cover
Filter by Year
Jurnal Hutan Tropis
ISSN : -     EISSN : -
Jurnal Hutan Tropis (JHT) adalah Jurnal Nasional peer-reviewed yang memuat artikel ilmiah bidang kehutanan seperti manajemen hutan, ekonomi dan bisnis kehutanan, pengelolaan DAS, hidrologi, silvikultur, penginderaan jauh, ekologi, ekowisata, ilmu tanah hutan, agroforestri, perhutanan sosial, kebijakan kehutanan, perencanaan hutan, penyuluhan kehutanan, teknologi hasil hutan, konservasi sumberdaya hutan, dan perlindungan hutan. JHT terbit pertama kali tahun 1999 yang awalnya bernama Jurnal Hutan Tropis Borneo, kemudian pada tahun 2010 berubah menjadi Jurnal Hutan Tropis. Tahun 2013 terjadi perubahan gaya selingkung dan perwajahan sehingga memperoleh ISSN yang baru (p-ISSN 2337-7771;e-ISSN 2337-7992). Saat ini JHT diterbitkan atas kerjasama Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) dengan Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia (PERSAKI) Pusat. JHT terbit setiap bulan Maret, Juli, dan November.
Articles
199
Articles
KOMPOS BERBAHAN ORGANIK LOKAL SEBAGAI AMELIORAN ALTERNATIF SUBTITUSI ABU DI LAHAN GAMBUT

Harun, Marinus Kristiadi ( Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru )

Jurnal Hutan Tropis Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurnal Hutan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACT. Local method for produce ameliorant called “besik-bakar” that had been practiced by local farmers in peat land should immediately look for other alternatives. This research was conducted in three villages representing some peatland typologies (Mantaren, Tumbangnusa and Kalampangan). The aims of this paper is to determine the negative impacts of “besik-bakar” practices and prospects for local organic compost made from ash as a substitute for ameliorant in peatlands. Analysis of the negative impacts of “besik-bakar” made by measuring the thickness and weight of peat that carryout. Ameliorant alternatives to be promate in this paper is the decomposition of organic matter. Ash from the “besik-bakar” and compost was analyse to determine the content of soil fertility. The nutrient content compared to SNI for compost. The results showed that the subsidence of peatland caused by “besik-bakar” is around 1.84 to 8.45 cm. The laboratory analysis result showed that compost made from local organic matter was fullfiled SNI so its can be substitute ash as an ameliorant in peatlandsameliorant. Keywords: compost, dust, ameliorant, peatland, subsidence, irreversible drying ABSTRAK. Besik-bakar untuk memperoleh abu sebagai amelioran yang selama ini dipraktekkan oleh petani lokal di lahan gambut perlu segera dicarikan alternatif lain yang lebih ramah lingkungan. Penelitian ini dilakukan di tiga desa yang mewakili beberapa tipologi lahan gambut (Desa Mantaren II, Desa Tumbangnusa dan Kelurahan Kalampangan, Provinsi Kalimantan Tengah). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak negatif praktek besik-bakar dan prospek kompos berbahan organik lokal sebagai substitusi abu untuk amelioran di lahan gambut. Analisis dampak negatif besik-bakar dilakukan dengan mengukur ketebalan dan berat gambut yang terbawa. Amelioran alternatif yang ditawarkan pada penelitian ini adalah kompos hasil dekomposisi bahan organik lokal. Abu hasil besik-bakar dan kompos dianalisis secara laboratorium untuk mengetahui kandungan haranya. Kandungan hara keduanya selanjutnya dibandingkan dengan SNI untuk kompos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cara besik-bakar menyebabkan terjadinya penurunan permukaan gambut. Hal ini dibuktikan dengan ketebalan gambut yang diukur dari bongkahan hasil pembesikan yang berkisar antara 1,84 – 8,45 cm. Banyaknya gambut yang terbawa sebanyak 159,15 ton/ha pada kondisi lahan basah dan 214,8 ton/ha pada saat kondisi lahan gambut kering. Hasil analisis laboratorium menunjukkan bahwa kompos berbahan organik lokal mempunyai kandungan hara yang memenuhi SNI sehingga dapat digunakan untuk mensubtitusi abu sebagai bahan amelioran di lahan gambut. Kata kunci: kompos, abu, amelioran, gambut, amblesan, kering tak balik

