Eduhealth
ISSN : 20873271     EISSN : -
Articles 91 Documents
HUBUNGAN TINGKAT KONSUMSI SERAT DENGAN KEJADIAN KONSTIPASI PADA LANSIA DI DUSUN TAMBAKBERAS DESA TAMBAKREJO KECAMATAN JOMBANG KABUPATEN JOMBANG
Eduhealth Vol 2, No 1 (2012): Jurnal Eduhealth
Publisher : Eduhealth

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSemua orang dapat mengalami konstipasi terlebih pada lanjut usia akibat gerakan peristaltik lebih lambat dan kemungkinan sebab lain. Kebanyakan terjadi jika makan kurang berserat, kurang minum, dan kurang olahraga. Kasus konstipasi umumnya diderita masyarakat umum sekitar 4-30 persen pada kelompok usia 60 tahun ke atas. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasional (hubungan/asosiasi) dengan pendekatan cross sectional. Populasi terdiri dari 63 orang dengan jumlah sampel sebanyak 54 responden dengan menggunakan teknik simple random sampling. Variabel independent adalah “tingkat konsumsi serat” dan variabel dependent “kejadian konstipasi pada lansia”. Data yang terkumpul dianalisis dengan uji statistik spearman rho dengan tingkat kemaknaan α =0,05. Hasil analisa menunjukkan hampir setengah responden yang berjumlah 18 (33,3 %) responden tidak mengalami konstipasi dengan tingkat konsumsi serat cukup dan sebagian kecil responden mengalami konstipasi kronis dengan tingkat konsumsi serat kurang yang berjumlah 8 (14,8 %) responden. Dari uji statistik dengan menggunakan uji korelasi spearman rho didapatkan hasil signifikansi 0.025 (≤ 0,05) dan koefisien korelasi -0,305 berarti ada hubungan antara tingkat konsumsi serat dengan kejadian konstipasi. Lansia yang mengalami kostipasi disebabkan karena kurang dalam mengkonsumsi serat, kurang minum, kurang gerak, dan sering menunda buang air besar. Maka diharapkan lansia di dusun Tambakberas desa Tambakrejo kecamatan Jombang kabupaten Jombang meningkatkan konsumsi serat sehingga diharapkan kejadian konstipasi dapat berkurang.Kata Kunci : Konsumsi Serat, Kejadian Konstipasi, Lansia ABSTRACTAll people may experience constipation especially in the elderly due to slower peristaltic movements and other possible factors. Most the occurrence of constipation occurs when they have less fiber consumption, less drinking, and lack of exercise. The case of constipation generally (4-30 percent) suffered to 60 years and over. The design used in this study is corelational with cross sectional approach. The population consists of 63 people with 54 respondents as sample which taken by using simple random sampling technique. The independent variable is "the level of fiber consumption" and the dependent variable is "the incidence of constipation in the elderly". The data collected are analyzed by statistic Spearman´s rho test with the level significance of α = 0.05. The analysis results that half of respondents (18 respondents (33.3%)) who have enough fiber consumption do not experience constipation; while fairly small portion of respondents (8 respondents(14.8%)) who have insufficient fiber consumption experienced chronic constipation. The result of the statistical tests using Spearman´s rho test shows a significant correlation of 0.025 (≤ 0.05) with the correlation coefficient of -0.305 which means there is a relationship between the level of fiber consumption and the incidence of constipation. The incidence of constipation in elderly are commonly because of less fiber consumption, less drinking, less motion, and the frequent restraining of defecation. Therefore it is suggested that the elderly in Tambakrejo, Tambakberas village, Jombang district, Jombang regency increase their fiber consumption to reduce the incidence of constipation.Keywords: consumption of fiber, constipation, elderly
PENGARUH PENYULUHAN TEKNIK LAKTASI DENGAN METODE SIMULASI TERHADAP PROSES LAKTASI
Eduhealth Vol 2, No 1 (2012): Jurnal Eduhealth
Publisher : Eduhealth

