Jurnal Pertambangan
Published by Universitas Sriwijaya
ISSN : -     EISSN : 25491008
Jurnal Pertambangan merupakan jurnal dengan topik dibidang pertambangan meliputi kegiatan eksplorasi, eksploitasi, pengolahan dan pemurnian, K3 serta lingkungan pertambangan. Jurnal ini diterbitkan 4 (empat) kali dalam setahun (3 bulanan) . Jurnal Pertambangan dipublikasikan oleh Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya.
Articles 88 Documents
MODEL TRANSPORTASI PENGANGKUTAN BATUBARA KE LOKASI DUMPING DENGAN METODE SUDUT BARAT LAUT DAN METODE BIAYA TERENDAH PADA PT. BUKIT ASAM (PERSERO), Tbk Jhon, Fredy William; Asyik, Makmur; ., Bochori
Jurnal Pertambangan Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.672 KB)

Abstract

Penambangan batubara pada lokasi tambang Pit 3 Banko Barat terdapat dua lokasi loading point yaitu Pit 3 Timur dan Pit 3 Barat serta dua lokasi dumping yang telah tersedia yaitu dump hopper dan temporary stockpile. Mengacu pada target produksi batubara yang tidak tercapai, maka perlu adanya evaluasi terhadap pengangkutan batubara tersebut dengan model transportasi sehingga nantinya dapat diketahui batubara tersebut akan diangkut ke lokasi dumping mana yang paling efektif dan efisien dalam mencapai target produksi batubara. Pengangkutan batubara dengan menggunakan metode sudut barat laut didapatkan nilai cycle time sebesar 25,73 menit dan tarif angkutan      Rp 9.503,31/ton serta dengan rute angkut dari Pit 3 Timur ke dump hopper, dari Pit 3 Barat ke dump hopper, dan dari Pit 3 Barat ke temporary stockpile. Jumlah alat angkut yang dibutuhkan pada metode sudut barat laut adalah sebanyak 20 unit ke dump hopper dan 5 unit ke temporary stockpile. Pengangkutan batubara dengan menggunakan metode biaya terendah didapatkan nilai cycle time 22,54 menit dan tarif angkutan Rp 8.805,63/ton serta dengan rute angkut dari Pit 3 Timur ke temporary stockpile, dari Pit 3 Timur ke dump hopper dan dari Pit 3 Barat ke dump hopper. Jumlah alat angkut yang dibutuhkan pada metode biaya terendah adalah sebanyak 17 unit ke dump hopper dan 5 unit ke temporary stockpile.
PENERAPAN BLOCK MODELLING DALAM PERENCANAAN TINGKAT PRODUKSI BATUBARA DI PIT KUSKUS DEPARTEMEN HATARI PT. KALTIM PRIMA COAL PROVINSI KALIMANTAN TIMUR Ichsan, Muhammad; ., Mukiat; ., Bochori
Jurnal Pertambangan Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (696.286 KB)

Abstract

Pit Kuskus merupakan salah satu  pit yang direncanakan untuk diproduksi pada tahun 2016. Salah satu metode yang ingin dikaji untuk diterapkan di Pit Kuskus adalah metode block modelling. Hasil yang diharapkan dari metode ini yaitu kuantitas overburden dan cadangan batubara pada tiap range elevasi pit, reserve block modlling,perencanaan sequence penambangan hingga analisis tingkat produksi yang akan didapat dari sequence yang direncanakan.Salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam perencanaan produksi, adalah nilai stripping ratio yang didapatkan pada satuan waktu tertentu serta laju pendapatan dari sequence yang direncanakan. Metode dan  tahapan yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari studi pustaka, penentuan rumusan masalah, observasi lapangan, pengambilan data, analisis dan pengolahan data serta penarikan kesimpulan.Metode block modelling, dilakukan dengan analisis elevasi terhadap tiga data peta yaitu peta topografi wilayah, peta pit design, dan peta topografi seam batubara. Berdasarkan perhitungan dan permodelan block modelling yang dilakukan maka didapatkan jumlah cadangan batubara di Pit Kuskus adalah 529.589 ton batubara, jumlah overburden yang harus dipindahkan 4.284.160 bcm dan nilai stripping ratio nya adalah 8,1.  Rencana pemasukan yang didapatkan selama umur tambang berjumlah $ 4.333.325,5dan titik break eventpoint tercapai pada minggu ke-29 pada saat nilai stripping ratio kumulatif berada pada range 12,7 – 12,3.
ANALISIS KEMANTAPAN LERENG BERDASARKAN HASIL UJI KUAT GESER DENGAN METODE DIRECT SHEAR TEST DI PIT MUARA TIGA BESAR UTARA PT. BUKIT ASAM (PERSERO) TBK Madora, Yenni; Asof, Marwan; ., Mukiat
Jurnal Pertambangan Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.082 KB)

