cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL PEMULIAAN TANAMAN HUTAN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 206 Documents
KETAHANAN SERANGAN PENYAKIT KARAT TUMOR PADA UJI KETURUNAAN SENGON (Falcataria moluccana) DI BONDOWOSO, JAWA TIMUR Setiadi, Dedi; Susanto, Mudji; Baskorowati, Liliana
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 8, No 1 (2014): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : BBPPBPTH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

As a part of tree improvement project of sengon (Falcataria moluccana L. Nielsen) several progeny test  were established in December 2011. One of those progeny test  was established in Bondowoso, East Java.  Row Column Desgin (Incomplete Block Design) was used as experimental design involving 70 families (9 Papua provenance and 1 provenance Solomon), 4 replications (blocks), 4 trees per plot and a spacing of 3 x 2 m. Observations were made at the age of 6 and 12 months, including recorded the percent of survival plants, height, diameter and the gall rust incidence. Results showed that in general, the early growth of individual plant in this plot demonstrated a fairly good performance with the survival rate of 98.5% (6 months old), and 96.9% (1 year old). The early growth of sengon varied significantly between provenances. The best growth demonstrated by provenances from Meagama, Holima and Hobikosi. Early estimation of individual heritability of plant height categorised in low (h2i= 0.07 to 0.11, h2f= 0.16 to 0.21), whereas individual heritability of diameter were catagorised in medium (h2i= 0, 08 to 0.27, h2f= 0.15 to 0.43). Moreover, the positive value of the genetic correlation revealed between height and diameter (0.88 and 0.85). Several individual trees originated from Holima, Meagama and Elagaima exhibited 0% of gall rust disease incidence.
IDENTIFIKASI TIGA ISOLAT CENDAWAN PENGHASIL GAHARU DARI NUSA TENGGARA BARAT DENGAN MENGGUNAKAN PRIMER ITS DAN TEF 1-α Nugraheni, Y.M.M Anita
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 2 (2015): Jurnal pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : BBPPBPTH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gaharu telah dikenal secara luas sebagai salah satu produk hasil hutan bukan kayu unggulan karena manfaat dan nilai ekonomisnya yang cukup tinggi. Beberapa isolat cendawan pembentuk gaharu pada jenis  Gyrinops  versteegii  telah  diisolasi  dari  hasil  eksplorasi  di  pulau  Lombok  dan  Sumbawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tiga cendawan yang berasosiasi dengan pembentukan gaharu pada jenis Gyrinops versteegii asal Lombok Tengah, Alas, dan Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Ketiga cendawan dibiakan dalam medium cair PDB (Potato Dextrose Broth) dan diinkubasikan selama 1 bulan sambil digojok. Miselium dari masing-masing cendawan dipanen untuk isolasi DNA. Amplifikasi dilakukan dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) menggunakan primer ITS dan TEF dan diperoleh amplikon yang memiliki panjang berkisar 300-600 pb. Hasil analisis BLAST menunjukkan bahwa ketiga cendawan memiliki kesamaan dengan Fusarium solani. Hasil tersebut dikonfirmasi dengan pohon filogenetik dimana ketiga cendawan uji mempunyai kekerabatan dengan F. solani.
Keragaman genetik Gonystylus bancanus (miq.) kurz berdasarkan penanda RAPD (Random Amplified polymorphic DNA) Widyatmoko, Antonius WPBC; Aprianto, nfn
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 7, No 1 (2013): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : BBPPBPTH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gonystylus bancanus (Ramin) is one of the most valuable timber species in peat swamp forest. Over harvesting and illegal logging had decreased the potential of the species. Thus, conservation of the species becomes a very crucial activity to be carried out. In order to conserve efficient and effectively, it is important to gather information of genetic diversity and its distribution, and also genetic relationship among populations. In this activity, 86 loci from 20 RAPD primers were used for analyzing genetic diversity of 10 populations of ramin distributed in Kalimantan and Sumatera. As a result, mean genetic diversity of the 10 populations was 0.329, and mean genetic distance between populations was 0.061. Genetic diversity within population (94%) was higher than between populations (6%). Based on cluster analysis, 10 populations of ramin were divided into 2 groups. The first group was consisted of Kuok B, and the remaining 9 populations were clustered into the second group. The second group could be divided into 3 sub-groups, the first sub-group consisted of Mesukuh I, Mesukuh II, Pakilat I, Kanarakan dan Nyaru Menteng, second sub-group was consisted of Pakilat II, and the third sub-group was consisted of PT Diamond, Kuok A and Berbak.
