cover
Filter by Year
Articles
186
Articles
PSEUDO-BEAUTY: SEXUALITY IN INDAH HANACO’S THE CURSE OF BEAUTY (A STUDY OF CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS)

Farokhah, Fiqih Aisyatul, Habsari, Sri Kusumo, Mugijatna, Mugijatna

LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 13, No 1 (2018): LiNGUA
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This article uses critical discourse analysis to uncover the discourse of pseudo beauty included the shape of the discourse and the reaction of sales promotion girl (SPG) which is represented in Indah Hanaco’s novel The Curse of Beauty. The design of the research is descriptive qualitative. Women wear thick makeup and attractive dress to cover their weakness, and they can be considered as beautiful women. Makeup makes the face more real than the reality thus it is mentioned as pseudo beauty. It makes SPG tries hard to become beautiful and sexy as a way of attracting the consumers. Most of them are trapped in the world of prostitution as the facilitator of sex tourism. SPG and prostitution seemingly become a stereotype that cannot be separated. They are tormented by a falseness and loneliness life in the halfway of hedonism. Capitalism makes them do not have a choice except being SPG which is a side job in sex tourism. These situations are caused by the pseudo beauty which gives them the curse as like represented by Indah Hanaco in her novel The Curse of Beauty.

PERSEPSI SUFISTIK LIRIK LAGU ‘SUCI DALAM DEBU’ MELALUI ANALISIS STRATA NORMA

Rahman, Fauzi

LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 13, No 1 (2018): LiNGUA
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk memberikan persepsi tentang nilai-nilai sufistik yang terkandung dalam lirik lagu ‘Suci Dalam Debu’ karangan S. Amin Shahab, yang dipopulerkan oleh grup musik Iklim. Penelitian yang dilakukan adalah dengan melakukan kajian strata norma puisi dengan metode analisis isi. Strata norma puisi adalah suatu kajian yang menganalisis isi puisi dengan beberapa lapis norma antara lain lapis bunyi, lapis arti, lapis objek, lapis tokoh, lapis latar, dunia pengarang, lapis dunia, dan lapis metafisis. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa adanya makna lain dari lirik lagu ‘Suci Dalam Debu’, bahwa telah terjadi munajat atau renungan yang dilakukan oleh tokoh Aku Lirik sebagai manusia kepada Allah swt. Pada bagian ini, tokoh Aku menyadari bahwa dirinya hanyalah manusia yang penuh dosa dan membutuhkan pertolongan serta petunjuk dalam menjalani kehidupan di dunia, agar dia bisa selamat di akhirat.

HEGEMONIC DISCRIMINATION AS SEEN IN ERNEST J. GAINES’ A LESSON BEFORE DYING

Irsyadi, Achmad Naufal, Dinurriyah, Itsna Syahadatud

LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 13, No 1 (2018): LiNGUA
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The progress history of Black Africans in America remains a slice of the history of minority struggle in the world of inferiority. Racism becomes a brand topic in every sector of Blacks live in America. War and act of reformation as ways against racism are almost routinely done by Black Americans to reach their civil rights as Americans. Although the war against racism has ended, but racism atmosphere can still be felt, and it seems to have been felt by Ernest J. Gaines in his novel entitled A Lesson Before Dying. Therefore, this writing would like to analyze and describe hegemonic discrimination by White Americans. Hegemonic discrimination is a new phenomenon for Black Americans in the Southern. This theoretical foundation refers to the theory of Hegemony by Antonio Gramsci that is applied to see how discriminative hegemony is implemented smoothly and comfortably.

PENYIMPANGAN MAKNA DENGAN HOMONIMI DALAM WACANA MEME (KAJIAN SEMANTIK)

