cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Lingua Jurnal Bahasa dan Sastra
ISSN : 18299342     EISSN : 25493183     DOI : -
Core Subject : Education,
Lingua, provides a forum for the full range of scholarly study of the language and literature. Embracing the field of language and literature broadly defined, the editors warmly welcome articles and research reports addressing linguistics and literature.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue " Vol 13, No 2 (2017): July 2017" : 10 Documents clear
ANALISIS STRATA NORMA KUMPULAN SAJAK NIKAH ILALANG KARYA DOROTHEA ROSA HERLIANY: MENGGESER IDEOLOGI KONTRA FEMINIS DALAM MASYARAKAT PATRIARKHI Ristiyani, Ristiyani
Lingua Vol 13, No 2 (2017): July 2017
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan: 1) mendeskripsikan strata norma dalam kumpulan sajak Nikah Ilalang karya Dorothea Rosa Herliany; 2) mendeskripsikan bentuk upaya menggeser ideologi kontra feminis dalam masyarakat patriarkhi pada kumpulan sajak Nikah Ilalang karya Dorothea Rosa Herliany. Pendekatan yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini adalah deskriptif kualitatif berdasarkan kajian kepustakaan. Pemilihan pendekatan ini diharapkan dapat memberikan gambaran secara cermat mengenai keadaan atau gejala tertentu pada objek kajian. Dalam hal ini penulis berusaha membuat gambaran mengenai upaya menggeser idiologi kontra feminis dalam masyarakat patriarkhi melalui analisis strata norma pada kumpulan sajak Nikah Ilalang karya Dorothea Rosa Herliany dengan menggunakan teori stilistika. Dalam Kumpulan Sajak Nikah Ilalang Karya Dorothea Rosa Herliany terdapat strata norma lapis bunyi, lapis arti, lapis objek, lapis dunia, dan lapis metafisis. Adapun bentuk upaya menggeser ideology kontra feminis dalam masyarakat patriarkhi melalui bentuk kelamin dan bentuk pekerjaan.This study aims: 1) describing strata norm in anthology of Nikah Ilalang work of Dorothea Rosa Herliany; 2) describing the form of effort in shifting the ideology of contra feminism in patriarchy community in anthology of Nikah Ilalang work of Dorothea Rosa Herliany. The approach used in writing this paper is descriptive qualitative based on literature review. Selection of this approach is expected to provide an accurate description of the particular situation or symptom of the object of study. In this case the author tries to make a description about the effort in shifting the ideology of contra feminism in patriarchy community through analysis of strata norm in anthology of Nikah Ilalang work of Dorothea Rosa Herliany by using stylistic theorem. In anthology of Nikah Ilalang work of Dorothea Rosa Herliany there are strata norms of sound layer, meaning layer, object layer, world layer, and metaphysic layer. As for the form of effort in shifting the ideology of contra feminism in patriarchy community is through gender and occupation.
UPAYA PEMERTAHANAN BAHASA MINANGKABAU RAGAM NONFORMAL PADA KOMUNITAS SENI SAKATO DI KOTA YOGYAKARTA Alika, Shintia Dwi; Rokhman, Fathur; Haryadi, Haryadi
Lingua Vol 13, No 2 (2017): July 2017
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahasa Minangkabau merupakan salah satu bahasa daerah di Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat yang penutur aslinya adalah suku Minangkabau. Komunitas Seni Sakato merupakan komunitas yang berasal dari suku Minangkabau yang cukup aktif dan berpengaruh di Kota Yogyakarta. Walaupun berada jauh dari daerah asalnya Sakato tetap menggunakan bahasa Minangkabau di tengah masyarakat bersuku Jawa. Hal ini membuat peneliti tertarik untuk meneliti tentang upaya pemertahanan bahasa kajian sosiolinguistik. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode simak dan wawancara. Upaya pemertahanan bahasa Minangkabau dianalisis menggunakan teori Miles dan Huberman (pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan simpulan). Berdasarkan hasil analisis data, upaya pemertahanan bahasa Minangkabau ragam nonformal pada Komunitas Seni Sakato di Kota Yogyakarta meliputi upaya pemertahanan bahasa Minangkabau dalam kegiatan seni, upaya pemertahanan bahasa Minangkabau dalam bidang sastra, upaya pemertahanan bahasa Minangkabau dalam keluarga dan upaya pemertahanan bahasa Minangkabau dalam kehidupan sehari-hari.Minangkabau language is one of the regional languages in Indonesia originating from West Sumatra whose native speakers are Minangkabau tribe. Sakato Art Community is a community that originated from the Minangkabau tribe who is quite active and influential in Yogyakarta City. Despite being away from his home region Sakato still uses the Minangkabau language in a Javanese tribal community. This makes the researcher interested to examine efforts to preserve the language of sociolinguistic studies. This research is descriptive qualitative. The data collection method used is the method of referring and interviewing. Effort to preserve Minangkabau language were analyzed using Miles and Hubermans theories (data collection, data reduction, data presentation and conclusion drawing). Based on the data analysis, effort to preserve the non-formal Minangkabau language in Sakato Art Community in Yogyakarta City include efforts to preserve Minangkabau language in art activities, efforts to preserve minangkabau language in the field of literature, efforts to preserve minangkabau language in the family and efforts to preserve Minangkabau language in daily life day.
