Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
ISSN : -     EISSN : -
Articles 657 Documents
PERTUMBUHAN BAKAU (Rhizophora mucronata Lamk) DAN PRODUKTIVITAS SILVOFISHERY DI KABUPATEN KUPANG (Growth of Mangrove (Rhizophora mucronata Lamk) and Productivity of Silvofishery Units at Kupang Regency)*

Hidayatullah, M. ( Balai Penelitian Kehutanan Kupang ) , Umroni, Aziz ( Balai Penelitian Kehutanan Kupang )

Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.004 KB)

Abstract

Perubahan kawasan mangrove menjadi tambak banyak terjadi di Kabupaten Kupang. Silvofishery merupakan model pengusahaan tambak yang terpadu dengan konservasi sehingga nilai ekonomi dan ekologinya dapat dicapai secara bersamaan. Tujuan penelitian untuk memperoleh informasi tentang besarnya pengaruh  silvofishery terhadap produktivitas tambak dan kualitas lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan parameter kualitas air, pertumbuhan tanaman, dan pertumbuhan bandeng. Plot yang digunakan dalam penelitian ini meliputi plot silvofishery dan plot untuk pengukuran kualitas air. Plot silvofihery terdiri atas plot A, B, C, dan D dengan variasi jarak tanam. Plot pengukuran kualitas air meliputi: tambak dengan mangrove, tambak tanpa mangrove, dan tambak dengan mangrove yang sudah tidak dibudidayakan ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter kualitas air di dalam tiga plot tambak adalah: (1) salinitas yang rendah berkisar antara 7-7,7%; (2) pH netral sampai agak basa atau 7,8-8,8; (3) Chemical Oxigen Demand (COD) antara 98,2-172,9 mg/l atau dikategorikan sebagai air tercemar;  dan (4) Biological Oxygen Demand (BOD) antara 5,6-5,8 mg/l atau masih dalam batas ambang. Kegiatan silvofishery di Bipolo layak untuk dikembangkan dan menguntungkan secara finansial, dilihat dari nilai BCR >1. Rata-rata pertumbuhan tanaman dan penambahan berat ikan pada plot C lebih tinggi dibandingkan dengan plot A dan B.

KERAGAMAN MORFOLOGI, EKOLOGI, POHON INDUK, DAN KONSERVASI ULIN (Eusideroxylon zwageri Teijsm. et Binnend.) DI KALIMANTAN (Morphological Diversity, Ecology, Mother Trees, and Conservationof Ulin (Eusideroxylon zwageri Teijsm. et Binnend.) in Kalimantan)*

Sidiyasa, Kade ( Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam ) , Atmoko, Tri ( Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam ) , Mukhlisi, Mukhlisi ( Balai Penelitian Teknologi Konservasi Sumber Daya Alam )

Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.596 KB)

Abstract

Di Indonesia pohon ulin (Eusideroxylon swageri Teijsm. et Binnend.) secara alami hanya terdapat di Sumatera dan Kalimantan. Sampai saat ini penebangan pohon ulin secara tidak terkendali masih saja berlangsung, yang apabila dibiarkan akan mengakibatkan kepunahan, di lain pihak masih banyak hal yang perlu dikaji dan diteliti. Penelitian ini ditujukan untuk mendapatkan informasi tentang aspek keragaman morfologi, ekologi, pohon induk, dan konservasi ulin di Kalimantan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ulin memiliki keragaman morfologi yang sangat tinggi, baik berdasarkan sifat-sifat vegetatif maupun sifat generatif (terutama pada bentuk dan ukuran buah atau biji). Dari aspek ekologi, ulin tumbuh baik pada hutan tropis basah, pada tanah-tanah yang tidak tergenang air hingga pada ketinggian 500(-625) m dpl, pada daerah datar dekat sungai dan anak-anak sungai, daerah bergelombang hingga punggung bukit. Dari segi tanah, tempat tumbuh tersebut umumnya berpasir dengan pH dan unsur kimia makro (N,P,K) yang rendah. Potensi ulin sebagai pohon induk di alam tergolong rendah, yakni berkisar antara 22,11% hingga 32,30% dari populasi yang ada. Dalam hubungannya dengan konservasi, upaya yang bersifat in-situ maupun ex-situ sudah dilakukan, namun pengawasan dan pengamanan terhadap kawasan-kawasan konservasi yang bersifat in-situ harus lebih ditingkatkan.