Abstract

Kemantapan suatu lereng dapat dinyatakan dengan suatu nilai faktor keamanan (FK) yang merupakan perbandingan antara gaya penahan dengan gaya penggerak. Dalam menentukan besarnya nilai faktor keamanan dibutuhkan data sifat mekanik batuan yaitu kohesi (c) dan sudut geser (Φ) dalam batuan. Salah satu cara untuk mendapatkan kohesi dan sudut geser dalam melalui pengujian kuat geser batuan (Direct Shear Test). Dari hasil uji kuat geser batuan didapatkan nilai kohesi dan sudut geser dalam setiap lapisan yaitu: Lapisan overburderden dengan batuan Silty Claystone nilai kohesi 61,2 kpa,sudut geser dalam yaitu 19,1°, lapisan interburden A1-A2 dengan batuan Sandy Silty Claystone  nilai kohesi 56kpa dan sudut geser dalam 22,1°, lapisan interburden A2-B1 dengan batuan Silty Claystone nilai kohesi yaitu 29,9 kPa dan sudut geser dalam 16,8°, lapisan interburden B1-C dengan batuan Sandy Clay Siltstone nilai kohesi 196,3 kPa dan sudut geser dalam 21,2° dan lapisan under C dengan batuan sandy Clay Siltstone nilai kohesi 65,2kPa dan sudut geser dalam 19,1°. Pengaruh hasil uji kuat geser terhadap faktor keamanan yaitu semakin besar nilai kohesi,sudut geser dalam (Ru Coefficient = 0 dan 0,5) dan kuat geser batuan, maka semakin besar nilai faktor keamanan. Hasil simulasi dengan memvariasikan geometri lereng didapatkan ketinggian lereng yang aman (FK>1,25). Geometri yang aman untuk setiap lapisan yaitu pada geometri dengan ketinggian lereng 6 meter dan kemiringan lereng 45°.
ANALISIS TERJADINYA SWABAKAR DAN PENGARUHNYA TERHADAP KUALITAS BATUBARA PADA AREA TIMBUNAN 100/200 PADA STOCKPILE KELOK S DI PT.KUANSING INTI MAKMUR Filah, Mirza Nurul; Ibrahim, Eddy; Ningsih, Yunita Bayu
Jurnal Pertambangan Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (792.722 KB)

