cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Didaktik Matematika
ISSN : 23554185     EISSN : 25488546     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Didaktik Matematika is a periodical academic journal that is published by Master Program of Mathematics Education, Syiah Kuala University Banda Aceh incorporating with Himpunan Matematika Indonesia (Indonesian Mathematical Society/IndoMs) and Research Institute of Syiah Kuala University as well as being supported by the board members who are experts in the area. This Journal is published twice a year (April and September). This journal was established on December 27, 2013 and published its first edition in April 2014. This Journal publishes new and original research in the field of mathematics, mathematics learning, technology, mathematics, and realistic mathematics education.
Arjuna Subject : -
Articles 139 Documents
Peningkatan Kemampuan Komunikasi dan Self-Efficacy Siswa SMP dengan Menggunakan Pendekatan Diskursif ., Marlina
Didaktik Matematika Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Didaktik Matematika
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jdm.v1i1.1240

Abstract

Abstract. The ability of communication is one of the mathematical ability to be mastered by students in learning mathematics. Students who have good mathematical communication skills will be able to create a diverse representation in solving problem. This will facilitate the students in making a variety of alternative settlement so as to enhance the students' ability in solving mathematical problems. One of approach to learning that is likely to improve mathematical communication skills and self-efficacy students is discursive approach. This research is experimental research with quantitative approach. The aim is to obtain an increase in mathematical communication skills and self-efficacy of students by using a discursive approach is reviewed by the entire student and student grouping. This study used a pretest - posttest the control group. The data of mathematical communication ability collecting using test and the data of student self-efficacy collecting by questionnaire. Based on the analysis, it can be concluded that the improvement of students' mathematical communication skills are taught using a discursive approach is better than the improvement of students' mathematical communication skills are taught using the conventional approach based on the students' overall well-reviewed and reviewed based on level students. For self-efficacy concluded that there are differences increase in self-efficacy between students taught with the discursive approach better than students who were taught using the conventional approach. Based on the analysis concluded that there is an interaction between the factors of teaching approach and leveling students with.The improvement of students' mathematical communication skills while learning approach to factors and level of students to self-efficacy of students there is no interaction.Keywords: Mathematical Communication Ability, Self-Efficacy, Discursive Approach
Penggunaan Media Visual dalam Pembelajaran Pecahan untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Kelas V SD/MI Yani, Bainuddin
Didaktik Matematika Vol 1, No 1 (2014): Didaktik Matematika
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Pemecahan masalah matematis yang berkaitan dengan materi pecahan adalah salah satu materi matematika yang sulit bagi siswa SD/MI. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh penggunaan media visual terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis. Eksperimen dengan disain penelitian two groups pre-test post-test control group design ini menetapkan populasi seluruh siswa kelas V MIN Tungkop Aceh Besar dengan lima kelas paralel. Sampel diambil secara purposif dua kelas dari tiga kelas unggul yang ada di MIN tersebut, masing-masing satu kelas dijadikan sebagai kelas yang mendapat perlakuan (treatment) dengan jumlah siswa 35 orang dan satu kelas lagi sebagai kelas kontrol dengan jumlah siswa 34 orang. Di kelas perlakuan (treatment) pembelajaran pecahan dilaksanakan dengan menggunakan media visual dan di kelas kontrol pembelajaran pecahan dilaksanakan dengan cara konvensional. Data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen kemampuan pemecahan masalah matematis untuk siswa (tes esei). Untuk pengujian hipotesis, data pretes dan postes kemampuan pemecahan masalah matematis, dan data peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis terlebih dahulu diperiksa persyaratan analisisnya berupa homogenitas dan normalitas. Pengujian hipotesis menggunakan uji-t pada taraf signifikansi 5%. Pengolahan data dengan menggunakan SPSS 17.0 for Windows telah diperoleh (1) Kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapat pembelajaran dengan media visual lebih baik daripada kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapat pembelajaran secara konvensional, dan (2) Peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapat pembelajaran dengan menggunakan media visual lebih baik daripada peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang mendapat pembelajaran secara konvensional. Berdasarkan temuan ini, maka direkomendasikan kepada guru SD/MI bahwa ketika mengajar matematika khususnya topik pecahan, hendaknya menggunakan media visual sehingga siswa lebih mudah memahami konsep maupun pemecahan masalah matematis. Kata kunci: Pembelajaran dengan menggunakan media visual, pecahan,   pemecahan masalah matematis.
Implementasi Pendekatan Contextual Teaching and Learning (CTL) Bernuansa Pendidikan Karakter untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa MTsN Triana Sari, Novi
Didaktik Matematika Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Didaktik Matematika
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jdm.v1i1.1241

