cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Lingua Jurnal Bahasa dan Sastra
ISSN : 18299342     EISSN : 25493183     DOI : -
Lingua, provides a forum for the full range of scholarly study of the language and literature. Embracing the field of language and literature broadly defined, the editors warmly welcome articles and research reports addressing linguistics and literature.
Articles 18 Documents
Search results for , issue " Vol 9, No 2 (2013): July 2013" : 18 Documents clear
POLA PENGIKONIKAN DALAM BAHASA INDONESIA Mardikantoro, Hari Bakti
Lingua Vol 9, No 2 (2013): July 2013
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keikonikan dalam bahasa merupakan fenomena menarik untuk dikaji. Hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor, yakni linguistik masa kini lebih terpancang perhatiannya pada bentuk-bentuk simbolik lingual yang dikatakan bersifat arbitrer, pemahaman terhadap kaidah-kaidah keikonikan mutlak perlu dalam pengkajian bahasa, bahasa Indonesia sangat kaya dengan bentuk-bentuk lingual yang bersifat ikonik itu. Temuan penelitian ini adalah ada 10 pola pengikonikan dalam bahasa Indonesia, yaitu peniruan suara atau bunyi, pernyataan kecil atau terlalu kecil, pernyataan besar atau terlalu besar, pernyataan lebar atau terlalu lebar, pernyataan panjang atau terlalu panjang, pernyataan bulat (dan membesar atau memakan tempat yang lebih besar atau lebih luas), pernyataan tonjolan atau sembulan, pernyataan perubahan, pernyataan keadaan tetap, pernyataan tidak teraturnya tindakan atau kejadian. Iconicity in language is an interesting phenomena to study. This is because of many factors : nowadays linguistics only pay attention to arbitrary lingual symbolic form, it is necessary to understand towards rules of iconis in language study, Indonesia language has many lingual iconic form. The indings of this study are 10 iconicity patterns in Indonesian language, i.e. voice/sound mimicry, statement to stress small or too small object, statement to stress big or too big object, statement to stress large or too large object, changing larger or extend, statement to stress long or too long object, changing longer, statement to stress round (and changing bigger), statement to stress bruise, statement to stress change, statement to stress ixed condition, statement to stress unconsistent of action or event.
KODE DAN KESANTUNAN DALAM RAPAT DINAS BERPERSPEKTIF GENDER DAN JABATAN Joko Santoso, B. Wahyudi
Lingua Vol 9, No 2 (2013): July 2013
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah yang dikaji adalah (i) bagaimana realisasi bentuk pemilihan kode dalam tindak tutur direktif (TTD) yang dilakukan oleh peserta rapat dinas, baik di tingkat fakultas maupun universitas di lingkungan Universitas Negeri Semarang (Unnes) dalam perspektif jender dan jabatan, (ii) bagaimana realisasi kesantunan TTD yang dilakukan oleh peserta rapat dinas tersebut? Metode penyediaan data berupa metode percakapan dengan teknik dasar sadap, serta teknik lanjutan teknik simak libat cakap, yakni menyimak dan berpartisipasi dalam pembicaraan sambil mencatat. Adapun metode analisis menggunakan metode padan, submetode sosiopragmatis dengan teknik ganti, sisip, dan perluas yang disampaikan secara deskriptif-analitik-interpretatif. Metode penyajian hasil analisis adalah informal. Hasil penelitian ini adalah realisasi penggunaan kode TTD, baik oleh rektor, ketua senat universitas, sekretaris senat universitas, dekan, pembantu dekan, kepala bagian, dan kepala subbagian (laki-laki dan perempuan) berupa kode Indonesia secara dominan, baik baku maupun tidak baku; dan sebagian kecil berupa campur kode (Indonesia tidak baku, Inggris, Jawa (halus dan ngoko), serta Arab. Dari sisi realisasi kesantunan berbahasa, baik pemimpin rapat maupun peserta rapat (laki-laki) cenderung menggunakan tindak tutur langsung, baik berpenanda kesantunan, seperti tolong, harap, mari, dan dipersilakan maupun tidak berpenanda dibandingkan dengan ber-TTD tidak langsung. Sebaliknya, pemimpin atau perserta rapat perempuan cenderung ber-TTD secara tidak langsung dengan modus interogatif. Arah TTD bersifat dua arah, baik dari pemimpin rapat maupun peserta rapat. Namun, kecenderungannya, arah tersebut TTD berasal dari yang memimpin rapat ke yang dipimpin (dari pejabat versus nonpejabat atau dari pejabat yang lebih tinggi ke yang lebih rendah). This study aimed to investigate (i) how the realization of the electoral code in the directive speech acts (TTD) conducted by a formal meeting participants, both at the faculty and university in the State University of Semarang in genre and position perspective, (ii) how the realization of politeness TTD conducted by the formal meeting participants. The data collecting method was conversation with the basic method of “tapping techniques“, advanced techniques of listening, watching, and talking in the conversation by noting. The method of data analysis was padan (matching) method. The submethod applied was sociopragmatic method with changing, inserting, expanding, and paraphrasing techniques, delivered of analytic-descriptive-interpretative writing. The method of presenting