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKTujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penyuluhan teknik laktasi dengan metode simulasi terhadap proses laktasi. Desain penelitian ini menggunakan quasi eksperimen. Populasi adalah seluruh ibu menyusui di Paviliun Anggrek RSUD Jombang. Sampel diambil secara purposive sampling dengan jumlah responden 20 responden yang terbagi menjadi 2 kelompok. Variabel independen adalah penyuluhan teknik laktasi dengan metode simulasi dan variabel dependen adalah proses laktasi. Data dikumpulkan kemudian dianalisis dengan menggunakan uji statistik T test dan anova two way dengan tingkat signifikansi α < 0,05. Hasil uji statistik menunjukkan nilai signifikansi α= 0,002 terhadap proses laktasi dengan metode simulasi, α= 0,003 terhadap proses laktasi tanpa menggunakan metode simulasi dan nilai signifikansi α= 0,005 menunjukkan ada perbedaan yang significant antara penyuluhan teknik laktasi dengan menggunakan metode simulasi dan tanpa menggunakan metode simulasi. Simpulan : perlu penyuluhan kesehatan dengan menggunakan metode yang tepat dalam menyampaikan pesan sehingga pesan dapat diterima dengan lebih mudah dan dapat mengubah perilaku seseorang.Kata kunci : penyuluhan teknik laktasi, metode simulasi, proses laktasi ABSTRACTThe purpose of this research is to study the influence of counseling of technique lactation with the simulation method to process lactation.The design of this reseach is quasy experiment and the population is the mother suckling of pav. Anggrek RSUD Jombang. Technique sampling is purposive sampling approximately 20 responden is taken as sampel then devided into two group. Independent variable is counseling of technique lactation with simulation method and dependent variable is the process lactation. The data collected then analyzed by using test of statistic T test and anova two way with significant level of α < 0,05. The result of test statistic show that α = 0,002 to process lactation with the counseling use the simulation method, α= 0,003 to process lactation without use the simulation method, and α = 0,005 showing there is difference which significant between process lactation with the giving of counseling of technique lactation with the simulation method and without using the simulation method. Conclusion : it is necessory for health counseling by using correct method in submitting message so that message accepted comprehended easier so that expected can change the someone behavior.Key word: counseling technique lactation, simulation method , process lactation
HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN PSIKOSOSIAL ANAK USIA PRASEKOLAH DI TK PLUS MUTIARA ILMU PANDAAN PASURUAN
Eduhealth Vol 2, No 1 (2012): Jurnal Eduhealth
Publisher : Eduhealth

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKUsia 5 tahun pertama merupakan usia terpenting untuk mengasah dan menstimulasi berbagai perkembangan anak, karena akan mempengaruhi kehidupan dan kepribadian individu dimasa berikutnya. Perbedaan kecepatan berkembang anak selain dipengaruhi oleh faktor genetik, juga dipengaruhi faktor lingkungan yang meliputi stimulasi, kelompok sebaya dan cinta dan kasih dari orang tua atau pola asuh. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan pola asuh orang tua terhadap perkembangan kognitif dan perkembangan psikososial anak usia prasekolah di TK Plus Mutiara Ilmu Pandaan Pasuruan. Desain penelitian ini adalah analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah simple random sampling yang terdiri dari 34 responden. Instrument penelitian ini menggunakan wawancara dan observasi skunder. Data dianalisis dengan menggunakan uji spearman rho dengan tingkat kemaknaan α=0,05. Hasil uji spearman rho pada variabel pola asuh dan perkembangan kognitif didapatkan nilai ρ = 0,119 berarti H0 diterima yang artinya tidak ada hubungan antara pola asuh dengan perkembangan kognitif dan pada variabel pola asuh dan perkembangan psikososial diperoleh nilai ρ = 0,002 berarti H0 ditolak yang artinya ada hubungan antara pola asuh dengan perkembangan psikososial. Pola asuh sangat penting dan berpengaruh terhadap perkembangan psikososial anak. Semakin baik pola asuh orang tua maka semakin baik pula perkembangan psikososial anak, oleh karena itu dianjurkan pada orang tua untuk dapat berperan aktif dalam menstimulasi perkembangan psikososial anak dengan cara melatih dan memberi kesempatan anak untuk berkomunikasi baik dengan orang tua serta teman sebayanya.Kata kunci : pola asuh, perkembangan koginitif, perkembangan psikososial ABSTRACTThe First 5 years of age is the most important age to sharpen and stimulate a variety of child development, because it will affect their life and the days in the future. The difference of development rate besides influenced