 1999 tentang otonomi daerah, maka seharusnya Pemerintah memberikan pendidikan dan pelatihan bagi karyawan tingkat manajerial pada Kantor Dinas Pariwisata maupun karyawan Hotel, Restoran atau Biro Perjalanan Wisata yang berdomisili di Daerah Tingkat II. Juga memberikan Crash Program pendidikan akademis untuk masing-masing bidang pada dunia kepariwisataan misalnya : Perhotelan dan Usaha Perjalanan Wisata dengan memberikan ijasah D III dan S1. Demikian bagi yang sudah lulus Program S1 disarankan untuk mengambil Program S2 yang berkaitan dengan kepariwisataan. Keenam, dengan membentuk standar kompetisi atas setiap pekerjaan oleh industri pariwisata. Kesemuanya harus didukung dengan kualitas mental yang harus dimiliki dengan cara pendalaman pendidikan agama dan penerapan disiplin sejak dini.
LEGENDA RATU KIDUL, MERAPI, KRAPYAK Murnianto, Gatut
Wahana Informasi Pariwisata : MEDIA WISATA Vol 2, No 2 (2004)
Publisher : STP AMPTA Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5174.744 KB)

Abstract

(PENUTUP) Legenda Ratu Kidul - Tugu - Merapi - Krapyak menggambarkan alam pikir orang Jawa yang sederhana. Menurut alam pikir orang Jawa, realitas tidak dapat dibagi dalam berbagai bidang yang terpisah-pisah dan tanpa hubungan satu kesatuan yang menyeluruh. Dunia, masyarakat dan alam adikodrati (supranatural) bagai orang Jawa merupakan satu kesatuan pengalaman. Jadi masing-masing tidak berdiri sendiri. Dalam alam pikir sederhana, alam (semesta) itu dianggap mempunyai kekuatan adikodrati atau supranatural. Dengan kekuatan ini alam (semesta) dianggap keramat atau sakral. Sikap manusia terhadap alam adikodrati ini diwujudkan dengan nilai yang praktis untuk mencapai suatu keadaan yang psikis tertentu, yaitu ketenangan, ketentraman, dan keseimbangan batin, ini akan membawa pada hidup sejahtera bagi anggota masyarakat. Ratu Kidul - Merapi adalah wujud personifikasi dari supranatural. Ratu Kidul adalah sosok yang diakui sebagai penguasa Laut Kidul yang diyakini oleh penduduk memiliki kekuatan supranatural. Merapi atau Gunung Merapi dalam Kosmologi Jawa dikatakan sebagai wujud Bathara Siwa yakni alam semesta, yang banyak menyimpan kekuatan supranatural dan bila lebih diperluas adalah manusia, dalam hal ini Poerbatjaraka (1952) menyebutkan : Bathara Siwa = Suwung Sipatipun ingkang alus, inggih puniko aluso dhonyo Yen karingkes, dados aluse meru Yen karingkes malih, dados alusing manungso. (Bathara Siwa = Kosong = Alam semesta sifatnya yang halus dunia apabila diringkas adalah Gunung Bila diringkas lagi adalah manusia) Dalam konsep Hindu, Gunung atau Meru itu tempat para Dewa. Karena itu Gunung atau Meru ini menyimpan kekuatan supranatural. Tugu yang lalu dikatakan golong-gilig adalah wujud kemanunggaling kawula dengan Gusti atau Penguasa (Pemimpin Negara). Tugu ini juga merupakan gambaran kedekatan manusia dengan Tuhan. Karena itu Sri Sultan sebagai pengayom kawula meletakkan tugu yang lurus dengan singgasana tempat duduk Sri Sultan. Krapyak dibuat sebagai lambang awal dari hidup manusia, sangkaning dumadi. Jadi bila diurutkan letak Krapyak - Tugu - Merapi - sampai Laut Kidul, menggambarkan tentang : Sangkan Paraning Dumadi. "Laut Kidul merupakan sumber kekuatan manusia. Ingat cerita "Dewa Ruci" ini satu hal yang menarik bila dikaji lebih mendalam. Dari ini Yogyakarta membuktikan bahwa tidak saja kaya obyek wisata secara fisik tetapi juga isi dari obyek wisata itu.
MENYIKAPI BISNIS JASA PARIWISATA MELALUI BAURAN PEMASARAN Santosa, Santosa
Wahana Informasi Pariwisata : MEDIA WISATA Vol 2, No 2 (2004)
Publisher : STP AMPTA Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3417.269 KB)

