cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
BAHASA DAN SASTRA
ISSN : 14120712     EISSN : 25278312     DOI : -
Core Subject : Education,
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA (Journal of Language and Literature Education) is published by Faculty of Language and Literature Education, Universitas Pendidikan Indonesia. It publishes research-based articles in the field of language, literature, and its teaching and learning. It is published twice a year, namely in April and October. The scopes of the topics include: 1) Foreign language learning, Indonesian language, vernacular language and Malay language learning; (2) Linguistics; (3) Applied Linguistics, and; (4) Literature.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue " Vol 15, No 1 (2015): Volume 15, Nomor 1, April 2015" : 12 Documents clear
GORDON RAMSAY’S POLITENESS STRATEGIES IN MASTERCHEF AND MASTERCHEF JUNIOR US Safa, Annisa Friska; Kurniawan, Eri
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 15, No 1 (2015): Volume 15, Nomor 1, April 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v15i1.797

Abstract

AbstractThis research aims to investigate the types of politeness strategies that are performed by Gordon Ramsay in judging the Masterchef US and Masterchef Junior US contestants’ dishes and to reveal whether Gordon Ramsay performs any different politeness strategies between the Master chef and Masterchef Junior contestants. The data spring from Gordon Ramsay utterances, taken from the elimination test of two episodes of Masterchef season 4 (episode 9 and 12) and the elimination test of two episodes of Masterchef Junior US season 1 (episode 2 and 6). The framework of Brown & Levinson’s (1987) politeness strategies is adopted. Findings reveal that Gordon Ramsay performed bald on-record strategy, positive politeness, and off record strategy. Furthermore, Ramsay performed diferent varieties of politeness strategies in Masterchef; and performed only positive politeness strategy in Masterchef Junior.Keywords: politeness strategies, masterchef, masterchef junior, Gordon RamsayAbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menyelidiki tipe strategi kesopanan yang dilakukan oleh Gordon Ramsay saat menilai masakan dari kontestan Masterchefdan Masterchef Junior US dan untuk mengungkapkan adakah perbedaan strategi kesopanan yang dilakukan Gordon Ramsay kepada kontestan Masterchef US dan Masterchef Junior US. Data penelitian ini berupa tuturan Gordon Ramsay yang diambil dari tes eliminasi dalam dua episode Masterchef US musim ke-4 (episode 9 dan 12), dan dua episode Masterchef Junior US musim pertama (episode 2 dan 6). Teori yang digunakan adalah teori strategi kesopanan milik Brown dan Levinson (1987). Hasil temuan menunjukkan bahwa Gordon Ramsay melakukan strategi kesopanan bald-on record, strategi kesopanan positif, danstrategi kesopanan off record. Lebih lanjut, Gordon Ramsay melakukan lebih banyak variasi strategi kesopanan di Masterchef, sebaliknya, Gordon Ramsay hanya melakukan strategi kesopanan positif di Masterchef Junior.Kata-kata kunci: Strategi Kesopanan, Masterchef, Masterchef Junior,                    GordonRamsay
PEMBELAJARAN PELAFALAN BAHASA PERANCIS MELALUI MODEL ARTIKULATORIS PENGEMBANGAN (MAP) BERBASIS MULTIMEDIA INTERAKTIF Rakhmat, Soeprapto; Mutiarsih, Yuliarti; Darmawangsa, Dante
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 15, No 1 (2015): Volume 15, Nomor 1, April 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v15i1.802

