cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jmpkfk@ugm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 16 Documents
Search results for , issue " Vol 18, No 1 (2015)" : 16 Documents clear
BIAYA LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG PASIEN TUBERKULOSIS DI KABUPATEN KULON PROGO Ratnawati, Dewi; As Shiddieq, Firdaus Hafidz; Pramono, Dibyo; Ahmad, Riris Andono
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : Penyakit tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah di Kabupaten Kulon Progo dan menyerang semua kelompok umur dengan persentase kasus tertinggi pada kelompok umur produktif. Angka kematian kasus selama tiga tahun terakhir mengalami kenaikan. Informasi tentang biaya langsung dan tidak langsung pasien TB di Kabupaten Kulon Progo sampai saat ini masih terbatas. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pasien TB menghadapi sejumlah kendala finansial. Metode : Tools to Estimate Patient Costs yang telah dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia diadaptasi dalam penelitian ini. Survei dilakukan terhadap seluruh pasien DOTS dari puskesmas, rumah sakit,dan BP4. Hasil survei pada pasien dikumpulkan, dimasukkan ke dalam database dan dilakukan analisis. Hasil : Rerata biaya pasien TB pada fase diagnosis di Kabupaten Kulon Progo sebesar Rp. 2.508.881,00 sedangkan pada fase pengobatan sebesar Rp. 1.882.395,00. Komponen biaya yang paling besar pada fase diagnosis adalah biaya rawat inap diikuti biaya medis langsung selama diagnosis dan biaya tambahan makanan sedangkan pada fase pengobatan adalah biaya tambahan makanan diikuti biaya perjalanan dan biaya medis langsung selama rawat inap. Strategi mengatasi masalah biaya bagi pasien TB di Kabupaten Kulon Progo adalah dengan asuransi, sumbangan, dan melakukan pinjaman atau penjualan aset. Pembebasan biaya pengobatan dan pemberian jaminan kesehatan bagi penduduk belum dapat membebaskan pasien TB dari pengeluaran biaya yang tinggi. Kesimpulan : Pemberian jaminan untuk diagnosis dan pengobatan TB belum dapat menyelesaikan permasalahan biaya pada pasien TB. Pemerintah masih perlu meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat melalui peningkatan program promosi pemanfaatan jaminan kesehatan serta pemberian bantuan makanan tambahan dan bantuan biaya perjalanan. Kata kunci : tuberkulosis, evaluasi pembiayaan, biaya langsung, kulon progoMahasiswa Program Pasca Sarjana KPMAK, FakultasKedoteran, Universitas Gadjah Mada.Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada.Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada. 
AUDIT OF ELECTRICAL ENERGY IN AIR CONDITIONING AND LIGHTING EFFORTS ON ENERGY EFFICIENCY IN SURAKARTA ISLAMIC HOSPITAL roosita, diah roosita
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: The hospital has a high level of dependency on energy requirements in carrying out operational activities. The tendency of increasing energy costs and the entry into force of the National Health Insurance Program since January 1st, 2014, bringing the consequences of the need for reforms in terms of efficiency. Implementation of energy efficiency are still many obstacles encountered due to costly and has not performed an energy audit. Energy audit is one way to determine whether the intensity level of energy consumption in the category of wasteful or inefficient. By using energy more efficiently can reduce operating costs so that hospitals become more productive and competitive.In this study, energy conservation is focused on the use of air conditioning and lights because it is still possible to do control the use, not to use energy-saving technologies, not including the category of vital equipment.Objective: