cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Lingua Jurnal Bahasa dan Sastra
ISSN : 18299342     EISSN : 25493183     DOI : -
Core Subject : Education,
Lingua, provides a forum for the full range of scholarly study of the language and literature. Embracing the field of language and literature broadly defined, the editors warmly welcome articles and research reports addressing linguistics and literature.
Arjuna Subject : -
Articles 18 Documents
Search results for , issue " Vol 6, No 2 (2010): July 2010" : 18 Documents clear
BENTUK, STRATEGI PENGGUNAAN, DAN KESANTUNAN TINDAK TUTUR MENOLAK DALAM INTERAKSI ANTARMAHASISWA PRODI SASTRA PRANCIS FBS UNNES Santoso, Wahyudi Joko; Widayanti, Diah Vitri; Astuti, Dwi
Lingua Vol 6, No 2 (2010): July 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.964 KB)

Abstract

The problems that were examined: (1) how the realization of speech act of refuser in French by the researchsubjects are used? (2) what strategies are used by research subjects in refuser to their partners? and (3) howthe politeness levels are used in the Speech Act of refuser by Semester VI Students?Data obtained by “fishing” techniques, “fishing” the respondents using a questionnaire. The data wereanalyzed using equivalent analytical methods subtypes with a pragmatic “tool partners of the respondents" (thelittle brother, their lover, their rector, and their parking worker) and the power of mental sort (referential) ownedby the researcher.The results showed that (1) of the realization of the speech act refuser, the respondents prefered the"declarative" mode to reject the partners than the other modes, both single mode and dual mode, (2) from thepoint of strategy used to "reject" partner respondents, most respondents tended to reject "indirectly" because itallows both participants involved in feel “face saving”, and (3) of the level politeness in the use of strategies,respondents tend to use the level politeness "very polite" and "polite" to others (lovers, rectors, and parkingworker) and tend to "not polite" to the little brother/sister.Keywords: pragmatic, speech act, realization, strategy, levels of politeness
PENGEMBANGAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA JAWA SMA KABUPATEN SEMARANG Utami, Esti Sudi; Kurniati, Endang
Lingua Vol 6, No 2 (2010): July 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.158 KB)

Abstract

Salah satu pembaruan atau inovasi terbaru yang dilakukan Pemerintah yang berkaitan dengan kurikulumpendidikan adalah diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Guru dan sekolah diberikanotonomi untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensi, permasalahan, dan kebutuhan sekolah.Penelitian tahap I ini bertujuan untuk mendeskripsikan kendala pengembangan kurikulum yang dialami guru.Metode penelitian ini dirancang dengan menggunakan desain penelitian Research Development yang dirancangselama dua tahun. Dalam pelaksanaan penelitian tahun pertama ini digunakan pendekatan kualitatif. Subjekpenelitian ini adalah guru bahasa Jawa SMA se-Kabupaten Semecarang. Pengumpulan data dilakukan denganpengamatan dan wawancara. Metode analisis yang dilakukan adalah analisis interaktif. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa kendala yang ditemukan dalam menyusun KTSP meliputi.unsur pengembangan KD, unsurlife skills, uraian pencapaian indikator siswa, pengalaman belajar, metode, penilaian, pengaturan alokasi waktu.Kata kunci: KTSP, bahasa jawa
PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN MIKRO INOVATIF BAGI PENINGKATAN KOMPETENSI PEDAGOGIK CALON GURU BAHASA INDONESIA Zulaeha, Ida; Luriawati, Deby
Lingua Vol 6, No 2 (2010): July 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (61.063 KB)