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah matemastis antara siswa yang belajar menggunakan pendekatan CTL dengan siswa yang memperoleh pembelajaran konvensional, untuk menelaah perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah antara siswa dengan kemampuan matematika tinggi, sedang dan rendah pada siswa yang belajar dengan pendekatan CTL, untuk melihat apakah terdapat pengaruh atau interaksi antara faktor pendekatan pembelajaran yang diberikan dengan faktor kategori kemampuan siswa menyangkut peningkatan kemampuan pemahaman dan pemecahan masalah siswa, untuk Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen dengan pendekatan kuantitatif menggunakan dua kelas, yakni kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan pre-test post-test group design. Instrumen yang digunakan adalah tes. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII MTsN Rukoh Banda Aceh, sampel dalam penelitian ini adalah dua kelas yaitu VIII-1 sebagai kelas eksperimen dan VIII- 4 sebagai kelas kontrol dengan pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dilakukan terhadap rataan gain ternormalisasi antara kedua kelompok sampel dengan menggunakan Uji-t. Pengolahan data menggunakan Software SPSS 14,0 for Window dan Microsoft Office Excel 2007. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual dapat meningkatkan kemampuan pemahaman dan pemecahan masalah siswa ditinjau secara keseluruhan dan kategori kemampuan matematika siswa. Pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual secara signifikan lebih baik dalam meningkatkan kemampuan pemahaman dan pemecahan masalah matematis siswa dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Kata kunci:    Pendekatan Contextual Teaching and Learning, Kemampuan Pemahaman, Kemampuan Pemecahan Masalah.
PERBEDAAN PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DAN STAD DITINJAU DARI KEMAMPUAN PENALARAN DAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA SMA to, Sugian
Didaktik Matematika Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Didaktik Matematika
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jdm.v1i1.1246

Abstract

Abstrak.Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji: (1) perbedaan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw denganbentuk STAD untuk meningkatkan kemampuan penalaran matematika siswa, (2) perbedaan penerapan pembelajaran kooperatif Model tipe Jigsaw dan STAD tentang peningkatan keterampilan komunikasi matematika siswa, (3) Untuk mengetahui interaksi penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw dan STAD untuk penalaran dalam hal pengembangan kapasitas dan peningkatan komunikasi matematika siswa. Penelitian ini merupakan semi-eksperimental. Populasi dalam penelitian ini adalah kelas XI siswa SMA di Binjai. Secara acak, satu sekolah dipilih sebagai subyek penelitian, yaitu SMAN 7 Binjai Tahun 2012. Instrumen yang digunakan meliputi: tes kemampuan penalaran matematika dan matematika komunikasi uji kemampuan. Analisis data dilakukan dengan analisis varians (ANOVA). Hasil utama dari penelitian ini adalah keseluruhan siswa belajar dengan tipe pembelajaran kooperatif Jigsaw secara signifikan lebih baik dalam meningkatkan kemampuan penalaran matematika dan komunikasi matematika daripada siswa yang belajar dengan tipe kooperatif STAD. Kata kunci: Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw, Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD, Penalaran Matematika, Komunikasi Matematika.
Remedial Teaching Matematika didasarkan pada Diagnosa Kesulitan Siswa Kelas II Madrasah Tsanawiyah ., Maisura
Didaktik Matematika Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Didaktik Matematika
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jdm.v1i1.1237

Abstract

Abstrak. Seringkali siswa tidak dapat menyelesaikan soal–soal pada materi persamaan garis lurus secara tuntas, yang disebabkan oleh ketidakmampuan siswa memahami atau mengingat konsep-konsep dasar matematika yang pernah dipelajari sebelumnya, sehingga prestasi belajar siswa belum mencapai kriteria ketuntasan minimal. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu diberikan perlakuan khusus, seperti remedial teaching. penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang peranan remedial teaching dalam mengatasi kesulitan belajar siswa dan meningkatkan prestasi belajarnya. Jenis penelitian adalah penelitian eksperimen. Data diperoleh dari observasi, tes, dan wawancara. Analisa data dilakukan dengan  deskriptif kualitatif yang mengacu pada hasil tes siswa yang kemudian didiagnosa kesulitan belajarnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang mampu memahami konsep persamaan garis lurus meningkat (80% dari 32 orang  siswa yang ikut remedial teaching mengalami peningkatan hasil belajarnya). Hal ini membuktikan bahwa remedial teaching dapat mengatasi kesulitan belajar dan meningkatkan prestasi belajar siswa dalam memahami konsep persamaan garis lurus. Kata kunci: remedial teaching, kesulitan belajar.
Tingkat Berpikir Kreatif Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Berdasarkan Gaya Kognitif Reflektif dan Impulsif Rahmatina, Siti
Didaktik Matematika Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Didaktik Matematika
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jdm.v1i1.1242