by genetic factors, is also influenced by environmental factors, including stimulation, peer group and parents’ love and care or parenting. The purpose of this study is to determine the relationship between the pattern of parental care and preschoolers’ cognitive and psychosocial development children in TK Plus Mutiara Ilmu Pandaa Pasuruan. The design of this study is analytic with cross sectional approach that exerted simple random sampling technique with the sample 34 respondents. The instrument of the study was interviews, and scunder observation. The data were analyzed using Spearman rho test with significance level of α = 0.05. The Spearman rho test on the parenting variables and the cognitive development obtained the value of ρ = 0.119 which means H0 was accepted. This implies that there is no relationship between parenting and cognitive development. Where as the test on parenting variables and psychosocial development obtained the value of ρ = 0.002 which means H0 is rejected. This shows us that there is a relationship between the patterns of parental care and psychosocial development. Parental care pattern is very important and influential on the children’s psychosocial development. The better the patterns of parental care, the better the children’s psychosocial development. There fore, it is suggested that parents play the active role in stimulating their children’s psychosocial development by training and allowing them to communicate both with their parents and peers.Keywords: koginitif development , parenting, psychosocial development
PENGARUH LATIHAN ISOTONIK DAN ISOMETRIK TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH
Eduhealth Vol 2, No 1 (2012): Jurnal Eduhealth
Publisher : Eduhealth

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKLatihan fisik merupakan stimulus yang kuat yang dapat meningkatkan uptake glukosa ke dalam otot skeletal, sehingga dapat menurunkan kadar glukosa darah. Tetapi pengaruh latihan isometrik dalam menurunkan kadar glukosa darah belum diketahui. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk membandingkan penurunan kadar glukosa darah pada latihan isometrik dan latihan isotonik. Penilitian ini menggunakan rancangan penelitian Randomized Control Group Pre Test - Post Test Design. Jumlah sampel masing-masing kelompok 15 responden, yang diambil secara acak sederhana. Variabel bebas penelitian adalah latihan isometrik dengan latihan Squas dan latihan isotonik dengan latihan Havart Step Test yang dilakukan 30 menit postpandrial selama 30 menit. Sedangkan variabel bebasnya adalah kadar glukosa darah yang diukur pada 30 menit dan 60 menit postpandrial. Hasil uji Anova pada latihan isotonik diperoleh nilai P=0.000, pada latihan isotonik diperoleh nilai P=0.000. Sedangkan nilai antar kelompok pada 30 menit postpandrial diperoleh nilai P=0.000, pada 60 menit pospandrial diperoleh nilai P=0.778. Kesimpulan pada penelitian ini adalah bahwa latihan isotonik dan latihan isometrik keduanya dapat menurunkan kada glukosa darah. Latihan isometrik lebih efektif menurunkan kadar glukosa darah dibanding latihan isotonik. Berdasarkan penelitian ini, latihan isometrik dapat direkomendasikan untuk dikembangkan untuk memelihara dan menurunkan kadar glukosa darah. Latihan Isometrik sangat berguna pada pasien dengan trauma sendi atau gangguan pergerakan sendi, gangguan fungsi jantung, dan lanjut usia.Kata Kunci : latihan isotonik, latihan isometrik, kadar glukosa darah ABSTRACTPhysical exercise was a powerful stimulation of the glucose uptake to skeletal muscle that could decrease the blood glucose level, but the effect of a isometric exercise to decrease the blood glucose levels haven’t known yet. The aim of this study was to compare the effect of an isometric exercise and isotonik exercise on the decrease of blood glucose level. This study used Randomized Control Group Pre Test - Post Test Design. The number of samples in each respective group was 15 respondents, with using simple random sampling technique. The independent variable of this research were isotonic exercise by squas exercise and isometric exercise by Havart step test, and exercise was performed 30 minutes postpandrial for 30 minutes along. The dependent variable of this researchs was the blood glucose level that taked 30 minute postprandial and 60 minute