cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
BAHASA DAN SASTRA
ISSN : 14120712     EISSN : 25278312     DOI : -
Core Subject : Education,
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA (Journal of Language and Literature Education) is published by Faculty of Language and Literature Education, Universitas Pendidikan Indonesia. It publishes research-based articles in the field of language, literature, and its teaching and learning. It is published twice a year, namely in April and October. The scopes of the topics include: 1) Foreign language learning, Indonesian language, vernacular language and Malay language learning; (2) Linguistics; (3) Applied Linguistics, and; (4) Literature.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol 16, No 1 (2016): Volume 16, Nomor 1, April 2016" : 12 Documents clear
ANALYZING AUDIENCE AWARENESS IN ACADEMIC WRITING AMONG UNDERGRADUATES Rahmat, Noor Hanim
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16, No 1 (2016): Volume 16, Nomor 1, April 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v16i1.3065

Abstract

Abstract The teaching of writing has undergone many stages over the years—from product approach, to process approach, and then to cognitive approach. Recently, the approaches to the teaching of writing have shifted to social orientation. Researchers are encouraged to write for specific audiences. We undergo through three basic writing stages: (a) planning, (b) translating and (c)evaluating. Generally all writers will undergo these three processes, but what differentiates one writer form the other is the way they behave in each process. Nevertheless, better writers write with the audience in mind and are more careful with their writing process. As such, audience awareness is a characteristic of skilled writers and some writers write with the audience, while some do not. This study explores the writing process and audience awareness of undergraduates who have undergone a semester of a course in research writing. Using a questionnaire as the instrument, the quantitative data reveal interesting implications towards the teaching of academic writing in higher institutions. Keywords: writers, writing process, audience awareness, research writing, undergraduates AbstrakPengajaran penulisan telah melalui banyak tahap selama beberapa tahun ini. Ia bermula dengan cara pengajaran secara produk, kemudian cara proses dan selepas itu secara kognitif. Kebelakangan ini, pengajaran penulisan telah berpaksikan orientasi sosial. Penulis disaran agar menulis dengan memikirkan pembaca yang berlainan. Lazimnya, penulis akan melalui tiga peringkat yang asas iaitu (a) perancangan, (b) penterjemahan, dan (c) penilaian. Secaranya, semua penulis akan melalui ketiga-tiga proses ini, yang berbeza Cuma cara setiap apa yang setiap penulis buat dalam setiap peringkat. Walau bagaimanapun, penulis yang lebih baik akan menulis dengan mengambil apa pembaca fikir dan akan lebih berhati-hati dalam proses penulisan. Kesedaran pembaca merupakan satu karekistik penulis yang mahir.Kajian ini mengkaji proses penulisan dan kesedaran pembaca di kalangan pelajar universiti. Pelajar-pelajar dalam kajian ini telah melalui satu semester kursus dalam penilisan kajian. Kajian ini menggunakan sola selidik sebagai instrument. Data kuantitatif ini akan menunjukkan penemuan yang menarik dalam pengajaran penulisan akademik di peringkat pengajian tinggi.Kata kunci: penulis, proses penulisan, kesedaran pembaca, penulisan kajian, pelajar university
ENGLISH WRITING SKILL ANALYSIS OF FIRST YEAR INDONESIAN TERTIARY STUDENTS IN A UNIVERSITY IN BANDUNG Yuliana, Dian; Imperiani, Ernie D.A.; Kurniawan, Eri
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16, No 1 (2016): Volume 16, Nomor 1, April 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v16i1.3061