results used an informal presentation. The results of this study were: (1) the realization of TTD code, either by rector, chairman of the university senate, secretary of the university senate, dean, assistant dean, head of department, or head of subdivision officials (men and women) used Indonesian code predominantly, either formal or not formal usage, and in small groups, they used the mixed code of informal Indonesian, English, Javanese (smooth and not-smooth ngoko), and Arabic; (2) the realization of linguistic politeness, both meeting leaders and meeting participants (men) tended to use direct speech act, either politeness sign, like tolong, harap, mari, and dipersilakan or not politeness sign compared to using of indirect speech act. On the contrary, the meeting leader or women participant tended to use the indirect speech act with the interrogative mode. The direction of the directive speech act was two-way direction, for both meeting leaders and participants of the meeting. However, apparently, the direction of directive speech act tended to come from the meeting leader to the participants meeting (from official(s) versus non-officials or of higher official(s) to lower one(s)).
ANALISIS STRUKTURAL NASKAH DRAMA BERBAHASA JAWA SADUMUK BATHUK SANYARI BUMI KARYA ARIH NUMBORO Fuadhiyah, Ucik
Lingua Vol 9, No 2 (2013): July 2013
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui unsur-unsur drama Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi berdasarkan teori struktural. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Data penelitian berupa unsur-unsur yang ada dalam teks drama. Adapun sumber data penelitian ini adalah naskah drama berjudul Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi karya Arih Numboro. Adapun hasil dari penelitian ini adalah: 1) untuk memperkuat eksistensi dan mendekatkan drama Jawa kepada generasi muda, baik drama tradisional (kentrung, ketoprak dsb) maupun drama modern (teater dan film) diperlukan dukungan dari berbagai pihak, 2) teori struktural dapat menjadi salah satu alternatif cara untuk mengkaji atau menganalisis unsur-unsur yang ada dalam sebuah naskah drama, 3) unsur-unsur yang terdapat dalam naskah drama Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi berdasarkan analisis struktural meliputi: tema, dialog, latar dan setting, tokoh, penokohan, alur atau plot, dan amanat. This research aimed to find out elements of Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi drama based on structural theory. It used qualitative descriptive analysis method. Its data were the elements in drama script. Its data source was drama script of Arih Numboros Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi. Result of this research were 1) to strengthen the existence of and to approach Javanese drama to young generation, either traditional drama (kentrung, ketoprak, etc.) or modern drama (theatre and film), it needed support from many others; 2) structural theory could be an alternative way to study or analyse the drama elements; 3) the elements contained in this drama which were based on structural analysis were theme, dialogue, space and time setting, character, characterization, plot, and authors message
ANALISIS GAYA BAHASA WACANA DI ASAHI.COM Nurhayati, Silvia
Lingua Vol 9, No 2 (2013): July 2013
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggunaan gaya bahasa wacana dalam surat kabar online asahi.com. Metode penelitian kualitatif digunakan untuk menganalisis data kalimat dan kata berbentuk tulisan dari asahi shinbun online. Penelitian ini menemukan bahwa bahasa yang digunakan oleh surat kabar online asahi.com lebih mengutamakan efesiensi penulisan yang tertuang dalam penggunaan gaya bahasa elipsis. Pelesapan terjadi pada unsur partikel no、unsur kata kerjasuru、dan kopula da. Meskipun terjadi pelesapan, hal itu tidak mempengaruhi atau mengaburkan makna informasi dan opini yang disampaikan kepada pembaca. Selain itu munculnya gaya bahasa eufemisme lewat media huruf katakana dan kata yang mengandung arti idiom, untuk melukiskan opini atau informasi yang dianggap kurang baik. Meskipun demikian tidak ada standar yang jelas mengenai penggunaan kedua gaya bahasa ini sehingga berakibat pada penggunaan bahasa Jepang yang midare (tidak teratur). This research aimed to find out the use of figurative language of discourse on the online newspaper asahi.com. It used qualitative method for analysing data. The data were sentences and words in a form of writings from asahi shinbun online. The result of the research was the language used by the online newspaper, asahi.com, prioritize more on writing efficiency filled on elliptical style. A vanishing language occured on no、particle, suru、verb element, and da copula. However, it did not influence and blur out significances of information and opinion uttered to the reader. Besides that, euphemism appeared through media of katakana letters and idiomatic words in order to illustrate less good opinion and information. As a result, there was no clear standard about the use of those two figures of speech, and it caused the use of midare (irregular) Japanese language. 