To evaluate the use of air conditioning energy and lights in Surakarta Islamic Hospital.Methods: This study used a descriptive case study research design using problem solving. The instrument of this research is in-depth interview guide and observation guide.Results and Discussion: The need for operational electrical energy supplied from PLN as the primary source. There is one panel, the power factor is less than standard. Energy Consumption Intensity values in Surakarta Islamic Hospital is 12.3 kWh/m²/month, Standard Operating Procedures and policies governing energy management is not complete and has not been completely understood, the communication between the parts has not been going well, the pattern of air conditioning treatments is less done well, schedule treatment has been carried out but with limited human resources and incomplete document control card. Logistics division can  work optimally.Conclusions and Recommendations: Energy Consumption Intensity is 12.3 kWh/m²/month, relatively efficient, can be optimized by replacing to Inverter AC and replacing the lamps into LED lights. Energy efficiency targets will be implemented if supported by policies and Standard Operating Procedures, the availability of human resources, trained staff, prevention efforts with preventive maintenance. Keywords: Hospital, Energy Consumption Intensity, Inverter AC, LED, energy efficiency 
HUBUNGAN PENERAPAN SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DENGAN MOTIVASI KERJA DAN STRES KERJA PADA PERAWAT DI RSU ANUTAPURA PALU Salmawati, Lusia
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (11.932 KB)

Abstract

Latar Belakang : Sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja harus diterapkan di semua tempat kerja termasuk rumah sakit yang mempunyai resiko besar terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Kecelakaan kerja yang terjadi pada petugas kesehatan di pengaruhi oleh beberapa faktor, Faktor penyebab sering terjadi karena kurangnya kesadaran pekerja dan kualitas serta keterampilan pekerja yang kurang memadai, serta rendahnya motivasi tenaga kerja yang berbanding lurus dengan tingginya tingkat stres kerja pada petugas kesehatan. Tujuan : untuk menganalisis hubungan antara penerapan SMK3 dengan motivasi kerja dan stres kerja. Metode Penelitian : penelitian ini merupakan penelitian korelatif yang dijalankan dengan metode survei yang menggunakan rancangan cross-sectional. Hasil Penelitian : (1) Hasil korelasi Pearson Product Moment menunjukkan bahwa Terdapat hubungan yang sangat lemah dan tidak signifikan antara penerapan SMK3 dengan motivasi kerja pada perawat di rumah sakit umum Anutapura Palu (P= 0,0412; R=0,092); (2) Hasil korelasi Pearson Product Moment menunjukkan bahwa Terdapat hubungan yang sangat lemah dan signifikan antara penerapan SMK3 dengan stres kerja pada perawat di rumah sakit umum Anutapura Palu (P=0,0919; R=0,011 Kesimpulan : (1) Terdapat hubungan yang sangat lemah dan tidak signifikan antara penerapan SMK3 dengan motivasi kerja pada perawat di rumah sakit umum Anutapura Palu; (2) Terdapat hubungan yang sangat lemah dan signifikan antara penerapan SMK3 dengan stres kerja pada perawat di rumah sakit umum Anutapura PaluKata Kunci : SMK3 , Motivasi Kerja, Stres Kerja
Penilaian Kinerja Dokter Sebagai Dasar Sistem Remunerasi di RSUD dr.Soehadi Prijonegoro Sragen Hidayati, Finuril
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dengan metode Action Research untuk mendapatkan kesepakatan mekanisme penilaian kinerja dokter dalam rangka pembagian jasa pelayanan JKN di RSUD dr.Soehadi Prijonegoro Sragen.Mekanisme Penilaian kinerja ini dapat digunakan sebagai dasar sistem remunerasi dokter.
