cover
Filter by Year
Aksi
ISSN : -     EISSN : -
Articles
58
Articles
Pelatihan LifeSkill Untuk Meningkatkan Kualitas Kerja PRT Paruh Waktu di Perumahan Kota Baru Driyorejo Kecamatan Driyorejo Kabupaten Gresik

Wiwin Yulianingsih,

Aksi Vol 13, No 2 (2012)
Publisher : Aksi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

A.      Analisi Situasi   Dalam UUD 1945 telah menjamin bahwa setiap warga negara mempunyai kesamaan hak dan kesempatan dalam memperoleh pekerjaan yang layak seperti pada pasal 27, ayat 2 : ”Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”, namun pada kenyataannya masih terdapat kesenjangan gender di bidang tersebut. Perempuan masih tertinggal bila dibandingkan dengan laki-laki dalam memperoleh peluang pekerjaan. Menurut SAKERNAS 2000 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) di Indonesia yaitu pada tahun 1999 TPAK perempuan adalah sebesar 51,16% dan TPAK laki-laki adalah sebesar 83,57%. Demikian juga pada tahun 2000 belum menunjukkan perubahan yang signifikan, dimana TPAK perempuan masih rendah bila dibandingkan dengan TPAK laki-laki (51,69% : 84,17%), (PRT) Pembantu rumah tangga, yang kebanyakan perempuan, bekerja keras untuk menghidupi keluarga mereka dan seperti buruh lainnya, mereka juga ingin mendapatkan upah layak serta dilindungi oleh undang-undang perburuhan dan skema perlindungan sosial. Mereka bekerja dalam bidang rumah tangga karena kemiskinan dan ingin keluar dari kemiskinan tersebut. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa sepertiga rumah tangga di dunia memiliki beberapa jenis ‘penyewaan jasa bantuan.’ Terdapat 2,5 juta pekerja rumah tangga di Indonesia. Kerja mereka tidak dihargai dan diupah rendah. Kerja rumah tangga jarang sekali dilihat oleh masyarakat ataupun pemerintah sebagai ‘kerja,’ kerja rumah tangga hanya dilihat sebagai sesuatu yang dilakukan oleh perempuan di rumah orang lain untuk ‘membantu.’ Sumbangan pekerja rumah tangga terhadap ekonomi tidak pernah dimasukkan dalam Pendapatan Domestik Bruto (PDB). Kondisi tersebut menyebabkan banyaknya kaum perempuan di Indonesia mencari alternatif pekerjaan untuk memenuhi kebutuhannya. Banyak hal yang menampilkan realita memprihatinkan bagi tenaga kerja, khususnya bagi tenaga kerja perempuan. Hal lain yang menjadi masalah adalah minimnya kecakapan yang di miliki oleh pembantu rumah tangga mendorong para majikan untuk berbuat semena-mena seperti yang terjadi beberapa bulan terakhir ini terkait dengan masalah penyiksaan terhadap pembantu rumah tangga dan pemecatan sepihak. Menanggapi kenyataan seperti itu ditengah krisis ekonomi sekarang ini, pendidikan kecakapan hidup (Life Skill) harus lebih di kedepankan. Menurut Dirjen PLS (2003 : 6) Life skill adalah kecakapan yang dimiliki seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya. Pada intinya, pendidikan kecakapan hidup membantu PRT dalam mengembangkan kemampuan belajar (learning how to learn), menghilangkan pola pikir dan kebiasaan yang tidak tepat (learning to unlearn), menyadari dan mensyukuri potensi diri untuk dikembangkan dan diamalkan, berani menghadapi problema kehidupan, serta mampu memecahkannya secara kreatif. Kecamatan Driyorejo merupakan kecamatan perbatasan, yaitu perbatasan  wilayah selatan adalah kabupaten Gresik dan Mojokerto, wilayah utara adalah kabupaten Gresik dan Kabupaten Sidoarjo sedangkan perbatasan wilayah timur adalah kabupaten Gresik dan Kota Surabaya. Kecamatan Driyorejo terdiri dari 16 Desa. Jumlah penduduknya lebih dari 120.000 jiwa. Perumahan Kota Baru Driyorejo (KBD) adalah perumahan yang memiliki luas wilayah terbesar di kabupaten Gresik, yang masuk dalam wilayah  4 Desa yaitu dalam satu wilayah perumahan, yaitu Desa Randengansari, Desa Gadung, Desa Petiken dan Desa Mulung. Sedangkan jumlah penduduk Kota Baru Driyorejo adalah lebih dari 9.700 jiwa. Penduduk KBD terdapat 4 komunitas, yaitu komunitas PNS, Angakatan Laut, Marinir dan Wiraswasta.

