cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
BAHASA DAN SASTRA
ISSN : 14120712     EISSN : 25278312     DOI : -
Core Subject : Education,
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA (Journal of Language and Literature Education) is published by Faculty of Language and Literature Education, Universitas Pendidikan Indonesia. It publishes research-based articles in the field of language, literature, and its teaching and learning. It is published twice a year, namely in April and October. The scopes of the topics include: 1) Foreign language learning, Indonesian language, vernacular language and Malay language learning; (2) Linguistics; (3) Applied Linguistics, and; (4) Literature.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 12, No 2 (2012): Volume 12, Nomor 2, Oktober 2012" : 11 Documents clear
ADVERBIA STATIF DALAM BAHASA SUNDA: KAJIAN STRUKTUR DAN SEMANTIK Sudaryat, Yayat
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2 (2012): Volume 12, Nomor 2, Oktober 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i2.3705

Abstract

Abstrak Adverbia Statif dalam Bahasa Sunda: Kajian Struktur dan Semantik. Kajian ini bertujuan mendeskripsikan adverbia statif dalam bahasa Sunda yang dikaji dari segi struktur dan semantik. Deskripsinya mencakup batasan dan karakteristik, fungsi, keterikatan, jumlah unsur, distribusi, makna, dan bentuknya. Dalam kajian ini digunakan metode deskriptif. Sumber data kajian ini berupa ragam bahasa Sunda lisan dan tulis. Untuk mengumpulkan data digunakan teknik teks, instuisi atau intropeksi, dan teknik elisitasi. Untuk mengolah data digunakan metode distribusional dengan analisis unsur langsung sebagai teknik dasar, yang diikuti teknik permutasi, subsitusi, ekspansi, dan teknik interupsi sebagai teknik lanjutan. Kajian ini menyimpulkan bahwa (a) adverbia statif merupakan adverbia yang secara khusus dan kolokatif menerangkan adjektiva; (b) adverbia statif berfungsi sebagai pewatas belakang adjektiva; (c) adverbia statif dengan adjektiva memiliki keterikatan yang sangat erat dan berkolokatif; (d) jumlah unsur adverbia statif dan adjektiva bersifat saling melengkapi; (e) posisi adverbia statif selalu di belakang adjektiva; (f) adverbia statif memiliki makna inhern ‘sifat kesangatan (kualitas elatif )’ yang dapat di dahului kata mani ‘sangat’; dan (g) adverbia statif pada umumnya berbentuk kata tunggal (71,42%).Kata kunci: adverbia statif, adjektiva, struktur, semantik, pewatas  Abstract The Study of Structure and Semantics of Stative Adverbs in Sundanese Language. This study aims to describe stative adverbs in Sundanese language studied in terms of structure and semantics. Descriptions include definition and characteristic, function, relationship, number of elements, distribution, meaning, and form. This study used a descriptive method. Data source for this study were in the forms of spoken and written language varieties. Tecniques used to collect data are text, intuition or introspection, and elicitation tecniques. To process the data, the study used distributional methods with direct factorial analysis as the basic tecnique, followed by permutation, substitution, expansion, and technical interruptions tecnique, follow-up techniques. The study concludes that (a) stative adverbs are adverb that explain adjectives speciically and collocatively; (b) stative adverbs serves as adjective limiters; (c) stative adverbs with adjectives are bound very tightly and collocated; (d) the number of elements stative adverbs and adjectives are complementary; (e) the position of stative adverbs ia always in the back of the adjectives; (f) stative adverbs have an inherent meaning of ‘excessive nature (elative quality) ‘which may be preceded by the word mani ‘very’, and (g) stative adverbs are generally inthe form of a single word (71,42%)Keywords: stative adverbs, adjective, structure, semantics, limiter
ANALISIS KONTRASTIF KOTOWARI HYOUGEN ANTARA PEMBELAJAR BAHASA JEPANG DAN PENUTUR ASLI Hayati, Novia
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2 (2012): Volume 12, Nomor 2, Oktober 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i2.3701