Abstract

Abstract. This study aims to determine the level of students' creative thinking in solving math problems. This study is a qualitative verificative research. Subjects numbered 4 people ie students of SMA Negeri 4 Banda Aceh class X. The selection of subjects was based on Matching Familiar Figure Test ( MFFT ) ie 2 students and 2 students reflective impulsive. The data were obtained from the study subjects written response tests of creative thinking math ( TBKM ) and interviews. To test the credibility of the data the researcher doing triangulation. In this study, triangulation was used to compare the triangulation method TBKM TBKM 1 with 2 and interviews. Creative thinking abilities of students can be seen by thinking of creative mathematics achievement indicators. Creative thinking ability of students surveyed as follows, the level of creative thinking on the subject of reflective material up 1 flat is level 4 which meets four indicators of fluency, novelty, flexibility, and elaboration, the level of creative thinking on the subject of reflective material equation 1 is a straight line that is level 4 meet four indicators fluency, novelty, flexibility, and elaboration. Level of creative thinking on the subject of reflective material up 2 flat is level 4 which meets four indicators of fluency, novelty, flexibility, and elaboration, the level of creative thinking on the subject of reflective material 2 is a straight line equation 4 level indicator which meets four fluency, novelty, flexibility, and elaboration. Level of creative thinking on the subject matter up impulsively 1 flat is level 1 which meet the proficiency indicator, the level of creative thinking on the subject matter impulsive equation 1 is a straight line which meets the level 1 two indicators of fluency and elaboration. Level of creative thinking on the subject matter up impulsively 2 flat is level 3 which meets three indicators of fluency, novelty, and elaboration, the level of creative thinking on the subject matter impulsive equation 2 is a straight line that meets two level 1 indicators fluency and elaboration.Key words: Creative thinking, reflexive and impulsive cognitive style
Peningkatan Kemampuan Pemecahan Masalah Geometri melalui Pembelajaran Kooperatif Berbasis Teori Van Hiele Safrina, Khusnul
Didaktik Matematika Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Didaktik Matematika
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jdm.v1i1.1238

Abstract

Abstrak. Geometri adalah cabang matematika yang diajarkan dengan tujuan agar siswa dapat memahami sifat-sifat dan hubungan antar unsur geometri serta dapat menjadi pemecah masalah yang baik. Masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar geometri. Salah satu penyebab sulitnya siswa dalam memahami geometri adalah strategi pembelajaran yang digunakan tidak sesuai dengan materi yang diajarkan. Selain itu, dalam pembelajaran geometri selama ini belum disesuaikan dengan tingkat perkembangan berpikir siswa. Oleh karena itu diperlukan strategi yang tepat yang disusun berdasarkan tingkat perkembangan berpikir siswa dalam geometri. Pembelajaran berbasis teori van Hiele merupakan pembelajaran yang disesuaikan dengan tahapan berpikir siswa, sehingga pembelajaran ini tepat jika diterapkan dalam pembelajaran geometri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan peningkatan kemampuan pemecahan masalah geometri antara siswa yang diajarkan dengan pembelajaran kooperatif berbasis teori van Hiele denganpembelajaran konvensional. Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen dengan desain pretes-postes control group design. Instrumen yang digunakan berupa tes pemecahan masalah dan VHGT. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII MTsN Model Banda Aceh dan sampel yang dipilih adalah kelas VII-11 sebagai kelas eksperimen dan kelas VII-10 sebagai kelas kontrol. Data yang dianalisis yaitu dataN-Gain kemampuan pemecahan masalah. Hasil penelitian diperoleh bahwa peningkatan kemampuan pemecahan masalah pada kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol dengan perolehan nilai sig. 0,000 < 0,05 pada uji-t yang dilakukan. Selanjutnya, dari pengujian x2 diperoleh bahwa terdapat hubungan antara tingkat berpikir dengan peningkatan kemampuan pemecahan masalah dengan kategori tingkat keeratan hubungan adalah cukup (0,421). Dengan demikian, dalam pembelajaran geometri disarankan untuk menerapkan pembelajaran berbasis teori van Hiele agar kemampuan pemecahan masalah geometri siswa dapat ditingkatkan.Kata kunci: Pemecahan Masalah Geometri, Pembelajaran Kooperatif Berbasis van Hiele.
Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis dan Disposisi Matematis Siswa ., Husnidar
Didaktik Matematika Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Didaktik Matematika
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jdm.v1i1.1243