Abstract

Abstract This article reports a study on English writing skill of Indonesian tertiary students. The purpose of the study is to examine students’ initial ability in writing English compositions.  The subjects of the study are 22 university students in their first year at English Language and Literature study program at one university in Bandung. The data are taken from students’ descriptive essays written in the classroom. The texts are then analyzed based on writing rubrics developed by Lane and Lange (1999) to see the recurrent global and local errors, supported by analytic writing rubrics proposed by Jacobs et al. (1981) to see the students’ writing ability in general. The results of the study show that the recurrent errors made in twenty-two English descriptive essays are singular/plural nouns for local errors and sentence structure for global errors. In terms of analytic view, errors in language use are the most frequent errors made by the students. The findings provide useful information for constructing teaching materials for English writing in this study program.Keywords: writing skill, descriptive text, composition scoring technique, analytic scoring technique, global and local errors. Abstrak Artikel ini melaporkan hasil kajian mengenai keterampilan menulis bahasa Inggris mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk memotret kemampuan awal menulis mahasiswa dalam bahasa Inggris. Adapun subjek penelitian adalah 22 orang mahasiswa tingkat I di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, di sebuah universitas di Bandung  yang dipilih untuk mengetahui kemampuan awal mereka. Data diperoleh melalui karangan deskriptif yang ditulis di kelas.Teks dianalisis dengan menggunakan rubrik penilaian yang dikembangkan oleh Lane and Lange (1999) untuk tataran global dan lokal (global and local errors); dan rubrik penilaian analitik yang dikembangkan oleh Jacobs (1981) untuk melihat keterampilan menulis mahasiswa secara umum. Analisis data menunjukkan bahwa kesalahan yang paling banyak dilakukan mahasiswa pada tataran lokal terkait pemarka nomina tunggal dan jamak (singular/plural nouns), sedangkan pada tataran global, kesalahan pada struktur kalimat (sentence structure) merupakan kesalahan yang paling sering dilakukan oleh mahasiswa. Dari sisi analitik, kesalahan pada penggunaan bahasa merupakan kesalahan yang paling sering ditemukan dalam kebanyakan tulisan mahasiswa.Hasil temuan ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi penyusunan bahan ajar matakuliah menulis di lingkungan program studi. Kata kunci: keterampilan menulis, teks deskriptif, teknik penilaian tulisan, teknik penilaian analitik, kesalahan global dan local.
ANALISIS MAKNA “KANYOKU” YANG BERKAITAN DENGAN WARNA: KAJIAN LINGUISTIK KOGNITIF Sekarsari, Widi; Haristiani, Nuria
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16, No 1 (2016): Volume 16, Nomor 1, April 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v16i1.3066

Abstract

Abstrak Makna kanyouku atau idiom penting untuk dipahami pembelajar bahasa Jepang, namun penelitian mengenai kanyouku yang khusus berkaitan dengan warna masih terbatas. Penelitian ini menganalisis kankyouku bahasa Jepang yang berkaitan dengan warna  menggunakan teori linguistik kognitif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; (1) makna leksikal warna dalam kanyouku diartikan sesuai makna asli warna berdasarkan referensi kamus. Makna idiomatikal warna merupakan makna khusus dan berbeda dari makna leksikal; (2) terdapat hubungan antara makna leksikal dan makna idiomatikal secara metafora 12 kanyouku, dan metonimi 6 kanyouku; (3) Ciri khas makna warna dalam kanyouku yaitu, merah (warna yang tegas, peringatan bahaya, rasa malu), biru (pengganti warna hijau, muda, dan menunjukkan kondisi seseorang melalui ciri-ciri fisiknya), kuning (warna yang terang dan menyilaukan, peringatan keselamatan, usia muda dan kurang berpengalaman), hitam (warna gelap, tindakan yang jahat, penanda kehidupan), putih (warna yang bersih, hal yang benar, hambar, kurang senang), hitam putih (warna yang bertolak belakang, perumpamaan benar atau salah). Kata kunci: makna kanyouku, warna, linguistik kognitif, metafora, metonimi AbstractKanyouku or idiom meaning is important to be understood by Japanese language learner. However, research about kanyouku, which especially relates to the color, is still limited. In this paper, we analyzed Japanese kanyoku using colours based on the theory of cognitive linguistics. The result showed several points: (1) the lexical meaning of color in kanyouku are defined according to the original meaning of color based on the dictionary reference. The idiomatical meaning of color is a particular meaning that appears to be different from the lexical meaning; (2) there are some connections between lexical meaning and idiomatical meaning. There are 12 meanings metaphorically and 6 meaning metonimycally; (3) Characteristic meaning of color in kanyouku is red (bold color, shame, etc.), blue (a substitute for green color, young, etc.), yellow (bright and dazzling color, young age and inexperienced, etc.), black (dark color, sign of life, etc.), white (clear color, tasteless, etc.), and black and white (contrasting color, parable of right and wrong).Keywords: idiom meaning, color, cognitive linguistics, metaphor, metonymy
THE ANTONYM OF LEXEME USING THE AFFIXATION ‘ME-KAN’: MORPHOSEMANTICS ANALYSIS Anis, Muhammad Yunus; Saddhono, Kundharu
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16, No 1 (2016): Volume 16, Nomor 1, April 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v16i1.3057