Abstract

 Abstrak Analisis Kontrastif Kotowari Hyougen  antara Pembelajar Bahasa Jepang dan Penutur Asli. Di antara beberapa aktifitas berbahasa, tindakan menolak sering dianggap sebagai tindakan yang cukup sulit karena memberikan perasaan tidak menyenangkan terhadap lawan tutur. Tindak tutur menolak tidak terlepas dari latar belakang tindak tutur berbahasa oleh pengguna bahasa tersebut. Pembelajar yang berbahasa ibu bahasa Sunda memiliki kemiripan dengan penutur asli dalam membuat tindak tutur penolakan dikarenakan adanya kedekatan aturan undak usuk bahasa sunda dengan tainguu hyougen dalam bahasa Jepang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ungkapan penolakan yang digunakan oleh pembelajar bahasa Jepang kemudian melalui perbandingan dengan penutur asli diketahui persamaan dan perbedaanya serta permasalahan dalam ungkapan penolakan oleh pembelajar. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Discourse Completion Test (DCT). Hasil analisis data menunjukan terdapat persamaan diantara pembelajar dan penutur asli dalam pengguna {wabi} terhadap dosen akrab (penggunanya lebih rendah). Sebagai permasalahan dalam ungkapan penolakan yakni pembelajar menggunakan {fuka} dalam bentuk futsuu no hiteikei, dan {koshou} dalam frekuensi yang cukup tinggi. Sebaliknya, penutur asli menggunakan fukanoukei, dikarenakan apabila menggunakan futsuu no hiteikei akan diterima sebagai arti penolakan yang kuat/keras.Kata kunci: Kotowari hyougen, DCT, Taiguu hyougen, penutur asli, konstraktif  Abstract Contrastive Analysis of Kotowari Hyougen between Learners of Japanese Language and Japanese Native Speakers. Among several speaking activities, action of refusal is often considered a difficult act as it gives an unpleasant feeling againts interlocutors. Refusal speech act cannot be separated from the background of the speech act by the user of the language. Learners whose mother tongue is Sundanese language has similarities with Japanese native speakers in making the speech act of refusal due to the proximity of the undak usuk in Sundanese with tainguu hyougen in Japanese. This study aims to determine the expressions of refusal used by Japanese learners then, through comparison with native speakers, to determine the similarities, differences and problems in the expression of rejection by the learners. The instrument used in this study is Discourse Completion Test (DCT). Form the analysis of the data it was found that there were similarities between learners and native speakers that {riyuu/iiwake}, {wabi}, {fuka} were used as the main semantic formula. There are similarities between learners whose mother tongue is Sundanese and native speakers in using language {wabi} to professors considered familiar (lower usage). The problem of expressions of refusal used by learners {fuka} in the form Futsuu fuka no hiteikei and {koshou} was in a fairly high frequency. In contrast, native speakers use fukanoukei, because using Futsuu no hiteikei will be considered as a strong/hard sense of refusal.Keywords: Kotowari hyougen, DCT, Tainguu hyougen
TRANSFORMASI FOLKLOR LISAN NINI ANTEH KE NOVEL DONGENG NINI ANTEH KARYA A.S. KESUMA Harini, Yostiani Noor Asmi
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2 (2012): Volume 12, Nomor 2, Oktober 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i2.3706

