cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sumedang,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Anestesi Perioperatif
ISSN : 23377909     EISSN : 23388463     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal Anestesi Perioperatif (JAP)/Perioperative Anesthesia Journal is to publish peer-reviewed original articles in clinical research relevant to anesthesia, critical care, case report, and others. This journal is published every 4 months with 9 articles (April, August, and December) by Department of Anesthesiology and Intensive Care Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung.
Arjuna Subject : -
Articles 331 Documents
Korelasi Antara Kadar Laktat, Base Deficit Dan Saturasi Vena Sentral Dengan Skor Multiple Organ Dysfunction Hari Ke-3 Pada Pasien Pascabedah Dengan Hemodinamik Stabil Di Ruang Perawatan Intensif Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung Nugraha, Ruby Satria; Redjeki, Ike Sri; Bisri, Tatang
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hingga kini belum ada indikator yang untuk menilai perfusi global yang adekuat. Pasien dengan hemodinamik stabil masih mungkin terjadi perubahan kadar laktat, base deficit, dan saturasi vena sentral, yang dapat digunakan untuk menilai adanya suatu hipoksia jaringan. Penelitian ini bertujuan mencari korelasi yang paling baik diantara ketiga parameter tersebut terhadap skor MOD hari ke-3 pada pasien pascabedah dengan hemodinamik stabil yang dirawat di Ruang Perawatan Intensif (RPI). Penelitian ini suatu penelitian observasional dengan desain potong lintang. Penelitian ini dilakukan pada 50 orang pasien risiko tinggi yang dirawat di RPI, laki-laki dan wanita, usia 18 – 65 tahun yang telah menjalani laparotomi eksplorasi dengan anestesi umum. Semua pasien dilakukan pemeriksaan kadar laktat darah, gas darah arterial dan gas darah vena sentral ketika pasien masuk, dan jam  ke-24. Selanjutnya pada hari ke-3 dilakukan skoring MOD yang mencakup fungsi neurologis, kardiovaskular, respirasi, ginjal, hematologis, dan hepar. Pada penelitian ini didapatkan koefisien korelasi rank Spearman antara laktat 1 dan skor MOD hari ke-3 adalah 0,579 dengan p<0,001,  base deficit 1 dengan skor MOD hari ke-3 adalah 0,811 dengan p<0,001,  sedangkan yang tidak bermakna adalah antara saturasi vena sentral 1 dengan skor MOD hari ke-3, dan antara saturasi vena sentral 2 dengan skor MOD hari ke-3, dengan koefisien koreasi rank Spearman masing-masing adalah 0,328 dan 0,260. Koefisien korelasi yang baik terdapat pada laktat dan base deficit dengan skor MOD hari ke-3, sedangkan saturasi vena sentral memiliki koefisien korelasi yang lemah. Laktat dan base deficit dapat digunakan untuk mendeteksi secara dini adanya gangguan perfusi jaringan pada pasien risiko tinggi pascabedah dengan hemodinamik stabil.Kata kunci: laktat, base deficit, saturasi vena sentral, hipoksia jaringan, disfungsi organ.Correlation Between Lactate Level, Base Deficit, And Central Vein Saturation With Third-Day Multiple Organ Dysfunction Score On Haemodynamically Stable Postoperative Patient In Intensive Care Unit  Dr. Hasan Sadikin Bandung HospitalUntil now, there is no precise indicator to evaluate adequate global perfussion yet. On haemodynamically stable patient is possible to experience change in lactate value, base deficit, and central vein saturation, which can be used to assess tissue hypoxia. The aim of this study is to find the best parameter among those three parameters toward day-third-MOD (Multiple organ dysfunction) score on hemodinamically stable post surgery patients whose been hospitalized in ICU (Intensive care unit).This is a cross-sectional observational study. The subject of this study were 50 high-risk patients whose hospitalized in RPI, male and female between 18 – 65 years old who had been done explorative laparatomy procedures under general anesthesia. Blood lactate, arterial blood gas analysis and central vein blood gas analysis had been analysis on all subjects on admissions and on the 24th hours. On the third day, MOD score that covered neurologic, cardiovascular, respiration, renal, hematologic and liver function had been assessed. This study yielded rank Spearmen coeffisien correlation between blood lactate 1 and day-third-MOD score 0,572 (p<0,001), and base deficit 1 and day-third-MOD score was 0,811 (p<0,001). The value between central vein saturation  1 and day-third-MOD score, and central vein saturation 2 and day-third-MOD score were unsignificant, with rank Spearmen coeffisien correlation were 0,328 and 0,260. Good coeffisien correlation was found between blood lactate and base deficit with MOD score on third day, whilst central vein saturation had  weak coeffisien correlation. Blood lactate level and base deficit can be used to evaluate early tissue perfusion disturbances on hemodinamically stable high risk post surgery patients.Key words: lactate, base deficit, central vein saturation, tissue hypoxia, MOD score. DOI: 10.15851/jap.v1n1.154
Prosedur Anestesi Timektomi pada Kasus Timoma Tanpa Gejala Miastenia Gravis : Sebuah Laporan Kasus Sepviyanti, Fitri; Tavianto, Doddy; Kaswiyan, U.
