cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
BAHASA DAN SASTRA
ISSN : 14120712     EISSN : 25278312     DOI : -
Core Subject : Education,
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA (Journal of Language and Literature Education) is published by Faculty of Language and Literature Education, Universitas Pendidikan Indonesia. It publishes research-based articles in the field of language, literature, and its teaching and learning. It is published twice a year, namely in April and October. The scopes of the topics include: 1) Foreign language learning, Indonesian language, vernacular language and Malay language learning; (2) Linguistics; (3) Applied Linguistics, and; (4) Literature.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue " Vol 12, No 1 (2012): Volume 12, Nomor 1, April 2012" : 11 Documents clear
PEMBELAJARAN MEMBACA BAHASA MELAYU DALAM KALANGAN PELAJAR TAMIL: KAEDAH GABUNG BUNYI KATA Bin Husin, Muhammad Saiful Haq; Abd Rahman, Nik Hafizah Binti; Syahrani, Agus
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 1 (2012): Volume 12, Nomor 1, April 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i1.3619

Abstract

Abstrak Pembelajaran Membaca Bahasa Melayu dalam Kalangan Pelajar Tamil: Kaedah Gabung Bunyi Kata. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis keberkesanan Kaedah Gabung Bunyi Kata (KGBK) dalam proses pengajaran dan pembelajaran membaca dalam bahasa Melayu. Hal ini diharapkan dapat membantu murid yang lemah dalam aspek penguasaan bacaan bahasa Melayu. Penyelidik memberi tumpuan kepada aspek bacaan kerana aspek bacaan merupakan aspek yang paling penting dalam penguasaan bahasa Melayu murid. Penyelidik juga akan menguji kesesuaian Kaedah Gabung Bunyi Kata sebagai satu kaedah yang digunakan dalam proses pengajaran dan pembelajaran membaca bahasa Melayu dalam kalangan murid-muridnya yang terdiri daripada pelajar berbangsa India dan mempelajari bahasa Melayu sebagai bahasa kedua bagi mereka. Selain daripada itu kajian ini dilakukan bagi melihat perkembangan dan prestasi murid setelah mengikuti Kaedah Gabung Bunyi Kata (KGBK) ini. Kajian ini dilakukan di Sekolah Jenis Kebangsaan Tamil (SJKT) Methodist Kapar di Klang Selangor. Sampel tediri daripada 40 orang  murid tahap 1 yang dipilih berdasarkan tahap kecerdasan mereka. Dapatan kajian diperoleh melalui rekod pencapaian murid yang telah dilakukan selama 6 bulan iaitu dan bulan Mei hingga Oktober. Hasil dapatannya ternyata bahwa Kaedah Gabung Bunyi Kata (KGBK) ini amat sesuai untuk meningkatkan prestasi murid tersebut. Hal ini dapat dibuktikan bahawa 65 peratus bersamaan dengan 26 subjek kajian berjaya menguasai kemahiran membaca dengan lancar dan 35 peratus bersamaan 14 subjek kajian yang masih belum menguasai kemahiran bacaan dengan lancar itu memerlukan tempoh masa yang lebih lama (lebih kurang 3 bulan lagi) untuk mengguasainya.Kata kunci: membaca, bahasa Melayu, kaedah Gabung, bunyi kata AbstractReading of Learning in Malay Language of Indian Student: word sound Combination Ruler. This study aims at analyzing the effectiveness of the Rules for Word Sound Combination (KGBK) in teaching an learning to read in Malay language. It is expected to help students who are weak in the aspect of mastering Malay literature. The researchers focus on reading aspect because the reading aspect is the most important aspect in student’s learning Malay language. The researchers will also test the suitability of KGBK as a method used in the process of teaching and learning to read in the Malay language of the students consisting of Indian students learning Malay language as a second language for them. In addition, this study was conducted to monitor the progress and performance of students after attending KGBK. This study was conducted at the Tamil Nationality School (SJKT) Methodist Kapar in Klang Selangor. The sample consists of 40 students at level I who were selected based on the level of their intelligence. Findings were obtained through the records of student achievement that has been done for six months from the months of May to October. Findings show that KGBK is particularly suitable to enhance the performance of the students. It can be proved that 65 percent which is equal to 26 subjects who have yet to master the skill of reading fluently requires a longer period of time (about 3 months) to master it.Keywords: reading, Malay language, rules for combining, word sound
PEMBELAJARAN BAHASA JERMAN BERBASIS PROJEK Santoso, Iman
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 1 (2012): Volume 12, Nomor 1, April 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i1.3609