PELATIHAN MAKRAME PADA KELOMPOK TANI “SRIKANDI” KELURAHAN BALASKLUMPRIK, WIYUNG, SURABAYA

Siti Mutmainah, , Nunuk Giari M., , Imam Zaini, , Rustarmadi, , Fera Ratyaningrum, , Asidigisianti Surya Patria,

Aksi Vol 13, No 1 (2012)
Publisher : Aksi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

PELATIHAN PEMANFAATAN ENCENG GONDOK MENJADI PRODUK KERAJINAN BAGI IBU-IBU WALI MURID TK NURUL ISLAM KLAKAH KABUPATEN LUMAJANG

Lutfiyah Hidayati, , Anneke Endang K., , Indarti, , Ratna Suhartini, , Sri Rusmiyati, , Dewi Lutfiati,

Aksi Vol 13, No 1 (2012)
Publisher : Aksi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kegiatan ini bertujuan untuk: 1) Memberikan pelatihan keterampilan pemanfaatanenceng gondok menjadi produk kerajinan, 2) Meningkatkan kemanfaatan produkalam dan limbah untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dan 3) Memotivasimunculnya semangat berwirausaha dari keterampilan dan barang yang dihasilkan/usaha mandiri berbasis produk local. Metode kegiatan yang dilakukan berupapelatihan dan pendampingan secara langsung oleh tim pelaksana, yaitu paradosen Jurusan PKK Prodi Tata Busana, Unesa sebanyak 6 orang, yang diikutioleh ibu-ibu wali murid/orang tua/pengantar TK Nurul Islam Klakah sebanyak 20orang. Hasil kegiatan dapat disimpulkan sebagai berikut: 1) Pelaksanaan pelatihanberjalan lancar sesuai rencana tanpa ada halangan yang berarti dengan didukunghasil yang memuaskan, meliputi respon, keaktifan peserta, kemudahan materiuntuk dipahami, diterapkan, dan dikembangkan, dan produk yang ramahlingkungan bahkan dapat digunakan sebagai alternatif berwirausaha, dan 2)Adanya respon positif dari pihak Yayasan Nurul Islam Klakah, sehinggamengharapkan adanya kerjasama dan bimbingan lebih lanjut denganpengembangan produk kerajinan lain baik berbahan dasar enceng gondok ataulainnya, mengingat sumberdaya alam di kecamatan Klakah belum banyak yangdimanfaatkan. Adapun sarannya adalah: 1) Menambah jenis keterampilanberbasis benda-benda alami bagi kelompok masyarakat yang lebih luas sehinggadapat meningkatkan keterampilan dan kemandirian masyarakat dan, 2) Secaratidak langsung dapat membantu program pemerintah dalam mengentaskemiskinan dan memerangi kebodohan.

