cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Lingua Jurnal Bahasa dan Sastra
ISSN : 18299342     EISSN : 25493183     DOI : -
Lingua, provides a forum for the full range of scholarly study of the language and literature. Embracing the field of language and literature broadly defined, the editors warmly welcome articles and research reports addressing linguistics and literature.
Articles 17 Documents
Search results for , issue " Vol 6, No 1 (2010): January 2010" : 17 Documents clear
WUJUD FORMAL DAN WUJUD PRAGMATIK IMPERATIF DALAM BAHASA JAWA Kurnia, Ermi Dyah
Lingua Vol 6, No 1 (2010): January 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jika membicarakan tuturan imperatif atau kalimat perintah, biasanya yang ada di dalam benak kita adalahtuturan yang menggunakan konstruksi imperatif. Artinya, sudut pandang yang dipakai dalam kajian ihwaltuturan imperatif hanya berfokus pada aspek struktural. Padahal, pernyataan yang demikian dalamperkembangan pemakaian bahasa secara fungsional dapat menimbulkan persoalan. Persoalannya adalahbahwa dalam kegiatan bertutur makna pragmatik imperatif ternyata tidak hanya dapat dinyatakan dengankonstruksi imperatif saja melainkan dapat pula dinyatakan dengan konstruksi-konstruksi lainnya.Berdasarkan hal itu, maka permasalahan yang dapat diidentifikasi adalah: (1) Bagaimanakah wujud formaltuturan imperatif dalam bahasa Jawa? (2) Bagaimanakah wujud pragmatik tuturan imperatif dalam bahasaJawa?Tujuan penelitian ini adalah (a) memaparkan wujud formal tuturan imperatif dalam bahasa Jawa, dan(b) memaparkan wujud formal tturan imperatif dalam bahasa Jawa. Data penelitian ini meliputi berbagaimacam tuturan dalam bahasa Jawa keseharian baik secara tertulis maupun secara lisan sejauh di dalamnyaterkandung maksud atau makna pragmatik imperatif. Data penelitian dapat berwujud tuturan yangmengandung tuturan imperatif langsung maupun tidak langsung. Data disediakan dengan mengunakanmetode simak dan cakap. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metodekontekstual. Hasil analisis data disajikan secara informal, artinya hasil temuan penelitian disajikan dalambentuk kata-kata biasa yang sangat teknis sifatnya.Hasil penelitian ini adalah bahwa imperatif dalam bahasa Jawa memiliki dua macam perwujudan.Kedua jenis perwujudan itu mencakup (1) wujud formal imperatif dan (2) wujud pragmatik imperatif. Secaraformal, imperatif dalam bahasa Jawa meliputi (1) imperati aktif dan (2) imperatif pasif. Secara pragmatik,imperatif bahasa Jawa mencakup beberapa perwujudan, yakni imperatif yang mengandung maknapragmatik (a) desakan, (b) bujukan, (c) himbauan, (d) persilaan, (e) larangan, (f) perintah, (g) permintaan,dan (h) ngelulu. Dengan pelaksanaan kegiatan ang terencana dan hasil ang diperoleh, peneliti menyarankanagar penelitian yang berkenaan dengan pemakaian tuturan imperatif dalam bahasa Jawa perluditindaklanjuti dengan penelitian lain yang serupa, berancangan sama, namun memiliki ruang lingkup kajianyang lebih sempit, misalnya pemakaian tuturan imperatif bahasa Jawa pada ranah atau dialek tertentu,untuk mendapatkan analisis yang mendalam dan didapatkan kelengkapan pemerian pemakaian tuturanimperatif dalam masyarakat yang berbahasa Jawa.Kata kunci: wujud formal, wujud pragmatik, imperatif bahasa Jawa
PEMAKAIAN BAHASA KOMUNITAS PEDAGANG DI PASAR KLEWER KOTA SALA: SEBUAH PERAN KAJIAN SOSIOLINGUISTIK MENJAGA TRADISI Utami, Triyoga Dharma