Abstract

AbstractThis research deals with morphosemantic analysis of lexemes. The main source of data in this research was taken from the Arabic-Indonesian dictionary, Al-Munawwir, with the primary focus on lexemes using the affixation of “me-kan”. The lexemes with affixation “me-kan” can be compared in the Arabic language using the dominant measure or pattern (wazan). This research adopts a qualitative descriptive analysis, employing the distributional approach and the technique of dividing units of language, as well as the technique of marker. The study shows that the lexemes using affixation “me-kan” in Indonesian have similarities with the wazan fa-‘a-la in Arabic. The affixation of “me-kan” is one of the forms of transitive verb in the Indonesian language, and wazan fa-‘a-la in Arabic is a form of ta’diyyah (close meaning with the transitive form). Many lexemes using the affixation “me-kan” in Al-Munawwir Indonesian–Arabic dictionary were translated by the wazan fa-‘a-la. This study indicates that there is a strong connection between the transitive form in Arabic and Indonesian, as indicated through the analysis of the aforementioned lexemes.Keywords: antonym, lexeme using the affixation of “me-kan”, morpho-semantics, and Al-Munawwir Indonesian-Arabic dictionary.  Abstrak Sumber data dalam penelitian ini diambil dari kamus Al Munawwir versi Indonesia-Arab. Pembahasan antonim di dalam kamus tersebut masih terasa luas, belum mengerucut. Oleh sebab itulah peneliti akan memfokuskan pembahasan antonim hanya pada leksem yang mendapat imbuhan “me-kan”. Selanjutnya leksem “me-kan” di dalam bahasa Indonesia ternyata memiliki padanan wazan(measure) di dalam bahasa Arab yang sangat dominan. Penelitian ini menggunakan model penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan metode distribusional dan teknik bagi unsur langsung dan teknik pemarkah. Dengan memanfaatkan metode tersebut, maka penelitian secara masif di dalam kamus tersebut akan menemukan pemakaian wazan untuk leksem berimbuhan me-kan dengan frekuensi lebih banyak dibandingkan dengan wazan lainnya. Sehingga imbuhan me-kan pada bahasa Indonesia dapat ditemukan padanannya pada wazan bahasa Arab. Beberapa data berupa leksem berimbuhan “me-kan” di dalam kamus al munawwir versi Indonesia-Arab diterjemahkan dengan menggunakan wazan faala. Imbuhan me-kan merupakan salah satu bentuk dari kata kerja transitif. Begitu pula wazan faala di dalam bahasa Arab digunakan untuk "tadiyyah" yang secara tidak langsung menyerupai dengan proses pembentukan kata kerja transitif di dalam bahasa Indonesia. Oleh sebab itulah wazan faala menjadi wazan yang paling dominan pada pemberian makna leksem berimbuhan me-kan yang berfungsi sebagai kata kerja transitif.Kata kunci: antonim, leksem yang menggunakan afiks me-kan, morfosemantik, kamus Al-Munawwir Indonesia- Arab.
FONOLOGI BAHASA ABUN DI KABUPATEN TAMBRAUW PROVINSI PAPUA BARAT Maturbongs, Antonius; Asmabuasappe, Asmabuasappe
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16, No 1 (2016): Volume 16, Nomor 1, April 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v16i1.3062