postprandial. The results of statistical analysis with Anova test, isotonic exercise had value of significance = 0,000. Comparison between the fast blood glucose and blood glucose 60 minute postpandrial had value of significance P = 0,000. The isometric exercise have significance P = 0,000, and comparison between the fast blood glucose and blood glucose 60 minute postpandrial have value of significance P = 0,778. The conclusion of this research was both of isotonic and isometric exercise could decrease the blood glucose level. The isometric exercise was more effective to decrease the blood glucose level than the isotonic one. Therefore based of this research, the isometric exercise can be recomended and developed to regulate and decrease the blood glucose level. Isometric Exercise was very useful especially to patients with joint injury or joint movement disorder, impaired heart function, and in elderly.Keyword: Isotonic exercise, Isometric exercise, blood glucose level
HUBUNGAN PERSEPSI ANAK TERHADAP KEHARMONISAN KELUARGA DAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN MOTIVASI BELAJAR MAHASISWA PRODI D-III KEBIDANAN UNIPDU
Eduhealth Vol 2, No 1 (2012): Jurnal Eduhealth
Publisher : Eduhealth

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKMotivasi belajar terdiri dari motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Salah satu faktor timbulnya motivasi belajar ekstrinsik adalah lingkungan keluarga, karena sebagian besar anak menghabiskan waktunya bersama keluarga. Selain itu keluarga adalah tempat pertama anak menerima pendidikan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi anak terhadap keharmonisan keluarga dan pola asuh orang tua dengan motivasi belajar mahasiswa D-III Kebidanan FIK UNIPDU Jombang.Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif, observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilaksanakan kurang lebih 6 bulan dari bulan Juli sampai Desember 2010. Populasi penelitian adalah seluruh mahasiswa Prodi D-III Kebidanan FIK UNIPDU Jombang sebesar 129 mahasiswa. Teknik pengambilan sampel adalah stratified random sampling dengan jumlah 97 mahasiswa. Alat ukur yang digunakan dari masing-masing variabel adalah kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil penelitian berdasarkan uji regresi logistik didapatkan nilai sig. 0.001 > 0.05, yang berarti terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi anak terhadap keharmonisan keluarga dan pola asuh orang tua dengan motivasi belajar. Nilai B menunjukkan bahwa 1 skor persepsi anak terhadap keharmonisan keluarga akan meningkatkan motivasi belajar sebesar 0.921dan peningkatan 1 skor persepsi anak terhadap pola asuh orang tua akan meningkatkan motivasi belajar sebesar 0.878.Kata Kunci: keharmonisan keluarga, pola asuh orangtua, motivasi belajar ABSTRACTLearning motivation consists of intrinsic and extrinsic motivation. One of factor raising extrinsic learning motivation is the family environment, since it believed that children spend their time with their family.Besides, family is the first educational place for children. The study aims at knowing the is relationship between children perception family harmony toward parent’s nurturing pattern and learning motivation of the D-III Midwifery Student of Nursing Science of UNIPDUJombang. This study uses quantitative research, analytic observational with cross sectional approach. This study was conducted in 6 months, since July to December 2010. The population is 129 Midwifery Students of Nursing Science of UNIPDU Jombang. Technique of sampling is stratified random sampling with 97 students. Measurement test of each variable is a questionnaire which has already been tested on its validity and reliability. This study result based on logistic regression test shows sig. value of 0.001 > 0.005, means that there is significant relationship between children perception family harmony toward parent’s nurturing pattern and learning motivation. Meanwhile B mark shows that score one for children’s perception toward family harmony will raise the learning motivation as much as 0.921. while there is a increase of score one for children’s perception toward parent’s nurturing pattern will raise learning motivation as much as 0.878Keywords: family harmony, learning motivation, parent’s nurturing pattern.
