cover
Filter by Year
Jurnal Anestesi Perioperatif
ISSN : -     EISSN : -
Articles
155
Articles
Perbandingan Nilai Analisis Gas Darah, Elektrolit, dan Laktat Setelah Pemberian Ringer Asetat Malat dengan Ringer Laktat untuk Early Goal Directed Therapy Pasien Sepsis

Fikri, Muhammad, Hanafie, Achsanuddin, Umar, Nazaruddin

Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.214 KB)

Abstract

Sepsis merupakan penyebab kedua tertinggi kematian di instalasi rawatan intensif dan merupakan 10 penyebab tertinggi kematian di seluruh dunia. Menurut Survival Sepsis Campaign 2012 penanganan awal pada pasien sepsis dengan pemberian cairan memberikan respons yang lebih baik dengan pemberian 30 mL/kgBB cairan kristaloid. Penelitian ini bertujuan membandingkan jenis cairan kristaloid mana yang merupakan pilihan lebih baik untuk resusitasi atau early goal directed therapy (EDGT) pada pasien sepsis. Penelitian ini merupakan uji klinis acak tersamar ganda yang dilakukan pada periode bulan Desember 2016–Januari 2017 di RSUP Haji Adam Malik Medan. Empat puluh pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk eksklusi dinilai perubahan analisis gas darah, elektrolit (natrium, kalium, klorida), dan laktat sebelum dengan sesudah resusitasi cairan Ringer asetat malat dan Ringer laktat. Dari 40 pasien yang memenuhi kriteria, pemberian Ringer asetat malat yang dibandingkan dengan Ringer laktat pada pasien sepsis, nilai analisis gas darah (AGDA) mengalami perbaikan pada nilai HCO3 (p=0,001), TCO2 (p=0,002), base excess (BE) (p=0,048). Pemberian cairan ringer asetat malat menunjukkan peningkatan nilai analisis gas darah, natrium, dan laktat yang lebih baik daripada Ringer laktat. Simpulan, pemberian cairan Ringer asetat malat pada EGDT pasien sepsis lebih baik dalam menjaga keseimbangan asam basa di dalam tubuh dibanding dengan pemberian Ringer laktat.Kata kunci: Early goal-directed therapy, keseimbangan asam basa, Ringer asetat malat, Ringer laktat, sepsis

Efek Kombinasi Epidural dan Obat Anti-inflamasi Nonsteroid terhadap Nyeri dan Kadar Prostaglandin

Budianto, Jeffri, Ahmad, Muh. Ramli, Gaus, Syafruddin, Patellongi, Ilham Jaya

Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (745.393 KB)

Abstract

Kombinasi analgesia epidural (AE) dengan obat anti-inflamasi nonsteroid (OAINS) seperti ketorolak dan parecoxib sebagai analgesia preventif diperlukan untuk mengurangi nyeri pascabedah. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek OAINS sebagai analgesia preventif pada pascabedah laparatomi ginekologi berdasar atas perubahan kadar prostaglandin-E2 (PGE2) dan intensitas nyeri. Penelitian bersifat eksperimental acak tersamar ganda dengan jumlah sampel 60 pasien. Penelitian dilakukan di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makasar bulan Maret–Juni 2017. status fisik 1 dan 2 menjalani laparatomi ginekologi dengan anestesi epidural. Subjek dibagi 3 kelompok, yaitu ketorolak (K) 0,5 mg/kgBB intravena, parecoxib (P) 40 mg intravena, dan plasebo (N) NaCl 0,9% 2 mL yang diberikan 30 menit sebelum insisi, 8 jam, dan 16 jam pascabedah. Data dianalisis dengan uji one-way ANOVA, uji Exact Fischer, uji Mann-Whitney U pada batas kemaknaan α=5%. NRS=1 pada kelompok K dan P saat insisi hingga 16 jam pascabedah dan berbeda signifikan (p<0,05) dengan kelompok N; 15% mengalami peningkatan intensitas nyeri (NRS=2) 8 jam pascabedah. Kadar PGE2 pada plasebo paling tinggi (439,7±35,1; 481,7±60,1; 565,1±58,7), berbeda signifikan (p<0,05) dengan parecoxib (230,7±19,5; 221,4±16,4; 201,1±18,1). Ketorolak berada di antara keduanya. Simpulan, parecoxib dan ketorolak sebagai analgesia preventif yang dikombinasi AE pada pasien bedah laparatomi ginekologi dapat menekan nyeri dan mengurangi produksi PGE2. Efek parecoxib lebih kuat daripada ketorolak mengurangi produksi PGE2, tetapi sama kuatnya dalam menekan intensitas nyeri pascabedah laparatomi ginekologi.Kata kunci: Analgesia epidural, ketorolak, laparatomi ginekologi, parecoxib, PGE2