Lingua Vol 6, No 1 (2010): January 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menjabarkan perwujudan pemakaian bahasa dan pola interaksi verbal,mengetahui register dalam bertransaksi dan bersosialisasi serta mengidentifikasi faktor penentu pemakaianbahasa komunitas pedagang beretnik Jawa dengan mitra-tutur yang beretnik bukan Jawa. Kajian mengacupada teori sosiolinguistik. Tulisan ini berdasarkan penelitian kualitatif penulis pada tahun 2004. Data yangdikumpulkan adalah percakapan sehari-hari di lokasi penelitian. Ditemukan bahwa pemakaian bahasa olehpemilik kios dan penjaga kios sebagai anggota komunitas pedagang beretnik Jawa terkait erat denganhubungan sosial keseharian mereka. Hubungan sosial terwujud karena interaksi teratur dan berulangdengan pemilik kios lain, penjaga kios lain, pembeli, pemasok, dan penagih. Bahasa yang digunakan adalahbahasa Indonesia, bahasa Jawa dan campuran. Faktor penentu pemakaian bahasa terbagi menjadi faktorbahasa dan non-bahasa. Faktor bahasa meliputi bahasa Jawa dialek Solo, tingkat tutur, dan posisi bahasaJawa sebagai bahasa ibu. Faktor non-bahasa mencakup keragaman latar belakang etnis penutur,perwujudan hubungan sosial antar-penutur, dan tradisi budaya.Kata kunci: pemakaian bahasa, sosiolinguistik, keragaman, tradisi budaya
ALIH KODE DAN CAMPUR KODE PADA TUTURAN PENYIAR ACARA CAMPURSARI RADIO PESONA FM Sukoyo, Joko
Lingua Vol 6, No 1 (2010): January 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis alih kode dan campur kode pada tuturan penyiarcampursari radio Pesona FM. Subyek penelitian ini adalah bahasa yang digunakan para penyiar acaracampursari di radio Pesona FM Sukoharjo, sedangkan obyeknya adalah alih kode dan campur kode padatuturan penyiar acara campursari radio Pesona FM. Metode dan teknik pengumpulan data yang digunakandalam penelitian ini adalah metode simak, dengan teknik rekam dan catat. Data-data yang diperoleh,kemudian dianalisis dengan teknik analisis deskriptif sesuai dengan konteksnya. Jenis-jenis kode yangditemukan adalah alih kode intern yang meliputi 1) alih kode antarbahasa yaitu bahasa Jawa ke bahasaIndonesia (50%) dan dari bahasa Indonesia ke bahasa Jawa (23,6%). 2) alih kode antartingkat tutur (undhausukbasa) yaitu dari ragam krama ke ragam ngoko (17,6%) dan sebaliknya, dari ragam ngoko ke ragamkrama (8,8%). Jenis campur kode yang muncul pada tuturan penyiar acara campursari radio Pesona FMadalah 1) campur kode ke dalam (88,1%) dan alih kode ke luar (11,9%). Alih kode ke dalam meliputicampur kode antara kode bahasa Jawa dengan bahasa Indonesia. Alih kode ke luar meliputi campur kodeantara bahasa Jawa dengan bahasa asing, misalnya bahasa Inggris dan bahasa Arab.Kata kunci: campur kode, alih kode, tuturan, penyiar, campursari
REGISTER PENGAMEN: STUDI PEMAKAIAN BAHASA KELOMPOK PROFESI DI SURAKARTA Lestari, Prembayun Miji
Lingua Vol 6, No 1 (2010): January 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui register pengamen kelompok profesi di Surakarta danmemaparkan pola interaksi verbal atau karakteristik pemakaian bahasa yang digunakan para pengamendalam kegiatan mengamen dan berkomunikasi sehari-hari. Landasan teori penelitian ini mengacu padasejumlah teori dalam sosiolinguistik, yaitu seputar bahasa dan masyarakat. Penelitian ini bersifat deskriptifkualitatif. Data yang dikumpulkan merupakan data percakapan sehari-hari. Sumber data adalah informandan peristiwa atau aktivitas. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah criterion-based selectiondan teknik internal sampling. Metode pengumpulan data dilakukan melalui observasi di lapangan danwawancara mendalam. Teknik-teknik yang diterapkan dalam observasi langsung adalah teknik sadap, tekniksimak libat cakap, teknik simak bebas libat cakap, teknik rekam, dan teknik catat. Wawancara mendalamdilakukan dengan cara wawancara individual, wawancara dengan informan inti, dan wawancara kelompok.Analisis data ini bersifat kontekstual dengan model analisis interaktif yaitu dengan menggunakan langkahlangkahreduksi data, sajian data dan verifikasi. Kesimpulannya bahwa pengamen memiliki bahasa khas /register yang tidak dimiliki masyarakat lain. Pola interaksi verbal (baik komunikasi yang sifatnya internal,eksternal maupun campuran) dapat berwujud bahasa campuran Jawa – Indonesia ragam nonformal.Kata kunci: register, pola interaksi verba, karakteristik pemakaian bahasa.
