cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
JURNAL PEMULIAAN TANAMAN HUTAN
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 9, No 2 (2015): Jurnal pemuliaan Tanaman Hutan" : 10 Documents clear
SORDARIOMYCETES, KELOMPOK JAMUR YANG PALING BANYAK TERISOLASI DARI DAUN JARUM Pinus radiata DI AUSTRALIA Prihatini, Istiana
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 2 (2015): Jurnal pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : BBPPBPTH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.142 KB)

Abstract

Jamur endofit pada daun jarum beberapa jenis konifer telah banyak dipelajari melalui teknik isolasi jamur namun belum banyak penelitian yang dilakukan pada jenis Pinus radiata dan belum ada studi yang dilaporkan dari Tasmania. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi kelompok terbesar jamur endofit yang berhasil diisolasi dari daun jarum P. radiata dengan beberapa kondisi  yang berbeda dari beberapa hutan tanaman di Tasmania, Victoria dan New South Wales serta mengkonfirmasinya dengan analisis filogenetik berdasarkan pada sekuen gen ITS. Sebanyak 16 jenis jamur endofit dari golongan kelas Sordariomycetes terisolasi dan Coniochaeta sp. 1 merupakan jenis yang paling banyak terisolasi pada penelitian ini.
IDENTIFIKASI TIGA ISOLAT CENDAWAN PENGHASIL GAHARU DARI NUSA TENGGARA BARAT DENGAN MENGGUNAKAN PRIMER ITS DAN TEF 1-α Nugraheni, Y.M.M Anita
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 2 (2015): Jurnal pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : BBPPBPTH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.459 KB)

Abstract

Gaharu telah dikenal secara luas sebagai salah satu produk hasil hutan bukan kayu unggulan karena manfaat dan nilai ekonomisnya yang cukup tinggi. Beberapa isolat cendawan pembentuk gaharu pada jenis  Gyrinops  versteegii  telah  diisolasi  dari  hasil  eksplorasi  di  pulau  Lombok  dan  Sumbawa. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tiga cendawan yang berasosiasi dengan pembentukan gaharu pada jenis Gyrinops versteegii asal Lombok Tengah, Alas, dan Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Ketiga cendawan dibiakan dalam medium cair PDB (Potato Dextrose Broth) dan diinkubasikan selama 1 bulan sambil digojok. Miselium dari masing-masing cendawan dipanen untuk isolasi DNA. Amplifikasi dilakukan dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) menggunakan primer ITS dan TEF dan diperoleh amplikon yang memiliki panjang berkisar 300-600 pb. Hasil analisis BLAST menunjukkan bahwa ketiga cendawan memiliki kesamaan dengan Fusarium solani. Hasil tersebut dikonfirmasi dengan pohon filogenetik dimana ketiga cendawan uji mempunyai kekerabatan dengan F. solani.
INDEKS OVERLAP DAN SINKRONISASI PEMBUNGAAN DALAM KEBUN BENIH KAYUPUTIH (Melaleuca cajuputi) DI PALIYAN, GUNUNGKIDUL Kartikawati, Noor Khomsah
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 2 (2015): Jurnal pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : BBPPBPTH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.373 KB)

Abstract

Salah satu aspek penting di kebun benih adalah informasi tentang sinkronisasi pembungaan. Pembungaan yang sinkron mendukung terjadinya perkawinan silang secara acak sehingga perolehan genetik yang dihasilkan  dapat optimal.  Penelitian tentang sinkronisasi  pembungaan  dilakukan  di kebun benih kayuputih di Paliyan, Gunungkidul, berdasarkan fenogram dan indeks overlap selama 2 periode pembungaan (2010-2011). Hasil penelitian menunjukkan lebih dari 75% famili penyusun di kebun benih memiliki pembungaan yang sinkron dengan puncak pembungaan terjadi pada akhir Januari sampai awal Februari. Sebanyak 90% famili memiliki nilai indeks overlap lebih dari 0,8 meskipun terdapat juga 2 famili dari Australia bagian barat dan Australia bagian utara yang memiliki nilai indeks overlap sangat rendah (<0,6). Sebagai implikasinya adalah bahwa benih yang dihasilkan dari kebun benih kayuputih di Paliyan mempunyai potensi genetik yang bagus karena merupakan hasil produksi dari 75% pohon-pohon di kebun benih Paliyan.
KERAGAMAN GENETIK POPULASI Calophyllum inophyllum MENGGUNAKAN PENANDA RAPD (RANDOM AMPLIFICATION POLYMORPHISM DNA) Nurtjahjaningsih, ILG
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 2 (2015): Jurnal pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : BBPPBPTH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.852 KB)

