cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Penelitian Hasil Hutan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue " Vol 34, No 3 (2016): Jurnal Penelitian Hasil Hutan" : 7 Documents clear
HUBUNGAN ANTARA KADAR EKSTRAKTIF DENGAN SIFAT WARNA PADA KAYU TERAS JATI Lukmandaru, Ganis
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 34, No 3 (2016): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3297.06 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2016.34.3.207-216

Abstract

Kayu jati (Tectona grandis) selain dikenal dengan keawetan alami dan ketahanan terhadap cuaca yang tinggi juga dihargai karena gambaran serat dan warna kayu yang bagus. Secara teoritis, warna kayu banyak dipengaruhi oleh kadar ekstraktif khususnya di bagian kayu terasnya. Dalam penelitian ini untuk memantapkan korelasi antara warna kayu dan kadar ekstraktif, penentuan dengan berbagai metode pengukuran warna dilakukan pada bagian teras terluar. Sampel kayu diambil dari  bagian pangkal pohon dari dua lokasi hutan tanaman Perum Perhutani, yaitu KPH Randublatung (35 pohon, kelas umur III-IV) dan KPH Purwakarta (32 pohon, kelas umur VI). Dengan serbuk ukuran 40-60 mesh, kemudian diukur sifat warna (CIE-L*a*b,  CIE-L*C*h, CIE-X*Y*Z, Munsell Color Chart, dan kecerahan ISO) dan kadar ekstraktifnya (etanol-benzena, air panas, dan total). Nilai rerata kadar ekstraktif etanol benzena (10,80 %) dan total (12,62 %) serta koefisien variasi (26,3 %) pada jati dari  Purwakarta lebih tinggi dibandingkan jati dari Randublatung. Kisaran sifat warna yang diperoleh adalah L* =  40-62 a* =;  3-11; b* = 19-31; C* = 20-31; h0 = 70-82; X = 10-25; = Y 8-23; Z = 4-13; H = 5-8; V = 3-8; C = 3-6; dan W (ISO brightness) = 4-12. Lokasi yang berbeda memberikan kecenderungan yang berbeda pada korelasi sifat warna dan kadar ekstraktifnya. Tidak ada korelasi nyata antara kelarutan dalam air panas dengan parameter warna. Secara keseluruhan, parameter kecerahan (L*) dari CIE-L*a*b* dan dari ISO (W) memberikan korelasi terbaik dengan kadar ekstraktif etanol-benzena (r = -0,54 dan 0,50 secara berturutan).
KARAKTERISTIK BALOK BAMBU LAMINA SUSUN TEGAK DARI BILAH BAMBU ANDONG (Gigantochloa pseudoarundinacea (Steud.) Widjaja) Sulastiningsih, Ignasia Maria; Santoso, Adi; Krisdianto, Krisdianto
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 34, No 3 (2016): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3502.944 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2016.34.3.167-177

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi lapisan terhadap sifat balok bambu lamina (BBL) tiga lapis susun tegak. Jenis bambu yang digunakan adalah bambu andong (Gigantochloa pseudoarundinacea (Steud.) Widjaja) berumur sekitar empat tahun yang diperoleh dari tanaman rakyat di Jawa Barat. Bilah bambu andong yang digunakan untuk membuat BBL diberi perlakuan pendahuluan dengan jalan direndam dalam larutan boron 7% selama empat jam. Lapisan dalam atau lapisan inti BBL  dikombinasikan dengan kayu manii (Maesopsis eminii Engl.) atau sengon (Falcataria moluccana (Miq.) Barneby & J.W. Grimes). Lapisan inti BBL direkat sejajar dan tegak lurus terhadap lapisan luar sehingga diperoleh enam macam komposisi lapisan. Balok bambu lamina dibuat dengan menggunakan perekat isosianat (water based polymer-isocyanate, WBPI) dengan berat labur perekat 250 g/m2 permukaan, dikempa  dingin dengan lama pengempaan satu jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kerapatan, kadar air, pengembangan tebal, dan pengembangan lebar BBL berturut-turut adalah 0,65 g/cm3 ; 11,1%; 2,09%; dan 1,99%. Kualitas perekatan BBL yang dibuat dengan perekat isosianat (WBPI) cukup baik yang ditunjukkan oleh tidak terjadinya delaminasi pada semua contoh uji delaminasi. Nilai rata-rata keteguhan rekat dan persentase kerusakan bambu (uji kering) berturut-turut adalah 61,6 kg/cm2 dan 90%. Sifat fisis dan mekanis BBL sangat dipengaruhi oleh komposisi lapisan penyusun BBL. Penggunaan kayu dan lapisan silang sebagai lapisan tengah atau inti BBL menurunkan sifat mekanis BBL tetapi meningkatkan kestabilan dimensi BBL yang dihasilkan khususnya pengembangan lebar. BBL tiga lapis yang dibuat dari susunan bilah bambu andong secara tegak dengan berbagai komposisi lapisan penyusun dan semua lapisan penyusunnya direkat sejajar serat memiliki kekuatan setara dengan kayu kelas kuat II meskipun lapisan intinya kayu manii atau sengon.  
REKAYASA PROSES SINTESIS PIPERONAL DARI KULIT LAWANG (Cinnamomum culilawan Blume) SEBAGAI PREKURSOR OBAT KANKER Delvis Kapelle, Imanuel Berly; Irawadi, Tun Tedja; Rusli, Meika Syahbana; Mangunwidjaja, Djumali; Masud, Zainal Alim
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 34, No 3 (2016): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2902.466 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2016.34.3.217-229