Abstract

AbstractAbun language is a kind of native language in Tambrauw Regency, West Papua Province. This language belongs to group of Non Austronesia language. This study is qualitative one and using descriptive method in order to get complete description of phonology of Abun language. There are three stages in this study. They are data supplying stage, data analysis, and presentation of data analysis result stage. The aim of this study is to describe Abun phonology, especially phonemes in Abun language as well its distribution and phonotactic. The result shows that Abun language has 26 phonemes which is divided into 16 consonant phonemes and 8 vowels phonemes. Furthermore, Abun language has eight diphtongs and fourteen consonant clusters.Keyword: Abun language, phonology, phonemes, diphtong, consonant clusters.  AbstrakBahasa Abun merupakan salah satu bahasa daerah yang ada di Kabupaten Tambrauw, Provinsi Papua Barat. Bahasa Abun termasuk dalam kelompok bahasa Non Austronesia. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif, dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran lengkap tentang fonologi bahasa Abun. Penelitian ini menggunakan tiga tahapan. Ketiga tahapan itu yakni tahap penyediaan data, tahap penganalisisan, dan tahap penyajian hasil analisis data. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan fonologi bahasa Abun, khususnya fonem-fonem bahasa Abun beserta distribusi dan fonotaktiknya. Hasil penelitian menunjukkan bahasa Abun memiliki 26 fonem yang terdiri atas 16 fonem konsonan dan delapan fonem vokal. Di samping itu, bahasa Abun juga memiliki delapan kelompok deret vokal dan 14 kelompok gugus konsonan. Kata kunci: bahasa Abun, fonologi, fonem, deret, vokal, gugus konsonan.
PENGARUH INPUT BAHASA ORANG TUA TERHADAP KOMPLEKSITAS BAHASA ANAK: STUDI KASUS PADA ANAK USIA 5 TAHUN MELALUI INTERACTIVE SHARED READING Sundari, Hanna
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16, No 1 (2016): Volume 16, Nomor 1, April 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v16i1.3067

Abstract

AbstrakOrang tua merupakan lingkungan sosial dan sumber bahasa pertama bagi anak di awal kehidupannya. Komunikasi antara orang tua dan anak dipercaya dapat memengaruhi perkembangan bahasa dan perilaku anak. Penelitian deskriptif kualitatif ini bertujuan untuk mendeskripsikan apa dan bagaimana input bahasa orang tua (parental language input) khususnya dorongan bahasa ibu dan kompleksitas bahasa yang diproduksi  anak melalui interactive shared reading. Informan dalam penelitian ini adalah 1 orang anak perempuan berusia 5 tahun dan ibunya. Ibu melakukan aktivitas membacakan cerita (story reading) dibantu dengan buku bergambar setelah itu anak diminta menceritakan ulang (retelling story). Melalui teknik rekam dan catat, pengambilan data dilakukan sebanyak 3 kali dan diamati berdasarkan 2 aktivitas tersebut.Setelah transkripsi dilakukan, data lalu dianalisis secara kualitatif. Temuan penelitian menunjukkan bahwa input bahasa ibu lebih banyak dalam bentuk pertanyaan dan pengisian yang mendorong anak untuk berfikir dan memproduksi bahasa. Bahasa anak juga didominasi oleh bentuk pertanyaan. Anak bertanya mengenai isi cerita maupun kata yang belum diketahuinya. Struktur kalimat anak kerap tidak beraturan dan terdapat beberapa bentukan kata yang belum dikuasai anak. Namun secara makna dapat dipahami. Hal ini menunjukkan anak sedang dalam proses pemerolahan bahasa.Kata kunci: input bahasa orang tua, kompleksitas bahasa anak, interactive shared readingAbstractParents are the first social environment and language source for children in early life. Parents-children interaction and communication influences how children acquire language and how they behave years later. This descriptive research aims at describing what and how parental language input particularly language prompting from mother affect children language development dan how children produce language through interactive shared reading. The informants were a 5-year-old child and her mother. They were videotaped while the mother was reading stories based on picture books; and then, the child was asked to retell the story. The activities were recorded 3 times during those two events run. After having transcripted in verbatim, the data showed that maternal language input mostly contains in questions and filling-ins to promote children thinking dan speech production. Moreover, child language is dominated by questions too. The questions are related to the story and unfamiliar vocabulary.  Sentence structures made by children are often disordered and the children contructs wrong word-forms. However, those utterances are understandle. This actually indicates that child is in the process of acquiring language. Keywords: parent language, the complexity of childrens language, interactive shared reading
WRITING GRAMMATICAL SENTENCES: VOICES OF INDONESIAN UNDERGRADUATES IN EFL CLASSROOMS Gai Mali, Yustinus Calvin
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16, No 1 (2016): Volume 16, Nomor 1, April 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v16i1.3058

