cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. jombang,
Jawa timur
INDONESIA
Diglossia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Kajian Ilmiah Kebahasaan dan Kesusastraan diterbitkan oleh Fakultas Bahasa dan Sastra Unipdu
Arjuna Subject : -
Articles 182 Documents
PENGGUNAAN BAHASA RAGAM PRIA DANSEIGO OLEH TOKOH-TOKOH UTAMA WANITA DALAM KOMIK CHIBI MARUKO CHAN KARYA MOMOKO SAKURA Laili, Nurul
Diglossia Vol 2, No 1 (2010): DIGLOSSIA
Publisher : Diglossia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (159.906 KB)

Abstract

Nurul Laili Universitas Pesantren Tinggi Darul’Ulumdekiru_22@yahoo.com   Abstrak Bahasa Jepang memiliki karakteristik tertentu yang digunakan dalam setiap percakapan. Mereka adalah huruf, kosa kata, sistem pengucapan, tata bahasa dan varian bahasa (termasuk faktor jenis kelamin pembicara). Tulisan ini dimaksudkan untuk mengeksplorasi varian bahasa kelamin laki-laki (Danseigo). Danseigo berarti bahasa yang digunakan identik dengan jenis kelamin (pria dan wanita). Hal ini dapat dilihat dari topik yang bisa diceritakan, kosa kata dan situasi. Penelitian ini mengeksplorasi Danseigo digunakan oleh Chibi Maruko Chan sebagai wanita dari karakter utama di Chibi Maruko Chan komik. Hasil analisis menunjukkan bahwa situasi adalah faktor dominan yang mempengaruhi penggunaan Danseigo oleh Chibi Maruko Chan. kata kunci:  danseigo, bahasa gender, varian bahasa    Abstract Japanese language has certain characteristics that are used in every conversation. They are letter, vocabulary, pronunciation system, grammatical and language variants (which includes the speaker’s sex factors). This paper is intended to explore the variants of male gender language (Danseigo). Danseigo means the language that identically used by gender (male and female). It can be seen from the topic to tell, dictions, and situation. This research explores the Danseigo used by Chibi Maruko Chan as the woman of the main character in Chibi Maruko Chan comics. The result of the analysis shows that situation is the dominant factors influencing the use of Danseigo by Chibi Maruko Chan. key words: danseigo, gender language, language variant
SOME REFLECTIONS TOWARDS LANGUAGE LEARNING Purwanto, Widodo
Diglossia Vol 2, No 1 (2010): DIGLOSSIA
Publisher : Diglossia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.256 KB)

Abstract

Widodo Purwanto SMPN 2 Gudo Jombang diglossiafbs@gmail.com   Abstract Language is something that is essential for human life, including English. If the first language learned from childhood and obtained directly from the parents by nature, English is different. English is introduced when they learn at schools. The very common difference found is grammar problems. In this paper, the authors convey the things that relate to teaching English in Indonesia as a whole including grammar, standard language, teaching grammar, and the last is pragmatic in the context of learning English in Indonesia. Everything is analyzed and accompanied by a reflection based on empirical experience of the authors who are practitioners in teaching English. key words: language learning, reflection  Abstrak Bahasa merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan manusia, termasuk Bahasa Inggris. Jika bahasa pertama dipelajari sejak kanak-kanak dan didapat langsung dari kedua orangtuanya secara alamiah, berbeda dengan Bahasa Inggris.  Bahasa Inggris dikenalkan saat mereka belajar di sekolah. Perbedaan yang sangat umum ditemukan adalah permasalahan tata bahasa. Dalam tulisan ini, penulis menyampaikan hal-hal yang berhubungan dengan pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia secara menyeluruh. Diantaranya adalah mengenai bahasa, tata bahasa, bahasa baku, pengajaran tata bahasa, dan yang terakhir adalah pragmatis dalam konteks pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia. Semuanya dianalisa dan disertai dengan refleksi berdasarkan pengalaman empiris penulis yang merupakan praktisi dalam pengajaran bahasa Inggris. kata kunci: pembelajaran bahasa, refleksi
ANALISIS KESALAHAN URUTAN PENULISAN HURUF HIRAGANA PADA SISWA KELAS XI BAHASA DI MAN REJOSO JOMBANG TAHUN PELAJARAN 2008 – 2009 Setyawati, Siti Zaenab
Diglossia Vol 2, No 1 (2010): DIGLOSSIA
Publisher : Diglossia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.96 KB)