Abstract

      Abstrak            Transformasi Folklor Lisan Nini Anteh ke Novel Dongeng Nini Anteh Karya A.S. Kesuma. Cerita Nini Anteh merupakan folklor lisan masyarakat Sunda. Folklor lisan dan novel cerita Nini Anteh ini dijadian sumber data penelitian dalam penelitian ini. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori tentang transformasi yang dikemukakan oleh Riffaterre. Berdasarkan hasil penelusuran struktur kedua karya tersebut ditemukan adanya ekspansi, konversi, modifikasi pada tataran alur dan pengaluran, karakter, dan latar. Dalam kedua karya terdapat irisan berupa penggambaran Nini Anteh yang pekerjaanya berkaitan dengan produksi tekstil, tidak dapat mengandung dan melahirkan anak. Pergi kebulan karena suatu hal, dan ditemani Candramawat (kucing yang memiliki tiga warna bulu: putih, kuning, dan hitam). Irisan terjadi karena ada hal-hal yang ingin dipertahankan oleh penulis novel. Yaitu bahwa masyarakat Sunda yang memiliki religiusitas “ibu” memandang sosok Nini Anteh sebagai sosok yang tidak bisa “memberi” kehidupan. Oleh sebab itu, Nini Anteh ditempatkan di bulan, tepat terpisah dari masyarakat bumi.           Kata kunci: transformasi, folklor lisan, novel, dongeng Nini Anteh  Abstract            The Transformation From Oral Folklore Of Nini Anteh To The Novel Of Nini Anteh Tale By A.S. Kesuma. The paper is entitled “The Transformation from Oral Folklore of Nini Anteh to the Novel of Nini Anteh Tale by A.S Kesuma “. The data in this study are in the form of an oral folklore and a novel. The theory used in this research is the transformation theory proposed by Riffaterre. Based on the results of exploration of the structure of the two works, it was found that there are some expansions, conversions, modifications at the level of plot and plotting, character, and background. In both works, there are intersections between them in the form of the depictions of Nini Anteh whose work related to the production of textiles, who was unable to conceive and bear childern, who went to the moon for a reason, and was accompained by Candramawat (a three-colored fur cat: white, yellow, and black). The intersections occur because there are things to be maintained by the novelist: that the Sundanesse people who have religiosity of “mother” figure view Nini Anteh as someone who cannot “provide” life. Therefore, Nini Anteh is placed on the moon, a place apart from the earth.           Keywords: transformation, oral folklore, novel, tale of Nini Anteh
DEUTSCH ZUM SPASS: MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF BAHASA JERMAN Triyono, Sulis
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2 (2012): Volume 12, Nomor 2, Oktober 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i2.3696

Abstract

Abstrak Deutsch Zum Spass: Model Pembelajaran Inovatif Bahasa Jerman. Model pembelajaran Deutsch zum Spass merupakan alternatif model pembelajaran inovatif bahasa Jerman yang menyenangkan. Model pembelajaran ini meliputi pembelajaran aktif, kreatif, efektif, kolaboratif, partisipatif, dan menyenangkan. Dalam pembelajaranya, model ini mengintegrasikan semua kompetensi kebahasaan yang meliputi Hoverstehen, Sprechfertigkeit, Leseverstehen, dan Schreibfertigketi kedalam satu kesatuan pembelajaran bahasa Jerman yang utuh. Model ini juga disebut contextual teaching and learning. Tujuan pembelajaran untuk mengetahui tindakan yang telah dilakukan seseorang pengajar dalam satu team teaching sehingga pengajar lainnya dapat melanjutkan materi pembelajaran secara urut dan berkesinambungan. Kolaborasi antarpengajar dapat dipantau melalui buku protokol. Hal ini digunakan untuk refleksi terhadap tindakan yang dilakukan seorang pengajar agar pengajar lainnya dapat menjaga terciptanya suasana pembelajaran yang menyenangkan. Refleksi juga digunakan untuk menentukan langkah pembelajaran berikutnya yang dilakukan oleh pengajar, agar bermanfaat dan dapat mengoptimalkan tercapainya keberhasilan pembelajaran. Materi ajar diunggah ke dalam media belajar yang telah disediakan oleh UNY dengan alamat http://besmart.uny.ac.id/ yang merupakan media e-learning. Deutsch zum Spass mampu menumbuhkan suasaa aktif, kreatif, dan partisipatif pada diri pembelajar, sehingga keefektifan proses belajar mengajar dapat optimal. Dengan demikian, tujuan pembelajaran bahasa Jerman dapat tercapai dengan maksimal. Untuk mengukur penguasaan kompetensi yang dimiliki oleh peserta didik pada keempat keterampilan bahasa Jerman tersebut, dapat dilakukan melalui tes kebahasaan secara online.Kata kunci: model pembelajaran Deutsch zum Spass, pembelajaran inovatif, e-learning Abstract Deutsch Zum Spass: Innovative Teaching Model for Teaching German. It is an alternative teaching model for teaching German which is fun. This teaching model is also an active, creative, effective, collaborative model. It integrates all the language skills, Hoverstehen, Sprechfertigkeit, Leseverstehen, and Schreibfertigketi, into one contextual teaching and learning process. The model aims to find out the actions done by a teacher in one teaching team to facilitate another member of the team to continue the material in a continous and well-structured order. Between-teacher collaboration is recorded through a protocol book, which records the fun class activities of one member to be continued and maintained by other members. The book also records the teachers’ reflective ideas and notes that can be used as points to consider. The teaching materials are provided and uploaded into http://besmart.uny.ac.id/ by UNY. Deutsch zum Spass as a teaching model is able to create active, creative, and participation encouraging atmosphere that allow students to achieve their learning goals. Students ‘language mastery is tested through online language test.Keywords: deutsch zum spass model teaching, e-learning, innovative teaching model.
TRADISI LISAN MALE-MALE: NYANYIAN KEMATIAN DALAM MASYARAKAT CIACIA: KAJIAN SOSIOLOGIS DAN UPAYA PEWARISAN Asrif, Asrif
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2 (2012): Volume 12, Nomor 2, Oktober 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i2.3702

