cover
Filter by Year
dentika Dental Journal
Articles
127
Articles
EFFICACY OF A TOOTHPASTE ON THE CONTROL OF PLAQUE AND GINGIVITIS (EFIKASI PASTA GIGI DALAM MENCEGAH AKUMULASI PLAK DAN GINGIVITIS)

Rahardjo, Anton, Maharani, Diah Ayu, Adiatman, Melissa, Agustanti, Ary, Ghaliyah, Dini, Bahar, Armasastra

dentika Dental Journal Vol 18, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi USU

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.753 KB)

Abstract

Abstract Brushing teeth with suitable toothpaste is the most effective way to remove plaque and prevent accumulation of plaque to prevent gingivitis. This research aims to examine the effectivity of toothpaste contained Dipotassium Glycyrrhizinate 0.05% and IPMP 0.05% as active ingredients toward gingival health. Double-blind randomized parallel group clinical trial was conducted. The amount of samples were 30 persons randomly assigned to used tested toothpaste, and 30 other persons use placebo. Measurement of Salivary Occult Blood Test (SOBT), Bleeding on Probing (BOP) and Gingival Index (GP) were performed before and after 3 months of toothpaste use. The results showed that after 3 months there were significant decrease (p< 0.05) in all values of SOBT (26 into 8), BOP (15.2 into 3.4), GI (0.5 into 0.1). In conclusion, the tested toothpaste provided protection against gingivitis (gum protection) 2 times better and a significant difference compared to placebo toothpaste. Key words: tooth paste, salivary occult blood test, gingival index   Abstrak Menyikat gigi menggunakan pasta gigi yang sesuai adalah cara mekanis yang paling utama dalam menghilangkan plak dan mencegah akumulasi plak untuk mencegah gingivitis. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efikasi pasta gigi berbahan aktif dipotassium glycyrrhizinate 0,05% dan isopropil metilfenol 0,05% terhadap kesehatan gingiva. Penelitian dilakukan dengan metode double-blind randomized parallel group clinical trial. Subjek berjumlah 30 orang untuk kelompok uji efikasi pasta gigi, dan 30 orang lainnya sebagai kelompok kontrol. Pengukuran Salivary Occult Blood Test (SOBT), Bleeding on Probing (BOP) dan Index Gingiva (GI) dilakukan terhadap seluruh subjek sebelum dan sesudah 3 bulan penggunaan pasta gigi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua indikator mengalami penurunan signifikan (p< 0,5) yang berarti terjadinya perbaikan kesehatan gingiva, yaitu nilai SOBT (26 menjadi 8), BOP (15,2 menjadi 3,4), GI (0,5 menjadi 0,1). Sebagai kesimpulan, bahwa pasta gigi uji memberikan proteksi terhadap ginggivitis (gum protection) 2 kali lebih baik secara signifikan dibandingkan dengan pasta gigi plasebo. Kata kunci: pasta gigi, salivary occult blood test, indeks gingiva

PENGARUH PENAMBAHAN SERAT KACA DAN SERAT POLIPROPILEN TERHADAP KEKUATAN IMPAK DAN TRANSVERSAL PADA BAHAN BASIS GIGI TIRUAN RESIN AKRILIK POLIMERISASI PANAS (EFFECT OF GLASS FIBERS AND POLYPROPYLENE FIBERS ON IMPACT AND TRANSVERSE STRENGTH OF HEAT POLYME

Putranti, Dwi Tjahyaning, Rahmy, Nurul

dentika Dental Journal Vol 18, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi USU

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (73.838 KB)