PENGELOLAAN SUKARELAWAN DI LEMBAGA SWADAYA MASYARAKAT BIDANG KESEHATAN (STUDI KASUS) YAYASAN KANKER INDONESIA CABANG DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Yoisangadji1, Nurhasni
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.812 KB)

Abstract

INTISARINurhasni Yoisangadji1, Fatwa Sari Tetra Dewi2, Lutfan Lazuardi3Latar Belakang: Di negara berkembang sekitar 25 juta orang mengidap kanker. Apabila dilakukan pengobatan dan terapi secara teratur dapat menekan pertumbuhan penyakit kanker. Untuk itu, dibutuhkan program untuk masyarakat yaitu kegiatan pencegahan seperti: skrining, deteksi dini, pengobatan dan perawatan paliatif secara menyeluruh, serta pemeriksaan lanjutan pasca sembuh. Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta adalah organisasi nirlaba bersifat sosial dan kemanusiaan di bidang kesehatan serta merupakan organisasi yang mengkhususkan diri untuk menanggulangi kanker. YKI bertujuan mengupayakan penanggulangan kanker dengan menyelenggarakan kegiatan di bidang promotif, preventif, dan supportif. Sesuai dengan visi YKI yaitu PEDULI yang merupakan singkatan dari pertama, PErhatian bahwa masalah kanker bukan hanya masalah individu atau keluarga yang terkena kanker saja. Kedua, memberikan DUkungan baik moral dan material sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya. Ketiga, memberikan LIndungan agar mereka yang terkena kanker merasa terayomi sehingga timbul semangat diri untuk mencari solusi terbaik dalam rangka pengobatan maupun peningkatan kualitas hidup penderita kanker.Tujuan Penelitian: untuk menganalisa pengelolaan sukarelawan pada lembaga swadaya masyarakat di YKI Cabang DIY.Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan studi kasus (case study). Penelitian ini menggunakan metode sampling purposif (purposive sampling), yaitu teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Dalam penelitian ini, peneliti menggali informasi dari beberapa informan. Subjek penelitian yaitu, 2 orang pengurus aktif YKI Cabang DIY dan 6 orang relawan aktif yaitu: 3 orang survivor, 3 Orang non survivor.Hasil: Pengorganisasian kegiatan relawan di Yayasan Kanker Indonesia Cabang DIY selama ini sudah diatur dan ditetapkan dalam rapat pleno, yang diselenggarakan setiap tahun dalam 5 tahun masa kepengurusan. Setiap divisi dalam kepengurusan melakukan evaluasi terhadap program kerja yang tidak terlaksana dalam setahun, serta mengajukan perencanaan program kerja dalam satu tahun kedepan. Pengkoordinasian tata kelola kerja relawan di YKI Cabang DIY, terhadap para relawan dikoordinir langsung oleh pengurus yayasan. Relawan dilibatkan secara langsung dalam semua kegiatan, hal ini dilakukan agar dapat terjalin kerjasama dan hubungan baik antara pengurus YKI Cabang DIY dengan relawan. Ketersediaan relawan di YKI Cabang DIY sampai saat ini berdasarkan penelitian sangat kurang. Walaupun demikian semua kegiatan yang melibatkan relawan dapat terlaksana. Hal ini disebabkan oleh motivasi yang tinggi yang dimiliki oleh relawan.Kesimpulan: Relawan yang memiliki latar belakang pengalaman sebagai survivor sangat penting dan efektif dalam melakukan pendampingan.Kata Kunci: Pengelolaan relawan, LSM, Pengorganisasian, Yayasan Kanker Indonesia 1Dinas Kesehatan Kabupaten Kepualauan Sula, Propinsi Maluku Utara.2Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.3Sistem Informasi Manajemen Kesehatan, Program Pascasarjana Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.  