PENCIPTAAN WIRAUSAHA BARU MELALUI PELATIHAN PRODUKSI BATIK DI KETINTANG BARU KELURAHAN KETINTANG KOTA SURABAYA

Nurida C.s., , Harti, , Inti Nahari, , Saino, , Yoyok Susatyo,

Aksi Vol 13, No 1 (2012)
Publisher : Aksi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pelatihan proses pembuatan batik sangat menarik dan diminati oleh masyarakatkarena saat ini batik merupakan salah satu produk cipta karya dunia kebanggaanIndonesia. Tahapan kegiatan pelatihan ini meliputi: tahap 1) menjelaskan caramenggunakan kain dan gambar pola yang telah disediakan, tahap 2) melatihkancara memindah gambar dari pola ke atas kain, tahap 3) melatihkan caramemasak malam dan menggunakan canting untuk menutup pola yang akandiwarnai, tahap 4) melatihkan cara mewarnai kain yang telah diberi malam, dantahap 5) Finishing. Hasil kegiatan pelatihan dan pembahasannya, dapatdisimpulkan bahwa: 1) pelaksanaan program PpM telah berjalan dengan baiksesuai dengan rencana dan telah memenuhi tujuan dan sasaran yang diinginkan,2) Kegaitan PpM telah memberikan pengalaman kepada peserta kegiatan dalammemenuhi kebutuhan masyarakat dalam hal ini adalah ibu-ibu rumah tanggasebagai bekal untuk berwirausaha, 3) Kegiatan PpM telah memberikanpengalaman kepada peserta dalam memenuhi kebutuhan akan keterampilantambahan kepada para ibu rumah tangga untuk mengisi waktu luang dengancara membatik, dan 4) Kegiatan PpM telah memberikan dorongan pada pesertakegiatan sebagai bekal untuk mengembangkan ekonomi keluarga melalui usahamembatik.Adapun saran yang diusulkan terkait dengan hasil PpM adalah: 1)Pelaksanaan program PpM sangat bermanfaat bagi masyarakat secara umumdan ibu-ibu rumah tangga khususnya sehingga perlu adanya pelatihan lanjutanuntuk mendapatakan hasil yang optimal, 2) Perlu adanya pelatihan metodemembatik yang bervariasi agar keahlian membatik semakin banyak, dan 3)Peserta meminta pelatihan tambahan untuk memasyarakatkan budayawirausaha.

PELATIHAN PEMBUATAN PERANGKAT PEMBELAJARAN MELALUI PENDEKATAN LESSON STUDY UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU BIDANG STUDI IPS

Sjafiatul Mardliyah, , Erny Roesminingsih, , Ali Yusuf, , Widodo, , Wiwin Yulianingsih, , Heryanto Susilo,

Aksi Vol 13, No 1 (2012)
Publisher : Aksi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tujuan kegiatan ini adalah mendorong guru bidang studi IPS di SMAN 13Surabaya untuk meningkatkan profesionalisme dengan mengikuti pelatihanpembuatan perangkat pembelajaran melalui Pendekatan Lesson Study untukmeningkatkan kompetensi pembelajaran guru bidang studi IPS. Adapun tahapanpelaksanaan kegiatan pengabdian pada masyarakat ini mencakup: (1)Melakukan angket bagi calon peserta guru mengenai minat mengikuti pelatihanuntuk menentukan peserta yang akan dilatih, (2) Melakukan pelatihan yang terdiridari praktek pembuatan perangkat pendidikan dan praktek simulasimicroteaching di kelas. Implikasi sosial yang muncul setelah kegiatan ini berjalanadalah: (1) Timbulnya kesadaran pihak guru bahwa perangkat pembelajaranberbasis Lesson Study, memiliki dampak positif karena dipandang memilikiaspek kontrol yang ketat terhadap proses pembelajaran. Bagi guru, denganmenggunakan pendekatan ini jelas sekali bahwa profesionalisme guru akansemakin baik. Bagi siswa, proses pembelajaran dengan menggunakanpendekatan ini bisa lebih termotivasi untuk memahami materi pelajaran.Anggapan murid bahwa belajar ilmu sosial sama dengan menghafal dan hanyamembaca saja secara berangsur-angsur dipastikan akan hilang, yang munculadalah kesadaran bahwa belajar ilmu sosial sama menariknya dengan belajarilmu eksak, (2) Adanya kerjasama antar kelompok guru pengampu matapelajaran ilmu sosial di sekolah. Kalau selama ini kerjasama tersebut diwadahidalam MGMP, maka dengan pendekatan pembelajaran berbasis Lesson Studykerjasama lintas disiplin ilmu menjadi kebutuhan demi kelancaran prosespembelajaran, dan (3) Munculnya respon yang postif dari kepala sekolahterhadap meningkatnya pemahaman guru yang lebih baik untuk meningkatkanprofesionalisme pembelajaran.