MORFOLOGI PEMBUNGAAN DAN SISTEM REPRODUKSI MERBAU (Intsia bijuga) PADA PLOT POPULASI PERBANYAKAN DI PALIYAN, GUNUNGKIDUL Baskorowati, Liliana
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 3 (2015): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : BBPPBPTH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Informasi tentang morfologi pembungaan sebagai langkah awal mengetahui sistem reproduksi untuk menentukan langkah konservasi sangat diperlukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui morfologi pembungaan dan sistem reproduksi merbau. Pengamatan intensitas pembungaan dan pembuahan dilakukan setiap 1 minggu sekali selama 6 bulan mulai bulan Mei hingga November2013. Pengamatan perkembangan organ generatif dilakukan setiap hari untuk mengetahui tahapan perkembangan bunga dan buah.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembungaan tersusun dalam malai, hermaprodit dengan kemasakan bunga yang tidak serempak. Organ reproduksi bertipe heterostyly dan bersifat protandry. Tidak terdapat buah yang terbentuk dari hasil percobaan dengan penyebukan sendiri (self-pollination). Hal ini memperkuat dugaan tentang sistem polinasi silang (xenogamy). Pembungaan terjadi dua kali setahun dengan puncak pembungaan Juni dan November, diikuti dengan kemasakan buah pada 3 bulan berikutnya. Terdapat berbagai macam serangga yang mengunjungi bunga merbau, namun sangat sedikit serangga penyerbuk yang ditemukan pada populasi uji. Rendahnya keberhasilan reproduksi selain dikarenakan sedikitnya jumlah bunga dan serangga pengunjung, juga karena adanya ketidakcocokan berkawin sendiri, sehingga upaya melakukan perkawinan silang atau memperbanyak serangga penyerbuk perlu dilakukan.
UJI INKOMPATIBILITAS SOMATIK DAN PERTUMBUHAN JAMUR GANODERMA DARI KEBUN BENIH GENERASI PERTAMA Acacia auriculiformis DI WONOGIRI, JAWA TENGAH Nurrohmah, SitI Husan; Hidayati, Nur
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 8, No 1 (2014): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : BBPPBPTH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seed orchard A. auriculiformis F1 at Wonogiri, Central Java has attacked by ganoderma caused root rot. To determine the genetic variation, the pattern of spread of ganoderma necessary to somatic incompatibility test and measure the growth. This study used 8 isolates of the fungus ganoderma. Fungi were grown on PDA (Potato dextrose agar), made  parental isolates and paired with each other. The results showed that all pairings  indicated incompatible reactions except self pairings. All self-pairings showed compatible reactions that indicated by miycelia merged on PDA forming a single colony. Incompatible reaction zone is characterized by  sparse zone, demarcation line and pigmentation. The results of somatic incompatibility test,  ganoderma have different genotypes or  it is not a single colony. The result indicates that the distribution of root rot  in Seed orchard A. auriculiformis F1 at Wonogiri, Central Java not only occured by root to root contact.