PEMANFAATAN NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL PADA PENGEMBANGAN MATERI AJAR BAHASA JAWA TINGKAT SMP Yuwono, Agus
Lingua Vol 9, No 2 (2013): July 2013
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia memiliki lebih dari tiga ratus kelompok etnis yang berbeda-beda dan memiliki identitas kebudayaan yang berbeda-beda. Perbedaan inilah pada sisi negatif bisa melemahkan integritas bangsa, tetapi pada sisi lain pada kelompok etnis tersebut ditemukan nilai-nilai kearifan lokal. Tujuan utama penelitian ini adalah menemukan model pengembangan materi ajar yang memanfaatkan nilai-nilai kearifan lokal dengan harapkan dapat meningkatan integritas bangsa dan harmoni sosial. Desain penelitian ini dirancang dengan menggunakan Research and. Hasil pengembangan materi ajar bahasa Jawa Tingkat SMP dengan memanfaatkan nilai-nilai kearifan lokal yaitu (1) dengan mempertimbangkan fungsi dan pengertian ungkapan-ungkapan tradisional tersebut maka dapat dideskripsikan 17 nilai-nilai kearifan lokal, (2) materi dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar yakni materi wacana, materi berbentuk dialog atau percakapan, materi berbentuk (geguritan) atau puisi dan parikan, dan (3) pengembangan materi yang berupa wacana nilai kearifan lokal terletak pada kalimat utama dan kalimat penjelas. Pengembangan materi yang berupa percakapan, nilai kearifan lokal terletak pada prolog, monolog, dialog, dan epilog. Pengembangan materi bentuk tembang dan geguritan terletak pada gatra masing-masing tembang atau geguritan, serta pengembangan materi bentuk parikan terletak pada sampiran maupun isi. Indonesia has more than three hundred different ethnic groups and different cultural identities. Those differences negatively can decline nation integrity. On the other hand, the local wisdom values were found from them. This research main goal was to ind a model of teaching material developing which employed local wisdom values expected to increase nation integrity and social harmony. This research was designed for applying Research and Development model. The results of Javanese language teaching material developing for Junior High School student which employed local wisdom values were: (1) it was described 17 local wisdom values considering the function and the de inition of traditional expressions; (2) the material can be grouped into three big groups as follows: discourse material, dialog form material, geguritan (poetry) and parikan (aphorism); and (3) the discourse material of local wisdom values was situated at main clause and subordinate clause. The dialog material of local wisdom values were set on the prologue, monolog, dialog, and epilogue. The tembang and geguritan material developing was located on each tembang and geguritan phrases. And, the material developing of parikan was placed on its sampiran and content.
BENTUK KOMBINASI KAJIAN TEORI DAN LAPANGAN DALAM PENERAPAN MATA KULIAH FOLKLOR MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA JAWA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG Indiatmoko, B.
