cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL PEMULIAAN TANAMAN HUTAN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 9, No 3 (2015): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan" : 10 Documents clear
SENYAWA FENOL PADA TOLERANSI Falcataria moluccana (Miq.) TERHADAP PENYAKIT KARAT TUMOR Putri, Asri Insiana
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 3 (2015): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : BBPPBPTH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.302 KB)

Abstract

Penyakit karat tumor menyerang secara luas pada sengon (F. moluccana Miq.), membentuk tumor (neoplasmik) yang disebabkan oleh patogen obligat parasit Uromycladium tepperianum (Sacc.) McAlpine. Senyawa fenol mempunyai kemampuan berfungsi sebagai co-factor penentu patogenisitas dari hasil perkembangan patogen dan pertahanan kimia tanaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan senyawa fenol pada toleransi sengon terhadap karat tumor dengan melakukan pengamatan tinggi tanaman, analisis kuantitatif senyawa fenol total, analisis anatomi kayu sengon toleran dan uji toleransi kalus sengon hasil budidaya jaringan dengan filtrat karat tumor sebagai agen kimia. Hasil penelitian ini adalah (1) sengon yang diinokulasi spora karat tumor mempunyai senyawa fenol total yang lebih rendah dibandingkan kontrol (tanpa inokulasi), (2) sengon toleran karat tumor mempunyai kandungan senyawa fenol lebih rendah dibandingkan sengon yang sensitif, (3) hasil mikroskopis anatomi kayu menunjukkan adanya kandungan substrat yang lebih gelap pada sengon tidak toleran dan (4) pada media filtrat karat tumor dengan konsentrasiyang sama, sengon toleran menunjukkan sel-sel kalus hidup yang lebih tinggi. Konsentrasi tertinggi sel kalus dapat hidup adalah25% (v/v).
RESPON PERTUMBUHAN BIBIT KAYU KUKU (Pericopsis mooniana (Thw.) Thw) TERHADAP INOKULASI FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA LOKAL Husna, Husna
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 3 (2015): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : BBPPBPTH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Efektivitas fungi mikoriza arbuskula (FMA) lokal dan ketergantungan jenis tanaman legum terhadap aplikasi FMA ditentukan oleh kecocokan jenis FMA dengan tanaman inang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas FMA lokal terhadap pertumbuhan, biomassa dan serapan hara bibit kayu kuku (Pericopsis mooniana (Thw.) Thw.) umur 5 bulan di rumah kaca. FMA lokal yang diuji diisolasi dari empat rizosfer kayu kuku di Kabupaten Kolaka: FMA-HA (hutan alam Tanggetada), FMA-BJ (hutan tanaman Desa Bali Jaya), FMA-CA (Cagar Alam Lamedai), FMA-Vale (PT. Vale Indonesia Tbk.), dan dua rizosfer yang berasal dari Kota Kendari: FMA-UHO (taman kampus Universitas Halu Oleo), FMA-KG (hutan kota kantor Gubernur Sulawesi Tenggara). Perlakuan tanpa FMA (kontrol) dan FMA eksotik (Mycofer) serta isolat dari Kendari (kdr 03) juga digunakan sebagai pembanding. Rancangan percobaan adalah rancangan acak kelompok dengan 9 perlakuan dan 5 ulangan. Secara umum, aplikasi FMA mampu meningkatkan pertumbuhan dan perbaikan status hara tanaman. FMA- KG dan FMA-UHO mampu meningkatkan pertumbuhan tinggi, diameter, jumlah daun dan jumlah bintil akar bibit kayu kuku. Kedua FMA ini juga mampu meningkatkan berat kering total bibit kayu kuku  masing-masing  sebesar  260%  dan  281%  lebih  tinggi  dibandingkan  kontrol.  Terdapat peningkatan jumlah klorofil total pada bibit kayu kuku yang diberi perlakuan FMA-KG. PerlakuanFMA secara umum tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap kadar C organik dan N total. Walaupun kadar P total, K total, Ca total dan Mg total bibit kayu kuku lebih tinggi pada kontrol, akumulasi hara ditemukan lebih tinggi pada perlakuan FMA. Terdapat hubungan yang kuat dan signifikan antara akumulasi hara dengan biomassa bibit kayu kuku.
MORFOLOGI PEMBUNGAAN DAN SISTEM REPRODUKSI MERBAU (Intsia bijuga) PADA PLOT POPULASI PERBANYAKAN DI PALIYAN, GUNUNGKIDUL Baskorowati, Liliana
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 3 (2015): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : BBPPBPTH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.168 KB)