Abstract

PT. Kuansing Inti Makmur merupakan perusahaan tambang batubara yang berada di Provinsi Jambi kabupaten Muaro Bungo desa Tanjung Belit. Management stockpile yang tidak baik akan berpengaruh terhadap swabakar. Penyebab terjadinya swabakar pada area timbunan 100/200 antara lain terjadinya Proses penumpukan lebih dari 4 bulan lamanya dimana rekomendasi penumpukan batubara adalah 4 minggu, geometri area tumpukan dengan kemiringan melebihi angle of repose yaitu 56,50, sedangkan angle of repose batubara adalah 380, ukuran Butir yang relative kecil sebesar 5-7 cm, kurangnya kontrol terhadap pemadatan sisi area timbunan dan posisi area timbunan tepat pada arah angin yang dominan yaitu barat ke timur.. Penyimpangan kualitas batubara pada saat mengalami swabakar sebagai berikut untuk batubara seam 100 yaitu adanya kenaikan nilai TM sebesar 0,63%, kenaikan nilai Ash 3,46%, Penurunan Total sulfur 0,13%, penurunan kalori 266,53 kkal/kg. Untuk seam 200 yaitu kenaikan TM 1,67%, kenaikan Ash 0,54%, Penurunan Total sulfur 0,28% dan penurunan kalori 81,94 kkal/kg. Upaya perbaikan yang bisa dilakukan adalah perencana desain area timbunan yang ideal dan sesuai peruntukannya dengan panjang 166 m, lebar 95 m, ketinggian 11 m dan kemiringan 300 memiliki kapasitas maksimum 104.101,9 ton yang menerapkan sistem Fifo, Posisinya berada pada daerah yang tidak berhadapan dengan angin dominan, adanya pemadatan dan monitoring suhu secara berkala.
KAJIAN TEKNIS PENGERINGAN SUMP SITU PATENGGANG UNTUK MENAMBANG BATUBARA LAPISAN C DI PIT TAMBANG AIR LAYA PT. PAMAPERSADA NUSANTARA JOB SITE TANJUNG ENIM SUMATERA SELATAN Prima, Rizky; Amin, Muhammad; Abro, M.Akib
Jurnal Pertambangan Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Padapit Tambang Air Laya PT. Pamapersada NusantaraJob Site Tanjung Enim terdapat sebuah sump Situ Patenggang yang berada pada elevasi permukaan -38,5 mdpl. Tepat berada dibawah sump tersebut terdapat lapisan C batubara dengan ketebalan ± 6meter. Secara ekonomis lapisan tersebut layak untuk ditambang, sehingga direncanakan akan dilakukan pengeringan sump. Dengan adanya rencana tersebut maka perlu dilakukan pengkajian ulang terhadap pompa yang digunakan agar proses pengeringan dapat berjalan dengan baik.Debit limpasan yang masuk ke sump sebesar 3.279,88 m3/jam, debit air tanah sebesar 85,8 m3/jam dan laju evaporasi sebesar 25,7m3/jam, sehingga debit total air yang akan masuk yaitu sebesar 3.339,98 m3/jam. Total volume air yang masuk ke sump periode April dan Mei adalah sebesar 951.460,1 m3 ditambah dengan volume target pengeringan sebesar 2.869.860,7 m3 sehingga total volume air yang harus dipompakan hingga Akhir Mei 2015 adalah sebesar 3.821.320,8 m3. Berdasarkan target pengeringan sump, dibutuhkan empat unit pompa dengan total kapasitas pemompaan sebesar 3.931,2 m3/jam agar target pengeringan dapat tercapai dalam jangka waktu 47 hari. Volume sump yang dibutuhkan berdasarkan total air yang masuk perhari sebesar 23.576,6m3, maka dimensi sump yang direncanakan yaitu menyerupai bentuk trapesium dengan kemiringan 45o, dengan sisi atas berukuran 74 m x 74 m sementara untuk sisi bawah berukuran 64 m x 64 m dengan kedalaman sump 5 m.
STUDI PENGARUH KUAT ARUS PADA INDUCED ROLL MAGNETIC SEPARATOR (IRMS) UNTUK MENINGKATKAN PEROLEHAN MINERAL ILMENIT DI AMANG PLANT, BIDANG PENGOLAHAN MINERAL (BPM), UNIT METALURGI, PT. TIMAH (PERSERO), TBK Sitepu, Soni Septian; Arief, A. Taufik; Iskandar, Hartini
Jurnal Pertambangan Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (591.508 KB)

Abstract

PT. Timah (Persero) unit Metalurgi merupakan satuan unit kerja PT. Timah yang bergerak dalam bidang pengolahan dan pemurnian bijih timah.Selain bijih timah, unit Metalurgi melakukan pengolahan terhadap mineral ikutan yang berharga, salah satunya adalah mineral ilmenit (FeTiO3).Pengolahan mineral-mineral ikutan dilakukan di Amang Plant, Bidang Pengolahan Mineral (BPM). Ilmenit merupakan mineral yang bersifat paramagnetik, sehingga untuk memisahkannya diperlukan kuat arus yang besar untuk menghasilkan kuat medan magnet yang besar. Alat yang dipergunakan di Amang Plant adalah Induced Roller Magnetic Separator (IRMS). Kuat arus adalah salah satu variabel yang menentukan besarnya kuat medan magnet yang dihasilkan. Kuat arus yang terlalu besar dapat mengakibatkan mineral pengotor magnetik ikut tertarik oleh induced roll sehingga terjadi penurunan persen berat mineral ilmenit. Feed yang diproses menggunakan IRMS adalah produk konduktor High Tension Roll Separator (HTRS). Berdasarkan hasil penelitian menggunakan feed dengan kadar mineral ilmenit 56,53 %, kadar air 0%. Peningkatan kuat arus 10 hingga 15 Ampere mengakibatkan peningkatan recovery mineral ilmenit mencapai 88,90 % pada kuat arus 15 Ampere akibat kuat medan magnet yang semakin besar untuk menarik mineral ilmenit. Pada penelitian ini, pengaturan kuat arus yang optimal untuk menghasilkan mineral ilmenit high grade (>90%) adalah 14 Ampere yang menghasilkan mineral ilmenit sebesar 201,94 Kg/jam.
ANALISIS PENGGALIAN KOMBINASI SISTEM BENCHES DAN VERTICAL DIGGING PADA KAPAL KERUK 21 SINGKEP 1 AREA PENAMBANGAN LAUT AIR KANTUNG PT. TIMAH (PERSERO), TBK. Syafrullah, Rizki; Hasjim, Machmud; Juniah, Restu
Jurnal Pertambangan Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.122 KB)