Abstract

Micro teaching sebagai mata kuliah yang wajib diberikan kepada mahasiswa sebelum diterjunkan ke sekolahlatihan seharusnya menjadi wadah pematangan mental dan karakter mahasiswa calon guru bahasa dan sastranamun pada kenyataannya, pembelajaran mikro belum tergali secara maksimal. Mahasiswa masih kesulitandalam merencanakan dan melaksanakan pembelajaran. Berdasarkan hal itu, penelitian ini bertujuanmenemukan hal-hal yang menjadi kebutuhan materi perkuliahan micro teaching, mahasiswa dan dosenberkenaan dengan pengembangan draf model pembelajaran mikro inovatif, dan menemukan karakteristik modelpembelajaran mikro inovatif yang dapat meningkatkan kompetensi pedagogik calon guru bahasa Indonesiadalam menerapkan model-model pembelajaran inovatif untuk membentuk karakter siswa. Model pembelajaranmikro inovatif ini, memiliki tiga konsep utama , yaitu penelitian atau inquiry, pengetahuan atau knowledge, dandinamika belajar kelompok atau the dynamics of the learning group. Dalam interaksinya model ini melibatkanberbagai proses berbagai ide dan pendapat serta saling tukar pengalaman melalui proses argumentasi dalamdiskusi.Kata Kunci: pengembangan model, pembelajaran mikro inovatif, kompetensi pedagogik, calon guru bahasaIndonesiaPENDAHULUAN
REGISTER PENGASUHAN BAYI DI KEC. BANYUMANIK KOTA SEMARANG DAN DI KEC. ROWOSARI KAB. KENDAL: TELAAH ETNOLINGUISTIKREGISTER PENGASUHAN BAYI DI KEC. BANYUMANIK KOTA SEMARANG DAN DI KEC. ROWOSARI KAB. KENDAL: TELAAH ETNOLINGUISTIK Baehaqie, Imam
Lingua Vol 6, No 2 (2010): July 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (116.172 KB)

Abstract

There is a slight different in the language use of baby parenting in Semarang Municipality and Kendal Regency.In this research the forms of baby parenting register in Semarang Municipality and Kendal Regency aredescribed and classified and the cultural background of the baby parenting register use in both second levelregions is outlined as well.The approach of the current study consists of two, namely theoretical and methodological approaches.Theoretically, the approach used in this research is the one of ethnolinguistics. In methodological terms,however, it is qualitative descriptive. The research data takes the form of all baby parenting registers inSemarang Municipality and Kendal Regency. The source of the research data is the utterance of mothersparenting their baby existing in both regions. The data collection is performed using conversation method with abasic technique in the form of captivate technique. Additionally, introspective method is also used. The data isanalyzed using qualitative method. The analyzed data is presented descriptively.From the obtained data, it is found that the baby parenting registers in Semarang Municipality and KendalRegency have quite varied forms. Those forms can be classified on the basis of (1) lingual unit, (2) lexiconsource, (3) need framing, and (4) actor.The cultural background of this baby parenting register use is the situational factor taking the form of thelocal social culture. This social culture can be seen in the form of the tradition developing in the baby parenting,since the age of 1 day, 7/9/11/13 days, selapan (35 days), until 1 year old developed in those two second levelregions.In addition, another issue supporting the formation of the baby parenting register is the difference in point ofview towards an event taken place around the language users in utterance event, between those in SemarangMunicipality and Kendal Regency.From the available conclusion, it is recommended for language researchers and followers of Copenhagenschool, i.e. a school of thought which, in addition to attempting to comprehend a language pattern, try tocomprehend any socio-cultural fields in general (in the context of the language) to perform research on registerin other fields. The policy makers in childhood education field are expected to be able to use it as supplementalinformation in making a policy concerning the early childhood education since seeing the lexicons related to thebaby parenting enables one to discover the working description of baby parenting.Keywords: register, baby parenting, and ethnolinguistics.
KOMPETENSI GURU DALAM MENYUSUN BUTIR SOAL PADA MATA PELAJARAN BAHASA JAWA DI SEKOLAH DASAR -, Mujimin
Lingua Vol 6, No 2 (2010): July 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.511 KB)