Abstract

Abstract      This study aims to explore perspectives of Indonesian undergraduates on factors that conceivably help them to write grammatical English sentences. The participants of the study were 40 students in a Procedural Writing class and an Extensive Reading class, at English Language Education Study Program, Dunia University, Indonesia (ED-DU); academic year 2014/2015. The data were collected through students’ written responses and interview. More specifically, the students responded to a statement asking their perspectives towards the issue. In the interview process, the researcher asked 3 participants to provide further clarification of the responses they have written. The findings provide some evidence that friends’ feedback, sufficient time to practice, and lecturer’s feedback are the primary factors perceived by the students. Besides, the overall results of the study would seem to indicate that possessing grammatical competence, specifically in writing the grammatical sentences, needs conscious focus on grammatical aspects through explicit learning of grammar rules and sufficient time to practice the rules, which the study posits as conceivable ways to enhance the students’ grammatical accuracy. Eventually, the study proposes possible pedagogical ideas to help the students to minimize their grammatical errors, as an attempt to support their roles as a future professional English teacher and language user.      Keywords: grammar, grammatical sentence, explicit learning, practice AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menyelidiki pandangan dari mahasiswa calon sarjana di Indonesia tentang faktor yang dapat membantu mereka untuk menulis kalimat bahasa Inggris dengan tata bahasa yang benar. Peserta dalam kajian ini adalah 40 mahasiswa di salah satu kelas Procedural Writing dan Extensive Reading, pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Dunia Indonesia, tahun akademik 2014/2015. Data penelitian diambil dari respon tertulis mahasiswa dan wawancara. Secara lebih rinci, para mahasiswa merespon suatu pernyataan yang menggali pandangan mereka terkait dengan pokok persoalan tersebut. Dalam proses wawancara, peneliti meminta 3 peserta dalam kajian ini untuk menjelaskan lebih jauh tentang respon tertulis mereka. Hasil analisa data memberikan beberapa fakta bahwa umpan balik teman, waktu yang cukup untuk berlatih, dan umpan balik guru merupakan faktor utama yang disebutkan oleh para mahasiwa. Selain itu, keseluruhan hasil dari kaijan ini nampak mengindikasikan bahwa memiliki kompetensi ketatabahasaan, khususnya dalam menulis kalimat dengan tata bahasa yang benar, memerlukan fokus secara sadar pada aspek-aspek tata bahasa melalui pembelajaran eksplisit aturan ketatabahasaan dan waktu yang cukup untuk berlatih aturan tersebut. Pada akhirnya, kajian ini mengusulkan beberapa gagasan pedagogi yang mungkin dapat membantu para mahasiswa dalam mengurangi kesalahan tata bahasa mereka, sebagai suatu usaha untuk menunjang peran mereka sebagai guru bahasa Inggris dan pengguna bahasa yang profesional di masa yang akan datang.Kata kunci: tata bahasa, kalimat dengan tata bahasa yang benar, pembelajaran secara eksplisit, latihan
WHY IS THERE CODE SWITCHING IN EFL CLASSROOM? : A CASE STUDY IN A VOCATIONAL SCHOOL IN CIMAHI WEST-JAVA Fathimah, Diana Nur
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16, No 1 (2016): Volume 16, Nomor 1, April 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v16i1.3063

Abstract

AbstractCode switching is a common phenomenon that results from the bilingual quality of a language speaker. In the educational context, code switching is frequently found in an EFL classroom of which the teacher is a non-native speaker. It is considered as one of the strategies to facilitate students to learn English more effectively. However, a number of research studies investigating EFL classroom discourse found various reasons of the use of code switching, ranging from the familiarity of the context to the teacher’s language proficiency. The present research gears toward investigating code-switching practiced by an EFL teacher in Indonesia and the rationale behind that practice. Taking case study method, this qualitative study employs observation and semi-structured interview to gather the data. An English teacher in one vocational school in Indonesia was chosen to be the participant of the research. The research shows that, as a bilingual, the teacher practiced code-switching both in educational context and non-educational context, inter-sententially and intra-sententially. In the classroom context, inter-sentential code switching was practiced deliberately to serve as exposures for students. Meanwhile, intra-sentential code switching was oftentime not a deliberate action, but rather a force of habit of the English teacher as a bilingual.Keywords: Bilingualism, code-switching, EFL classroomAbstrakAlih kode merupakan fenomena umum yang dihasilkan dari kualitas bilingual dari penutur bahasa. Dalam konteks pendidikan, alih kode sering ditemukan di dalam kelas EFL dimana guru merupakan pembicara non-pribumi. Hal ini dianggap sebagai salah satu strategi untuk memfasilitasi siswa untuk belajar bahasa Inggris dengan lebih efektif. Namun, sejumlah penelitian yang menyelidiki EFL wacana kelas menemukan berbagai alasan dari penggunaan alih kode, mulai dari keakraban konteks untuk kemahiran berbahasa guru. Penelitian ini bertujuan mengkaji alih kode yang dilakukan oleh seorang guru EFL di Indonesia dan alasan di balik praktek itu. Metode yang digunakan yaitu studi kasus, studi kualitatif dengan menggunakan observasi dan wawancara semi-terstruktur untuk memperoleh data. Seorang guru bahasa Inggris di salah satu sekolah kejuruan di Indonesia dipilih menjadi responden penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, sebagai bilingual, guru berlatih alih kode baik dalam konteks pendidikan dan konteks non-pendidikan, antar-kalimat dan intra-kalimat. Dalam konteks kelas, alih kode antar-kalimat sengaja dipraktekkan untuk pengenalan awal bagi siswa. Sementara itu, kode intra-sentential sering kali dilakukan tidak disengaja, melainkan kebiasaan guru bahasa Inggris sebagai bilingual. Kata kunci: Bilingualism, alih kode, EFL kelas
Reviewer acknowledgements JPBS, Editor of
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16, No 1 (2016): Volume 16, Nomor 1, April 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v16i1.3068