Abstract

AbstrakPenelitian ini merupakan kajian untuk merancang dan mengembangkan model pembelajaran pelafalan bahasa Perancis, yaitu model artikulatoris pengembangan (MAP) berbasis teknologi multimedia CD-ROM Interaktif. Kajian ini dilakukan untuk melakukan penyempurnaan dan inovasi berupa pengintegrasian teknologi multimedia dan MAP dalam pembelajaran pelafalan bahasa Perancis. Penelitian ini mengkaji (1) perancangan dan pengembangan model pembelajaran Artikulatoris Pengembangan yang berbasis multimedia CD-ROM dalam pembelajaran pelafalan bahasa Perancis; (2) pemerolehan data empirik mengenai efektivitas penerapan model tersebut dalam pembelajaran pelafalan bahasa Perancis, (3) kendala yang dihadapi oleh para pembelajar selama proses pembelajaran. Metode penelitian yang digunakan adalah Research & Development. Adapun langkah-langkah yang peneliti tempuh dalam melaksanakan penelitian ini terdiri dari tiga tahap, yaitu (1) Studi Pendahuluan, (2) Perencanaan dan Pengembangan Model, dan (3) Validasi Model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa MAP berbasis multimedia CD-ROM terbukti efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran pelafalan bahasa Perancis. Hasil penelitian menunjukkan pula terdapat 2 (dua) jenis  kesalahan pelafalan mahasiswa, yaitu secara fonologis dan secara artikulatoris. Kedua kesalahan tersebut diakibatkan oleh kesulitan mahasiswa dalam melafalkan [µ], [ø], [õ] [ã],[e],[ò],[v], dan [z]. Kesulitan secara fonologis dipengaruhi oleh penguasaan bahasa sebelumnya, sementara kesalahan secara artikulatoris mahasiswa tidak memfungsikan alat ucap secara tepat dan optimal.Kata-kata kunci:  Model pembelajaran pelafalan, bahasa Perancis, MAP Abstract This research is aimed to design and develop a teaching model of French pronunciation, namely the model of interactiveCD-ROMmultimedia-based articulatory development. The study was undertaken to make improvements and innovations, such as the integration of multimedia technology and the articulatory model in teaching French pronunciation. This study presents data concerning (1) the design and development of the model; (2) the empirical data on the effectiveness of the application of the model in teaching French pronunciation, (3) the constraints faced by the learner during the learning process. The method used was Research & Development, which consisted of three phases, namely: (1) preliminary study, (2) planning and development of the model and (3) validation of the model. Results show that the model in question proved to be effective in improving the quality of learning French pronunciation. In addition, results show there were two types of student pronunciation errors, phonological and articulatory. Both are caused by the difficulty in pronouncing [µ], [ø], [õ] [ã],[e],[ò],[v], and [z]. Phonological difficulties are influenced by first language interference, while articulatory difficulties are caused by students not using their articulatory tracts properly and optimally.  Keywords: Pronunciation teaching model, French, articulatory model of development
PENDEKATAN LINGUISTIK SINKRONIS DAN DIAKRONIS PADA BEBERAPA DIALEK MELAYU: PEMIKIRAN KRITIS ATAS SEJARAH BAHASA MELAYU Sukesti, Restu
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 15, No 1 (2015): Volume 15, Nomor 1, April 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v15i1.798

Abstract

AbstrakPerdebatan tentang asal usul bahasa Indonesia masih terus berlangsung. Untuk membuktikan pendapat mana yang paling tepat, haruslah dibuktikan secara ilmiah akademik. Untuk menjawab masalah itu, tulisan ini berupaya untuk menganalisis asal bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia secara linguistik. Caranya ialah membandingkan bahasa Indonesia dengan dialek Malayu Menado dan Melayu Ambon, yang dianalisis secara sinkronis dan diakronis. Dalam penganalisisan itu digunakan metode distribusional dengan membandingkan bahasa Indonesia dengan dialek Melayu Menado dan dialek Melayu Ambon. Hal yang diperbandingkan dalam domain sinkronis ialah aspek fonologis, morfologis, dan sintaktis; dalam domain diakronis ialah aspek linguistik dan aspek ekstralinguistik. Hasil yang diperoleh ialah bahasa Melayu yang menjadi cikal bakal bahasa Indonesia bukan merupakan dialek Melayu. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkuat jati diri bahasa Indonesia, baik dari segi linguistik maupun politik.Kata-kata kunci : sinkronis, diakronis, dialek, pijin, kreol AbstractThe debate about the origin of Indonesian is still ongoing. To prove the most appropriate statement, the statement must be tested academic scientifically. To answer that problem, this paper seeks to analyze the origin of the Malay language that becomes the forerunner Indonesian language linguistically. The analysis is carried out by comparing Indonesian language with Manado Malay dialect and Malay Ambon, which is analyzed synchronically and diachronically. In analyzing that problem, the distributional method is used to compare the Indonesian with Manado Malay dialect and Ambonese Malay dialect. The comparability in synchronous domain is phonological, morphological, and syntactic aspects; in diachronic domain linguistic and extra-linguistic aspects are compared. The results obtained is Malay language becomes the forerunner of Indonesian and it is not a Malay dialect. Thus, the results of this study are expected to strengthen Indonesian language identity, both in terms of linguistic and political aspect.Keywords: Synchronic, diachronic, dialect, pidgin, creole
VERBA TRILITERAL BAHASA ARAB: TINJAUAN DARI PREPEKTIF MORFOLOGI DERIVASI DAN INFLEKSI Ridwan, Muhammad; Hidayati, Triyanti Nurul
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 15, No 1 (2015): Volume 15, Nomor 1, April 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v15i1.803