STUDI PERAN WANITA PERDESAAN HUTAN DALAM UPAYA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN KELUARGA DI DESA TELAGA LANGSAT KABUPATEN TANAH LAUT

Asysyifa, - ( Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat ) , Rianawati, Fonny ( Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat ) , Yuniarti, -

Jurnal Hutan Tropis Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurnal Hutan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACT. The role of women is not only as a housewife but also the breadwinner. The women in Telaga Langsat village help their husband working to increase family prosperity.The aims of the research were to discover how income women, contribution of women income to family income and the role of women to increase family prosperity as well as to reveal the potential of natural resource to develop by Telaga Langsat village women.Method used in this research was approach qualitative. The sampling method used was purposive sampling. The total sample was 15 sample. The process of data collection included questioner, observation, interviews, and documentation. Data analysis used in this research was descriptive qualitative.The result showed the women in Telaga Langsat village they work as farmer, breeder, laborer, or trader with an average income of Rp318.666,00 per month. Contribution of women income to family income as low as29,885 %. The women family prosperity in Telaga Langsat village is above destitution linestandard and belonging to stage I of family prosperity. The potential natural resources in Telaga Langsat village could be developed to increase the income and familyprosperity through capital and training support from eligible institute. Keyword: Women role, income, prosperity,family ABSTRAK. Peran wanita tidak hanya dalam ibu rumah tangga, tetapi juga dapat berperan sebagai pencari nafkah. Wanita di Desa Telaga Langsat turut berperan membantu suami dalam mencari nafkah untuk meningkatkan kesehjahteraan keluarga.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui besarnya pendapatan wanita, kontribusi pendapatan wanita terhadap pendapatan keluarga dan peran wanita dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga serta menggali potensi sumber daya alam yang dapat dikembangkan kaum wanita di Desa Telaga Langsat Kabupaten Tanah Laut. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode pengambilan sampel yang digunakan yaitu purposivesampling.Jumlah responden wanita keluarga yang dipergunakan sebanyak 15 orang.Pengumpulan data menggunakanteknik kuesioner, observasi, wawancara dan pencatatan dokumen.Analisis data yang digunakan yaitu teknik analisis data deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan pekerjaan yang dilakukan wanita di Desa Telaga Langsat untuk menambah pendapatan keluarga, yaitu bertani, beternak, buruh dan berdagang dengan penghasilan rata-rata Rp318.666,00 per bulan. Kontribusi pendapatan wanita tergolong kecil, yaitu rata-rata sebesar 29,885 %. Kesejahteraan keluarga wanita di Desa Telaga Langsat berada di atas garis kemiskinan dan tergolong keluarga sejahtera tahap I. Potensi sumber daya alam di Desa Telaga Langsat dapat dikembangkan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga dengan dukungan modal dan pelatihan dari instansi terkait. Kata Kunci: Peran wanita, pendapatan, kesehjahteraan, keluarga

KAJIAN PEMASARAN HASIL HUTAN NON KAYU DARI HUTAN RAKYAT POLA AGROFORESTRY DI DESA KERTAK EMPAT KABUPATEN BANJAR

Ardhana, Adnan ( Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru ) , Syaifuddin, - ( Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru )

Jurnal Hutan Tropis Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurnal Hutan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACT. This study aims to analyze the marketing channels, marketing margin and marketing efficiency of non-timber forest products forest folk agroforestry patterns in the Kertak Empat village, District of Banjar, South Borneo Province. The research methods using case studies. Collecting data using the method of documentation, interviews and observations with descriptive data analysis. The results showed the marketing channels of non-timber forest products in the research area through two marketing channels for commodity wood and four marketing channels, marketing functions that have been implemented is a function of exchange, as well as the provision of physical facilities. Marketing margins and profit marketing margins are highest contained on the first and second gatherer merchants of rubber, durian and kencur. Marketing efficiency prevail to galangal commodity in distribution patterns II with efficiency rate 62,5%. Keywords: non-timber forest products, agroforestry, marketing ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis saluran pemasaran, margin pemasaran dan efisiensi pemasaran hasil hutan non kayu hutan rakyat pola agroforestri di desa Kertak Empat, Kabupaten Banjar, Propinsi Kalimantan Selatan. Metode penelitian menggunakan studi kasus. Pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi, wawancara dan pengamatan dengan analisa data deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan saluran pemasaran hasil hutan non kayu di lokasi penelitian melalui dua jalur pemasaran untuk komoditas kayu dan empat jalur pemasaran, fungsi-fungsi pemasaran yang telah terlaksana adalah fungsi pertukaran ,fisik serta penyediaan fasilitas. Margin pemasaran dan margin keuntungan pemasaran tertinggi terdapat pada pedagang pengepul I dan II pada komoditas karet, kencur dan durian. Efisiensi pemasaran berlaku pada komoditas Lengkuas pada pola distribusi II dengan tingkat efisiensi 62,5%. Kata kunci : Hasil hutan non kayu, agroforestri, pemasaran