IMPACT OF THERAPEUTIC COMMUNICATION (ORIENTASI LEVEL) TO LEVEL OF FEAR DUE HOSPITALIZATION ON SCHOOL AGE CHILDREN PATIENT (6-12) YEARS, AT SERUNI ROOM, RSUD JOMBANG
Eduhealth Vol 2, No 1 (2012): Jurnal Eduhealth
Publisher : Eduhealth

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKHospitalisasi dan saat sakit, merupakan pengalaman yang penuh tekanan bagi anak-anak. Dengan adanya komunikasi diharapkan terjadi interaksi personal antara perawat dan klien sehingga masalah-masalah yang dihadapi klien dapat terselesaikan. Tujuan Penelitian ini untuk menganalisa Pengaruh Komunikasi Terapeutik (Tahap Orientasi) Terhadap Tingkat Kecemasan pada pasien anak usia sekolah (6-12 tahun). Desain dalam penelitian ini adalah Pre-eksperimental “Static Group Comperasion” dengan populasi semua pasien usia sekolah (6-12 tahun) di Ruang Seruni RSUD Jombang. Sampelnya adalah pasien usia sekolah (6-12 tahun) dengan tehnik Convisience Sampling sebanyak 30 responden, dengan 15 responden diberikan komunikasi terapeutik (tahap orientasi) dan 15 responden sebagai kontrol. Variabel yang diteliti meliputi komunikasi terapeutik (tahap orientasi) sebagai variabel independen dan tingkat kecemasan akibat hospitalisasi pada anak usia sekolah (6-12 tahun) sebagi variabel dependen. Uji Statistik Wilcoxon nilai p=0,00. Dari hasil berarti ada perbedaan tingkat kecemasan sebelum dan sesudah diberikan komunikasi terapeutik (tahap orientasi) terhadap tingkat kecemasan akibat hospitalisai pada pasien anak usia sekolah (6-12 th). Kemudian untuk mengetahui ada pengaruh menggunakan uji Mann-Whitney ada pengaruh antara responden yang diberikan komunikasi terapeutik (tahap orientasi) dan responden yang tidak diberikan komunikasi terapeutik (tahap orientasi) di Ruang Seruni RSUD Jombang. Melihat adanya pengaruh tersebut, diharapkan para perawat lebih meningkatkan pelayanannya, khususnya dalam komunikasi terapeutik pada saat kontak atau akan melakukan tindakan pada pasien.Kata Kunci : komunikasi terapeutik, tingkat kecemasan. ABSTRACTHospitalization or during suffering the illness is such a full pressure experience for the children. Through communication, expectedly personal interaction can be occured between nurse and patients in order to have the solution for theri problems. Therapeutic communication is not only the menners of speaking softly or politely, but as well it is such a therapy. Design of the reseach is pre-experimental “Static Group Comparison” with all school population patiens aged (6-12 years) at Seruni Room, Jombang RSUD. The sample are patients whose aged (6-12 years) with convisience sampling technique, with the result 30 respondents, 15 respondents provided with communication therapeutic (orientation phase) and 15 respndents as a control. Variabel examined include therapeutic communication (orientation phase) as indendent variable dan level of fear due hospitalization on school age children (6-12 years) as dependent variable. To observe level of fear on school age children pre-provided with therapeutic communication (orientation phase), level of fear on them post-provided therapeutic communication (orientation phase), and level of fear on school age children who are not provided with therapeutic communication (orientation phase). After obtaining information, subsequently analysingthe level of fear on school age children before and after given the therapeutic communication (orientation phase) using Wilcoxon p=0.000. From the result, which means there is the difference of fear level before and after therapeutic communication treatment (orientation phase) to level of fear due hospitalization school age children patient (6-12 years). And then to identify that there is the effect of using Mann-Whitney p=0.000, which means there is the effect between the respondent who is treated an untreated with therapeutic communication (orientation phase) at Seruni Room, Jombang RSUD. According to those effects, hoped that the nurses can be more capable and focus on their services, specifically in therapeutic communication during contact or about to do further action on patients.Key words : level of fear, therapeutic communication
PENERAPAN METODE JARINGAN SYARAF TIRUAN (ARTIFICIAL NEURAL NETWORK) PADA FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA TBC PARU
Eduhealth Vol 2, No 1 (2012): Jurnal Eduhealth
Publisher : Eduhealth