REGENERASI ALAMI HUTAN RAWA GAMBUT TERBAKAR DAN LAHAN GAMBUT TERBAKAR DI TUMBANG NUSA, KALIMANTAN TENGAH DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KONSERVASI (Natural Regeneration of Burnt Peat Swamp Forest and Burnt Peatland in Tumbang Nusa, Central Kalimantan and Its I

Lestari Tata, Made Hesti ( Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi ) , Pradjadinata, Sukaesih ( Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi )

Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (704.453 KB)

Abstract

Salah satu kawasan hutan rawa gambut yang mengalami kebakaran berulang adalah Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Tumbang Nusa. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang komposisi jenis, keragaman vegetasi, regenerasi, dan tingkat kemiripan jenis di hutan rawa dan lahan gambut dengan sejarah kebakaran yang berbeda, yaitu hutan sekunder (HS), hutan terbakar tahun 1997 (HT97), hutan terbakar berulang (HT04), dan lahan gambut terbakar dikelola dengan sistem agroforestri (AF). HT97 dan HT04 memiliki komposisi vegetasi yang berbeda. Jenis vegetasi tingkat pohon di HS didominasi oleh Calophyllum macrocarpum. Komposisi vegetasi tingkat pohon di hutan bekas terbakar (HT97 dan HT04) didominasi oleh Cratoxylum arborescens.Indeks kemiripan jenis Sorensen (IS) di HS dengan HT97 cukup tinggi (IS= 62,79%), sedangkan indeks Sorensen antara HS dengan HT04 = 25,81%. Kebakaran menurunkan keragaman jenis. Keragaman jenis Shannon-Wiener (H’) tingkat pohon di HS relatif tinggi (H’= 3,30), sedangkan indeks H’ di HT97 dan HT04 masing-masing 2,61 dan 1,75. Pada tingkat pohon, ada 24 jenis yang hanya dijumpai di HS dan tidak dijumpai di hutan terbakar; 66,67% jenis tersebut merupakan tipe zoochory. Tipe penyebaran benih di masing-masing habitat perlu diperhatikan berkaitan dengan upaya konservasi di KHDTK Tumbang Nusa.

SELEKSI SUMBERDAYA HABITAT ORANGUTAN (Pongo abelii Lesson 1827) DI CAGAR ALAM SIPIROK, SUMATERA UTARA (Habitat Resources Selection of Orangutan (Pongo abelii Lesson 1827) in Sipirok Nature Reserve, North Sumatra)*

Kuswanda, Wanda ( Balai Penelitian Kehutanan Aek Nauli )

Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (980.2 KB)

Abstract

Orangutan (Pongo abelii) semakin terancam punah karena habitat rusak dan semakin berkurang.Upaya konservasi yang dapat dilakukan salah satunya adalah memperbaiki habitat. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi faktor-faktor sumberdaya habitat yang memengaruhi kehadiran orangutan di Cagar Alam Sipirok, Sumatera Utara. Pengambilan data dilaksanakan selama empat bulan. Plot penelitian sumberdaya habitat  dibuat sebanyak 195 plot (7,8 ha), terdiri dari 79 plot yang digunakan/used plots (terdapat sarang orangutan) dan 116 plot yang tidak digunakan/unused plots. Unused plot diletakkan secara sistematik dengan jarak 300 m dan used plot ditetapkan secara search sampling method. Analisis data menggunakan Z  test, One-Way Anova, regresi logistik, stepwise regression, dan uji peringkat Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sumberdaya habitat yang signifikan (nilai Sig < 0,05) memengaruhi peluang kehadiran orangutan yaitu  jenis tumbuhan pakan pada tingkat pohon dan pada tingkat tiang. Hasil simulasi model menunjukkan bahwa peluang kehadiran orangutan akan tinggi pada habitat yang minimal memiliki satu jenis tumbuhan pakan pada tingkat pohon dengan minimal terdapat dua jenis tumbuhan pakan pada tingkat tiang dalam satuan unit luasan plot penelitian.