Lingua Vol 9, No 2 (2013): July 2013
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian adalah (1) untuk mengetahui bentuk kombinasi perkuliahanberbasis teori dengan kuliah kajian lapangan, (2) untuk mengetahuiimplementasi struktur kombinasi perkuliahan berbasis teori dengan kajianlapangan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptifstruktural kombinatif. Adapun pendekatan penelitian menggunakanpendekatan aplikasi kombinatif. Hasil penelitian adalah perkuliahan bentukkombinasi mata kuliah Folklor pada mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa danSastra Jawa Unnes dapat dihasilkan kombinasi bentuk perkuliahan yaknikuliah berbasis teori dan sekaligus dilanjutkan kuliah praktik lapangan.Implementasi struktur kombinasi pada tahap pertama dapat dilakukanperkuliahan di kelas dengan memperdalam teori folklor yang disertai dengancontoh. Perkuliahan pada struktur kedua dilakukan di lapangan dalam bentukpraktik melakukan inventarisasi folklor yang ada di masyarakat danmenemukan jenis dan bentuk folklor yang ada di masyarakat. Kuliah diakhiridengan penyerahan laporan dan re
IMPLEMENTASI TACHE PADA MATA KULIAH PRODUCTION ORALE PRÉ ÉLÉMENTAIRE Widayanti, Diah Vitri
Lingua Vol 9, No 2 (2013): July 2013
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk menerapkan tâchedalam pembelajaran berbicara (Production Orale Pré Élémentaire) di Prodi Sastra Prancis.Subjek penelitian ini adalah seluruh mahasiswa semester II angkatan 2009 Prodi SastraPrancis yang harus mengulang mata kuliah tersebut (tidak lulus di semester I).Pengumpulan data dilakukan dengan teknik tes. Data yang terkumpul dianalisis denganmenggunakan ketuntasan nilai minimal 60. Hasil observasi pada siklus I menunjukkanbahwa 43% mahasiswa mendapat nilai kurang dari 60. Pola belajar mahasiswa perludiperbaiki, sehingga pada siklus II mahasiswa diberi tugas mingguan yang dinilai:menghafalkan konjugasi dan kosakata. Pada akhir siklus II, semua responden telahberhasil mendapatkan nilai di atas 60 This research was classroom action research aiming to apply tâche in teaching Speaking(Production Orale Pré Élémentaire) at French Literature Study Program of Languages andArts Faculty of Semarang State University. Subject of this research was all second semesterstudents of French Literature Study Program 2009 batch which retook that subject (Thestudents failing this subject in first semester). Data collection was conducted by testingtechnique. The collected data were analyzed by using minimum completeness score of 60.Result of observation on cycle I showed that 43% of number of students got score less than 60.Consequently, the pattern of students learning needed to improve. On cycle II, the studentsthus were given weekly scored assignment; they had to memorize conjugation andvocabulary. In the end of cycle II, all students had succeeded to have score up to 60.
PENGEMBANGAN DESAIN PEMBELAJARAN BAHASA JAWA BERBASIS KOMPETENSI DI SMA SE-JAWA TENGAH -, Sukadaryanto
Lingua Vol 9, No 2 (2013): July 2013
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Urgensi pembejaran bahasa Jawa adalah terwujudnya keterampilan siswa dalampenggunaan bahasa Jawa secara optimal. Pada konteks ini program pembelajaran bahasaJawa hendaknya diarahkan untuk mencapai sumber daya manusia yang lebih baik. Untukitu perlu disusun desain pengembangan silabus, desain penilaian, dan desain pengelolaanpembelajaran bahasa Jawa di SMA. Desain pengembangan pembelajaran bahasa Jawa diSMA mengacu pada pembelajaran inovatif yang mengarah pada PAIKEM yakniPembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif Menyenangkan. Pelaksanaan pembelajaran inidengan memaksimalkan kegiatan-kegiatan yang disarankan masing-masing unsur dalamproses belajar mengajar. Urgency of teaching Javanese language was to embody students skill in optimally applyingthe language. In this context, the language teaching program was directed to attain a betterhuman resource. For a matter of that, it needs to be arranged a design of syllabus developing,of evaluation, and of Javanese language teaching management for Senior High Schoolstudent. The design of Javanese language teaching developing in Senior High School referredto innovative teaching directed at PAIKEM which was active, innovative, creative, effective,exciting teaching. Implementation of this teaching was done by maximizing activitiessuggested by each element in teaching and learning processes
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN GENERATIF BERBASIS KONTEKS UNTUK MENINGKATKAN KOMPETENSI KOMUNIKATIF LISAN BAHASA JAWA SISWA SMP Kurniati, Endang; Utami, Esti Sudi
Lingua Vol 9, No 2 (2013): July 2013