Abstract

Abstract The material most commonly used for the fabrication of complete denture is polymethyl methacrylate (PMMA) denture base resin. Despite satisfying esthetic demands it is far from ideal in fulfilling the mechanical, especially on its impact and transverse strength. Some approaches can be used to strengthen the PMMA denture, such as incorporation of glass fibers and polypropylene fibers. The specimens were fabricated from the dies formed as per standard ISO No. 806 104 377514 for impact test and ISO No. 1567 for transverse strength. 0.7% by weight of glass and polypropylene fibers were incorporated in the PMMA resin. The impact and transverse testing was performed and the values obtained were analyzed using independent t-test. The incorporation of glass and polypropylene fibers showed statistically significant (p< 0.05) compared with the control group. In conclusion, reinforcement with both of the fibers are an effective method to increase the impact and transverse strength of the PMMA denture base resin.   Key words: denture base, impact strength, transverse strength, glass fiber, polypropylene fiber Abstrak Bahan yang paling umum digunakan untuk membuat gigi tiruan penuh adalah resin polimetil metakrilat. Meskipun kebutuhan estetis telah terpenuhi, kebutuhan mekanis masih jauh dari ideal, terutama dalam hal kekuatan impak dan transversalnya. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk meningkatkan kekuatan bahan basis gigi tiruan, seperti dengan penambahan serat kaca dan serat polipropilen ke dalam bahan basis gigi tiruan. Sampel dibuat sesuai ISO No. 806 104 377514 untuk uji kekuatan impak dan ISO No. 1567 untuk uji kekuatan transversal. Sebanyak 0,7% serat kaca dan serat polipropilen ditambahkan ke dalam bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas. Hasil uji kekuatan impak dan transversal dianalisis menggunakan uji t-independen. Penambahan serat kaca dan serat polipropilen menunjukkan hasil yang signifikan (p< 0,05) dibandingkan dengan kelompok kontrol. Sebagai kesimpulan, penambahan kedua jenis serat merupakan suatu metode yang efektif untuk meningkatkan kekuatan impak dan transversal bahan basis gigi tiruan resin akrilik polimerisasi panas.   Kata kunci: basis gigi tiruan, kekuatan impak, kekuatan transversal, serat kaca, serat polipropilen

UJI IN VITRO CARBONATE APATITE-CHITOSAN SCAFFOLDS SEBAGAI MATERIAL CANGKOK TULANG PADA TEKNIK REKAYASA JARINGAN (IN VITRO TEST OF APATITE - CHITOSAN CARBONATE SCAFFOLDS AS BONE GRAFT MATERIAL IN TISSUE ENGINEERING TECHNIQUES)

Ariani, Maretaningtias Dwi, Yuliati, Anita, Kresnoadi, Utari

dentika Dental Journal Vol 18, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi USU

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.412 KB)

Abstract

Abstract   In order to enhance cell adhesion and bone formation ability of chitosan, we tried to fabricate a composite of chitosan with carbonate apatite (CA). The purpose of this study was to fabricate this composite and to evaluate carbonate apatite-chitosan scaffolds (CA-ChSs) from a standpoint of cell proliferation using MC3T3-E1. Chitosan scaffolds (ChSs) which contained of 25, 50, 75, 100, 125, 150, 200 and 400 mg chitosan were fabricated by the following procedure (100D, YSK, Japan) was dissolved into 5 ml of 2% acetic acid, shaked for 15 min, then neutralized with 15 ml of 0.1 M NaOH solution. After centrifugation at 1500 rpm for 10 min, excess water was removed and then chitosan gel was packed into the molds (diameter: 5 mm, height: 2 mm). The molds were frozen at -80°C for 2h and dried in a freeze dry machine for 24h for sponge body. The sponges were subjected to UV radiation for 2h. To fabricate CA-ChSs, 200 mg chitosan was selected. After neutralization, 10, 50, 100, 200 and 300 mg of 0.06 M CA were added into the 200 mg ChSs. The structure of CA-ChSs was observed by scanning electron microscope (SEM). Mouse osteoblast-like cell (MC3T3-E1) proliferation in this scaffold was investigated for 1, 7 and 14 days. The result showed that three dimensional porous structures of CA-ChSs with CA powder attachment were clearly observed by SEM. Proliferated cell numbers in CA-ChSs were significantly higher than those in ChSs (control) in each stage for 1, 7 and 14 days  (p< 0.05). In conclusion, it may suggest that CA-ChSs is a possible candidate for bone tissue engineering.   Key words: carbonate apatite, chitosan, scaffolds, bone graft material, tissue engineering   Abstrak   Untuk meningkatkan adhesi sel dan kemampuan pembentukan tulang dari kitosan, dicoba untuk membuat suatu scaffolds yang menggabungkan kitosan dengan carbonate apatite (CA). Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat carbonate apatite-chitosan scaffolds (CA-ChSs) serta mengevaluasi CA-ChSs dari sudut pandang proliferasi sel menggunakan MC3T3-E1. Chitosan scaffolds (ChSs) yang berisi 25, 50, 75, 100, 125, 150, 200 dan 400 mg  bubuk kitosan (100D, YSK, Japan) dibuat dengan prosedur dilarutkan dalam 5 ml asam asetat 2%, dikocok selama 15 menit, kemudian dinetralkan dengan 15 ml 0,1 M larutan NaOH. Setelah disentrifugasi pada 1500 rpm selama 10 menit, kelebihan air dibuang, kemudian gel kitosan dikemas ke dalam cetakan teflon (diameter: 5 mm, tinggi: 2 mm). Cetakan dibekukan pada suhu -80°C selama 2 jam dan dikeringkan dalam mesin beku kering pada suhu -54°C selama 24 jam. Selanjutnya dilakukan radiasi ultraviolet pada ChSs selama 2 jam. Untuk membuat CA-ChSs, dipilih ChSs yang berisi 200 mg bubuk kitosan. Setelah dinetralisir, 10, 50, 100, 200 dan 300 mg dari 0,06 M CA ditambahkan ke dalam kitosan gel yang berisi 200 mg bubuk kitosan. Struktur CA-ChSs diamati dengan scanning electron microscope (SEM). Proliferasi MC3T3-E1 dalam ChSs dan CA-ChSs dievaluasi pada hari ke-1, 7 dan 14. CA-ChSs dengan struktur tiga dimensi yang berpori serta adanya perlekatan CA dapat diamati dengan jelas menggunakan SEM. Hasil penelitian menunjukkan jumlah pertumbuhan dan perkembangan sel pada CA-ChSs secara signifikan lebih banyak dibandingkan pada ChSs (kontrol) pada setiap tahap pengamatan di hari ke-1, 7 dan 14 (p< 0,05). Sebagai kesimpulan, CA-ChSs adalah kandidat untuk material cangkok tulang pada teknik rekayasa jaringan.   Kata kunci: carbonate apatite, kitosan, scaffolds, bahan cangkok tulang, teknik rekayasa jaringan