APLIKASI TEKNIK KONSERVASI TANAH DENGAN SISTEM RORAK PADA TANAMAN GMELINA (Gmelina arborea Roxb.) DI KHDTK CARITA, BANTEN (Application of Silt Pit Soil Conservation System on Gmelina (Gmelina arborea Roxb.) Planting in Forest Area in Special Purposes Cari

Pratiwi, Pratiwi ( Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi ) , Salim, Andi Gustiani ( Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi )

Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.111 KB)

Abstract

Curah hujan yang tinggi dan pengolahan lahan tanpa menerapkan teknik-teknik konservasi tanah menyebabkan tingginya aliran permukaan dan erosi yang menghanyutkan top soil yang kaya unsur hara. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi tentang besarnya pengaruh aplikasi teknik konservasi tanah dan air (rorak) terhadap pertumbuhan tanaman Gmelina arborea Roxb. Lokasi penelitian adalah Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Carita.  Rancangan yang digunakan adalah  Rancangan Acak Kelompok dengan tiga perlakuan, yaitu P5 = G. arborea + rorak jarak 5 m; P10 = G. arborea + rorak jarak 10 m; dan P0 = G. arborea + tanpa rorak (kontrol). Analisis data tinggi dan diameter tanaman menggunakan ANOVA, dan untuk parameter lain dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan pertumbuhan terbaik tanaman G. arborea dicapai pada P5 dengan rata-rata tinggi dan diameter masing-masing 10,07 m dan 13,21 cm. Pada saat tanaman mencapai umur 3 tahun, pada perlakuan P5 dan P10 berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tinggi tanaman sedangkan pertumbuhan diameter hanya dipengaruhi oleh P5. Perlakuan P5 juga mampu menekan aliran permukaan dan erosi sebesar 2,07% dan 13,56% dari plot kontrol. Kehilangan unsur hara melalui erosi lebih besar jika dibandingkan melalui aliran permukaan, dan P5 mengalami kehilangan unsur hara paling kecil jika dibandingkan P10 dan P0.

KELIMPAHAN DAN SEBARAN POPULASI PESUT MAHAKAM (Orcaella brevirostris Gray, 1866) DI SUNGAI MAHAKAM KALIMANTAN TIMUR (Abundance and Distribution of Mahakam Irrawaddy Dolphin (Orcaella brevirostris Gray, 1866) in Mahakam River, East Kalimantan)*

Noor, Ivan Yusfi ( Direktorat Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung ) , Basuni, Sambas ( Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB ) , Kartono, Agus P. ( Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan IPB ) , Kreb, Danielle ( Conservation Foundation for Rare Aquatic Species of Indonesia )

Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (812.948 KB)

Abstract

Pesut mahakam (Orcaella brevirostris Gray, 1866) berstatus kritis, sehingga mendapat prioritas konservasi. Untuk mendukung upaya konservasinya diperlukan data dan informasi tentang populasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang jumlah individu, angka kematian dan kelahiran pesut mahakam; pemetaan sebaran serta memperoleh informasi jarak jelajah hariannya. Pendugaan jumlah individu pesut mahakam dilakukan dengan menggunakan metode capture-mark-and recapture berdasarkan identifikasi foto sirip punggung.  Angka kematian dan kelahiran pesut dikumpulkan melalui pengamatan langsung di lapangan dan wawacara.  Jarak jelajah harian pesut dihitung berdasarkan trayek pergerakan focal group yang diikuti selama 8-11 jam.  Hasil penelitian yaitu jumlah individu pesut pada tahun 2012 sebanyak 92 individu.Jumlah kematian sebesar enam individu, sedangkan jumlah kelahirannya adalah lima individu.  Jarak jelajah rata-rata harian pesut adalah 27,3 km.  Penelitian ini juga menemukan bahwa telah terjadi perubahan sebaran pesut di Sungai Mahakam. Pesut mahakam tidak lagi mendiami wilayah Muara Pahu-Penyinggahan yang sebelumnya merupakan habitat intinya.  Saat ini, pesut-pesut terkonsentrasi di lokasi lain yakni Pela-Muara Kaman.

