el-Hayah
ISSN : -     EISSN : -
Articles 110 Documents
VIABILITAS DAN PRODUKTIVITAS SELULOSA DARI INOKULUM KERING Acetobacter xylinum DENGAN SUBSTRAT PEMBAWA BERUPA SERBUK KELAPA PARUT DAN SERBUK AMPAS KELAPA PARUT

Andriani, Amalia Fitri

el–Hayah Vol 1, No 1 (2009): EL-HAYAH (VOL 1, NO 1,September 2009)
Publisher : Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.18860/elha.v1i1.1681

Abstract

Inokulum nata yang berisi kultur Acetobacter xylinum, pada umumnya tersedia dalam bentuk agar slant atau bentuk kultur cair dalam medium air kelapa. Bentuk inokulum tersebut membutuhkan perlakuan khusus dan mahal. Seiring dengan penigkatan kebutuhan inokulum nata de coco, maka bentuk inokulum dikembangkan agar lebih praktis, mudah perlakuannya, penyimpanan dan aman dalam transportasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemungkinan penyediaan inokulum kering nata de coco dengan substrat pembawa berupa serbuk kelapa parut dan serbuk ampas kelapa parut. Inokulum kering dibuat dengan menginokulasikan kultur cair A. xylinum ke dalam serbuk kelapa parut kering dan serbuk ampas kelapa parut kering kemudian dilakukan pengeringan dengan inkubator dengan suhu 30o C dan 40o C. Inokulum dalam bentuk serbuk kering dengan substrat pembawa berupa serbuk kelapa parut dan serbuk ampas kelapa parut dapat dibuat dengan pengeringan suhu 30o C selama 30 jam dengan perbandingan substrat pembawa : inokulum cair sebanyak 1:2. Inokulum kering dengan substrat pembawa berupa serbuk kelapa parut memiliki kadar air 3,25 %, vabilitas 1,0 x 107 sel/g dan produktivitas selulosa 5,55 g/L. Inokulum kering dengan substrat pembawa berupa serbuk ampas kelapa memiliki kadar air 2,98 %, viabilitas 4,2 x 105 sel/g dan produktivitas selulosanya sebasar 4,92 g/L. Produktivitas selulosa inokulum kering tersebut setara dengan 80% produktivitas selulosa hasil inokulum cair dari isolat A. xylinum asal. nata de coco, inokulum kering, Acetobacter xylinum, selulosa bakteri, substrat pembawa

STUDI DAYA HAMBAT IN VITRO ANTI MPS ECTO CIK (MAYOR PHYSIOLOGICAL PROTEIN SUBSTRAT) TERHADAP VIABILITAS SPERMATOZOA KAMBING DAN DOMBA

Muchtaromah, Bayyinatul

el–Hayah Vol 1, No 1 (2009): EL-HAYAH (VOL 1, NO 1,September 2009)
Publisher : Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.18860/elha.v1i1.1682

Abstract

Untuk menuju suatu penemuan tentang vaksin kontrasepsi bagi pria, diperlukan penelitian dasar mengenai hal tersebut. Sebagai langkah awal dilakukan uji hambatan Anti MPS ecto CIK terhadap viabilitas spermatozoa kambing dan domba, sedangkan dari penelitian pendahuluan diketahui bahwa anti MPS dari ecto-CIK ini mampu bereaksi silang dengan spermatozoa domba, dan sapi. Berdasarkan hal tersebut peneliti tertarik untuk mengetahui seberapa besar peranan anti MPS ecto CIK dalam menghambat  viabilitas spermatozoa kambing dan domba secara in vitro. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui seberapa besar peranan anti MPS ecto CIK dengan pemberian perlakuan konsentrasi dan lama inkubasi serta interaksi kedua perlakuan dalam menghambat viabilitas spermatozoa kambing dan domba. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan pola faktorial yang terdiri atas 2 faktor utama, faktor pertama yaitu: dosis pengenceran, 0µl, 5µl, 10µl, dan 15µl, dan faktor kedua yaitu: lama inkubasi, yaitu 5 menit, 30 menit, 60 menit, dan 120 menit, masing-masing 6 kali ulangan. Data viabilitas spermatozoa kambing dan domba  dianalisis dengan Uji one way ANOVA, jika hasil dari analisis tersebut terdapat pengaruh yang nyata maka akan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan dengan taraf signifikansi 5% (0,05).Pemberian perlakuan anti MPS dari ecto CIK membran spermatozoa kambing dengan konsentrasi dan 0 µl, 5 µl, 10 µl, 15 µl dan lama inkubasi 5 menit, 30 menit, 60 menit dan 120 menit berpengaruh signifikan dalam menghambat viabilitas spermatozoa kambing dan domba. Pada perlakuan anti MPS ecto CIK dengan konsentrasi 15 µl dan lama inkubasi 120 menit merupakan perlakuan yang paling optimal dalam menghambat viabilitas spermatozoa kambing (45,50 ± 11,16%; 44,87 ± 9,40%) dan domba (55,54 ± 18,87%; 40,58 ± 13,20%).  Interaksi pemberian perlakuan konsentrasi dan lama inkubasi anti MPS ecto CIK pada konsentrasi 15 µl dan lama inkubasi 120 menit anti MPS ecto CIK paling berpengaruh dalam menghambat viabilitas spermatozoa domba (26,83 ± 8,70%), sedangkan pada kambing tidak berpengaruh.

