cover
Filter by Year
Berita Kedokteran Masyarakat
Jurnal Berita Kedokteran Masyarakat adalah Jurnal Ilmiah di bidang Kesehatan Masyarakat yang diterbitkan oleh Program Pendidikan Kedokteran Komunitas (PPKK) Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada yang bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) dengan STT SK.
Articles
747
Articles
Need for stricter control of waste disposal in small scale industry: a case from community based batik production in Indonesia

Rofiatun, Rofiatun, Jaladara, Vena, Hasanbasri, Mubasysyir

Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 10 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

 Introduction. Monitoring of chemical wastes from informal sector is often weak due to government policy to create jobs to unemployed people.  With the increasing growth of informal sector, activists have concerned about the future negative impact of current unmanaged waste disposal coming from community based home industry. Purpose. This study used home-based batik production to explore the reasons underlying government ??no actions? on informal industry waste management. Method: Informants came from 15 respondents representing the business owners, workers, craftsmen groups and local government institutions. Result: This case study showed that chemical waste from batik making process was disposed around residential areas. The  workers had no attention as to whether the chemicals they dispose will have adverse effect to their environment and health in the future. This case was contrary to our expectation in having stronger environmental monitoring. Overseeing unit, used to be at the district level, was delegated to the one at sub-district level, which made local officer less independent when dealing with income interests of their own people and weakened public health protection to the people. Conclusion: This case study was consistent with ??no action? argument that favor income opportunity and put health concern as low priority. This condition bring up urgent discussion as to whether waste disposal regulation from small scale industries should be in place, in particular when people living around the small scale industry watch daily  damages to their surrounding environment.Keywords: safety practice; environmental literacy; batis waste disposal; smalKebutuhan pengawasan yang lebih kuat dalam pembuangan limbah di industri skala kecil berbasis masyarakat: studi kasus dari produksi batik berbasis komunitas di IndonesiaTujuan: Pengawasan lingkungan di sektor industri informal sering lemah karena pemerintah menganggap penduduk memerlukan industri untuk memperoleh pendapatan dan karena itu memaklumi dampak buruk dari pengelolaan limbah industri rumah tangga. Dengan perkembangan industri yang makin pesat, jika pengawasan lingkungan tidak dilakukan sekarang, maka limbah akan berdampak serius pada penduduk di lingkungan sekitar industri rumah tangga. Hasil Penelitian ini mengeksplorasi alasan-alasan praktik pembuangan limbah industri informal masih belum mendapat perhatian di kalangan otoritas public health, yang seharusnya bertanggung jawab untuk melindungi penduduk dari berbagai potensi bahaya kimia dalam lingkungan  pemukiman akibat industri informal. Metode: Informan berasal dari  15 orang yang merepresentasi pengusaha batik, pekerja batik, kelompok pengrajin batik dan pemerintah daerah. Penelitian ini disetujui komisi etik Fakultas Kedokteran UGM. Hasil: Penelitian ini menunjukkan limbah dari proses pembatikan dibuang begitu bebas di sekitar pemukiman penduduk. Pekerja industri tidak memperhatikan apakah bahan kimia yang mereka buang akan berdampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan mereka di kemudian hari. Berbeda dari dorongan penguatan dalam pengawasan dampak lingkungan yang diakibatkan oleh industri kecil, otoritas pengawasan yang dulu berada di tingkat kabupaten justru diberikan pada tingkat kecamatan, yang membuat makin tidak independen ketika berurusan dengan kepentingan ekonomi, yang memperburuk perlindungan public health untuk penduduk sekitar. Situasi itu makin memaklumi jika industri kecil perlu memiliki standar dalam pembuangan limbah di lingkungan penduduk sekitar. Simpulan: Penelitian ini konsisten dengan argumen permissiveness dari kepentingan ekonomi versus kesehatan. Kondisi ini harus menjadi pertimbangan utama untuk memperkuat sistem regulasi industri informal ketika lingkungan di wilayah pemukiman penduduk menjadi tercemar dan tidak terkendali.  