Sukardi, Mochamad Ighfir, Sumarlam, Sumarlam, Marmanto, Sri

LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 13, No 1 (2018): LiNGUA
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan bagaimana penggunaan homonimi untuk penyimpangan makna sebagai upaya membangun humor dalam meme. (2) Mendeskripsikan pola penyimpangan makna yang memanfaatkan homonimi. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan menggunakan metode simak dengan teknik lanjutan catat. Analisis data menggunakan metode padan referensial dengan teknik hubung banding untuk mendukung kodifikasi, reduksi, penyajian, dan intepretasi sesuai dengan kerangka kerja penelitian kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan relasi makna homonimi meliputi kata dasar, bentukan, asing, dan slang. Ditemukan juga penyimpangan makna dengan memanfaatkan homonimi yang terjadi karena eufemisme, penamaan, dan pemberian jeda. Selain homonimi, ditemukan juga pemanfaatan homofoni dan homografi singkatan kata. Ada tiga pola yang digunakan untuk melakukan penyimpangan makna dengan memanfaatkan homonimi. 1) Kata yang disimpangkan didampingi dengan teks sebagai penjelas. 2) Kata yang disimpangkan didampingi dengan gambar sebagai penjelas. 3) Kata yang disimpangkan tidak muncul dalam simbol bahasa melainkan gambar dengan teks sebagai penjelas. Pemegang peran penting penyimpangan makna dalam meme adalah gambar dan penggunaan kolokasi. Kolokasi yang tepat mampu mengelabuhi pembaca sebelum akhirnya dikejutkan oleh makna kedua.

TANDA PEIRCEAN DAN MAKNANYA DALAM UNSUR INTRINSIK CERPEN ‘INDAMA YA’TI AL-MASA’ KARYA NAGUIB MAHFOUZ (ANALISIS SEMIOTIKA CHARLES S. PEIRCE)

Mushodiq, Muhamad Agus

LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 13, No 1 (2018): LiNGUA
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang cerita pendek yang ditulis oleh Naguib Mahfouz dengan judul ‘Indama Ya’ti al-Masa. Cerpen tersebut menceritakan tentang kehidupan sepasang sumai istri di masa tua. Mahfouz, menurut hemat peneliti berhasil menampilkan gambaran kehidupan suami istri di masa tua yang dipenuhi dengan konflik keluarga yang kompleks. Peneliti memandang bahwa cerpen tersebut mengandung banyak sekali tanda yang harus dikaji maknanya. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan judul yang disajikan Mahfouz yang tidak bisa dimaknai dengan makna leksikal. Dengan demikian, peneliti menggunakan teori tanda yang dirumuskan oleh Charles Sanders Peirce. Peirce memandang bahwa tanda dibangun atas unsur triadik, yaitu representamen, objek, dan interpretan. Sedangkan fokus kajian pada penelitian ini ada pada kajian objek yang terdiri dari tanda ikon, indeks, dan simbol. Adapun tanda-tanda peircean yang ditemukan adalah berupa indeks, simbol, dan ikon metafora. Salah satu tanda indeks ditemukan pada kalimat /nazratan fatirah/ ‘pandangan yang lemas dan tidak bersemangat’, bermakna bahwa orang yang memberikan respon tersebut tidak setuju dengan ajakan lawan bicara. Salah satu tanda simbol terdapat pada kata /al-qabri/ ‘kuburan’ tersimpan makna kematian. Tanda ikon metafora pada kata /al-masa’/ ‘sore’ yang merujuk pada makna masa tua, mengingat terdapat kesamaan antara keduanya.

“AL” AL-DAKHILIYAH ‘ALA AL-ASMA’: DIRASAH TAHLILIYAH NAHWIYAH FI SURAH YASIN

Ubaidillah, Ubaidillah

LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 13, No 1 (2018): LiNGUA
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This research discusses Nahwu that can help improve the understanding of the Quran, especially the surah Yaasin in which the type of "Al" is studied and its functions, because most people assume “Al” that entered onto Ism has no other types and function except for definition only. The researcher uses interpretive approach to recognize the types of "Al" and its functions. The study concludes that "Al" entering onto Ism consists of two types and the functions vary according to the different types, but the most predominant appears from the meaning of speech is not referring to the literal meaning.

MAKNA PERIBAHASA MADURA DAN STEREOTIP KEKERASAN PADA ETNIS MADURA (TINJAUAN STILISTIKA)

Nugraha, Anandika Panca

LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2 (2017): LiNGUA
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This article studies the meaning of Madurese proverbs commonly associated with violence stereotype of the Madurese. The analysis is conducted by using stylistic approach while the data are collected by means of documentary method. The findings show that Madurese proverbs represent a number of meanings related to violence, that is, physical violence, robust conviction and advice on violence. Those meanings do not necessarily justify the violent nature of the Madurese. Rather, they much imply the principles of Madurese people to strongly uphold self dignity, courage and righteousness. Further research using larger data of Madurese proverbs and other types of Madurese proverbs is suggested in order to obtain comprehensive depiction about Madurese values.