Abstract

                      AbstractAs aglutination language arabic verb is polymorphemic word. Among the Arabic verbs are verbs called basic triliteral verbs. In addition to the root morpheme, three are other morphemes contained in the basic triliteral verbs. This study is to reveal the number and shape of morphemes contained basic triliteral verb. Methode of data collection to gather basic triliteral verb conjugation and listening means. The analys method used is distributional method that realized with the technique opposition, the immediate constituen. The conclution of this research the basic triliteral verbs commpossed by the root morpheme, transffix, affixperson, number, and gender.Keywords: Aglutination, basic triliteral verbs, morpheme, affix.    AbstrakSebagai bahasa bertipe aglutinatif, verba dalam bahasa Arab memiliki bentuk-bentuk inflektif dan derivatif karena verba bahasa Arab merupakan kata polimorfermik. Di antara verba-verba bahasa Arab terdapat verba yang disebut verba dasar triliteral. Selain morfem akar, terdapat morfem-morfem lain yang terdapat pada verba dasar triliteral. Makalah ini mengungkap paradigma persona, jumlah, dan gender pada verba dasar trilateral. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menyimak konjugasi verba dasar triliteral. Metode analisis yang digunakan adalah metode agih dengan teknik bagi unsur langsung dan oposisi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah verba dasar triliteral tersusun atas morfem akar, transfiks, dan afiks persona, jumlah dan jenis.Kata-kata kunci: Aglutinatif, verba dasar triliteral, morfem, afiks.
MOTIVATIONAL FACTORS IN THE INDONESIAN EFL WRITING CLASSROOM Gai mali, Yustinus Calvin
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 15, No 1 (2015): Volume 15, Nomor 1, April 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v15i1.794

Abstract

Abstrak Meskipun motivasi dianggap penting sebagai salah satu faktor utama penentu pencapaian belajar siswa, pokok persoalan berkaitan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi siswa dalam mempelajari mata kuliah tertentu, khususnya menulis Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing yang berkaitan dengan para mahasiswa Indonesia, belum dikaji secara mendalam. Kajian dalam makalah ini bertujuan untuk meneliti faktor motivasi yang dirasakan oleh para mahasiswa Indonesia di kelas menulis Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing mereka. Peserta dalam kajian ini adalah 19 mahasiswa semester pertama di kelas Creative Writing F di Program Studi Pendidikan Guru Bahasa Inggris, Universitas Kristen Satya Wacana, tahun ajaran 2014/2015. Data penelitian diambil dari jurnal reflektif dimana para peserta menuliskan refleksi mereka berkaitan dengan pokok persoalan tersebut. Analisa data nampak membuktikan bahwa kinerja positif seorang guru, teman sekelas yang inspiratif, orang tua yang memotivasi, dan suasana kelas yang positif merupakan faktor utama yang mempengaruhi motivasi belajar para mahasiswa di dalam kelas mereka. Pada akhirnya, kajian ini nampak mengindikasikan pentingnya kolaborasi konstruktif antara guru, mahasiswa, dan orang tua sebagai faktor utama penentu motivasi belajar dan pencapaian akademis para siswa di dalam kelas menulis mereka.Kata-kata kunci: motivasi, faktor motivasi, menulis Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing, kelas Creative Writing AbstractDespite the essence of motivation as one of primary determinants for students’ learning achievement, issues of factors influencing students’ motivation in learning a particular subject, particularly English as a Foreign Language (EFL) writing with regard to Indonesian university students, have not been discussed sufficiently. The study reported in this paper aims to explore motivational factors perceived by Indonesian university students in their EFL writing classroom. The participants of the study were 19 freshmen at Creative Writing Class F within the English Language Education Study Program, Faculty of Language and Literature, Satya Wacana Christian University (ED-SWCU), academic year 2014/2015. Data was collected through reflective journals in which the participants wrote their reflections dealing with the issues. The data analysis appeared to prove that positive teacher’s performance, inspiring classmates, motivational parents, and positive classroom atmosphere were primary factors influencing the students’ learning motivation in their classroom. Finally, the present study would seem to indicate the importance of constructive collaboration among teachers, students, and parents in determining the students’ learning motivation and academic achievement in their EFL writing classroom.Keywords: motivation, motivational factors, EFL writing, Creative Writing class
FORMULASI GAYA BAHASA INGKARI DALAM ALQURAN Zaenuddin, Mamat; Hamdani, Wagino Hamid
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 15, No 1 (2015): Volume 15, Nomor 1, April 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v15i1.799