Abstract

      Abstrak Tradisi Lisan Male-Male: Nyayian Kematian dalam Masyarakat Ciacia: Kajian Sosiologis dan upaya Pewarisan. Male-Male merupakan syair yang dinyanyikan sesaat setelah seorang warga yang dianggap sosok sempurna meninggal dunia. Tradisi lisan ini menggambarkan penghargaan masyarakat terhadap sosok sempurna melalui ungkapan kesedihan, kerinduan, ketabahan, dan puji-pujian. Pelaksanaan Male-Male memiliki sejumlah fungsi, baik fungsi pribadi (penutur dan tuan rumah) maupun fungsi bagi masyarakat (warga yang melayat). Bagi penutur dan tuan rumah, tradisi ini berfungsi untuk menghibur, kepedulian sesama, penyebaran nilai-nilai sosial dan agama, prestise, dan mewariskan tradisi. Bagi masyarakat, Male-Male berfungsi sebagai sarana mengingatkan diri akan kematian, memperkokoh keimanan, dan meningkatkan empati, serta solidaritas sesama. Diperlukan upaya pewarisan dalam menjaga keberlanjutan tradisi ini. Pewamisan formal yakni melalui sekolah, sedangkan pewarisan informal melalui penguatan lembaga adat.Kata kunci: Tradisi Lisan, Male-Male, Sosiologis, dan Pewarisan         Abstract Oral Tradition of Male-Male: Death Anthem Ciacia: Sosiological Studies and an Effort to Pass It On to the next Generation. Male-Male is lyrics sung upon the death of a member of the society who is considered a perfect person. This oral tradition shows the society appreciation towards the person through the expression of sadness, longing, partience and praises. Male-Male serves various functions; both private functions (the singer and host), and societal function (the guests). For th singer and the host, this tradition serves as consolation, caring towards other members, dissemination of social values and religion, prestige, and passing on a tradition. For the society, Male-Male functions as a self remainder of death, strengthening faith, increasing empathy and solidarity. Efforts to guarantee the continuity of this tradition by the next generation are required. Formal effortcan be made through schools, and the informal ones can be made through the strengthening of tradition bodies.Keywords: Oral tradition, Male-Male, Sociology, and Passing the tradition
THE SECONDARY SCHOOL ENGLISH LANGUAGE READING CURRICULUM: A TEACHER’S PERCEPTIONS Abdullah, Hazlina; Abdul Rahman, Nik Suryani; Mohd Adnan, Airil Haimi
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2 (2012): Volume 12, Nomor 2, Oktober 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i2.3707