INDEKS OVERLAP DAN SINKRONISASI PEMBUNGAAN DALAM KEBUN BENIH KAYUPUTIH (Melaleuca cajuputi) DI PALIYAN, GUNUNGKIDUL Kartikawati, Noor Khomsah
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 2 (2015): Jurnal pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : BBPPBPTH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu aspek penting di kebun benih adalah informasi tentang sinkronisasi pembungaan. Pembungaan yang sinkron mendukung terjadinya perkawinan silang secara acak sehingga perolehan genetik yang dihasilkan  dapat optimal.  Penelitian tentang sinkronisasi  pembungaan  dilakukan  di kebun benih kayuputih di Paliyan, Gunungkidul, berdasarkan fenogram dan indeks overlap selama 2 periode pembungaan (2010-2011). Hasil penelitian menunjukkan lebih dari 75% famili penyusun di kebun benih memiliki pembungaan yang sinkron dengan puncak pembungaan terjadi pada akhir Januari sampai awal Februari. Sebanyak 90% famili memiliki nilai indeks overlap lebih dari 0,8 meskipun terdapat juga 2 famili dari Australia bagian barat dan Australia bagian utara yang memiliki nilai indeks overlap sangat rendah (<0,6). Sebagai implikasinya adalah bahwa benih yang dihasilkan dari kebun benih kayuputih di Paliyan mempunyai potensi genetik yang bagus karena merupakan hasil produksi dari 75% pohon-pohon di kebun benih Paliyan.
KULTUR JARINGAN CENDANA (Santalum album L.) MENGGUNAKAN EKSPLAN MATA TUNAS Herawan, Toni
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 3 (2015): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : BBPPBPTH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mempelajari perkembangan dan perbanyakan Cendana menggunakan kultur jaringan mata tunas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mata tunas yang diinkubasi  dalam  media  Murashige  dan  Skoog  (MS)  dengan  variasi  penambahan  Zat  Pengatur Tumbuh yang terdiri atas BAP (benzyl-amino-purine), NAA (napthalene-acetic-acid), IAA (indole- acetic-acid), dan Kinetin (furfuril-amino-purine) pada tahapan induksi, multiplikasi dan perakaran. Hasil induksi kultur jaringan mata tunas menggunakan media MS + 1 mg/l BAP + 0,01 mg/l NAA memberikan respon terbaik pada klon A.III.4.14 dengan rerata persentase induksi 85%. Hasil multiplikasi menggunakan media MS + 0,5 mg/l BAP + 0,01 mg/l NAA memberikan pertumbuhan panjang tunas dan perkembangan jumlah tunas terbaik pada klon A.III.4.14. Hasil perakaran menggunakan media ½ MS + 20 mg/l IBA + 1 mg/l IAA dan 0,01 mg/l NAA diperoleh rerata induksi perakaran dari seluruh klon yang diuji sebesar 37%. Hasil aklimatisasi di rumah kaca menunjukkan bahwa klon WS 6 memberikan respon persen tumbuh tertinggi sebesar 56%.
Estimasi parameter genetik dan peran gen pada uji keturunan full sib kayu putih di Gunung Kidul Kartikawati, Noor Khomsah; Naiem, Mohammad; Hardiyanto, Eko Bhakti
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 7, No 1 (2013): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : BBPPBPTH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Controlled pollination technique could be applied to generate gene recombinant from families in progeny test and to estimate genetic parameters. The early step in evaluation of controlled pollination is to estimate general combining ability and specific combining ability. the objectives of this research were to estimate generic parameters on full sib progeny test of melaleuca cajuputi subsp cajuputi cajuput and to identify gene action controlling growth and oil traits. The research was conducted on full sib progeny test at Gunungkidul established in an incomplete block Design with six treeplots and eight replications. Tree height and diameter stem growth were observed at seven years old. Oil yield and cineol content were examined using gas chromatography. Analysis of variance and genetic parameter were calculated for all measured variables. The result showed that individual heretabilities on growth traits (hi2 of stem diameter = 0,34 and tree height = 0,01, respectively) were lower than on oil traiths (hi2 of oil yield =0,6 and cineole = 0,4 respectively). This indicated that oil traits tend to genetically controlled. Analysis of variances on general combining ability (GCA) and Specific Combining Ability (SCA) effects from a serries of 15 sets of 5x5 half-diallel mating experiments showed that all traits (height, diameter, oil and 1,8 cineole yields) were controlled by non-aditive genes. Consequently, controlled pollination of selected plus trees should be carried out until heterosis of improved progenies could be found.