Korelasi Skor Modified Sequensial Organ Failure Assesment dengan Kadar Superoksida Dismutase dan Vitamin D Serum pada Pasien Sepsis

Zainumi, Cut Meliza, Prasetya, Raka Jati

Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.684 KB)

Abstract

Sepsis adalah disfungsi organ yang mengancam jiwa yang disebabkan oleh disregulasi antara respons tubuh dan infeksi. Penilaian tingkat keparahan sepsis berdasar atas derajat disfungsi organ dapat digunakan skor modified sequential organ failure assesment (MSOFA). Beberapa penelitian terdahulu menemukan hubungan rendahnya kadar vitamin D dan peningkatan kadar superoxide dismutase (SOD) pada sepsis. Tujuan penelitian ini mengetahui korelasi skor MSOFA dengan kadar SOD dan vitamin D serum pada sepsis. Penelitian ini adalah penelitian potong lintang pada 61 pasien sepsis yang dirawat di ruang terapi intensif pada bulan Juli sampai Oktober 2017. Penilaian Skor MSOFA dan pengambilan sampel darah dilakukan saat pasien masuk ruang intensif dengan metode enzim linked immunosorbent assay (ELISA). Analisis statistik menggunakan korelasi Spearman dengan p<0,05, hasil yang diperoleh terdapat korelasi skor MSOFA dengan kadar vitamin D serum (p 0,169 dan nilai r 0,179). Korelasi skor MSOFA dengan kadar SOD tidak bermakna dan kekuatan korelasinya juga sangat lemah (p=0,793; r=0,034). Simpulan penelitian ini adalah pada pasien sepsis skor MSOFA tidak mempunyai korelasi dengan kadar SOD dan vitamin D serum sehingga kadar vitamin D dan SOD tidak dapat digunakan sebagai prediksi morbiditas dan mortalitas sepsis.Kata kunci: Sepsis, skor MSOFA, superoksida dismutase, vitamin D

Perbandingan Intubasi Endotrakea Menggunakan Clip-on Smartphone Camera Videolaryngoscope dengan Laringoskop Macintosh pada Manekin

Latuconsina, Fariz Wajdi, Yadi, Dedi Fitri, Suwarman, Suwarman

Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (930.841 KB)

Abstract

Intubasi endotrakea merupakan gold standard dalam manajemen jalan napas. Teknik laringoskopi direk merupakan teknik yang sulit sehingga berpotensi menyebabkan kegagalan khususnya pada orang yang tidak berpengalaman. Tujuan penelitian ini menilai keberhasilan, lama waktu, dan kemudahan intubasi endotrakea pada manekin menggunakan clip-on smartphone camera videolaryngoscope dibanding dengan laringoskop Macintosh. Penelitian dilakukan menggunakan metode crossover randomized study melibatkan 23 orang mahasiswa kedokteran di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada Oktober 2017. Dari penelitian ini didapatkan keberhasilan intubasi endotrakea menggunakan clip-on smartphone camera videolaryngoscope lebih tinggi (96%) dibandingkan dengan menggunakan laringoskop Macintosh (65%). Lama waktu intubasi endotrakea rata-rata juga terbukti lebih singkat menggunakan clip-on smartphone camera videolaryngoscope (32 detik) dibanding dengan laringoskop Macintosh (52 detik). Intubasi endotrakea menggunakan clip-on smartphone camera videolaryngoscope lebih mudah (4) dibanding dengan menggunakan laringoskop Macintosh (6). Ketiga variabel menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan nilai p<0,05. Simpulan, penggunaan clip-on smartphone camera video laryngoscope untuk intubasi endotrakea memiliki keberhasilan yang lebih tinggi, lama waktu intubasi endotrakea yang lebih singkat, dan intubasi endotrakea yang lebih mudah dibanding dengan menggunakan laringoskop Macintosh.Kata kunci: Clip-on smartphone camera videolaryngoscope, intubasi  endotrakea, laringoskopi direk, video-laryngoscope 

Perbandingan Acromio Axillo Suprasternal Notch Index dengan Tes Mallampati dalam Prediksi Sulit Intubasi di RSUP Haji Adam Malik Medan

Dalimunthe, Aryudina, Lubis, Asmin, Mursin, Chairul

Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.381 KB)