Konseling ibu hamil dan penggunaan kontrasepsi pasca persalinan

Herawati, Dian, Wilopo, Siswanto Agus, Hakimi, Mohammad

Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar belakang: Lebih dari 95% ibu pasca persalinan ingin menunda kehamilan berikutnya atau tidak ingin hamil lagi namun tidak menggunakan kontasepsi sehingga terjadi unintended pregnancy yang berakhir pada kehamilan berisiko maupun unsafe abortion. Konseling tentang KB pada masa kehamilan dapat memenuhi kebutuhan kontrasepsi ibu pasca persalinan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalis pengaruh konseling KB menggunakan ABPK terhadap penggunaan kontrasepsi pasca persalinan.Metode: Jenis penelitian eksperimen dengan desain randomized controlled trials. Populasi penelitian adalah ibu hamil yang memeriksakan kehamilan di Puskesmas Kota Yogyakarta. Sampel diperoleh secara acak yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel bebas berupa intervensi konseling KB menggunakan ABPK. Variabel terikat berupa penggunaan kontrasepsi pasca persalinan. Analisis bivariabel menggunakan uji chi square dengan signifikansi p-value < 0.05 dan analisis multivariabel menggunakan regresi logistik. Hasil: Proporsi penggunaan kontrasepsi pasca persalinan pada kelompok intervensi lebih besar daripada kelompok kontrol dengan perbedaan prosentase 61%. Konseling menggunakan ABPK pada ibu hamil memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penggunaan kontrasepsi pasca persalinan (p<0.05) sedangkan umur, paritas, pendidikan, komunikasi suami-istri dan paparan informasi tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap penggunaan kontrasepsi pasca persalinan.Kesimpulan: Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK) Ber-KB efektif memberikan pengaruh terhadap penggunaan kontrasepsi pasca persalinan.

Usia saat menarche dan usia pertama kali hubungan seksual pranikah wanita dewasa muda di Indonesia: analisis Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2003-2012

Nuraliah, Nuraliah, Wahab, Abdul, Emilia, Ova

Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 10 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Remaja dan dewasa muda saat ini dihadapkan pada masalah kesehatan reproduksi yaitu aktifitas seksual di usia yang semakin dini. Salah satu tahapan dalam perkembangan pubertas adalah menarche. Wanita yang mengalami menarche di usia dini berisiko terhadap perilaku seksual pranikah. Tujuan dari peneltian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis hubungan usia saat menarche dengan usia pertama kali melakukan hubungan seksual seksual pranikah wanita dewasa muda di Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan menggunakan data sekunder dari data Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2003-2012. Variabel bebas yaitu usia menarche dan variabel terikat yaitu usia melakukan hubungan seksual pranikah. Jumlah sampel terpilih pada SDKI 2003 yaitu  523 orang, tahun 2007 yaitu 2.627 orang, dan tahun 2012 yaitu 2.663 orang. Analisis yang digunakan adalah analisis survival dari 3 data SDKI. Rata-rata usia menarche wanita dewasa muda di Indonesia pada tahun 2003 yaitu 13,67 tahun, pada tahun 2007 yaitu 13,64 tahun, dan pada tahun 2012 yaitu 13,64 tahun. Rata-rata usia melakukan hubungan seksual pranikah wanita dewasa muda di Indonesia yaitu berkisar pada usia 19 tahun dari tahun 2003 hingga pada tahun 2012. Probabilitas wanita dewasa muda untuk melakukan hubungan seksual pranikah yaitu pada tahun 2003 sebesar  3%, tahun 2007 4%, dan pada tahun 2012 yaitu 4%. Pada SDKI tahun 2007 hanya variabel luar yaitu domisili, pendidikan dan status sosial ekonomi yang memiliki hubungan yang signifikan. Pada data SDKI 2012 tidak terdapat vairabel satupun yang berhubungan signifikan dengan perilaku seksual pranikah.Wanita dewasa muda yang berdomisili di perkotaan memiliki peluang 1,9 kali melakukan hubungan seksual pranikah lebih cepat dibandingkan dengan wanita dewasa muda yang berada di pedesaan. Wanita dewasa muda dengan pendidikan tinggi memiliki peluang sebesar 0,51 kali lebih cepat melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan pada kelompok pendidikan rendah. Dari segi status ekonomi,  wanita dewasa muda dengan status ekonomi menengah ke atas memiliki peluang sebesar 0,3-0,4 kali lebih cepat melakukan hubungan seksual pranikah dibandingkan dengan status sosial ekonomi rendah.