PENGEMBANGAN BULETIN KAMPUS BERMUATAN NILAI KEBHINEKAAN PANCASILA UNTUK MENANGKAL RADIKALISME PADA MAHASISWA STKIP DARUSSALAM CILACAP Purnomo, Pajar
Lingua Vol 13, No 2 (2017): July 2017
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangsa Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai macam etnis, budaya, dan agama. Para pendiri bangsa Indonesia menyatukan kebhinekaan tersebut melalui dasar negara Pancasila. Fenomena yang terjadi sekarang, kebhinekaan tersingkir oleh kelompok sosial yang lebih dominan dengan memaksakan pola yang berkarakteristik penyeragaman dengan alasan persatuan. Akumulasi dari hal tersebut, maka terjadi lunturnya pemahaman konsep nilai kebhinekaan Pancasila pada generasi muda. Penelitian ini bertujuan (1) Mendeskripsikan pengetahuan mahasiswa STKIP Darussalam Cilacap tentang konsep Nilai kebhinekaan Pancasila, (2) Mengetahui kebutuhan mahasiswa terhadap buletin kampus yang bermuatan nilai kebhinekaan Pancasila, (3) Menyusun buletin kampus sesuai kebutuhan mahasiswa, dan (4) Mendeskripsikan efektivitas buletin kampus dalam menangkal radikalisme. Metode penelitian menggunakan research and development (R&D) yang dilakukan dengan sepuluh tahap. Hasil penelitian menunjukan (1) 45% mahasiswa belum mengetahui konsep Kebhinekaan Pancasila yang tepat, (2) Mahasiswa membutuhkan buletin kampus yang dilengkapi kolom suara mahasiswa, (3) Penelitian berhasil mengembangkan buletin kampus dengan nama WOLES dan (4) Buletin kampus terbukti mampu menangkal radikalisme yang berasal dari dalam dan luar kampus. Pengembangan buletin kampus WOLES menjadi sinergi yang positif antara keterampilan mengolah kata dan rasa bagi mahasiswa.The Indonesian nation is a plural society consisting of various ethnic, cultural, and religious. The founders of the Indonesian nation united the diversity through the foundations of the Pancasila state. The phenomenon that occurs today, diversity is excluded by the more dominant social groups by imposing patterns characterized by uniformity with the reasons of unity. The accumulation of these things, then the lunturnya understanding of the concept of the value of diversity Pancasila in the younger generation. This study aims to (1) Describe the knowledge of STKIP Darussalam Cilacap students about the concept of the value of diversity of Pancasila, (2) to know the needs of students on campus bulletin with the value of diversity of Pancasila, (3) to prepare campus bulletin according to the students needs, and (4) to describe the bulletin effectiveness Campus in warding off radicalism. Research method using research and development (R&D) done with ten stages. The result of the research shows that (1) 45% of students do not know the right concept of Pancasila Kebhinekaan, (2) Students need campus bulletin with student vocal column, (3) Research successfully develop campus bulletin with name WOLES and (4) Bulletin of proven campus Able to ward off radicalism that comes from inside and outside the campus. The development of campus bulletin WOLES becomes a positive synergy between word processing skills and taste for students.
