LEKSIKA
ISSN : -     EISSN : -
Articles 74 Documents
The Characterization of Arthur Dimmesdale as A Puritan Priest in The Scarlet Letter

., Faisal

LEKSIKA Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : LEKSIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Novel The Scarlet Letter ditulis oleh Nathaniel Hawthorne pada tahun 1850 ketika Puritanisme sedang mengalami puncak kekukasan sekaligus penurunan kepercayaan penganutnya. Novel ini terdiri dari 7 bab di mulai dengan The Custom House yang merupakan narasi dari Hawthorne sebagai penulis juga sebagai pengantar menuju cerita selanjutnya. Novel ini sangat menarik karena menampilkan sosok seorang pastur yang notabene harus suci dan lepas dari dosa tetapi melakukan suatu perbuatan dosa yang dilarang oleh Tuhan dan dihujat oleh khalayak: zinah. Sebagai akibat dari perzinahan tersebut lahir seorang anak manusia dan sang ibu harus menjalani hukuman berat dengan mengenakan huruf A (adulterer = pezinah) selama hidupnya. Apa yang terjadi kemudian sungguh mengejutkan. Seorang pastur yang merasa bersalah karena telah melakukan zinah harus berbohong dan menutupi apa yang telah terjadi. Hal itu bertentangan dengan etika dan ajaran Puritan yang tidak hanya dipegang teguh tapi juga harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dan diajarkan kepada khalayak. Etika Puritan yang menyatakan manusia harus berbuat baik supaya menjadi The Elected (Yang Terpilih) amat sangat mengganggu pikiran sang pastur karena merasa dia tidak akan pernah menjadi Yang Terpilih tetapi akan menjadi Yang Terkutuk. Selain itu kepercayaan terhadap etika predestination (Kodrat yang telah ditentukan) menyebabkan dia menyesali kelahiran dirinya sendiri. Sebagai akibat dari etika Puritan yang dianutnya, sang pastur mengalami penurunan kondisi fisik karena puasa berat yang dijalani, hukuman yang dilakukan oleh dirinya sendiri serta terus-menerus berlutut di depan cermin untuk mengakui apa yang telah dilakukannya. Kondisi ini semakin diperparah dengan status sosialnya sebagai pastur yang dianggap mulia dan agung di mata masyarakat di mana seorang pastur tidak hanya menjadi pengkhotbah tetapi juga menjadi guru serta teladan masyarakat yang siap mendengarkan dan menerima pengakuan dosa. Dalam bidang politik, seorang pastur memiliki posisi penting karena menjadi panitia dalam pemilihan menteri dalam pemerintahan. Selanjutnya, ketika semua menjadi tidak terkontrol, sang pastur mengalami penderitaan psikologis yang terlihat dari sikapnya yang gugup dan kaku ketika harus berkhotbah. Dalam tidurnya dia berjalan menuju tempat di mana Hester Prynne berdiri menerima hukuman. Kata Kunci: sifat fisik, sifat sosial, sifat psikologis

Tattoing: Function and Symbol

., Riyatno

LEKSIKA Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : LEKSIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tattoo memiliki fungsi yang spesifik di dalam mengungkapkan ekspresis manusia. Fungsi tersebut berhubunmpok masyarakat yang satu dengan yang laingan dengan kelompok masyarakat tertentu sehingga dimungkinkan akan terjadi perbedaan untuk kelonya. Sebagai salah satu bagian dari folk arts, tattoo memiliki akar kebudayaan tradisional dimana dalam perkembangannya, tattoo tidak terlepas dari kebudayaan modern. Tetapi ciri tradisonal tersebut tidak hilang seluruhnya. Untuk mengungkapkan fungsi yang ada dalam tattoo, smbol-simbol yang dibuat akan sejalan dengan apa yang ingin diungkapkan dan harapan dari orang menggunakan tattoo. Simbol-simbol tersebut berasal dari akar budaya tradisional yang dimiliki oleh sekelompok masyarakat sehingga ciri masyarakat tersebut tetap terlihat meskipun mereka sudah jauh dari waktu dan tempat mereka berada. Kata Kunci: tato, fungsi, simbol.

The Judgment of the Press to the Ruling Government in the New Order Era (A Discourse Analysis on the Editorial of Jakarta Post)

., Khristianto

LEKSIKA Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : LEKSIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pers memiliki fungsi kontrol bagi pemerintah yang berkuasa. Fungsi ini merupakan peran esensial yang disandang oleh pres. Namun, tidak semua kondisi memungkinkan pers bisa menjalankan fungsinya tersebut. Ketika penguasa tidak lagi bisa menghormati keberadaan pers dan menganggapnya sebagai lawan, maka pers akan menjadi korban. Pers akan dikekang dalam menjalankan fungsinya. Fenomena semacam ini terjadi pada masa order baru. Studi ini bertujuan untuk melihat bagaimana wujud ketertindasan pers, melalui kajian terhadap editorial yang disajikan. Dengan pendekatan tatabahasa sistemik fungsional, kajian ini akan membaca lebih dekat bagaimana penilaian media terhadap pelaksanaan pemilihan umum pada masa orde baru, yakni pemilu tahun 1992. Media yang menjadi sumber data dalam penelitian ini adalah Jakarta Post. Dari analisa yang dilakukan, terlihat dengan jelas bahwa media cenderung menilai positif terhadap perilaku pemerintah, dalam hal ini dari pemilu yang mereka laksanakan. Media mengatakan bahwa pemerintah sudah melakukan pemilihan umum yang adil dan pemerintah sudah berupaya keras agar pelaksanaan pemilu bisa lebih baik. Kata Kunci: editorial, pemerintah, ketertindasan.