Problem sosial dan lingkungan di pertambangan emas tanpa izin: studi di Nusa Tenggara Barat

Ghosyasi, Arfiny, Jaladara, Vena, Hasanbasri, Mubasysyir

Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 12 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Budaya merokok pada wanita di Suku Tengger Jawa Timur

Afifudin, Luqman, Padmawati, Retna Siwi, Dewi, Fatwa Sari Tetra

Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar Belakang : Prevalensi jumlah perok wanita  terus mengalami kenaikan. Sebagian besar wanita Suku Tengger yang tinggal di wilayah Kabupaten Lumajang memiliki kebiasaan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan budaya perilaku merokok wanita Suku Tengger.Metode : Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Informan didapatkan dengan metode snowball dan berdasarkan hasil informasi dari kepala desa dan kader kesehatan, kemudian informan dipilih mengunakan metode purposive berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditetapkan.Informan utama adalah wanita Suku Tengger yang merokok dengan jumlah informan sebanyak 9 orang. Informan pendukung berjumlah 13 orang yang terdiri dari 8 orang suami informan utama dan 5 orang yaitu kepala desa, dukun adat, tokoh masyarakat, bidan desa, dan petugas penyuluh  pertanian. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan observasi. Hasil   : Rokok menjadi salah satu bahan sesaji Gedang Ayu atau Pitrah. Desa Argosari adalah Desa Kalapatra yang berarti memiliki perbedaan dalam tempat, waktu dan kebiasaan berimplikasi pada budaya atau kebiasaan wanita Suku Tengger dalam hal merokok sehingga wanita merokok di Suku Tengger adalah hal yang biasa dan tidak sama dengan daerah lainnya. Perspektif gender dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga menjadi faktor pendukung wanita memiliki kebiasaan merokok. Aspek sosial budaya yang berlaku di masyarakat mendorong perilaku merokok wanita Suku Tengger. informan mengetahui rokok dan dampaknya dari gambar dan tulisan peringatan kesehatan pada kemasan rokok. Upaya promosi kesehatan dalam pengendalian tembakau dilakukan oleh petugas kesehatan melalui kegiatan Program Perencanaan Persalinan dan pencegahan Komplikasi (P4K) dan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Kesimpulan : Rokok menjadi bagian dari budaya Suku Tengger di Desa Argosari. Perilaku merokok menjadi budaya wanita suku tengger dan merokok adalah hal yang biasa karena Desa Argosari adalah Desa Kalapatra. Namun saat ini wanita remaja banyak yang tidak merokok termasuk semua ibu hamil  yang berusia muda tidak ada yang merokok. Orang yang disegani di masyarakat seperti kepala desa, dukun adat dan tokoh masyarakat juga tidak merokok. Persepketif gender dan aspek sosial budaya yang berlaku di masyarakat Tengger menjadi faktor pendukung perilaku merokok wanita Suku Tengger.Culture of Tenggerese women smokingBackground: The prevalence of the number of female smokers in Indonesia continues to increase. On the other hand, cigarettes are an integral part of the culture of society in certain communities. Most of the Tenggerese women in Argosari- Lumajang have long-standing smoking habits. This study aims to describe the culture of Tenggerese women smoking behavior.Method: This research is a qualitative research with ethnography approach. The informant was obtained by snowball method and based on the result of information from the local leader and health cadre, then the informant was chosen using purposive method based on predetermined inclusion criteria. The main informant is Tengger Tribe women who smoke with the number of informants as much as 9 people. Supporting informants consisted of 13 people consisting of: primary informant husband (8 persons), local leader, local hindu??s priest, local public figure, midwife, and agricultural officer. Data collection was done by in-depth interview and observation.Result: In Tenggerese culture, cigarettes become one of ingredients in offerings of gedang ayu and pitrah. Smoking became a tradition of Tenggerese people. Cigarettes are given to guests and people who help in custom events. A gender perspective in having multiple roles and income encourages Tenggerese women to smoke. Some social aspects in the community affect the smoking habits of Tenggerese women. As; smoking can strengthen the sense of brotherhood, smoking is used to repel mrutu when working in the fields, smoking can warm the body, and smoking behavior has been done since childhood, when working in the fields. Informants know the cigarette and its impact from health warning pictures and writing on cigarette packaging. Health promotion efforts by village health workers include: counseling of pregnant women and families through activities of birth planning and prevention of complications programs and counseling of school students through school health activities (Usaha Kesehatan Sekolah).Conclusion: Smoking behavior is a tradition of Tenggerese women. In order to improve tobacco control, it is advisable to the health center at sub-district level (puskesmas) and district public health office to involve key community leaders such as local leader, local hindu??s priest and local public figure were not smoking to become role models in creating a smoke-free home environment.