Abstract

Siti Zaenab Setiawati Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang joy_tea@yahoo.com Abstrak Dalam bahasa Jepang, ada 46 kata dalam Hiragana dan Katakana. Sebagian besar siswa sulit untuk menghafalkan kata- kata tersebut.. Hal ini tidak mengherankan karena mereka yang belajar bahasa Jepang memiliki kemampuan yang berbeda dalam hal menghafal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesalahan siswa dalam menulis Hiragana dan Katakana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesalahan yang paling sering (terbanyak) adalah disebabkan oleh kesalahan urutan langkah penulisan Hiragana dan Katakana. kata kunci: kata, kesalahan, hiragana  Abstract In Japanese language, there are 46 words of each Hiragana and Katakana. Most of the students had difficulty in memorizing them. It is not surprising because they who learn Japanese language have different ability of memorizing. This research is aimed at analyzing the students’ errors in writing Hiragana and Katakana. The result of research shows that most errors are caused by disordering of steps of writing Hiragana and Katakana. key words: words, mistake, hiragana
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA BAHASA JEPANG DENGAN STRATEGI PEMBELAJARAN SIKLUS(SIKLUS BELAJAR) PADA SISWA KELAS XI-IA3 SMAN 1 PROBOLINGGO TAHUN AJARAN 2009-2010 Soefiyanti, Yenny
Diglossia Vol 2, No 1 (2010): DIGLOSSIA
Publisher : Diglossia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (168.042 KB)

Abstract

Yenny Soefiyanti Universitas Pesantren Tinggi Darul U’lum Jombang soefiyantiyenny@yahoo.com  Abstrak Proses belajar bahasa Jepang memerlukan metode yang efektif untuk memberikan dampak positif pada para siswa dan guru. Guru sebagai pendidik harus kreatif dalam memilih dan menerapkan metode pengajaran yang sukses. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa asing, terutama bahasa Jepang akan lebih bermakna dan menarik ketika para pendidik menggunakan strategi pembelajaran yang efektif. Tulisan ini akan membahas tentang manfaat dari metode siklus belajar sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Jepang bagi siswa pada umumnya dan guru khususnya. kata kunci: siklus belajar  Abstract The process of learning Japanese required an effective method to provide a positive impact on both students and teachers. Teacher as educators has to be creative in selecting and applying a method for successful teaching. Therefore, the learning of foreign languages, especially Japanese language would be more meaningful and attractive when the educators use an effective learning strategy. This paper will discuss about the benefits of the learning cycle method as efforts to increase Japanese speaking ability for students and teachers. key word: learning cycle
SPEECH-ACT ANALYSIS OF XL Bebas ADVERTISEMENTS IN PULSA TABLOID Fitriana, Irta
Diglossia Vol 2, No 1 (2010): DIGLOSSIA
Publisher : Diglossia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.403 KB)

Abstract

Irta Fitriana University of Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang luvmarch19@yahoo.co.id   Abstract Creating an ad is similar to conduct a communication. This is in line with the principle of Pragmatics that is transmitting a message. This study chose XL ads as the objects of study taken from PULSA tabloid. These ads will be analyzed in terms of Speech Act (Locution, Illocution, Perlocution), based on Austen / Searle and copywriting analysis. From the analysis, it is concluded that the ad messages have its own purpose namely respective responses from readers. In addition, elements of copywriting are also crucial to attract readers. key words: speech act, advertisement, copywriting  Abstrak Membuat iklan sama halnya dengan melakukan komunikasi kepada orang lain. Hal ini sejalan dengan prinsip Pragmatik, dimana inti dari sebuah komunikasi adalah tersampainya pesan dengan baik. Penelitian ini memilih iklan XL bebas yang diambil dari tabloid PULSA sebagai objek kajian. Iklan ini akan dianalisis dari segi speech act (Locution, Illocution, Perlocution), berdasarkan teori Austen/Searle dan analisis copywriting. Dari hasil analisis, disimpulkan bahwa pesan iklan memiliki maksud tersendiri yakni respektif respon  dari pembaca. Selain itu elemen copywriting juga sangat menentukan dalam menuliskan pesan iklan guna menarik perhatian pembaca. kata kunci: tindak tutur, iklan, penulisan iklan
MENGGUGAT ETIKA JAWA DALAM NOVEL DONYANE WONG CULIKA KARYA SUPARTO BRATA D, Jupriono; HS, Soekarno
Diglossia Vol 3, No 1 (2011): DIGLOSSIA
Publisher : Diglossia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.434 KB)