PENGARUH PELIBATAN KELUARGA DALAM PROGRAM PROLANIS TERHADAP KEPATUHAN MINUM OBAT DAN PENGENDALIAN GULA DARAH PASIEN DIABETES MELITUS TIPE2 Indriani, Ch Novita; Tamtomo, Didik; Probandari, Ari
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Prevalensi penyakit Diabetes Melitus (‘diabetes’) untuk semua kelompok umur di seluruh dunia terus meningkat. Kepatuhan minum obat dan pengendalian gula darah merupakan masalah umum dalam penanganan penyakit diabetes. Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) telah dilaksanakan oleh PT Askes (BPJS Kesehatan) pada pelayanan dokter keluarga untuk menangani penyakit kronis secara komprehensif. Kegiatan prolanis dapat dikembangkan dengan melibatkan keluarga dalam kegiatan-kegiatannya.Tujuan: untuk mengukur pengaruh pelibatan keluarga dalam program Prolanis terhadap kepatuhan minum obat dan pengendalian kadar gula darah pada pelayanan dokter keluarga.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen murni dengan rancangan Single Blind Randomized Controlled Trial yang dilaksanakan dalam bulan November 2013. Subjek penelitian adalah 36 pasien diabetes tipe 2 pada satu klinik dokter keluarga di Surakarta yang ikut sebagai peserta aktif Prolanis dan memenuhi kriteria inklusi. Sampel dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok perlakuan (dengan pendamping) dan kelompok kontrol (tanpa pendamping) secara random. Analisis bivariat kepatuhan minum obat dan kadar gula darah diukur sebelum dan sesudah pelaksanaan program. Kepatuhan minum obat di analisis dengan uji chi square, sedangkan gula darah dianalisis dengan uji mann-whitney. Analisis perbedaan efek dengan mengendalikan variabel umur, menggunakan regresi logistik multivariat.Hasil: Sebelum pelaksanaan intervensi, tidak terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelompok dalam hal kepatuhan minum obat (p=0,182) dan pengendalian kadar gula darah (p=0,798). Sesudah pelaksanaan program tidak terdapat perbedaan signifikan antara kedua kelompok dalam hal pengendalian kadar gula darah (p=0,171) namun diperoleh bahwa kepatuhan minum obat kelompok perlakuan secara signifikan lebih baik dibandingkan kelompok kontrol (p=0,034). Efek pada kepatuhan minum obat tetap signifikan, setelah mengendalikan variabel umur pasien pada analisis regresi logistik multivariate (p=0,013).Kesimpulan: Pelibatan keluarga dalam kegiatan Prolanis meningkatkan kepatuhan minum obat tetapi tidak berpengaruh terhadap pengendalian kadar gula darah pasien diabetes tipe 2. Kata kunci:     Pendampingan keluarga, kepatuhan minum obat, kadar gula darah, diabetes melitus tipe 2
LAMA WAKTU YANG DIHABISKAN PASIEN DI UGD RSPAU dr. S. HARDJOLUKITO DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Murtiningrum, Sri; Lestari, Trisasi; Widodo, Kuncoro Harto
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Salah satu keluhan pasien yang paling sering muncul adalah lama waktu yang dihabiskan pasien di unit gawat darurat setelah mereka mendapatkan penanganan pertama. Pasien harus menunggu sebelum mereka bisa pulang, atau dipindahkan ke bangsal perawatan, ke ICU atau menjalani operasi. RSPAU Dr Suhardi Hardjolukito adalah RS tipe B dengan kapasitas 215 tempat tidur. Tujuan: untuk mengukur lama waktu yang dihabiskan pasien di UGD dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi lama waktu tunggu tersebut. Metode: Ini adalah penelitian observasional dengan rancangan cross-sectional. Penelitian dilakukan di unit gawat darurat RSPAU Dr Suhardi Hardjolukito, yang memiliki