Abstract

Reviewers ackowledgments for Vol. 16, No. 1, April 2016
KALIMAT PENGANDAIAN BAHASA JEPANG: KAJIAN SINTAKTIS DAN SEMANTIS Sutedi, Dedi; Widianti, Susi
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 16, No 1 (2016): Volume 16, Nomor 1, April 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v16i1.3059

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persamaan dan perbedaan bentuk-bentuk pengandaian dalam BJ dari segi sintaktis dan semantis yang dipusatkan pada anak kalimat (S1) dan induk kalimatnya (S2). Hasil analisa data diketahui bahwa keempat bentuk penganadaian BJ digunakan dalam variasi konstruksi yang sama, yaitu: (a) S1-KàS2-K; (b) S1-PàS2-K, (c) S1-KàS2-P, dan S1-PàS2-K. Persaman dan perbedaan lainnya adalah (1) V-TO dan V-BA digunakan untuk menyatakan pengandaian biasa; (2) V-TARA dan V-BA bisa diikuti oleh S2 yang menyatakan kejadian di masa lampau; (3) V-NARA dapat menyatakan bahwa S1 dan S2 terjadi secara bersamaan; (4) V-TARA, V-BA, dan V-TO menyatakan urutan kejadain S1 yang disusul oleh S2 (S1àS2); (5) V-TO menyatakan urutan S1àS2 tanpa ada jeda waktu atau perantara; (6) V-TARA dapat digunakan untuk menyatakan bahwa S1 benar-benar telah terwujud; (7) V-TO tidak bisa diikuti S2 yang menyatakan perintah, permohonan, ajakan, maksud, keinginan, larangan, dan saran; dan (8) semua bentuk tersebut bisa diikuti S2 yang menyatakan kemungkinan, dugaan, atau pendapat peribadi penutur.Kata kunci: kalimat pengandaian, bentuk V-BA, bentuk V-TO, bentuk V-TARA, bentuk V-NARA Abstract This study tried to describe the similarities and the differences of Japanese conditional patterns from the perspectives of syntax and semantics. The results reveal that the four Japanese conditional patterns are used in similar variations and constructions, namely (a) S1-KàS2-K; (b) S1-PàS2-K, (c) S1-KàS2-P, and S1-PàS2-K. Other equations and differences expose several facts. (1) The patterns of V-TO and V-BA are used to declare a general conditional. (2) The patterns of V-TARA and V-BA can be followed by an S2 that states events in the past. (3) The pattern of V-NARA can express S1 and S2 events that occur simultaneously. (4) The patterns of V-TARA, V-BA, and V-TO state the order of events of S1 and S2 (S1àS2). (5) The pattern of V-TO declares a sequence of activities S1àS2 without any lag time. (6) The pattern of V-TARA can be used to declare an S1 that has actually happened. (7) The pattern of V-TO cannot be followed by S2 that state imperatives, requests, invitations, intention, desire, prohibition, and advice. (8) all four conditionals can be followed by S2 that states the possibility, prediction, or personal opinion of speakers.Keywords: Conditional Sentence, V-BA form, V-TO form, V-TARA form, V-NARA form

Page 1 of 2 | Total Record : 12