Abstract

     Abstrak Kurikulum Membaca Pembelajaran Bahasa Inggris di Skolah Menengah: Sebuah Persepsi Guru. Permasalahan yang di hadapi dalam pembelajaran membaca pemahaman tidak hanya terjadi secara khusus pada siswa di Malaysia. Secara faktual banyak siswa di dunia yang mengalami kesulitan dalam memahami bacaan. Secara faktual, terdapat beberapa siswa yang memelukan strategi pembelajaran khusus yang konkret untuk membantu memahami bacaan. Pemikiran awal yang hendak di kedepankan dalam tulisan ini adalah dengan mendefinisikan kegiatan membaca, kemudian diikuti dengan sebuah kajian mendalam berkait dengan pembelajaran bahasa komunikatif (CLT) yang diadaptasi dari bentuk 5 kurikulum membaca bahasa Inggris di Malaysia. Bagi penulis, pembaca, dan teks, membaca merupakan bentuk aktual dari sebuah proses komunikasi yang menempatkan pembaca  memahami aturan-aturan secara aktif dalam sebuah proses membaca. Asumsi dasar dalam penelitian ini adalah pentingnya guru menerapkan aturan-aturan yang didasari pada tujuan belajar dalam meningkatkan kemampuan siswa membaca pemahaman. Hal ini merefleksi pentingnya kurikulum membaca yang akan diimplementasikan guru dalam pembelajaran membaca sebagai pijakan penyususnan ancangan kurikulum. Hal ini yang diharapkan kajian ini dapat memberikan manfaat termasuk dalam pengembangan kurikulum dan penyiapan ujian hanya untuk guru Malaysia tetapi juga di dunia sekitar.Kata kunci: kurikulum membaca bahasa Inggris, kemampuan membaca pemahaman AbstractThe Secondary School English Language Reading Curriculum: A teacher’s Perceptions. The problem of reading comprehension is not unique to only Malaysian graduates. In fact many students experience comprehension difficulties. This, some sudents need explicit comprehension strategy instruction. A rational starting point for this discussion is by defining what reading is. It is then followed by a brief review on Communicative Language Teaching (CLT) which is adopted in the Malaysian Form 5 English Language Reading Curriculum. Involving the writer, the reader and the text, reading is actually a communication process where a reader is seen to perform an active role in a reading process. Based on the many previous researches, it is obvious that the teacher’s role in aiding students’ reading comprehension skills is vital. This also reflects the importance of the reading curriculum, as teachers will impkement their reading instruction based on the outlined curriculum. It is hoped that this study may benefit those involved in the curriulum development and examination syndicate, to enhance the teaching and learning processes of reading in the second language, not only among teachers in Malaysia but also world-wide.Keywords: English language Reading Curriculum, reading comprehension skill
RELASI ANTARTEKS DALAM PENGKAJIAN SASTRA Sumiyadi, Sumiyadi
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2 (2012): Volume 12, Nomor 2, Oktober 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i2.3698

