AGRIKA
Published by Universitas Widyagama
Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian
Articles
33
Articles
FEED CONVERSION RATIO (FCR) USAHA TERNAK AYAM BROLIER DI KABUPATEN SLEMAN

-, Swarta

AGRIKA Vol 8, No 2 (2014): AGRIKA
Publisher : AGRIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.375 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk : 1. menghitung FCR menurut kelompok peternak, 2. mengetahui dan menghitung faktor-faktor yang mempengaruhi FCR. Penelitian ini dilakukan di kabupaten Sleman. Sebagai satuan analisis adalah data primer hasil wawancara dengan peternak plasma dan peternak mandiri. Alat analisis menggunakan t-test dan regresi linier berganda natural (Ln). Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1. FCR usaha ternak ayam broiler peternak mandiri lebih besar dari pada peternak plasma, FCR usaha ternak ayam broiler peternak plasma-inti pabrikan tidak berbeda dengan peternak plasma-inti mandiri, 2. FCR usaha ternak ayam broiler dipengaruhi secara negatif oleh : jumlah bibit, luas kandang, kemitraan dan kandang panggung, tetapi dipengaruhi secara positif oleh jumlah pakan. Kata kunci : FCR, Peternak Plasma, Peternak Mandiri.

PENGARUH RASIO TEPUNG KECIPIR (Psophocarpus Tetragonolobus) DAN TEPUNG TAPIOKA TERHADAP KARAKTERISTIK SOSIS IKAN GABUS (Ophiocephalus Striatus)

-, Ernawati, Palupi, Hapsari Titi

AGRIKA Vol 8, No 2 (2014): AGRIKA
Publisher : AGRIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.109 KB)

Abstract

Biji kecipir adalah salah satu jenis kacang-kacangan yang mempunyai protein tinggi dan dapat  ditingkatkan nilai gunanya dengan cara dibuat tepung. Sedangkan ikan gabus kaya akan albumin, yaitu protein penting yang bermanfaat untuk pembentukan jaringan sel baru. Usaha pengolahan gabus dengan cara dijadikan sosis belum banyak dilakukan, sehingga peneliti termotivasi untuk mengaplikasikan tepung kecipir pada pembuatan produk sosis ikan gabus untuk diversifikasi pangan dan meningkatkan daya gunanya. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui rasio tepung kecipir dan tepung tapioka yang terbaik untuk menghasilkan sosis ikan gabus yang mempunyai karakteristik baik dan sesuai dengan SNI 01-3820-1995. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktor tunggal, terdiri dari 6 perlakuan kombinasi tepung kecipir dan tapioka dengan konsentrasi yang berbeda yaitu K1 = 0% dan 30%, K2 = 3% dan 27%, K3 = 6% dan 24%, K4 = 9% dan 21%, K5 = 12% dan 17%, K6 = 15% dan 15%. Tepung kecipir hasil analisis mempunyai kadar air 11,08%, lemak 15,64%, protein 31,56%, karbohidrat by different 36,97%, sedangkan analisis warna meliputi L (Lightness), a+ (kemerah-merahan) dan b+ (kekuning-kuningan) berturut-turut adalah: 82,233; 3,167; dan 16,300. Perlakuan rasio tepung kecipir dan tapioka pada konsentrasi yang berbeda memberikan pengaruh sangat nyata terhadap nilai kadar protein, nilai warna b+, serta nilai organoleptik rasa, warna dan aroma, berpengaruh nyata terhadap kadar lemak, tetapi tidak berpengaruh nyata terhadap nilai kadar air, tekstur, serta derajat warna L dan a+. Kadar protein dan kadar lemak, dan derajat warna L (kecerahan) cenderung meningkat dengan penambahan  konsentrasi tepung kecipir, sedangkan kadar air, nilai tekstur dan derajat warna a+ menunjukkan nilai yang variatif. Kata kunci : tepung kecipir, ikan gabus, albumin, sosis

PEMULSAAN ORGANIK TERHADAP INTENSITAS SERANGAN BERCAK UNGU SERTA PRODUKSI BAWANG PUTIH VARIETAS LUMBU PUTIH DAN LUMBU HIJAU

Siknun, Muhammad Amidhan, Ghunu, Gode Fridus, Ghunu, Gode Fridus, Al Amin, Zainul

AGRIKA Vol 8, No 2 (2014): AGRIKA
Publisher : AGRIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.165 KB)