PEMULIHAN DAN PENCEGAHAN SEMAI TUSAM (Pinus merkusii Jungh. et de Vriese) DARI GEJALA KLOROSIS

Darmawan, Ari ( SMK Kehutanan Kadipaten ) , Utomo, M. Mandira Budi ( BPT-HHBK Mataram )

Jurnal Hutan Tropis Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurnal Hutan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABTRACT. One problem emerge in Pine (Pinus merkusii Jungh. et de Vriese) nursery is chlorosis symptom. Inception assumption from this symptom is the lack of nutrient. Due to that condition, conducting experiment on seedling planting media is needed. The method used in this research was by adding slow release fertilizer, Trichoderma reesei and combination of them. This research consist of two main projects, those were seedling recovery and seedling prevention from chlorosis symptom. Each project covered 4 sub-projects, those were monitoring of seedling death percentage (SDP),seedling tall growth (STG), seedling diameter growth (SDG) and seedling health index (SHI). The experiment design used was randomized completely block design with 3 blocks. The results of recovery plot were P1T1 treatment generated the best result for SDP and SHI. Meanwhile, P0T1 treatment generated the best result for STG and SDG. On recovery plot, P0T1 treatment generated the best result for SDP, STG and SHI. Meanwhile, P1T0 generated the best result for SDG. Keywords : Recovery , Prevention , Chlorosis Symptom, Pine Seedling ABSTRAK. Salah satu masalah yang muncul dalam persemaian tusam (Pinus merkusii Jungh. et de Vriese) adalah gejala klorosis. Asumsi awal dari gejala ini adalah kurangnya unsur hara tersedia.  Sehingga perlu dilakukan ujicoba pada media tanam semai, dengan menambahkan pupuk lambat tersedia, Trichoderma reesei dan kombinasi keduanya. Kegiatan penelitian terbagi menjadi 2 kegiatan utama, yaitu kegiatan pemulihan dan kegiatan pencegahan. Masing-masing kegiatan terdiri dari 4 subkegiatan, yaitu pengamatan terhadap persentase kematian semai, pertumbuhan tinggi dan diameter semai dan indeks kesehatan semai. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap berblok dan menggunakan 3 blok. Hasil yang diperoleh pada plot pemulihan adalah perlakuan P1T1 memberikan hasil yang terbaik untuk persentase kematian semai dan indeks kematian semai. Sedangkan perlakuan P0T1 menghasilkan pertumbuhan tinggi dan diameter semai yang terbaik. Pada plot pencegahan, perlakuan P0T1 memberikan hasil yang terbaik untuk persentase kematian semai, pertumbuhan tinggi semai dan indeks kesehatan semai. Sedangkan perlakuan P1T0 menghasilkan pertumbuhan diameter yang terbaik. Kata kunci : Pemulihan, Pencegahan, Gejala Klorosis, Semai Tusam

TINGKAT BAHAYA EROSI KAWASAN HUTAN ILE MANDIRIKABUPATEN FLORES TIMUR

da Silva, Mariany Magdalena ( Balai Penelitian Kehutanan Kupang )