Abstract

Sistem penilaian Mallampati masih digunakan sebagai prediktor sulit intubasi pada pasien yang akan menjalani pembedahan elektif dengan anestesi umum intubasi di Instalasi Bedah Pusat, namun dinilai masih kurang tepat. Tujuan penelitian mendapatkan alternatif bagi pasien yang tidak dapat duduk sebagaimana pemeriksaan pada Mallampati, namun tetap memiliki akurasi yang baik sebagai prediktor sulit intubasi pada pasien yang akan menjalani pembiusan umum intubasi di Instalasi Bedah Pusat RSUP Haji Adam Malik Medan selain sistem penilaian Mallampati. Penelitian cross-sectional dilakukan pada Desember 2016–Januari 2017. Sebanyak 101 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dinilai menggunakan tes acromio axillo suprasternal notch index(AASI) dan Mallampati oleh 2 penilai berbeda ketika preoperatif di ruangan dan sulit intubasi dinilai ketika tindakan pembiusan dengan skor Cormack–Lehane. Analisis statistik menggunakan tabel 2x2 serta area under curve (AUC), dihitung juga sensitivitas, spesifisitas, nilai prediksi negatif dan positif dengan SPSS ver.22. Hasilnya 5 dari 101 pasien yang memenuhi kriteria inklusi didapati dengan sulit intubasi. Penilaian AASI pada penelitian ini memiliki kemampuan yang sangat baik dalam memprediksi sulit intubasi AUC 95,3% (95% IK: 85,9–100%; p=0,001). Penilaian Mallampati memiliki kemampuan yang baik dalam memprediksi sulit intubasi AUC 79% (95% IK: 52,2–100%; p=0,03). Simpulan, sistem penilaian AASI lebih akurat sebagai indikator sulit intubasi daripada tes Mallampati di Instalasi Bedah Pusat RSUP Haji Adam Malik Medan.Kata kunci: Acromio axillo suprasternal notch index,Cormack Lehane, intubasi, Mallampati 

Syok Indeks dan Skor APACHE II pada Pasien yang Meninggal di GICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung Tahun 2016

Damayanti, Eka, Indriasari, Indriasari, Fuadi, Iwan

Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (718.334 KB)

Abstract

Sistem skoring untuk menilai prognosis dan mortalitas merupakan bagian penting dalam perawatan di General Intensive Care Unit (GICU). Sistem skoring yang lazim digunakan adalah acute physiological and chronic health evaluation (APACHE II), namun sistem ini memiliki kelemahan yang berkaitan dengan banyaknya variabel yang digunakan. Syok indeks (SI) merupakan modalitas yang baik untuk memprediksi mortalitas yang dibuktikan dalam beberapa penelitian baik di Instalasi Gawat Darurat (IGD) maupun GICU. Penelitian ini bertujuan mengetahui angka SI dan skor APACHE II pada pasien yang meninggal di GICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari sampai Desember 2016. Penelitian dilakukan selama bulan Agustus 2017. Metode yang digunakan adalah deskriptif observasional retrospektif terhadap 198 subjek penelitian yang diambil di bagian rekam medis. Penelitian ini memperoleh angka SI berkisar 0,51-2,29 dengan median 1,08. Jumlah pasien dengan angka SI <9 sebanyak 27 pasien (13,6%) dan SI ≥9 sebanyak 171 pasien (86,4%). Skor APACHE II berkisar 5–44 dengan median 28. Jumlah pasien dengan skor APACHE II <25 sebanyak 64 pasien (32,3%), 25-35 sebanyak 114 pasien (57,6%) dan >35 sebanyak 20 pasien (10,1%). Lama perawatan yang lebih pendek didapatkan pada pasien dengan SI dan APACHE II yang tinggi mengindikasikan bahwa makin tinggi skor SI dan APACHE II makin tinggi pula angka mortalitas.Kata kunci: Acute physiological and chronic health evaluation II, general intensive care unit, syok indek

Penurunan Kadar Laktat pada Pemberian Norepinefrin dengan Plasebo dan Norepinefrin dengan Adjuvan Vasopresin pada Pasien Syok Septik

Savitri, Metty, Lubis, Asmin, Mursin, Chairul

Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.016 KB)