VARIASI PEMAKAIAN TINGKAT TUTUR BAHASA JAWA DI WILAYAH EKS KARESIDENAN KEDU (KAJIAN SOSIODIALEKTOLOGI) Astuti, Eka Yuli
Lingua Vol 6, No 1 (2010): January 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aims at studying the use of Javanese in Ex. Karesidenan Kedu (abbreviated as BJKK). Itis based on sociodialectology approach. This study deals with the social variables of the subjects includingtheir education, occupation, and age; besides rural-urban distinction that influences the variations BJKKspeakers. The language uses are classified into variations related to phonological, morphological,syntactical, lexical, speech-level aspects.The drawing of primary data was based on a research instrument containing 1001 questionsqualitatively developed from Swadesh List containing 200 new base-word items. The research location (RL)was classified into three RLs according their historical relations. There are RLs, i.e. RL -1 Magelang, RL -2Kebumen, RL -3 Dieng Wonosobo. The criterion of RL selection was based on the BJJS similarities (OP-1),Banyumas as well as Sundanese (RL-2) dialect influence, and lingual characteristics that are similar to thatof Banyumas dialect and BJJS (RL-3). All data have been analyzed using descriptive method.The research finding on phonological level showed that among he speakers at BJKK the phonologicalsystem has 8 vowels and 20 consonants. The BJKK words were formed through morphological process,such as affixation, reduplication, and composition process. In syntactical level, this research founddeclarative, interrogative, and imperative sentences based on the function and the related context, whosevariation can be applied in various speech level context such as Ng, Md, Kr, and KI. The acquisition ofspeech level of the three OP and six variables are different from each other. The speakers in RL-1 acquirethe speech level better than the ones in RL -2 and RL -3. The educated speakers whose occupation werefarmers, acquired the speech level better than the other variables.Among the speakers of Javanese at BJKK, there was a variety uses of phones and morphs such asthe use of {-aken} affix. This affix was intensively used at RL-2 and RL-3 as imperative Ng marking affix. Thistype of suffix was not used at BJJS whose affix was used in Kr level. The syntactical variation took place inthe part of imperatives and the use of dialect such as [si], [sih], [je], [lah], [.diG] used in informal situation.The dominating variety of lexicon that is different from BJJS was found in RL-2. In the speech level, thedominating variety was found in Kr level. BI interferences were intensively used in peripheral location. That isnot an extraordinary phenomenon when the speakers have obstacles to choose the best speech level order.Key words: sociodialectology, social variation, speech level variation
KEEFEKTIFAN PENGGUNAAN ALIH KODE DAN CAMPUR KODE DALAM WACANA DAKWAH AGAMA ISLAM KAUM WANITA Pristiwati, Rahayu
Lingua Vol 6, No 1 (2010): January 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wacana dakwah agama Islam kaum wanita sangat dipengaruhi faktor-faktor sosial dan situasional yangmelingkupinya. Walaupun bahasa yang digunakan bahasa Indonesia resmi. Namun demikian, kenyataannyadalam dakwah sering digunakan alih kode dan campur kode. Penelitian perihal keefektifan penggunaan alihkode dan campur kode di dalam wacana dakwah agama Islam belum diteliti. Masalah yang diteliti di dalampenelitian ini adalah apa sajakah fungsi dan keefektifan penggunaan alih kode dan campur kode dalamwacana dakwah agama Islam kaum wanita. Penelitian ini bertujuan menemukan fungsi alih kode dancampur kode dan mengidentifikasi keefektifan penggunaan alih kode dan campur kode di dalam wacanadakwah agama Islam kaum wanita.Data dalam penelitian terdiri atas wacana, penggalan wacana, dan kalimat tuturan dakwah agamaIslam kaum wanita yang diduga mengandung unsur alih kode dan campur kode bersumber wacana dakwahradio RCA Tegal. Korpus data berupa transkripsi delapan wacana dengan topik