PENGARUH PENAMBAHAN KITOSAN NANOPARTIKEL PADA CASEIN PHOSPHOPEPTID AMORPHOUS CALCIUM PHOSPHATE (CPP-ACP) TERHADAP REMINERALISASI GIGI (EFFECT OF ADDING NANOPARTICLE CHITOSAN TO CASEIN PHOSPHOPEPTID AMORPHOUS CALCIUM PHOSPHATE (CPP-ACP) ON TOOTH REMIN

Batubara, Fitri Yunita, Abidin, Trimurni, Agusnar, Harry

dentika Dental Journal Vol 18, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi USU

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.375 KB)

Abstract

Abstract Recently a contemporary approach to treat the caries has been adopted. Based on the principle that caries can be remineralized, non-invasive intervention has been launched on caries lesion that has not formed into cavities, using therapeutic agents to heal the lesion by replacing the lost mineral in tooth structure. The purpose of this study was to compare the effect of CPP-ACP and the combination of CPP-ACP and nanoparticle chitosan in enamel remineralizing by using EDX. Twenty four enamel specimens from impacted and extracted human molars were divided into four groups. Group I was only incubated in artificial saliva. Group II was stored in demineralizing agent. Group III was stored in demineralizing agent and then remineralized with CPP-ACP. Group IV was stored in demineralizing agent and then remineralized with combination gel CPP-ACP and nanoparticle  chitosan. All specimens were evaluated by using EDX. The statistical test showed that there was no significant difference between enamels that were remineralized with CPP-ACP and combination gel CPP-ACP and nanoparticle chitosan (p> 0.05). In conclusion, CPP-ACP and combination gel CPP-ACP and nanoparticle  chitosan have equally ability to increase remineralization of tooth enamel.   Key words: CPP-ACP, nanoparticle chitosan, enamel remineralization   Abstrak   Perawatan karies saat ini dikembangkan dengan pendekatan kontemporer. Intervensi non-invasif lesi karies yang belum membentuk kavitas diperoleh dengan menggunakan bahan terapi untuk penyembuhan lesi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efek CPP-ACP dan kombinasi gel CPP-ACP dan kitosan nanopartikel dalam remineralisasi email dengan menggunakan alat EDX. Sebanyak dua puluh empat buah sampel email gigi molar terpendam yang sudah diekstraksi dibagi menjadi empat kelompok. Kelompok I hanya diinkubasi dalam saliva buatan. Kelompok II direndam dalam larutan demineralisasi. Kelompok III direndam dalam larutan demineralisasi kemudian diaplikasi dengan gel CPP-ACP. Kelompok IV direndam dalam larutan demineralisasi kemudian diaplikasi dengan kombinasi gel CPP-ACP dan kitosan nanopartikel. Seluruh sampel diuji dengan alat EDX. Uji statistik menunjukkan tidak ada perbedaan jumlah unsur kalsium dan fosfor yang bermakna antara email yang diaplikasikan gel CPP-ACP dan kombinasi gel CPP-ACP dan kitosan (p>0,05). Sebagai kesimpulan, gel CPP-ACP dan kombinasi gel CPP-ACP dan kitosan nanopartikel memiliki kemampuan meningkatkan remineralisasi email gigi yang sama baiknya.   Kata kunci: CPP-ACP, kitosan nanopartikel, remineralisasi email