Abstract

Penilaian merupakan komponen penting dalam sistem pendidikan untuk mengetahui perkembangan dan tingkatpencapaian hasil pembelajaran. Penilaian memerlukan data yang baik. Salah satu sumber data itu adalah hasilpengukuran. Pengukuran merupakan seperangkat langkah dalam rangka pemberian angka terhadap hasilkegiatan pembelajaran. Kegiatan pengukuran ini biasanya dilakukan melalui tes: baik tes prestasi belajarmaupun tes psikologi. Tes, sebagai alat ukur, perlu dirancang secara khusus sesuai dengan tujuanperuntukannya, dan perlu dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, sesuai dengan kaidah-kaidah penyusunannya.Soal pilihan ganda merupakan bentuk soal yang jawabannya dapat dipilih dari beberapa kemungkinanjawaban yang telah disedikan. Kontruksinya terdiri dari pokok soal dan pilihan jawaban. Pilihan jawaban terdiriatas kunci dan pengecoh. Kunci jawaban harus merupakan jawaban benar atau paling benar sedangkanpengecoh merupakan jawaban tidak benar, namun daya jebaknya harus berfungsi, artinya siswa memungkinkanmemilihnya jika tidak menguasai materinya.Kemampuan guru menyusun butir soal ujian akhir sekolah mata pelajaran bahasa Jawa sekolah dasartahun 2008/2009 di kecamatan Banyumanik masih memprihatinkan. Hal ini diperkuat hasil analisis terhadap soalyang disusun menunjukkan; soal dari SD Islam Terpadu Hidayatullah soal dengan kategori sukar 6%, sedang34%, dan mudah 60%. Soal ujian akhir sekolah dari SD Negeri Banyumanik 01 dengan kategori sukar 6%,sedang 26%, dan mudah 68%.Belum semua guru memiliki pengalaman menyusun butir soal tersebut. Hal ini terkait dengan sistempenyusunan butir soal yang diserahkan kepada tim tertentu. Hal ini dilakukan karena jika soal disusun dandiperbanyak oleh pihak sekolah biayanya lebih besar dibanding menginduk pada sekolah lain.Kata kunci: penyusunan, butir soal, ujian akhir sekolah
PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS CERPEN MAHASISWA JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DENGAN MODEL SINEKTIKS YANG DIKEMBANGKAN Setyaningsih, Nas Haryati
Lingua Vol 6, No 2 (2010): July 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.887 KB)

Abstract

Menulis cerita pendek sering dirasakan menjadi satu hal yang berat dan susah, terutama bagi para penulispemula, termasuk mahasiswa peserta kuliah menulis kreatif. Mahasiswa mengalami kesulitan ketika diberi tugasmenulis cerpen. Cerpen-cerpen yang mereka hasilkan sebagian besar berkualitas rendah yang ditandai olehpengekspresian tema ke dalam unsur-unsur cerpen yang tidak padu dan tidak mendalam. Hal itu menunjukkanbahwa mereka tidak memahami dan menguasai tema (hal) yang mereka angkat menjadi cerpen.Permasalahan yang diangkat dalam penelitian adalah apakah perkuliahan dengan model sinektik yangdikembangkan dapat meningkatkan keterampilan mahasiswa dalam menulis cerpen.Subjek penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia S1.Desain penelitian ini dirancang berdasarkan penelitian tindakan kelas melalui dua siklus penelitian. Setiap siklusterdiri atas perencanaan, tindakan, observasi, refleksi, dan evaluasi. Pengumpulan data dilakukan melalui tes,observasi, wawancara, dan jurnal. Analisis data dilakukan secara kuantitatif dan kualitatif.Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran sinektik yang dikembangkan dapat Pembelajarandengan model sinektik yang dikembangkan ternyata dapat meningkatkan kualitas hasil belajar mahasiswa, yakniketerampilan menulis cerpen yang mencakupi indikator (1) tema, (2) kelengkapan unsur, (3) keterpaduanantarunsur, (4) kemenarikan, dan (5) penggunaan bahasa dalam cerpen. Peningkatan kualitas hasil belajarmahasiswa ini terbukti dari peningkatan rata-rata skor pratindakan sebesar 52,50 berkategori kurang, padasiklus I sebesar 66,25 berkategori cukup, dan pada siklus II 72,50 berkategori cukup. Pembelajaran denganmodel sinektik yang dikembangkan ternyata dapat mengubah perilaku belajar mahasiswa dari negatif menjadipositif.Kata Kunci: keterampilan menulis, cerpen, model sinektik
HUBUNGAN INTERTEKSTUAL ANTARA FILM DAN NOVEL AYAT-AYAT CINTA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY -, Suseno; Qomariyah, U’um
Lingua Vol 6, No 2 (2010): July 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (97.907 KB)

