cover
Filter by Year
Arena
ISSN : -     EISSN : -
Articles
27
Articles
MINUMAN OLAHRAGA DAN PENINGKATAN PERFORMA ATLET

NOORDIA, ANNA

Arena Vol 5, No 1 (2013)
Publisher : Arena

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Body fluid losses during exercise can be very high, and if the fluid is not replaced quickly, dehydration will follow. This will have an adverse effect on athlete’s physical performance and health. Exercise will be much harder and suffer fatigue will be sooner. It is important to drink fluids to avoid dehydration, but over-drinking before and during exercise have a risk of water intoxication (hyponatraemia). Water is a good option before and during exercise but at a high intensity exercise for longer than one hour, there is benefit further from a sports drink.  They offer an advantage over plain water, to improve performance. This paper’s objectives are to analyze the science behind the formulation of sports drinks and as an information to consider the timing, condition, the amount and the types of fluid intake by athlete: before, during and after exercise. This information is expected to be beneficial for athletes to improve their performance.   Keywords: sports drinks, hyponatraemia, athlete’s performance, dehydration 

EVALUASI PEMBINAAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PELAJAR CABANG OLAHRAGA PANAHAN AJAWA TIMUR

Arena Vol 5, No 1 (2013)
Publisher : Arena

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kemajuan dan kejayaan suatu bangsa tak lepas dari peran generasi penerus yang kelak membawa nama harum bangsa ini pada tingkat dunia. Karenanya peran generasi muda, sangat menentukan maju mundurnya bangsa ini. Bagaimana membentuk generasi yang tangguh, tak lepas dari program pendidikan dan pembinaan sejak mereka masih kanak-kanak. Pada masa inilah mental dan kemampuan berfikir anak-anak harus dapat dibentuk dengan sebaik-baiknya. Dengan adanya otonomi daerah, pemerintah daerah Jawa Timur melalui Perda no. 32/2000 membuka babakan baru yang ditandai dengan pergeseran paradigma lama, yaitu konsep pembinaan dengan pendekatan “Top Down” yang sentralistis menjadi konsep pembinaan dengan pendekatan “Bottom Up” yang desentralisasi. Perubahan ini akan membuka lebar partisipasi publik untuk membangun olahraga nasional melalui pemberdayaan generasi muda dan olahraga di daerah masing-masing. Program olahraga yang berbasis IPTEK ini akan diupayakan untuk terus dikembangkan sesuai dengan kemampuan yang ada terutama selain bertujuan membina para pelajar berbakat di bidang olahraga, juga ingin menjadikan para anak-anak tersebut kelak juga memiliki kepandaian ilmu pelajaran di sekolah. Karena itu merupakan persyaratan penting masuk seleksi dalam program tersebut, pelajaran tersebut juga memiliki prestasi belajar atau akademik yang cukup baik. Sebagaiman halnya dengan sekolah menengah pada umumnya, kualitas sebuah lembaga pendidikan tidak dapat diamati atau dinilai secara langsung (visual) atau melalui intuisi, tetapi harus melalui pengujian, pengukuran dan pengkajian secara ilmiah atau penelitian-penelitian. Dengan kondisi seperti sekarang ini, kegiatan penelitian menjadi sangat urgen sebagai salah satu upaya pengembangan, khusunya disekolah olahraga, sebab hampir semua kajian dalam rangka pengembangan dan pencapaian tujuan sebuah lembaga pendidikan memerlukan sumbangan konsep dasar dari hasil penelitian.