KERAGAMAN GENETIK POPULASI Calophyllum inophyllum MENGGUNAKAN PENANDA RAPD (RANDOM AMPLIFICATION POLYMORPHISM DNA) Nurtjahjaningsih, ILG
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 2 (2015): Jurnal pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : BBPPBPTH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Calophyllum inophyllum atau nyamplung tersebar secara alami dan luas di hampir seluruh pantai di Indonesia. Keragaman genetik merupakan pertimbangan penting dalam mendukung keberhasilan strategi pemuliaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman genetik di dalam populasi dan kedekatan genetik antar populasi nyamplung. Contoh daun digunakan sebagai cetakan DNA; dikumpulkan dari 10 populasi alam dan 1 populasi hutan tanaman. Lima penanda RAPD (random  amplified  polymorphism  DNA)  yang  terdiri  dari  30  lokus  polimorfik  digunakan  untuk analisis  genetik.  Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  keragaman  genetik  di  dalam  populasi nyamplung  termasuk  dalam  nilai  rendah  sampai  sedang  (rerata  HE=0,186).  Alel  privat  tidak ditemukan pada setiap populasi. Analisis AMOVA (analysis of molecular variance) menunjukkan perbedaan genetik antar pulau tidak memberikan nilai yang signifikan terhadap keragaman genetik; nilainya dipengaruhi oleh perbedaan antar populasi dan individu pohon. Jarak genetik antar populasi termasuk dalam nilai yang rendah sampai sedang (rerata Da=0,250). Analisis klaster membagi 11 populasi menjadi dua klaster; klaster I terdiri dari populasi Selayar, Lombok, Gunung Kidul dan Padang, klaster II terdiri dari populasi Way Kambas, Madura, Ketapang, Dompu, dan Yapen. Kedekatan genetik antar populasi tidak berhubungan dengan kedekatan posisi geografi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keragaman genetik di dalam populasi dan kedekatan genetik antar populasi nyamplung termasuk dalam nilai sedang. Satuan seleksi dalam strategi pemuliaan harus mempertimbangkan keragaman genetik dalam tingkat populasi atau individu pohon.
EFEKTIFITAS FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA DAN PLANT GROWTH PROMOTING BACTERIA TERHADAP PERTUMBUHAN Aquillaria crassna Irianto, Ragil S.B
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 3 (2015): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : BBPPBPTH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aquilaria crassna merupakan salah satu tanaman eksotik penghasil gaharu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas fungi mikoriza arbuskula (FMA) dan plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) terhadap pertumbuhan bibit di persemaian dan tanaman di lapang. Penelitian di pesemaian diatur dalam rancangan acak lengkap dan di lapang dengan rancangan acak kelompok dengan perlakuan kontrol, Glomus ACA, Glomus SWM, Glomus ACA + PGPR dan PGPR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan inokulasi Glomus ACA, Glomus SWM, dan PGPR meningkatkan tinggi dan diameter bibit umur 8 bulan secara signifikan berturut-turut sebesar 127,128, 94; dan 51, 52, 39% dibandingkan dengan kontrol.  Inokulasi Glomus ACA, dan Glomus SWMdapat meningkatkan pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman muda secara nyata sebesar 67,81%dan 66,76% dibandingkan dengan kontrol.

Page 2 of 21 | Total Record : 206


Filter by Year

2007 2019


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 1 (2019): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 12, No 2 (2018): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 12, No 1 (2018): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 11, No 2 (2017): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 11, No 1 (2017): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 10, No 2 (2016): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 10, No 1 (2016): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 3 (2015): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 2 (2015): Jurnal pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 1 (2015): Jurnal pemuliaan Tanaman Hutan Vol 8, No 3 (2014): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 8, No 2 (2014): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 8, No 1 (2014): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 7, No 3 (2013): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 7, No 2 (2013): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 7, No 1 (2013): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 6, No 3 (2012): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 6, No 2 (2012): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 6, No 1 (2012): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 5, No 3 (2011): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 5, No 2 (2011): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 5, No 1 (2011): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 4, No 3 (2010): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 4, No 2 (2010): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 4, No 1 (2010): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 3, No 3 (2009): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 3, No 2 (2009): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 3, No 1 (2009): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 2, No 3 (2008): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 2, No 2 (2008): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 2, No 1 (2008): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 1, No 3 (2007): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 1, No 2 (2007): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 1, No 1 (2007): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan More Issue