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKSalah satu metode klasifikasi yang sering digunakan adalah analisis diskriminan dan regresi logistik. Dalam analisis diskriminan ada asumsi yang harus dipenuhi oleh data, dan tidak semua data dapat memenuhi asumsi. Sedangkan regresi logistik membutuhkan data yang lengkap, sensitif terhadap outlier dan hasil klasifikasi hasilnya kurang maksimal. Karena itu perlu metode analisis dengan akurasi klasifikasi yang baik. Metode jaringan saraf tiruan merupakan metode yang dapat digunakan untuk klasifikasi dengan akurasi yang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui arsitektur jaringan saraf yang maksimal dan mengetahui besarnya kemampuan jaringan syaraf tiruan dalam mengklasifikasikan data. Berdasarkan hasil penelitian dengan menggunakan jaringan syaraf tiruan dengan metode backpropagation pelatihan data diperoleh hasil yang maksimal. Arsitektur jaringan saraf yang diperoleh, terdiri dari 1 input layer dengan 7 node, 1 hidden layer dengan 10 node, dan 1 output layer dengan 1 node. Arsitektur jaringan menghasilkan akurasi klasifikasi dengan nilai MSE dari 2.7619e-005 dicapai pada epoch 11 dengan parameter tingkat belajar yang digunakan dalam 0.25, dan kesalahan target 0,0001. Hasil ini menunjukkan bahwa 100 % tidak ada objek data yang salah dalam mengklasifikasikan data dapat diklasifikasikan dengan benar. Pengujian dilakukan dengan jaringan data baru yang menghasilkan nilai MSE 6.9275e-005 dicapai pada epoch 6 dan 100% dari data dapat dikenali dengan baik.Kata kunci: jaringan syaraf tiruan, backpropagation, faktor yang mempengaruhi TBC paru. ABSTRACTOne method of classification is often used is discriminant analysis and logistic regression. In the discriminant analysis are the assumptions that must be met by the data, and not all data can meet the assumption. While logistic regression requires complete data, sensitive to outliers and the results of the classification be the probability that the outcome less than the maximum. Because we need analytical methods with good classification accuracy. Artificial neural network method is a method that can be used for classification with good accuracy. The purpose of this research was to determine architecture neural network that the maximum and know the size of the ability of artificial neural networks in classifying data. Based on the results of research using neural networks with backpropagation method of training data obtained maximum results. The architecture neural network that is obtained, consisting of 1 input layer with 7 nodes, 1 hidden layer with 10 nodes, and 1 output layer with 1 node. That architecture resulted in classification accuracy with MSE values of 2.7619e-005 is reached at epoch 11 with learning rate parameters used in 0.25, and the target error 0.0001. These results indicate that no data object is wrong in classifying 100% of objects can be classified correctly. Tests carried out with the new data network that produces MSE value of 6.9275e-005 achieved at 6 epochs and 100% of data can be recognized with appropriate data classification target.Keywords: artificial neural network, backpropagation, factors affecting pulmonary TBC.
PENGARUH MOTIVASI BELAJAR DAN KECERDASAN EMOSIONAL TERHADAP PRESTASI BELAJAR UJI TAHAP II ASUHAN PERSALINAN NORMAL
Eduhealth Vol 2, No 1 (2012): Jurnal Eduhealth
Publisher : Eduhealth

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKeberhasilan pendidikan salah satunya ditentukan oleh keberhasilan siswa dalam kegiatan belajar mengajar, ini dapat dilihat dari prestasi belajar yang dicapai. Prestasi belajar yang baik atau yang memuaskan tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan intelegensinya saja, tetapi dipengaruhi motivasi belajar dan kecerdasan emosional. Penelitian Ini bertujuan mengetahui pengaruh motivasi belajar, kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar di uji tahap II pada mahasiswa Prodi D-III Kebidanan FIK Unipdu 2011, mengetahui pengaruh motivasi belajar dan kecerdasan emosional secara bersama – sama terhadap prestasi belajar di uji tahap II pada mahasiswa Prodi D-III Kebidanan FIK Unipdu 2011. Metode yang digunakan observasi analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Teknik pengambilan sampling menggunakan teknik Probability sampling yaitu teknik sampling cluster random sampling dengan mengelompokkan sampel dari 79 mahasiswa 30 kelas 2A sebagai uji coba dan 41 mahasisswa kelas 2B sebagai penelitian. Teknik analisa data adalah teknik korelasi sederhana, korelasi ganda dan regresi ganda dengan taraf signifikansi 0,05. Hasil penelitian terdapat pengaruh motivasi belajar terhadap prestasi belajar sebesar 0,814, terdapat pengaruh kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar sebesar 0,721, sedangkan hasil analisis dengan korelasi ganda didapatkan bahwa motivasi belajar dan kecerdasan emosional secara bersama – sama mempengaruhi prestasi belajar sebesar 0,831. Disimpulkan terdapat pengaruh positif yang signifikan motivasi belajar, kecerdasan emosional terhadap prestasi belajar. Terdapat pengaruh positif yang signifikan motivasi belajar dan kecerdasan emosional secara bersama – sama terhadap prestasi belajar.Kata Kunci : prestasi belajar, motivasi belajar, kecerdasan emosional. ABSTRACTThe success of education one of which is determined by the success of students in teaching and learning activities, this can be seen from the achievement