EVALUASI PEMBINAAN PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PELAJAR CABANG OLAHRAGA PANAHAN AJAWA TIMUR

Arena Vol 5, No 1 (2013)
Publisher : Arena

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kemajuan dan kejayaan suatu bangsa tak lepas dari peran generasi penerus yang kelak membawa nama harum bangsa ini pada tingkat dunia. Karenanya peran generasi muda, sangat menentukan maju mundurnya bangsa ini. Bagaimana membentuk generasi yang tangguh, tak lepas dari program pendidikan dan pembinaan sejak mereka masih kanak-kanak. Pada masa inilah mental dan kemampuan berfikir anak-anak harus dapat dibentuk dengan sebaik-baiknya. Dengan adanya otonomi daerah, pemerintah daerah Jawa Timur melalui Perda no. 32/2000 membuka babakan baru yang ditandai dengan pergeseran paradigma lama, yaitu konsep pembinaan dengan pendekatan “Top Down” yang sentralistis menjadi konsep pembinaan dengan pendekatan “Bottom Up” yang desentralisasi. Perubahan ini akan membuka lebar partisipasi publik untuk membangun olahraga nasional melalui pemberdayaan generasi muda dan olahraga di daerah masing-masing. Program olahraga yang berbasis IPTEK ini akan diupayakan untuk terus dikembangkan sesuai dengan kemampuan yang ada terutama selain bertujuan membina para pelajar berbakat di bidang olahraga, juga ingin menjadikan para anak-anak tersebut kelak juga memiliki kepandaian ilmu pelajaran di sekolah. Karena itu merupakan persyaratan penting masuk seleksi dalam program tersebut, pelajaran tersebut juga memiliki prestasi belajar atau akademik yang cukup baik.

UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS TES TEKNIK SHOOTING DAN LONG PASSING UNTUK PENYELEKSIAN PEMAIN SEPAKBOLA USIA 18 – 23 TAHUN

Achmad Widodo,

Arena Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Arena

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACT  This study aims to determine the validity and reliability of test shooting and long passing techniques in soccer players aged 18-23 years. Subjects in this study were members of the club football competition Gresik Regency Executive Branch, amounting to 50 players.Based on the results of research has been done, the validity  of test instruments shooting right and left foot with a distance of 23 meters, as well as passing the test instrument long right leg and left leg as far as distance is obtained by correlating the results of the first test and score a total of two tests. The results of the first test and the correlation between total scores showed that the level of shooting tests test the validity of the right foot for a perfect 0.94 in the category, and test instruments shooting the left leg of 0.89 with enough categories. While the long test instrument passing the right leg of 0.86 with the categories and test instruments long enough passing the left foot of 0.76 with the medium category. To test the validity of the technique of 0.89 with enough categories. While the degree of reliability is calculated by the method of re-test. The results of using the product moment correlation between the results of the first test with the second test to find the degree reliabiltas showed that the shooting test instrument reliability of 0.92 with the right foot perfectly categories, and test instruments shooting the left leg of 0.86 with a perfect category. While the long test instrument passing the right leg of 0.90 with a perfect category and test instruments left foot long passing of 0.81 with a perfect category. To test the technique with reliability of 0.95 with a perfect category.The conclusion of this study was shooting a test instrument with a distance of 23 m long test instruments and passing at a distance as far as possible, using tests the right leg and left leg has a level of validity and reliability is good. Based on these results that both supported by the results of test validity and reliability testing technique is good technique can also be said that both the test instrument is a good technique when used to perform the selection of players aged 18 -23 years.Keywords: Test Validity, Reliability, Shooting, Passing Long, 18-23 Players

PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERBASIS OLAHRAGA

Amrozi Khamidi Himawan Wismanadi,

Arena Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Arena

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

  PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERBASIS OLAHRAGA Amrozi Khamidi Himawan Wismanadi   Abstrac In the implementation of education as a lifetime process of human development, sport has an absolute role in the development and growth of human. Sport canbe a powerful tool for physical andmental formation of the nation. Physical formationaccompanied with sportexercises will strengthenthe human body andits functions. Moreover, school management is a joint effort to form an educational institution and it includes many components such as goals, curriculum, human resources and school infrastructures. Since it involves many components and many people, it is necessary to arrange a good job division, and actually this is the real function of the education management. Sport-based education is the educational institution that specializes in an exploration of the science of sports, whether it is sport schools, special classes for sport or sport faculties and departments. Keywords: educational management, sport-based education   PENDAHULUAN Olahraga merupakan suatu kegiatan yang melibatkan gerak tubuh, relaksasi dan rekreasi serta sarana hiburan yang sangat menyenangkan. Dalam pembelajaran disekolah olahraga memberikan dampak pengiring yang positif bagi peserta didik misalnya ajaran fair play diolahraga mendidik siswa untuk bersikap toleransi, menjunjung asas kemanusiaan dan membantu mengikis kebrutalan siswa yang identik dengan tawuran antar pelajar yang akhir-akhir ini makin marak terjadi. Perilaku disiplin dalam kegiatan olahraga membuat siswa mampu menjadi pribadi yang santun dan menghargai sesama dan juga waktu. Pengelolaan pembinaan olahraga di sekolah yang ditata dengan baik juga bisa menghasilkan prestasi olahraga yang nantinya membawa nama baik sekolah, daerah dan negara dalam pentas olahraga. Olahraga mendidik siswa untuk mampu berfikir dengan lebih jernih, karena dengan berolahraga secara teratur maka peredaran darah di dalam tubuh akan semakin lancar. Peredaran darah yang lancar akan meningkatkan penyerapan oksigen yang lebih banyak ke otak sehingga individu akan mampu berfikir lebih jernih dan lebih baik. Pada zaman dahulu orang berfikir olahraga adalah hal yang sia-sia, tidak menghasilkan dan tidak bisa dijadikan sandaran hidup. Namun seiring perkembangan zaman fakta berkata lain, lewat olahraga banyak orang menjadi sukses, terkenal dan memiliki penghasilan lewat olahraga Amrozi Khamidi adalah  Dosen Penkep.Or FIK UNESA Himawan Wismanadi adalah  Dosen Ikor FIK UNESA   Amrozi Khamidi, Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Olahraga         tersebut. Olahraga dapat mendatangkan penghasilan baik menjadi seorang atlit maupun menjadi pelatih olahraga, sehingga olahraga semakin dianggap perlu untuk didalami maupun dikembangkan. Dapat dikatakan bahwa selain membentuk tubuh yang bugar olahraga juga mampu dijadikan pekerjaan yang dapat diandalkan. Bahkan banyak atlit-atlit yang berprestasi dapat menjadi pegawai negeri sipil karena telah dianggap berjasa dalam mengharumkan daerah dan negaranya.             Keberadaan pendidikan berbasis olahraga di Indonesia saat ini sudah ada, namun masih terbatas jumlahnya dan tidak berkelanjutan. Pendidikan olahraga yang merupakan pendidikan formal baru ada pada tingkat SMA, S1, S2 dan S3. Sedangkan yang merupakan pendidikan nonformal baik berupa sekolah maupun diklat dimulai dari usia dini seperti SSB, SBB, diklat bulutangkis dan beberapa pembinaan oleh klub yang kurang lebih dari usia SD hingga SMA ditambah pembinaan di beberapa PPLP dan PPLM. Dari latar belakang diatas peneliti tertarik untuk mengetahui penyelenggaraan pendidikan berbasis olahraga baik yang formal dan nonformal tersebut. Peneliti tidak meneliti secara mendetail program pembinaan di sekolah-sekolah berbasis olahraga tersebut namun hanya pada