DUKUNGAN RADIOGRAFI PANORAMIK DALAM MENENTUKAN DIMENSI DAN BENTUK PROSESUS KONDILOIDEUS PADA MAHASISWA DAN PEGAWAI SUKU BATAK DI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA (PANORAMIC IMAGING SUPPORT TO ESTABLISH THE DIMENSION AND SHAPE OF CO

Manja, Cek Dara, Amaliyah, Siti

dentika Dental Journal Vol 18, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi USU

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (85.598 KB)

Abstract

Abstract Panoramic imaging is very useful for determining the diagnosis of jaw problems. Panoramic imaging has been recommended for selecting patients with temporomandibular joint complaints  and for determining changes in condylary process. The aim of this study was to determine the mean value of the dimension and shape of condylary process of Bataknese students and staffs in Faculty of Dentistry University of Sumatera Utara. This research was a descriptive study while sample selection was done by purposive sampling. Subjects were pure Bataknese from two generation above. Panoramic radiography examination was performed in 50 subjects of Bataknese from aged 20 to 30 years old. Dimensional measurement of condylary process was done computerizely and observations of condylary process was done visually. This study found that in males condylary process’s mean value of height was 18.377 ± 2.859 mm while in females 17.271 ± 2.917 mm. Mean value of length of condylary process’s in males was 10.504 ± 1.208 mm while in females 9.758 ± 1.377 mm. In males, round shape was 50%, pointed shape was 37.5% and angled shape was 12.5%. In females, pointed shape was 63.46%, round shape was 32.7% and angled shape was 3.84% . In conclusion, In Bataknese students and staffs aged 20 to 30 years old, the mean value of heigt of condylary process was 17.802 ± 2.914 mm while the mean value of length was 10.106 ± 1.322 mm. The most frequent shape of condylary process was pointed shape which was 51%, while round shape was 41% and angled shape was 8%.   Key words: panoramic imaging, condylary process, Bataknese   Abstrak Radiografi panoramik sangat berguna untuk mendukung tegaknya diagnosis masalah yang mencakup keseluruhan rahang. Radiografi panoramik telah direkomendasikan untuk menyeleksi pasien dengan keluhan pada sendi temporomandibular dan untuk menentukan perubahan pada prosesus kondiloideus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui rata-rata dimensi prosesus kondiloideus dan bentuk prosesus kondiloideus pada mahasiswa dan pegawai suku Batak di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pemilihan sampel dilakukan secara purposive sampling. Sampel merupakan suku Batak asli dari dua keturunan di atas. Pemeriksaan radiografi panoramik dilakukan pada 50 orang sampel suku Batak usia 20-30 tahun. Pengukuran dimensi prosesus kondiloideus dilakukan secara komputerisasi dan pengamatan bentuk prosesus kondiloideus dilakukan secara visual. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai rerata ukuran tinggi prosesus kondiloideus pada laki-laki adalah 18,377 ± 2,859 mm dan pada perempuan 17,271 ± 2,917 mm. Nilai rerata ukuran lebar prosesus kondiloideus pada laki-laki adalah 10,504 ± 1,208 mm dan pada perempuan 9,758 ± 1,377 mm. Pada laki-laki, bentuk bulat adalah sebanyak 50%, bentuk menonjol 37,5% dan bentuk bersudut 12,5%. Pada perempuan, bentuk menonjol adalah sebesar 63,46%, bentuk bulat 32,7% dan bentuk bersudut 3,84%. Sebagai kesimpulan, pada suku Batak usia 20-30 tahun,  nilai rerata ukuran tinggi prosesus kondiloideus adalah 17,802 ± 2,914 mm dan nilai rerata ukuran lebar prosesus kondiloideus adalah 10,106 ± 1,322 mm. Bentuk prosesus kondiloideus yang terbanyak yaitu bentuk menonjol sebesar 51%, bentuk bulat sebesar 41% dan bentuk bersudut sebesar 8%.   Kata kunci: radiografi panoramik, prosesus kondiloideus, suku batak

PENGARUH KONSENTRASI LARUTAN SODIUM HIPOKLORIT SEBAGAI DESINFEKTAN TERHADAP KEKUATAN IMPAK BASIS GIGI TIRUAN RESIN AKRILIK (EFFECT OF CONCENTRATION SODIUM HYPOCHLORITE SOLUTION AS DESINFECTAN TO THE IMPACT STRENGTH OF DENTURE BASE ACRYLIC RESIN)

Rahmayani, Liana, Fitriyani, Sri, Andriany, Poppy, Dumna, Rizki

dentika Dental Journal Vol 18, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi USU

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (70.686 KB)