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

LAPORAN KASUSTimoma adalah neoplasma primer yang paling sering ditemukan pada mediastinum, dengan angka kejadian 15% dari seluruh massa mediastinum. Timbul pada pasien berusia 40-60 tahun, dengan insiden yang sama pada laki-laki dan perempuan. Lima puluh persen kasus timoma ditemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaan radiograf dada rutin sebagai massa mediastinum anterior superior. Tatalaksana untuk timoma adalah tindakan pembedahan atau timektomi. Pengkajian menyeluruh pra operasi dibutuhkan untuk memastikan tidak adanya sindrom paraneoplastik. Tingkat kematian perioperatif cukup tinggi pada pasien yang menjalani timektomi sebelum tahun 1970 antara 5% dan 15%. Setelah tahun 1970, tingkat kematian dalam studi terakhir ditemukan secara konsisten kurang dari 1%. Demikian pula angka kematian timektomi pada pasien miastenia gravis dilaporkan kurang dari 1%. Seorang wanita 69 tahun didiagnosis dengan timoma dan direncanakan untuk menjalani timektomi. Ahli anestesi memutuskan untuk tidak menggunakan pelemas otot karena sadar dapat timbulnya sindrom paraneoplastik akibat timoma, myastenia gravis. Myasthenia gravis akan mempengaruhi efek relaksan otot yang tahan terhadap succinylcholine dan sangat sensitif terhadap bloker non depolar. Pasien tidak memiliki morbiditas apapun serta memiliki kondisi yang baik selama pemulihan.Kata kunci : timoma, miastenia gravis syndrome, anesthesia DOI: 10.15851/jap.v1n1.160
Perbandingan Insidensi Post Dural Puncture Headache (PDPH) Pascaseksio Sesarea Dengan Anestesi Spinal Antara Tirah Baring 24 Jam Dengan Mobilisasi Dini Prihartono, Mohamad Andy; Oktaliansah, Ezra; Wargahadibrata, A. Himendra
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Post Dural Puncture Headache (PDPH) merupakan salahsatu komplikasi iatrogenik dari anestesi spinal. Patofisiologi PDPH sampai saat ini belum jelas, namun teori yang selama ini dianut akibat penurunan volume dan tekanan CSS (Cairan SerebroSpinal). Penelitian terdahulu menyatakan PDPH dapat dicegah dengan tirah baring selama 24 jam. Beberapa penelitian terbaru membuktikan mobilisasi dini tidak meningkatkan resiko PDPH. Tujuan penelitian ini untuk membuktikan bahwa tidak ada perbedaan insidensi PDPH pada pasien yang dilakukan tirah baring selama 24 jam dengan mobilisasi dini segera setelah fungsi motorik pulih.Penelitian dilakukan dengan tipe quasi experimental dan rancangan rangkaian waktu dengan pembanding. Penelitian melibatkan 200 wanita hamil berumur 18-30 tahun, yang akan dilakukan seksio sesarea dengan anestesi spinal, kemudian dibedakan dalam dua kelompok masing-masing 100 orang. Kelompok pertama dilakukan mobilisasi dini segera setelah fungsi motorik pulih (skala Bromage 1) dan kelompok kedua mobilisasi setelah tirah baring selama 24 jam pascaseksio sesarea. Kemudian, setiap kelompok dilakukan pengamatan terhadap ada atau tidaknya PDPH sampai 2 hari pascaoperasi. Dari hasil penelitian dianalisis dengan uji statistik yaitu uji chi kuadrat dan uji Mann Whitney, di mana nilai p<0,05 dianggap bermakna. Analisis statistik menunjukkan bahwa perbandingan insidensi PDPH pada kelompok yang dilakukan mobilisasi dini (setelah fungsi motorik pulih) dan tirah baring selama 24 jam tidak bermakna (p>0,05). Pada kelompok pertama (mobilisasi dini) 100% tanpa PDPH dan kelompok kedua (tirah baring 24 jam) 99% tanpa PDPH. Simpulan dari penelitian ini adalah tidak didapatkan perbedaan insidensi PDPH pada pasien pascaseksio sesarea dengan anestesi spinal yang dilakukan tirah baring selama 24 jam dengan mobilisasi dini segera setelah fungsi motorik pulih.Kata kunci : mobilisasi dini, Post Dural Puncture Headache, seksio sesarea dengan anestesi spinal, tirah baring 24 jamComparison Of Post Dural Puncture Headache (PDPH) Incidence In Post Caesarean Section Using Spinal Anesthesia Underwent Bed Rest Position For 24 Hours Compared With Early MobilizationPost Dural Puncture Headache (PDPH) is defined as an iatrogenic complication of spinal anesthesia. The pathophysiology of PDPH remains unknown until today, but the referenced theory is due to the decrease of the LCS (Liquor Cerebrospinal) volume and pressure. The early studies confirmed that PDPH was preventable with bed rest position for 24 hour. Numerous current studies have proven that early mobilization does not increase PDPH risks. The objective of this study was to prove that there is no significant difference in PDPH incidence in bed rest patients for 24 hours compared with early mobilization patients as soon as the motoric function has been recovered. The study was conducted using quasi experimental type and control time series design. This study involved 200 pregnant women at the age of 18-30 years that were on Caesarean Section using spinal anesthesia then they were classified into 2 groups with 100 subjects, respectively. The first group was conducted early mobilization as soon as the motoric function has been recovered (using Bromage 1 scale) and the second group was conducted mobilization after bed rest 24 hours post sectio Caesarean. And then, each group was observed for the occurrence of PDPH until 2 days post surgery. The study analysis was assessed using chi square test and Mann Whitney test, which the score of p<0,05 was considered statistically significant value. Statistical analysis showed that the comparison of PDPH incidence in the early mobilization group (after motoric function had been recovered) and the bed rest for 24 hour group was not statistically significant (p>0,05). The first group (early mobilization) showed 100% of the patients without PDPH incidence and the second group (bed rest for 24 hour) showed 99% of the patients without PDPH incidence. The summary of this study revealed that there was no significant difference on PDPH incidence in post Caesarean section patients underwent spinal anesthesia with bed rest for 24 hours compared with early mobilization as soon as the motoric function had been recovered. Key words: Cesarean section with spinal anesthesia, early mobilization, Post Dural Puncture Headache, 24 hours bedrestDOI: 10.15851/jap.v1n1.155