yang berbeda.Pengumpulan data menggunakan teknik rekam dan teknik catat. Teknik analisis yang digunakan adalahteknik kontekstual dan teknik analisis normatif.Hasil penelitian bersimpulan bawha keefektifan alih kode dapat berwujud (1) meyakinkan, (2)mengakrabkan, (3) mengajak, (4) menyampaikan maksud tertentu, (5) memberikan nasihat, dan (6)mengingatkan. Adapun keefektifan campur kode berwujud (1) menjelaskan, (2) menyampaikan implikatur,(3) menonjolkan keterpelajaran, dan (4) menghormat pendengar. Keefektifan penggunan alih kode dancampur kode dalam wacana dakwah agama Islam kaum wanita ditentukan oleh derajat komunikasi antarapenceramah dengan pendengar.Kata Kunci: fungsi, keefektifan, wacana dakwah
BENTUK DAN FAKTOR PENYEBAB PENGGUNAAN JARGON MASYARAKAT NELAYAN DI REMBANG N, Deby Luriawati
Lingua Vol 6, No 1 (2010): January 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jargon adalah kosakata khusus yang digunakan dalam setiap bidang kehidupan, keahlian, dan lingkunganpekerjaan yang tidak dimengerti kelompok lain. Masyarakat nelayan di Rembang dalam komunikasi sehariharimenggunakan jargon, tetapi, mereka tanpa sadari kadang-kadang menggunakan jargon dengan orangdi luar kelompoknya sehingga lawan tutur mereka tidak paham. Permasalahan dalam penelitian ini adalahbentuk jargon apa sajakah yang digunakan oleh masyarakat nelayan di Rembang dan faktor-faktor apasajakah yang menyebabkan jargon digunakan oleh masyarakat nelayan di Rembang , Data penelitian iniberupa wacana dialog masyarakat nelayan di Rembang yang di dalamnya diduga mengandung jargon. Datadikumpulkan dengan teknik wawancara dan perekaman. Data dianalisis dengan menggunakan metodenormatif dan metode etnografi komunikasi digunakan untuk mengidentifikasi faktor penyebab jargondigunakan. Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut. Jargon yang digunakanmasyarakat nelayan di Rembang ada yang berbentuk kata tunggal dan kata kompleks, frasa, serta ada yangberbentuk singkatan dan akronim. Faktor yang mentebabkan jargon digunakan, yaitu faktor kebiasaan yangturun temurun dan faktor keinginan masyarakat untuk menunjukkan identitas kelopoknya. Sesuai denganpenelitian ini, saran yang disampaikan adalah (1) bagi masyarakat luar yang ingin berhubungan secaraefektif dengan masyarakat nelayan tersebut harus memahami jargon itu. Diharapkan masyarakat luarmempelajari jargon di sana, (2) situasi kebahasaan dalam masyarakat nelayan dengan segala keunikan dilingkungan mereka ini masih memungkinkan untuk dikaji dari berbagai sudut pandang keilmuan, tidak hanyadari linguistik saja, tetapi dari sudut pandang ilmu lain misalnya ilmu antropologi untuk memperoleh deskripsikeebudayaan pada masyarakat tuturannya secara sistematis dan mendalam.Kata Kunci: bentuk, faktor penyebab jargon, dan masyarakat nelayan
PERSEPSI DAN HARAPAN MAHASISWA DAN DOSEN TERHADAP PEMBELAJARAN KETERAMPILAN BAHASA ARAB -, Zukhaira; Kuswardono, Singgih
Lingua Vol 6, No 1 (2010): January 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengungkap persepsi mahasiswa dan dosen terhadap penyelenggaraan danpelaksanaan pembelajaran keterampilan berbahasa Arab, dan mengungkap harapan-harapan mahasiswadan dosen tentang pembelajaran keterampilan berbahasa Arab di Prodi Pendidikan Bahasa Arab. Penelitianini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Kesimpulan penelitian ini adalah: (1) Secaragaris besar persepsi mahasiswa dan dosen terhadap pembelajaran keterampilan berbahasa Arab ekspresifdan reseptif sudah berjalan dengan baik. (2) Kelemahan yang menonjol dalam proses belajar mengajarketerampilan berbahasa Arab yaitu; banyaknya materi pembelajaran yang tidak sesuai dengan kebutuhanmahasiswa dan tidak membantu mahasiswa untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Arab, dosendalam penyampaian materi tidak menggunakan metode bervariasi, banyaknya dosen yang tidakmenggunakan media pembelajaran, dan pola evaluasi yang tidak sesuai dengan materi yang diajarkan sertahanya menguji pada ranah kognitif saja. (3) Mahasiswa dan dosen berharap agar pembelajaranketerampilan dapat berjalan dengan baik dengan dukungan fasilitas dan sarana yang lebih memadai.Kata kunci : persepsi, harapan, pembelajaran keterampilan, bahasa Arab