Abstract

AbstrakArtikel penelitian ini merupakan ringkasan hasil penelitian kelompok yang bertujuan mendeskripsikan formulasi gaya bahasa ingkari dilihat dari uslub nahwi-bahalaghi. Sumber datanya diambil melalui dokumentasi mushaf Alquran yang diterbitkan oleh Departemen Kementrian Agama RI tahun 1990 bekerja sama dengan Departemen Agama Islam, Urusan Wakaf dan Dakwah Kerajaan Arab Saudi. Objek penelitiannya terfokus pada seperangkat formulasi gaya bahasa ingkari yang dituturkan oleh orang-orang kafir musyrik. Adapun datanya dihimpun melalui dokumentasi dan format pencatatan. Kemudian data tersebut dianalisis secara kualitatif nahwiyah-balaghiyah dan kuantitatif yang mencakup frekuensi, presentase, rerata, dan rentang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari uslub nahwi, gaya bahasa ingkari menggunakan uslub nahwi yang terdiri atas syarat, qasam, dan tahdid, sedangkan dari uslub balaghi, uslub ingkari menggunakan qashar, amr, nahy, dan istifham. Uslub ingkari itu muncul karena faktor kepribadian yang mencakup sikap, keyakinan syirik, pendakwan diri sebagai putra dan kesasih Allah, bersumpuh tidak syirik, anggapan bahwa Uzair dan Isa adalah putra Allah; anggapan bahwa Alquran adalah dongengan orang-orang terdahulu; anggapan bahqa da’i adalah lemah akal, tukang sihir, pendusta, gila, pencegah peribadatan mereka, larangan mendengar Alquran; anggapan bahwa orang mukmin adlah sesat dan mengada-ada; dan anggapan bahwa sanggup menanggung dosa orang-orang mukmin. Kata-kata kunci: Uslub ingkari, uslub nahwi-balaghiAbstractThis research article is a summary of the results of the group research that aims to describe the formulation of  the denied style seen from uslub nahwi-bahalaghi. Sources of data were taken through the Quran Manuscripts documentation published  by the Department of the Ministry of Religious Affairs in 1990 in collaboration with the Department of Islamic, Endowments and Propagation Affairs Kingdom of Saudi Arabia. The object of research is focused on the formulation of a set of spoken language style denied by the infidels and idolaters. The data were collected through documentation and recording format. Then the data is analyzed qualitatively through jawanib nahwiyah-balaghiyah and quantitatively through frequency, percentage, mean, and range. The results showed that of uslub nahwi, denied style is using uslub nahwi consisting of terms: qasam, and tahdid, while from uslub balaghi, denied uslub is using qashar, amr, nahy, and istifham. Denied sslub arised because of personality factors including attitudes, syirk beliefs,  accuseing themselves as Gods sons and beloved, swearing not shirk, assumption of that Ezra and Jesus were  the son of God; assumption of that the Quran is the tales of the past; asssumption of that   preacher is weak reasonable, sorcerer, liar, lunatic, preventor  of their worship, prohibition of hearing  the Quran; assuming that the believer is someone misguided and ridiculous; and assumptions of that they could bear the sins of the believers.Keywords: Denied Uslub, uslub nahwi-balaghi
STUDENTS’ PERCEPTION ON THE USE OF AUTHENTIC MATERIALS IN SENIOR HIGH SCHOOL Firmansyah, Eka
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 15, No 1 (2015): Volume 15, Nomor 1, April 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v15i1.804