Abstract

Laktat merupakan faktor prognostik yang digunakan sebagai indikator beratnya keadaan syok septik dan mortalitas. Vasopresor merupakan obat yang dibutuhkan untuk menjaga tekanan perfusi pada hipotensi berat, untuk mencapai hemodinamik yang diinginkan seperti tekanan vena sentral, MAP, pengeluaran urin, dan oksigenasi. Beberapa penelitian menunjukkan penurunan kadar laktat terhadap pemberian norepinefrin dan vasopresin. Penelitian ini menggunakan desain uji double blind, randomized controlled control trial yang dilakukan pada bulan Desember 2016 sampai Februari 2017 di RSUP Haji Adam Malik Medan. Empat puluh pasien syok septik yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk kriteria eksklusi dibagi 2 kelompok,  yaitu kelompok yang mendapat norepinefrin dengan plasebo dan kelompok yang mendapat norepinefrin dengan vasopresin. Kadar laktat dinilai pada kedua kelompok pada waktu setelah pemberian 30 mL/kgBB, setelah MAP tercapai target 65 mmHg dengan pemberian norepinefrin, dan 6 jam setelah perlakuan dengan plasebo atau vasopresin. Hasil penelitian menunjukkan kadar laktat pada plasebo dan vasopresin setelah pemberian 30 mL/kgBB, setelah MAP tercapai target 65 mmHg dengan pemberian norepinefrin, dan 6 jam setelah perlakuan didapatkan penurunan kadar laktat yang bermakna (p<0,05). Uji beda penurunan kadar laktat antara plasebo dengan vasopresin didapatkan hasil yang tidak bermakna pada tiga kali pengukuran (p≥0,05).  Simpulan, tidak terdapat perbedaan antara plasebo dan vasopresin terhadap penurunan kadar laktat. Kata kunci: Kadar laktat, norepinefrin, syok septik, vasopresin

Perbandingan Pemberian Cairan Liberal dan Restriktif terhadap Mean Arterial Pressure, Laju Nadi, dan Capaian Nilai Post Anesthetic Discharge Scoring System Usia 1–3 Tahun di Bedah Rawat Jalan

Somalinggi, Melliana, Sudjud, Reza Widianto, Oktaliansah, Ezra

Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (913.073 KB)

Abstract

Teknik pemberian cairan liberal yang masih banyak digunakan sering menjadi berlebihan termasuk pada bedah rawat jalan. Puasa yang tepat, operasi yang singkat, serta perdarahan yang minimal pada bedah rawat jalan hanya memerlukan pemberian cairan restriktif. Penelitian ini bertujuan mengetahui mean arterial pressure (MAP) dan laju nadi intraoperatif serta capaian postanesthetic dischange skoring system (PADSS) antara pemberian cairan liberal dan restriktif anak usia 1−3 tahun di bedah rawat jalan. Penelitian bersifat eksperimental acak terkontrol buta tunggal dengan randomisasi secara acak sederhana pada 42 anak usia 1−3 tahun, status fisik American Society of Anesthesiology (ASA) I-II di bedah rawat jalan RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Desember 2016 sampai Mei 2017. Subjek penelitian dikelompokkan menjadi dua, yaitu kelompok liberal diberikan cairan rumatan intraoperatif formula Holiday-Segar, penggantian puasa serta penggantian cairan ‘ruang ketiga’; dan kelompok restriktif diberikan hanya cairan rumatan intraoperatif 2 mL/kgBB/jam. Data dianalisis dengan uji-t dan Uji Mann-Whitney. Dari hasil penelitian didapatkan gambaran MAP dan laju nadi intraoperatif, serta capaian PADSS pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna (p>0,05). Simpulan, tidak terdapat perbedaan gambaran MAP dan laju nadi intraoperatif, serta capaian PADSS antara pemberian cairan liberal dan restriktif pada anak usia 1−3 tahun yang menjalani bedah rawat jalan.Kata kunci: Cairan intraoperatif, laju nadi, mean arterial pressure, pediatrik, postanesthetic discharge scoring system

Angka Mortalitas pada Pasien yang Menjalani Bedah Pintas Koroner berdasar Usia, Jenis Kelamin, Left Ventricular Ejection Fraction, Cross Clamp Time, Cardio Pulmonary Bypass Time, dan Penyakit Penyerta

Ariaty, Geeta Maharani, Sudjud, Reza Widianto, Sitanggang, Ruli Herman

Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.52 KB)