Abstract

Penggunaan mulsa umumnya dilakukan di daerah-daerah yang sering mengalami kekeringan dan rentan terhadap pertumbuhan gulma. Gutomo et. al, (1998) menyatakan bahwa mulsa daun cengkeh selain memiliki peran dalam menekan kehilangan air tanah yang mempertahankan kelembaban, menjaga suhu tanah, erosi menekan pukulan melalui reduksi langsung dari air hujan ke tanah juga dapat menekan intensitas jamur yang merupakan salah satu kendala dalam mencapai hasil yang optimal bawang putih dataran tinggi. Penelitian ini dilakukan dikampus III Universitas Widyagama Malang dengan menggunakan desain, percobaan faktorial dilakukan dalam rancangan acak yang terdiri dari dua faktor dan diulang 3 kali, antara faktor M0: tidak ada mulsa; M1: cengkeh mulsa daun: M2: kubis limbah daun mulsa sedangkan faktor kedua V1: kultivar Lumbu putih dan V2: Lumbu kultivar hijau. Variabel pengamatan adalah jumlah siung, berat kering umbi dan tingkat serangan dengan menggunakan skor 0-6. Hasil analisis varians menunjukkan jumlah umbi M1V1 12,5 cengkeh / tanaman. Sementara itu, berat kering 9,82 g / tanaman. Kemudian pengamatan bercak ungu dengan tingkat serangan tertinggi pada perlakuan M2V1 (daun limbah mulsa kubis menggunakan Lumbu kultivar putih) yaitu dengan tingkat serangan 2.67%.   Key word : bawang putih, daun cengkeh dan kubis

STRATEGI PENGUATAN EKONOMI PROVINSI DIY BERBASIS SEKTOR UNGGULAN

-, Darmadji

AGRIKA Vol 8, No 2 (2014): AGRIKA
Publisher : AGRIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (117.634 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sektor-sektor ekonomi unggulan ditinjau dari: (1) total output, (2) nilai tambah bruto, , (3) nilai ekspornya, (4) nilai dampak pengganda output, dan (5) nilai indek daya penyebaran dan derajat kepekaan. Penelitian ini menggunaka nanalisis Input Output yang dikembangkan oleh Wassily Leontief. Metode penggalian data dilakukan dengan metode non surve, yaitu memanfaatkan data IO yang diterbitkan oleh BPS Provinsi DIY tahun 2010. Berdasarkan hasil analisis dapat ditunjukkan. (A) sektor ekonomi potensial berdasarkan outputnya adalah: (1) sektor konstruksi gedung & bangunan sipil, (2) jasa pendidikan, (3) penyedia makan minum, (4) administrasi pemerintah, pertahanan & jaminan sosial wajib, (5) informasi dan komunikasi, (6) perdagangan eceran besar dan eceran selain mobil/motor, (7) real estate, (8) konstruksi khusus, (9) industri makanan dan minuman lainnya, (10) jasa kesehatan dan kegiatan sosail. (b) sektor ekonomi potensial berdasarkan NTB adalah: (1) sektor jasa pendidikan, (2) perdagangan besar dan eceran (3) informasi dan komunikasi, (4) penyedia makanan dan minuman, (5) konstruksi gedung dan bangunan. (c) sektor ekonomi potensial berdasarkan ekspor  adalah: (1) kebudayaan hiburan dan rekreasi, (2) industri furnitur, (3) industri pakaian jadi, (4) real estat, (5) jagung,         (6) industri makanan dan minuman lainnya, (7) industri tekstil selain tenun dan batik, dan (8) angkutan rel (d) sektor ekonomi potensial berdasarkan penyerapan tenaga kerja adalah: (1) grosir dan eceran di samping mobil / motor, (2) padi, (3) pelayanan pendidikan, (4) administrasi pemerintahan, pertahanan dan wajib jaminan sosial, (5) penyediaan makanan dan minuman, (6) konstruksi bangunan dan bangunan sipil, (7) unggas dan hasil, (8) singkong, (9) industri makanan dan minuman lainnya, dan (10) buah . (e) sektor-sektor ekonomi potensial berdasarkan dampak pengganda output adalah: (1) industri beras, (2) asuransi dan dana pensiun, (3) industri tepung terigu dan tepung lainnya, (4) jasa kesehatan dan kegiatan sosial, (5) industri barang kimia kecuali pupuk dan pestisida, (6) konstruksi khusus, (7) industri barang dan barang lainnya dari karet, (8) industri biji-bijian kupas, coklat dan kembang gula (9) jasa keuangan lainnya, (10) angkutan jalan raya. (f) sektor potensial berdasarkan nilai indek daya penyebaran adalah: (1) industri beras nilainya sebesar, (2) asuransi dan dana pensiun, (3) industri tepung terigu dan tepung lainnya kode 26 sebesar 1,2794, (4)    jasa kesehatan dan kegiatan sosial, (5) industri barang kimia kecuali pupuk dan pestisida, (6) konstruksi khusus, (7) industri barang dan barang lainnya dari karet, (8) industri biji-bijian kupas, coklat dan kembang gula, (9) jasa keuangan lainnya, dan (10) angkutan jalan raya. (g) sektor potensial berdasarkan nilai indek derajat kepekaan adalah: (1) sektor perdagangan besar dan eceran selain mobil/motor (2) sektor informasi dan komunikasi 7, (3) sektor penyedia makan dan minum, (4) angkutan jalan raya, (5) listrik, (6) padi, (7) jasa keuangan lainnya, (8) jasa lainnya, (9) administrasi pemerintahan, pertahanan & jaminan sosial wajib, (10) real estat. Kata kunci : analisis IO, pengganda output, tenaga kerja, indek daya penyebaran dan                            derajat kepekaan