KEEFEKTIFAN PEMBELAJARAN MENULIS SURAT PRIBADI UNTUK KEPENTINGAN RESMI MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN M4 (MAKE A MATCH-MIND MAP) DAN MODEL PEMBELAJARAN MM-TTW (MAKE A MATCH-THINK TALK WRITE) DENGAN MEDIA GAMBAR PADA SISWA KELAS VII SMP Fajriyah, Nurul; Wagiran, Wagiran
Lingua Vol 13, No 2 (2017): July 2017
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan pembelajaran menulis surat pribadi untuk kepentingan resmi menggunakan model M4, model MM-TTW, dan mengetahui model yang lebih efektif dalam pembelajaran menulis surat pribadi untuk kepentingan resmi. Penelitian ini menggunakan nonequivalent control group design, populasi kelas VII SMP Negeri 4 Magelang, sampel VII E dan VII F. Hasil penelitian (1) model M4 efektif digunakan dalam pembelajaran menulis surat pribadi untuk kepentingan resmi, dibuktikan dengan Sig. (2-tailed) 0,000 < 0,05, artinya terdapat perbedaan yang dignifikan antara pretest dan posttest model M4, (2) model MM-TTW efektif digunakan dalam pembelajaran menulis surat pribadi untuk kepentingan resmi, dibuktikan dengan Sig. (2-tailed) 0,000 < 0,05, artinya terdapat perbedaan yang dignifikan antara pretest dan posttest model MM-TTW, dan (3) ada perbedaan yang signifkan antara posttest model M4 dan MM-TTW, dibuktikan dengan nilai Sig. (2-tailed) = 0,029 < 0,05, sehingga disimpulkan bahwa model M4 lebih efektif digunakan dalam pembelajaran daripada model MM-TTW.This study aims to determine the effectiveness of writing personal letter for official purposes study using the m4 model, the mm-TTW model, and to know which model is more effective in writing personal letter of official purposes study. This research uses nonequivalent control group design, the population is class VII of SMP Negeri 4 Magelang, the samples are class VII E and VII F. The results of this research are (1) m4 model is effective in writing personal letter of official purposes study is evidenced by Sig. (2-tailed) 0,000 < 0,05, which means there is a significant difference beetween the pretest and posttest of M4 model, (2) MM-TTW model is effective in writing personal letter of official purposes study is evidenced by Sig. (2-tailed) 0,000 < 0,05, which means there is a significant difference beetween the pretest and posttest of mm-TTW model, and (3) there is a significant difference between the posttest of m4 model and MM-TTW model is evidenced by Sig. (2-tailed) = 0,029 < 0,05, so it can be concluded that the m4 model is more effective in writing personal letter of official purposes study than the MM-TTW model.
NEGOSIASI MITOS HUBUNGAN PEREMPUAN DENGAN ALAM DALAM TEKS OPERA BATAK PEREMPUAN DI PINGGIR DANAU KARYA LENA SIMANJUNTAK (TINJAUAN EKOFEMINISME) W, Elly Prihasti; Udasmoro, Wening; Simatupang, Lono L.
Lingua Vol 13, No 2 (2017): July 2017
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perempuan lahir bukan sebagai perempuan, tetapi menjadi perempuan. Pernyataan Beauvoir ini mempertegas bahwa sosok perempuan ada karena menjadi. Sosok perempuan atau ibu yang ideal dari zaman peradaban sampai sekarang selalu mengalami perubahandari yang paling dihargai/dipuja sampai dibenci/dicela. Sastra adalah kaya tiruan yang mampu merefleksikan dan merepresentasikan dunianya. Teks Opera Batak Perempuan di Pinggir Danau karya Lena Simanjuntakmerepresentasikan bagaimana perempuan dimitoskan mempunyai kedekatan dengan alam sampai pada yang mengingkari alam.Namun demikian, ada pandangan yang kontras dalam diri perempuan maupuan antar individu. Bagaimanakah hubungan perempuan dengan alam dimitoskan? Data penelitian ini berupa kalimat-kalimat dalam dialog yang menggabarkan tematema hubungan perempuan dengan alam. Data diperoleh dengan menggunakan metode simak. Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan teknik dialogis kontradiktif, yaitu data yang kontradiksi didialogkan dengan menggunakan kajian ekofeminisme, yang melihat dampak pembanguan bagi kedekatan perempuan dengan alam.Hasil penelitian menunjukka bahwa zaman dan kuasa berandil dalam menciptakan mitos hubungan perempuan dengan alam.Simone de Beavoir stated that women are born not as a woman, but being a woman. This statement confirmed that women exist because of being. The ideal figure of a woman or the mother in the present times civilization is always on changing, from the most respected figure/ adoredto become a hated / heckled figure. These figures of women ricely reflected in literary works to record the image of women through their world. Lena SimanjuntaksOpera Batak Perempuan di Pinggir Danauis one of literary works, which represent how women mythologyzed of which they have a closeness relationshipwith nature or denies nature. Women even portrayed have a contrast views between one another, or they have no the universal view about the nature. The changeof the myth of women relationship with nature is caused of the changing times and the power that surround it. So, this writing will explore how the myth of women relationship with nature negotiated in this literary work. The data of this study is taken from sentences in the dialogue that illustrate the theme of all natural relations with women. Data obtained using methods refer to. The collected data were then analyzed by dialogic contradictory,by using ecofeminism point of view, then decided to be the tools of analysis. They stated that there is a close relationship between the development impact on women closeness to nature.