Abstract

D. Jupriono[1] Soekarno Hs.[2] Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya diglossiafbs@gmail.com Abstrak Nilai-nilai etika Jawa direpresentasikan dalam novel karya Suparto Brata, Donyane Wong Culika (2004) adalah prinsip-prinsip menjaga dan memelihara keserasian sosial melalui toleransi, rasa hormat, malu, salut (sungkan), oleh ambisi menekan dan kepentingan pribadi. Representasi nilai-nilai etika Jawa dalam novel ini juga rusak oleh massa serta (bangsawan) priyayi, pejabat, orang-orang kerajaan. Melalui ilustrasi karakter dan perilaku karakter ´dalam novel ini, sebenarnya Suparto Brata protes dengan etika Jawa yang diklaim lebih terhormat karena dalam novel ini membuktikan bahwa massa serta priyayi melakukan urusan tipu dan cinta.kata kunci: sosiologi sastra, pendekatan moral-filosofis, etika jawa, harmoni    Abstract Javanese ethic values represented in the novel by Suparto Brata, Donyane Wong Culika (2004), are the principles of keeping and maintaining the social harmony through tolerance, respect, ashamed, salute (sungkan), by suppressing ambition and personal interest. The representation of Javanese ethic values in this novel is also broken by the masses as well as priyayi (aristocrat), officials, royal people. Through character illustration and characters’ behavior in this novel, actually Suparto Brata protests to Javanese ethics which are claimed to be more honored since in this novel it proves that the masses as well as priyayi do deceitfulness and love affairs. key words: sociology of literarature, moral-phlosophical approach, javanese ethics, harmony [1] Drs. D. Jupriono, M.Si., peminat kajian kebudayaan Jawa; mengajar mata kuliah filsafat Sejarah Pemikiran Modern pada Fakultas Sastra, Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya; aktif di Pusat Penelitian Sastra dan Strategi Kebudayaan (PPSSK), LPPKM, Untag Surabaya.   [2] Dr. Drs. H. Soekarno Hs., M.Si., peminat kajian etika sosial, pengajar mata kuliah Dasar-dasar Filsafat (DDF), Etika, dan Logika, sekaligus Dekan Fakultas Sastra, Untag Surabaya; serta dosen S2-S3 Program Studi Kebijakan Publik, Program Pascasarjana, Untag Surabaya.  
YOGA PADA PANCATANTRA INDIA DAN KALADESA PADA TANTRI KAMANDAKA JAWA KUNO: KAJIAN SASTRA BANDINGAN Andayani, Ambar
Diglossia Vol 3, No 1 (2011): DIGLOSSIA
Publisher : Diglossia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.7 KB)

Abstract

Ambar Andayani Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya diglossiafbs@gmail.com  Abstrak India Pancatantra adalah pola dasar dari Tantri Kamandaka Jawa kuno, Laos dan Siam Tantrai Tanthai. Penelitian ini bertujuan membandingkan antara Pancatantra dan Tantri Kamandaka yang berasal dari dua negara di benua yang sama, Asia, dan dari periode yang berbeda (200 SM dan 1200 ini). Studi sastra komparatif menunjukkan bahwa kedua karya ini menghasilkan warna lokal. Warna-warna lokal dianalisis dengan motif Thompson dan itu semiotik Riffaterre yang dilakukan oleh tingkat heuristik dan hermeneutik. Melalui aplikasi interpretasi dan sastra interdisipliner, simbol-simbol yang ditemukan dalam cerita rakyat dijelaskan. Perbandingan dari kedua dongeng mencapai makna otentik, memodifikasi "Sebuah Louse dan A Bug" di Indian Pancatantra Yoga dan "Louse A dan A Bug" di Tantri Kamandaka Jawa kuno yang menceritakan tentang Kaladesa. Akhirnya transformasi dari yoga ke kaladesa diselidiki dengan konsep akulturasi. kata kunci: sastra komparatif, motif, simbol, yoga   Abstract Indian Pancatantra is the archetype of Old Javanese Tantri Kamandaka, Laos Tantrai and Siam Tanthai. This research wants to compare between Pancatantra and Tantri Kamandaka which comes from two different countries in the same continent, Asia, and from different periods (200 BC and 1200’s). This comparative literary study shows that they produce local colors. These local colors are analyzed with Thompson’s motif and Riffaterre’s semiotic which is conducted by heuristic and hermeneutic levels. Through the applications of interpretation and interdisciplinary literature, the symbols found in the folktales are explained. The comparison of both fables achieves the authentic meanings, “A Louse and A Bug” in Indian Pancatantra modifies Yoga and “A Louse and A Bug” in Old Javanese Tantri Kamandaka tells about Kaladesa. Finally the transformation from yoga into kaladesa is investigated with the concept of acculturation. key words: comparative literature, motive, symbol, yoga  
DAMPAK PARADIGMA DESKRIPTIF DAN PARADIGMA KRITIS DALAM PENGAJARAN TERHADAP LINGUISTIK KARAKTER MAHASISWA Jupriono, D
Diglossia Vol 3, No 1 (2011): DIGLOSSIA
Publisher : Diglossia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.752 KB)

