JOGED
ISSN : 18583989     EISSN : -
JOGED merangkai beberapa topik kesenian yang terkait dengan fenomena, gagasan konsepsi perancangan karya seni maupun kajian. Joged merupakan media komunikasi, informasi, dan sosialisasi antar insan seni perguruan tinggi ke masyarakat luas.
Articles 73 Documents
TARI KLANA ALUS SRI SUWELA GAYA YOGYAKARTA PERSPEKTIF JOGED MATARAM

Supriyanto, Mr.

JOGED Vol 3, No 1 (2012): Vol. 3 Nomer 1 Mei 2012
Publisher : JOGED

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tari Klana Alus Sri Suwela gaya Yogyakarta yang dikenal sampai sekarang ini merupakan tipe tari putra dengan karakter halus, dan hal ini dapat dilihat dari volume gerak serta visualisasi karakternya. Tari Klana Alus Sri Suwela gaya Yogyakarta merupakan salah satu dari beberapa bentuk tari yang bersumber dari wayang wong di Keraton Yogyakarta. Tari ini menggambarkan seorang raja atau kesatria yang sedang jatuh cinta kepada seorang wanita yang menjadi kekasihnya. Di dalam adegan jejeran wayang wong lakon Sri Suwela di Keraton Yogyakarta terdapat komposisi tari nglana, kemudian dilepas tersendiri menjadi bentuk tari tunggal. Penulisan ini untuk mengetahui pengaruh wayang wong di Keraton Yogyakarta terhadap tari Klana Sri Suwela, dan membahas penerapan konsep jogèd Mataram dalam tari Klana Sri Suwela. Penulisan ini menggunakan dua pendekatan yang melatarbelakanginya, yaitu pendekatan tekstual dan pendekatan konstektual. Secara tekstual pemberlakuan tari berkaitan dengan bentuk, struktur, dan gaya tarinya. Secara kontekstual pemberlakuan tari sebagai teks kebudayaan, dapat ditelaah melalui kedudukannya di masa sekarang kaitannya dengan catatan yang ada di masa lampau. Pencermatan tari Klana Alus Sri Suwela melibatkan unsur-unsur yang mendasari penjelasan tentang konsep tari Jawa gaya Yogyakarta. Unsur- unsur wiraga, wirama, dan wirasa merupakan unsur-unsur yang sangat penting dalam menjelaskan konsep tari Jawa. Di dalam pelaksanaan menari unsur wiraga, wirama, dan wirasa harus dibekali suatu ilmu yang disebut jogèd Mataram. Jogèd Mataram sekarang ini dikenal dengan konsep jogèd Mataram, terdiri dari empat unsur yaitu, sawiji, greged, sengguh, dan ora mingkuh. Bentuk dan struktur tari mengacu pada tata hubungan dalam struktur tari, sistem pelaksanaan teknik dan cara bergerak dalam bagian-bagian tubuh penari sebagai perwujudan tari yang utuh. Kata Kunci: Konsep Joged Mataram

REOG OBYOGAN SEBAGAI PROFESI

Hendro Martono, Mr.

JOGED Vol 3, No 1 (2012): Vol. 3 Nomer 1 Mei 2012
Publisher : JOGED

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Zaman telah berubah, penari seni rakyat tidak lagi dilirik orang karena tidak dapat menjadi profesi yangmenguntungkan dalam mengais uang. Tidak demikian di reog Obyogan yang hidup di desa-desa sekitar kotaPonorogo Jawa Timur, penari Obyogan bisa menjadi profesi yang lumayan mendatangkan rejeki bagi paragadis remaja. Profesi penari Obyogan bersifat sementara sampai kondisi fisik penari tidak menarik lagi atausudah menikah. Obyogan berbeda dengan reog Festivalan yang sudah dikenal masyarakat luas, justru penariObyog menjadi penari utama dengan bergerak goyang pinggul sensual, mirip goyang ngebor dan gergaji didangdut. Peran Jathil ditransformasikan menjadi peran wanita yang seksi, peran lain dihilangkan. PemainDadak Merak masih dipertahankan sebagai ikon reog. Tulisan ini menyoroti upaya-upaya dan manajemenpenari Obyog yang terdiri dari: berlatih tari Obyog, mengubah karakter tari, pencitraan, strategi persaingan,pendapatan, pengeluaran dan pemasaran. Profesi penari Obyog yang temporer tetap harus dihargai sebagaipelaku pelestari dan pengembang seni tradisional. Penari Obyog juga membuka lapangan kerja non formaldan mengurangi urbanisasi serta migrasi. Pemerintah wajib memberi penghargaan berupa pelatihan kerjauntuk masa datang, dan beasiswa sekolah hingga perguruan tinggi. Keyword: reog, obyog, profesi Abstract

PELAJARAN TARI : IMAGE DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER ANAK

Kuswarsantyo, Mr.