Abstract

Kapal Keruk 21 Singkep 1 merupakan aset milik PT. Timah (Persero) Tbk, yang digunakan dalam kegiatan penambangan timah lepas pantai (offshore) di perairan Pulau Bangka. Keberhasilan suatu penggalian pada Kapal Keruk dapat diukur dari nilai Laju Pemindahan Tanah (LPT) dan konsumsi daya yang dihasilkan, namun keamanan dari suatu penggalian juga harus dipertimbangkan dengan seksama yang dapat dilihat dari kemiringan lereng (slope) yang terbentuk dari proses penggalian yang harus sesuai dengan standar keamanan lereng yang ditentukan. Berdasarkan pengolahan dan analisis data di lapangan diketahui bahwa sistem penggalian yang paling direkomendasikan untuk diterapkan pada lokasi sesuai  rencana kerja Ferbruari 2016 adalah kombinasi sistem benches dan vertical digging 3 jenjang dengan nilai LPT 506,47 m3/jam dan konsumsi daya 0,4714 m3/kWh dengan kemiringan lereng (slope) 44,12˚ dimana lebih unggul bila dibandingkan sistem benches yang hanya menghasilkan nilai LPT 500,37 m3/jam dan konsumsi daya 0,4659 m3/ kWh meskipun dengan kemiringan (slope) yang lebih landai 36,24˚. Kombinasi sistem benches dan vertical digging 2 jenjang dengan nilai LPT 509,50 m3/jam dan konsumsi daya 0,4736 m3/ kWh dengan kemiringan lereng (slope) 49,16˚ serta sistem vertical digging dengan nilai LPT 512,66 m3/jam dan konsumsi daya 0,4773 m3/ kWh dengan kemiringan lereng (slope) 55,11˚ menjadikan kedua sistem ini tidak tepat untuk diterapkan dikarenakan tidak memenuhi standar keamanan lereng yang ditentukan.
KAJIAN TEKNIS PRODUKTIVITAS ALAT GALI MUAT BACKHOELIEBHERR R 996 PADA PENGUPASAN OVERBURDEN DI PIT JUPITER PT KALTIM PRIMA COAL Syahputra, Yoan; Handayani, Harminuke Eko; Suwardi, Fuad Rusydi
Jurnal Pertambangan Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (696.224 KB)

Abstract

Kegiatan pengupasan overburden di Pit Jupiter PT Kaltim Prima Coal, menggunakan metode konvensional dengan rangkaian kerja backhoe dan dumptruck. Kombinasi kerja backhoe Liebherr R 996 dengan dumptruck Hitachi EUCLID EH4500. Total volume overburden yang harus dikupas direncanakan sebesar 31.792.056 bcm untuk penambangan 3.943.118 ton batubara sehingga stripping ratio direncanakan sebesar 8,06. Namun, pencapaian angka produktivitas rata-rata backhoe Liebherr R996 hanya sebesar 1.563,96 bcm/jam berada dibawah targetproduktivitas yang direncanakan sebesar 2.000 bcm/jam.Pengkajian faktor-faktor teknis yang berpengaruh terhadap alat gali muatbackhoe Liebherr R 996 di area pemuatannya terus dilakukan di lapangan selama penelitian. Kemudian, perolehan data dihimpun, diolah, dan disajikan dalam bentuk tabel dan besaran produktivitas. Data faktor-faktor teknis yang tidak ideal diolah lebih lanjut, kemudian hasilnya dituangkan dalam bentuk diagram Pareto. Hasil analisis penelitian menunjukkan bahwa persentase faktor-faktor teknis yang berpengaruh terhadap rendahnya produktivitas backhoe Liebherr R 996, diantaranya manajemen supervisi dibawah 30 menit 20,00%, waktu pemuatan yang tinggi 19,23%, single front loading 15,38%, bench yang rendah 13,08%, usage yang rendah 7,69%, area pemuatan yang sempit 6,92%,dan hard digging 5,38%. Setelah dilakukan langkah perbaikan dengan salah satu alternatif solusi, yaitu mempercepat waktu edar backhoe maka angka produktivitas rata-rata backhoe Liebherr R 996 meningkat menjadi 2.050,96 bcm/jam.
EVALUASI UKURAN DIAMETER TUBING UNTUK UPAYA OPTIMASI LAJU PRODUKSI SUMUR A-28 LAPANGAN B PT. PERTAMINA EP ASSET 2 PENDOPO FIELD Ramadhani, Ade Anggraini; Anwar, Ubaidillah; Herlina, Wenny
Jurnal Pertambangan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.976 KB)