KAJI ULANG MATA KULIAH DALAM STRUKTUR KURIKULUM BERBASIS KKNI PRODI SASTRA INDONESIA UNESA Savitri, Agusniar Dian; Laksono, Kisyani
Lingua Vol 13, No 2 (2017): July 2017
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian Evaluasi Kurikulum Berbasis KKNI Prodi Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa) dilatarbelakangi oleh penyusunan kurikulum berbasis KKNI yang didasari oleh Perpres nomor 8 tahun 2012. Kurikulum tersebut telah diterapkan pada tahun ajaran 2015/2016. Salah satu Permasalahannya adalah masih banyak ketidaksesuaian antara komponen-komponen kurikulum, yaitu sebaran dan jenis mata kuliah. Sebab itu, perlu dilakukan kaji ulang terhadap mata kuliah dalam struktur kurikulum Prodi Sastra Indonesia Unesa. Metode yang digunakan untuk mengevaluasi kurikulum tersebut adalah metode observasi yang melibatkan pelaksana dan pengguna kurikulum yaitu dosen dan mahasiswa. Hasilnya yaitu 1) perlu mata kuliah khusus untuk capaian mahir berbahasa secara lisan dan tulis; 2) menyatukan mata kuliah antropologi linguistik dan etnolinguistik; 3) menghapus mata kuliah genolinguistik; 4) mengubah bobot SKS mata kuliah metode penelitian dan metode penelitian bahasa/sastra; 5) memunculkan mata kuliah prasyarat; dan 6) menambah mata kuliah bahasa daerah sebagai mata kuliah pilihan yang dapat menunjang analisis/penelitian bahasa/sastra.The research of KKNI Based Curriculum Structure Evaluation In Indonesian Literature Study Program Of UNESA is backed by the forming of KKNI based curriculum which is constituted by Perpres number 8 year 2012. The curriculum has been implemented in the school year 2015/2016. One of the problems is that there are still many discrepancies between the curriculum components, namely the distribution and type of courses. Therefore, it is necessary to review the courses in Indonesian Literature Study Program Of UNESA. The method used to evaluate the curriculum is the observation method which involves the implementers and users of the curriculum whom is lecturers and students. The result is 1) the needs of special courses to achieve proficiency in language both orally and written; 2) combining linguistic and ethno linguistic anthropology courses; 3) removing the genolinguistic courses; 4) adjusting SKS weight for the subjects of research methods and research methods of language / literature; 5) eliciting prerequisite courses; and 6) adding regional language courses as elective courses that can support the analysis / research of language / literature.
EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK (PROJECT BASED LEARNING) DALAM PENGEMBANGAN KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI GURU Kosasih, E.
Lingua Vol 13, No 2 (2017): July 2017
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan lembaga pendidikan tinggi keguruan (LPTK) di dalam menghasilkan guru yang profesional pertama-tama diukur dari kecakapan untuk melaksakan tugasnya sebagai tenaga kependidikan. Peran guru yang strategis itu menyiratkan makna bahwa upaya untuk menyiapkan tenaga guru yang berkualitas harus dilakukan melalui mekanisme yang berstandar, terkontrol, dan teruji. Oleh karaena itu, kami melakukan penelitian tindakan dengan menggunakan model pembelajaran berbasis proyek di dalam mengembangkan profesionalisme guru sebagai tenaga pendidik. Melalui model tersebut para guru (peserta pelatian) dapat belajar lebih efektif dan lebih sistematis karena proses yang mereka lakukan langsung berdasarkan masalah dan kebutuhan-kebutuhan nyata yang mereka hadapi di lapangan.The ability of higher education institutions to produce professional teachers is first measured by the ability to perform their duties as educational personnel. Such strategic role of the teacher implies, that the effort to prepare qualified teachers should be done through a standardized, controlled, and tested mechanism. Therefore, we conduct research action using a project based learning model in developing teacher professionalism as an educator. Through the model the teachers (trainees) can learn more effectively and more systematically because the process they do directly based on the problems and real needs they face in the field.