Penambahan dan Pengurangan dalam Penerjemahan

Fudiyartanto, Fuad Arif

LEKSIKA Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : LEKSIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

In doing his/her work, a translator cannot always present all the meanings contained in the source text comprehensively. He/she sometimes should reduce the existing meaning, or add a new meaning in the target text, which then results in the phenomenon of “gain” and “loss” of translation. A factor causing this phenomenon is the fact that no languages have an absolute likeness. Another factor is the cultural gaps in which the languages involved exist. This strategy is commonly taken up by the translator to give an explanation and reason, and to put an emphasis, which are all ultimately aimed to keep the naturality of translation, without sacrificing the loyality to the original content. Key Words: gain and loss, linguistic factor, cultural factor

Address Term In a Family of Javanese Priyayi

Supardo, Susilo

LEKSIKA Vol 1, No 1 (2007)
Publisher : LEKSIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Priyayi sebagai kelas sosial merupakan relik sistem feodal di jawa. Ia merefleksikan cara berpikir yang muncul dalam bahasa. Kajian ini berupaya mendeskripsikan masalah sapaan dalam salah satu keluarga unit kelas sosial ini, prilaku penggunaan sapaan dan fungsinya. Tulisan ini diharapkan dapat menghimpun istilah sapaan sebagai bahan informasi tentang sistem sapaan kelas ini yang bertahan pada masanya. Topik ini cukup compleks karena menampilkan sistem strata satuan lingual, etika, bahasa dan pergaulan, aspek psiko-sosial dan secara lebih luas lingkup budaya. Pernyataan di atas, mengisyaratkan adanya istilah seperti ‘dimas’, ‘diajeng’, ‘jeng’, (be) ‘ndoro’, ‘mbah’ dan sebagainya. Aktualisasi pemanfaatan istilah sapaan meliputi komunikasai lisan dan tertulis disertai sikap warganya, demikian juga tempat unit keluarga berfungsi sebagai arena interaksi. Kata kunci: istilah sapaan, priyayi, keluarga.

BENTUK WACANA MEDIA MASSA PRANCIS TENTANG PERISTIWA DI INDONESIA

Astuti, Wulan Tri

LEKSIKA Vol 2, No 1 (2008)
Publisher : LEKSIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

A discourse always has a topic which is included in a proposition. Topic is also about the theme that is being discussed in a discourse or in main idea. This research analyzes the structure of French on line media résumé in Le Monde newspaper. Analysis that is being used is media discourse and communication analysis, with the macro structure, micro structure, and super structure approach. The result shows that based on the macro structure approach, media discourse is divided into 5 elements; which are the title, date, source, number of words, and text résumé. Macro structure also refers to the theme, topic or main idea of rubric discourse. Topic unity can be achieved by several ways; referring, ellipsis, pronominalize, repetition, and lexical equivalency. According to the micro structure approach, there are parts of text, such as: word, sentence, phrase, proposition, and image. Micro structure is related with the relation between proposition. The relation that is found from the data is argumentative relation and topicalisation relation; while according to the super structure approach, the discourse is related to the framework and parts that is being arranged in the text as a whole. Key words : media discourse, microstructure, superstructure

VARIASI DIALEK BAHASA JAWA DI KABUPATEN KEBUMEN (KAJIAN SOSIODIALEKTOLOGI

Pujiyatno, Ambar, Poedjosoedarmo, Soepomo

LEKSIKA Vol 2, No 1 (2008)
Publisher : LEKSIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This research describes the differences of the Javanese dialectal varieties in Kebumen Regency in the field of phonology, morphology, lexicon, and speech level; maps the Javanese dialectal varieties in Kebumen Regency; and describes the geographical and sociocultural factors causing these differences. The data were taken from the seven observation areas through interviewing, recording, and introspection technique. The interview was conducted by asking the questionnaires to the informants. The interviews were recorded. In addition, other data were collected through recording the actual utterances in which the items of the questionnaires are spoken. Finally, the introspection technique was also applied to complete the data because the researcher is the native speaker of BJKK. The conclusions of this research are (1) Kebumen Regency is a border or mixing of two Javanese dialects, (2) The regions that have easy access are easier in getting the influence of Bandek Javanese, (3) The regions that are difficult to reach tend to defend the language, (4) The other regions have more varieties. (5) The influence of Bandek Javanese comes through lexicons, (6) The development between krama ngoko speech level and lexicons is different. The development of Krama-ngoko speech level is gained through education and occupation, (7) Some regions have Krama-Ngapak Javanese speech level, (8) BJKK has [a] and [o] speech level models, (9) There is a phonological difference between Bandek Javanese and Ngapak Javanese. Key words: dialectal variety, sociocultural factor, speech level