Abstract

Piperonal sebagai prekursor obat kanker (analog kurkumin) dapat disintesis dari ekstrak kulit pohon lawang (Cinnamomum culilawan Blume) dengan beberapa tahapan antara lain; isolasi minyak atsiri, isolasi safrol, isomerisasi safrol, dan sintesis piperonal. Minyak atsiri diisolasi dari kulit kayu lawang (kadar air 46,20%) menggunakan sistem destilasi air dengan volume 1/3 dari tinggi ketel selama lima jam. Isolasi safrol dari minyak kulit lawang dilakukan menggunakan larutan NaOH dan dimurnikan menggunakan sistem destilasi pengurangan tekanan pada suhu 90-123°C/1 mmHg. Isomerisasi safrol dilakukan menggunakan katalis alkali (KOH) tanpa pelarut pada suhu 120°C selama 8 jam. Oksidasi isosafrol dilakukan dengan menggunakan KMnO4 dalam suasana asam dengan bantuan KTF tween 80 pada temperatur <30°C dan proses pemurnian menggunakan silica gel. Hasil isolasi minyak atsiri diperoleh minyak dengan rendemen 0,94% dengan 14 komponen yang diuji dengan GC-MS diantaranya eugenol 67,35%, Safrol 13,96%, metil eugenol 12,61% ,4-terpineol 1,79%, dan sineol 1,55%.  Hasil isolasi safrol dengan rendemen 17,21% diuji kemurnian dan identifikasi menggunakan FTIR, 1H-NMR dan GCMS menunjukkan produk merupakan safrol. Hasil isomerisasi diperoleh rendemen 77,56 % yang diuji menggunakan GC terdiri dari cis-isosafrol dan trans-isosafrol. Hasil oksidasi diperoleh rendemen 65,63 % dengan kemurnian 100% berdasarkan GCMS dan data 1H-NMR menunjukkan produk merupakan piperonal.
PENGARUH PENAMBAHAN NATRIUM BISULFIT DAN PENCUCIAN ETANOL BERTINGKAT TERHADAP KUALITAS TEPUNG PORANG (Amorphophallus muelleri Blume) Pasaribu, Gunawan; Waluyo, Totok Kartono; Hastuti, Novitri; Pari, Gustan; Sahara, Emma
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 34, No 3 (2016): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5205.546 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2016.34.3.241-248

Abstract

Porang (Amorphophallus muelleri Blume) merupakan sumber pangan alternatif yang berasal dari hutan. Porang tumbuh di bawah tegakan hutan dan memiliki prospek sebagai sumber pangan alternatif untuk ketahanan pangan. Porang yang dipanen secara alami mengandung oksalat tinggi dan glukomanan rendah. Tulisan ini mempelajari kemungkinan peningkatan kualitas porang terutama derajat keputihan dan kandungan glukomanan. Porang dikumpulkan dari Nganjuk, Jawa Timur dan diuji kualitasnya serta dicampur dengan natrium bisulfit dan direndam dalam ethanol. Hasil penelitian menunjukkan penambahan natrium bisulfit  dapat meningkatkan derajat putih tepung porang sebesar 6,59%. Pencucian etanol secara bertingkat dapat meningkatkan kadar glukomanan dari 12,86 menjadi 38,11%. Kandungan Fe dan Ca tepung porang sebelum dan setelah perlakuan tidak jauh berbeda. Komponen kimia utama porang asal Nganjuk adalah 1,6-Anhydro-Beta-D Glucopyranose; 1,2,3,4-Cyclopentanetetrols,(1.alpha.,2.beta.,3.beta., 4.alpha.); cyclopropyl carbinol; asam asetat(CAS)asam ethylic; dan asam hexadecanoic.
PENGARUH KATALIS NiO DAN NiOMoO TERHADAP PERENGKAHAN MINYAK CANGKANG BIJI JAMBU METE Efiyanti, Lisna; Santi, Darma
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 34, No 3 (2016): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4074.272 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2016.34.3.189-197