aspek penyelenggaraan sekolahnya saja. Hasil penelitian ini nantinya peneliti berharap bisa menghasilkan sumbangan pemahaman realita terhadap penyelenggaraan pendidikan khususnya penyelenggaraan pendidikan berbasis olahraga sehingga di masa selanjutnya dapat terbentuk sistem penyelenggaraan pendidikan olahraga yang berjenjang dan berkelanjutan. Rusli Lutan (2000) menyebutkan ”Bahwa proses latihan meliputi tahapan: 1) perkembangan multilateral, 2) spesialisasi, 3) prestasi puncak. Berikut salah satu contoh tabel tahap-tahap mulai belajar, spesialisasi dan usia puncak berprestasi sebagai pertimbangan dalam mengembangkan pembinaan olahraga.     Cabang Olahraga Usia Permulaan Olahraga Usia Spesialisasi Usia Untuk Prestasi Puncak Atletik 10 - 12 13 – 14 18 -23 Bola basket 7 – 8 10 – 12 20 -25 Tinju 13 – 14 15 – 16 20 – 25 Balap sepeda 14 – 15 16 – 17 21 – 24 Loncat Indah 6 – 7 8 – 10 18 – 22 Anggar 7 – 8 10 – 12 20 – 25 Senam putri 6 – 7 10 – 11 14 – 18 Senam putra 6 – 7 12 – 14 18 – 24 Dayung 12 -14 16 – 18 22 – 24 Sepak bola 10 – 12 11 – 13 18 – 24 Renang 3 – 7 10 – 12 16 – 18 Tenis 6-8 12 – 14 22 – 25 Bola voli 11-12 14 – 15 20 – 25 Angkat besi 11- 13 15 – 16 21 – 28 Gulat 13 – 14 15 – 16 24 – 28 Tabel 1.1   Tahapan proses latihan olahraga  (Rusli Lutan 2000) METODE PENELITIAN Desain Penelitian Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi multi kasus. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan tiga macam metode, yaitu (1) observasi; (2) wawancara dan (3) dokumentasi. Proses analisis data dengan deskriptip dilakukan dengan tiga jalur kegiatan yaitu (1) reduksi data atau penyederhanaan data (data reduction); (2) paparan data (display); (3) penarikan kesimpulan (conclusion verifying). Dalam penelitian ini akan diadakan pengecekan keabsahan data yang meliputi kredibilitas, depentabilitas dan konfirmabilitas. Informan dalam penelitian ini yaitu di SSB meliputi pelatih, manajer, pemain dan pengurus PSSI Surabaya. Di SMANOR Sidoarjo meliputi Kepala sekolah, guru olahraga, siswa dan Diknas Pendidikan setempat, sedangkan di perguruan tinggi  meliputi pimpinan perguruan tinggi meliputi Rektor, PR 1, PR 2 PR 3 dan PR 4. Dekan/ Direktur Pasca , Pembantu dekan/ Asdir, Kajur, Kaprodi serta dosen dan karyawan Fakultas Ilmu Keolahragaan UNESA. Adapun langkah yang  dilakukan dalam menganalisis data penelitian ini adalah membaca, mempelajari, menelaah seluruh data. Selanjutnya dilakukan reduksi terhadap data untuk memilah-milahkan data. Selanjutnya dilakukan pengorganisasian data dengan jalan mengklasifikasi, dan mengkategorikan data sesuai dengan masalah penelitian. Proses analisis data dengan deskriptip dilakukan dengan tiga jalur kegiatan yang dilakukan secara bersamaan, yaitu (1) reduksi data atau penyederhanaan data (data reduction), (2) paparan/sajian data (display) dan (3) penarikan kesimpulan atau verifikasi (conclusion verifying). HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Temuan Kasus 1, Kasus 2, Kasus 3 dan Kasus 4 Fokus Pertama:  Karaketeristik pendidikan berbasis olahraga yang meliputi (a)  visi misi sekolah, (b) Iklim Akademik, dan (c) prestasi sekolah.  a)        Visi dan misi sekolah adalah: (1) Berprestasi olahraga, intelektual berlandaskan imtaq dan berkepribadian bangsa, (2) Berperan dalam pendidikan ilmu olahraga, (3) Meningkatkan kualitas SDM, (4) Lulusan yang handal, berkualitas dan kompetitif. b)        Keunikan sekolah adalah: (1)  Pendidikan formal dan non formal, (2) Di bawah PSSI, Diknas dan DIKTI, (3) Teori di kelas dan praktek di lapangan selain SSB tidak ada kelas. c)        Prestasi sekolah adalah: (1) Prestasi Olahraga dan tenaga ahli tingkat nasional dan internasional, (2) Di dibidang olahraga. Fokus Kedua: Karaketeristik kurikulum dan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) yang meliputi: (a) acuan kurikulum, (b) target dan tujuan kurikulum dan (c) metode pembelajaran dan proses kegiatan belajar mengajar (KBM). a.         Acuan kurikulum adalah: (1) Materi yang diajarkan sesuai kurikulum Diknas/ Dikti dan pengalaman pelatih, (2) Acuan kurikulum dari  lembagan pend. umum dan lembaga olahraga. b.        