of learning achieved. Learning achievement is good or satisfactory not only influenced by the ability of intelligence alone, but affected the motivation of learning and emotional intelligence. Thus we can achieve the goals - the goals set.This research purposes to know: the influence between learning motivation to second test level student of prodi D-III midwifery of health knowledge faculty, of UNIPDU 2011, knowing the influence between emotional intelegency to learning achievement in the second test level student of Prodi D-III midwifery of health knowledge faculty of UNIPDU 2011, the influence of learning motivation and emotional intelegency tolearning achievemet in the second test level student of Prodi D-III midwifery of health knowledge faculty of UNIPDU 2011.Otherwisethe research method whichused is Analytic observation with cross sectional approach, sampling technique is using sampling probability technique is sampling cluster random by classify the sample from 79 studens, 30 of 2A class as a test and 41 students of class 2B as a research.The data analytic technique is the simple influence technique, double influence and double regretion by significance standart of 0.05.The result of the influence that there is connection between learning motivation to learning achievement as 0.814, there is also connection between emotional intelegency to learning achievement is 0.721, white the analysis result connected to double influence that learning motivation and emotional intelegency influence the learning achievement as big as 0.831.The conclution in this researchthere is positive influence that’s very significance of the relation between learning motivation to learning achievement, there is positive influence that’s very significance of the relation between emotional intelegency to learning achievement, there is positive that’s very significance reletion between learning motivation and emotional intelegency together to learning achievement.Key word : emotional intelegency, learning achievement , learning motivation.
HUBUNGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DENGAN PERKEMBANGAN ANAK DI DUSUN KLAGEN PETERONGAN JOMBANG
Eduhealth Vol 2, No 1 (2012): Jurnal Eduhealth
Publisher : Eduhealth

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPemberian ASI eksklusif adalah menyusui tanpa makanan dan minuman pada bayi usia 0-6 bulan. Data yang diperoleh dari Survei Demografi dan Kesehatan 2004 menyatakan bahwa gangguan pertumbuhan anak-anak di Indonesia karena dia tidak mematuhi ASI eksklusif bayi mereka. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pemberian ASI eksklusif dengan perkembangan anak. Desain penelitian yang digunakan adalah metode analitik dengan pendekatan cross sectional, sampel yang diambil yaitu beberapa ibu yang memiliki anak di dusun Klagen Peterongan Jombang yang memenuhi kriteria dengan teknik Simple Random Sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini 48 responden. Data yang diperoleh ditabulasi dan dikelompokkan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel. Setelah itu data uji dimasukkan ke dalam SPSS dengan analisis Mann Whitney U dengan tingkat signifikansi p <0,05. Hasil menunjukkan signifikansi 0001 < 0,05 sehingga H1 diterima berarti ada hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan perkembangan anak. Berdasarkan hasil penelitian tersebut diharapkan petugas kesehatan lebih meningkatkan kinerja dalam memberikan penyuluhan tentang pentingnya ASI eksklusif untuk mencapai perkembangan anak yang optimal.Kata kunci : ASI ekslusif, perkembangan, anak ABSTRACTExclusive breastfeeding means breastfeeding with no food and drinks in infants aged 0-6 months. Data obtained from the Demographic and Health Survey, 2004 states that children´s growth disorders in Indonesia because she does not obey the Exclusive breastfeeding their babies. Purpose of the study to determine the relationship of exclusive breastfeeding on child development. The study design used was the analytical method with cross sectional approach, samples are taken, namely some mothers who have children in the hamlet Klagen Peterongan Jombang that meet the criteria with Simple Random Sampling technique. Number of samples in this study 48 respondents. The data obtained were tabulated and grouped to determine the relationship between two variables. After that test data is entered into SPSS with Mann Whitney U analysis with a significance level of p <0.05. result showed the significance of 0001, so the obtained value of p <0.05, H1 accepted means there is a relationship between exclusive breastfeeding to the child´s development. Based on the results of these studies are expected to further improve the performance of health workers in providing information about the importance of exclusive breastfeeding for achieving optimal child development.Keyword: exclusive breastfeeding, development, child.