PENGARUH PENAMBAHAN KONSENTRAT PROTEIN DAUN KELOR TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK BERAS MOCAF

Wahyuni, Rekna, Nugroho, Matheus

AGRIKA Vol 8, No 2 (2014): AGRIKA
Publisher : AGRIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.4 KB)

Abstract

Nasi adalah makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Salah satu cara untuk menanggulangi usia pendek produktivitas padi Indonesia adalah untuk membuat nasi analog. Analog Beras tepung mocaf berdasarkan lebih dikenal sebagai moca friceis satu produk yang telah dikembangkan Badan Ketahanan Pangan (FSA) untuk Jawa Timur untuk mengantisipasi krisis pangan akibat cuaca ekstrem. Dalam rangka memenuhi nilai gizi kebutuhan protein dari konsumen akan memerlukan penambahan sumber protein dalam pembuatan beras mocaf. Salah satu alternatif sumber protein adalah konsentrat protein dari daun kelor. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu penelitian tentang pengaruh penambahan sifat Moringaleaf concentratesonphy sicochemical dan organoleptik beras mocaf. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pada sifat fisik kimia daun kelor dan organoleptik moca FRICE. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh konsentrasi pada sifat fisikokimia daun kelor dan mocafrice organoleptik. Desain eksperimental yang digunakan adalah arandomized rancangan dengan asingle (RAT). Dalam penelitian ini terdiri dari perbedaan satu pengobatan factoris dalam penambahan moringaleaf konsentrat (A) dengan penambahan lima sub-faktor berkonsentrasi Moringa daun 0%, 2%, 4%, 6%, 8% / dan 10% (w / w). Analisis data dilakukan dengan ANOVA interval kepercayaan 5% dan 1%. Jika ditemukan pengaruh pada satu variebelthen diikuti oleh sedikitnya uji perbedaan yang signifikan (LSD). Untuk uji organoleptik menggunakan uji Friedman. Pengobatan terbaik menggunakan methodde dimodifikasi Garmo Susrini. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa penambahan protein daun kelor berkonsentrasi efek yang sangat signifikan pada chemicall fisik dan sifat organoleptik mocaf beras. Pengobatan terbaik adalah penambahan ekstrak kelor protein daun konsentrat sebesar 4% (w / w) adalah penambahan 4 g protein daun kelor berkonsentrasi di 100 gram tepung mocaf dengan karakteristik sebagai berikut kadar air 12,06%; kadar protein 3,66%; abu konten 1,84%; kadar serat kasar 2,86%; waktu memasak 127,64 sandaver kedua usia warna 4,5; merasakan 4.30 dan bau 3,50.

IBM PENGOLAHAN PANGAN BERBASIS KOMODITI LOKAL DESA SEKARMOJO KECAMATAN PURWOSARI ?? PASURUAN

Palupi, Hapsari Titi, Mamilianti, Wenny, ., Nuraeni

AGRIKA Vol 8, No 2 (2014): AGRIKA
Publisher : AGRIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.763 KB)