kapasitas 15 tempat tidur, pada bulan November 2014. Observasi dilakukan selama 7 hari pada shift pagi, sore, dan malam. Sejumlah 305 pasien menjadi sampel penelitian dan diamati selama pasien berada di UGD. Hasil: Rata-rata waktu perawatan di UGD RSPAU dr.S.Hardjolukito masih sangat bervariasi, berkisar antara 8 s/d 270 menit (4.5 jam). Tahapan pelayanan yang memiliki waktu tunggu paling lama adalah pelayanan di laboratorium dan radiologi. Sementara karakteristik kunjungan yang paling besar pengaruhnya terhadap lama pelayanan di UGD adalah kunjungan pada hari kerja, jenis kelamin pasien perempuan, diagnosis emergency, dan waktu kunjungan pagi hari.  Kesimpulan dan Rekomendasi: Waktu yang dihabiskan pasien di UGD RSPAU dr.S.Hardjolukito sangat bervariasi. Banyak penyebab waktu tunggu tersebut sebenarnya tidak penting dan bisa dicegah. Rumah sakit harus mengurangi kepadatan UGD pada waktu-waktu sibuk dengan meningkatkan efisiensi RS, memperbaiki alur pasien, dan menggunakan metode maajemen operasional dan teknologi informasi 
EFISIENSI PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI KABUPATEN PEMALANG MENGGUNAKAN DATA ENVELOPMENT ANALYSIS Wahyudi, Wahyudi
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang. Ketersediaan sumber daya kesehatan yang terbatas mempengaruhi kinerja pelayanan puskesmas. Di sisi lain dinas kesehatan dan puskesmas dituntut mampu mengelola sumber daya kesehatan yang tersedia untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara optimal dengan mengedepankan efisiensi dalam setiap operasional puskesmas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat efisiensi relatif pelayanan kesehatan dasar puskesmas, mengetahui upaya peningkatan efisiensi bagi puskesmas inefisien dan memperkirakan pengaruh faktor-faktor lingkungan/ kontekstual terhadap efisiensi pelayanan kesehatan dasar puskesmas.Metode. Jenis penelitian deskriptif kuantitatif menggunakan metode data envelopment analysis (DEA) dua tahap. Tahap pertama untuk mengukur efisiensi pelayanan kesehatan dasar. Tahap kedua untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor lingkungan/ kontekstual terhadap efisiensi pelayanan kesehatan dasar. Penelitian ini menggunakan data sekunder laporan kinerja pelayanan rawat jalan 22 puskesmas di Kabupaten Pemalang tahun 2013.Hasil. Pengukuran efisiensi menggunakan model DEA VRS orientasi output diperoleh 50% puskesmas efisien teknis dan 50% puskesmas inefisien teknis. Dari upaya peningkataan efisiensi pada puskesmas inefisien diperoleh target pengurangan input sumber daya ketenagaan puskesmas ssebanyak 49 personil dan target peningkatan output pelayanan kesehatan dasar sebanyak 154.911 kunjungan rawat jalan. Hasil analisis regresi tobit menunjukkan populasi penduduk signifikan dengan arah hubungan positif terhadap efisiensi teknis pelayanan kesehatan dasar puskesmas. Sedangkan kepadatan penduduk, proporsi kunjungan masyarakat miskin dan sarana kesehatan dasar lain tidak signifikan dengan arah hubungan positif.Kesimpulan. Ketidakefisienan puskesmas disebabkan oleh penggunaan sumber daya ketenagaan puskesmas yang berlebih dan rendahnya pemanfaatan pelayanan kesehatan dasar oleh masyarakat. Metode DEA dapat digunakan sebagai alat untuk mengukur tingkat efisiensi pelayanan kesehatan dasar puskesmas, memberikan informasi penyebab puskesmas inefisien dan menentukan target peningkatan efisiensi pada puskesmas inefisien. Kata Kunci : efisiensi teknis, pelayanan kesehatan dasar, puskesmas, data envelopment analysis.