Abstract

AbstrakPembelajaran Bahasa Jerman Berbasis Projek. Pembelajaran bahasa jerman sebagai bahasa asing saat ini diselenggarakan di tingkat sekolah menengah atas dan perguruan tinggi. Salah satu tujuan utama pembelajaran bahasa Jerman adalah agar para pembelajar bahasa Jerman memiliki kompetensi komunikatif, yang diwujudkan dalam bentuk keterampilan berkomunikasi menggunakan bahasa Jerman secara lisan dan tulis dengan baik dan benar. Guna mencapai tujuan tersebut para pengajar harus mampu mengembangkan metode dan teknik yang tepat berdasarkan pada pendekatan komunikatif sebagai landasan filosofisnya. Kenyataan di lapangan menunjukan bahwa upaya tersebut sulit untuk dicapai, karena pembelajaran bahasa Jerman baik di SMA maupun di Perguruan Tinggi lebih didominasi dengan pembelajarn yang bersifat teacher oriented. Salah satu alternatif bentuk pembelajaran bahasa Jerman sebagai bahasa asing yang dapat mengintegrasikan berbagai aspek kebahasaan dan non-kebahasaan adalah pembelajar untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuannya dan mengkaitkannya dengan konteks kehidupan di luar kelas, serta berkreativitas secara luas. Kata Kunci: pendekatan komunikatif, kompetensi komunikatif, pembelajaran berbasis projek AbstractGerman Language Based Project Learning. Learning German as a foreign language is currently held at the high school and college levels. One of the main objectives to be achieved by learning German language is for German language learners to have communicative competence, which is manifested in the form of communicative skill using German language in both spoken and written language properly. To achieve these objectives the teachers should be able to develop appropriate methods and techniques based on the communicative approach as the philosophical foundation. The reality on the field shows that the effort is difficult to achieve, because the German language learning both in school and at university is dominated by the learning that is teacher-oriented. One alternative form of learning German as a foreign language that can integrate various aspects of language and non-language is a project-based language learning. This form of learning also provides opportunities for learners to construct their own knowledge and to relate it to the context of life outside the classroom, and creativity at large. Keywords: communicative approach, communicative competence, project-based learning
PEMAKAIAN BILINGUALISME DALAM INTERAKSI SISWA DI KELAS RENDAH DI MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI SINGARAJA BALI Rahmi, Siti
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 1 (2012): Volume 12, Nomor 1, April 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i1.3615

Abstract

   Abstrak Pemakaian Bilingualisme dalam Interaksi Siswa di Kelas Rendah di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Singaraja Bali. Tulisan ini mengungkapkan realitas dari implikasi bilingualisme dalam pendidikan dasar. Konteksnya tidak hanya memperhatikan pembelajaran bahasa, tetapi terhadap pendidikan dalam arti luas. Hal ini karena bilingualisme <<memaksa>> para guru untuk mempertimbangkan pengajaran bahasa dalam pembelajaran di kelas. Umumnya, siswa dari Madrasah Ibtidaiyah Negeri Singaraja Bali -Sekolah Dasar Islam- memiliki latar belakang bahasa Indonesia (L1). Bahasa Indonesia digunakan dengan berbagai dialek dan kosa kata bahasa Bali. Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari mereka disebabkan orang tua mereka berasal dari latar belakang lingkungan dan masyarakat multi-etnis. Orang tua mereka adalah generasi keempat dan kelima dari nenek moyang mereka, dan hampir tidak menggunakan bahasa asli mereka dalam ranah keluarga. Para keluarga migran ini sebagian besar adalah pedagang, buruh, dan beberapa dari mereka adalah PNS. Bahasa Bali, sebagai L2 diperoleh dalam lingkungan sosial terutama di sekolah menengah. Implikasi dari Bahasa Indonesia sebagai bahasa pengajaran lebih “mendidik-akomodatif”, disesuaikan dengan latar belakang bahasa siswa dan tingkat perkembangan bahasanya.Kata kunci: bilingualisme, implikasi, bahasa, pembelajaran     Abstract Bilingualism Implications in Primary Classroom Interactive Students of Madrasah Ibtidaiyah Negeri Singaraja Bali. This paper reveals the reality of these implications. Its context does not concern only in the language learning, but into the education in broadest sense also. It is because bilingualism “force” teachers to consider language teaching in the classroom instruction. Generally, students of Madrasah Ibtidaiyah Negeri Singaraja Bali-as an Islamic Primary School- have Indonesian language background (L1). Indonesian language used with various dialects of Balinese language and its vocabulary. The use of Indonesian as their everyday language is caused their parents from neighborhood background and the multi-ethnic milieu. Their parents are fourth and fifth generation of their forefather, and almost had not used their native language in family domain. The migrant families were mostly traders, laborers, and some of them are civil servants. Balinese language, as L2 acquired in social domain especially in secondary scholl. The implication of Indonesian as language teaching more “educative-accommodative”; adjusted by students’s language background and their level of language development.Keywords: bilingualism, implication, language, learning    
SIKAP MASYARAKAT PENGRAJIN DAN PEDAGANG KERAMIK TERHADAP BAHASA INDONESIA DAN BAHASA SUNDA Baginda, Putrasulung
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 1 (2012): Volume 12, Nomor 1, April 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i1.3611