TEH HIJAU BERPOTENSI MENGURANGI RESIKO KOMPLIKASI PADA DIET TINGGI LEMAK
Eduhealth Vol 2, No 1 (2012): Jurnal Eduhealth
Publisher : Eduhealth

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKKonsumsi epigallocatechin gallate (EGCG) dari teh hijau sudah banyak yang melaporkan bermanfaat untuk kesehatan diantaranya membakar lemak, mencegah obesitas sehingga EGCG yang didapat dari teh hijau (Camelia sinensis) yang diperoleh dari klon GMB4 juga berpotensi sebagai agent terapeutik mencegah adanya komplikasi akibat adanya diet tinggi lemak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efek dari EGCG terhadap kadar sterol regulatory element-binding protein- 1(SREBP-1) pada tikus betina yang diberi diet tinggi lemak. Tikus wistar betina diberi diet tinggi lemak selama 2 bulan dan dikelompokkan dalam lima kelompok perlakuan yaitu ( 1 ) Tikus dengan diet pakan standart ( 2 ) Tikus dengan diet tinggi lemak , ( 3 ) Tikus dengan diet tinggi lemak + EGCG 1 mg/kgBB ( 4 ) Tikus dengan diet tinggi lemak + EGCG 2 mg/kgBB ( 5 ) Tikus dengan diet tinggi lemak + EGCG 2 mg/kgBB. EGCG diberikan per sonde 1x/hari. SREBP-1 jaringan adiposa diperiksa dengan ELISA. Dan hasilnya Kadar SREBP-1 menurun 29.85% (p <0.05) pada dosis 8 mg/kgBB. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa EGCG efektif menurunkan kadar SREBP-1 yang merupakan faktor regulator adipo dan lipogenesis suatu patogenesis untuk terjadinya obesitas. Terutama obesitas viseral yang beresiko untuk terjadinya sindroma metabolik. Sehingga disarankan untuk mengkonsumsi teh hijau untuk pencegahan obesitas.Kata Kunci : EGCG GMB4, SREBP-1 adiposa , tikus dengan diet tinggi lem ABSTRACTConsumption of epigallocatechin gallate (EGCG) of green tea were reported to have much benefit in improving health, such as increased fat oxidation, prevent obesity so EGCG of green tea (Camelia sinensis) from GMB4 clone may serve as a potential therapeutic agent for prevent komplication from high diet fat. This study investigated the effect isolat EGCG from green tea inhibit increasing adipose tissue sterol regulatory element-binding protein 1( SREBP-1 ) in Male Rats with High Fat Diet. Wistar male rats were fed a diet high in fat for 2 months from 6-8 weeks of age and determination of the object of research with completely randomized design with five treatments, namely (1) Rats with standard feed diet (2) rats with a diet high in fat, (3) rats with high-fat diet + EGCG 1mg/kgBW, (4) rats with high-fat diet + EGCG 2 mg/kgBW, (5) rats with high-fat diet + EGCG 8 mg/kgBW. Feeding rats administered orally, whereas EGCG per sonde 1x/day. Adipose tissue SREBP-1 was measured by ELISA EGCG treatment decreased SREBP-1<0.05) compared with high-fat diet without EGCG treatment. SREBP-1 levels decreased significantly by 29.85% (p <0.05) at doses of 8 mg/kgBW. Results suggested that EGCG effectively inhibits SREBP-1 regulator of adipo/lipogenesis to the pathogenesis of obesity. Especially visceral obesity that risk for the metabolic syndrome. So it is advisable to consume green tea for the prevention of obesity.Key word : EGCG GMB4; SREBP-1 adipose tissue, rat with high diet fat.

Page 1 of 10 | Total Record : 91