PELATIHAN LIFESKILL UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS KERJA PRT PARUH WAKTU DI PERUMAHAN KOTA BARU DRIYOREJO KECAMATAN DRIYOREJO KABUPATEN GRESIK

Wiwin Yulianingsih,

Aksi Vol 13, No 1 (2012)
Publisher : Aksi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pelatihan life skills menggunakan sejumlah metode penyampaian agar sesuaidengan materi, tepat sasaran, sesuai dengan kebutuhan warga belajar, sertaberhasil guna dan berdaya guna. Metode yang digunakan antara lain meliputi: 1)Metode demonstrasi. Untuk melatih peserta dalam pelatihan agar banyakmenggunakan metode demonstrasi karena ilmu yang dipelajari bersifat teori danpraktek. Sedangkan dalam pelatihan ini yang dipraktekkan adalah: a) Praktekmemasang tabung gas elpiji, b) Praktek membersihkan kulkas, c) Praktekmencuci yang benar dengan mesin cuci, d) Praktek menyetrika pakaian denganbenar dan baik, dan e) Praktek merapikan pakaian setelah disetrika. 2) MetodeCeramah bervariasi. Metode ini digunakan untuk memberikan informasi danpenjelasan dalam memberikan maksud dan tujuan pelatihan. Materi yangdisampaikan dalam metode ceramah adalah tentang pengetahuan pangan sehatdan aman untuk keluarga, meliputi menjaga kebersihan pangan, memisahkanpangan mentah dan pangan matang, memasak yang benar dan menggunakanair yang benar, 3) Serta yang paling penting adalah memberikan motivasibagaimana mereka bersedia dan senang mengikuti program pelatihan ini dengandiskusi dan tanya jawab, dan 4) Selanjutnya resitasi atau pemberian tugas,yaitu tutor/fasilitator secara langsung pemberian tugas kepada peserta peserta,misalnya peserta diminta untuk membedakan makanan anak yang bolehdimakan dengan tidak. Pemberian tugas melipat pakaian yang sudah disetrikadengan bahan-bahan pakaian yang berbeda-beda, dan lain-lain. Hasil pelatihantelah meningkatkan produktivitas peserta yang dapat dilihat dari indikatorindikatorberikut: 1) adanya perubahan sikap yang lebih positif dan maju, 2)mampu dan cakap sesuai materi dan skill yang dilatihkan, dan 3) hasil karyaPRT baik berupa barang atau jasa menunjukkan kemampuan dan keahlian yangbaik dan mumpuni. Dengan demikian, dapat diyakini kehadiran PRT paruh waktusangat membantu keluarga yang memang membutuhkan kinerjanya.

PELATIHAN PEMBELAJARAN KOLABORATIF BERBASIS ASESMEN OTENTIK UNTUK MENINGKATKAN PEMBELAJARAN GURU-GURU PSKn DI GUGUS 01 KECAMATAN WARU KABUPATEN SIDOARJO