Asertivitas ibu hamil terhadap perilaku merokok suami

Anhar, Vina Yulia, Padmawati, Retna Siwi, Prabandari, Yayi Suryo

Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 10 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tujuan: Mengidentifikasi aspek yang mempengaruhi intensi perilaku asertif ibu hamil terhadap perilaku merokok suami di  rumah. Metode: Penelitian ini merupakan bagian dari tesis dan studi intervensi Peer Health SHS-LBW di Kabupaten Lombok Utara, Provinsi Nusa Tenggara Barat.Rancangan penelitian menggunakan pendekatan studi cross-sectional. Data yang dianalisis berupa data sekunder, yaitu baseline data dari studi intervensi Peer Health SHS-LBW. Populasi penelitian adalah ibu hamil dengan usia kehamilan ? 4 bulan. Teknik pemilihan sampel menggunakan criterion sampling. Sampel penelitian sebanyak 1.291 responden. Hasil: Terdapat hubungan antara pengetahuan (nilai p= 0,036; OR= 1,286; CI 95%= 1,017-1,627), sikap (nilai p= 0,000; OR= 3,120; CI 95%= 2,444-3,982) dan paparan informasi (nilai p= 0,000; OR= 2,497; CI 95%= 1,582-3,942) dengan  intensi perilaku asertif. Adanya hubungan tersebut kemungkinan dikarenakan responden telah terpapar informasi bahaya rokok, memiliki pengetahuan yang baik, serta adanya dukungan dari keluarga yang bukan perokok untuk berperilaku asertif. Kesimpulan: Perlunya pemberian intervensi peningkatan pengetahuan dan sikap, disertai penguatan aturan larangan merokok untuk meningkatkan intensi perilaku asertif ibu hamil terhadap perilaku merokok suami di rumah.

Aspek budaya, agama, dan medis dari praktik sunat anak perempuan di desa di Jawa Tengah