JOGED Vol 3, No 1 (2012): Vol. 3 Nomer 1 Mei 2012
Publisher : JOGED

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tari adalah salah satu cabang seni yang dalam ungkapannya menggunakan bahasa gerak tubuh. Untukmencapai kualitas kepenarian yang bagus, seorang penari dituntut penguasaan aspek wiraga, wirama danwirasa. Namun ternyata tidak hanya cukup penguasaan tiga aspek tersebut agar pemahaman tari secara utuhdipahami. Aspek di luar teknis sebenarnya lebih banyak manfaat yang bisa kita peroleh jika kita mempelajaritari secara kontekstual. Permasalahan seputar pelajaran tari di sekolah umum (baca : SD, SMP, dan SMA) sebenarnya berkutatpada masalah image orang terhadap pelajaran tari yang dipandang sebelah mata. Pertanyaan yang pantas kitaajukan kepada para pelaku dan pendidik seni tari adalah : mampukah kita merubah image tari daripemahaman tekstual menjadi kontekstual? Manfaat yang dapat kita peroleh dari pemahaman secara konteksualitas tentang tari sebenarnya akanmemberikan kontribusi yang signifikas terhadap pembetukan karakter siswa yang mempelajari. Kedalamanisi dan makna di balik pelajaran tari inilah yang selama ini belum banyak dikupas pendidik seni tari disekolah umum. Dengan pemahaman kontekstualitas itu maka anggapan tari sebagai pelajaran praktik ansichakan terkikis. Tari adalah pelajaran yang memiliki kompleksitas permasalahan terkait dengan masalah sosial,budaya, antropologi, politik hingga permasalahan global. Untuk itulah belajar tari yang benar adalah belajarsecara kontekstual dengan mempertimbangkan apa yang ada dalam tari itu secara utuh, sehingga kita tidakhanya terpancang pada aspek teknik dalam olah wiraga saja. Pemahaman nilai-nilai filosofi joged matarammenjadi penting artinya, karena akan memberikan manfaat untuk pembentukan karakter bagi anak yangmempelajarinya Konsep sawiji, greget, sengguh dan ora mingkuh dapat diterapkan dalam kehidupan seharihari,karena prinsip tersebut merupakan dasar untuk melaksanakan kehidupan yang oleh Suryobrongtodisebut dengan way of life.

SISTEM PEWARISAN PENARI ROL DALAM WAYANG ORANG PANGGUNG

Dr. Hersapandi,SST.,MS., Mr.

JOGED Vol 3, No 1 (2012): Vol. 3 Nomer 1 Mei 2012
Publisher : JOGED

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The system of inheritance in the puppet stage appears to face a popular issue on the values ofprofessionalism that demands self-discipline and commitment to wrestle in total. Inheritance takes place intwo categories, namely: the first category that the inheritance according to the direct lineage or a child ofthe dancer roller. The second category, the inheritance of acquired dancer roller which is not the biologicalparent, but as a senior where he played the puppet people. Although they were aware that the dancer rolleris never created because it is considered as a replacement actor rivalry. A top dancer is an individual who has a mastery of knowledge and the quality of the high technicalskills, and be able to incarnate into a figure that was delivered. The top dancer transmission regeneration inthe context of the puppet stage is a must propesional profession in building a public figure image as aniconic of audience appeal. Keywords: top dancer, professional, icons appeal, inheritance

Tari Gandrung Terob Sebagai Identitas Kultural Masyarakat Using Banyuwangi

RINA MARTIARA dan ARIE YULIA WIJAYA, Mrs.