Jurnal Hutan Tropis Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurnal Hutan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACT. This research was concerns on the calculating the rate of erosion in order to obtain the risk level erosion that can be used as a reference to determined the priority of controling the erosion.The estimation was done in Ile Mandiri forest area, located in Mudakaputu village, East Flores regency used USLE (Universal Soil Loss Equation) method. In gethring the data survey method was applied through observation,recording,direct measurement on location such as rainfall erosivity,soil erodibility,length and slope, soil managements and plants cultivation.The calculation indicated that risk level of erosion in research sites is variated like as very light erosion, heavy erosion and very heavy erosion. So that, the priority of controling the erosion is first priority was in very heavy erosion area (satlah V. Sb. M in Belubele stripe and Bakrita stripe, satlah IV. Ld. M in Belubele stripe), second priority is heavy erosion area (satlah IV. Kb. M in Bakrita stripe, Satlah IV. Ld. M in Lewoneda stripe), third priority was in very light erosion area (satlah V. Hut. M in Lewoneda stripe). Keywords: estimationof erosion, risk levelof erosion, controlpriority ABSTRAK. Tujuan penelitian adalah untuk menghitung laju erosi sehingga dapat diperoleh tingkat bahaya erosi yang dapat digunakan sebagai acuan dalam menentukan prioritas pengendaliannya. Pendugaan erosi dilakukan di kawasan hutan Ile Mandiri yang terletak di desa Mudakaputu Kabupaten Flores Timur menggunakan metode USLE (Universal Soil Loss Equation). Pengumpulan data menggunakan metode survey yaitu pengamatan, pencatatan dan pengukuran langsung di lapangan meliputi erosivitas hujan, erodibilitas tanah, panjang dan kemiringan lereng, pengelolaan tanah dan tanaman. Hasil perhitungan menunjukan bahwa tingkat bahaya erosi yang terjadi cukup bervariasi meliputi erosi sangat ringan, berat dan sangat berat. Prioritas pengendalian erosi secara berturut-turut adalah prioritas I meliputi kawasan tererosi sangat berat (satlah V. Sb. M pada jalur Belubele dan jalur Bakrita, satlah IV. Ld. M pada jalur Belubele), prioritas II meliputi kawasan tererosi berat (satlah IV. Kb.M pada jalur Bakrita, IV. Ld. M pada jalur Lewoneda), prioritas III meliputi kawasan tererosi sangat ringan (satlah V. Hut. M padajalur Lewoneda). Kata kunci: Pendugaan erosi, Tingkat bahaya erosi, Prioritas pengendalian

PROSES TRANSFORMASI AGRARIA DAN KONFLIK SUMBERDAYA ALAM DI DAERAH PEDALAMAN: STUDI KASUS DI KECAMATAN LONG BAGUN KABUPATEN KUTAI BARAT, KALIMANTAN TIMUR

Angi, Eddy Mangopo ( Peneliti Bidang Kebijakan dan Tata Kelola Hutan di Konsultan Independen ) , Wiati, Catur Budi ( Bidang Sosiologi Kehutanan di Balai Besar Penelitian Dipterokarpa )

Jurnal Hutan Tropis Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurnal Hutan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACT. This research was aim to know history and forms of control, ownership and land using by local people, bussines and government. From the history and forms of control, ownership and land using could knowed the agrarian transformation which happen, including the existing of management system, authority system and permit system. Result of this research showed that: (1) Indigenous and outsider people in Long Bagun District has land acces through legal process according to their law rule (custom/local agreement) to control the land from the owner before. This process was done for generations or gotten permit from local head of village; (2) Conflict of land control in Long Bagun District happen because of disability of government of Kutai Barat Regency to finish the conflict of border system, particularly since the existing of HPHH permit for 100 ha and IUKhM; (3) Beside of the existing of investor/big capitalism in villages, natural resources conflict also happen because of the unclear of ownership and unfinished the village border system. Keyword: agrarian transformation, natural resources conflict, Long Bagun District ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah dan bentuk-bentuk penguasaan, kepemilikan dan pemanfaatan tanah oleh masyarakat lokal, perusahaan dan pemerintah. Dari sejarah dan bentuk penguasaan, kepemilikan dan pemanfaatan tanah tersebut, dapat diketahui proses transformasi agraria yang terjadi termasuk tata kelola, tata kuasa dan tata ijin yang ada. Selain itu pula diketahuinya pula konflik yang terjadi akibat dari proses transformasi agraria yang ada. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Masyarakat asli maupun pendatang pada wilayah Kecamatan Long Bagun mendapatkan akses atas tanah melalui proses-proses yang sah menurut aturan hukum mereka (kesepakatan adat/lokal) untuk dapat menguasai tanah yang dimiliki oleh pemilik sebelumnya. Proses tersebut dapat dilakukan secara turun temurun atau mendapatkan ijin dari pihak petinggi kampung setempat; (2) Konflik penguasaan tanah di Kecamatan Long Bagun terjadi dikarenakan ketidakmampuan Pemerintah Kabupaten Kutai Barat untuk menyelesaikan konflik tata batas, terutama sejak adanya pemberian izin HPHH seluas 100 ha dan IUKhM; (3) Selain disebabkan adanya investor/kapitalisme besar di kampung-kampung, konflik sumberdaya alam di Kecamatan Long bagun juga terjadi karena tidak jelasnya kepemilikan dan tidak terselesaikannya tata batas kampung. Kata Kunci:Transformasi agraria, konflik sumberdaya alam, Kecamatan Long Bagun