Komplikasi dan Pemantauan Susunan Saraf Pusat pada Operasi Jantung Sudjud, Reza Widianto; Parmana, I Made Adi
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

TINJAUAN PUSTAKAPerkembangan tekhnologi dan jumlah operasi jantung di Indonesia semakin meningkat, perkembangan tersebut diikuti juga dengan semakin meningkatnya komplikasi pada susunan saraf pusat, seperti cedera otak. Banyak faktor dan kejadian selama pembedahan jantung yang dapat menyebabkan cedera otak. Kebanyakan cedera ini diakibatkan oleh hipoperfusi yang global atau fokal yang disebabkan oleh emboli  mikro ataupun makro. Insidensi cedera otak tinggi dan pencegahan terjadinya insidensi tersebut harus dipertimbangkan pada setiap prosedur. Alat pemantauan untuk susunan saraf pusat semakin berkembang dan membutuhkan keahlian seorang dokter anestesi untuk menguasai alat pemantauan tersebut. Pemahaman yang lebih lanjut terhadap pembedahan dan perfusi, perbaikan teknologi perfusi dan juga anestesi yang lebih teliti, diharapkan dapat menurunkan tingkat kejadian cedera otak setelah operasi jantung terbuka.Kata Kunci: Komplikasi SSP, anestesi, operasi jantung terbuka Complications and Monitoring of Central Nervous System on Cardiac SurgeryThe development of technology and numbers of heart operations in Indonesia has increased, but it is also followed with the ever increasing complications on the central nervous system, such as brain injury. Many factors and events during a heart surgery that cause brain injury. Most of these are due to a global or focal hypoperfusion caused by micro or macro emboli. The incidence rate of brain injury and prevention occurrence of the incident should be considered for each procedure. Tool monitoring for central nervous system has been growing and requires the expertise of an Anaesthesiologist for control these monitoring tools. Further understanding, improvement of the perfusion technology, and also a more meticulous anesthetic, surgical and perfusion is expected to reduce the incidence rate of brain injury after open heart surgery.Keywords : Complications CNS, anesthesia, open  heart surgery DOI: 10.15851/jap.v1n1.161
Pengaruh Penggunaan Plastic Wrap Terhadap Core Temperature Pasien Pediatrik 1-3 Tahun Yang Menjalani Operasi Palatoplasty Averoes, Mikhail; -, Suwarman; Surahman, Eri
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Laju penurunan suhu tubuh dapat dikurangi dengan insulasi pasif yaitu dengan cara menutupi tubuh dengan bahan material tertentu yang mempunyai daya hantar kalor yang buruk (insulator). Bahan insulator yang yang dibalutkan pada tubuh dapat mencegah proses konveksi, konduksi dan evaporasi sehingga derajat kehilangan suhu berkurang rata-rata 30%. Salah satu bahan yang dapat dipakai sebagai insulator adalah plastik. Penelitian ini dilakukan untuk menilai pengaruh penggunaan plastik wrap terhadap core temperature pediatrik usia 1 sampai 3 tahun yang menjalani operasi celah langit. Penelitian dilakukan terhadap 30 pasien anak , status fisik ASA I, dan berusia 1-3 tahun yang menjalani operasi celah langit dengan anestesi umum. Pasien dibagi dalam dua kelompok. Kelompok plastic wrap dengan penggunaan plastik yang dibalutkan pada tubuh, dan kelompok kontrol. Dicatat suhu rektal selama anestesi. Data hasil penelitian diuji dengan uji Mann-Whitney. Dari hasil penghitungan statistik, didapatkan lama suhu inti rata-rata selama anestesi pada kelompok plastik wrap lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol dengan hasil yang sangat bermakna (p < 0,001). Suhu inti rata-rata pada kelompok plastik wrap adalah 36,17 oC (0,31oC) lebih besar bila dibandingkan dengan kelompok kontrol yaitu 35,88°C (0,43°C). Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan plastic wrap menghasilkan derajat penurunan suhu lebih kecil dibanding kelompok kontrol yaitu 0,8 oC pada kelompok plastic wrap dan 1,2 oC pada kelompok kontrol (p < 0,005).Kata Kunci : Insulasi pasif, suhu inti tubuh, plastik Effect Of Plastic Wrap On Core Temperature In Pediatric Patient Aged 1 – 3 Year Who Underwent Palatoplasty SurgeryThe decrease rate of body temperature can be reduced by passive insulation by covering the body with certain materials which have poor heat conductivity (insulator). Insulator material which is wrapped on the body can prevent the process of convection, conduction and evaporation so that the degree of heat loss was reduced on average 30%. One material that can be used as an insulator is the plastic. This study was conducted to assess the effect of plastic wrap on the core temperature of pediatric aged 1 to 3 years who underwent cleft palate surgery. The study was conducted on 30 pediatric patients, aged 1-3 years, with ASA I physical status who underwent cleft surgery with general anesthesia. Patients were divided into two groups. One group used plastic wrap to be wrapped on the body, and another is the control group. Rectal temperature was recorded during anesthesia. Research data was tested statistically by the Mann-Whitney test. The results of statistical calculation indicated that the average core temperature during anesthesia in plastic wrap group was higher than the control group with a significant result (p <0.001). The average core temperature in the plastic wrap is 36.17° C (0.31° C) which is higher than the control group (35.88° C (0.43° C). It can be concluded that the use of plastic wrap causes temperature reduction degree to be lower than the control group. The degree in plastic wrap group is 0.8 °C while the degree in control group is 1.2°C in the control group (p <0.005). Keywords: passive insulation, core body temperature, plastic.DOI: 10.15851/jap.v1n1.156
