cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota gorontalo,
Gorontalo
INDONESIA
Farabi
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Adalah jurnal ilmiah dalam bidang filsafat , dakwah , komunikasi, dan pemikiran Islam yang diterbitkan oleh Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo
Arjuna Subject : -
Articles 100 Documents
STUDI DAKWAH DAN MEDIA DALAM PERSPEKTIF USES AND GRATIFICATION THEORY Thaib, Erwin Jusuf
Farabi Vol 11, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dakwah Islamiyah adalah salah satu aspek yang tidak terpisahkan dengan kehidupan umat Islam. Dalam kenyataannya, di mana ada eksistensi umat Islam ada, maka ada pula eksistensi dakwah Islamiyah di tempat itu. Kenyataan ini mutlak harus ada, karena dakwah adalah Islam dan Islam adalah dakwah. Karena pentingnya dakwah Islamiyah bagi kehidupan umat Islam, maka semua potensi yang dimiliki sedapat mungkin untuk dapat menunjang eksistensi dakwah Islamiyah. Dalam kehidupan masyarakat modern, media memainkan peranan penting bagi kehidupan sosial. Media, baik media cetak maupun media elektronik, telah menjadi salah satu kebutuhan dasar bagi masyarakat modern. Itulah sebabnya, media massa -- khususnya media televisi—telah menjadi saluran primer bagi penyebaran dakwah Islamiyah dewasa ini. Begitu tingginya penetrasi media televisi dalam kehidupan modern, maka fenomena ini telah menjadi kajian penting dalam studi ilmu komunikasi khususnya yang berkaitan dengan dengan media komunikasi. Di antara banyak teori komunikasi yang dikembangkan para pakar komunikasi, maka teori uses and gratification yang dicetuskan oleh Elihu Katz, Jay G. Blumlerm dan Michael Gurevitch, banyak dipakai untuk menganalisis relasi antara media massa dan pemirsanya. Dari perspektif teori ini, pemirsa mempunyai kewenangan mutlak untuk menentukan program dakwah di televisi mana yang akan diikutinya sesuai dengan tingkat kepuasan yang ingin dicapainya dari program yang diikutinya. Fakta ini merupakan kontra teori yang menyatakan bahwa media massa yang mendominasi pemirsanya. 
FENOMENA KOMUNITAS BERJILBAB; ANTARA KETAATAN DAN FASHION Pakuna, Hatim Badu
Farabi Vol 11, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini adalah respon terhadap fenomena yang akhir-akhir ini hadir di hadapan publik. Adalah dua komunitas berjilbab yang dianggap saling bertentangan. Satu komunitas dengan gerakan membudayakan jilbab fashionable namun tetap tertutup, sementara komunitas kedua melalui media sosial menampilkan cara berjilbab yang juga fashionable namun masih menonjolkan bagian-bagian tubuh tertentu. Tujuan penulisan ini adalah mendeskripsikan kedua fenomena komunitas berjilbab tersebut. Metode penulisan menggunakan pendekatan  fenomenologi dengan landasan Q.S. al-Ahzab: 59 dan Q.S. An-Nur: 31. Merujuk pada sikap Buya Hamka yang bijaksana dan sabar menghadapi wanita yang telah berniat baik untuk menutup aurat, penulis berkesimpulan bahwa fenomena jilboobs community adalah evolusi berjilbab secara syar’i.
SUMBANGSIH ISLAM DALAM MENANGGULANGI KEHAMPAAN SPIRITUAL MASYARAKAT MODERN; TELAAH ATAS PEMIKIRAN TASAWUF SAYED HUSEIN NASR Rusli, Muh.; Rakhmawati, Rakhmawati
Farabi Vol 11, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dunia tasawuf terkadang dipandang sebelah mata karena dianggap menjauhi bahkan memusuhi dunia. Namun bagi Sayed Husein Nasr tasawuf merupakan alternatif solusi untuk menjawab tantangan di era modern, orang-orang Barat dan orang-orang Islam yang sudah keracunan modernisme Barat. Mereka secara materi telah mapan namun mengalami kehampaan spiritual akibat pendewaan terhadap materi dan ilmu pengetahuan. Untuk itu, seseorang harus mempunyai keseimbangan antara ilmu dan amal, antara kontemplasi dan aksi. Selanjutnya, problem antar agama dapat diselesaikan lewat pendekatan sufistik, di mana Islam tidak hanya berarti agama yang diwahyukan melalui al-Qur’an kepada Nabi Muhammad, tetapi juga seluruh agama yang autentik.  World of Sufism has sometimes been underestimated because of it away from world and even hostile.Sayed Hussein Nasr stated that Sufism is the one of alternative solution to meet the challenges of the modern era. Western and Moslems havebeen affectedby Western modernism, theyare materially established, but they sufferspiritual emptiness due to the apotheosis of material and science. Therefore, one must have the equilibrium between science and charity, and between contemplation and action. Furthermore, the problem of interfaith can be resolved through sufistic approach in which Islam is not only about religion revealed through the Quran to the Prophet Muhammad, but also Islam is for all of authentic religions.