EVALUASI KESESUAIAN LAHAN UNTUK PENGEMBANGAN TANAMAN HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN BIREUEN-ACEH

Satriawan, Halus ( Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Almuslim ) , Fuady, Z. ( Program Studi Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Almuslim ) , Romainur, - ( Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh )

Jurnal Hutan Tropis Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurnal Hutan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACT. Plant community forests in the district bireuen has many benefits in terms of both ecological and economic. Benefits in land resource conservation is able to assist in saving the forests, land and water, while economically the plant will add value both to the community. Sengon, mahogany, teak, and rambutan generally can grow if meets the requirements of quality as a condition of growth. Crop productivity can be achieved if plants are grown environmental in a suitable land. Information on the characteristics and quality of the biophysical and chemical soil affect plant growth needs to be planned through land suitability evaluation. This study aims to determine the level of suitability for the types of plants for the development of community forests in the district of Bireuen. The results obtained for the land suitability classes for rambutan crop consists of S2, S3 and N. Suitability class S2 (quite appropriate) with the sub-class S2-nr, er (CEC and C-organic, slope and erosion hazard), Class S3 suitability (appropriate marginal) with S3 class sub-eh (slope). Suitability class N (not fit) with the slope limiting factor; classes of land suitability for teak and sengon consists of S3 and S3 N, with the slope an erosion hazards limiting factor; classes of land suitability for mahogany consisting of S2, S3 and N with limiting factor are slope and erosion hazards; land suitability class S2-nr, er (nutrient retention and erosion hazards) attempt to repair to potentially land suitability classes S1 through improved soil fertility and minimize erosion. Key words: land suitabiliy, limiting factor, community forest ABSTRAK. Tanaman hutan rakyat di Kabupaten Bireuen memiliki banyak manfaat baik dari segi ekologi dan ekonomi. Manfaat dari segi konservasi sumberdaya lahan adalah tanaman tersebut dapat membantu dalam penyelamatan hutan, tanah dan air, sedangkan dari segi ekonomi tanaman tersebut akan memberi nilai tambah baik kepada masyarakat. Tanaman sengon, mahoni, jati, dan rambutan umumnya dapat tumbuh apabila memenuhi kebutuhan kualitas lingkungan sebagai syarat tumbuhnya. Produktivitas tanaman yang optimal dan berkesinambungan dapat diperoleh apabila tanaman ditanam di tempat yang sesuai dengan kualitas lahannya. Informasi karakteristik dan kualitas biofisik dan kimia tanah yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman perlu direncanakan melalui kegiatan evaluasi kesesuaian lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesesuaian lahan jenis-jenis tanaman tersebut untuk pengembangan hutan rakyat di Kabupaten Bireuen. Hasil penelitian diperoleh Kelas kesesuaian lahan untuk tanaman rambutan terdiri dari S2, S3 dan N. Kelas kesesuaian S2 (cukup sesuai) dengan sub kelas S2-nr,eh (KTK dan C-organik, lereng dan bahaya erosi), Kelas kesesuaian S3 (sesuai marjinal) dengan sub kelas S3-eh (lereng). Kelas kesesuaian N (tidak sesuai) dengan faktor pembatas lereng; Kelas kesesuaian lahan untuk tanaman jati dan sengon terdiri dari S3 dan N dengan faktor pembatas S3-eh dan N-eh; Kelas kesesuaian lahan untuk tanaman mahoni terdiri dari S2, S3 dan N dengan faktor pembatas lereng dan bahaya erosi; Kelas kesesuaian lahan S2-nr, eh (retensi hara dan bahaya erosi) dapat dilakukan upaya perbaikan menjadi kelas kesesuaian lahan potensial S1 melalui perbaikan kesuburan tanah dan meminimalkan bahaya erosi. Key word: kesesuaian lahan, faktor pembatas, hutan rakyat

KARAKTERISTIK PENGGERGAJIAN KAYU GANITRI (Elaeocarpus ganitrus Roxb.) DARI HUTAN RAKYAT DENGAN POLA AGROFORESTRI