Abstract

Abstrak Relasi Antarteks dalam Pengkajian Sastra. Relasi antarteks terdapat dalam karya sastra yang di dalamnya membayangkan teks lain. Dalam mengkaji teks demikian, kita biasanya langsung mengkaitkannya dengan konsep intertekstual, padahal konsep tersebut berkaitan dengan teori pascastruktural sehingga dalam pengkajiannya, kita harus mengikuti prinsip-prinsip pascastrukturalisme. Relasi teks juga mensyaratkan kita untuk melakukan kajian bandingan, yang dalam kajian sastra dapat menggunakan konsep sastra bandingan. Kajian sastra bandingan tidak berkaitan dengan salah satu teori. Bahkan, teori apapum dapat dimanfaatkan untuk kepentingan sastra bandingan. Sehubungan dengan relasi teks dalam dunia sastra merupakan fenomena menarik, kemungkinan banyak pihak atau peneliti yang tertarik untuk mengkajinya. Oleh sebab itu, diperlukan landasan teori sastra yang kukuh dan relevan sehingga menghsilkan kajian sastra yang bermakna dengan kadar ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Penegasan ciri pembeda antara prinsip kajian sastra bandingan dan prinsip kajian intertekstual dalam tulisan ini merupakan upaya ke arah pengkajian sastra yang demikian.Kata kunci: teks, intertekstual, pascastruktural, sastra bandingan   Abstract Inter-textual Relation in Literary Studies. Inter-texts relation exista in literary works; one work shadows the other. In studying such texts we often immediately link them with the concept of intertextuality that belongs to post-structuralism. Texts relation also requires us to compare literary works using comparative literary study concepts. Comparative literary studies are not related with one specific theory. Any theory can be employed. Texts relation is an iteresting phenomenon that invites many to investigate. For this reason we need a grounded and relevant literary theory that will facilitate insightful and reliable literary studies. The difference between comparative literature principles and inter-textual studies principles are discussed in the article. Keywords: texts, intertextuality, post-structuralism, comparative literature.
VISI-VISI POSTMODERN DALAM KESUSASTRAAN JERMAN AWAL ABAD KE-20 Syafrudin, Dudy
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2 (2012): Volume 12, Nomor 2, Oktober 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i2.3703

Abstract

Abstrak Visi-Visi PostModern dalam Kesusastraan Jerman Awal Abad ke-20. Aliran pemikiran postmodern yang menyeruak di segala bidang kehidupan mulai dirasakan pada paruh kedua abad ke-20. Namun akar pemikiran tersebut sudah mulai tampak pada abad ke-19. Kritik terhadap pemikiran modern itu muncul dalam berbagai ekspresi masyarakat, seperti seni, arsitektur, dan sastra. Dalam kesusastraan Jerman pemikiran yang dapat dikategorikan sebagai visi postmodern dapat kita temukan dalam beberapa karya sastranya yang terbit pada awal abad ke-20. Tulisan ini membahas tentang visi-visi postmodern yang terdapat dalam novel Siddahartha karya Hermann Hesse yang ditulis pada tahun 1919. Pembahasan difokuskan kepada visi spiritualitas postmoden. Visi-visi spiritualitas tersebut muncul dalam gambaran tentang tokoh utamanya dan relasi antar tokoh serta latarnya. Spiritualitas yang bersifat internal, esensial, dan konstitutif serta spiritualitas yang bersifat organis hadir menjadi penawar permasalahan modernism pada masa karya tersebut ditulis.Kata kunci: Postmodern, Siddhartha, spiritualitas Abstract Postmodern Visions In German Literature In The Beginning Of 20th Century. The flow of postmodern thinking in all areas of life began to imerge in the second half of the 20th century However; the roots of these ideas already started to appear in the 19th century. Criticism towards modern thinking occured in various expressions of the society, such as art, architecture, and literature. In German literature, ideas that can be categorized as postmodern vision can be found in several literary works published in the early 20th century. This paper discusses the postmodern visions contained in the novel Siddhartha written by Hermann Hesse in 1919. The discussion in this paper focuses on the vision of postmodern spirituality. The spiritual visions appear in the description of the main character and intercharacter relationships, and background. Spirituality which is internal, essential, and constitutive, and spirituality that is organis comes to netralize the issue of modernism at the time the work was written.Keywords: postmodern, Siddhartha, spirituality
ANALISIS TOPIK DALAM WACANA DIALOG BAHASA JEPANG Wulandri, Hanum
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2 (2012): Volume 12, Nomor 2, Oktober 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i2.3699