Abstract

Informasi tentang morfologi pembungaan sebagai langkah awal mengetahui sistem reproduksi untuk menentukan langkah konservasi sangat diperlukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui morfologi pembungaan dan sistem reproduksi merbau. Pengamatan intensitas pembungaan dan pembuahan dilakukan setiap 1 minggu sekali selama 6 bulan mulai bulan Mei hingga November2013. Pengamatan perkembangan organ generatif dilakukan setiap hari untuk mengetahui tahapan perkembangan bunga dan buah.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembungaan tersusun dalam malai, hermaprodit dengan kemasakan bunga yang tidak serempak. Organ reproduksi bertipe heterostyly dan bersifat protandry. Tidak terdapat buah yang terbentuk dari hasil percobaan dengan penyebukan sendiri (self-pollination). Hal ini memperkuat dugaan tentang sistem polinasi silang (xenogamy). Pembungaan terjadi dua kali setahun dengan puncak pembungaan Juni dan November, diikuti dengan kemasakan buah pada 3 bulan berikutnya. Terdapat berbagai macam serangga yang mengunjungi bunga merbau, namun sangat sedikit serangga penyerbuk yang ditemukan pada populasi uji. Rendahnya keberhasilan reproduksi selain dikarenakan sedikitnya jumlah bunga dan serangga pengunjung, juga karena adanya ketidakcocokan berkawin sendiri, sehingga upaya melakukan perkawinan silang atau memperbanyak serangga penyerbuk perlu dilakukan.
KULTUR JARINGAN CENDANA (Santalum album L.) MENGGUNAKAN EKSPLAN MATA TUNAS Herawan, Toni
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 3 (2015): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : BBPPBPTH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.632 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mempelajari perkembangan dan perbanyakan Cendana menggunakan kultur jaringan mata tunas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mata tunas yang diinkubasi  dalam  media  Murashige  dan  Skoog  (MS)  dengan  variasi  penambahan  Zat  Pengatur Tumbuh yang terdiri atas BAP (benzyl-amino-purine), NAA (napthalene-acetic-acid), IAA (indole- acetic-acid), dan Kinetin (furfuril-amino-purine) pada tahapan induksi, multiplikasi dan perakaran. Hasil induksi kultur jaringan mata tunas menggunakan media MS + 1 mg/l BAP + 0,01 mg/l NAA memberikan respon terbaik pada klon A.III.4.14 dengan rerata persentase induksi 85%. Hasil multiplikasi menggunakan media MS + 0,5 mg/l BAP + 0,01 mg/l NAA memberikan pertumbuhan panjang tunas dan perkembangan jumlah tunas terbaik pada klon A.III.4.14. Hasil perakaran menggunakan media ½ MS + 20 mg/l IBA + 1 mg/l IAA dan 0,01 mg/l NAA diperoleh rerata induksi perakaran dari seluruh klon yang diuji sebesar 37%. Hasil aklimatisasi di rumah kaca menunjukkan bahwa klon WS 6 memberikan respon persen tumbuh tertinggi sebesar 56%.
EFEKTIFITAS FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA DAN PLANT GROWTH PROMOTING BACTERIA TERHADAP PERTUMBUHAN Aquillaria crassna Irianto, Ragil S.B
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 3 (2015): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : BBPPBPTH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.031 KB)

Abstract

Aquilaria crassna merupakan salah satu tanaman eksotik penghasil gaharu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas fungi mikoriza arbuskula (FMA) dan plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) terhadap pertumbuhan bibit di persemaian dan tanaman di lapang. Penelitian di pesemaian diatur dalam rancangan acak lengkap dan di lapang dengan rancangan acak kelompok dengan perlakuan kontrol, Glomus ACA, Glomus SWM, Glomus ACA + PGPR dan PGPR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan inokulasi Glomus ACA, Glomus SWM, dan PGPR meningkatkan tinggi dan diameter bibit umur 8 bulan secara signifikan berturut-turut sebesar 127,128, 94; dan 51, 52, 39% dibandingkan dengan kontrol.  Inokulasi Glomus ACA, dan Glomus SWMdapat meningkatkan pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman muda secara nyata sebesar 67,81%dan 66,76% dibandingkan dengan kontrol.
MORFOLOGI PEMBUNGAAN DAN SISTEM REPRODUKSI MERBAU (Intsia bijuga) PADA PLOT POPULASI PERBANYAKAN DI PALIYAN, GUNUNGKIDUL Baskorowati, Liliana; Pudjiono, Sugeng
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 3 (2015): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : Center for Forest Biotechnology and Tree Improvement (CFBTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.168 KB) | DOI: 10.20886/jpth.2015.9.3.159-175