PENGEMBANGAN RANCANGAN MATA KULIAH SASTRA BANDINGAN DENGAN METODE SINKRONIK-DIAKRONIK BERBASIS LAPANGAN DI PRODI BAHASA DAN SASTRA JAWA -, Sukadaryanto; Nugroho, Yusro Edy
Lingua Vol 6, No 1 (2010): January 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui, apakah pengembangan rancangan perkuliahan Sastra Bandingandengan metode sinkronik-diakronik berbasis lapangan dapat meningkatkan hasil belajar dan etosmahasiswa . Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang dirancang melalui duasiklus. Subjek penelitiannya, mahasiswa prodi Sastra Jawa Unnes semester 6 sejumlah 30orang.Penelitian menggunakan dua instrumen, yaitu instrumen tes dan instrumen nontes.Teknik analisisdata menggunakan analisis deskriptif prosentase dan secara deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasilpenelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan sebagai berikut. Hasil penelitian menunjukkan bahwarancangan perkuliahan sasta bandingan dengan metode sinkronik-deakronik berbasis lapangan terbuktisecara maknawi mampu meningkatkan kompetensi mahsiswa dalam membandingkan cerita rakyat yangmeliputi aspek peceritaan, unit naratif, fungsi pelaku, motif cerita, dan latar belakang cerita. Pada siklus Inilai rata-rata hasil belajar mahasiswa yang diungkap dalam kompetensi membandingkan cerita rakyatberbasis lapangan adalah 81,64, pada siklus II naik menjadi 88,09. Etos belajar mahasiswa menunjukkanperilaku yang positif dilihat dari awal perkuliahan sampai akhir perkuliahan. Hal ini tampak pada keaktifanselama perkuliahan, keterlibatan dalam bekerja sama di lapangan, dan keseriusan dalam mengerjakantugas.Kata kunci: sastra bandingan, sinkronik-diakronik
BENTUK DAN FAKTOR PENYEBAB PENGGUNAAN JARGON MASYARAKAT NELAYAN DI REMBANG N, Deby Luriawati
Lingua Vol 6, No 1 (2010): January 2010
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jargon adalah kosakata khusus yang digunakan dalam setiap bidang kehidupan, keahlian, dan lingkunganpekerjaan yang tidak dimengerti kelompok lain. Masyarakat nelayan di Rembang dalam komunikasi sehariharimenggunakan jargon, tetapi, mereka tanpa sadari kadang-kadang menggunakan jargon dengan orangdi luar kelompoknya sehingga lawan tutur mereka tidak paham. Permasalahan dalam penelitian ini adalahbentuk jargon apa sajakah yang digunakan oleh masyarakat nelayan di Rembang dan faktor-faktor apasajakah yang menyebabkan jargon digunakan oleh masyarakat nelayan di Rembang , Data penelitian iniberupa wacana dialog masyarakat nelayan di Rembang yang di dalamnya diduga mengandung jargon. Datadikumpulkan dengan teknik wawancara dan perekaman. Data dianalisis dengan menggunakan metodenormatif dan metode etnografi komunikasi digunakan untuk mengidentifikasi faktor penyebab jargondigunakan. Hasil penelitian yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut. Jargon yang digunakanmasyarakat nelayan di Rembang ada yang berbentuk kata tunggal dan kata kompleks, frasa, serta ada yangberbentuk singkatan dan akronim. Faktor yang mentebabkan jargon digunakan, yaitu faktor kebiasaan yangturun temurun dan faktor keinginan masyarakat untuk menunjukkan identitas kelopoknya. Sesuai denganpenelitian ini, saran yang disampaikan adalah (1) bagi masyarakat luar yang ingin berhubungan secaraefektif dengan masyarakat nelayan tersebut harus memahami jargon itu. Diharapkan masyarakat luarmempelajari jargon di sana, (2) situasi kebahasaan dalam masyarakat nelayan dengan segala keunikan dilingkungan mereka ini masih memungkinkan untuk dikaji dari berbagai sudut pandang keilmuan, tidak hanyadari linguistik saja, tetapi dari sudut pandang ilmu lain misalnya ilmu antropologi untuk memperoleh deskripsikeebudayaan pada masyarakat tuturannya secara sistematis dan mendalam.Kata Kunci: bentuk, faktor penyebab jargon, dan masyarakat nelayan

Page 1 of 2 | Total Record : 17