Articles
84
Articles
Sejarah Politik Identitas dan Nasionalisme di Indonesia

Zahrotunnimah, Zahrotunnimah

ADALAH Vol 2, No 10 (2018): Adalah
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Salah satu artikel menarik terkait Politik identitas dan nasionalisme, memberikan pencerahan terkait sejarah politik identitas dan nasionalisme di Indonesia. Apalagi politik identitas dan nasionalisme mendapat ruang yang sangat istimewa beberapa tahun belakangan ini, baik dalam praktek maupun studi keilmuan di bidang politik dan sosiologi. Salah satu pelajaran yang dapat dipahami adalah bahwa dalam studi pasca-kolonial, sebenarnya politik identitas dan sosiologi sudah lama digeluti. Bisa dikatakan bahwa para Pemikir seperti Ania Loomba, Homi K. Bhabha dan Gayatri C Spivak adalah nama-nama yang mendalami hal tersebut.

Pola Operasionalisasi Politik Identitas di Indonesia

Zahrotunnimah, Zahrotunnimah

ADALAH Vol 2, No 11 (2018): Adalah
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Politik Identitas merupakan pemanfaatan manusia secara politis yang mengutamakan kepentingan sebuah kelompok karena persamaan identitas yang mencakup ras, etnis, dan gender, atau agama tertentu. Politik ini kerap digunakan di masa lampau. Sebagai Contoh Adolf Hitler yang meyakinkan orang-orang Jerman bahwa sumber krisis ekonomi dan kekalahan perang dunia adalah karena pengaruh orang-orang Yahudi. Dengan janji-janji manis untuk membesarkan Jerman pada saat itu, Hitler bersama partainya berhasil memenangkan pemilu di tahun 1932. Solusi yang ia tawarkan adalah melenyapkan orang Yahudi dan janji itulah yang dijual dan dibeli sebagian besar Rakyat Jerman. Sehingga mengakibatkan tragedi yang terjadi di Jerman pada saat Nazi berkuasa. Enam juta orang Yahudi menjadi korban kekejaman politik identitas dan itu menjadi salah satu peristiwa genosida terburuk yang tercatat dalam sejarah dunia.

Jangan Jadikan Ulama ‘Bak Stempel’ Pemilu

Aji, Ahmad Mukri

ADALAH Vol 2, No 9 (2018): Adalah
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (738.289 KB)

Abstract

Tahun politik 2019 merupakan ajang pemilihan umum anggota legislatif maupun presiden dan wakil presiden. Pesta demokrasi yang tentunya melibatkan rakyat Indonesia sebagai pemilik suara. Akan tetapi kesadaran memilih dan menyalurkan aspirasi dalam pemilu kerap diabaikan oleh masyarakat. Hal ini tentunya disebabkan faktor kekecewaan dan rasa apatisme terhadap wakil rakyat dan pemimpin terdahulu. Sehingga mereka enggan berpartisipasi dalam pemilu dan beranggapan bahwa para pemimpin tidak dapat mengubah kehidupan mereka menjadi lebih baik. Anggapan mereka, bekerja lebih utama dibandingkan hanya ikut memilih pemimpin yang belum tentu amanah. Sehingga meninggalkan pekerjaan sehari untuk mengikuti pemilu dianggap mengurangi penghasilan, terlebih bagi mereka yang bekerja serabutan sebagai buruh maupun kerja harian. Bila tak bekerja sehari, maka mereka tidak mendapat penghasilan untuk menyambung hidup hari itu. Dampak perilaku ini terjadilah golput dalam pemilu. Hal ini senada dengan pendapat Varma yang menyatakan bahwa terjadinya golput disebabkan oleh rasa kecewa dan apatisme masyarakat yang memandang kinerja pemerintahan hasil pemilu yang kurang amanah, selain anggapan bahwa nilai-nilai demokrasi belum mampu mensejahterakan masyarakat

Faktor Pendorong Terjadinya Insurgensi Di Suatu Wilayah

Hapsari, Sekar

ADALAH Vol 2, No 9 (2018): Adalah
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Insurgensi merupakan salah satu wujud peperangan asimetris. Fenomena gerakan insurgensi pada prinsipnya adalah perjuangan politik yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat dalam suatu wilayah negara terhadap pemerintah yang memiliki suatu otoritas yang berdaulat. Insurjensi merupakan pergerakan politik sebagai hasil dari ketidakpuasan dan penolakan dari kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh suatu pemerintah atau negara. Gerakan insurjensi juga memiliki akar permasalahan yang kompleks dan berbeda-beda serta dilakukan dalam berbagai bentuk.