Penatalaksanaan Anestesi pada Pasien dengan Sick Sinus Syndrome yang Menjalani Laparotomi Ec Perforasi Gaster Halimi, Radian Ahmad; Tavianto, Doddy
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Disfungsi dari Sinoarterial node (SA node, yang dikenal sebagai “Sick Sinus Syndrome”,  merupakan salah satu penyebab gangguan ritme jantung, dan dapat disebabkan  oleh gangguan baik faktor intrinsik atau faktor ekstrinsik dari SA node. Diagnosis Sick Sinus Syndrome ditegakkan dengan adanya gangguan ritme jantung dengan episode takikardia-bradikardia, dan disertai  gejala klinis seperti; sinkop, palpitasi, atau dapat saja  tanpa gejala klinis. Semua literatur mengatakan penatalaksanaan Sick Sinus Syndrom perioperatif adalah dengan  pemasangan  pacemaker jantung baik transkutaneus maupun secara transvenous pada preoperatif. Seorang pria berumur 75 tahun dengan diagnose peritonitis diffuse yang disebabkan oleh perforasi gaster. Pada pemeriksaan klinis preoperatif didapatkan pasien kompos mentis, anamnesis ada riwayat hipertensi yang tidak terkontrol. Pada pemeriksaan fisik didapatkan bradikardi dengan nadi 31x/menit, tekanan darah 190/100 mmHg. Ditempat tersebut tidak terdapat fasilitas untuk pemasangan pace maker baik trans kutaneous maupun secara transvenous. Dengan pertimbangan sirkulasi organ (mikrosirkulasi) cukup baik ( kompos mentis, SpO2 99% dan setelah optimalisasi diuresi mencapai 1cc/kgBB/jam). Pemeriksaan foto toraks didapatkan kardiomegali tanpa bendungan paru, pemeriksaan laboratorium menunjukkan angka – angka normal termasuk tes fungsi ginjal (kreatinin 0,97 mg/dl dengan ureum 82,6 mg/dl). Diputuskan untuk melakukan tindakan anestesi / pembedahan ditempat ybs dan rencana anestesi adalah dilakukan dengan anestesi umum. Saat pasien masih sadar, mulai diberikan fentanyl secara bertahap, 2 µgr/kgBB. Nadi berkisar antara 28 – 44x/menit, SpO2 98%.  Limabelas menit kemudian diberikan propofol secara titrasi dan setelah pasien tertidur fasilitas intubasi dengan atrakurium. Setelah intubasi  nadi mencapai 44 - 90x/menit dan saat nadi mencapai 90x/menit, didapatkan nadi yang iregular berupa ventricular extrasystole ( VES ) yang multifokal, diputuskan untuk mempertahankan nadi sekitar 35 – 40x/ menit dengan tekanan darah 160/70 mmHg. Selama pembedahan, nadi dan tekanan darah stabil pada kisaran diatas. Pasca bedah pasien dirawat di ruang perawatan intensif selama 2 hari setelah itu pindah ke ruang perawatan biasa dalam keadaan baik. Pasien pulang setelah hari ke 8.Kata kunci: Sick Sinus Syndrome, Bradikardia Anesthesia for Laparatoy e.c Gaster Perforation with Sick Sinus SyndromeSA node dysfunction, or known as  Sick Sinus Syndrome is the common cause of disrythmia and can be caused by intrinsic and extrinsic factors of the SA node. The diagnose performed by the occurrence of bradi- takhikardia episode and the clinical symptoms, could be syncope, palpitation, or maybe asymptomatic. Some of the literature defined that the perioperative management of  sick sinus syndrome is preoperative insertion of pacemaker (transcutaneal or transvenous pacing). A 75 years old man underwent laparotomy with diffuse peritonitis caused by gastric perforation. In preoperative clinical evaluation the patients revealed full awake ( compos mentis), with  history of uncontrolled hypertension. In physical exammination a severe bradicardia was found with pulse of 31x/minute, and the blood pressure was 190/100 mmHg. In this rural hospital there was no fascility to insert the pace-maker. The organ perfusion was considered to be optimal from clinical evaluation ( proved by the wakefullness, SpO2 99%, and diuresis 1cc/kgBW after optimalization ). The chest X’ray showed a cardiomegali without the sign of pulmonary congestion. The laboratory test were within normal limit including the renal function test ( creatinin; 0,97 mg/dl, and ureum 82,6 mg/dl). We decided to perform general anesthesia in this procedure. Before the  induction while patient still awake, fentanyl 2µg/kgBW was given intravenously. Fifteen menue after fentanyl administration induction of anesthesia performed and initiated with propofol intravenous injection slowly until patients felt asleep, than intubated after muscle relaxant intravenous reached  the onset After intubation the pulse / heart rate of patients rose to 44 – 90x/minute. While the pulse was 90/ minute the heart rythm of the patients became irregular, a multifocal ventricular extra systole occured, and it was reversible when the heart rate back to 44x/ minute. We decided to maintain the heart rate between 35 – 40dmitted to the iCU, and after 2 days in the ICU patients was transfered to the ward, and can be dischared home after 8 days.Keywords: Bradikardia, Sick Sinus Syndrome DOI: 10.15851/jap.v1n1.159
Perbandingan Pemberian Cairan Ringerfundin Saat Anestesi Spinal (Coload) Dengan Cairan HES Sebelum Anestesi Spinal (Preload) Terhadap Hemodinamik Ibu Dan Skor APGAR BayiPada Seksio Sesarea Efendi, Erik; Herman Sitanggang, Ruli; Maskoen, Tinni T.