Fatimah,

Aksi Vol 13, No 1 (2012)
Publisher : Aksi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pelatihan terkait dengan pembelajaran kolaboratif berbasis asesmen otentikdilakukan sebagai wujud realisasi salah satu keinginan para guru khususnya guruPSKn di gugus 01 kecamatan Waru, kabupaten Sidoarjo. Tujuan pelatihan iniadalah untuk membantu mengembangkan kompetensi guru PSKn yangdiharapkan dapat berimplikasi pada peningkatan kualitas pembelajaran guru.Harapan yang paling esensi dari pelatihan ini sesungguhnya adalah meningkatkanmutu pendidikan dan peningkatan perbaikan dalam kegiatan pembelajaran guruPSKn. Dengan adanya pelatihan ini bagi guru pengampu PSKn harus mampumemahami model pembelajaran kolaboratif berbasis asemen otentik. Kegiatan inidiawali dengan sosialisasi bagi guru PSKn terkait dengan pembelajarankolaboratif berbasis asesmen otentik. Berikutnya, pelaksanaan kegiatan inidilakukan pada tanggal 25 Juli 2011 yang diikuti 50 peserta guru. Selesai kegiatandilakukan penyebaran angket dan diketahui bahwa penyikapan peserta terhadaphasil pelatihan cukup bagus. Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa pelatihanpembelajaran kolaboratif berbasis asesmen otentik telah mampu meningkatkanpemahaman mengenai pembelajaran guru-guru PSKn, tentu akan meningkatanpula kompetensi profesional guru SD di Gugus 01 Kecamatan Waru KabupatenSidoarjo. Yang paling penting adalah mereka mampu meningkatkan kualitaspembelajaran PSKn dalam arti mampu melaksanakan model pembelajarankolaboratif berbasis asesmen otentik di sekolah dan sarannya adalah diharapkanagar kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan dengan bekerjasama dengan tim PpM UNESA.

PENDAMPINGAN DALAM RANGKA MENGATASI KASUS KESALAHPAHAMAN (MISCONCEPTION) DAN KETIDAKPAHAMAN (MISUNDERSTANDING) MATERI KIMIA ORGANIK BAGI GURUGURU KIMIA SMAN 1 RSBI SURABAYA

Tukiran, , Suyatno, , Sri Hidayati S., , Nurul Hidayati, , Bertha Yonata, , Woro Setyarsih,

Aksi Vol 13, No 1 (2012)
Publisher : Aksi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tujuan dari kegiatan PpM ini adalah untuk melakukan pendampingan gunamembantu guru-guru kimia SMAN 1 RSBI Surabaya dalam mengatasimiskonsepsi dan misunderstanding pada materi kimia, khususnya topik KimiaOrganik. Adapun tahapan pendampingan meliputi: 1) Menentukan materi kimiaSMA yang akan dikaji, 2) Menyusun pre-test (tes kemampuan awal) topik KimiaOrganik dan mengujikannya pada guru-guru kimia SMAN 1 RSBI Surabaya, 3)Melakukan analisis/pemeriksaan jawaban pre-test dari setiap soal Kimia Organikuntuk mendapatkan dan mengidentifikasi miskonsepsi dan misundestanding yangtelah terjadi, termasuk mengkaji konsepsi alternatif yang terjadi pada guru, 4)Melakukan pendampingan untuk mengkaji miskonsepsi dan misunderstandingsecara bersama pada pembelajaran kimia organik melalui studi literatur denganmenggunakan referensi berupa original textbooks, yaitu buku Organic Chemistry,karangan Francis A. Carey, 2000, 5) Mengkaji dan menerapkan strategipembelajaran konflik kognitif pada pembelajaran Kimia Organik, dengandipandu ”Learning Tips for Handling Misconception and Misunderstanding”,dan 6) Menyiapkan instrumen pendampingan berupa lembar observasi, lembarangket, dan seperangkat pokok uji pre-test (tes kemampuan awal) dan post-test(tes kemampuan akhir) untuk topik Kimia Organik dan menerapkannya untukmemperoleh gambaran sejauh mana kegiatan PpM ini telah berjalan baikBerdasarkan hasil dan pembahasan dari kegiatan PpM ini dapat ditarik sejumlahkesimpulan sebagai berikut: 1. Pendampingan dalam rangka mengatasi kasuskesalahpahaman (misconception) dan ketidakpahaman (misunderstanding) telahberjalan lancar dan baik. Hal ini tersirat pada tanggapan peserta pada angketyang telah mereka isi dan 2. Dengan dipandu ”Learning Tips for HandlingMisconception and Misunderstanding”, nampaknya kesalahpahaman(misconception) dan ketidakpahaman (misunderstanding) guru-guru kimia diSMAN 1 RSBI Surabaya pada materi kimia, khususnya topik Kimia Organik mulaiteratasi. Beberapa saran yang dapat diusulkan terkait dengan pelaksanaankegiatan PpM ini adalah menjawab dan menyesuaikan tanggapan peserta, yaituperlunya pendampingan lagi pada materi/topic kimia yang lain, seperti Termokimiadan Kimia Lingkungan. Mengingat materi/topic Termokimia merupakan topic yanglebih banyak mengedepankan histori munculnya rumusan-rumusan matematikadan peserta merasa sangat sulit untuk memahaminya, sehingga pendampinganberikutnya pada matei ini sangat mereka harapkan.