Komunikasi Politik Pemerintah Indonesia dan Rusia Dalam Meredam Politik Identitas

Zahrotunnimah, Zahrotunnimah

ADALAH Vol 2, No 9 (2018): Adalah
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (790.213 KB)

Abstract

Sejarah mencatat adanya hubungan dekat antara Indonesia dan Uni soviet, bahkan Prof Guber menuliskan nama Indonesia dalam bukunya pada tahun 1933, sedang nama Indonesia pada saat itu masih terbatas digunakan pada kalangan pejuang Indonesia saja, akan tetapi Guber telah tuliskan dalam buku tersebut, walaupun saat itu Indonesia masih bernama Hindia Belanda.  

Evolusi Insurjensi di Era Modern

Hapsari, Sekar

ADALAH Vol 1, No 10 (2017): Adalah
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (616.885 KB)

Abstract

Insurgensi merupakan kata yang memberikan arti tentang gerakan yang dilakukan guna menggulingkan  rezim yang sedang berkuasa, atau rezim yang telah terbentuk termasuk para pejabat yang telah terpilih secara sah dan kuat secara hukum. Departemen pertahanan AS memberikan pengertian, insurjensi sebagai gerakan terorganisir yang memiliki tujuan menggulingkan pemerintah melalui subversi dan konflik bersenjata. Ia juga dapat diartikan sebagai perjuangan berlarut larut yang dilakukan secara metodis, langkah demi langkah dalam rangka mencapai tujuan tertentu yang mengarah pada penggulingan tatanan yang ada menjadi tidak ada, yang dapat menjadi prediksi dari lahirnya revolusi.  

Pancasila Tidak Bertentangan Dengan Agama

Maggalatung, A Salman

ADALAH Vol 1, No 9 (2017): Adalah
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.993 KB)

Abstract

Pendiri negara kesatuan Republik Indonesia, founding father bangsa telah mencetuskan lima sila sebagai dasar pijakan bagi seluruh rakyat Indonesia. Lima sila tersebut kemudian disebut dengan nama Pancasila. Pancasila lahir pada tanggal 1 juni 1945 dicetuskan oleh Soekarno. Meskipun masih dalam  perdebatan dan perselisihan akan waktu yang tepat menyatakan tanggal kelahirannya, tetapi dengan disahkan melalui Perpres di masa presiden Jokowi, maka tanggal 1 Juni patut diakui sebagai tanggal lahirnya Pancasila.  

Mari Selamatkan Pancasila

Maggalatung, A Salman

ADALAH Vol 1, No 12 (2017): Adalah
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (609.068 KB)

Abstract

Pancasila dalam kedudukannya sebagai ideologi bangsa selalu menjadi perdebatan dan dan pertentangan. Hal ini berlangsung sejak awal kemerdekaan hingga masa sekarang. Pancasila seolah dijadikan sebagai sesuatu yang setara agama, sehingga siapapun yang menggunakannya dianggap menduakan agama yang diyakini warga negara. Tetapi memang pada masa orde baru, pengawalan terhadap Pancasila sangatlah berlebihan. Siapapun yang membenci Pancasila dianggap sebagai ancaman kedaulatan bangsa. Bahkan organisasi apapun yang tidak menjadikan ideologinya Pancasila dianggap sebagai organisasi pembangkang, separatis, dan anti-pancasila. Termasuk dalam hal ini seluruh komponen masyarakat diwajibkan menghayati dan mengamalkan Pancasila. Siswa SD, SMP, SMA dan Perguruan tinggi wajib melalui penataran P4. Tanpa melalui penataran P4, maka seseorang dianggap tidak memenuhi kualifikasi dapat memasuki lembaga tertentu.  

Demokrasi di Era Reformasi

Makhfudz, M

ADALAH Vol 2, No 8 (2018): Adalah
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.954 KB)

Abstract

Lahirnya era reformasi sebagai cermin dari sikap bangsa untuk kembali pada sistem ketatanegaraan sesuai dengan konstitusi yang dikonstruksikan sebagai kesepakatan tertinggi atau bahkan sebagai kontrak sosial seluruh rakyat untuk dan dalam bernegara. Bentuk perumusannya dapat dilihat dalam Undang-Undang Dasar, atau fakta tertulis yang tidak hanya terdokumentasi dalam satu kesatuan naskah, tetapi tercatat dalam banyak naskah sejarah, seperti “Piagam Jakarta, dan sebagainya.  

Supremasi Ulama Dalam Pesta Demokrasi Pilkada

Aji, Ahmad Mukri

ADALAH Vol 2, No 8 (2018): Adalah
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.684 KB)

Abstract

Ulama merupakan komponen penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Ia merupakan gerbang penjaga moralitas bangsa. Kontribusi ulama tidak dapat dinafikkan, khususnya dalam melakukan perubahan akhlak negeri kearah yang lebih baik. Permasalahan yang dihadapi negeri ini harus merujuk kepada nasehat dan petuah ulama, karena ulama merupakan sumber inspirasi dalam memperkuat tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.