Abstract

Abstract Sodium Hypochlorite (NaOCl) is a very effective desinfectan to clean denture base. However, the use of this chemical may decrease the impact strength of denture base acrylic resin. This research was conducted to evaluate the effect of sodium hypochlorite solutions in concentration 2% and 5% for the impact strength of denture base acrylic resin. This research used 30 acrylic resin QC-20 as specimen in size 50 x 6 x 4 mm. The spesimens were divided into 3 groups of immersion; concentration 2% of NaOCl, 5% of NaOCl, and control group. Immersion was done in 5 days 1 hour 40 minutes that simulate during 1 year usage of desinfectan. Each group which has been immersed tested with charpy impact tester in speed 2.9 m/s and the energy of pendulum is equal to 1 Joule. Data was analyzed with Analysis of Variant (ANOVA). The result of analysis showed that there was significant difference (p< 0.05) among the solution for impact strength. In conclusion, sodium hypochlorite solutions cause degradation of the impact strength of denture base acrylic resin.   Key words: sodium hypochlorite, denture base, acrylic resin, impact strength Abstrak   Sodium Hipoklorit (NaOCl) merupakan desinfektan yang sangat efektif untuk membersihkan basis gigi tiruan. Namun, penggunaan dari bahan kimia ini dapat menurunkan kekuatan impak dari basis resin akrilik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh larutan sodium hipoklorit dengan konsentrasi 2% dan 5% terhadap kekuatan impak basis gigi tiruan resin akrilik. Penelitian ini menggunakan 30 spesimen resin akrilik QC-20 berukuran 50 x 6 x 4 mm. Spesimen dibagi ke dalam 3 kelompok perendaman; konsentrasi 2% NaOCl, 5% NaOCl dan kelompok kontrol. Perendaman dilakukan selama 5 hari 1 jam 40 menit yang mensimulasi pemakaian  larutan desinfektan selama 1 tahun. Masing-masing kelompok perendaman diuji dengan charpy impact tester dengan kecepatan impak sebesar 2,9 m/detik dan energi pendulum sebesar 1 joule. Data selanjutnya dianalisis dengan Analisis Varian (ANOVA). Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan (p< 0,05) antara larutan perendaman terhadap kekuatan impak. Sebagai kesimpulan, larutan sodium hipoklorit dapat menyebabkan perubahan kekuatan impak basis gigi tiruan akrilik.   Kata kunci: sodium hipoklorit, basis gigi tiruan, resin akrilik, kekuatan impak

PERBANDINGAN KONSENTRASI STATERIN DAN ION KALSIUM PADA SALIVA DAN PLAK SUPRAGINGIVA (COMPARISON OF STATHERIN AND CALCIUM ION CONCENTRATION IN SALIVA AND SUPRAGINGIVAL PLAQUE)

Lindawati, Yumi, Primasari, Ameta, Suryanto, Dwi

dentika Dental Journal Vol 18, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi USU

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.479 KB)

Abstract

Abstract Calcium derives from saliva can insert into the deep layers of dental plaque. Increasing of the concentration of calcium ions in the biofilm causes increased minerals absorption thus there was also an increasing calculus formation if oral hygiene is not adequate. Statherin inhibit the deposition of calcium-phosphate from saliva. Statherin binds to hydroxyapatite, indicating a possible role in the formation of pellicle and plaque. The purpose of this study was to determine and compare the mean concentration of statherin and calcium in saliva with supragingival plaque. The design of study was cross-sectional design. The selection of sample using purposive sampling based on exclusion and inclusion criteria of saliva, and supragingival plaque in patients. Calsium concentration in saliva and supragingival plaque was measured by spectrophotometry, and statherin concentration was measured by ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay). The result showed that median concentrations of salivary statherin was 1.5 ug/ml, supragingival plaque 223μg/ml, the median concentration of salivary calcium was 0.9475 mmol/l, supragingival plaque 63.13 mmol/l. Statherin and calcium concentration on supragingival plaque was significantly higher than the concentration in saliva. In conclusion, supragingival plaque has more calcium and statherin compare with than saliva. Key words: saliva, supragingival plaque, statherin, calcium Abstrak Kalsium yang diperoleh dari saliva dapat masuk ke lapisan dalam plak gigi. Peningkatan konsentrasi ion kalsium pada biofilm menyebabkan penyerapan mineral menjadi meningkat sehingga terlihat juga peningkatan pembentukan kalkulus bila disertai pemeliharaan kebersihan rongga mulut yang tidak adekuat. Staterin menghambat pengendapan kalsium-fosfat dari saliva. Staterin berikatan dengan hidroksiapatit, mengindikasikan kemungkinan perannya dalam pembentukan pelikel dan pembentukan plak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui rerata dan membandingkan konsentrasi staterin dan kalsium pada saliva dengan plak supragingiva. Desain penelitian studi cross-sectional. Pemilihan sampel menggunakan purposive sampling berdasarkan kriteria eksklusi dan inklusi saliva, dan plak supragingiva pada pasien. Konsentrasi kalsium saliva dan plak supragingiva diukur menggunakan spektrofotometri, konsentrasi staterin saliva dan plak supragingiva diukur menggunakan ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay). Hasil penelitian menunjukkan median konsentrasi staterin saliva 1,5 µg/ml, plak supragingiva 223µg/ml, median konsentrasi kalsium saliva adalah 0,9475 mmol/l, dan plak supragingiva 63,13 mmol/l. Konsentrasi staterin dan kalsium pada plak supragingiva lebih tinggi secara signifikan dibandingkan konsentrasinya pada saliva. Sebagai kesimpulan, plak supragingiva memiliki kadar ion kalsium dan staterin yang lebih banyak dibandingkan saliva.   Kata kunci: saliva, plak supragingiva, staterin, kalsium