ANALISIS WACANA PARADIGMA KRITIS TEKS BERITA PENGHINAAN PANCASILA OLEH HABIB RIZIEQ SIHAB PADA SEAWORD.COM DAN LIPUTAN6.COM Sobari, Teti; Hamidah, Ida
Lingua Vol 13, No 2 (2017): July 2017
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu berita yang akhir-akhir ini menjadi buah bibir atau sorotan beberapa media baik lokal maupun nasional adalah kasus Habib Rizieq yang digugat karena dianggap telah melecehkan bahkan menghina Pancasila.Kasus ini penulis angkat menjadi sorotan, selain karena aktual dan menjadi sorotan berbagai media.Penulis juga ingin mengetahui duduk perkara yang sebenarnyamengenai berita ini dan mengetahui bagaimana pendapat berbagai media mengenai masalah ini. Rumusan masalah penelitian ini adalah 1) bagaimanakah analisis wacana paradigma kritis Van Dijk mengenai berita penghinaan Habib Rizieq terhadap Pancasila dalam Seword.com dan Liputan6.com; 2) apakah perbedaan analisis wacana paradigma kritis Van Dijk dalam berita penghinaan Pancasila dalam Seword.com dan Liputan6.com?dan 3) Apakah terdapat ideologi tertentu dalam berita tentang penghinaan Pancasila oleh Habib Rizieq pada Seword.com dan Liputan6.com? Adapun alat analisis untuk mengurai masalah ini adalah analisis wacana dengan menggunakan paradigma kritis.Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif kualitatif.Berdasarkan perbandingan terhadap dua teks maka dapat disimpulkan bahwa teks Seword.com cenderung memihak pada ideologi dan hegemoni kaum tertentu yang agak bertentangan dengan segala yang berbau Islam. Hal ini terlihat dari berbagai aspek telaah dalam analisis Van Dijk ini. Sedangkan Liputan6.com lebih cenderung netral, hanya memfasilitasi informasi yang akan disampaikan apa adanya tanpa misi untuk menjatuhkan ideologi tertentu/golongan tertentu.One of the recent news that became the highlight of some media, both local and national is the case of Habib Rizieq who are sued for being considered harassing and even insulting Pancasila. This case the author adopted into the spotlight, because in addition to the case being actual and became the spotlight of various media. The author also wish to know the real phenomenon about this news and find out how the views of various media on the issue. The formulation of this research problem is 1) how to analyze the Van Dijk critical paradigm discourse about the news of Habib Rizieq mockery toward Pancasila in Seword.com and Liputan6.com; 2) what is the difference of Van Dijk critical paradigm discourse analysis in the news of mockery of Pancasila in Seaword.com and Liputan6.com? and 3) Is there a certain ideology in the nows about mockery of Pancasila by Habib Rizieq in Seaword.com and Liputan6.com? The analytical tool to solve this problem is discourse analysis by using critical paradigm. The research method used is descriptive qualitative. Based on the comparison of two texts, it can be concluded that the text in Seaword.com tends to side with the ideology and hegemony of certain people who are somewhat at odds with everything Islamic. This is evident from various aspects of the analysis in the Van Dijk analysis. Whereas Liputan6.com more tends to be neutral, only facilitate the information to be delivered as it is without an intention to bring down certain ideology/groups.