Target dan tujuan kurikulum adalah: (1)  Mencerdaskan dan membtk atlit muda berprestasi dan tenaga ahli dalm ilmu olahraga, (2) Keseimbangan antara materi,latihan dan mampu mengelola dan memimpin program penelitian, (3) Tujuan kurikulum adalah berprestasi di lapangan, berbudi pekerti , dan berkarya dalam ilmu olahraga, (4) Sifat keterbukaan sehingga siswa dapat berprestasi di lapangan dan menentukan program/ arah cita-citanya. c.         Metode pembelajaran dan proses KBM  adalah: (1)  Teori di kelas, secara tutorial, presentasi dan kuliah mandiri dan praktek di lapangan, (2) KBM sekolah formal pada     hari efektif dan SSB di luar jam sekolah formal, (3) Intensitas latihan sesuai jadwal KBM Fokus ketiga:  Profil Sumber Daya Manusia (SDM)  yang meliputi: (a)  perencanaa strategis SDM, (b) pembagian tugas dan (c) keefektifan manajemen SDM. a.         Perencanaan strategis SDM  adalah: (1)  Guru/pelatih min berijazah S1/S2/  S3/profesor/ mantan atlit, (2) Perencanaan strategis yang mengikuti perkembangan zaman dan kemandirian, (3) Tujuannya untuk menghasilkan lulusan yang intelektual dan handal, tenaga ahli dalam ilmu olahraga, (4) Peningkatan SDM melalui studi lanjut, sandwich program, diklat, dan pelatihan. b.        Pembagian tugas  adalah: (1) Ketua/kepala, (2) Koordinator program studi, (3) Guru/dosen/pelatih , (4) Administrasi (1-4 ada di SSB dan SMANOR) dan di S1/S2/S3 UNESA terdapat (5) Direktur/Dekan, (6) Pembantu Direktur/Pembantu Dekan, (7) Ketua Laboratorium. c.         Keefektifan manajemen SDM  adalah: (1) Perencanaan program di SMANOR, FIK dan PPs UNESA tertuang dalam program jangka pendek dan panjang, sedangkan di SSB tidak ada, (2) Manajemen di SMANOR, FIK dan PPs UNESA lebih terstruktur daripada di SSB, (3) Pengawasan dari lembaga pendidikan tidak terdapat di SSB Fokus keempat:  Sarana dan Prasarana Pendidikan  yang meliputi: (a) gedung, (b) laboratorium, (c) lapangan, (d) multi media, (e) media informasi dan komunikasi dan (f) sarana prasarana penunjang pendidikan. a.         Sarana gedung  adalah: (1) SSB tidak memiliki sarana gedung, sedangkan (2) SMANOR, FIK UNESA, S2/S3 Olahraga PPs UNESA memiliki sarana gedung untuk menunjang proses belajar mengajar baik teori maupun praktek. b.        Sarana laboratorium  adalah: (1)  SSB Tidak memiliki sarana laboratorium, sedangkan (2) SMANOR, FIK UNESA, S2/S3 Olahraga PPs UNESA memiliki sarana laboratorium baik laboratorium olahraga dan laboratorium untuk pelajaran umum. c.         Sarana lapangan  adalah: (1)  Lapangan untuk cabang olahraga yang menjadi mata pelajaran, di PPs lebih menekankan pada pendalam materi bukan praktek, sedangkan (2) Status kepemilikan adalah milik sekolah, sewa dan pinjam. d.        Sarana multi media  adalah: (1)  SSB tidak memiliki sarana multi media, sedangkan (2) SMANOR,  FIK UNESA dan S2/S3 Olahraga PPs UNESA memiliki komputer dan LCD sebagai sarana multi media. e.         Sarana informasi dan komunikasi  adalah: (1)  SSB tidak memiliki sarana informasi dan komunikasi, sedangkan (2) Sarana media informasi dan komunikasi yang dimiliki   SMANOR dan S1/S2/S3 UNESA berupa telivisi, telepon, radio, media cetak dan komputer untuk mengakses situs internet. f.         Sarana prasarana penunjang pendidikan  adalah: (1)  Arena dan alat penunjang olahraga yang sesuai dengan mata pelajaran  yang ada dan penunjang proses pendidikan, (2) Status kepemilikan milik sekolah, pribadi dan pemerintah. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) visi dan misi lembaga pendidikan berbasis olahraga menjadi acuan penciptaan program dan pencapaian tujuan lembaga yang memadukan ilmu umum dan ilmu olahraga, keunikan lembaga menggambarkan perbedaan dengan lembaga pendidikan umumnya, prestasi lembaga mencerminkan keberhasilan yang memadukan antara keberhasilan pendidikan umum dan prestasi olahraga; (2) acuan kurikulum lembaga pendidikan berbasis olahraga adalah dasar yang digunakan dalam pengembangan materi pengajaran yang memadukan kurikulum pelajaran umum dan ilmu olahraga, target dan tujuan kurikulum lembaga merupakan keseimbangan antara keberhasilan pendidikan umum dan olahraga dan pembentukan atlit-atlit berprestasi, metode dan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) memadukan antara pemberian materi pelajaran dan praktek olahraga mampu menghasilkan keberhasilan pendidikan umum dan prestasi olahraga; (3) perencanaan strategis sumber daya masyarakat menjadi acuan pengembangan lembaga yang terprogram mampu mensejajarkan lembaga dalam mengikuti tuntutan perubahan zaman, pengelolan pembagian tugas  mengacu pada struktur organisasi diatur oleh lembaga pendidikan yang lebih tinggi mampu menjembatani proses manajemen yang efektif dan dinamis, peningkatan keefektifan manajemen diawali dengan pembagian tugas yang tepat sesuai peningkatan kualitas SDM berdampak pada keberhasilan; (4) pengelolaan sarana gedung dilakukan dengan memperhatikan manfaat serta kebutuhan dalam penyampaian materi dan disesuikan dengan kapasitas siswa serta tuntutan perkembangan lembaga, penerapan pendidikan melalui sarana laboratorium mempermudah siswa menerima materi serta pendalaman kemampuan siswa mengikuti perubahan, pengembangan sarana lapangan mutlak dilakukan khususnya terhadap cabang olahraga yang  ada dan mengikuti rencana pengembangan sekolah, penyediaan dan pengelolaan sarana multi media mempermudah proses belajar mengajar juga menjadikan lulusan yang menguasai dan mengikuti perkembangan teknologi, penyediaan dan pengelolaan sarana media informasi dan komunikasi mempermudah dan menambah wawasan dan menjadikan lulusan yang menguasai dan mengikuti perkembangan informasi, penyediaan dan pengadaan sarana penunjang pendidikan tidak mutlak  milik sekolah tetapi pemanfaatan dan kerjasama dengan pihak lain dapat ditempuh untuk mencapai tujuan lembaga.   PENUTUP            Penelitian ini merekomendasikan: (1) pentingnya penyelenggaraan pendidikan berbasis olahraga diselenggarakan secara formal serta berjenjang dan berkelanjutan; (2) adanya kurikulum yang tepat dan ditunjang SDM yang berkualitas yang sesuai dengan bidang ilmunya mutlak harus ada; (3) peningkatan SDM melalui rekrutmen dan peningkatan kualitas melalui pendidikan lanjut, sandwich, penataran dan pelatihan sangat dibutuhkan; (4) penambahan fasilitas agar semakin lengkap di tunjang perawatan dan optimalisasi penggunaan sarana prasarana sangat diperlukan; (5) pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Negara Pemuda Olahraga memberi dukungan serta memfasilitasi terbentuknya pendidikan berbasis olahraga berjenjang dan berkelanjutan. DAFTAR RUJUKAN   Australian Coaching Council. 1992. Beginning Coaching : Level 1 Coach’s Manual. Canberra : Australian Coaching Council Incorpotated   Bogdan, S. C. & Biklen, S. K. 1982. Qualitative Research For Education. An Introduction to Theory and Methods. Avenue,Boston,Massachusetts.   Kemenegpora. 2006. Penyusunan Kurikulum dan Bahan Ajar Pelatih Olahraga Usia Dini. Kemnegpora   Kosasi, E. 1985. Olahraga Teknik & Program Latihan. Jakarta: Akademika Presindo.   Lutan, R . 2000. Dasar-dasar Kepelatihan. Jakarta: Dep. P & K, Direktorat Jenderal Pendidikan dasar & menengah.   Miles, M. B. dan Hubermen, A.M. 1992. Qualitative Data Analisis. Diterjemahkan oleh Tjejep, R. R. 1992. Analisis data kualitatif. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia   Sajoto M., 1998. Pembinaan kondisi Fisik Dalam Olahraga. Jakarta :             Depdikbud Dirjen Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidikan.   Sonhadji, K. 1997. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif. Makalah disajikan dalam Seminar Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif  Program Pasca Sarjana IKIP Malang. Malang 9 September.   Triani, E. 2008. Klub Olahraga di Sekolah Kian Marak. www.sekolahidaman.com 16/12/2009   Weiss, M. R. 2005. Coaching Children to Embrace a "Love of the game". http://coaching.usolympicteam.com. 15/11/2009   Wieczorek, E: 1975 : Masalah Masalah Organisasi Dan manajemen Keolahragaan : Olympic Solidarity Of International Olympic Committee.  