Abstract

Bioenergi merupakan salah satu energi baru dan terbarukan yang sedang marak dikembangkan. Bioenergi dapat diproduksi dengan cara perengkahan katalitik untuk memecah ikatan karbon menjadi fraksi energi. Tulisan ini mempelajari potensi minyak cangkang kulit biji jambu mete (Cashew Nut Shell Liquid/CNSL) sebagai sumber alternatif sumber bioenergi non pangan dengan cara perengkahan katalitik menggunakan katalis berbasis logam-pengemban. Tulisan ini juga mempelajari pengaruh katalis terimpregnasi logam Nikel dan Molibdenum yang digunakan dalam reaksi hidrorengkah CNSL menjadi bioenergi. Secara khusus menggunakan dua jenis katalis zeolit alam aktif, yaitu NiO dan NiOMoO pada suhu 450 °C, dengan rasio umpan/katalis 2 dan 4. Katalis dikarakterisasi menggunakan metode gravimetri untuk menentukan keasaman katalis; Fourier Transform Infra Red Spectrofotometer (Spektrofotometer FT-IR) untuk mengetahui distribusi situs asam katalis; X-Ray Difraction (XRD) untuk melihat kristalinitas katalis; serta Gas Sorption Analyzer (GSA) untuk mengetahui luas permukaan, porositas dan volume pori dari katalis. Bioenergi yang diperoleh dalam fase liquid dengan komponen bensin, diesel, dan minyak berat dianalisis menggunakan  kromatografi gas - spektrometri massa (GC-MS) untuk mengetahui kandungan fraksi energi secara kualitatif maupun kuantitatif. Hasil penelitian menunjukan bahwa katalis NiOMoO bekerja optimal dengan konversi produk cair sebesar 65-75% dengan selektivitas produk bensin sebesar 37-47% dan diesel sebesar 22-31%.
KEAWETAN ALAMI 57 JENIS KAYU INDONESIA DENGAN PENGUJIAN DI BAWAH NAUNGAN Jasni, Jasni
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 34, No 3 (2016): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3278.682 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2016.34.3.179-188

Abstract

Lima puluh tujuh jenis kayu dari berbagai daerah di Indonesia diuji keawetan alaminya di luar ruangan di bawah naungan. Contoh uji berukuran 20 cm (panjang); 10 cm (lebar); 2,5 cm (tebal) dipersiapkan dari masing-masing jenis. Contoh uji diletakkan di atas batako agar tidak berhubungan langsung dengan tanah, selanjutnya disusun secara acak, dan ditutup plastik kasa sebagai naungan. Pengujian keawetan alami tersebut dilaksanakan di hutan penelitian Cikampek, Jawa Barat. Pengamatan dilakukan setelah satu tahun pengujian dengan cara menilai persentase kerusakan contoh uji yang disebabkan oleh organisme perusak kayu. Hasil penelitian menunjukkan setelah satu tahun pengujian, 57 jenis kayu dapat dikelompokkan ke dalam lima kelas keawetan. Hasil pencermatan menunjukkan empat jenis kayu termasuk kelas I (sangat awet), 16 jenis kayu kelas II (awet), 15 jenis kayu kelas III (sedang), tiga jenis kayu kelas IV (tidak awet), dan 19 jenis kayu kelas V (sangat tidak awet).
PENGGUNAAN Phanerochaete chrysosporium PADA PENGOLAHAN PULP BIO-SEMI-MEKANIS KAYU TERENTANG Aprianis, Yeni; Irawati, Denny; Marsoem, Sri Nugroho
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 34, No 3 (2016): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1708.121 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2016.34.3.231-239

Abstract

Kayu terentang (Campnosperma auriculata Hook.f) memiliki berat jenis rendah (0,3), sehingga salah satu alternatif pemanfaatannya menjadi pulp adalah dengan proses semi-mekanis. Pengurangan konsumsi energi pada proses kimia-mekanis dilakukan menggunakan jamur pendegradasi lignin (Phanerochaete chrysosporium) sebagai perlakuan awal. Pengolahan pulp semi-mekanis menggunakan NaOH 4% dan masa inkubasi 0 (kontrol), 3, 4, dan 5 minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan P. chrysosporium berpengaruh nyata terhadap kehilangan berat, kandungan kimia, dan kebutuhan energi refining. Kehilangan berat serpih kayu berkisar 15,95-21,31% dan peningkatan kadar selulosa mencapai 6,77%. Inkubasi selama lima minggu menurunkan kadar lignin hingga 22,97% dan menghemat energi refining sebesar 22,7%.