PEMBUATAN PATI TINGGI AMILOSA SECARA ENZIMATIS DARI PATI UBI KAYU (Manihot esculenta) DAN APLIKASINYA UNTUK PEMBUATAN MALTOSA

DEA, Dr.Ir. Yunianta,

el–Hayah Vol 1, No 1 (2009): EL-HAYAH (VOL 1, NO 1,September 2009)
Publisher : Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.18860/elha.v1i1.1683

Abstract

Sebagian besar pati alami seperti pati jagung, gandum, tapioka, kentang dan sagu mengandung prosentase yang tinggi dari rantai percabangan amilopektin. Tingginya komponen amilopektin dalam tapioka tersebut merupakan salah satu kendala dalam pemanfaatan tapioka secara meluas dalam berbagai industri. Agar dihasilkan pati dengan amilosa tinggi maka salah satu alternatifnya adalah memodifikasi pati secara enzimatis dengan debranching enzymes yaitu enzim yang mampu menghidrolisis ikatan α-1,6 pada pati. Aplikasi pati tinggi amilosa dalam penelitian ini adalah untuk pembuatan maltosa.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi tapioka dan lama inkubasi terhadap kadar amilosa yang dihasilkan oleh enzim pullulanase dan mengetahui pengaruh penambahan enzim -amilase pada tapioka dengan amilosa tertinggi  terhadap maltosa yang dihasilkan. Rancangan percobaan yang digunakan pada tahap I adalah Rancangan Acak Kelompok yang disusun secara faktorial dengan dua faktor, faktor I adalah konsentrasi tapioka (5, 10, 15, dan 20%) dan faktor dua adalah lama inkubasi (12 dan 24 jam) pada larutan 2% enzim pullulanase. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Data yang diperoleh dianalisa dengan ANOVA yang dilanjutkan dengan uji DMRT. Sedangkan pada tahap II menggunakan metode eksperimen secara deskriptif.Hasil penelitian tahap I menunjukkan bahwa dari perlakuan kombinasi konsentrasi substrat tapioka dan lama inkubasi, kadar amilosa tertinggi diperoleh pada konsentrasi tapioka 15% dengan lama inkubasi 12 jam yaitu sebesar 41,12%, dengan kadar pati 77,46%, viskositas 358,33 cP dan kadar air 4,01%. Penelitian tahap II menunjukkan hasil hidrolisis tapioka tinggi amilosa oleh β-amilase adalah maltosa 30,84%, maltotriosa 2,90%, glukosa 0,27% dan oligosakarida 5,42%. Sedangkan untuk tapioka tanpa proses debranching menghasilkan maltosa 26,47%, maltotriosa 1,86%, glukosa 0,28% dan oligosakarida 13,83%.

THE GENETIC POTENCY OF PLANTAIN AGUNG SEMERU VARIETY FROM LUMAJANG REGENCY EAST JAVA INDONESIA

Prahardini, P.E.R.

el–Hayah Vol 1, No 1 (2009): EL-HAYAH (VOL 1, NO 1,September 2009)
Publisher : Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.18860/elha.v1i1.1684

Abstract

Lumajang regency is one of the banana production centre in East Java having high- diversity of banana germ plasm.  There are 33 cultivars of  banana germ plasm in the regency,   consist of eaten ripe and plantain. One of uniqe plantain used as the symbol of Lumajang regency is plantain Agung Semeru variety, the local superior variety of this regency.  This variety can grow well at 450 – 650 m above sea level.  The uniqueness of banana Agung Semeru variety can be seen by the number of sucker per cluster (only   1 – 2  suckers per cluster), the size of the finger (33 – 36 cm long and  19 cm around) and the number of hand per bunch (only 1 – 2 hand per bunch).  Other characteristics of the variety are the thickness of fruit skin, the long period of fruit storage  (3 – 4 weeks after harvesting) and  the sweetness of fruit flesh. Even though the skin changes from yellow to black,  the flesh still  can be consumed, because it  doesn’t become soft. This variety also resistant to the  Sigatoka disease compared to other plantain cultivars.