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipotensi merupakan komplikasi yang paling sering ditemukan pada anestesi spinal yang dilakukan pada bedah sesar. Salah satu usaha pencegahan yang dilakukan adalah dengan cara pemberian cairan kristaloid secara coloading atau cairan koloid dengan cara preloading. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh jenis cairan dan teknik pemberian mana yang paling baik dalam menjaga hemodinamik ibu dan pengaruhnya terhadap bayi. Penelitian ini dilakukan dengan desain eksperimental acak tersamar tunggal mengikutsertakan42 ibu hamilASA II, yang menjalani operasi bedah sesardengan anestesi spinal. Setelah dilakukan randomisasi secara blok permutasi, subyek penelitian dikelompokkan menjadi dua yaitu 21 subyek masuk dalam kelompok kontrol mendapat preloading HES 6%sebanyak 7,5 cc/kgbb dan 21 subyek masuk dalam kelompok perlakuan mendapat coloading Ringerfundin sebanyak 20 cc/kgbb mL. Tekanan darah danlaju nadi diperiksa setiap satu menit sampai 15 menit setelah anestesia spinal. Setelah itu diperiksa tiap 3 menit sampai operasi selesai. Setelah bayi lahir dilakukan penilaian skor APGAR 1 menit dan 5 menit. Data hasil penelitian dianalisis dengan uji statistik yaitu uji t test, uji Mann Whitney dan uji Kolmogorov-Smirnov, di mana nilai p<0,05 dianggap bermakna. Analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara tekanan darah sistolik, tekanan diastolik, tekanan darah rerata dan laju nadi antara pemberian cairan ringerfundin secara coloading dibandingkan pemberian cairan HES 6% secara preloading (p>0,05). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kedua kelompok perlakuan terhadap skor APGAR 1 menit (p=0,309) dan 5 menit (p=0,154). Terdapat perbedaan bermakna terhadap jumlah pemakaian efedrin antara kedua kelompok (p=0,047). Simpulan dari penelitian ini adalah pemberian coloading ringerfundin dapat mencegah terjadinya hipotensi pasca anestesi spinal sama baiknya dengan pemberian preloading HES 6%. Tidak terdapat perbedaan skor APGAR antara preloading HES 6% dengan coloading ringerfundin. Terdapat perbedaan jumlah pemberian efedrin antara preloading HES 6% dan coloading ringerfundin.Kata Kunci:anestesi spinal, coloading, preloading, ringerfundin, seksio sesarea Comparison of Maternal Hemodynamic and APGAR Outcome between Ringerfundin Coload And HES Preload on Spinal Anesthesia for Sectio CesareaHypotension is the most common complication inspinal anesthesia in cesarean sections performed. One of the prevention neffort is made by way of a coloading crystalloid fluid administration or by preloading colloid fluid. This study aims to determine the effect of fluid types and techniques of which the most excellent in maintaining hemodynamic effects on mother and baby. The research was conducted with a single-blind randomized experimental design included 42 pregnant women ASAII, who underwent cesarean section surgery with spinal anesthesia. After randomization in blocks of permutations, subjects are grouped into two, 21 subjects included in the control group received. 6% HES preloading by 7.5 cc/kg and 21 subjects included in the treatment group received coloading Ringerfund in as much as 20 cc/kg. Blood pressure and pulse rate examined everyone minute until 15 minutes after spinal anesthesia. After it examined every 3 minutes until the operation is complete. After the baby is born an assessment of Apgar score 1 minute and 5 minutes. Data were analyzed with the results of statistical tests that test, Mann Whitney test and Kolmogorov – Smirnov test, where pvalues<0.05 were considered significant. Statistical analysis showed that there was no significant difference between the systolic blood pressure, diastolic pressure, mean blood pressure and pulse rate between the coloading ringer fund in than preloading HES 6% (p>0.05). There were no significant differences between the two treatment group sof1-minute Apgarscore (p =0.309) and 5 minutes (p=0.154). There is a significant difference to the amount of ephedrine usage between the two groups (p =0.047). The conclusions of this study is the provision of coloading ringer fundin can prevent hypotension after spinal anesthesia as well as HES 6% preloading. No difference between the Apgar scores of 6% HES preloading with coloading ringer fundin. There is a difference between the amount of ephedrine administration preloading HES 6% and coloading ringer fundin. Keyword: coloading, preloading, ringerfundin, sectio sesarea, spinal anesthesia DOI: 10.15851/jap.v1n1.157