Abstract

Abstract: The purpose of this study was to determine the improvement of critical thinking skills and students mathematical dispositions, as well as the interaction between learning factors and grouping of students to the critical thinking skills and the improvement of student mathematical dispositions. This study is an experimental study with a quantitative approach that describes an increase in critical thinking skills and dispositions of students overall mathematical and grouping students. The population inthis study were students of SMP Negeri 3 Peusangan, where in the sample is a class VIII student as much as 2 classes with 47 students enrolled. The sampling technique is done by simple random sampling design with pretest-posttest control group. Based on the results of the study concluded that the improvement of students critical thinking skills mathematical significantly higher in grade PBM than conventional class as a whole with a value of t = 4.373. However, the grouping of students simply an increase in the high group and medle group only, namely the value of t = 4.064 and t = 2,554. The study also concluded that there was an interaction between learning factors and grouping of students to the mathematical ability of students to think critically. In addition, the results of a study of students mathematical dispositions that get higher problem-based learning than students who received conventional teaching overall with a value of t= 4.214. While the grouping of students is only an increase in the high group with a value of t = 2.428 and the low group with a value of t = 3.439. But in the process of interaction, there is no interaction between factors of learning and grouping of student to an increase students mathematical dispositions.   Key words: Model problem-based learning, critical thinking skills, students mathematical  dispositions.
Peningkatan Kemampuan Komunikasi Matematis dan Motivasi Siswa dengan Pembelajaran Pendekatan Quantum Learning pada Siswa SMP Negeri 5 Lhokseumawe Darkasyi, M.
Didaktik Matematika Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Didaktik Matematika
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jdm.v1i1.1239

Abstract

Abstrak. Rendahnya kemampuan komunikasi matematis dan motivasi siswa di Sekolah Menengah Pertama (SMP) disebabkan guru masih cenderung aktif, dengan pendekatan konvensional menyampaikan materi kepada para peserta didik, sehingga siswa dalam mengkomunikasikan matematis dan motivasi masih sangat kurang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan Quantum learning berbeda dari siswa yang memperoleh pembelajaran secara konvensional di SMP Negeri 5 Lhokseumawe. Untuk mengetahui apakah peningkatan motivasi siswa yang memperoleh pembelajaran dengan pendekatan quantum learning berbeda dari pada siswa yang memperoleh pembelajaran secara konvensional di SMP Negeri 5 Lhokseumawe. Pengumpulan data digunakan instrumen berupa tes kemampuan komunikasi matematis dan angket motivasi siswa. Untuk melihat adanya perbedaan kemampuan siswa antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol digunakan uji-t dengan taraf signifikan 0,05 setelah prasyarat pengujian terpenuhi. Hasil penelitian menunjukkan bawa peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang memperoleh pembelajaran dengan penerapan pendekatan quantum learning lebih baik dari pada siswa yang memperoleh pembelajaran secara konvensional. Motivasi siswa di kelas yang memperoleh pembelajaran pendekatan quantum learning lebih baik dari pada motivasi siswa yang memperoleh pembelajarabn secara konvensional. Pendekatan pembelajaran quantum learning sangat potensial untuk diterapkan dalam pembelajaran matematika, terutama pada saat pengenalan konsep dasar suatu materi.Kata kunci: Pendekatan Pembelajaran Quantum Learning, Kemampuan Komunikasi Matematis, Motivasi Siswa 
Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS) untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi dan Disposisi Matematis Siswa di SMA Negeri 1 Bireuen ., Marlina
Didaktik Matematika Vol 1, No 1 (2014): Jurnal Didaktik Matematika
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jdm.v1i1.1244

Abstract

Abstrack.The use of cooperative learning model type of Think-Pair-Share is needed in order to helps students of learningto communicate mathematicallyasstated ideas, ask questions and respond question, and to developed students' mathematical disposition.This study aims to find out about increasing the ability of communication and mathematical disposition among students taught through cooperative learning model Think-Pair-Share with the students taught conventionally. This study uses a quantitative approach to the experimental method. The population in this study were all students of class XI SMA Negeri 1 Bireuen and take samples of the two classes (class experimental and control) with the selection of the sample through purposive sampling technique. Collecting data in this study using two different tests and instrument the nontes. Instrument tests the ability of mathematical communication and mathematical disposition nontes include scale and observation sheets. To look at the differences increased communication ability and mathematical disposition on the experimental and control classes using the Mann Whitney test with a significance level of 0.05, and to see the interaction between learning models and the grouping of students to increase communication ability and dispositions mathematically using ANOVA two lanes. Statistical test results were analyzed using SPSS 17.0. Based on the results: (1) Increase the ability of mathematical communication between students taught through cooperative learning model TPS better than students taught conventionally based on: 1) The whole student, and 2) grouping of students. (2) There is a model of the interaction between learning and grouping of students to increase mathematical communication ability. (3) Improved mathematical dispositions among students taught through cooperative learning model TPS better than students taught conventionally based on: 1) The whole student, and 2) grouping of students. (4) There is a model of the interaction between learning and grouping of students to increase mathematical disposition. (5) The response of students towards learning math using cooperative learning model TPS is positive. Key words: Cooperative Learning Model Type of Think-Pair-Share (TPS), Mathematical Communication, Mathematical Disposition

Page 1 of 14 | Total Record : 139