Abstract

D. Jupriono Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya diglossiafbs@gmail.com   Abstrak Selama lebih dari 50 tahun, mengajar linguistik di Indonesia telah didominasi dengan paradigma deskriptif, yang hanya menekankan pada sistem linguistik atau bahkan tata bahasa saja. Paradigma deskriptif memang menempatkan bahasa sebagai objek yang otonom, netral, dan terisolasi dari masyarakat. Selanjutnya, apa karakteristik dari paradigma deskriptif dalam pengajaran bahasa? Bagaimana dampak terhadap bangunan mahasiswa karakter? Apa paradigma yang mampu untuk menangani kekurangan yang disebabkan oleh implementasi paradigma deskriptif? Jika linguistik paradigma kritis dianggap lebih baik, apa karakteristik? Bagaimana dampak pelaksanaan paradigma kritis dalam pengajaran bahasa terhadap karakter siswa? Pembahasan ini adalah pada pendekatan kualitatif-kritis. Desain diterapkan untuk mempelajari dampak dari paradigma deskriptif dan kritis dalam pengajaran bahasa terhadap karakter siswa adalah analisis wacana kritis (CDA). Hasil dari penelitian ini adalah pertama, paradigma deskriptif dalam pengajaran bahasa menumpulkan kesadaran siswa untuk masalah-masalah sosial; paradigma deskriptif hanya akan melahirkan siswa yang memiliki karakter tanggung jawab egois, apatis dan tidak ada masalah sosial, kedua, untuk membangun karakter mahasiswa yang peduli masyarakat dan memiliki kesadaran kritis, pengajaran bahasa harus memiliki paradigma kritis. Dengan paradigma kritis, kuliah linguistik akan mengangkat teks wacana aktual masalah sosial (ketidakadilan, ketimpangan, hubungan dominasi-subordinasi antara kelompok-kelompok, dll). kata kunci: pengajaran bahasa, paradigma deskriptif, paradigma kritis, analisis wacana kritis   Abstract For more than 50 years the linguistic teaching in Indonesia has been dominated with descriptive paradigm, which merely focuses on linguistic system or even only grammar. Descriptive paradigm indeed places language as an object which is autonomous, neutral, and isolated from society. Next, what are the characteristics of descriptive paradigm in linguistic teaching? How is the impact toward student character building? What paradigm which is capable to handle the lacks caused by descriptive paradigm implementation? If the critical paradigm linguistic is considered better, what are the characteristics? How is the impact of critical paradigm implementation in linguistic teaching toward student character? The discussion is on the qualitative-critical approach. The design applied to study the impact of descriptive and critical paradigm in linguistic teaching toward student character is critical discourse analysis (CDA). The results of this research are firstly, descriptive paradigm in linguistic teaching blunts student awareness to social problems; descriptive paradigm will only bear students which have character of selfish, apathetic and no responsibility to social problems, secondly, to build student character which cares of society and has critical awareness, linguistic teaching should have critical paradigm. With critical paradigm, linguistic lectures will lift up actual discourse texts of social problems (unfairness, lameness, relation of domination-subordination between groups, etc.). key words: linguistic teaching, descriptive paradigm, critical paradigm, critical discourse analysis
THE STUDIES OF THE BILDUNGSROMAN HERMAN HESSE´S DEMIAN IN AND CHARLES DICKENS´ DAVID COPPERFIELD Supriyatno, M
Diglossia Vol 3, No 1 (2011): DIGLOSSIA
Publisher : Diglossia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.02 KB)