EKOSISTEM MANGROVE SEBAGAI OBYEK WISATA ALAM DI KAWASAN KONSERVASI MANGROVE DAN BEKANTAN DI KOTA TARAKAN (Ecosystem Mangrove as an Ecotourism in Conservation Area for Mangrove and Proboscis Monkey at Tarakan City)*

Sawitri, Reny ( Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi ) , Bismark, M. ( Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi ) , Karlina, Endang ( Pusat Litbang Konservasi dan Rehabilitasi )

Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.386 KB)

Abstract

Kawasan Konservasi Mangrove Bekantan (KKMB) di Kota Tarakan Kalimantan Timur dibangun sebagai tempat pendidikan mangrove dan konservasi bekantan. Pengelolaan selanjutnya berkembang menjadi daerah tujuan wisata, sehingga diperlukan kajian kesesuaian ekosistem mangrove dan persepsi pengunjung dalam rangka mendukung program tersebut. Studi ini meliputi analisis vegetasi mangrove, kandungan logam berat di dalam tanah dan tekstur substrat tanah, keberadaan satwaliar dan biota perairan, kondisi pasang surut dan persepsi pengunjung KKMB. Tipe ekosistem mangrove KKMB terdiri dari hutan alam yang didominasi Rhizophora apiculata (INP = 106,94%) dan kawasan perluasan didominasi oleh Sonneratia alba (INP= 113,50%). Analisis substrat tanah menunjukkan indikasi pencemaran logam berat yang tinggi seperti Pb   (20,63-33,41 ppm) sebagai dampak negatif kegiatan transportasi masyarakat. Salah satu jenis biota perairan yang dimanfaatkan masyarakat adalah Telescopium telescopiumyang merupakan jenis yang dilindungi. Ditemukan 25 individu bekantan (Nasalis larvatus) dan 18 jenis burung. Penilaian kesesuaian kawasan KKMB menunjukkan hutan alam (80,26%) dan kawasan perluasan (92,10%) sangat sesuai  dan memenuhi kriteria sebagai obyek wisata alam, ditunjang oleh persepsi pengunjung yang tertarik kepada keindahan alam, satwaliar, dan biotik perairan.

MODEL SIMULASI PENJARANGAN HUTAN TANAMAN EKALIPTUS

Aswandi, Aswandi

Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (238.746 KB)

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini  bertujuan untuk mendapatkan model hipotetis penjarangan hutan tanaman jenis ekaliptus (Eucalyptus  grandis  Hill  ex  Maiden)  berdasarkan  pendekatan  analisis  sistem.  Pada  saat  ini  di  lokasi penelitian kegiatan penjarangan belum dilakukan karena orientasi pengusahaan masih pada hasil biomassa. Model sistem yang dibangun digunakan untuk mengetahui waktu dan intensitas penjarangan yang optimal. Berdasarkan simulasi terhadap berbagai skenario preskripsi penjarangan, intensitas penjarangan 25 % dengan rotasi penjarangan 15 tahun memberikan hasil maksimal sebesar 40,7 m3 per ha per tahun atau 610,5 m3 per ha tegakan dengan rata-rata diameter 39,0 cm. Hasil total tersebut diperoleh dari kegiatan penjarangan sebesar 80,1 m3  per ha dan hasil tebangan akhir daur sebesar 530,4 m3  per ha. Model yang dibangun merupakan model hipotetis sehingga validasi sangat perlu dilakukan dengan membangun petak ukur penjarangan di lapangan. 

KARBON TANAH DAN PENDUGAAN KARBON TEGAKAN Avicennia marina (Forsk.) Vierh. DI CIASEM, PURWAKARTA

Dharmawan, I Wayan Susi, Siregar, Chairil Anwar

Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (167.677 KB)