Abstract

Penyakit jantung koroner (PJK) adalah salah satu penyakit pada sistem kardiovaskular  yang  sering  terjadi  dan  merupakan  problema  kesehatan  utama  di  negara maju. Bedah pintas koroner merupakan salah satu penanganan intervensi PJK. Beberapa faktor risiko berhubungan dengan peningkatan mortalitas pascabedah pintas koroner. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui angka mortalitas pada pasien yang menjalani bedah pintas koroner berdasar atas usia, jenis kelamin, left ventricular ejection fraction, cross clamp time, cardio pulmonary bypass time, dan penyakit penyerta di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung tahun 2014−2016. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif observasional dengan pendekatan retrospektif berdasar atas data rekam medis yang dilakukan bulan April 2017. Dari penelitian diperoleh hasil angka mortalitas pascabedah pintas koroner sebesar 15,15%. Angka mortalitas pasien yang menjalani bedah pintas koroner dipengaruhi beberapa faktor diantaranya usia, jenis kelamin, left ventricular ejection fraction, cross clamp time, cardio pulmonary bypass time dan penyakit penyerta. Mortality Rate of Patients Underwent Coronary Artery Bypass Graft Surgery based on Age, Gender, Left Ventricular Ejection Fraction, Cross Clamp Time, Cardiopulmonary Bypass Time, and Coexisting DiseaseCoronary heart disease (CHD) is one of the most common cardiovascular diseases and is a major health problem in developed countries. Coronary artery bypass graft surgery (CABG) is one of the intervention treatments of CHD. Several risk factors are associated with increased postoperative CABG mortality. The purpose of this study was to determine the mortality rate of patients undergoing coronary bypass surgery based on age, gender, left ventricular ejection fraction, cross clamp time, cardio pulmonary bypass time, and coexisting disease at Dr. Hasan Sadikin Bandung General Hospital during 2014-2016. This study was an analytical descriptive study using retrospective approach based on medical record data during April 2017. It was shown that the mortality rate for post-coronary bypass was 30 patients (15.15%). Hence, themortality rate of patients undergoing coronary bypass surgery is affected by several factors including age, gender, left ventricular ejection fraction, cross clamp time, cardio pulmonary bypass time, and coexisting disease. 

Perbandingan antara Uji Mallampati Modifikasi dan Mallampati Ekstensi Sebagai Prediktor Kesulitan Intubasi Endotrakeal di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung

Swasono, Girindro Andi, Suwarman, Suwarman, Kadarsah, Rudi Kurniadi

Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.566 KB)

Abstract

Evaluasi potensi intubasi sulit preoperatif sangat penting. Metode standar untuk menilai potensi intubasi sulit adalah metode Mallampati Modifikasi. Metode Mallampati Ekstensi merupakan metode Mallampati Modifikasi dengan ekstensi titik kranioservikal sehingga derajat bukaan mulut lebih lebar dan saluran napas terlihat lebih baik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui ketepatan penilaian Mallampati Ekstensi dibanding dengan Mallampati Modifikasi sebagai prediktor dalam menilai kesulitan intubasi endotrakeal menggunakan laringoskop Macintosh langsung berdasar atas uji Cormack Lehane. Desain penelitian ini adalah observasional analitik dengan metode potong lintang dan uji diagnostik chi square. Hasil penelitian terhadap 382 subjek pada bulan September 2016 hingga bulan Desember 2016 di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung didapatkan jenis kelamin perempuan 69,9% dengan median usia 42 tahun. Frekuensi nilai uji Mallampati Ekstensi lebih banyak pada kelas yang lebih rendah dan berbeda secara signifikan dibanding dengan uji Mallampati Modifikasi. Kesesuaian penilaian kelas uji Mallampati Ekstensi dengan Cormack Lehane terdapat pada 318 subjek. Simpulan, uji Mallampati Ekstensi lebih baik daripada uji Mallampati Modifikasi sebagai prediktor menilai kesulitan intubasi endotrakeal menggunakan laringoskop langsung.Comparison between Modified Mallampati Test and Extended Mallampati Test as Predictor of Difficult Endotracheal Intubationat Dr. Hasan Sadikin Hospital BandungPreoperative evaluation of potentially difficult intubation is very important. The standard method for assessing potentially difficult intubation is the Modified Mallampati method. Extended Mallampati method is a Modified Mallampati method with cranioservical extension point that the degree of mouth opening is wider and airway becomes more visible. The purpose of this study was to determine the accuracy of the Extended Mallampati test compared to the Modified Mallampati test as predictors in assessing the difficulty of endotracheal intubation using direct Macintosh laryngoscope based on Cormack Lehane grading. This was a cross-sectional observational analytical study using chi square diagnostic test involving 382 subjects at Dr. Hasan Sadikin Bandung Hospital during the period of September 2016 to December 2016 with 69.9% women and  median age of 42 years. The frequency of the Mallampati Extension test scores was higher in the lower classes, which was significantly different from the results of the Modified Mallampati test. Better appropriateness of the Mallampati Extension test result with Cormack Lehane grading was found in 318 subjects. In conclusion, the Extended Mallampati test is better than Modified Mallampati test when it is used as a predictor in assessing difficult endotracheal intubation using direct laryngoscopy (Cormack Lehane test).