Abstract

Program IbM ini bertujuan untuk (1) Membentuk wirausaha yang mandiri berjiwa agribisnis dan pengelolaan usaha yang komersil berkelanjutan (2) menciptakan teknologi pengolahan pangan berbasis komoditi lokal yang dapat menjadi solusi bagi permasalahan kelompok usaha (3) Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan kelompok usaha tentang manajemen produksi, manajemen sumberdaya manusia dan manajemen keuangan serta memfasilitasi mereka dengan pihak pemodal dan mitra (4) Meningkatkan perekonomian kelompok usaha dan keluarga serta masyarakat sekitarnya. Metode pendekatan yang digunakan dalam program IbM ini antara lain : (1) Pelatihan Diversifikasi Produk Olahan Pangan. (2) Pendidikan dan pelatihan manajemen sumberdaya manusia. (3) Pelatihan dan pembinaan manajemen produksi. (4) Pelatihan manajemen keuangan (5) Pelatihan manajemen pemasaran. Hasil yang didapat adalah (1) secara umum anggota kelompok usaha mulai memahami pengolahan produk yang sehat, aman dan higenis. (2) Anggota kelompok usaha (mitra) sebagian besar telah memahami dan menerapkan tugas dantanggung jawab masing-masing sesuai job desciption sebagaimana struktur organisasi yang telah ada. (3) Anggota kelompok usaha (mitra)  sebagian besar mulai menerapkan jadwal pengolahan secara teratur (4)  Mitra mulai menggunakan teknologi pengemasan produk dengan menggunakan pengepresan. (5) Anggota kelompok usaha (mitra) sebagian besar telah memahami dan mulai menerapkan pencatatan keuangan (6) Anggota kelompok usaha (mitra) sebagian besar mulai menerapkan strategi pemasaran melalui promosi produk melalui sistem kemitraan.   Kata kunci : pengolahan pangan, komoditi lokal, sekarmojo, pasuruan

KAJIAN KLONALISASI MANGGA PODANG URANG UMUR PRODUKTIF SECARA SAMBUNG PUCUK

Yuniastuti, S, -, Bonimin

AGRIKA Vol 8, No 2 (2014): AGRIKA
Publisher : AGRIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (93.268 KB)

Abstract

Mangga Podang merupakan salah satu komoditas buah unggulan kabupaten Kediri dengan warna buah kuning kemerahan dan rasa manis segar. Tanaman umumnya berumur > 50 tahun dan berasal dari biji sehingga mutu dan produksinya sangat beragam. Pada tahun 2000 Pemerintah telah melepas varietas mangga Podang Urang dengan pohon induk di desa Tiron, kecamatan Banyakan, Kediri, namun belum banyak dimanfaatkan untuk perbanyakan. Kajian klonalisasi mangga Podang Urang umur produktif dilakukan untuk mengetahui keberhasilan dan pertumbuhan pertunasan mangga hasil penggantian varietas Podang dengan Podang Urang. Lokasi pengkajian di desa Tiron, kecamatan Banyakan, Kediri dengan perlakuan asal pohon induk (terdaftar dan tidak terdaftar). Masing-masing perlakuan menggunakan 10 pohon yang berumur > 20 tahun. Penggatian varietas dilakukan dengan menebang pohon mangga Podang setinggi 1 m, setelah tumbuh tunas baru dilakukan penyambungan secara sambung pucuk dengan batang atas Podang Urang. Hasil kajian menunjukkan bahwa asal pohon induk mempengaruhi keberhasilan penyambungan dan pertumbuhan tunas hasil sambungan. Keberhasilan penyambungan dengan batang atas dari pohon induk terdaftar mencapai 89,5%, sedangkan dengan batang atas dari pohon induk tidak terdaftar hanya 71,3%. Pertumbuhan tunas vegetatif hasil penyambungan dengan batang atas dari pohon induk terdaftar lebih baik dibanding batang atas dari pohon induk tidak terdaftar. Pada umur 2 bulan setelah penyambungan, tunas hasil sambungan dengan batang atas dari pohon induk terdaftar mempunyai tinggi 61,4 cm, diameter 12 mm, jumlah daun 59,9, jumlah ranting 2,7, jumlah flush 2,9, sedangkan tunas dari pohon induk tidak terdaftar mempunyai tinggi 45,1 cm, diameter 9,2 mm, jumlah daun 37,2, jumlah ranting 1,8, jumlah flush 1,9.   Kata kunci: Mangga Podang Urang; Klonalisasi; Varietas unggul; Sambung pucuk.