Abstract

AbstractThis study aims to find out the senior high school students’ perception on the use of materials (authentic and non-authentic) in the classroom. To select the representative sample, a sampling method was used. This research observes the perceptions of 10 first-grade students of a Senior High School on the use of authentic and non-authentic materials. They were taught using both materials, authentic and non-authentic. After that, to collect the data, they were asked to fill in the questionnaire (Likert Scale) which showed the students’ perception toward both materials, authentic and non-authentic. Then, the data were analyzed based on two different categories proposed by Peacock (1997) which covered: (1) overall class interest and enthusiasm and (2) self-reported interest & enthusiasm. The result of the study indicated that authentic and non-authentic materials had their own benefit. The students indicated that the authentic materials slightly higher than the non-authentic ones.Keywords: EFL Methodology, english subject, materials (authentic and non-authentic).   AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menemukan persepsi para siswa terhadap penggunaan materi dalam pelajaran Bahasa Inggris (otentik dan non-otentik). Metode sampel digunakan untuk memilih sampel yang benar-benar mewakili keseluruhan populasi. Penelitian ini berupaya mengobservasi persepsi dari sepuluh siswa/siswi kelas X di sekolah menengah atas terhadap penggunaan materi pelajaran Bahasa Inggris yang berbentuk otentik dan non-otentik. Pada tahap proses pengumpulan data, para siswa/siswi mengisi angket (menggunakan skala Likert) yang menunjukkan persepsi mereka terhadap penggunaan bahan materi pelajaran Bahasa Inggris yang otentik dan non-otentik. Selanjutnya, data yang terkumpul dianalisis berdasarkan dua kategori dari Peacock (1997), yaitu: (1) antusiasme dan minat keseluruhan kelas. (2) antusiasme dan minat diri sendiri. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa masing-masing bentuk materi, baik otentik maupun nonotentik memberikan manfaat bagi siswa. Para siswa memberikan persepsi positif lebih tinggi terhadap penggunaan materi otentik dibandingkan dengan non-otentik.Kata-kata kunci:    Metodologi pengajaran bahasa Inggris,  materi otentik dan non-otentik
VERBA BERENDONIM INDRA PENGLIHATAN DALAM BAHASA INDONESIA : KAJIAN LINGUISTIK KOGNITIF DAN SEMANTIK LEKSIKAL Idris, Nuny Sulistiany
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 15, No 1 (2015): Volume 15, Nomor 1, April 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v15i1.795

Abstract

AbstrakIndra penglihatan merupakan salah satu organ tubuh yang penting untuk manusia sehingga dihasilkan berbagai varian verba berendonim indra penglihatan, akan tetapi penelitian tentang hal ini sangat terbatas. Melalui penelitian ini yang menggunakan teori linguistik kognitif dan semantik leksikal diperoleh bahwa (1) verba berendonim indra penglihatan yang paling banyak digunakan adalah verba yang berhubungan dengan aktivitas sehari-hari yang paling sering dilakukan dan semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin banyak digunakan varian verba berendonim indra penglihatan, sebaliknya semakin rendah pendidikan seseorang semakin sedikit varian verba yang digunakannya; (2) skema representasi verba berendonim indra penglihatan mengambarkan hubungan antara makna verba ini dengan pemaparannya pada kamus dan penggunaannya pada kehidupan sehari-hari; dan (3) kognisi menentukan ranah penggunaan verba berendonim indra penglihatan dengan cara menghubungkan ruang mental dengan pengalaman indrawi penuturnya.Kata-kata kunci: Endonim, skema representasi, kognisi, ranah AbstractThe sense of sight is one of the vital organs for humans to produce many variants of verbs sight endonym;however, research on this area is very limited. Using the theory of cognitive linguistics and lexical semantics, this study reveals that the most widely usedverbsof sight endonym are the ones associated with most frequently performed daily activities; the higher the education, the more variants of the verbsused, and vice versa.It also indicatesthe schematic representation of the verbs of sight endonym reflects the relationship between the meaningsand descriptions of the verbsin a dictionary and their use in everyday life; and the domain of cognition determines use of the verbs by linking mental space with the sensory experience of the speaker.Keywords: endonym, representation scheme, cognition, domain
METODE AUDIOLINGUAL DALAM PEMBELAJARAN BAHASA ARAB UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA Maspalah, Maspalah
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 15, No 1 (2015): Volume 15, Nomor 1, April 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v15i1.800