Abstract

Abstrak Sikap Masyarakat Pengrajin dan Pedagang Keramik terhadap Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda. Masyarakat indonesia pada umumnya merupakan komunitas yang mampu menggunakan dua bahasa, yaitu bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, kedua bahasa ini digunakan sesuai dengan konteks yang dipandang relevan oleh pengguna bahasa. Tulisan ini berupaya menjelaskan, pada konteks apa saja bahasa Sunda dan bahasa Indonesia digunakan oleh masyarakat Plered, Purwakarta. Lokasi ini dipilih karena merupakan domisili para pedagang Sunda di wilayah yang sering dilalui oleh warga dari wilayah yang tidak berbahasa Sunda. Selain itu, diungkap pula latar belakang penggunaan tiap bahasa dalam konteks masing-masing. Melalui kajian ini, diungkap sikap masyarakat terhadap bahasa Sunda dan bahasa Indonesia. Kata kunci: bahasa sunda, bahasa indonesia, sikap terhadap bahasa Abstract Community Attitudes of Ceramics Creators and Traders towards Indonesian and Sundanes Language. Indonesian society in general is a community that is able to use two languages, the local language and the Indonesian language. In everyday life, the two languages are used in the context that is relevant to the user of the language. This paper attempts to explain, in which context are Sundanese and Indonesian languages are used by people in Plered,  Purwakarta. This location was chosen because it is the residence of the Sundanese traders in areas frequently traveled by residents of the area who do not speak Sundanese. In addition, the background of the use of each language is also revealed in the context of each. Through this study, the attitudes of the community towards Sundanese and Indonesian are revealed. Keywords: sundanese, indonesian, attitudes towards language
LINGUISTIC ETIQUETTE IN INSTANT MESSAGING TEXT-BASED COMMUNICATION IN WRITING CLASS Rakhmawati, Deny Efita Nur
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 1 (2012): Volume 12, Nomor 1, April 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i1.3616

Abstract

Abstrak Norma Linguistik dalam Komunikasi Berbasis Pesan Pendek pada Kelas Menulis. Komunikasi Instant Messaging (Pesan Singkat) berbasis teks diperkaya oleh fitur linguistik, seperti pemendekan teks, gerak tubuh, isyarat intonasi, though-string, dan isyarat backchannel. Kemudian, penggunaan fitur linguistik ini membentuk strategi kesantunan yang sangat perlu untuk dijaga dalam rangka mencipakan komunikasi yang harmonis. Lebih jauh lagi, metode ini untuk mencapai norma linguistik. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pendekatan kualitatif dimana subjeknya adalah mahasiswa jurusan bahasa Inggris dalam kelas menulis. Data tersebut kemudian dianalisis berdasarkan teori fitur linguidstik dalam Instant Messaging, strategi kesantunan, dan etika linguistik. Analisis penelitian ini didukung oleh teknik wawancara sebagai data triangulasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa siswa cenderung menggunakan penyingkatan teks yang mengarahkan mereka untuk menerapkan strategi bald-on-record dan menunjukan bahwa mereka cenderung menghasilkan tingkat kalimat beretika rendah dan ditandai sebagai ungkapan kurang sopan. Akhirnya, dari hasil penelitian ini di harapkan bahwa pengajaran norma linguistik dapat diberikan kepada para siswa.Kata kunci: fitur linguistik, komunikasi pesan singkat, norma linguistik  Abstract Linguistic Etiquette on Instant Messaging Text-Based Communication In Writing Class. Instant Messaging text-based communication is enriched by the linguistic features, such as textual shortening, gestures, itention cues, though-string, and backchannel cause. Then, the use of these linguistic features form the strategy of politeness which is very needed to be kept in order to create harmonious communication. Furthermore, it is the method to achieve the linguistic etiquette. This research is conducted by using qualitative approach in which the subjects are the English department students in writing class. Then the data are analyzed based on the theory of linguistic features in Instant Messaging, politeness strategies, and linguistic etiquette. The analysis is supported by interview method as the triangulation data. The result shows that students tend to use textual shortening which leads them to apply bald-on-record strategy and it indicates that they tend to produce low etiquette sentences level and marked as the impolite highlighed phrase. Finally, it is hoped that the teaching of linguistic etiquette can be given to the students.Keywords: linguistic features, instant messaging communication, linguistic etiquette
KABA: CERITA KLASIK YANG MENGANDUNG KEKELIRUAN DENGAN TOLOK UKUR ABS-SBK Zahari, Musril
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 1 (2012): Volume 12, Nomor 1, April 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i1.3612