HUBUNGAN MUSLIM-NON MUSLIM (Membendung Radikalisme, Membangun Inklusivisme) Podungge, Rulyjanto
Farabi Vol 11, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketika masyarakat berkembang semakin luas dan kebutuhan manusia meningkat, maka hubungan dengan orang lain dengan beragam identitas primordialnya menjadi tidak bisa dihindarkan. Sebagai konsekuensi dari fakta ini adalah kemungkinan munculnya gesekan-gesekan antara berbagai kelompok masyarakat yang berbeda. Ketika menyangkut hubungan dengan penganut agama lain, Islam memberikan rambu-rambu dan batasan mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak. Maka kontroversi seringkali tidak bisa dihindarkan. Isu hubungan dengan orang yang berbeda agama dari kita, atau yang secara mudah sering diistilahkan dengan non-Muslim menjadikan perbedaan pendapat antara berbagai kecenderungan pemikiran dalam Islam. Sebutlah kelompok moderat, kelompok radikal, kelompok liberal, juga kelompok tradisionalis dan kelompok modernis. Tulisan ini menguraikan pola hubungan Muslim-Non-Muslim melalui pendekatan yang lebih moderat dan kontekstual.  
WAJAH REVOLUSI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT SEJARAH Adnan, Adnan
Farabi Vol 11, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Atikel ini ingin menelusuri dan mencari jawaban tentang pertanyaan seberapa jauh revolusi  merealisasikan transformasi structural dan cultural. Selain itu dipertanyakan sebarapa besar peranan sentral tokoh-tokoh revolusioner dalam menyusun strategi perjuangannya guna tercapainya kebebasan (freedom) dan kebersamaan? Artikel ini juga ingin menemukan bagaimana pula peran rakyat kecil (wong cilik) atau rakyat kebanyakan (grassroot) dalam revolusi itu, baik yang berdomisili di kota maupun di pedesaan?. Dari beberapa pertanyaan itu dapat ditelusuri bahwa tokoh-tokoh revolusioner sebagai “motor penggerak” revolusi, setidaknya dapat dipetakan ke dalam dua kategori, yaitu pertama, revolusi yang bersifat non-kooperatif radikal, dengan tokohnya Tan Malaka; dan kedua, revolusi yang bersifat kooperatif-moderat, yang tokohnya adalah Soekarno, Hatta dan Syahrir. Pendekatan yang dilancarkan oleh golongan yang pertama lebih memilih perombakan masyarakat secara total dalam segala dimensi kehidupannya yang meliputi politik, ekonomi, social, budaya, sementara golongan yang kedua lebih suka memakai jalur diplomatik dengan tetap mempertahankan hal-hal “warisan lama” yang dipandang masih perlu dilestarikan. Revolusi sebagai sebuah wacana actual di tengah kemelut kebangsaan pasca kemerdekaan pada mulanya hanya terasa di kota-kota pusat pendudukan sekutu. Tidak demikian di pedesaan, Namun karena demikian dahsyatnya “getaran” wacana revolusi tersebut, pada gilirannya desa-desa di pedalaman pun ikut andil di dalam pergolakan-pergolakan local.
POLA TRANSISI DEMOKRASI YANG TERJADI DI INDONESIA DAN BRASIL Baderan, Suprisno
Farabi Vol 11, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transisi demokrasi dapat di defeniskan sebagai masa peralihan antara sebuah rezim kekuasaan yang sebelumnya ke rezim kekuasaan yang sesudahnya. Transisi demokrasi biasanya menjelaskan bagaimana perubahan politik terjadi pada masa pergantian rezim kekuasaan. Transisi politik pada umumnya terjadi pada masa pemerintahan yang sudah lama berkuasa. Sehingga untuk menuju masa pemerintahan yang selanjutnya dibutuhkan sebuah masa/keadaan untuk beralih dari masa pemerintahan yang telah berlangsung lama sebelumnya. Untuk kasus Indonesia dan Brazi,  proses transisi demokrasi yang terjadi pada kedua negara tersebut lebih disebabkan karena adanya faktor pergantian rezim, walaupun tidak dapat diabaikan bahwa ada faktor-faktor yang cukup mendukung, seperti faktor ekonomi, demonstrasi mahasiswa dan lain-lain. Rezim pemerintahan Orde Baru yang sebelumnya bertindak sangat otoriter secara perlahan telah berubah kearah pemerintahan yang lebih demokratis
SUNNAH DALAM PEMAHAMAN TEKSTUAL DAN KONTEKSTUAL PAKAR HADIS DAN PAKAR FIQIH (Studi Kritis atas Pemikiran Muhammad al-Gazaly) Misbahuddin, Misbahuddin
Farabi Vol 11, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sunnah adalah dokumentasi hidup yang telah dipraktekkan seorang nabi dalam pola kesahariannya dan menjadi acuan umat yang diperpegangi bersama, sekaligus menjadi bagian konsep ilahi yang membumi berisikan ajaran, pedoman dan petunjuk, baik yang dapat dipahami dengan tanpa penalaran atau masih membutuhkan penalaran. Keterkaitan persoalan dengan solusi yang ditawarkan selalu berada pada posisi yang berbeda dengan pemahaman yang menjadi sumber rujukan, apalagi metode dan cara yang dipergunakan dalam memahaminya. Praktek sunnah nabi Saw., dalam berbagai sisi membutuhkan pemahaman yang komprehensif, yang oleh pakar hadis dan pakar fiqih menjadi rujukan yang sangat menarik  baik secara tekstual maupun kontekstual. Refleksi pemikiran Muhammad al-Gazaly berupaya menggali kembali beberapa persoalan sunnah yang mengacu kepada pemahaman tekstual dan kontekstual pakar hadis dan pakar fiqih. 