Abstract

 ABSTRAK Meningkatnya  kandungan  karbondioksida  (CO2 )  di  atmosfer  merupakan  salah  satu  faktor  penyebab terjadinya perubahan iklim dunia (global climate change).   Penambatan karbondioksida melalui berbagai vegetasi hutan, misalnya di hutan mangrove diyakini sebagai salah satu upaya penurunan kandungan gas karbondioksida dari atmosfer. Avicennia marina (Forsk.) Vierh. sebagai salah satu jenis pohon pada tegakan mangrove memiliki potensi penambatan karbondioksida yang cukup besar. Selain melakukan pendugaan kandungan karbon pada tegakan Avicennia marina, juga dilakukan analisis karbon organik tanah.  Kegiatan penelitian ini dilakukan di BKPH Ciasem, KPH Purwakarta, Perum Perhutani Unit III – Jawa Barat dan Banten. Dari lima plot pengambilan contoh tanah, diperoleh hasil rata-rata kandungan karbon organik tanah sebesar 2,9%. Kandungan karbon organik tanah ini tergolong sedang.   Berdasarkan hasil dari sampling dengan merusak pohon di lapangan, diperoleh persamaan allometrik kandungan biomasa (Y) sebagai berikut: untuk biomasa atas Y = 0,1848(DBH)2,3524 R2 = 0,9839, untuk biomasa bawah   Y =  0,1682(DBH)1,7939 R2  =0,8581, dan untuk biomasa total  Y = 0,2905(DBH)2,2598 R2 = 0,9815.  Tegakan A. marina di BKPH Ciasem memiliki potensi kandungan biomasa total sebesar 364,9 ton/ha dan kandungan karbon sebesar 182,5 ton/ha. Nilai serapan CO2 total tegakan A. marina (Forsk.) Vierh. di BKPH Ciasem adalah 669,0 ton/ha dengan nilai serapan CO2 rata-rata 14,2 ton/ pohon.

POTENSI DAN SEBARAN NIPAH (Nypa fruticans (Thunb.) Wurmb) SEBAGAI SUMBERDAYA PANGAN (Potency and Distribution of nypa palm (Nypa fruticans (Thunb.) Wurmb) as Food Resource) *)

Heriyanto, N.M., Subiandono, Endro, Karlina, Endang

Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.699 KB)

Abstract

ABSTRAKPenelitian potensi dan sebaran Nypa fruticans (Thunb.) Wurmb sebagai sumberdaya pangan dilakukan di Desa Bengalon, Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur pada bulan Oktober 2010. Pengumpulan data menggunakan metode pendugaan jumlah pohon/ha, pohon berbuah/ha dan jumlah bonggol tua/ha pada 9 sub plot ukuran 10 m x 10 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah pohon nipah rata-rata per ha ada 1.972 dengan jumlah pohon yang berbuah 674 pohon/ha, jumlah bonggol tua per pohon 1,87 atau 1.267 bonggol/ha. Jumlah buah tua nipah di lokasi penelitian adalah 71.476 buah/ha,  potensi daging buah tua nipah 2,55 ton/ha. Rata-rata berat 100 daging buah nipah adalah 3.489 g dan dari jumlah tersebut 1.622 g tepung nipah atau sebesar 46,39%.  Potensi tepung nipah per hektar sebesar 1,19 ton/ha. Kandungan gizi gula nipah cukup baik, yaitu karbohidrat (89,61%), protein (5,95%), kadar Ca (44,58 mg/kg) dan kalori sebesar 3.172 cal/gr. Tepung nipah mengandung serat cukup tinggi dengan kandungan lemak dan kalori rendah yang berpotensi untuk dijadikan makanan bagi orang yang melakukan diet. Tepung buah nipah mengandung sembilan dari dua belas jenis asam amino esensial, yaitu Histidin, Arginin, Threonin, Valin, Methionin, Iso-leusin, Leusin, Phenil alanin dan Lysin yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia.

Page 1 of 66 | Total Record : 657


Filter by Year

2004 2018


Filter By Issues
All Issue Vol. 15, No. 2 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 15, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 14, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 13, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 12, No 1 (2015): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 3 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 2 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 11, No 1 (2014): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 3 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 2 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 4 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 3 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 2 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 4 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 3 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 2 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 8, No 1 (2011): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 3 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 6, No 1 (2009): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 5 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 4 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 3 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 5, No 1 (2008): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 6 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 5 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 4 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 3 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 2 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 4, No 1 (2007): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 4 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 3 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 3, No 1 (2006): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 6 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 3 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 2 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 1, No 1 (2004): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam More Issue