Siarudin, Mohamad ( Balai Penelitian Teknologi Agroforestri ) , Widiyanto, Ary ( Balai Penelitian Teknologi Agroforestri )

Jurnal Hutan Tropis Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurnal Hutan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACT. Research on sawing characteristic of ganitri wood (Elaeocarpus ganitrus Roxb.) with live sawing and semi quarter sawing patterns has been conducted at BPTA Ciamis. The materials consisted of 34 manglid logs (17 logs for each sawing pattern) with diameter ranging from 20,75 cm to 33,50 cm, which were taken from community forest at Salawu, Tasikmalaya District, West Java. Results showed that recovery, sawing efficiency, productivit, fuel consumption and average of board width processed through live sawing pattern are 54,16%; 51,20%; 0,95 m3/h; 1,34 liter/m3; 17,11 cm respectively; while those of semi quarter sawing are 56,43%; 40,24%; 0,87 m3/jam; 1,13 liter/m3; 9,57 cm respectively. Analysis of t-test shows that both of sawing patterns are not different in recovery and productivity, but highly significantly different in sawing efficiency and average of board width and significantly different in fuel consumption. Live sawing pattern reveals higher sawing efficiency tend to produce wider boards and high fuel consumption. Keywords: sawing pattern, live sawing, semi quarter sawing, elaeocarpus ganitrus ABSTRAK. Penelitian tentang karakteristik penggergajian kayu ganitri (Elaeocarpus ganitrus Roxb.) dengan pola satu sisi dan pola semi perempatan telah dilaksanakan di BPTA Ciamis. Bahan yang digunakan adalah 34 dolok manglid (17 dolok untuk masing-masing pola penggergajian) yang berasal dari hutan rakyat di Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat dengan rentang diameter antara 20,75 cm sampai dengan 33,50 cm. Hasil menunjukkan bahwa rendemen, efesiensi menggergaji, produktifitas, penggunaan bahan bakar, dan rata-rata lebar papan pada pola satu sisi berturut-turut 54,16%; 51,20%; 0,95 m3/jam; 1,34 liter/m3; 17,11 cm, sedangkan pada pola semi perempatan berturut-turut 56,43%; 40,24%; 0,87 m3/jam; 1,13 liter/m3; 9,57 cm. Hasil uji-t menunjukan bahwa pola penggergajian satu sisi dan pola penggergajian semi perempatan menghasilkan rendemen dan produktifitas yang relatif seragam, namun berbeda sangat nyata pada efesiensi menggergaji dan lebar papan rata-rata, serta berbeda nyata pada penggunaan bahan bakar. Pola penggergajian satu sisi menghasilkan efesiensi menggergaji yang lebih tinggi, sortimen papan yang lebih lebar serta penggunaan bahan bakar yang lebih tinggi. Kata kunci: pola penggergajian, pola satu sisi, semi perempatan, ganitri

PENGENDALIAN MUTU KAYU LAPIS PADA PT WIJAYA TRI UTAMA PLYWOOD INDUSTRY DI KALIMANTAN SELATAN

Abidin, Zainal ( Mahasiswa Program Studi S3 Ilmu Kehutanan Universitas Mulawarman ) , Budi, Agus Sulistyo ( Program S3 Ilmu Kehutanan Universitas Mulawarman ) , Supraptono, Bandi ( Program S3 Ilmu Kehutanan Universitas Mulawarman ) , Budiarso, Edy ( Program S3 Ilmu Kehutanan Universitas Mulawarman )