Perbandingan antara Kombinasi Bupivakain 0,125% dan Dexmedetomidin 1 µg/Kgbb dengan Bupivakain 0,125% Melalui Blok Kaudal Terhadap Lama Analgesi Pascaoperasi Hipospadia Sardinata, -; Nawawi, A. Muthalib; Wargahadibrata, A Himendra
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Blokade kaudal merupakan tehnik anestesi regional yang paling banyak dilakukan pada operasi anak . Berbagai obat anestetik lokal telah digunakan untuk tehnik ini. Bupivakain adalah salah satu obat anestetik lokal yang paling banyak digunakan karena memiliki lama kerja yang panjang. Dexmedetomidin adalah suatu α2 agonis yang dipergunakan sebagai adjuvant untuk memperpanjang durasi bupivakain bila diberikan melalui blokade kaudal. Untuk meningkatkan efektifitasnya maka kombinasi bupivakain dengan dexmedetomidin dalam konsentrasi dan dosis yang rendah dapat diberikan. Penelitian ini dilakukan untuk menilai lama analgesia pascaoperasi dengan  blokade kaudal antara kombinasi  bupivakain  0,125 % ditambah  dexmedetomidin 1 µg/KgBB dan  bupivakain  0,125 % pada pasien pediatrik yang menjalani operasi hipospadia. Penelitian dilakukan terhadap 30 pasien anak , status  fisik  ASA I dan II,  dan berusia 1-6 tahun yang menjalani operasi hipospadia dengan anestesi umum, yang dilakukan blokade kaudal pascaoperasi. Pasien dibagi dalam dua kelompok. Kelompok BD menggunakan kombinasi Bupivakain 0,125% dan Dexmedetomidin 1µg/KgBB ( 0,5 cc/KgBB ), dan kelompok B menggunakan Bupivakain 0,125 % ( 0,5 cc/KgBB ) sebagai kontrol. Dicatat lama analgesia pascaoperasi. Data hasil penelitian diuji dengan uji Mann-Whitney . Pada hasil penghitungan statistik, didapatkan lama analgesi pascaoperasi pada kelompok BD lebih panjang dibandingkan kelompok B dengan hasil yang sangat bermakana ( p < 0,001 ). Pada kelompok blokade kaudal yang menggunakan kombinasi bupivakain 0,125% dan dexmedetomidin 1 µg/KgBB ( BD ), menunjukkan lama analgesia yang lebih panjang dibandingkan dengan kelompok bupivakain 0,125% ( B ) yaitu [ 863,0 (36,34) menit ] terhadap  [ 378,08 (37,87) menit ]. Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan kombinasi Bupivakain 0,125% dan dexmedetomidin 1 µg/KgBB untuk blokade kaudal sebagai analgetik pascaoperasi hipospadia, menghasilkan lama analgesi yang lebih panjang dibandingkan dengan bupivakain  0,125% .Kata Kunci: Blokade kaudal, Hipospadia, Bupivakain, Dexmedetomidin Comparison Of A Combined 0.125% Bupivacaine 1µg/Kgbw Dexmedetomidin And A 0.125% Bupivacaine In CaudalBlockage To Analgesia Duration After  Hypospadic SurgeryCaudal  blockage is the most  frequently used regional anestesia technique in pediatric surgery.  Various local anesthetic agents have been frequently used in this technique. Bupivacaine is one of the most used local anesthetics due to its long duration of action. Dexmedetomidin is an α2agonist  that is used as adjuvant  in lengthening bupivacaine  duration when it is administered via caudal blockage. In increasing its effectiveness, the combination of bupivacaine with dexmedetomidin  in low concentrationd and low dose can be given. This study was performed to assess the postoperative analgesia duration using caudal blockage between the combined 0.125% bupivacaine-1µg/Kg BW dexmedetomidin and 0.125% bupivacaine solely in pediatric patients having hypospadic surgery. The study was applied to 30 pediatric patients with ASA I and II physical status, and  aged 1-6 years that received hypospadic surgery with general anesthesia, to whom caudal blockage applied postoperatively. The patients were divided into  two groups. One group (BD group) was treated using the combined 0.125% bupivacaine-1 µg/Kg BW dexmedetomidin (0.5 cc/kg BW), the other group (B group) was treated with 0.125% bupivacaine (0.5 cc/kb BW) as control group. Postoperative analgesia duration  was recorded. The data of the study results were assessed using Mann-Whitney test. Postoperative  analgesia duration of BD group (863.0 [36.34] minutes)  was very significantly (p<0.001) longer than that in B group (378.08 [37.87] minutes). The conclusion of this study indicated that the use of combined 0.125% bupivacaine-1 µg/Kg BW dexmedetomidin for caudal blockage as analgetic agent   after hypospadic surgery resulted longer analgesia duration than that of 0.125% bupivacaine solely.  Keywords : caudal blockage, hypospadia, bupivacaine, dexmedetomidin.DOI:  10.15851/jap.v1n1.162
Perioperative Goals Directed Therapy Sri Redjeki, Ike
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