PENGARUH LATIHAN SKIPPING DAN BARRIER HOP TERHADAP PENINGKATAN VERTICAL JUMP PADA PEMAIN TIM PUTRA BOLAVOLI DI PBV.EAGLE SUMENEP

Ach Nuari Firmansyah Yoni Herdiyanto,

Arena Vol 3, No 1 (2012)
Publisher : Arena

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

SEHAT DAN FIT DIUSIA TUA DENGAN BEROLAHRAGA

Oce Wiriawan, , Agus Hariyanto, , Amrozi Khamidi,

Arena Vol 2, No 2 (2010)
Publisher : Arena

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Old age is the accumulation of conditions and diseases of aging phenomenon is indeed a condition of Physio-biological reduction phase for the time limit set by Allah Almighty who created us. Fitness is not just physical fitness, it mirrors the passionate quality of work life (active life). Therefore, fitness fitness concerns are also psychological and social. Let us wait for ages, without accompanied by a "disease" which is basically because of our own behavior.

MANAJEMEN EKSTRAKURIKULER OLAHRAGA YANG TEPAT DALAM RANGKA MEWUJUDNYATAKAN PENGEMBANGAN DIRI SISWA DI SEKOLAH

Advendi Kristiyandaru,

Arena Vol 2, No 2 (2010)
Publisher : Arena

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF METODE STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DIVISION (STAD) UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR TEMBAKAN BEBAS (FREE THROW) PADA SISWA KELAS X-5 SISWA SMA KRISTEN PETRA 3 SURABAYA

Surjadi Hendra, , Anung Priambodo,

Arena Vol 2, No 2 (2010)
Publisher : Arena

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Physical education, sport and health is one of the subjects that are given to students. One of the sports games that are in these subjects is basketball. One of the basic techniques of basketball should have shot the student is free (throw free). Teachers teaching in applying free shot (free throw) difficulties and obstacles and barriers due to lack of knowledge of students in basic techniques of basketball games especially the basic technique of free throw. During this learning model that is used more reference to "teacher center" a lot of lectures and demonstrations using centralized so that in practice often only certain students are mastering the material, and there is a possibility some students less blatant, so skills can not be controlled optimally. It is known from low student test in conducting free shot (free throw) Student Team Achievement Division (STAD) is one of the cooperative learning method is simple and aims to improve learning outcomes through group cooperation. This kind of research using action research class (PTK) which is a cycle including the planning phase, the implementation action, observation and reflection. This research was conducted for two cycles. As before the implementation of the learning method STAD students who meet the criteria of doing well on the category of free shots once only seven people from 32 students or 21%, but after the STAD method implemented there is an increasing number of students who meet the good and excellent categories to 29 people or 91% . Besides the application of the learning method STAD also enhance teamwork and responsibility of each individual so that they help to improve individual scores that ultimately enhance appreciation (recognition) team.

PROFIL ANTROPOMETRIK DAN FITNESS PEMAIN BOLAVOLI PUTERI SDN MOJOWUKU I KEDAMEAN GRESIK

Nining Widyah Kusnanik,

Arena Vol 2, No 2 (2010)
Publisher : Arena

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

            The aim of this research is to evaluate the anthropometrical and physical performance of the female volleyball players at SDN Mojowuku I Kedamean Gresik. This study was conducted on 15 female volleyball players who has won national competition. Data was collected by test and measurement on anthropometric including height, body mass, sitting height, reaching height, and length of leg ; physical performance including explosive power ( vertical jump), speed (sprint 18m) and agility (shuttle run 8m). Data was analysis by using mean and standard deviation.             The result of this study was found that mean of height, body mass, sitting height, reaching height, and length of leg the players were 157,6±0,6 cm, 27,0±1,0 kg, 84,7±0,7 cm, 198,2±0,7 cm, 91,8±1,1 cm, and 155,2±0,7 cm., respectively. Mean vertical jump, leg strength, and back strength of the players were74,5±6,5cm, 173,6±34,1kg, and 136,2±20,4kg, respectively. Mean explosive power ( vertical jump), speed (sprint 18m) and agility (shuttle run 8m) were 27,5±2,6 cm, 5,2±0,2 seconds,  and 14,8±0,3 seconds, respectively. It can be concluded that the female volleyball players have a high posture but they were less in explosive power ability.