Abstract

Abstrak Kaba: Cerita Klasik Yang Mengandung Kekeliruan dengan Tolok Ukur ABS-SBK. Kajian ini menyajikan Kaba, sebuah cerita rakyat di masyarakat Minangkabau yang sudah ditulis dalam bentuk buku. Kaba biasanya disampaikan oleh seorang pencerita dengan diiringi musik sebagai pengantar. Banyak cerita kaba yang masih diakui dan dikenal keberadaannya di masyarakat Minangkabau, namun dalam kajian ini hanya disajikan dua cerita kaba: (1) Magek Manandin dan (2) Anggun Nan Tongga. Latar kedua cerita tersebut berisi larangan perjudian dengan mengikuti ketentuan ajaran Islam. Dalam Anggun Nan Tongga dikisahkan tentang syirik (menyekutukan Allah) yang dikecam dalam Islam. Kisah ini tidak dikenal baik karena bertentangan dengan filsafat hidup masyarakat Minangkabau: adat atau tradisi berdasarkan hukum Islam, hukum Islam berdasarkan Al-Quran, Hukum Islam memandu adat atau tradisi. Filosofi ini menjadi kesepakatan masyarakat Minangkabau dan dilarang diubah hingga kapan pun. Sayangnya, dalam kedua cerita Kaba ini, kisah tentang perjudian dan keyirikan dianggap sebagai sebuah kebenaran meskipun dalam beberapa ayat Al-Quran dijelaskan sebagai sebuah pelanggaran (penyimpangan). Kata Kunci: kaba, adat, syarak, Minangkabau, syirik, perjudian Abstract Kaba: Deviations of Oral Classic Story with ABS-SBK Rules. This study discusses kaba, the oral classic story in Minangkabau society that has been written as the book. The kaba is usually told by the story tellers accompanied by he music instruments. Many kabas exist in the Minangkabau community, but in this study I only discuss two kabas (1) Magek Manandin and (2) Anggun Nan Tongga. Based on both kabas, I found that the gambling forbidden by Islam as if allowable. Within Anggun Nan Tongga, there are many discourses which are syirik (do worship other than Allah) that is slammed by Islam. These discourses should have not existed because they oppose to the philosophy of life in Minangkabau: custom/tradition founded upon Islamic law, Islamic law is founded upon the Qur’an, Islamic law dictates customs/traditions. This philosophy as the agreement among Minangkabau people is forbidden to change forever. Ufortunately, in these two kabas, the discourses about the gambling and kesyirikan are regarded as if he truth even though so many verses in the Al-Quran explain about these deviations. Keywords: kaba, custom, syarak, Minangkabau, syirik, gambling   
FENOMENA POLISEMIK BAHASA ARAB DALAM AL-QURAN Hamdani, Wagino Hamid
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 1 (2012): Volume 12, Nomor 1, April 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i1.3617