PENGARUH EKSTRAK KULIT BATANG JAMBU METE (Anacardium occidentale Linn.) SEBAGAI BAHAN ANTISEPTIK TERHADAP EKSPRESI VASCULAR ENDOTHELIAL GROWTH FACTOR (VEGF) PADA LUKA BEKAS PENCABUTAN GIGI MARMUT (INFLUENCE OF CASHEW STEM BARK EXTRACT (Anacardium occid

,, Harsini, Sutardjo, Iwa, Martono, Sudibyo, Sunarintyas, Siti, ., Sudarsono

dentika Dental Journal Vol 18, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi USU

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.353 KB)

Abstract

Abstract Tooth extraction causes a disorder of tissue continuity which requires  time for healing. Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) is one of the many pro inflammation mediators that related with new blood vessel formation. Cashew stem bark (Anacardium occidentale Linn.) has phenolic compound that controls cell function by inducing VEGF. The aim of this research was to know influence of cashew stem bark  as an antiseptic on VEGF for the guinea pig tooth extraction scar. The research used cashew stem  bark from Mojolegi, Karangtengah, Imogiri, Bantul. Extraction was done by maceration with 70% ethanol.  After we obtained a thick extract, an antiseptic  was made in different concentrations; namely 3, 5, and 7% and aquadest as control. Fourty eigh guinea pigs, male,  aged 2,5 to 3 months and weight  250-300 g, were divided into 3 groups and one group as control, each group consisted of 12 guinea pigs. All of their lower incisives were pulled out. The  aquadest were given to the first group as control, the 3% concentrations of antiseptic   were given to the second group, 5% concentrations were given to the third group, and 7%  for the fourth group.  Four Guinea Pigs from each group were then decapitated  after 3, 7, and 14 days. The tissues were taken and being made into histological specimens by immuno histochemistry staining to count VEGF expression. Data was  analyzed by two-way Anova and  followed by LSD0,05. The results showed that the variation among concentrations, number of days, and interactions of concentration and day provided effects to VEGF expression (p< 0.05). By LSD test, it was known that there were significant effects on  VEGF expression  between the concentration and  number of days. In conclusion, an antiseptic  of Anacardium occidentale stem bark extract influences VEGF expression.   Key words: Anacardium occidentale Linn, phenolic, VEGF Abstrak Pencabutan gigi dapat berdampak  pada penghambatan  kontinuitas jaringan yang memerlukan waktu untuk kembali sembuh. Vascular Endhotelial Growth Factor (VEGF) merupakan salah satu mediator pro inflamasi yang berhubungan dengan pembentukkan pembuluh darah baru. Kulit batang jambu mete (Anacardium occidentale Linn.) mempunyai  kandungan fenolik yang dapat berperan pada pengaturan fungsi sel dengan menginduksi VEGF. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi ekstrak kulit batang jambu mete sebagai bahan antiseptik terhadap ekspresi VEGF pada luka  dampak pencabutan gigi hewan coba (marmut/Guinea Pig). Kulit batang jambu mete diambil dari Mojolegi, Karangtengah, Imogri, Bantul. Ekstraksi dilakukan secara maserasi dengan pelarut etanol 70%.  Bahan antiseptik dibuat dalam  konsentrasi 3%, 5% dan 7%. Sebanyak 48 ekor marmut jantan,  umur sekitar  2,5-3 bulan  dengan bobot  badan rata-rata  250-300 gr dibagi  menjadi 4 kelompok dan setiap kelompok terdiri atas  12 ekor. Seluruh marmut dilakukan pencabutan gigi insisivus bawah kanan. Kelompok I adalah kelompok kontrol yang ditetesi air suling.  Kelompok II ditetesi  ekstrak kulit batang jambu mete dengan konsentrasi 3%. Kelompok III ditetesi ekstrak kulit batang jambu mete 5% dan kelompok IV  ditetesi ekstrak kulit batang jambu mete 7%. Dekapitasi tiap kelompok sebanyak 4 ekor dilakukan pada hari ke 3, 7dan 14. Setelah dekapitasi, soket bekas gigi diambil dan dibuat preparat histologisnya dengan pengecatan  imunohistokimia.  Penghitungan ekspresi VEGF dilakukan dibawah mikroskop dengan perbesaran 40x. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analisis Varians dua jalan dilanjutkan dengan LSD0,05. Hasil penelitian menunjukkan antar konsentrasi, antar hari, dan interaksi antar konsentrasi dan hari berpengaruh signifikan terhadap ekspresi VEGF (p< 0,05).  Pada uji LSD diketahui terdapat perbedaan ekspresi VEGF yang signifikan antar kelompok konsentrasi dan kelompok hari. Sebagai kesimpulan, ekstrak kulit batang jambu mete dalam bahan kumur  berpengaruh terhadap ekspresi VEGF.   Kata kunci: Anacardium occidentale Linn., fenolik, VEGF