HERMENEUTIKA GADAMER DAN RELEVANSINYA DENGAN TAFSIR Kau, Sofyan A.P.
Farabi Vol 11, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini akan membahas hermeneutika dalam perspektif Gadamer. Menurut Gadamer membaca dan memahami sebuah teks pada dasarnya adalah melakukan dialog dan membangun sintesis antara dunia teks, dunia pengarang dan dunia pembaca. Ketiga hal ini -dunia teks, dunia pengarang dan dunia pembaca- menjadi pertimbangan penting dalam setiap pemahaman. Pengabaian atas salah satu aspek akan melahirkan pemahaman atas teks menjadi kering dan miskin. Untuk mendapatkan pemahaman yang maksimal, Gadamer mengajukan empat teori: prasangka hermeneutik, lingkaran Hermeneutika, Aku-Engkau” menjadi “Kami” dan hermeneutika dialektis. Keempat teori ini bukan hal yang baru dalam tradisi tafsir. Sebab prinsip dasar hermeneutika adalah sebuah upaya interpretatif untuk memhami teks. 
MARKETING POLITIK DALAM KOMUNIKASI POLITIK Kango, Andries
Farabi Vol 11, No 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dominasi ekonomi semakin berperan penting dalam kancah perpolitikan. Perkawinan ekonomi dan politik saat ini bagaikan teman satu ranjang yang tak dapat dipisahkan. Politik layaknya industri yang sarat dengan banyak kepentingan dan keuntungan semata. Kekuatan ekonomi tanpa disadari nyata berpengaruh dalam dunia politik. Kelompok yang memiliki akses ekonomi dan politik memanfaatkan momentum pesta demokrasi sebagai ajang menghamburkan uang dengan tujuan jabatan semata. Politik sudah menjadi suatu “industri raksasa” yang butuh banyak modal untuk investasi. Konsekuensi logis yang harus diterima dari semua itu adalah hanya beberapa individu dan kelompok yang mampu dan dapat bermain dalam memenangkan transaksi demokrasi. Pada dasarnya demokrasi dan uang adalah dua sisi yang tak dapat dipisahkan sehingga menjadi komoditas yang dapat mempengaruhi dalam pergolakan politik.  Sejalan dengan perubahan sistem pemilihan umum, bentuk-bentuk kampanye politik turut berubah. Penggunaan marketing politik merupakan salah satu cara kampanye modern yang banyak dilakukan saat ini. Melalui survei yang dilakukan konsultan politik, parpol atau politisi bisa mengetahui perilaku pemilih, membuat pertimbangan untuk menentukan calon, membuat program kampanye, dan mengetahui hasil pemilihan lewat penghitungan cepat. Selain itu, konsultan politik bisa memoles calon atau parpol melalui kampanye pencitraan di media massa dengan iklan politiknya.
KONTROVERSI HADIS-HADIS TENTANG ISBAL (Telaah Kritis Sanad dan Matan Hadis serta Metode Penyelesainnya) nasir, muhammad
Farabi Vol 10, No 1 (2013): farabi
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini fokus kepada kajian hadis yang berkaitan dengan isbal, dengan mengkritik sanad dan matannya. Ada dua hadis yang dianggap bertentangan yaitu hadis yang melarang isbal secara umum dan hadis yang memberikan desfenisasi melakukan isbal bagi orang yang tidak ada rasa sombong dalam dirinya. Kedua hadis yang kontroversi ini dikompromikan dengan hasil komprominya yaitu kedua hadis ini tidak bertentangan karena hadis yang berlaku secara umum ditakhsis oleh hadis yang mentolerir orang yang melakukan isbal, tetapi tidak ada rasa sombong dalam dirinya. Pelarangan isbal dititik beratkan pada adanya sikap pemborosan yang dilakukan manusia, sedangkan orang yang menjulurkan pakaiaannya sampai kemata kaki atau dibawah mata kaki, maka itu ditolerir asalkan tidak ada rasa sombong dalam diri. 

Page 1 of 10 | Total Record : 100