Abstract

Abstrak Fenomena Polisemik Bahasa Arab dalam al-Quran. Artikel ini mengkaji fenomena polisemik bahasa Arab dalam al-Quran. Cakupan kajiannya meliputi 10 bentuk polisemik yang berwazan: fa’iil, fi’aal, fa’aan/fu’laan, fu’l, fa’alah, fu’uul tafa’la/tafa’al, tafa’aluu, af’al dan fa’al. Dari hasil analisis diperoleh variasi makna morfologis bagi setiap bentuk polisemik, yaitu: (1) bentuk fa’iil mengandung 5 makna morfologis; (2) bentuk fi’aal mengandung 4 makna morfologis; (3) bentuk fa’laan, fu’laan dan fi’laan mengandung 4 makna morfologis; bentuk fu’l mengandung 4 makna morfologis; (5) bentuk fa’alah mengandung 5 makna morfologis; (6) benuk fu’uul mengandung 4 makna morfologis; (7) bentuk tafa’al 5 makna morfologis; (8) bentuk tafa’aluu mengandung 8 makna morfologis; (9) bentuk af’al mengandung 10 makna morfologis; dan bentuk fa’al mengandung 5 makna morfologis. Makna morfologis setiap bentuk kata dapat teridentifikasi melalui distribusi morfologis, sarana sintaktis, dan mkna leksilak.Kata kunci: Fenomena polisemik, makna morfologis  Abstract Phenomenon of Arabic Language Polysemy in the Quran. This paper that examined the phenomenon of Arabic polysemy in the Koran. Coverage of the study inclused 10 forms of polysemy: fa>iil, fi>aal, fa>laan/fu>laan/ fi’laan, fu’l, fa’alah, fu’uul tafa’la/tafa’al, tafa’aluu, af>al and fa’al. Obtained from the results of the analysis are morphological variations in meaning for every from of polysemy, namely: (1) the fa>iil from contains 5 morphological meanings, (2) the fi>aal form contains 4 morphological meanings, (3) forms offa>laan, fu>laan and fi>laan contains 4 morphological meaning,; (4) the form of fu’l contains 4 morphological meanings, (5) the form of fa’alah contains 5 morphological meanings, (6) the form fu’uul contains 4 morphological meanings, (7) the form of tafa>al contains 5 morphological meanings, (8) the form of tafa>aluu contains 8 morphological meanings; (9) the form of af>al contains 10 forms morphological meanings, and the form of fa’al contains 5 morphological meanings. Morphological meanings of each form of words can be identified through the morphological distribution, syntatic means, and lexical meaning.Keywords: polisemik phenomenon, meaning of morphologically
IMPLEMENTASI MODEL COMMUNICATION DANS LES AFFAIRES DALAM PEMBELAJARAN BAHASA PERANCIS BISNIS DI SMK Rakhmat, Soeprapto; Mutiarsih, Yuliarti; Mulyadi, Yadi
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 1 (2012): Volume 12, Nomor 1, April 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i1.3613

Abstract

Abstrak Implementasi Model Communication dans les Affaires dalam Pembelajaran Bahasa Perancis Bisnis di SMK. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan implementasi model Communication dans les Affaires dalam pembelajaran bahasa Perancis Bisnis di SMK se-Kota dan Kabupaten Bandung pada SMK Kelas X Program Keahlian Manajemen Bisnis dan Perkantoran; (2) memperoleh data terkait kontribusi model tersebut dalam meningkatkan kompetensi bahasa Perancis Bisnis siswa SMK,dan; (3) memperoleh informasi tentang kelebihan dan kekurangan model tersebut dalam proses pembelajaran bahasa Perancis Bisnis di SMK. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode penelitian yang dipilih adalah pra ekperimental dengan desain penelitian the one shot-case study. Model yang diteliti dapat berkontribusi positif dalam membantu meningkatkan kompetensi bahasa Perancis bisnis siswa SMK kelas X Program Keahlian Administrasi Perkantoran sesuai dengan komunikasi bisnis frankofon.      Kata kunci: kompetensi bahasa Perancis bisnis, model communication dans les affaires, FLE, FOS Abstract       Model of Communication dans les Affaires Implementation into Bussiness French Langguage of Learning in SMK. This study aims at: (1) describing an implementation of communication dans les Affaires model in learning Business French in SMK in Bandung City and Country at X Class of Vocational and Business Management Office, (2) obtaining data related to the contribution of the model in improving Business French language competence of vocational students, and, (3) obtaining information about the adventages and disadvantages of the model in the process of learning Business French language in SMK. This study used a quantitative approach and research method selected is pre experimental research design with the one-shot case study. Based on the results of the research, data showed that the model under the study which is a model of learning Communication dans les affaires provided positive contribution in helping to improve the competence of vocational students of class X of the Office Administration Skills Program in understanding the concept of Business Francophone Frech and to practice appropriate communication based on francophone business situations.Keywords: business French skills, models of communication dans les affaires, FLE, FOS
SEMANTIK GRAMATIKAL VERBA BERAFIKS ME(N)-KAN/-I DAN TE(R)-KAN/-I DALAM BAHASA INDONESIA Sofyan, Agus Nero
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 1 (2012): Volume 12, Nomor 1, April 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i1.3618