Abstract

Supriyatno Unisda Lamongan diglossiafbs@gmail.com Abstrak Bildungsroman play an important role in the literary movement. Its role is centered on the development of the central character or education. Bildungsroman novels aimed at guiding the reader to greater personal enrichment on an adventure of the protagonist from youth to adulthood. Charles Dickens is known as one of the writers who focus on the development of the central character or education. One of his best works are David Copperfield. David Copperfield David Copperfield describes life as the main character in the story, from childhood to adulthood. Another writer Herman Hesse´s attention to the way the character of emotional maturity. Demian is a work that describes the search Demian Hesse, the main character, to the emotional maturity of his life. Therefore, this study will be studied by using the characteristics of the Bildungsroman in David Copperfield and Demian. key words: bildungsroman, protagonist, personality development   Abstrak Bildungsroman berperan penting dalam gerakan sastra. Peranannya berpusat pada pengembangan atau pendidikan karakter sentral. Novel Bildungsroman bertujuan membimbing pembaca untuk pengayaan pribadi yang lebih besar pada petualangan protagonis dari masa muda hingga dewasa. Charles Dickens dikenal sebagai salah satu penulis yang perhatian pada pengembangan atau pendidikan karakter sentral. Salah satu karya terbaiknya adalah David Copperfield. David Copperfield menggambarkan tentang kehidupan David Copperfield sebagai karakter utama dalam cerita, dari masa kanak-kanak sampai dewasa. Herman Hesse penulis lain yang perhatian pada perjalanan kematangan emosi karakter. Demian adalah karya Hesse yang menggambarkan pencarian Demian, karakter utama, untuk kematangan emosional dalam hidupnya. Oleh karena itu, penelitian ini akan dipelajari dengan menggunakan karakteristik Bildungsroman pada novel David Copperfield dan Demian. kata Kunci: Bildungsroman, protagonist,  personality development  
JUDI YANG MENCANDU DALAM NOVEL ‘THE GAMBLER’ KARYA FYODOR DOSTOEVSKY Fanani, Achmad
Diglossia Vol 3, No 1 (2011): DIGLOSSIA
Publisher : Diglossia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (72.982 KB)

Abstract

Achmad Fanani Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang akufanani@gmail.com Abstrak The Gambler adalah sebuah novel yang ditulis oleh Fyodor Dostoevsky tentang seorang guru muda yang bekerja di keluarga seorang jenderal Rusia yang pernah menjadi orang kaya. Novel ini, seperti dapat dilihat dalam novel back-cover, adalah refleksi dari kecanduan ke penulis judi rolet. Dostoevsky menyelesaikan penulisan novel ini dalam batas waktu yang sangat singkat sehingga ia dapat melunasi utang judi. Adapun tokoh utama dalam novel The Gambler, Alexei Ivanovich, dapat dikategorikan sebagai seorang pathological gambler. Hal ini dikarenakan dia memenuhi paling tidak 5 dari 10 karakteristik seorang pathological gambler yaitu preoccupation (terobsesi dengan perjudian), tolerance (meningkatkan jumlah taruhan), escape (sebagai bentuk pelarian), chasing (selalu berusaha memenangkan kembali apa yang kalah), loss of control (kehilangan kontrol diri), dan bailout (dan mengandalkan uang dari orang lain). kata kunci: penjudi, perjudian, kecanduan     Abstract The Gambler is a novel written by Fyodor Dostoevsky about a young teacher who worked in the family of a Russian general who was once a wealthy man. This novel, as can be seen in the back-cover of the novel, is a reflection of the author’s addiction to roulette, Dostoevsky completed the writing of this novel in a very short deadline so that he could pay off his gambling debts. The main character of this novel, Alexei Ivanovixh, can be categorized as a pathological gambler. He meets at least five out of ten characteristics of a pathological gambler: preoccupation, tolerance, escape, chasing, loss of control, and bailout. key words: gambler, gambling, addicted  

Page 1 of 19 | Total Record : 182