DIVERSIFIKASI PRODUK OLAHAN APEL MANALAGI KUALITAS AFKIR MENJADI SELAI DAN DODOL

Utomo, Denny, Wahyuni, Rekna, Novia, Cahyuni

AGRIKA Vol 8, No 2 (2014): AGRIKA
Publisher : AGRIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (39.23 KB)

Abstract

Desa Duwet Krajan merupakan daerah penghasil apel manalagi baik kualitas bagus maupun afkir. Minimnya pengetahuan tentang diversifikasi olahan apel afkir dan menjual apel manalagi afkir dalam bentuk segar. Pelatihan pembuatan diversifikasi olahan apel manalagi kualitas afkir menjadi selai dan dodol sangatlah tepat untuk kondisi masyarakat desa Duwet Krajan. Pembuatan selai dan dodol apel difokuskan pada penanganan bahan baku dengan mengunakan Natrium bisulfit, pengukusan dan mengatur tingkat penggunaan api pada proses pemasakan. Capaian pada pelatihan pembuatan selai dan dodol apel manalagi kualitas afkir adalah seluruh peserta mitra kerja dapat membuat selai dan dodol apel manalagi kualitas afkir dengan baik beserta pengemasannya. Kata kunci : apel, selai, dodol

ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL TEKNOLOGI USAHATANI KEDELAI SETELAH PADI SAWAH DI DESA WAEKASAR KECAMATAN MAKO, KABUPATEN BURU

Hidayah, Ismatul

AGRIKA Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : AGRIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.523 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kelayakan finansial teknologi introduksi usahatani kedelai setelah padi sawah, yang telah dilakukan pada petani kedelai lahan sawah irigasi di Desa Waekasar, kecamatan Mako, kabupaten Buru pada Tahun 2006. Digunakan metode pemahaman pedesaan secara partisipatif terhadap dua kelompok petani yaitu petani kooperator dan non-kooperator. Data yang dikumpulkan meliputi data komponen produksi.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani petani kooperator dengan menerapkan teknologi introduksi mampu memberikan keuntungan yang lebih besar (Rp 2.557.000) dibandingkan dengan usahatani petani non-kooperator (1.165.000), dengan nilai R/C masing-masing yaitu 1,40 (petani kooperator), 1,33 (petani non-kooperator). Hasil analisis marginal B/C sebesar 1,36 menunjukkan bahwa perubahan komponen teknologi petani yang disesuaikan dengan teknologi introduksi secara finansial layak dilakukan karena setiap Rp 100 tambahan biaya yang dikeluarkan oleh petani kooperator akibat mengganti komponen teknologi menyebabkan tambahan penerimaan sebesar Rp 136. Usahatani pola introduksi layak diterapkan dengan titik impas tambahan produksi yaitu 556,60 kg/ha atau produktivitas minimal yang harus dicapai 1.486,60 kg/ha. Dengan tambahan produksi sebesar 850 kg/ha pada petani kooperator maka perubahan komponen teknologi tersebut layak dilakukan jika penurunan harga tidak sampai dibawah titik impas harga yaitu Rp 3.274,12/kg. Kata kunci : Analisis finansial, Introduksi teknologi, Kedelai, Waekasar - Buru

SISTEM INTENSIFIKASI PADI AEROB TERKENDALI BERBASIS ORGANIK DI KELURAHAN TUNGGULWULUNG, KOTA MALANG

Ningtias Ningsih, Elik Murni, Suharjanto, Toto

AGRIKA Vol 6, No 1 (2012)
Publisher : AGRIKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.834 KB)

Abstract

Pengelolaan budidaya tanaman padi saat ini sering mengalami kesulitan pada penyediaan sarana produksi berupa pupuk. Masalah penyediaan pupuk dikarenakan oleh keterbatasan modal usaha tani dan juga diakibatkan oleh seringnya terjadi kelangkaan pupuk yang mengakibat harga pupuk menjadi tidak stabil. Budidaya tanaman padi dengan sistem intensifikasi padi aerob terkendali dengan menerapkan sistem produksi yang menyatukan pemanfaatan potensi biologis tanah, managemen tanaman, pemupukan dan tata air secara terpadu yang mendukung pertumbuhan dan perakaran tanaman padi. Pemanfaatan limbah jerami padi sebagai pupuk dapat mengurangi biaya usaha tani dan memperbaiki kesuburan tanah yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman padi. Metode yang digunakan yaitu dengan demoplot. Hasil penerapan IPAT-BO yaitu memperbaiki kesuburan tanah dan meningkatkan pertumbuhan tanaman padi yaitu pada tinggi tanaman, jumlah anakan dan hasil panen. Hasil panen pada penerapan budidaya padi IPAT-BO 9,10 ton/ha. Kata Kunci : Padi, Intensifikasi, Aerob, Organik