Abstract

Pipa tubing merupakan media alir berupa pipa vertikal atau pipa produksi yang berfungsi mengalirkan fluida dari dasar sumur ke permukaan. Perlu dilakukan evaluasi dari nilai kemampuan berproduksi sumur atau dikenal sebagai indeks produktivitas (productivity index) dalam setiap perencanaan ukuran diameter tubing. Laju produksi sumur A-28 dengan memakai tubing berdiameter 2 7/8 inch (OD) adalah 1.248 bfpd. Laju produksi optimal sumur A-28 berdasarkan perhitungan menggunakan persamaan Vogel adalah sebesar 2.191,52 bfpd dan persamaan Wiggins sebesar 2.805,18 bfpd. Penggunaan ukuran tubing 2 7/8 inch (OD) tidak tepat karena tidak mampu mencapai target produksi optimal dari sumur A-28. Karena itu, perlu dilakukan penggantian tubing untuk sumur A-28 agar target produksi optimalnya tercapai. Penelitian ini menggunakan data uji sonolog serta data teknis sumur dalam menghitung nilai indeks produktvitas sumur dan mengevaluasi ukuran diameter yang tepat. Untuk menentukan ukuran diameter tubing yang tepat dapat dievaluasi menggunakan kurva IPR (Inflow Performance Relationship), kurva tubing intake (TPR) serta analisis nodal. Analisis sistem nodal dilakukan dengan mengkombinasikan atau menggabungkan antara kurva IPR dengan kurva TPR. Perpotongan antara kurva IPR dan kurva TPR adalah nilai produksi optimal yang dapat dicapai oleh masing-masing diameter tubing. Hasil dari evaluasi ini diperoleh bahwa tubing dengan diameter 4 1/2 inch (OD) adalah ukuran tubing yang mendekati nilai target laju produksi optimal sumur A-28 yaitu sebesar 2.150 bfpd berdasarkan persamaan Vogel dan 2.350 bfpd berdasarkan persamaan Wiggins
ANALISIS COAL LOSSES KEGIATAN PENAMBANGAN DI BLOK 4 PT. INTI BARA PERDANA, KECAMATAN TABA PENANJUNG, KABUPATEN BENGKULU TENGAH, PROVINSI BENGKULU Insyaniah Khoiriah, Insyaniah; Ibrahim, Eddy; ., Syarifuddin
Jurnal Pertambangan Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.103 KB)

Abstract

PT. Inti Bara Perdana (IBP) merupakan perusahaan pertambangan batubara yang menerapkan metode penambangan strip mining. PT. IBP memiliki tiga blok yang beroperasi, salah satunya blok 4. Berdasarkan perbandingan data tonnase insitu  dan data batubara yang ditambang (tonase batubara timbangan), pada Bulan Januari 2016 hingga Agustus 2016 terjadi variasi sebesar 31.414,44, dimana data timbangan kurang dari tonnase insitu. Coal recovery yang diperoleh hanya 86,69%, sedangkan target coal recovery perusahaan adalah 90% dan 10% dinyatakan sebagai toleransi coal loss. Sehingga coal losses yang terjadi selama Bulan Januari 2016 hingga Agustus 2016 adalah 3,31% atau sebesar 7.802,13 ton batubara yang hilang. Selain itu, topograpi blok 4 berupa lembah dan bukit. Hal tersebut mempengaruhi besar stripping ratio dan mengakibatkan batubara tidak dapat di tambang karena mencapai pit limit. Pada tahapan kegiatan penambangan lainnya seperti coal cleaning, pemuatan batubara pada front, pengangkutan batubara menuju stockROM, serta penumpukan batubara di stockROM juga berpotensi terjadi losses. Sehingga dilakukan penelitian mengenai besar coal losses yang terjadi dan faktor-faktor penyebab coal losses Kata Kunci: Coal Losses, Strip Mine, Coal Recovery