EFEKTIFITAS PENGGUNAAN CHITOSAN SEBAGAI AGEN ANTIMIKROBA PADA DAGING AYAM BROILER

L., Rahayu,

el–Hayah Vol 1, No 1 (2009): EL-HAYAH (VOL 1, NO 1,September 2009)
Publisher : Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.18860/elha.v1i1.1685

Abstract

Penelitian penggunaan chitosan dengan konsentrasi yang berbeda sebagai larutan perendaman daging ayam broiler selama 5 menit serta penyimpanan 8 jam telah dilakukan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap total mikroba dan nilai TVBN. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman daging ayam dalam larutan chitosan dengan konsentrasi yang berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap total mikroba, dan tidak berpengaruh terhadap nilai TVBN. Setelah penyimpanan 8 jam daya hambat total mikroba yang paling tinggi yaitu konsentrasi 2% sebesar 4,4 x 106 CFU/g.

PENGUJIAN IN VITRO BEBERAPA VARIETAS KEDELAI (Glycine max L. Merr) TOLERAN KEKERINGAN MENGGUNAKAN Polyethylene Glikol (PEG) 6000 PADA MEDIA PADAT DAN CAIR

Savitri, Evika Sandi

el–Hayah Vol 1, No 2 (2010): EL-HAYAH (VOL 1, NO 2, Maret 2010)
Publisher : Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.18860/elha.v1i2.1687

Abstract

Kondisi stres kekeringan secara in vitro dapat disimulasi dengan menurunkan potensial air media, yaitu dengan penambahan PEG (polietilena glikol). Penapisan secara in vitro dilakukan dengan memanfaatkan komponen penyeleksi yang dapat mensimulasikan cekaman lingkungan. Pada penapisan in vitro, penambahan komponen seleksi harus dipilih, sehingga pada konsentrasi yang tepat dapat mengelompokkan verietas kedelai yang peka, moderat dan toleran. Salah satu respon tanaman terhadap cekaman kekeringan yaitu terjadi perkecambahan yang abnormal. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengetahui respon perkecambahan varietas kedelai yang ditanam pada media in vitro dengan penambahan PEG 6000 dan untuk mengetahui konsentrasi PEG yang mampu menyeleksi varietas kedelai peka dan toleran kekeringan pada media padat dan media cair.Penelitian ini terdiri dari 2 tahap yang pertama pengujian pada media padat, menggunakan  Rancangan Acak Lengkap (RAL) 2 faktor.  Faktor pertama adalah konsentrasi PEG 6000 yang terdiri dari 4 taraf perlakuan (0 gr/l; 20 gr/l; 40 gr/l dan 60 r/l), dan faktor kedua adalah varietas kedelai (Wilis, Tanggamus, Grobogan, Argomulyo, Kaba dan Panderman). Penelitian ini menggunakan 24 kombinasi perlakuan dengan 3 ulangan.  Penelitian kedua pengujian pada media cair, menggunakan  Rancangan Acak Lengkap (RAL) 2 faktor.  Faktor pertama adalah varietas kedelai yang terdiri dari 3 taraf yaitu: Wilis, Tanggamus dan Grobogan. Faktor kedua adalah konsentrasi PEG 6000 yang terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu: 0%, 5%, 10% dan 15%, yang masing-masing setara dengan potensial air 0; -0,13; -0,19; -0,41 MPa. Pada penelitian media padat, berdasarkan hasil indeks sensivitas kekeringan, varietas Grobogan, Argomulyo dan Kaba menunjukkan respon peka kekeringan, sedangkan varietas Wilis dan Argomulyo menunjukkan respon toleran kekeringan dan varietas Tanggamus menunjukkan respon medium toleran. Konsentrasi PEG 60 gr/l  mampu mensimulasi kekeringan pada media padat.  Pada media cair, berdasarkan indeks sensivitas menunjukkan varietas Tanggamus dan Wilis bersifat medium toleran dan Grobogan peka terhadap kekeringan.  Konsentrasi PEG 5% pada media MS cair in vitro mampu mensimulasikan cekaman kekeringan.Kata kunci :  Pengujian in vitro, varietas kedelai, media padat, media cair