Page 1 of 1 | Total Record : 7


Filter by Year

2016 2016


Filter By Issues
All Issue Vol. 37, No. 1 (2019): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 36, No 3 (2018): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 36, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 36, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 35, No 4 (2017): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 35, No 3 (2017): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 35, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 34, No 4 (2016): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 34, No 3 (2016): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 34, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 34, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 4 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 3 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 33, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 4 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 32, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 4 (2013): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 4 (2013): Vol 31, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 3 (2013): Vol 31, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 2 (2013): Vol 31, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 31, No 1 (2013): Vol 30, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 30, No 4 (2012): Vol 30, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 30, No 3 (2012): Vol 30, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 30, No 2 (2012): Vol 30, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 30, No 1 (2012): Vol 29, No 4 (2011): JURNAL PENELITIAN HASIL HUTAN Vol 29, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 29, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 29, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 28, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 28, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 28, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 28, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 27, No 4 (2009): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 27, No 3 (2009): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 27, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 25, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 25, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 25, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 25, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 24, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 24, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 24, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 24, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 22, No 4 (2004): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 22, No 3 (2004): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 22, No 2 (2004): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 22, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 21, No 3 (2003): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 21, No 2 (2003): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 21, No 1 (2003): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 20, No 5 (2002): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 20, No 4 (2002): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 20, No 3 (2002): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 20, No 2 (2002): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 20, No 1 (2002): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 19, No 4 (2001): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 19, No 3 (2001): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 19, No 2 (2001): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 19, No 1 (2001): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 18, No 3 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 18, No 2 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 18, No 1 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 17, No 4 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 17, No 3 (2000): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 17, No 2 (1999): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 17, No 1 (1999): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 16, No 5 (1999): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 16, No 4 (1999): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 16, No 3 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 16, No 2 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 16, No 1 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 8 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 7 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 6 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 5 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 4 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 3 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 2 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 1 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 9 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 8 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 7 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 6 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 5 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 3 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 2 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 10 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 14, No 1 (1996): Buletin Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 8 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 7 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 6 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 5 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 4 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 3 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 2 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 13, No 1 (1995): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 12, No 6 (1994): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 12, No 5 (1994): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 12, No 4 (1994): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 12, No 3 (1994): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 12, No 2 (1994): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 12, No 1 (1994): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 8 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 7 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 6 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 5 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 4 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 3 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 2 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 11, No 1 (1993): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 10, No 6 (1992): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 10, No 5 (1992): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 10, No 4 (1992): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 10, No 3 (1992): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 10, No 2 (1992): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 10, No 1 (1992): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 9, No 7 (1991): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 9, No 6 (1991): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 9, No 5 (1991): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 9, No 4 (1991): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 9, No 3 (1991): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 9, No 2 (1991): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 9, No 1 (1991): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 8, No 6 (1991): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 8, No 5 (1991): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 8, No 4 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 8, No 3 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 8, No 2 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 8, No 1 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 7, No 4 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 7, No 3 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 7, No 2 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 7, No 1 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 6, No 8 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 6, No 7 (1990): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 6, No 6 (1989): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 6, No 5 (1989): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 6, No 4 (1989): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 6, No 3 (1989): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 6, No 2 (1989): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 6, No 1 (1989): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 7 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 6 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 5 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 4 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 3 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 2 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 5, No 1 (1988): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 4, No 4 (1987): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 4, No 3 (1987): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 4, No 2 (1987): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 4, No 1 (1987): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 3, No 4 (1986): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 3, No 3 (1986): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 3, No 2 (1986): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 3, No 1 (1986): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 2, No 4 (1985): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 2, No 3 (1985): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 2, No 2 (1985): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 2, No 1 (1985): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 1, No 4 (1984): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 1, No 3 (1984): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 1, No 2 (1984): Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 1, No 1 (1984): Jurnal Penelitian Hasil Hutan More Issue