MENINGKATKAN KUALITAS DAN KUANTITAS USAHA MELALUI PELATIHAN KUE TRADISIONAL KOMERSIAL PADA KOMUNITAS P3EL BANJARAN KEDIRI

Lucia Tri Pangesthi, , Nugrahani Astuti, , Sri Handayani, , Luthfiyah Nurlela, , Siti Sulandjari, , Widi Aribowo,

Aksi Vol 13, No 1 (2012)
Publisher : Aksi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pelaksanaan program PpM ini berupa pelatihan keterampilan usaha kuetradisional. Tujuan akhir dari pelatihan ini adalah untuk memberikan bekalpengetahuan dan keterampilan produktif dalam upaya meningkatkanpendapatan/penghasilan khalayak sasaran, maka selain terampil mengolahmakanan juga diharapkan mampu dan terampil memasarkan produknya. Untukitu khalayak sasaran juga dibekali dengan teori dan keterampilan praktispengemasan dan menghitung harga jual. Untuk merealisasikan kegiatanpelatihan ini digunakan beberapa metode: 1) Ceramah, digunakan untukmenyampaikan sejumlah informasi, dibantu dengan media sebenarnya, 2)Demonstrasi, digunakan untuk menunjukkan langkah kerja setiap materi yangdiberikan, 3) Praktek, latihan dilakukan secara kelompok untuk memantauketerampilan pengolahan kue tradisional secara optimal guna efisiensi tenagadan waktu, 4) Pelatihan bermodul yang dibuat secara sederhana dan komunikatifsesuai dengan sasaran, dan 5) Evaluasi. Beberapa hal yang dapat dihasilkanpada pelaksanaan PpM di komunitas P3EL Banajaran, Kediri adalah: 1)Pelaksanaan kegiatan pelatihan kue tradisional komersial pada tanggal 31 juli2010 berjalan lancar, baik dan tertib. Peserta pelatihan mampu mengikutikeseluruhan acara kegiatan bahkan memperoleh tanggapan positif dari ibu Donyselaku ketua P3EL Banjaran, Kediri, 2) Adanya peningkatan pengetahuan danketerampilan ibu-ibu yang tergabung dalam komunitas P3EL di di jalan Banjaran2 kelurahan Banjaran kecamatan Banjaran kota Kediri, dalam hal membuat kuetradisional komersial, 3) Adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibuibuyang tergabung dalam komunitas P3EL di di jalan Banjaran 2 kelurahanBanjaran kecamatan Banjaran kota Kediri, dalam hal membuat kemasan yangsesuai dengan jenis kue tradisional, dan 4) Adanya peningkatan pengetahuandan keterampilan ibu-ibu yang tergabung dalam komunitas P3EL di di jalanBanjaran 2 kelurahan Banjaran kecamatan Banjaran kota Kediri, dalam halmemasarkan produk kue tradisional. Adapun saran yang dapat diusulkan dalamkegiatan PpM ini adalah baawa komunitas P3EL Banjaran Kediri ini dapatdigunakan sebagai wilayah binaan pada pelaksanaan PpM berikutnya denganmenimbang bahwa lokasi kegiatan pelatihan memiliki sumber daya manusiayang cukup potensial untuk dibina menuju warga yang mandiri.