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan metode audiolingual dalam pembelajaran bahasa Arab terhadap peningkatan kemampuan berbicara siswa. Metode yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan subjek penelitian siswa Kelas XI MIA-2 SMAN 1 Cicurug Kabupaten Sukabumi Tahun 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan metode audiolingual dalam pembelajaran bahasa Arab dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa. Kualitas proses dapat dilihat dari peningkatan keterlibatan siswa dalam pembelajaran, sedangkan kualitas hasil terlihat dari peningkatan nilai hasil belajar yang menunjukkan kemampuan berbicara siswa pada Siklus I sebesar 80,96 dan Siklus II sebesar 83,59. Adapun persentase keterlibatan siswa dalam belajar pada Siklus 1 sebesar 86,8% dan pada Siklus 2 sebesar 92,1%.Kata-kata kunci: Metode audiolingual, pembelajaran bahasa Arab, kemampuan berbicaraAbstractThis study aims to determine the effect of the use of methods audiolingual in Arabic learning to increase their speaking ability. The method used is a Class Action Research conducted in two cycles with a Class XI Science 2 SMAN 1 Cicurug Sukabumi 2014. The results showed that the use of methods audiolingual in Arabic learning can improve the quality of student learning processes and outcomes. The quality of the process can be seen from the increase in student engagement in learning, while the quality of the results, the increase in the value of learning outcomes that demonstrate the ability to speak the students in the first cycle was 80.96 and 83.59 for Cycle II. The percentage of student engagement in learning in Cycle 1 at 86.8% and in Cycle 2 of 92.1%.Keywords: Audio lingual methods, learning Arabic, speaking ability
REVITALISASI NASKAH SYAIR: SEBUAH SOLUSI DALAM PENGEMBANGAN KREATIVITAS MAHASISWA UNTUK MENCINTAI BUDAYA LOKAL Andriani, Tuti
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 15, No 1 (2015): Volume 15, Nomor 1, April 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v15i1.796

Abstract

Abstract Cultures were grown in campus tend to imitate the western culture, so that the local culture is ruled out. The local culture is considered ancient culture, so it does not show up in the form of creativity. Though Indonesia is rich with culture can be preserved in the campus. One of them is a manuscript poem, which is one form of the local culture of our nation. The text of the poem can be in the form of creative songs, drama, dance and others. One solution is to develop student creativity with the revitalization (revive) the text of the poem and developed through programs of student organizations in the field of arts and culture. So it is the first step to develop a sense of love of local culture.Keywords: manuscript poem, student activity, local culture AbstrakBudaya yang tumbuh di kampus cenderung meniru budaya barat, sehingga budaya lokal dikesampingkan. Budaya lokal dianggap budaya kuno, sehingga tidak muncul dalam bentuk kreativitas. Padahal Indonesia kaya dengan budaya dapat dipertahankan dalam kampus. Salah satunya adalah puisi naskah, yang merupakan salah satu bentuk budaya lokal bangsa kita.Teks puisi bias dalam bentuk yang kreatiflagu, drama, tari dan lain-lain. Salah satu solusinya adalah dengan mengembangkan kreativitas siswa dengan revitalisasi teks puisi dan dikembangkan melalui program organisasi mahasiswa di bidangsenidanbudaya. Jadi langkah pertama untuk mengembangkan rasa cinta budaya lokal.Kata-kata kunci: naskah syair, kreativitas mahasiswa, budaya lokal

Page 1 of 2 | Total Record : 12