PENGARUH LAMA PAPARAN CUKA APEL TERHADAP PERUBAHAN DIMENSI AKRILIK HEAT CURED (EFFECT OF IMMERSED TIMES OF APPLE VINEGAR ON DIMENSIONAL CHANGES OF HEAT CURED ACRYLIC RESIN)

Ningsih, Diana Setya, Fitriany, Sri, ., Herwanda, Respratidina, Agnesvida

dentika Dental Journal Vol 18, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi USU

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.564 KB)

Abstract

Abstract Apple vinegar is a healthy drink which consists of fenol, acid and other components. Its composition can influence the property of heat cured acrylic. Heat cured acrylic resin is available for clinical uses denture base material. The property of acrylic resin is water absorption due to instability in dimensional denture bases. Water absorption can be affected by the type of solution and immersed time. The aim of this study was to investigate the effect of immersed times heat cured acrylic resin in apple vinegar to dimensional changes. Ten  specimens for this study were prepared on disc shape with the size 50 ± 1 mm diameter and 0.5 ± 0.1 mm thickness. Specimens were dried in desicator at 37°C then recorded dimensional change of spesimen (W1) using caliper (L) and analytic balance. Specimens were immersed in apple vinegar at 37°C for 1, 3, 5 and 7 days. Specimens were dried for 15 seconds and weight of specimens were recorded (W2). Data was analyzed by using repeated Anova and post hoc pairwaise comparisons. The result of this study showed that the immersed times of apple vinegar had significant effect on dimensional change of heat cured acrylic resin (p< 0.05). There were significant differences between dimensional changes after 1 day with 3, 5, 7 days (p< 0.05) but there was no significant difference between 5 days with 7 days (p< 0.05). In conclusion, the immersed times and type of solutions (apple vinegar) influenced on dimensional change of heat cured acrylic resin. Key words: heat cured acrylic resin, dimensional change, time immersed, apple vinegar   Abstrak Cuka apel adalah minuman kesehatan yang terdiri atas fenol, asam dan komponen lainnya. Komposisi ini dapat mempengaruhi sifat resin akrilik heat cured. Resin akrilik heat cured secara klinis dapat digunakan sebagai bahan gigi tiruan. Resin akrilik dapat menyerap air sehingga menyebabkan ketidakstabilan dimensi basis gigi tiruan. Penyerapan air dipengaruhi oleh jenis larutan dan lama perendaman. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek lama perendaman resin akrilik heat cured dalam cuka apel terhadap perubahan dimensi. Sepuluh spesimen penelitian berbentuk disc dengan diameter 50 ± 1 mm dan ketebalan 0,5 ± 0,1 mm dikeringkan dalam desikator pada temperatur 37oC kemudian berat awal spesimen (W1) diukur menggunakan kaliper (L) dan neraca analitik. Spesimen kemudian direndam dalam cuka apel pada 37oC selama 1, 3, 5 dan 7 hari. Spesimen dikeringkan selama 15 detik dan berat spesimen tercatat (W2). Data dianalisis dengan menggunakan repeated Anova dan post hoc pairwaise comparisons. Hasil penelitian menunjukkan lama perendaman di dalam cuka apel dapat menyebabkan perubahan dimensi resin akrilik heat cured secara bermakna (p< 0,05). Ada perbedaan yang bermakna antara perubahan dimensi setelah 1 hari dengan 3, 5, 7 hari (p< 0,05), tetapi tidak ada perbedaan yang bermakna antara 5 hari dengan 7 hari (p< 0,05). Sebagai kesimpulan, lama perendaman dan jenis larutan (cuka apel) dapat menyebabkan perubahan dimensi pada resin akrilik heat cured. Kata kunci: resin akrilik heat cured, perubahan dimensi, lama perendaman, cuka apel