PELATIHAN PEMBELAJARAN SIG DAN PJ BAGI GURU PAMONG PPG PRODI PENDIDIKAN GEOGRAFI FIS UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

Ita Mardiani Zain, , Wiwik Sri Utami, , Daryono, , Sulistinah, , Sri Murtini, , Eko Budiyanto,

Aksi Vol 13, No 1 (2012)
Publisher : Aksi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Berdasarkan pelatihan untuk guru pamong PPL PPG Prodi Geografi yangdiselenggarakan oleh fakultas Ilmu Sosial bulan Desember 2010 di Gd. I8.01.06,menyatakan sebagian besar guru Geografi SMA yang mengajarkan geografimengalami kesulitan dalam mengajarkan materi Sistim Informasi Geografis (SIG)dan penginderaan jauh (PJ). Kesulitan yang dirasakan oleh sebagian besar gurujuga dirasakan oleh semua guru geografi di Indonesia,. Hal ini juga teruangkapdalam workshop penyusunan kurikulum dan silabus PPG Prodi geografi diJakarta pada bulan Nopember 2010. Dengan demikian, materi SIG dan PJ inidiberikan pada mahasiswa PPG Prodi Geografi (sebagaimana terlampir dikurikulum dan Silabus PPG Prodi Geografi), para guru juga menyatakankesulitan pada saat pembelajaran dan media yang digunakan dalampembelajaran tersebut. Kesulitan ini harus segera terpecahkan mengingat salahsatu standar kompetensi lulusan (SKL) dari Ujian Nasional mata pelajarangeografi antara lain Pemanfaatan citra dan SIG dalam bidang :1) sumberdayaalam dan kehidupan, dan 2) menganalisis lokasi industri dan pertanian denganmemanfaatkan peta. Berdasarkan masalah tersebut, maka tujuan yang hendakdicapai dalam kegiatan PpM ini adalah meningkatkan pemahaman guru terutamatentang ”Sistem Informasi Geografis (SIG) dan Penginderaan Jauh (PJ)” danmeningkatkan pengetahuan dan pemahaman, serta ketrampilan guru dalammerancang pembelajaran SIG dan PJ dan mengimplementasikannya. Khalayaksasaran yang dilibatkan dalam kegiatan pelatihan ini adalah calon guru-gurupamong PPL PPG di sekolah mitra. Metode yang digunakan dalam kegiatan inimeliputi: 1) Sarasehan, suatu bentuk penyampaian informasi dan tanya jawabdalam suatu seminar multi arah yang digunakan pada awal pelatihan yangditujukan untuk memberikan informasi mengenai konsep SIG dan PJ, 2)Praktikum (Pelatihan), praktikum yang dimaksud dalam kegiatan ini adalah gurudilatih mengoperasikan perangkat keras dan perangkat lunak untuk SIG dan PJ.Kesimpulan dari hasil kegiatan PpM ini adalah: 1) Penguasaan materi SistemInformasi Geografis (SMA) calon guru-guru pamong PPL PPG di sekolah mitrasecara umum sudah baik. Hal ini dilihat dari hasil pre-test yang menunjukkanbahwa penguasaan konsep dan teori SIG telah dikuasai secara baik. Kondisi iniberbeda bila dibandingkan dengan saat kegiatan praktikum SIG. Sebagian besarpenguasaan praktikum baik secara konvensional maupun digital masih rendah,2) Hasil pre-test menunjukkan bahwa kemampuan awal peserta rata-rata guruSMA menunjukkan 55,5% telah menguasai materi SIG. Setelah mengikutipelatihan, kemampuan guru meningkat, hal ini ditunjukkan oleh penguasaanmateri meningkat 93%.