EDITORIALAkhir-akhir ini keselamatan pasien/ patient safety merupakan pokok pembicaraan yang hangat dalam berbagai literatur dan acara – acara ilmiah, hal ini dikarenakan keselamatan pasien merupakan target utama outcome dari suatu pelayanan medis. Keselamatan pasien / patient safety merupakan parameter dari kualitas pelayanan medis yang diberikan. Pada penatalaksanaan pasien perioperatif, patient safety juga merupakan suatu permasalahan penting yang mendapat perhatian dari dokter – dokter yang terlibat.Jumlah tindakan anestesi diseluruh dunia setiap tahunnya dapat mencapai 240 juta tindakan, 10% tindakan tersebut dilakukan pada pasien dengan risiko tinggi dengan angka mortalitas  mencapai 80%. Jumlah pasien dengan risiko moderat mencapai 40%, dan jumlah komplikasi minor mencapai 40% dimana komplikasi minor ini akan meningkatkan biaya dari suatu pembedahan. Sebagian besar komplikasi ini berhubungan dengan tindakan resusitasi yang tidak adekuat dan adanya hipoperfusi jaringan.  Berdasarkan fakta tersebut, monitoring terhadap keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen menjadi bagian yang penting pada periode perioperatif.Untuk menjamin kecukupan O2 jaringan terdapat 2 faktor penting yang harus diperhatikan, yaitu: 1. tekanan perfusi yang adekuat yang akan menjamin aliran darah pada sistim kapiler (ditentukan oleh tekanan darah / Mean Arterial Pressure (MAP)),  2.Curah jantung yang adekuat sehingga akan menjamin kecukupan Delivery O2 ( DO2 = Cardiac Output x Hb x 1,3 x SpO2). Penerapan strategi preemptif dengan mempertimbangkan faktor – faktor tersebut yang merupakan bagian dari monitoring hemodinamik diduga dapat menurunkan angka mortalitas perioperatif.Survival jangka panjang dari pasien – pasien perioperatif dipengaruhi oleh usia dan komplikasi yang terjadi saat pembedahan,  oleh karena itu  short term goal directed therapy pada periode perioperatif dapat menurunkan angka mortalitas jangka panjang.Pada monitoring terhadap keseimbangan suplai dan kebutuhan O2, terdapat 2 parameter penting, yaitu: cardiac output (CO) dan MAP. MAP ditentukan oleh rumus sebagai berikut: MAP= ( CO x Systemic Vascular Resistance ) + (right arterial pressure – Central Venous Pressure), kalau diperhatikan dari rumus diatas, komponen CO adalah Stroke Volume (SV) x laju nadi, dan SV sendiri sangat dipengaruhi oleh volume intravaskuler yang optimal. Akan tetapi , volume intravaskuler berlebihan juga akan menyebabkan penurunan CO akibat dari terganggunya kontraktilitas. Bedasarkan kenyataan diatas tampaklah bahwa terapi cairan perioperatif memegang peranan penting sekali.Prinsip umum untuk meningkatkan percepatan pemulihan pascabedah dan mencegah komplikasi pascabedah, antara lain adalah dengan melakukan persiapan preoperatif berupa hidrasi adekuat, pemberian minuman bening ( clear fluid ) yang mengandung gula sebelum pembedahan, dan mencegah pemberian obat pencahar.Pada periode perioperatif diusahakan menggunakan teknologi yang tepat untuk pemberian cairan sehingga dapat digunakan individualisasi dari goal directed fluid therapy. Hindari pemberian cairan kristaloid yang berlebihan untuk mencegah terjadinya kelebihan cairan dan natrium, jumlah cairan rumatan sebaiknya tidak melebihi 2 cc/ kgBB/ jam (termasuk obat-obatan) . Penggunaan cairan Ringer laktat dapat mencegah asidosis hiperkloremik.Pada periode pascabedah harus diusahakan pemberian cairan yang cukup, tidak berlebihan tetapi juga tidak kurang. Perhitungkan jumlah cairan rumatan dan cairan pengganti insensible loss secukupnya, dan usahakan keduanya dapat diberikan peroral. Apabila diperlukan resusitasi cairan maka dapat digunakan Goal Directed Fluid Therapy. Terdapat suatu strategi  perawatan pascabedah yang dinamakan Enhance recovery ( ER ) yang melakukan strategi manajemen cairan dengan target antara lain: suhu sentral normal, tidak ada tanda-tanda hipovolemia, hipoperfusi jaringan, dan hipoksia, tidak ada tanda-tanda hipervolemia atau kelebihan cairan, Hb > 7 gr%, tidak didapatkan koagulopati, dan penggunaan vasopresor minimal.Komplikasi perioperatif berhubungan dengan usia lanjut, status ASA yang tinggi, perdarahan, pembedahan yang lama, hipovolemia  dan hipoperfusi ( asidosis metabolik, kadar laktat darah > 2 mmol/l, saturasi vena sentral < 70%), penggunaan vasopresor dosis tinggi, pemberian cairan total > 3,5 liter, balans cairan positif mencapai > 2 liter pada hari pertama pascabedah. Bila didapatkan faktor-faktor tersebut diatas, merupakan salah satu indikator kemungkinan diperlukan perawatan ICU atau HCU pascabedah.ER dapat dicapai dengan individualisasi dari goal directed fluid therapy, tujuannya