Abstract

Salah satu aktivitas dari sebuah industri adalah menciptakan barang dan atau jasa untuk memenuhi kebutuhan konsumen, sedangkan salah satu aktivitas marketing adalah melakukan penjualan. Dalam aktivitas ini pemasar (marketer) meletakkan berbagai indikator agar barang dan atau jasa bisa tepat pada sasaran (target market). Indikator-indikator tersebut lebih sering dikenal dengan bauran pemasaran (marketing mix) yang oleh Mc. Carthy dikenal dengan 4 P (product, price, place and promotion). Dalam industri jasa indikator 4 P tersebut tentunya kurang lengkap karena produk jasa memiliki karakteristik yang berbeda dengan produk industri fisik (barang murni). Kenyataan ini menunjukkan perlunya pebisnis mengadakan pengkajian tentang bauran pemasaran pada produk jasa.
STUDI TENTANG UANG KIRIMAN MAHASISWA SEBAGAI PENYEBAB KEGAGALAN BELAJAR Santosa, Santosa
Wahana Informasi Pariwisata : MEDIA WISATA Vol 2, No 1 (2003)
Publisher : STP AMPTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sumber kesulitan belajar mahasiswa di Perguruan Tinggi pada dasarnya sama dengan sumber kesulitan belajar bagi siswa ataupun mahasiswa di berbagai strata pendidikan. Munculnya kesulitan belajar pada umumnya dapat diidentifikasi menjadi dua yaitu sumber internal (dalam diri individu) dan sumber eksternal (luar diri individu). Namun demikian kedua sumber tersebut masing-masing memiliki sub faktor yang cukup beragam. Mengidentifikasi sub faktor saja nampaknya sangat kesulitan, karena sub faktor kesulitan belajar pada umumnya berjalan secara bersamaan (simultan). Demikian halnya dengan mengukur kontribusi salah satu sub faktor akan sangat sulit karena keterlibatan/keterkaitan antara satu sub faktor dengan sub faktor yang lain. Tanda sebagai mahasiswa mengalami kesulitan belajar adalah rendahnya hasil belajar yang diukur melalui besarnya Indeks Prestasi mahasiswa tersebut (selanjutnya ditulis IP). Ukuran normatif IP yang rendah adalah di bawah 2,00, atau mahasiswa tersebut mengalami penurunan yang relatif lebih besar (lebih dari 0,5) pada tiap-tiap semesternya. Dalam penelitian ini disoroti faktor eksternal yaitu sub faktor ekonomi keluarga khususnya mengenai uang kiriman mahasiswa. Dan dari hasil studi empiris tentang sub faktor tersebut, menunjukkan bahwa sub faktor uang kiriman mahasiswa tidak merupakan faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar sehingga mengakibatkan kegagalan belajar. Artinya bahwa beberapa responden yang menerima uang kiriman sedikit/relatif rendah tidak semuanya mengalami kegagalan dalam belajar. Sebaliknya responden yang menerima uang kiriman lebih banyak/cukup tinggi tidak semua sukses dalam belajarnya.
PENTINGNYA HOUSEKEEPING BAGI SUATU HOTEL Parsidi, Parsidi
Wahana Informasi Pariwisata : MEDIA WISATA Vol 2, No 2 (2004)
Publisher : STP AMPTA Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3078.107 KB)

Abstract

The general public tends to think of Housekeeping as the Department that : makes the head, empties the asthray and waste basked, tidies up the bathroom and leaves fresh towels. The truth of the matter is of course that it takes more manpower to accomplish. Housekeeping's almost countless function than those of any ather Department in the lodging industry. Housekeeping's responsibility may begin with fabrics, and progress to the selection and purchase of all furniture and furnishings; it encompasses not only their cleaning but their maintenance, repair, refurbishment and eventual replacement. Areas of concern include : sleeping rooms, meeting rooms, halls andelevator, all considered "front of the house" The designation also includes all other public area from lobbies to washrooms to restaurant and cocktail lounges. Out door areas such as pools and patios. Housekeeping also oversees almost the enttres "back of the house", from locker rooms to employee dinning, virtually everything.

Page 1 of 17 | Total Record : 164