REPRESENTASI IDEOLOGI DALAM STRUKTUR WACANA KATA HARI INI

Yaqin, Zubad Nurul

LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2 (2017): LiNGUA
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan memerikan representasi ideologi dalam struktur wacana Kata Hari Ini (KHI). Pembahasan difokus-kan pada representasi ideologi dalam struktur mikro, struktur super, dan struktur makro. Data utama berupa praktik kebahasaan yang merepresentasikan ideologi di dalam struktur wacana KHI. Sumber data berupa transkripsi (teks) wacana KHI. Data dalam penelitian kualitatif dengan ancangan analisis wacana kritis ini dikumpulkan dengan teknik dokumentasi dan dianalisis dengan mengikuti model analisis wacana kritis perspektif van Dijk. Hasil menunjukkan bah-wa wacana KHI memiliki keunikan tersendiri terutama dalam hal strukturnya. Temuan struktur mikro: kata, kalimat, dan gaya bahasa tertentu digunakan oleh penyampai wacana untuk menyampaikan pesan-pesan ideologisnya. Temuan struktur super: wacana KHI ter-diri dari tiga bagian (awal, tengah, dan akhir). Bagian awal, dimulai dengan pernyataan-pernyataan sederhana (umumnya berupa ide-ide konseptual suatu objek). Bagian tengah, berisi klaim pembenar. Bagian akhir, berisi pernyataan-pernyataan simpulan. Setiap bagian tersebut memuat jenis-jenis dan pola-pola ideologi tertentu. Temu-an struktur makro: tema wacana KHI merepresentasikan ideologi sebagai sistem keyakinan dan sebagai sistem tindakan. Intinya, as-pek kebahasaan dan nonkebahasaan digunakan penyampai wacana sebagai strategi penyampaian pesan agar pesannya dapat diterima, dibenarkan, dipercaya, dan akhirnya diharapkan dapat mengubah sikap dan keyakinan publik.

DISFEMISME DALAM PERSPEKTIF SEMANTIK, SOSIOLINGUISTIK, DAN ANALISIS WACANA

Laili, Elisa Nurul

LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2 (2017): LiNGUA
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Dysphemism is an expression with connotations that are offensive either about the denotatum or the audience. It is used to talk about one’s opponents, things one wishes to show disapproval of, and things one wishes to be seen to downgrade. The topic of dysphemism is crucial to investigate because dysphemism is the infraction of the rules of politeness that deals with the matters of face and face effects.This research uses descriptive qualitative method. The approach used in this research is library research. Data taken from taking notes and observation.This article is written to explain dysphemism in the perspective of Semantics, Sociolinguistics, and Discourse Analysis.

VERBAL AND NON-VERBAL EXPRESSIONS IN TRADITION OF MOMBOLASUAKO OF TOLAKI AT SOUTHEAST SULAWESI (ETHNOLINGUISTIC’S STUDY)

Pehala, Ilfan Askul

LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2 (2017): LiNGUA
Publisher : Faculty of Humanities, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

This research aims to classify, describe and explain verbal and non-verbal expressions in eloping tradition (mombolasuako) of Tolaki based on the procession of eloping tradition (mombolasuako) of Tolaki comprehensively. Theories used to solve the problem of this are ethnolinguistics and ethnoscience. Methodologically, the ethnographic method was used in this. The data includes primary and secondary data that were collected by participant observation and deeply interview. All collected data were analyzed by using Spradely ethnoscience’s analysis and linguistics analysis. The outcomes of this research are verbal expressions in mombolasuako include verbal utterances, recitation and remark. For non-verbal expressions, they are (1) the tradition objects must be served by bride groom consists of process (2) gestures of tradition casts in the implementation of the traditions process and (3) tradition casts. In the implementation of the mombolasuako’s process verbal and non-verbal expressions verbal utterances, gestures and tradition casts that are adapted to tradition.