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Siswa SMP dalam berkomunikasi dengan bahasa Jawa umumnya tidak memperhatikanaspek kesantunan. Kondisi ini terjadi karena pembelajarannya cenderung ke arah bahasatulis. Desain penelitian ini dirancang dengan menggunakan research & development danbersifat multy years, yang dirancang dalam dua tahap penelitian. Tahap pertamamerupakan tahap penyusunan draf model pembelajaran generatif berbasis konteksuntuk meningkatkan kompetensi komunikasi lisan siswa SMP. Hasil penelitian tahappertama ini adalah (1) pelaksanaan pembelajaran komunikasi lisan mendapat porsi yangpaling sedikit karena guru dan siswa mengalami kesulitan. Umumnya siswa mengalamikesulitan berbicara dengan ragam krama karena tidak hafal kosa kata krama dan tidakmengatahui kaidah penggunaan ragam krama. Guru mengalami kesulitan dalammempersiapkan materi ajar, media pembelajaran, dan pemilihan strategi pembelajaran,(2) draf model pembelajaran komunikasi lisan dengan stategi pembelajaran generatifyang dikembangkan dilakukan dengan enam tahap, yaitu tahap eksplorasi, pemfokusan,pengenalan konsep, penerapan berbasis konteks, dan análisis kesalahan berbahasa. Default Paragraph Font;hps;High Students do not pay attention to use politeness. Thiscondition occurs because learning tends toward written language. The study design wasdesigned using research & development in multi-year, which is designed in two step ofresearch. The first step is drafting a generative model of context-based learning to improveoral communication competence of junior high school students. The results of this first phaseare (1) the implementation of learning oral communication had a little portion in class andstudents had some difficulties. Generally, students had difficulty to speak in various registerbecause they dont memorized vocabulary and do not know the use in diverse situation.Teachers had difficulty in preparing teaching materials, instructional media, and theselection of instructional strategies, (2) a draft of oral communication learning modelsusing generative learning strategy is developed in six steps: the exploration, focusing,introduction of the concept, context-based implementation, and errors analysis.
PEMANFAATAN NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL PADA PENGEMBANGAN MATERI AJAR BAHASA JAWA TINGKAT SMP Yuwono, Agus
Lingua Vol 9, No 2 (2013): July 2013
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia memiliki lebih dari tiga ratus kelompok etnis yang berbeda-bedadan memiliki identitas kebudayaan yang berbeda-beda. Perbedaan inilah padasisi negatif bisa melemahkan integritas bangsa, tetapi pada sisi lain padakelompok etnis tersebut ditemukan nilai-nilai kearifan lokal. Tujuan utamapenelitian ini adalah menemukan model pengembangan materi ajar yangmemanfaatkan nilai-nilai kearifan lokal dengan harapkan dapat meningkatanintegritas bangsa dan harmoni sosial. Desain penelitian ini dirancang denganmenggunakan Research and. Hasil pengembangan materi ajar bahasa JawaTingkat SMP dengan memanfaatkan nilai-nilai kearifan lokal yaitu (1) denganmempertimbangkan fungsi dan pengertian ungkapan-ungkapan tradisionaltersebut maka dapat dideskripsikan 17 nilai-nilai kearifan lokal, (2) materidapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok besar yakni materi wacana,materi berbentuk dialog atau percakapan, materi berbentuk (geguritan) ataupuisi dan parikan, dan (3) pengembangan materi yang berupa wacana nilaikearifan lokal terletak pada kalimat utama dan kalimat penjelas.Pengembangan materi yang berupa percakapan, nilai kearifan lokal terletakpada prolog, monolog, dialog, dan epilog. Pengembangan materi bentuktembang dan geguritan terletak pada gatra masing-masing tembang ataugeguritan, serta pengembangan materi bentuk parikan terletak pada sampiranmaupun isi.Indonesia has more than three hundred di?erent ethnic groups and di?erentcultural identities. Those di?erences negatively can decline nation integrity. Onthe other hand, the local wisdom values were found from them. This researchmain goal was to ind a model of teaching material developing which employedlocal wisdom values expected to increase nation integrity and social harmony.This research was designed for applying Research and Development model. Theresults of Javanese language teaching material developing for Junior High Schoolstudent which employed local wisdom values were: (1) it was described 17 localwisdom values considering the function and the de inition of traditionalexpressions; (2) the material can be grouped into three big groups as follows:discourse material, dialog form material, geguritan (poetry) and parikan(aphorism); and (3) the discourse material of local wisdom values was situatedat main clause and subordinate clause. The dialog material of local wisdomvalues were set on the prologue, monolog, dialog, and epilogue. The tembangand geguritan material developing was located on each tembang and geguritanphrases. And, the material developing of parikan was placed on its sampiran andcontent.

Page 1 of 2 | Total Record : 18