Abstract

     Abstrak Analisis Topik dalam Wacana Dialog Bahasa Jepang. Dalam analisis wacana, terdapat istlah yang dinamakan topik. Topik dapat diidentifikasi pada saat dilakukan analisis wacana dalam rangka memahami konteks yang mendukung wacana tersebut. Dalam percakapan (dialog) sehari-hari, kadang-kadang muncul dua atau lebih topik diskusi yang berbeda sumber dari topik awal peecakapan atau disebut pergesean topik. Fenomena yang menjadi fokus perhatian penelitian ini adalah topik percakapan, struktur percakapan kelompok pedagang berdasarkan topik, dan budaya yang tergambar dalam seleksi topik dan variasi bahasa yang berbeda.Kata kunci: analisis percakapan, topik, perubahan topik, nilai budaya, kesempatan berbicara  Abstract Topic Analysis in Japaness Language Conversation Discourse. in the conversation analysis, there is a thing commonly called topic. Topic that can be identified when discourse analysis to understand the context of the discourse that supports it. In daily conversation, sometimes appear two or more of the topics discussed are of course different from the initial topic of conversation or also called shift the topic. The phenomenon that became the focus of this research is the topic of conversation, conversational structure in the form of markers associated with topicalitation and culture in the form of variety of a language and the selection of topics.Keywords: Conversation analysis, topic, topic exchange, cultural values and turn taking
KOHESI GRAMATIKAL PENGACUAN DALAM CERPEN PEMBELAAN BAH BELA KARYA MOH. WAN ANWAR Muhyidin, Asep
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2 (2012): Volume 12, Nomor 2, Oktober 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i2.3704

Abstract

Abstrak Kohesi Gramatikal Pengacuan dalam Cerpen Pembelaan Bah Bela karya Moh. Anwar. Dipandang sebagai proses komunikasi antara penyapa dan pesapa dalam peristiwa komonukasi secara lisan, sedangkan dalam komunikasi secara tertulis, wacana terlihat sebagai hasil dari pengungkapan ide/gagasan penyapa. Wacana yang padu adalah wacana yang apabila dilihat dari segi hubungan bentuk atau struktur lahir bersifat kohesif dan dilihat dari segihubungan makna atau struktur batinnya bersifat koheren. Wacana dikatakan utuh apabila kalimat-kalimat dalam wacana itu mendukung satu topik yang sedang dibicarakan, sedangkan wacana dikatakan padu apabila kalimatkalimatnya disusun secara teratur dan sistematis, sehingga menunjukan keruntutan ide yang diungkapkan melalui penada kekohesian. Cerpen dipilih sebagai objek kajian dikarenakan bentuk cerpen ringkas namun tetap menuntut tingkat kohesi dan koherensi yang tinggi agar tetap berupa satu wacana utuh. Oleh karena itu, cerpen berjudul Pembelaan Bah Bela diteliti karena cerpen ini merupakan salah satu karya terbaik dari Moh. Wan Anwar yang ceritanya berisi budaya jawara dalam masyarakat Banten. Analisis teks dalam penelitian ini akan menggunakan seluruh kalimat yang ada pada wacana cerpen tersebut. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan hasil analisis yang lebih nyata karena masalah kohesi dan konteks situasi menyangkut masalah ketergantungan unsur-unsur dalam wacana.Kata kunci: Kohesi gramatikal pengacuan, wacana, analisis teks, cerpen. Abstract Referent Cohesion in Pembelaan Bah Bela a Short Story by Moh. Anwar. From the prespective of oral communication discourse is understood as a communication process between an addresser and an addressee. From written communication perspective, on the other hand, discourse is thought as the expression of the addresser. An integrated discourse is the one that is cohesive and coherent. It is complete when the sentenses constituting it support the topic, and integrated when the sentences are systematic and well-structured. Well structured idea is indicated by the use of cohesive devices. A short story has been chosen to investigate as it is short yet requires a high level of cohesion and coherence to allow it to be a complete reading. This article investigate “Pembelaan Bah Bela” one of best short stories by Moh. Wan Anwar. It tells about a Jawara culture in Banten. All the sentences in the short stories are analyzed. The investigation serves to show how cohesive devices work to construct a discourseKeywords: referent cohesion, text analysis, short story

Page 1 of 2 | Total Record : 11