Hamidah, Siti Muawanah, Daryanti, Menik Sri, Triratnawati, Atik

Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 10 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Latar belakang: sunat perempuan berjalan karena adanya keyakinan bahwa sunat perempuan adalah bagian ajaran agama islam yang harus dipatuhi. Selain itu sunat perempuan juga dilatarbelakangi oleh adanya keyakinan pada kebudayaan leluhur yang harus dilestarikan. Kebudayaan adalah suatu hasil karya yang diciptakan oleh masyarakat yang dapat dipelajari dan diwariskan kepada generasi selanjutnya secara turun-temurun. Kebudayaan dan masyarakat adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Salah satu contoh dari kebudayaan yang ada di masyarakat adalah tradisi sunat. Pengertian sunat secara umum yaitu pemotongan sebagian dari organ kelamin. Sunat ternyata tidak hanya dilaksanakan pada laki-laki saja tetapi juga pada perempuan. Salah satu daerah di Jawa yang masih melaksanakan sunat perempuan yaitu masyarakat Desa Penanggungan Kecamatan Gabus, Pati, Jawa Tengah. Masyarakat Desa Penanggungan mempercayai jika sunat perempuan wajib untuk dilaksanakan seperti pada sunat laki-laki.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui alasan-alasan praktik sirkumsisi anak perempuan serta pertimbangan medis, agama dan budaya dalam mempertahankan praktik sirkumsisi anak perempuan di Desa Penanggungan, Kecamatan Gabus, Pati, Jawa Tengah. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Lokasi penelitian berada di Desa Penanggungan, Kecamatan Gabus, Pati, Jawa Tengah. Subyek penelitian adalah masyarakat Desa Penanggungan yang menyunatkan anak perempuannya, bidan setempat dan tokoh agama sebanyak 20 Informan. Pengumpulan data memakai observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi.Validitas data memakai teknik triangulasi. Analisis data memakai fase pengumpulan data kualitatif yang terdiri atas pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil Penelitian: Praktik sunat anak perempuan yang masih berjalan di Desa Penanggungan sampai sekarang dilatarbelakangi oleh adanya keyakinan bahwa praktik sunat anak perempuan masuk didalam ajaran agama yang harus dipatuhi. Praktik Sunat perempuan sendiri menjadi tradisi yang ada di Desa Penanggungan tetapi tidak dianggap tradisi yang besar seperti sunat pada laki-laki, sehingga dalam pelaksanaannya dirayakan secara terbatas atau sederhana. Proses praktik sunat perempuan berlangsung dalam 3 tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap sesudah pelaksanaan. Proses pelaksanaan sunat perempuan dilakukan oleh dukun ataupun bidan. Masyarakat masih menjalankan tradisi sunat anak perempuan dikarenakan kegiatan ini dipercaya masyarakat dapat menghilangkan suker (kotoran) anak perempuan yang dibawa anak dari sejak didalam kandungan ibu, selain itu praktik sunat perempuan sudah berjalan dari sejak orangtua mereka terdahulu.  Hal ini sudah melekat sebagai warisan leluhur, dan jika anak cucu tidak melaksanakan sunat maka anak cucu tersebut dianggap tidak berbakti dan tidak menghargai orangtua terdahulu, karena kegiatan sunat anak perempuan ini biasanya di sertakan acara berjanjen dimana berjanjen sendiri adalah kegiatan berdoa bersama untuk mendoakan masa depan anak perempuan yang disunat beserta mendoakan orangtua terdahulu yang sudah meninggal. Sedangkan masyarakat yang memilih bidan untuk melakukan praktik sunat anak perempuan dikarenakan masyarakat yang telah percaya bahwa bidan lebih terampil dalam pelaksanaan sunat anak perempuan dengan ilmu kesehatan yang bidan tempuh selama sekolah dan bidan menggunakan alat modern serta steril untuk menyunat anak perempuan, dan faktor penyebab bertahannya sunat perempuan yaitu faktor kesakralan sunat perempuan, faktor kewajiban sosial untuk melaksanakan sunat perempuan dan faktor fungsional dari sunat perempuan (fungsi ketundukan pada pemuka agama, fungsi kesehatan dan fungsi sosial). Saran yang dapat penulis rekomendasikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: bagi pemerintah sebaiknya perlu melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai tindakan sunat perempuan yang lebih benar dan melakukan evaluasi terkait dengan sunat perempuan secara berkelanjutan. Sedangkan bagi tenaga medis, perlu meningkatkan pemberdayaan pengetahuan keluarga/orang tua yang mempunyai anak perempuan melalui kegiatan Posyandu dengan memberikan penjelasan terkait kesehatan mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi wanita