PESSIMISM IN THOMAS HARDY’S THE DARKLING THRUSH

Ayu Fatmawaty, Lynda Susana Widya

LEKSIKA Vol 2, No 1 (2008)
Publisher : LEKSIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Puisi dikatakan sebaai karya sastra yang paling unik karena tercipta dari kontemplasi terdalam penyairnya. Namun, dalam memahami maknanya, kita mesti mengkaitkan puisi dengan riwayat pengarang serta kondisi yang menjadi konteks penciptan karya. Thomas Hardy adalah salah satu penyair terbaik dalam sejarah. Ia dikenal karena gayanya yang fatalis dan pesimis. Salah satu karyanya yang kental dengan warna itu adalah The Darkling Thrush, yang merupakan salah satu master piece. Puisi tersebut ditulis pada akhir abad ke-18 dan masa awal abad baru. Transisi ini membawa banyak perubahan. Hardy mencoba melukiskan keraguannya dihadapkan dengan zaman baru itu. Segala nada yang hadir dalam puisinya membawa kita pada pandangannya yang begitu pesimis. Tulisan ini bertujuan menggambarkan nada pesimisme yang dilukiskan melalui karya itu. Kata Kunci: Nada, Pesimisme, Puisi

AN ANALYSIS OF PARADIGMATIC RELATIONS ON A TRADITIONAL JAVANESE STORY

As Suaidy, Bustanuddin

LEKSIKA Vol 2, No 1 (2008)
Publisher : LEKSIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kajian ini merupakan sebuah kajian linguistik, pada khususnya kajian atau studi semantik. Semantik adalah salah satu sub-kajian linguistik mikro yang mengkaji makna dalam konteks kata, frase, maupun kalimat pada bahasa manusia. Salah satu hal yang menarik dari semantik ialah, salah satu karakter dari teori-teori semantik harus dapat diterima dan diaplikasikan ke semua bahasa. Adapun sub-kajian semantik adalah kata, frase, kalimat, dan hubungan makna yang sistematis pada kata, frase, dan kalimat. Berdasarkan pada fakta-fakta tersebut diatas, kajian bahasa ini mencoba untuk mengaplikasikan teori semantik pada sebuah teks cerita tradisional berbahasa jawa yang berjudul “Jaka Tarub” diambil dari buku karangan Sugiarta Sriwibawa berjudul “Babad Tanah Jawa”. Salah satu alasan utama “Jaka Tarub” dipilih untuk dikaji dalam kajian bahasa ini adalah karena cerita ini merupakan cerita tradisional yang cukup populer dan dimiliki secara luas oleh masyarakat Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur dalam berbagai versi yang berbeda tetapi pada intinya memiliki alur cerita dan karakter-karakter ceita yang sama. Adapun “Jaka Tarub” dalam buku “Babad Tanah Jawa” versi Sugiarta Sriwibawa merupakan generalisasi berbagai cerita “Jaka Tarub” yang menggunakan bahasa Jawa standar (Bahasa Jawa dialek Yogyakarta dan dialek Surakarta). Penulis kajian bahasa ini banyak menemukan fenomena semantik dalam cerita tradisional tersebut, pada khususnya hubungan sistematis antar kata yang teridentifikasi sebagai paradigmatic relations yang mencakup hubungan kata synonymy, hyponymy, incompatibility, complementarity, antonymy, dan converseness. Kata kunci: Linguistik, Semantik, Paradigmatic Relations

CANTIK ALA REMAJA DALAM NOVEL-NOVEL TEENLITE

Setijowati, Lilik, ., Khristianto

LEKSIKA Vol 2, No 1 (2008)
Publisher : LEKSIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Young female writers shocked the literary field of Indonesia by publishing their works in their way: light, unburdened, and fresh. Their language choice is easily understandable: the noverls were written in a colloquial style. The books were sold well. It did refresh our literary world. The teenagers, at least, have more alternatives to read something composed by their peers. Through their pens, our teens share their views on reality in their very style. One of the outstanding concepts evoked in their writing is the formulation of “beauty”. This paper took four novels, My Friends-My Dreams, Ramalan Fudus Ororpus, Kana di Negeri Kiwi, dan Summer Triangel, to discover the teen’s perspective concerning beauty. The concept is internalized in their mind through the discourses developed in their social background and through the media. They select those discourses, and take one they believe in it. The analysis shows that their concept of beauty is not so different from the general one—or patriarchal beauty. However, they insist that being beauty does not necessarily mean to be happy, as it was obviously declared in Kana di Negeri Kiwi. The beauty is : tall, white, black and straight hair, and well-shaped body. This is just a result of the dominance of patriarchy, standing in the same position of capitalism to whom the main stream media are belonged. The media holder is the only one dictating whats to be “beauty.” Key Words: teen, novel, beauty