Abstract

Calophyllum inophyllum atau nyamplung tersebar secara alami dan luas di hampir seluruh pantai di Indonesia. Keragaman genetik merupakan pertimbangan penting dalam mendukung keberhasilan strategi pemuliaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaman genetik di dalam populasi dan kedekatan genetik antar populasi nyamplung. Contoh daun digunakan sebagai cetakan DNA; dikumpulkan dari 10 populasi alam dan 1 populasi hutan tanaman. Lima penanda RAPD (random  amplified  polymorphism  DNA)  yang  terdiri  dari  30  lokus  polimorfik  digunakan  untuk analisis  genetik.  Hasil  penelitian  menunjukkan  bahwa  keragaman  genetik  di  dalam  populasi nyamplung  termasuk  dalam  nilai  rendah  sampai  sedang  (rerata  HE=0,186).  Alel  privat  tidak ditemukan pada setiap populasi. Analisis AMOVA (analysis of molecular variance) menunjukkan perbedaan genetik antar pulau tidak memberikan nilai yang signifikan terhadap keragaman genetik; nilainya dipengaruhi oleh perbedaan antar populasi dan individu pohon. Jarak genetik antar populasi termasuk dalam nilai yang rendah sampai sedang (rerata Da=0,250). Analisis klaster membagi 11 populasi menjadi dua klaster; klaster I terdiri dari populasi Selayar, Lombok, Gunung Kidul dan Padang, klaster II terdiri dari populasi Way Kambas, Madura, Ketapang, Dompu, dan Yapen. Kedekatan genetik antar populasi tidak berhubungan dengan kedekatan posisi geografi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keragaman genetik di dalam populasi dan kedekatan genetik antar populasi nyamplung termasuk dalam nilai sedang. Satuan seleksi dalam strategi pemuliaan harus mempertimbangkan keragaman genetik dalam tingkat populasi atau individu pohon.
KARAKTERISTIK MORFOLOGI Ganoderma steyaertanum YANG MENYERANG KEBUN BENIH Acacia mangium DAN Acacia auriculiformis DI WONOGIRI, JAWA TENGAH Hidayati, Nur
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 2 (2015): Jurnal pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : BBPPBPTH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.815 KB)

Abstract

Kebun  benih  Acacia  mangium  dan  Acacia  auriculiformis  di  Wonogiri,  Jawa  Tengah  terserang penyakit busuk akar yang disebabkan oleh Ganoderma steyaertanum, species yang berbeda dengan Ganoderma philipii. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat karakteristik G. steyaertanum yang menyerang dua kebun benih Akasia di Wonogiri Jawa Tengah. Kegiatan yang dilakukan adalah mengidentifikasi   tanda-tanda   G.   steyaertanum   baik   di   lapangan   maupun   di   laboratorium. Karakterisasi jamur secara konvensional dilakukan dengan mengamati morfologi tanda-tanda, seperti bentuk dan warna tubuh buah, bentuk dan warna miselium serta morfologi isolat G. steyaertanum. Karakteristik morfologi yang digunakan dalam penelitian ini telah efektif untuk mengidentifikasi patogen. G. steyaertanum yang diisolasi dari badan buah tanaman akasia yang terinfeksi penyakit busuk akar. Pengujian patogenesitas telah dikonfirmasi dengan Postulat Koch. Tes uji somatik inkompatibilitas menunjukkan variabilitas genetik yang tinggi.
KERAGAMAN GENETIK POPULASI Calophyllum inophyllum MENGGUNAKAN PENANDA RAPD (RANDOM AMPLIFICATION POLYMORPHISM DNA) Nurtjahjaningsih, ILG; Haryanti, Titin; Widyatmoko, AYPBC; Indrioko, Sapto; Rimbawanto, Anto
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 2 (2015): Jurnal pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : Center for Forest Biotechnology and Tree Improvement (CFBTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.852 KB) | DOI: 10.20886/jpth.2015.9.2.103-115

Abstract

The aims of this study were to assess genetic diversity within populations and genetic relationship among populations of C. inophyllum. Leaf samples as template DNA were collected from 10 natural populations and 1 plantation. Five random amplified polymorphism DNA (RAPD) markers consisted 30 loci were conducted to genetic analysis. Results showed genetic diversity within populations were in low to moderate level (mean HE=0.186). There is no private allele in any populations. The analysis of molecular variance (AMOVA) showed that genetic differentiation among Islands was insignificant; but the differentiation was siginificant among populations and individual trees. Genetic distance among populations was in low to moderate level (mean Da=0.250). Cluster analysis clearly divided the 11 populations into 2 clusters; cluster I consisted Selayar, Lombok, Gunung Kidul and Padang populations; cluster II consisted Way Kambas, Madura, Ketapang, Dompu, and Yapen populations. The genetic relationships did not associate with their geographical locations. In conclusion, genetic diversity and genetic relationship among populations of C. inophyllum was in moderate level.
SORDARIOMYCETES, KELOMPOK JAMUR YANG PALING BANYAK TERISOLASI DARI DAUN JARUM Pinus radiata DI AUSTRALIA Prihatini, Istiana
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 2 (2015): Jurnal pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : Center for Forest Biotechnology and Tree Improvement (CFBTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.142 KB) | DOI: 10.20886/jpth.2015.9.2.61-75