Health literacy, perilaku bersih sehat, dan kesehatan balita: studi di wilayah tertinggal di Bengkulu, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur

Soewondo, Prastuti, Johar, Meliyanni, Pujisubekti, Retno, Halimah, Halimah

Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 10 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pendahuluan. Keputusan kesehatan yang tepat didasari oleh pengetahuan kesehatan yang cukup. Kajian ini menganalisis kekuatan hubungan antara pengetahuan tentang kesehatan (health literacy) dan perilaku bersih sehat dan pada kesehatan anak Balita di daerah tertinggal. Di daerah-daerah ini, penjagaan kesehatan sangatlah penting karena fasilitas kesehatan seringkali terbatas. Metode. Survey dari 4610 rumah tangga yang diambil dari masing-masing 6 wilayah puskesmas di tiga provinsi Bengkulu, Sulawesi Selatang, dan Nusa Tenggara Timur. Hasil.  Health literacy mempunyai asosiasi yang positif pada indikator-indikator Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) serta pada indikator kesehatan anak Dibawah Lima Tahun (Balita). Literacy tentang pencegahan penyakit memiliki asosiasi yang positif dengan perilaku kebiasaan cuci tangan sebelum makan dan menyiapkan makanan, tidak meludah dan menutup mulut/hidung saat batuk/bersin di tempat umum, tidak merokok dalam rumah, dan makan banyak sayuran. Literacy tentang jaminan kesehatan dan ketersediaan fasilitas kesehatan mempunyai asosiasi yang positif dengan perilaku tidak meludah dan menutup mulut/hidung saat batuk/bersin di tempat umum dan kebiasaan makan sayur-sayuran. Literacy tentang Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) pada umumnya berhubungan positif dengan pemberian ASI eksklusif, pencegahan Balita terkena diare, dan pemberian imunisasi dasar lengkap. Simpulan. Hasil-hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan health literacy di daerah tertinggal dapat menyokong pembangunan kesehatan yang berkesinambungan, yang berawal dari perubahan perilaku sehari-hari untuk lebih sehat dan perbaikan kesehatan generasi penerus.Health literacy, healthy and clean life styles, and under-five child??s health status: a study in remote areas in the provinces of Bengkulu, South Sulawesi, and East Nusa TenggaraIntroduction. Health literacy is needed for people to make well-informed health decisions. Purpose. This study assesses the role of health literacy on the practice of clean and healthy living at home, as well as on under-five children??s health. We focus on those living in left-behind areas, for whom preventive behaviours and staying healthy may be particularly important, as these areas often lack in health facilities. Method. The survey was based on a sample of 4610 households, taken from 18 catchment areas of community health centers in three provinces of Bengkulu, South Sulawesi, and East Nusa Tenggara. Result. We find that, health literacy is positively associated with many indicators of clean and healthy lifestyle, as well as young children??s health. Literacy about preventive measures increases the odds of handwashing before eating and preparing food, not spitting and covering nose/mouth when sneezing/coughing in public places, not smoking inside the house, and consuming vegetable-rich diet. Literacy about health insurance and health facilities associates positively with not spitting and covering nose/mouth when coughing/sneezing and good diet. Literacy about mother??s and child??s health in general have a positive association with young children??s outcomes. Conclusion. These results suggest that improving health literacy in rural and remote areas can lead to a sustainable health improvement that begins with the enactment of health-promoting habits at home and young children??s health.

Merokok dan anemia: studi pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Paru Respira Yogyakarta