Abstract

Information regarding the flowering morphology, as a first step to understand the reproductive system, is essential. The purpose of this study is to determine the flowering morphology and the reproductive systems of merbau. Observation of flowering and fruiting intensity was undertaken every week for 6 consecutive months, from May to November 2013. Observations of the development of generative organs were carried out on daily basis to determine the duration and the length of each development stage of flowers and fruits. Results showed that flowering of merbau is arranged in spikes, hermaprodite with un synchronous flowering between and within spikes. Reproductive organs are protandry and apparently heterostyly type, indicating that self-incompatibility may occur in this species. None fruit was formed from self-pollination experiment; supporting the allegation of crosspollination systems (xenogamy). Flowering occurs twice a year with peak flowering in June and November, followed by fruit maturation in the next 3 months. Various types of insect visitors found during this study, however very few insect can be determined as pollinators. Flowers and pollinator limitation lead to the mechanism of self-incompatibility causing low reproductive success on this species. Therefore, an artificial cross-pollination or an introduction of pollinators needs to be done in order to enhance the reproductive success of this species.
RESPON PERTUMBUHAN BIBIT KAYU KUKU (Pericopsis mooniana (Thw.) Thw) TERHADAP INOKULASI FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA LOKAL Husna, Husna
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 3 (2015): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : Center for Forest Biotechnology and Tree Improvement (CFBTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.821 KB) | DOI: 10.20886/jpth.2015.9.3.131-148

Abstract

Effectiveness of indigenous arbuscular mycorrhizal fungi (AMF) and the dependence of legumes to AMF application are determined by the compatibility of AMF and the host plant. This study aims to assess the effectiveness of indigenous AMF on growth, biomass and nutrient uptake of 5 months seedling of kayu kuku (Pericopsis mooniana (Thw.) Thw) grown in greenhouse. The six tested indigenous AMF were isolated from four rhizospheres of kayu kuku at Kolaka District: FMA-HA (natural forests Tanggetada, FMA-BJ (Bali Jaya village plantations), FMA-CA (Lamedai Nature Reserve, FMA-Vale (PT. Vale Indonesia Tbk.), and other two rhizospheres from Kendari city: FMAUHO (park area of Halu Oleo University), FMA-KG (urban forest in Southeast Sulawesi Governors office). As comparison, there were also included a control (without AMF), a mycofer and an isolate from Kendari (kdr03). The study was designed in a randomized block design with 9 treatments and five replications. The results of study showed that in general AMF inoculations could increase the growth and nutrient uptake of the kayu kuku seedling. FMA-KG and FMA-UHO increased height, stem diameter, number of leaves, and root nodules. They also increased total dry weight at 260% and 281% above the control. In addition, FMA-KG increased total chlorophyll and nutrient accumulation. Levels of C organic and total N were not significantly affected by AMF treatment. Levels of total P, K, Ca and Mg of kayu kuku seedling were generally higher in control, but nutrient accumulation was higher in AMF treatment. There was a strong and significant correlation between nutrient accumulation and kayu kuku seedling biomass.
KULTUR JARINGAN CENDANA (Santalum album L.) MENGGUNAKAN EKSPLAN MATA TUNAS Herawan, Toni; Indrioko, Sapto; Indrianto, Ari
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 3 (2015): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : Center for Forest Biotechnology and Tree Improvement (CFBTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.632 KB) | DOI: 10.20886/jpth.2015.9.3.177-188