JOGED Vol 3, No 1 (2012): Vol. 3 Nomer 1 Mei 2012
Publisher : JOGED

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tari Gandrung Terob sebagai Identitas Kultural Masyarakat Using Banyuwangi. Gandrung Terobmerupakan objek yang dikaji guna mengupas pola pikir masyarakat Using Banyuwangi. Sudut pandang yangdipakai adalah Strukturalisme Levi-Strauss. Struktur merupakan susunan bagian-bagian dari suatu sistemyang saling terkait. Segala sesuatu yang memiliki bentuk diyakini memiliki struktur. Struktur kalimat dalambahasa yang terdiri atas susunan huruf, fonem, dan kata, tidak akan memiliki arti apabila tidak terdapatrelasi-relasi yang menghubungkannya untuk mendapatkan struktur yang bermakna. Keberadaan tari Gandrung Terob dilihat secara menyeluruh, tidak saja sebatas teks dan keterkaitan antarteks saja, melainkan pada konteks sosial budaya masyarakatnya. Melalui cara pandang holistik ini akanditemukan pola pikir masyarakat Using sebagai pemilik tari Gandrung Terob. Hal yang paling mendasardalam melihat pola pikir adalah melihat konsep, sehingga Gandrung Terob tidak hanya dilihat sebagaiartefak semata melainkan sebagai pandangan hidup atau ideologi masyarakat Using sebagai penyangganya. Key Words: Gandrung Terob, Using, Identitas Kultural

WAYANG WONG LANGEN LESTARI BUDOYO DONOMULYO SEBUAH KAJIAN GAYA WAYANG WONG PEDESAAN

Surojo, Mr.

JOGED Vol 3, No 1 (2012): Vol. 3 Nomer 1 Mei 2012
Publisher : JOGED

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Wayang wong Lestari Budaya Donomulyo who was born and developed in rural communities Donomulyo an individual and collective expression of the rural art style. This Wayang wong was founded in1932 by R. Sanghadi as a palace of Yogyakarta Sultanate courtiers.This transformation and culture ofpalace formality was a cultural diffusion of the cultural center of the (palace) to a small cultural center(rural), thus giving birth to an art style that is different from the original. This diffusion certainly related tothe role Kridha Beksa Wirama in 1918 as an arts institution devoted to the general public, including peoplefrom the countryside The rural of wayang wong is a rustic contemporary art form of the distribution and development of theforegoing, where the elements that influence complex either in a linear kesejarahannya of Kridha BeksaWirama and social culture. That is, in the process of formation of wayang wong arable quality, especiallychoreography has a unique claim as the expression of which is produced by the artist that is a blend of rusticpalace of art with the art of rural tradition "ndeso". This traditional art is an art form that originates andstems as well have been perceived as belonging to the arts community. Hasil accepted as tradition, theinheritance devolved from the older to the younger generation. Keyword : wayang wong, traditional, rural style, the diffusion

PERAN MAJLIS PUSAT PERTUBUHAN-PERTUBUHAN BUDAYA MELAYU SINGAPURA DALAM FESTIVAL TARI SERUMPUN

RAJA ALFIRAFINDRA, Mr.

JOGED Vol 3, No 1 (2012): Vol. 3 Nomer 1 Mei 2012
Publisher : JOGED

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACT Majlis Pusat Pertubuhan-Pertubuhan Budaya Melayu Singapura, merupakan satu di antara badan-badanBudaya Melayu yang tertua di Singapura. Sebelumnya dikenal Sriwana yang telah membuktikan danmemainkan peran dalam mengetengahkan warisan budaya Melayu di Singapura dari tahun 1955 sampaisekarang. Kedua badan ini berjalan seirama sesuai dengan peran masing-masing guna mengangkat martabatmasyarakat Melayu di Singapura. Sriwana dalam kehadirannya lebih memokuskan pada kesenian baik tari,musik, dan teater, sedangkan Majlis Pusat Pertubuhan-Pertubuhan Budaya Melayu Singapura lebihmenekankan pada pelestarian kegiatan keagamaan, kebangsaan, dan kebudayaan yang merupakan identitasbudaya Melayu.

SISTEM TRANSMISI WAYANG WONG GAYA YOGYAKARTA: STUDI KASUS KARAKTERISTIK POCAPAN

Sarjiwo, Mr.