Vinantika, Ledy, Solikhah, Solikhah

Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi tentang kejadian anemia pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Paru Respira, Yogyakarta yang dikaitkan dengan penyakit tuberkulosis, status nutrisi, usia, jenis kelamin, pendidikan, dan kebiasaan merokok. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan penelitian cross-sectional. Sampel penelitian adalah 90 pasien rawat inap pada tahun 2017 di Rumah Sakit Paru Respira Yogyakarta. Data diambil dari rekam medis pasien dengan teknik sampling consecutive sampling.  Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square.Hasil: Responden yang mengalami anemia sebesar 52,2%. Proporsi orang yang mengalami anemia pada orang yang bertubuh kurus 1,613 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak kurus (RP=1,613; 95%CI=1,078-2,414; p=0,031). Penyakit, usia, jenis kelamin, pendidikan, dan perilaku merokok tidak memiliki hubungan signifikan dengan status anemia. Namun, penyakit TB paru (RP=1,395; 95%CI=0,951-2,047), tidak bersekolah (RP=1,257; 95%CI=0,765-2,066), dan perilaku merokok (RP=1,142; 95%CI=0,730-1,785) merupakan faktor risiko terhadap kejadian anemia. Kesimpulan: Status nutrisi berhubungan signifikan dengan kejadian anemia, sedangkan penyakit TB paru, usia, jenis kelamin, pendidikan, dan kebiasaan merokok tidak berhubungan signifikan dengan kejadian anemia. Penyakit TB paru, IMT yang kurus, tidak bersekolah, dan merokok merupakan faktor risiko terhadap kejadian anemia pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Paru Respira, Yogyakarta.Smoking and anemia: a study in Lung Diseases Hospital in Yogyakarta Purpose: The aim of this study was to explore anemia in hospitalized patients at Respira Lung Hospital in Yogyakarta which include tuberculosis, nutritional status, age, sex, education, and smoking habits.Methods: A cross-sectional design using secondary data from medical records at Respira Lung Hospital was used in this study. Of all medical records, 90 inpatients in 2017 were taken with consecutive sampling technique. The Chi-square test was conducted to analyze this study.Results: Patients who had anemia were 52,2%. The proportion of people who had anemia in thin people was 1,613 greater than those who are not thin (RP=1,613; 95%CI=1,078-2,414; p=0,031). Disease, age, sex, education, and smoking habits were not significantly related to anemia. However, pulmonary tuberculosis (TB) (RP=1,395; 95%CI=0,951-2,047); no education (RP=1,257; 95%CI=0,765-2,066); and smoking habits (RP=1,142; 95%CI=0,730-1,785) were risk factors for anemia in hospitalized patients at Respira Lung Hospital.Conclusion: Nutritional status was significantly associated with anemia, while pulmonary TB, age, gender, education, and smoking habits were not significantly related to anemia. Pulmonary TB, thin BMI, no schooling, and smoking were risk factors for anemia in hospitalized patients at Respira Lung Hospital. 

Status gizi pada balita komunitas adat terpencil di suatu wilayah kecamatan di Jambi

Asparian, Asparian, Rini, Willia Novita Eka

Berita Kedokteran Masyarakat (BKM) Vol 34, No 11 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Beberapa prioritas RPJMN 2014-2019 adalah program pemberdayaan, pemenuhan kebutuhan dasar, aksesibilitas dan pelayanan sosial dasar bagi warga Masyarakat Adat. Kebutuhan dasar yang dimaksud adalah kebutuhan pangan, sandang, perumahan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan/atau pelayanan sosial. Permasalahan kesehatan pada KAT adalah Penyakit kecacingan,penyakit kulit, ISPA, Diare dan rendahnya status gizi pada kelompok risiko yaitu pada anak balita.Penelitian ini penelitian kuantitatif dengan desain Observational melalui pendekatan Cross Sectional untuk mengukur semua variabel dalam waktu yang bersamaan. Populasi seluruh balita usia 24 ?? 59 bulan di lokasi pemukiman KAT Desa Sungai Terap Kecamatan Batin XXIV Kab. Batang Hari. Sampel adalah total populasi dengan kriteria inklusi dan kriteria ekslusi. Variabel independen adalah Penghasilan Kepala Keluarga (KK), ketersediaan pangan, pola konsumsi dan pelayanan gizi masyarakat. Sedangkan variabel dependen adalah status gizi (TB/U).Data primer diperoleh melalui wawancara dan observasi menggunakan kuesioner dan lembar check list, data sekunder diperoleh dari telaah dokumen dan wawancara. Analisis data univariate, bivariate dan multivariate menggunakan uji chi square.Hasil penelitian menemukan hubungan yang signifikan antara penghasilan KK dengan stunting ρ=0,000 OR=22,7 dan  pola konsumsi dengan stunting ρ=0,002. Konsumsi beras keluarga masih sangat kecil, rata-rata 500 gram/hr. Tingkat konsumsi tertinggi terjadi saat mendapatkan hasil buruan besar, sekali dalam tiga minggu. Tidak ada hubungan antara ketersediaan pangan dan pelayanan gizi dengan stunting. Uji multivariate menemukan determinan yang paling signifikan terhadap stunting pada balita usia 24 ?? 59 bulan di KAT Sungai Terap adalah penghasilan KK dengan nilai OR=14,0, penghasilan diperoleh hanya dari hasil kebun karet seluas 0,8 Ha/KK dan penjualan hewan buruan.