Abstract

The research aim is to observe tissue culture method for Sandalwood using node explants. The explants were cultured on Murashige and Skoog (MS) medium solidified with agar and supplemented with varies combination of hormones: BAP (benzyl-amino-purine), NAA (napthalene-acetic-acid), IAA (indole-acetic-acid) and Kinetin (furfuril-amino-purine) for shoot induction, multiplication and rooting. The results of study showed that the medium of MS+1 mg/l BAP+0.01 mg/ lNAA provided a good response for shoot induction of Sandalwood clones number A.III.4.14 at around 85%. The medium of MS+0.5 mg/l BAP+0.01 mg/l NAA provided a good response for shoot multiplication of the clones number A.III.4.14 (number of shoot and shoot elongation). The rooting medium of ½MS+20 mg/l IAA+1 mg/l IAA and 0.01 mg/l NAA resulted rooting percentage across the clones at around 37%. The highest survival rate after acclimatization was found at clone number WS6 at around 56%.
EFEKTIFITAS FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA DAN PLANT GROWTH PROMOTING BACTERIA TERHADAP PERTUMBUHAN Aquillaria crassna Irianto, Ragil S.B
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 3 (2015): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : Center for Forest Biotechnology and Tree Improvement (CFBTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.031 KB) | DOI: 10.20886/jpth.2015.9.3.149-158

Abstract

Aquilaria crassna is an exotic plant producing agarwood. This research aimed to observe arbuscular mychorrhizal fungi (AMF) and plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) effectiveness on growth of A. crassna in nursery and field. Experiments were arranged in a randomized completed blockdesign in the field. Seedlings were inoculated with Glomus ACA, Glomus SWM, PGPR, Glomous ACA+PGPR, and uninoculated seedlings as a control. Result showed that inoculation with Glomus ACA, Glomus SWM, dan PGPR could accelerated height and diameter of 8-months-old seedling significantly as much as 127, 128, 94; dan 51, 52, 39% compared to control. Inoculation Glomus ACA, Glomus SWM, still could be accelerated plant growth of height and diameter of 6-months-old young trees as much as 67.81% and 66.7% compared to control.
SENYAWA FENOL PADA TOLERANSI Falcataria moluccana (Miq.) TERHADAP PENYAKIT KARAT TUMOR Putri, Asri Insiana; Indrioko, Sapto; Rahayu, Sri
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 3 (2015): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : Center for Forest Biotechnology and Tree Improvement (CFBTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.302 KB) | DOI: 10.20886/jpth.2015.9.3.189-202

Abstract

Falcataria moluccana (Miq.) is severely attacked by Uromycladium tepperianum (Sacc.) McAlpine, which is a gall-forming (neoplasmic) and parasitic obligate pathogen. Phenolic compounds have the ability to function as co-factors of pathogenicity determinant of pathogens development and chemical defenses of plants. The purpose of this study was to determine the content of phenolic compounds on gall rust tolerance sengon by observation of tolerant sengon height, quantitative analysis of total phenolic compounds, wood anatomy analysis and tolerance test of sengon callus from tissue culture with filtrate gall rust as chemical agent. The results of the research were (1) inoculated sengon have lower total phenolic compounds than the control (no inoculation), (2) tolerant sengon have lower content of phenolic compounds than sensitive one, (3) microscopic wood anatomy observation shows that tolerant sengon have darker substrat, and (4) in the same concentration of gall rust filtrate incubation media, the tolerant sengon have higher survival cell calli. The highest concentration that callus cells can survive was 25% (v/v).

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 1 (2019): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 12, No 2 (2018): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 12, No 1 (2018): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 11, No 2 (2017): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 11, No 1 (2017): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 10, No 2 (2016): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 10, No 1 (2016): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 3 (2015): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 2 (2015): Jurnal pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 1 (2015): Jurnal pemuliaan Tanaman Hutan Vol 8, No 3 (2014): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 8, No 2 (2014): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 8, No 1 (2014): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 7, No 3 (2013): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 7, No 2 (2013): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 7, No 1 (2013): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 6, No 3 (2012): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 6, No 2 (2012): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 6, No 1 (2012): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 5, No 3 (2011): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 5, No 2 (2011): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 5, No 1 (2011): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 4, No 3 (2010): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 4, No 2 (2010): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 4, No 1 (2010): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 3, No 3 (2009): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 3, No 2 (2009): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 3, No 1 (2009): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 2, No 3 (2008): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 2, No 2 (2008): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 2, No 1 (2008): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 1, No 3 (2007): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 1, No 2 (2007): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 1, No 1 (2007): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan More Issue