Abstract

Sangat menarik membicarakan dunia film dan novel karena keduanya bukan hanya suatu peristiwa budaya dansosial masyarakat seputarnya, akan tetapi film dan novel merupakan pemain, penentu, peletak dasar yangmerekam realitas kehidupan yang membias darinya. Novel dan film merupakan bentuk dari apresiasi karya senidengan media yang berbeda Berbicara masalah novel dan film tentu merupakan aktivitas yang menarik karenakeduanya berangkat dari pemenuhan apresiasi karya seni. Salah satu novel dan film yang sangat menarikuntuk dikaji adalah AAC. Penelitian ini bermaksud melihat variasi-variasi dan perubahan fungsi yang terdapatdalam film AAC berdasar novel asli selaku hipogramnya dengan meninjau sistem sastra dan sistem filmnyamelalui telaah studi ekranisasi. Untuk mendapatkan keabsahan data, penelitian ini menggunakan validitassemantis, yakni mengetahui keabsahan lewat pemaknaan data. Pemaknaan data didasarkan atas teoriintertekstual yang digunakan sebagai pisau analisisnya. Hasil temuan dipercaya sebagai data setelah dilakukanpembacaan secara berulang-ulang (intrarater). Berdasar hasil analisis yang dilakukan dapat diketahui bahwaantara film dan novel AAC terdapat perbedaan struktur dan fungsi. Sruktur yang dibahas meliputi alur, tokoh danpenokohan, serta setting. Secara umum, novel dan film AAC mempunyai alur yang hampir sama meskipun jikadirinci keduanya sedikit berbeda; misalnya adanya pengurangan peristiwa, penambahan peristiwa, ataupengubahan letak urutan peristiwa. Sedangkan perbedaan tokoh dan penokohan antara film dan novel AAClebih terletak pada penggambaran dan pengimajian. Dalam novel, penggmbaran tokoh begitu kuat dan ini tidakterlihat jelas dalam film. Begitu juga dengan penggambaran setting. Meskipun pengambilan gambar di film AACdisamakan dengan novelnya, namun kekuatan narasi bahasa novel sepertinya sulit divisualisasikan dalam film.Perbedaan cerita film dan novel menunjukkan bahwa semua itu dilakukan dalam rangka fungsi. Fungsi-fungsitersebut berangkat dari media dan konsumen yang berbeda. Film lebih berorientasi “pasar dan menginginkankarya yang marketable. Selain itu, media, pembaca, dan situasi juga merupakan fungsi-fungsi yang membentukwujud sastra tersendiri.Kata Kunci: novel, film, struktur, fungsi
PERESTRUKTURAN TEMA TOPIKAL DALAM PENGINDONESIAAN KLAUSA BERBAHASA INGGRIS Mujiyanto, Yan
Lingua Vol 6, No 2 (2010): July 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.701 KB)

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan untuk memecahkan masalah pokok: Bagaimana perestrukturan Tema Topikal untukmencapai perpadanan fungsional dalam pengindonesiaan teks berbahasa Inggris. Dengan demikian, tujuanpenelitian ini memberikan penjelasan mengenai perestrukturan Tema Topikal di dalam klausa untukmenghasilkan teks sasaran yang berpadanan fungsional dengan teks sumbernya. Penelitian yang dilakukandengan ancangan studi kasus ini diarahkan untuk secara terencana menganalisis teks tertulis yang berbahasaInggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia untuk memperoleh gambaran mengenai perpadananfungsional antara kedua bahasa tersebut. Empat langkah pokok yang ditempuh di dalam menganalisis seluruhdata ialah (1) penyusutan data, (2) displai data, (3) analisis data, dan (4) inferensi. Dengan prosedur itu,penelitian ini menghasilkan temuan bahwa Tema Topikal direstruktur menggunakan dua cara. Cara pertamaadalah memertahankan pola klausa BSa sehingga dari tindak penerjemahan dihasilkan klausa BSa yang padaumumnya berpola seperti dalam BSu. Cara kedua adalah melalui proses tematisasi, yaitu memosisikan unsurtertentu Rheme pada awal klausa dalam fungsinya sebagai Theme, baik bertanda maupun tak bertanda.Perestrukturan ini pada umumnya dilakukan dengan inversi ataupun permutasi.Kata Kunci: topical theme, permutation, thematization
PROFIL LULUSAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA JAWA FBS UNNES -, Hardyanto; Kurnia, Ermi Dyah
Lingua Vol 6, No 2 (2010): July 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.116 KB)