LAMA WAKTU YANG DIHABISKAN PASIEN DI UGD RSPAU dr. S. HARDJOLUKITO DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Murtiningrum, Sri; Lestari, Trisasi; Widodo, Kuncoro Harto
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Salah satu keluhan pasien yang paling sering muncul adalah lama waktu yang dihabiskan pasien di unit gawat darurat setelah mereka mendapatkan penanganan pertama. Pasien harus menunggu sebelum mereka bisa pulang, atau dipindahkan ke bangsal perawatan, ke ICU atau menjalani operasi. RSPAU Dr Suhardi Hardjolukito adalah RS tipe B dengan kapasitas 215 tempat tidur. Tujuan: untuk mengukur lama waktu yang dihabiskan pasien di UGD dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi lama waktu tunggu tersebut. Metode: Ini adalah penelitian observasional dengan rancangan cross-sectional. Penelitian dilakukan di unit gawat darurat RSPAU Dr Suhardi Hardjolukito, yang memiliki kapasitas 15 tempat tidur, pada bulan November 2014. Observasi dilakukan selama 7 hari pada shift pagi, sore, dan malam. Sejumlah 305 pasien menjadi sampel penelitian dan diamati selama pasien berada di UGD. Hasil: Rata-rata waktu perawatan di UGD RSPAU dr.S.Hardjolukito masih sangat bervariasi, berkisar antara 8 s/d 270 menit (4.5 jam). Tahapan pelayanan yang memiliki waktu tunggu paling lama adalah pelayanan di laboratorium dan radiologi. Sementara karakteristik kunjungan yang paling besar pengaruhnya terhadap lama pelayanan di UGD adalah kunjungan pada hari kerja, jenis kelamin pasien perempuan, diagnosis emergency, dan waktu kunjungan pagi hari.  Kesimpulan dan Rekomendasi: Waktu yang dihabiskan pasien di UGD RSPAU dr.S.Hardjolukito sangat bervariasi. Banyak penyebab waktu tunggu tersebut sebenarnya tidak penting dan bisa dicegah. Rumah sakit harus mengurangi kepadatan UGD pada waktu-waktu sibuk dengan meningkatkan efisiensi RS, memperbaiki alur pasien, dan menggunakan metode maajemen operasional dan teknologi informasi 
Efisiensi pelayanan kesehatan dasar di Kabupaten Pemalang menggunakan data envelopment analysis Wahyudi, Wahyudi; Lazuardi, Lutfan; Hasanbasri, Mubasysyir
Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan Vol 18, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang. Ketersediaan sumber daya kesehatan yang terbatas mempengaruhi kinerja pelayanan puskesmas. Di sisi lain dinas kesehatan dan puskesmas dituntut mampu mengelola sumber daya kesehatan yang tersedia untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan secara optimal dengan mengedepankan efisiensi dalam setiap operasional puskesmas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat efisiensi relatif pelayanan kesehatan dasar puskesmas, mengetahui upaya peningkatan efisiensi bagi puskesmas inefisien dan memperkirakan pengaruh faktor-faktor lingkungan/ kontekstual terhadap efisiensi pelayanan kesehatan dasar puskesmas.Metode. Jenis penelitian deskriptif kuantitatif menggunakan metode data envelopment analysis (DEA) dua tahap. Tahap pertama untuk mengukur efisiensi pelayanan kesehatan dasar. Tahap kedua untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor lingkungan/ kontekstual terhadap efisiensi pelayanan kesehatan dasar. Penelitian ini menggunakan data sekunder laporan kinerja pelayanan rawat jalan 22 puskesmas di Kabupaten Pemalang tahun 2013.Hasil. Pengukuran efisiensi menggunakan model DEA VRS orientasi output diperoleh 50% puskesmas efisien teknis dan 50% puskesmas inefisien teknis. Dari upaya peningkataan efisiensi pada puskesmas inefisien diperoleh target pengurangan input sumber daya ketenagaan puskesmas ssebanyak 49 personil dan target peningkatan output pelayanan kesehatan dasar sebanyak 154.911 kunjungan rawat jalan. Hasil analisis regresi tobit menunjukkan populasi penduduk signifikan dengan arah hubungan positif terhadap efisiensi teknis pelayanan kesehatan dasar puskesmas. Sedangkan kepadatan penduduk, proporsi kunjungan masyarakat miskin dan sarana kesehatan dasar lain tidak signifikan dengan arah hubungan positif.Kesimpulan. Ketidakefisienan puskesmas disebabkan oleh penggunaan sumber daya ketenagaan puskesmas yang berlebih dan rendahnya pemanfaatan pelayanan kesehatan dasar oleh masyarakat. Metode DEA dapat digunakan sebagai alat untuk mengukur tingkat efisiensi pelayanan kesehatan dasar puskesmas, memberikan informasi penyebab puskesmas inefisien dan menentukan target peningkatan efisiensi pada puskesmas inefisien. Kata Kunci : efisiensi teknis, pelayanan kesehatan dasar, puskesmas, data envelopment analysis.

Page 1 of 2 | Total Record : 16