Issues
All Issue Vol 35, No 1 (2019) Vol 34, No 9 (2018) Vol 34, No 8 (2018) Vol 34, No 7 (2018) Vol 34, No 6 (2018) Vol 34, No 5 (2018): Proceedings the 3rd UGM Public Health Symposium Vol 34, No 5 (2018) Vol 34, No 4 (2018) Vol 34, No 3 (2018) Vol 34, No 2 (2018) Vol 34, No 12 (2018) Vol 34, No 11 (2018): Proceedings of the 4th UGM Public Health Symposium Vol 34, No 11 (2018) Vol 34, No 10 (2018) Vol 34, No 1 (2018) Vol 33, No 9 (2017) Vol 33, No 8 (2017) Vol 33, No 7 (2017) Vol 33, No 6 (2017) Vol 33, No 5 (2017): Proceedings of the 1st UGM Public Health Symposium Vol 33, No 5 (2017) Vol 33, No 4 (2017) Vol 33, No 3 (2017) Vol 33, No 2 (2017) Vol 33, No 12 (2017) Vol 33, No 11 (2017): Proceedings of the 2nd UGM Public Health Symposium Vol 33, No 11 (2017) Vol 33, No 10 (2017) Vol 33, No 1 (2017) Vol 32, No 9 (2016) Vol 32, No 8 (2016) Vol 32, No 7 (2016) Vol 32, No 6 (2016) Vol 32, No 5 (2016) Vol 32, No 4 (2016) Vol 32, No 3 (2016) Vol 32, No 2 (2016) Vol 32, No 12 (2016) Vol 32, No 11 (2016) Vol 32, No 10 (2016) Vol 32, No 1 (2016) Vol 28, No 1 (2012) Vol 27, No 4 (2011) Vol 27, No 3 (2011) Vol 27, No 2 (2011) Vol 27, No 1 (2011) Vol 26, No 4 (2010) Vol 26, No 3 (2010) Vol 26, No 2 (2010) Vol 26, No 1 (2010) Vol 25, No 4 (2009) Vol 25, No 3 (2009) Vol 25, No 2 (2009) Vol 25, No 1 (2009) Vol 24, No 4 (2008) Vol 24, No 3 (2008) Vol 24, No 2 (2008) Vol 24, No 1 (2008) Vol 23, No 4 (2007) Vol 23, No 3 (2007) Vol 23, No 2 (2007) Vol 23, No 1 (2007) Vol 22, No 4 (2006) Vol 22, No 3 (2006) Vol 22, No 2 (2006) Vol 22, No 1 (2006) Vol 21, No 4 (2005) Vol 21, No 3 (2005) Vol 21, No 2 (2005) Vol 21, No 1 (2005) Vol 20, No 4 (2004) Vol 20, No 3 (2004) Vol 20, No 2 (2004) Vol 20, No 1 (2004) Vol 19, No 4 (2003) Vol 19, No 3 (2003) Vol 19, No 2 (2003) Vol 19, No 1 (2003) Online First BKM Proceedings: Abstracts from the 3rd UGM Public Health Symposium