Abstract

Endophytes fungi have been extensively studied in conifer needles involving culture dependent methods, however little number have been conducted in Pinus radiata and no record have been reported from Tasmania. This study aimed to identify the major group of endophyte fungi isolated from P. radiata needles with varied conditions collected from Tasmania, Victoria and New South Wales plantation and confirmed by phylogenetic analysis of ITS gene. Sixteen endophyte fungi species as member of Sordariomycetes were isolated and Coniochaeta sp. 1 was the most frequently isolated species in this study.
IDENTIFIKASI TIGA ISOLAT CENDAWAN PENGHASIL GAHARU DARI NUSA TENGGARA BARAT DENGAN MENGGUNAKAN PRIMER ITS DAN TEF 1-α Nugraheni, Y.M.M Anita; Anggadhania, Lutfi; Putranto, Riza Arief
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 2 (2015): Jurnal pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : Center for Forest Biotechnology and Tree Improvement (CFBTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (518.459 KB) | DOI: 10.20886/jpth.2015.9.2.77-90

Abstract

Several isolates of agarwood-forming fungus in Gyrinops versteegii have been isolated from the result of exploration in Lombok and Sumbawa Islands. This study aimed to identify the three fungus associated with the agarwood formation in G. versteegii originated from Lombok Tengah, Alas, and Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. The three fungus cultured in liquid medium PDB (Potato Dextrose Broth) and incubated for 1 month in shaken culture. The mycelium of each fungus was harvested for DNA isolation. Amplification is done by Polymerase Chain Reaction (PCR) using the Primers ITS and TEF with obtained amplicon having base length ranging of 300-600 bs. BLAST analysis showed that the three fungus have similarity with Fusarium solani. These results were confirmed by phylogenetic tree where all fungus has genetic relationship with F. solani.
INDEKS OVERLAP DAN SINKRONISASI PEMBUNGAAN DALAM KEBUN BENIH KAYUPUTIH (Melaleuca cajuputi) DI PALIYAN, GUNUNGKIDUL Kartikawati, Noor Khomsah
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 2 (2015): Jurnal pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : Center for Forest Biotechnology and Tree Improvement (CFBTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.373 KB) | DOI: 10.20886/jpth.2015.9.2.91-102

Abstract

Flowering synchrony will support the extent of random mating among families and hence the genetic gain in the resultant progeny. In the study, synchrony among families for flowering and peak flowering was estimated through the phenogram as well as the overlapping index. Research was carried out at cajuput (Melaleuca cajuputi sub species cajuputi) seed orchard in two flowering periods (2010 and 2011) at Paliyan, Gunungkidul. The observation results showed that peak flowering occurred in the middle of January and more than 75% families in cajuput seed orchard have the same flowering time. More than 90% families have overlapping index value greater than 0.8 in contrast to 2 families originated from Western and Northern Australia which revealed very low (<0.6) overlapping index. Seeds harvested from the cajuput seed orchard showed high genetic potencial, as 75% trees in Paliyan seed orchard produced seeds simultaneusly.
KARAKTERISTIK MORFOLOGI Ganoderma steyaertanum YANG MENYERANG KEBUN BENIH Acacia mangium DAN Acacia auriculiformis DI WONOGIRI, JAWA TENGAH Hidayati, Nur; Nurrohmah, Siti Husna
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 2 (2015): Jurnal pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : Center for Forest Biotechnology and Tree Improvement (CFBTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.815 KB) | DOI: 10.20886/jpth.2015.9.2.117-130

Abstract

Acacia mangium and Acacia auriculiformis seed orchards on the island of Java are associated with a different species of Ganoderma. The importance of G. steyaertanum as a pathogen of forest trees has not been previously highlighted. The aim of this study is to look at the characteristics of the G. steyaertanum which attacks two Acacia seed orchads at Wonogiri Central Java. Activities undertaken are to identify the signs of the G. steyaertanum both in the field and in the laboratory. Characterization of fungi is conventionally done by observing the morphology of signs, such as the shape and color of the fruit body, shape and color of mycelium. Morphological characteristic applied in this study has proved to be effective to identify the pathogen. G. steyaertanum was isolated from fruitbodies of affected trees and pathogenicity tests confirmed Koch’s postulates. Somatic incompatibility tests demonstrated high genetic variability of the pathogen.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 13, No 1 (2019): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 12, No 2 (2018): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 12, No 1 (2018): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 11, No 2 (2017): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 11, No 1 (2017): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 10, No 2 (2016): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 10, No 1 (2016): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 3 (2015): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 2 (2015): Jurnal pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 1 (2015): Jurnal pemuliaan Tanaman Hutan Vol 8, No 3 (2014): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 8, No 2 (2014): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 8, No 1 (2014): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 7, No 3 (2013): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 7, No 2 (2013): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 7, No 1 (2013): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 6, No 3 (2012): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 6, No 2 (2012): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 6, No 1 (2012): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 5, No 3 (2011): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 5, No 2 (2011): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 5, No 1 (2011): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 4, No 3 (2010): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 4, No 2 (2010): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 4, No 1 (2010): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 3, No 3 (2009): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 3, No 2 (2009): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 3, No 1 (2009): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 2, No 3 (2008): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 2, No 2 (2008): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 2, No 1 (2008): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 1, No 3 (2007): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 1, No 2 (2007): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 1, No 1 (2007): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan More Issue