Abstract

Abstrak Semantik Gramatikal Verba Berafiks Me(N)-Kan/-I dan Te(R)-Kan/-I dalam Bahasa Indonesia. Tulisan ini mengulas semantik gramalikal verba berafiks me(N)- kan-/-i dan te(R)-kan/-i dalam bahasa Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Data yang digunakan diambil dalam surat kabar, buku tata bahasa, dan data temuan penulis. Teori yang digunakan adalah verba, proses morfologis, semantik, jenis makna, dan gramatikal. Masalah yang dibahas adalah keberadaan semantik gramatikal verba berafiks me(N)-kan/-i dan teR-(kan/-i) yang terdiri atas bentukan dan makna. Berdasarkan hasil analisis ditunjukan bahwa verba berafiks me(N)-kan/-i dan te(R)-kan/-i tergolong pada verba transitif dan taktransitif yang memiliki makna gramatikal yang bervariatif. Di samping itu, dibicarakan pula beberapa masalah yang berkaitan dengan verba berafiks me(N)-kan/-i dan te(R)-kan/-i.Kata kunci: verba, afiks, semantik, gramatikal  Abstract Grammatical Semantic of Verb with Affixes Me(N)-Kan/-i and Te(R)-Kan/-I. This paper discusses the grammatical semantics of verbs with affixes of me (N) – kan-/-i and te (R) –kan/-i in Indonesian. The method used in this research is descriptive method. The data used are taken from newspapers, grammar books, and outhor-made data. The theories used are verbs, morphological process, semantics, types of meaning, and grammatical. Issues to be discussed is the existence of a grammatical semantics of verbs with affixes of me (N) –kan/-i and teR-(-kan/-i) consisting of forms and meanings based on the results of the analysis, it is indicated that the verbs with affixes of me (N) – kan-/-i and te (R) –kan/-i belong to transitive and intransitive verbs which have varied grammatical meanings. In addition, some of the problems associated with verbs with affixes of me (N) – kan-/-i and te (R) –kan/-i are also discussed.Keywords: verb, affix, semantics, grammatical
SPIRITUALISASI PENDIDIKAN DALAM KARYA SASTRA: SUATU PERSPEKTIF SASTRA BANDINGAN Fitrina, Yulia
Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 1 (2012): Volume 12, Nomor 1, April 2012
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/bs_jpbsp.v12i1.3608

Abstract

Abstrak Spiritualisasi Pendidikan dalam Karya Sastra: Suatu Perspektif Sastra Bandingan. Spiritualisasi pendidikan merupakan konsep dalam dunia pendidikan yang memadukan antara pendidikan dan unsur spiritual. Nilai-nilai spiritual dalam pendidikan ini dapat ditemukan dalam dua karya sastra berbentuk novel, yakni Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan novel Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi, yang akan di analisis melalui perspektif sastra bandingan. Di dalam tulisan ini akan dideskripsikan nilai-nilai spiritual yang dijadikan basis dalam mencetak generasi unggul dalam dunia pendidikan yang terefleksi dalam kedua novel sehingga mampu menghasilkan lulusan yang mampu bersaing dalam dunia global. Konsep-konsep spiritualisasi pendidikan dalam kedua novel ini akan dilihat dari dua sisi sekaligus yakni pendidik dan juga peserta didik. Kata kunci: spiritualisasi pendidikan, karya sastra, sastra bandingan Abstract Spiritualization of Education in Literary Works: A Comparative Literary Perspective. Spiritualization of education is a concept in the field of education that combines education and spiritual elements. Spiritual values in education can be found in two literary works in the forms of novels, such as the Laskar Pelangi novel by Andrea Hirata and Negeri 5 Menara by Ahmad Fuadi, which will be analyzed through the perspective of comparative literature. This paper will describe the spiritual values that form the basis for the creation of leading generation in the world of education as reflected in both novels so as to produce graduates who can compete in the global world. Concepts of spiritualization of education in both of these novels will be seen from two sides at once, that is, educators and learners. Keywords: spiritualiztion of education, literary works, comparative literary works

Page 1 of 2 | Total Record : 11