EFEK ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN AFRIKA (VERNONIA AMYGDALINA) SEBAGAI BAHAN ALTERNATIF MEDIKAMEN SALURAN AKAR TERHADAP PORPHYROMONAS GINGIVALIS (ANTIBACTERIAL EFFECT OF ETHANOL EXTRACT OF AFRICA LEAF (VERNONIA AMYGDALINA) AS AN ALTERNATIVE ROOT CAN

Nurliza, Cut, Batubara, Fitri Yunita, Sitompul, Tiurma

dentika Dental Journal Vol 18, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi USU

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (80.314 KB)

Abstract

Abstract Root canal treatment requires medicament intracanal material to eliminate microorganisms that can not be achieved by chemo-mechanical preparation techniques. One of the bacteria is often found in primary endodontic infections is Porphyromonas gingivalis. Africa leaf (Vernonia amygdalina) is a natural substance that has an antibacterial and can be used as an alternative material medicament root canal. The purpose of this experimental laboratory study was to determine the antibacterial effect of the ethanol extract of Africa leaf against Porphyromonas gingivalis. Two kg Africa leaves were extracted with 70% ethanol into viscous extract and diluting ethanol extract of Africa leaf in Mueller Hinton Broth starting from a concentration of 100, 50, 25, 12.5, 6.25, and 3.125% were replicated 4 times. One ml of each concentration was added 1 ml bacterial suspension, vortexed, and incubated at 37°C for 24 hours in the CO2 incubator, then compared with a control Mc Farland visually to determine Minimum Inhibitory Consentration (MIC). Then followed by counting the number of bacterial colonies Drop Plate Milles Misra method to determine Minimum Bactericidal  Consentration (MBC) is taken for every 50 µL concentration, dripped into Mueller Hinton Agar, replicated four times, then incubated at 37°C for 24 hours. In conclusion, ethanol extract of Africa leaf has an antibacterial effect on Porphyromonas gingivalis with MBC 50% and MIC is not representative so the result is unknown.   Key words: medicament intracanal, Africa leaf, Porphyromonas gingivalis, antibacterial   Abstrak Perawatan saluran akar memerlukan bahan medikamen saluran akar untuk mengeliminasi mikroorganisme yang tidak dapat dicapai dengan teknik preparasi chemo-mechanical. Salah satu bakteri yang sering ditemukan pada infeksi endodontik primer adalah Porphyromonas gingivalis. Daun Afrika (Vernonia amygdalina) merupakan salah satu bahan alami yang bersifat antibakteri yang dapat dijadikan sebagai bahan alternatif medikamen saluran akar. Tujuan penelitian eksperimental laboratoris ini adalah untuk mengetahui efek antibakteri ekstrak etanol daun Afrika terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis. Penelitian ini dimulai dengan melakukan ekstraksi daun Afrika sebanyak 2 kg dengan pelarut etanol 70% hingga diperoleh ekstrak kental. Pengujian efek antibakteri menggunakan metode dilusi dengan mengencerkan ekstrak etanol daun Afrika dalam media MHB dimulai dari konsentrasi 100, 50, 25, 12,5, 6,25, dan 3,125% yang direplikasi 4 kali. Setiap konsentrasi ditambahkan 1 ml suspensi bakteri, divorteks, dan diinkubasi 37°C selama 24 jam pada inkubator CO2 kemudian kekeruhan diamati dan dibandingkan dengan kontrol Mc Farland secara visual untuk menentukan nilai KHM. Kemudian dilanjutkan penghitungan jumlah koloni bakteri dengan metode Drop Plate Milles Misra untuk menentukan KBM yaitu setiap konsentrasi diambil 50 µl, diteteskan ke media MHA, direplikasi 4 petri, kemudian diinkubasi 37°C selama 24 jam. Sebagai kesimpulan, ekstrak etanol daun Afrika memiliki efek antibakteri terhadap Porphyromonas gingivalis secara in vitro dengan nilai KBM pada konsentrasi 50% dan nilai KHM tidak representatif sehingga tidak dapat diketahui hasilnya.   Kata kunci: medikamen saluran akar, daun Afrika, Porphyromonas gingivalis, antibakteri