adalah mencegah hipovolemia dan hipervolemia. Indikator hipovolemia sentral antara lain;  kehilangan darah/ cairan, takikardia, hipotensi, perifer dingin, CVP rendah, CO rendah, stroke volume rendah, adanya pulse pressure variation yang besar saat ventilasi mekanik, preload responsiveness dan ScvO2 yang rendah, serta peningkatan kadar laktat. Hipovolemia sentral biasanya dapat diperbaiki dengan pemberian terapi cairan.Penggunaan Intraoperative fluid management technologies (dengan berbagai strategi) dianjurkan pada kondisi-kondisi sebagai berikut: pembedahan  besar dengan mortality rate hari ke 30 diduga > 1%, pembedahan besar dengan kemungkinan perdarahan > 500 cc, pembedahan intra abdominal, pembedahan intermediate (prediksi mortalitas hari ke 30 > 0,5%) pada pasien2 risiko tinggi (usia > 80 thn, riwayat hipertrofi ventrikel kiri, infark miokard, cerebro vascular accident, dan penyakit vaskuler arterial perifer), kehilangan darah yang tidak terduga dan memerlukan > 2 liter cairan untuk resusitasinya, pasien dengan gejala hipovolemia dan hipoperfusi yang persisten. Berdasarkan panduan diatas maka monitoring perioperatif dapat dilakukan dengan lebih terarah, efektif, dan efisien.  DOI: 10.15851/jap.v1n1.153
Efek Lidokain Intravena terhadap Nilai Numeric Rating Scale dan Kebutuhan Fentanil Pascaoperasi dengan Anestesi Umum Sipahutar, Theresia C.; Fuadi, Iwan; Bisri, Tatang
Jurnal Anestesi Perioperatif Vol 1, No 3 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1101.022 KB)

Abstract

Lidokain intravena mempunyai efek analgesia, antihiperalgesia, dan antiinflamasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian lidokain intravena terhadap nilai numeric rating scale (NRS) dan kebutuhan fentanil pascaoperasi eksisi fibroadenoma mammae. Penelitian ini merupakan uji klinis acak terkontrol buta ganda terhadap 40 orang pasien wanita usia 18–60 tahun dengan status fisik ASA I–II yang dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung periode September 2011–Februari 2012. Sampel dikelompokkan random menjadi kelompok lidokain dan kontrol. Penilaian nyeri menggunakan numeric rating scale. Data dianalisis menggunakan uji chi-kuadrat, uji-t, dan Mann Whitney dengan tingkat kepercayaan 95% dan dianggap bermakna bila p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan nilai NRS kelompok lidokain lebih rendah dan berbeda bermakna pada 30 menit (p<0,001), 60 menit (p<0,001), 90 menit (p=0,003), dan 120 menit (p=0,011) pascaoperasi, penggunaan fentanil pertolongan pada kelompok lidokain adalah 0–25 µg dan pada kelompok kontrol 25–75 µg selama 3 jam pascaoperasi. Simpulan penelitian adalah lidokain intravena 1,5 mg/kgBB bolus sebelum induksi dilanjutkan dosis rumatan 1 mg/kgBB/jam sampai 1 jam pascaoperasi mampu menurunkan nilai numeric rating scale dan mengurangi kebutuhan fentanil pascaoperasi.Kata kunci: Kebutuhan fentanil pascaoperasi, lidokain intravena, numeric rating scaleThe Effect of Intravenous Lidocaine on Numeric Rating Scale Value and Postoperative Fentanyl Requirement in General AnesthesiaAbstractLidocain has analgesic, antihyperalgesic and antiinflamatory properties. This was a double blind randomized controlled trial study on 40 female patients, aged 18–60 years old with ASA physical status I–II who underwent excisional biopsy for fibroadenoma mammae at Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung between September 2011–February 2012. The samples randomly divided into the lidocaine and the control group. Quality of postoperative pain was assessed using the numeric rating scale (NRS). The result were analyzed with chi-square test, t-test, and Mann Whitney Test with 95% confidence interval and considered significant if the p value <0.05. The result showed that in comparison to the control group, the NRS values obtained from the lidocaine group was significantly different in postoperative measurement time, 30 minutes (p<0.001), 60 minutes (p<0.001), 90 minutes (p=0.003) and 120 minutes (p=0.011) and the dose range of fentanyl as a rescue analgesic in 3 hours postoperative period for the lidocaine group was 0–25 µg and 25–75 µg for the control group. This study concluded that administration of 1,5 mg/kgBW lidocaine intravenous before induction and continued with 1 mg/kgBW/hour as maintenance dose until 1 hour postoperative is able to reduce the NRS score and the requirement of postoperative fentanyl.Key words: Intravenous lidocaine, numeric rating scale, post operative fentanyl requierement DOI: 10.15851/jap.v1n3.195

Page 2 of 34 | Total Record : 331