PENGGUNAAN KATA PENGHUBUNG (SEBALIKNYA, MALAH ATAU MALAHAN, APALAGI, DAN JANGANKAN) DALAM PENULISAN KALIMAT BAHASA INDONESIA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 25 MAKASSAR Munirah, Munirah
Lingua Vol 13, No 2 (2017): July 2017
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk memperoleh hasil yang jelas tentang bagaimana penggunaan kata penghubung dalam kalimat bahasa Indonesia pada siswa kelas VII SMP Negeri 25 Makassar.jenis ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah teknik observasi, teknik penugasan, dan dokumentasi. Adapun sampel dari penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 25 Makassar yaitu sebanyak 28 orang siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum bentuk penggunaan kata penghubung dalam kalimat bahasa Indonesia pada siswa kelas VII SMP Negeri 25 Makassar sangat rendah. Dari 25 soal tentang penggunaan kata penghubung yang terdiri atas 13 jenis kata penghubung yang diberikan dalam tugas, seperti kata penghubung dan, dengan, dan atau; namun, sedangkan, dan sebaliknya; malah, hanya, dan lagipula; apalagi, itupun, dan jangankan; serta kata penghubung bahkan yang menunjukkan tingkat penggunaannya yang tertinggi yaitu kata penghubung sebaliknya sebanyak 16 orang siswa menggunakannya, kata penghubung apalagi sebanyak 10 orang siswa menggunakan, dan kata penghubung jangankan sebanyak 12 orang yang menggunakan. Penggunaan kata penghubung di atas dikarenakan siswa kurang memahami fungsi dari tiap-tiap kata penghubung dengan baik, sehingga dalam penggunaan kata penghubung tersebut seringkali tertukar atau salah. Selain itu, masih terdapat siswa yang menghadapi kerancuan dalam memahami makna suatu kata penghubung sehingga penggunaan kata penghubung dalam kalimat menjadi tidak tepat.The purpose of this study was to obtain a clear result of how the use of conjunctions in Indonesian Language sentences by class VII students of SMPN 25 Makassar. The type of research is descriptive qualitative research. Data collection techniques in this study are observation techniques, assignment techniques, and documentation. The sample of this research is class VII students of SMPN 25 Makassar as many as 28 students. The results of this study indicate that in general the use of conjunctions in Indonesian Language sentences by class VII students SMP Negeri 25 Makassar is very low. From 25 questions about the use of conjunctions consisting of 13 types of conjunctions given in the assignment, such as conjunctions dan, dengan, and atau; namun, sedangkan, and sebaliknya; malah, hanya, and lagipula; apalagi, itupun, and jangankan; as well as conjunction bahkan. Which shows the highest level of use is conjunction sebaliknya as many as 16 students use it, conjunction apalagi as many as 10 students use it, and conjunction jangankan as many as 12 students use it. The use of the above conjunctions is because the students do not understand the function of each conjunction well, so that the use of conjunctions is often switched or wrong. In addition, there are still students who face confusion in understanding the meaning of some conjunctions causing the use of the conjunction in the sentence to be inappropriate.
KEMAMPUAN RESEPTIF ANAK USIA TIGA TAHUN TERHADAP TINDAK TUTUR DIREKTIF Ocktarani, Yesika Maya
Lingua Vol 13, No 2 (2017): July 2017
Publisher : Lingua

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Makalah ini menguraikan tentang kompetensi anak usia tiga tahun dalam mempersepsi dan memproduksi tindak tutur direktif baik yang diucapkan secara langsung maupun tidak langsung. Seluruh data yang disajikan, diperoleh melalui observasi langsung terhadap empat anak yang berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang sosial ekonomi yang berbeda serta wawancara mendalam kepada guru dan orang tua anak. Data yang berupa tuturan maupun respon tindakan anak, diklasifikasikan berdasar jenis tindak tutur direktifnyasedang data yang berupa informasi dari guru dan orang tua disajikan sebagai gambaran keseharian aktivitas dan lingkungan kebahasaan keluarga si anak. Dari hasil penelitian tampak bahwa bahwa anak usia tiga tahun telah memiliki kompetensi dalam TTD. Kemampuan anak mempersepsi tindak tutur mewujud dalam respon verbal maupun tindakan terhadap tuturan orang lain. Sementara kemampuan memproduksi TTD juga sudah mulai terlihat pada kemampuan menggunakan tuturan langsung maupun tidak langsung, meskipun dalam bentuk yang sederhana.Kemampuan tersebut tidak lepas dari dukungan lingkungan kebahasaan yang dimiliki anak berupa stimulasi verbal seperti ajakan berbicara dan pujian yang di dapat dari rumah maupun sekolah.This paper is aimed to give perspective about childrens pragmatic competence particularly on their performance in Directive Speech Acts (DSA) and also to describe their linguistic environment which supports their pragmatic performance.Direct observation is used in order to get data naturally and it is also completed by indepth-interview with childrens parents and teachers. Childrens responses as the unit of analysis are classified based on the type of responses toward DSA,whereas the information from parents and teachers is used to describe child environment. The result shows that 3-year-old children have had receptive ability towards DSA. They ability in understanding DSA, which formed in direct and indirect speech, can be seen through their responses to ones DSA, both verbally and non-verbally. In other hand, they also have ability to produce DSA, although still in simple utterances. They can use both direct and indirect form of DSA to express their intention. Another result of this research is that children should have linguistic environment to stimulate their ability in using language as tools of communication. The more children interact verbally with a speech community, the better their pragmatic competence will be.

Page 1 of 1 | Total Record : 10