PERLUNYA REFORMASI PENDIDIKAN, PEMBELAJARAN, DAN TEKNOLOGI DI ERA PENGETAHUAN

Nuraida, Dede

el–Hayah Vol 1, No 2 (2010): EL-HAYAH (VOL 1, NO 2, Maret 2010)
Publisher : Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.18860/elha.v1i2.1688

Abstract

Saat ini kita sudah memasuki abad 21 yang juga disebut sebagai era pengetahuan, era ini ditandai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedemikian pesatnya. Perkembangan yang terjadi di era ini membawa konsekuensi kepada tuntutan Sumber Daya Manusia yang berkualitas, untuk itu maka reformasi pendidikan nampaknya tidak bisa ditawar lagi, karena hanya pendidkanlah yang bisa mempersiapkan manusia untuk kehidupan di masa depan. Reformasi pendidikan yang dikehendaki untuk menyiapkan manusia di era pengetahuan ini meliputi reformasi dalam aspek-aspek: Tujuan, jenis-jenis keterampilan & cara mendapatkannya, proses pembelajaran dan teknologinya, serta strategi reformasi yang efektif. Dengan adanya reformasi pendidikan ini diharapkan dihasilkannya generasi-generasi muda yang siap menghadapi tantangan jaman.Kata Kunci: Reformasi pendidikan, era pengetahuan, strategi reformasi

POTENSI TAMAN NASIONAL BOGANI NANI WARTABONE, PERMASALAHAN DAN KONSERVASI PADA TINGKAT PENGEMBANGAN DAN PENGAWASAN

Kawuwung, Femmy Roosje

el–Hayah Vol 1, No 2 (2010): EL-HAYAH (VOL 1, NO 2, Maret 2010)
Publisher : Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.18860/elha.v1i2.1689

Abstract

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone sebelumnya bernama Dumoga Bone. Nani Wartabone seorang pahlawan yang terkenal di daerah Gorontalo, untuk mengenang pahlawan tersebut maka namanya diabadikan pada nama Taman Nasional. Pada tahun 1982 luas 300.000 hektar dinyatakan Menteri Pertanian. Ditunjuk Menteri Kehutanan, SK No. 731/Kpts-II/1992 luas 287.115 hektar. Propinsi Gorontalo dengan  ketinggian tempat 50 – 2.000 meter dpl. Posisi 1o– 4o LS, 120o – 124o  BT. Permasalahan; terjadinya fragmentasi, perladangan berpindah, pertanian, illegal logging, pemukiman, pertambangan, dan pencurian spesies flora dan fauna. Tujuan mengetahui potensi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, permasalahan dan upaya konservasi.Potensi Taman Nasional Bogani Nani Wartabone adalah; Flora terdiri dari 400 jenis pohon, 241 jenis tumbuhan tinggi, 120 jenis efifit dan terdapat 24 jenis anggrek. Tumbuhan endemik yaitu; palem matayangan, kayu hitam dan bunga bangkai(Amophaphallus compamulatus). Tumbuhan yang umum adalah cempaka, kenanga, agates, dan tanaman hias.Taman Nasional Bogani Nani Wartabone memiliki 24 jenis mamalia, 64 jenis aves, 11 jenis reptile. Mamalia (satwa endemik) : monyet hitam/yaki (Macaca nigra),  Monyet Dumoga Bone, babirusa, kelelawar bone, kus-kus besar (Palanger ursinus), anoa kecil (B.quarlesi). Di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone tercatat 200 – 225 jenis burung. Reptil : ular kobra, king kobra (N. hammah), ular belang, katak pohon (Rhacophorus monticola), ikan : ikan mas (Cyprinus carpio), bekicot (Achatina fulica). Upaya konservasi adalah pada tingkat pengembangan dan pengawasan. Dalam upaya konservasi harus ada kerja sama dari pemerintah dan masyarakat sekitar kawasan.Kata kunci: Potensi Bogani Nani Wartabone, Permasalahan, Konservasi.