Jurnal Hutan Tropis Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurnal Hutan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACT. The purpose of this study was to determine the final quality of the resulting plywood is approached through the analysis of the technical defects of plywood and plywood analytical laboratory testing, the results of the study are expected to contribute to further optimize maintain/ improve the quality of the resulting plywood. Of the five species studied plywood thickness (2.4 mm, 2.7 mm, 3.2 mm, 3.7 mm and 5.2 mm), it appears that there are differences in the relative types of defects that occur as well as the percentage. To 2.4 mm thick plywood defect percentage at 6.0%, a thickness of 2.7 mm by 5.4%, a thickness of 3.2 mm by 5.05%, a thickness of 3.7 mm and a thickness of 6.15% 5.2 mm by 5.15%. Broadly speaking technical defects seen quite a lot of plywood that over laps, press marks, stains glue / oil, broken face and core tip less. Laboratory testing of plywood covering the plywood moisture content, bonding strength and formaldehyde emission indicates that the process capability index qualifies as capable. For the calculation of the level of non-conformant only for the bonding strength of having the opportunity to not be able to meet the standards of firmness in the range of relatively small, while for the moisture content of plywood and formaldehyde emissions are negligible chances. Keywords : quality, technical defects, laboratory testing, plywood ABSTRAK.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mutu akhir kayu lapis yang dihasilkan yang didekati melalui analisis cacat teknis kayu lapis dan analisis pengujian laboratoris kayu lapis, hasil penelitian diharapkan dapat berkontribusi untuk lebih mengoptimalkan menjaga/meningkatkan kualitas kayu lapis yang dihasilkan. Dari kelima jenis ketebalan kayu lapis yang diteliti (2,4 mm, 2,7 mm, 3,2 mm, 3,7 mm dan 5,2 mm), terlihat bahwa relatif ada perbedaan jenis cacat yang terjadi serta prosentasenya. Untuk kayu lapis tebal 2,4 mm prosentase cacat sebesar 6,0%, ketebalan 2,7 mm sebesar 5,4%, ketebalan 3,2 mm sebesar 5,05%, ketebalan 3,7 mm sebesar 6,15% dan ketebalan 5,2 mm sebesar 5,15%. Secara garis besar terlihat cacat teknis kayu lapis yang tergolong banyak yaitu over laps, press mark, noda lem/minyak, face pecah dan core ujung kurang. Uji laboratoris kayu lapis yang meliputi kadar air kayu lapis, emisi formaldehida dan keteguhan rekat menunjukkan bahwa indeks kapabilitas proses masuk dalam kriteria mampu. Untuk hasil perhitungan tingkat non konforman hanya untuk keteguhan rekat yang mempunyai peluang untuk tidak dapat memenuhi standar keteguhan dalam kisaran relatif kecil, sedang untuk kadar air kayu lapis dan emisi formaldehida peluangnya dapat diabaikan. Kata Kunci : mutu, cacat teknis, uji laboratoris, kayu lapis

PENGARUH Trichoderma sp. PADA MEDIA BIBIT TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT JABON PUTIH (Anthocepalus cadamba)

Suharti, Tati ( Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan ) , Bramasto, Yulianti ( Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan ) , Yuniarti, Naning ( Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Tanaman Hutan )

Jurnal Hutan Tropis Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurnal Hutan Tropis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACT. Now, a pattern of forest plantations in Indonesia that has been developed is monoculture type. Monoculture plantation posses relatively high risk to pests and diseases. In nursery, damping-off could cause death of seedling. Effective management of diseases problems by combining control technique such as physical and biological control. Methods of research including collecting seed of jabon putih in Garut, West Java, planting media (soil; mixture soil, compost ,and husk in the ratio of 1:1:1, mixture soil, compost ,and husk in the ratio of 1:1:1 + Trichoderma sp.). The results showed that integrated control can be carried out by using on physical and biological. Combination of physical control (mixture soil, compost, and husk in the ratio of 1:1:1) and biological control (Trichoderma sp), significantly increased seedling growth (height, diameter). The treatment produced average of height of seedling were 38,93 cm and diameter were 3,61 mm but in control soil were 6,15 cm and diameter were 2,59 mm. Key words : Jabon putih, Trichoderma sp., compost, husk ABSTRAK. Dewasa ini pembangunan hutan tanaman di Indonesia dilakukan secara monokultur. Penanaman secara monokultur mempunyai resiko terserang hama dan penyakit. Pengelolaan masalah penyakit yang efektif yaitu dengan menggabungkan teknik pengendalian seperti pengendalian fisik dan biologi. Metode penelitian meliputi pengumpulan benih jabon putih di Garut, Jawa Barat, media tanam (tanah, tanah:kompos:sekam (1:1:1), tanah:kompos:sekam (1:1:1)+Tricodherma sp.). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengendalian dapat dilakukan dengan menggabungkan pengendalian fisik dan biologi. Kombinasi pengendalian fisik (tanah:kompos:sekam 1:1:1) dan pengendalian biologi (Trichoderma sp), signifikan dapat meningkatkan pertumbuhan bibit (tinggi, diameter). Perlakuan tersebut menghasilkan rata-rata tingggi bibit 38,93 cm dan diameter 3,61 mm sedangkan pada control, rata-rata tinggi bibit 6,15 cm dan diameter 2,59 mm. Kata kunci : Jabon putih, Trichoderma sp., kompos, sekam