JOGED Vol 3, No 1 (2012): Vol. 3 Nomer 1 Mei 2012
Publisher : JOGED

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan sistem transmisi Wayang Wong Gaya Yogyakarta: Studikasus karakteristik pocapan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara danstudi dokumentasi. Observasi dilakukan dengan melihat serta mengikuti aktivitas latihan dan pementasanyang dilakukan di sanggar-sanggar atau paguyuban, wawancara dilakukan secara terstruktur dengan panduanpedoman wawancara yang sudah dipersiapkan agar proses penjaringan data dapat lebih terfokus dan terarah,dan studi dokumentasi dilakukan dengan melihat hasil rekaman pementasan Wayang Wong GayaYogyakarta. Data yang berhasil dikumpulkan dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, sistem transmisi pocapan Wayang Wong Gaya Yogyakarta terjadidalam dua sistem. Pertama dari sisi para penari atau pelaku generasi sebelumnya dan dari sisi generasiberikutnya. Sementara karakteristik di dalam Wayang Wong Gaya Yogyakarta dapat didapat pada karaktersuara, nada suara, irama pocapan, dan kemampuan pengaturan volume suara. Karakter suara di dalamWayang Wong Gaya Yogyakarta tidak dapat lepas dari karakter yang ada dalam Wayang Kulit Purwa,karena pada dasarnya wayang wong merupakan personifikasi dari wayang kulit purwa. Nada suara setiappemeran harus memperhatikan suasana gamelan yang diatur dalam pathet yang sedang berlangsung. Iramapocapan sangat berkaitan dengan karakter tokoh dalam pewayangan yang merujuk pada lagak, lagu,lageane. Kata kunci: Sistem transmisi, Wayang Wong, karakteristik pocapan.

TARI GAJA MENUNGGANG MASYARAKAT SUKU SAWANG BELITUNG: ANALISIS TANDA DAN MAKNA

Renaldhi, Dion

JOGED Vol 4 No.2 November 2012
Publisher : JOGED

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tari Gaja Menunggang Masyarakat Suku Sawang Belitung: Analisis Tanda dan Makna. Tulisanini menganalisis tanda dan makna yang terkandung dalam tari Gaja Menunggang sebagai hasil karya darimasyarakat suku Sawang, yang mencerminkan nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan sehari-harimasyarakat pendukungnya. Setiap tanda tentunya memiliki motif, paling tidak seperti itulah pendapat yangdikemukakan oleh Charles Sanders Pierce. Mengacu dari pendapat tersebut, maka setiap penandaan terhadapsesuatu yang terdapat dalam tari Gaja Menunggang tentu memiliki maksud dan tujuan yang tersembunyi.Penafsiran atas tanda-tanda ini harus dikembalikan ke budaya asalnya, karena tanda-tanda tersebut bisa tidakbermakna atau dalam beberapa kasus bisa berbicara lain dari makna sebenarnya.Kata kunci: tari Gaja Menunggang, suku Sawang, tanda, makna.

WAYANG WONG KERATON NGAYOGYAKARTA DAN PERKEMBANGANNYA DI LUAR ISTANA

Supadma dan R.M. Soedarsono, Mr.

JOGED Vol 4 No.2 November 2012
Publisher : JOGED

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Wayang wong diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwana I di Kasultanan Ngayogyakarta sekitar tahun1757. Keberadaan Wayang wong dari masa Hamengku Buwana I sampai masa kekuasaan HamengkuBuwana VII merupakan seni ritual kenegaraan dan dianggap sebagai pusaka kebesaran keraton. Sebaga senitradisi istana, Wayang wong selalu dibangun dan disempurnakan sesuai dengan para sultan yang berkuasa.Puncak perkembangan Wayang wong terjadi pada masa kekuasaan Hamengku Buwana VIII, dan masa inisebagai zaman ke-emasan Wayang wong.Wayang wong dapat hidup di luar istana Kasultanan Ngayogyakarta pada saat menjelang akhir masakekuasaan Hamengku Buwana VII sekitar tahun 1918. Atas ijin Hamengku Buwana VII dibentuklahorganisasi seni tari pertama Kridha Beksa Wirama yang diprakarsai oleh kerabat istana. Disusul selanjutnyaorganisasi-organisasi lain yang tetap mengelola Wayang wong. Selain itu muncul pula bentuk wayang wong yang dilakukan oleh para dalang dan berada di wilayah pedesaan. Berkat para dalang sebagai hamba sultan, dan sering melihat pentas Wayang wong istana, bentuk Wayang wong yang dimilikinya mungkin merupakan hasil serapan Wayang wong istana.Wayang wong yang hidup di istana maupun yang berada di luar istana dan bahkan yang berada di pedesaan merupakan bukti perkembangannya. Perbedaan wilayah kehidupan dan perbedaan masyarakat pengelolanya, kemungkinan melahirkan ciri dan bentuk Wayang wong yang berbeda pula.Kata kunci: Wayang wong, Sultan, masyarakat, perkembangan.