DEGRADASI BAHAN ORGANIK LIMBAH CAIR NANAS OLEH BAKTERI INDIGEN

Sutanto, Agus

el–Hayah Vol 1, No 4 (2011): EL-HAYAH (VOL 1, NO 4, Maret 2011)
Publisher : Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.18860/elha.v1i4.1690

Abstract

Pineapple Liquid Waste has high organic material  and still unfulfilled required quality standard. Processing occurred at the waste processing installation with pond system (Lagoon) required a wide space and keep long time so that less efficient. Based on this problem, it needs an environmentally sound waste management by utilizing bioprocess technology using indigenous bacteria’s ability in degrading organic pollutant called Bioremediation. The objective of this research was to get isolated indigenous bacteria, enables to decrease organic material. It was divided into four stages. First, performed characteristic observation of isolated bacteria that potentially decrease organic material, secondly decomposition capability test in vitro, and thirdly scale bioremediation test pilot plan, fourthly bioremediation test in ex situ at the microbiology laboratory of Malang State University. Data were analyzed by Varian analysis to test the presence or absence of differences and regression test to analyze the link between variables. First phase result: 15 isolated indigenous bacteria.. Potential consortia bacteria consisting of more effective 4 species, indicated by 4 consortia bacteria decreased BOD in 6 days. Starter bacteria with a consortia K1’s combination (ABCD), Volume: 5% (v/v) and 6 days were the most effective incubation time in decreasing BOD. Second phase result: 1) A significant link among the number of bacteria, a. Bacillus cereus, b. Acinetobacter baumanni, c.Bacillus subtilis, d. Pseudomonas pseudomallei and not abcd against organic material with contribution of 72,7% and negatively correlated, 2) Media treatment and incubation time gave distinctive outcome against organic material,  3) there was a link between organic material organic acid concentration decrease would decrease BOD  at scale bioremediation test Pilot plan, and ex situ scale. Threshold BOD achievement limit value on 10th day (75) quality standard: 75. In accordance with ministry decree LH No. 05 year 2007 industrial wastewater quality standard, suggested to industry to use this study in processing its waste.Keywords: organic material, isolated indigenous bacteria, pineapple liquid waste.

OPTIMASI KONSENTRASI INOKULUM, RASIO C:N:P DAN pH PADA PROSES BIOREMEDIASI LIMBAH PENGILANGAN MINYAK BUMI MENGGUNAKAN KULTUR CAMPURAN

Zam, Syukria Ikhsan

el–Hayah Vol 1, No 2 (2010): EL-HAYAH (VOL 1, NO 2, Maret 2010)
Publisher : Jurusan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.18860/elha.v1i2.1691

Abstract

The purposes of this research were to obtain the best inoculum concentration, C:N:P ratio, and pH, and also to identify the ability of mixed culture of hydrocarbonoclastic bacteria in  oil waste degradation. The isolats were used are Acinetobacter baumanni, Alcaligenes eutrophus, Bacillus sp1., Methylococcus capsulatus, Bacillus sp2., Morococcus sp., Pseudomonas diminuta, Xanthomonas albilineans, Bacillus cereus and Flavobacterium branchiophiia. Variation of inoculum concentrations were 10%, 15%, and 20% (v/v), C:N:P ratios were 100:10:1, 100:10:0,5, 100:5:1, and 100:5:0,5, and pH were 6,5, 7,0, 7,5. Observed parameters in optimization were Total Plate Count (TPC) the culture every 24 hours, Total Petroleum Hydrocarbon (TPH) and Chemical Oxygen Demand (COD) examined at the end of the bioremediation period. Best optimization result then analyzed with GC/MS. Optimization result indicated the best inoculum concentration was 10% with TPH degradation 61,79% and COD slope 61,75%. It is assumed that the low value of TPH degradation and COD slope at 15% and 20% inoculum concentration were caused by competition inside the bacterial population at that high inoculum concentration. The competition result in low growth and degradation. C:N:P ratio was 100:5:1 with TPH degradation 66,55% and COD slope 85,18%. It is assumed that the C:N:P ratio is equal, so it can enhance the bioremediation procces. The best pH was 7,5 with TPH degradation 73,24% and COD slope 86,28%. The process at the optimum conditions using inoculum as a mixed culture enhanced the bioremediation process with the result as follows, TPH degradation 93,06%, COD 90,73% for treatment. The chromatogram indicated that total hydrocarbon compound from nC9 – nC32 have been degraded by 43,413% – 63,117%. A good result of bioremediation was obtained from mixed culture inoculum at 10% concentration, C:N:P ratio of 100:5:1, and pH 7,5.Keywords:    Bioremediation, hydrocarbonoclastic bacteria, inoculum concentration, C:N:P ratio, pH

Page 1 of 11 | Total Record : 110