Abstract

Dalam masa lima tahun terakhir (2004-2008) Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa telahmeluluskan sebanyak 108 mahasiswa. Keberadaan lulusan program ini perlu diketahui untuk melihat apakahtelah sesuai dengan visi dan misi yang telah digariskan. Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian ini akanberusaha mengetahui profil lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa. Di samping itu,kompetensi-kompetensi apa yang diperoleh selama perkuliahan yang bermanfaat dalam profesinya sertainstitusi apa sajakah yang dapat menampung lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa selainintitusi pendidikan.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data penelitian ini adalah data kualitatif profillulusan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa yang tersebar di Jawa Tengah. Pengumpulan datamenggunakan teknik dokumentasi, angket, dan wawancara. Analisis data dilakukan melalui (1) reduksi data, (2)sajian data, (3) penarikan kesimpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama penyelesaian studi lulusan ini berkisar antara 4,06 – 4,46 tahun.Masa tunggu untuk memperoleh pekerjaan yang pertama antara 1 – 6,96 bulan. Dari 108 lulusan tersebut yangberhasil dihubungi sejumlah 104 orang. Dari 104 lulusan tersebut 2 di antaranya sampai sekarang belumbekerja. Semua lulusan program studi ini bekerja sebagai guru. Adapun mata kuliah yang mendukung profesimereka yaitu mata kuliah keterampilan berbahasa dan pengajaran.Profil lulusan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa ini berdasarkan data yang diperoleh darilulusan program studi ini. Oleh karena itu, disarankan adanya penelitian lanjutan yang berfokus pada tanggapanpengguna dari lulusan program studi ini.
HUBUNGAN INTERTEKSTUAL ANTARA FILM DAN NOVEL AYAT-AYAT CINTA KARYA HABIBURRAHMAN EL SHIRAZY -, Suseno; Qomariyah, U’um
Lingua Vol 6, No 2 (2010): July 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sangat menarik membicarakan dunia film dan novel karena keduanya bukan hanya suatu peristiwa budaya dansosial masyarakat seputarnya, akan tetapi film dan novel merupakan pemain, penentu, peletak dasar yangmerekam realitas kehidupan yang membias darinya. Novel dan film merupakan bentuk dari apresiasi karya senidengan media yang berbeda Berbicara masalah novel dan film tentu merupakan aktivitas yang menarik karenakeduanya berangkat dari pemenuhan apresiasi karya seni. Salah satu novel dan film yang sangat menarikuntuk dikaji adalah AAC. Penelitian ini bermaksud melihat variasi-variasi dan perubahan fungsi yang terdapatdalam film AAC berdasar novel asli selaku hipogramnya dengan meninjau sistem sastra dan sistem filmnyamelalui telaah studi ekranisasi. Untuk mendapatkan keabsahan data, penelitian ini menggunakan validitassemantis, yakni mengetahui keabsahan lewat pemaknaan data. Pemaknaan data didasarkan atas teoriintertekstual yang digunakan sebagai pisau analisisnya. Hasil temuan dipercaya sebagai data setelah dilakukanpembacaan secara berulang-ulang (intrarater). Berdasar hasil analisis yang dilakukan dapat diketahui bahwaantara film dan novel AAC terdapat perbedaan struktur dan fungsi. Sruktur yang dibahas meliputi alur, tokoh danpenokohan, serta setting. Secara umum, novel dan film AAC mempunyai alur yang hampir sama meskipun jikadirinci keduanya sedikit berbeda; misalnya adanya pengurangan peristiwa, penambahan peristiwa, ataupengubahan letak urutan peristiwa. Sedangkan perbedaan tokoh dan penokohan antara film dan novel AAClebih terletak pada penggambaran dan pengimajian. Dalam novel, penggmbaran tokoh begitu kuat dan ini tidakterlihat jelas dalam film. Begitu juga dengan penggambaran setting. Meskipun pengambilan gambar di film AACdisamakan dengan novelnya, namun kekuatan narasi bahasa novel sepertinya sulit divisualisasikan dalam film.Perbedaan cerita film dan novel menunjukkan bahwa semua itu dilakukan dalam rangka fungsi. Fungsi-fungsitersebut berangkat dari media dan konsumen yang berbeda. Film lebih berorientasi “pasar dan menginginkankarya yang marketable. Selain itu, media, pembaca, dan situasi juga merupakan fungsi-fungsi yang membentukwujud sastra tersendiri.Kata Kunci: novel, film, struktur, fungsi

Page 1 of 2 | Total Record : 18