cover
Filter by Year
R U A N G (JURNAL LINGKUNGAN BINAAN)
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : -
Jurnal RUANG-SPACE mempublikasikan artikel-artikel yang telah melalui proses review. Jurnal ini memfokuskan publikasinya dalam bidang lingkungan binaan yang melingkup beragam topik, termasuk pembangunan dan perencanaan spasial, permukiman, pelestarian lingkungan binaan, perancangan kota, dan lingkungan binaan etnik. Artikel-artikel yang dipublikasikan merupakan dokumentasi dari hasil aktivitas penelitian, pembangunan teori-teori baru, kajian terhadap teori-teori yang ada, atau penerapan dari eksisting teori maupun konsep berkenaan lingkungan terbangun. Ruang-Space dipublikasi dua kali dalam setahun, setiap bulan April dan Oktober, oleh Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana yang membawahi Program Keahlian Perencanaan dan Pembangunan Desa/Kota; Konservasi Lingkungan Binaan; dan Kajian Lingkungan Binaan Etnik.
Articles
79
Articles
Editorial: Pelestarian Elemen Keruangan dan Pembangunan Identitas Kota

Suartika, Gusti Ayu Made

RUANG-SPACE, Jurnal Lingkungan Binaan (Space : Journal of the Built Environment) Vol 5 No 2 (2018): October 2018
Publisher : Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

In Ruang we address issues of form and urban space, leaving the economists to ponder the larger issues of democracy and equality in a rapidly fracturing social environment. This raises the problematic of urban form, its representations, symbolism and practices. The conservation of traditional values and norms imply the conservation of those environments that support them. Since conservation means retaining building form without its prior content, the actual fabric and processes of urban conservation are also thrown into the market place. Conservation on any scale also threatens the urban land market since large areas are then removed from trading (or is all history up for sale?) So do we proceed with adaptation, regulated change, conservation or sterilisation (preservation)? Today the identity of a place is not merely about localities, but is, in many occasions, more about image making to support the creation of a modern urban living environment. Over the last forty years, the use of iconic buildings to generate capital has become more and more frequent, from Sydney Opera House and the Pompidou Centre, to the new Guggenheim Bilbao. These are iconic structures whose prime function is not to give identity to neighbourhoods, but to source capital through tourism and to boost local industry. Here there is a crossover from high technology to local icons. For example Frank Gehry used technology from the American space program to design shapes and forms, as well as technology focussed on the properties of materials. But such buildings fall again into the arena of capital rather than community development. So what is happening on the other side of the coin? There is no doubt that social change is also accelerating in many countries and it is also clear that where we cannot hold capital accumulation and globalisation accountable for many adaptations from gender equality, new housing forms based on the disintegration of the nuclear family, the idea of a universal wage to counter automation, the generation of new communities that wish to live ‘off the grid’, and a phenomenon we might call ‘micro-communities of resistance’ to state neo-corporatism and the abuse of technology. At the level of design and urban form, the Charter of the New Urbanism, now sweeping Europe, and North America, with intrusions in Malaysia, China and other countries appears to have merit. Its agenda is community based planning and design, using a process of natural selection to generate urban density, with urban and architectural forms that reflect history and proven value in use. While the New Urbanism is theoretically weak, it sources two major thinkers namely Patrick Geddes and Ian McHarg, who were both concerned with the relationship between the natural environment and human habitation. Importantly, the New Urbanism deals with the tricky problem of transformation that links past formal languages with new uses. Something that we can all learn from.

Sampul Depan

Swanendri, Made

RUANG-SPACE, Jurnal Lingkungan Binaan (Space : Journal of the Built Environment) Vol 5 No 2 (2018): October 2018
Publisher : Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian di Kawasan Perkotaan Mangupura Kabupaten Badung

Widiarsa, I Putu Anom, Suartika, Gusti Ayu Made

RUANG-SPACE, Jurnal Lingkungan Binaan (Space : Journal of the Built Environment) Vol 5 No 2 (2018): October 2018
Publisher : Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak Artikel ini bertujuan merumuskan aspek-aspek yang wajib diperhatikan dalam pembangunan strategi pengendalian pemanfaatan lahan, dengan studi kasus alih fungsi lahan pertanian yang semakin meningkat di Kawasan Perkotaan Mangupura, Kabupaten Badung. Penelitian yang melandasi penyusunannya dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil studi menunjukan bahwa faktor pendorong terjadinya alih fungsi lahan pertanian bisa diklasifikasikan ke dalam empat kategori, termasuk aspek sosial, ekonomi, lingkungan dan regulasi. Sedangkan strategi pengendalian yang dapat dilaksanakan dengan mempertimbangkan dua aspek dasar, yaitu pembangunan instrumen pengendalian pemanfaatan ruang, dan instansi pelaksana kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang. Secara keseluruhan, artikel ini bernaung pada ide bahwa efisiensi serta kesuksesan upaya kontrol pembangunan spasial, yang terjadi di Kabupaten Badung khususnya, wajib mempertimbangkan faktor pengaruh dan komponen penentu yang mengarahkan kepada strategi pengendalian pemanfaatan ruang. Kata kunci: alih fungsi, lahan pertanian, strategi pengendalian

Pola Tata Ruang Kampung Adat Wologai di Desa Wologai Tengah Kabupaten Ende

Edo, Vinsensius Rikardus

RUANG-SPACE, Jurnal Lingkungan Binaan (Space : Journal of the Built Environment) Vol 5 No 2 (2018): October 2018
Publisher : Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak Artikel ini bertujuan untuk membahas keberadaan Kampung Adat Wologai sebagai salah satu kampung adat  di Kabupaten Ende yang memiliki keunikan. Keunikan dapat dilihat dari pola ruang, karakteristik ruang yang bertingkat-tingkat, elemen dan pemanfaatan ruang berdasarkan fungsinya, serta masih mempertahankan adat istiadat hingga saat ini. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dan menggunakan teknik field research atau penelitian lapangan. Pendekatanfield research dipilih karena pendekatan ini lebih cenderung kepada pengamatan mendalam di lapangan terhadap sebuah objek. Pada bagian pertama artikel ini membahas tentang keberadaan dan keunikan fisik ruang Kampung Wologai untuk diteliti. Bagian kedua menjelaskan tentang elemen pembentuk ruang-ruang yang ada di Kampung Adat Wologai. Bagian ketiga artikel ini menerangkan hasil dan pembahasan. Kehidupan masyarakat di Kampung Adat Wologai masih bersifat tradisional dan sangat sederhana. Pola tata ruang merupakan bentuk atau wujud pemanfaatan ruang berdasarkan elemen-elemen dan fungsinya. Pola tata ruang Kampung Adat Wologai dapat dilihat dari pola/bentuk, elemen-elemen penyusun, yang ada di Kampung Wologai. Pola penataan ruang di Kampung Adat Wologai berbentuk melingkar dan memiliki karakteristik bertingkat-tingkat. Hal ini menjadi sebuah fenomena yang unik untuk dieksplor. Permukiman Kampung Adat Wologai berorientasi ke Gunung Lepembusu yang merupakan gunung sakral yang dipercayai oleh masyarakat Wologai sebagai tempat lahirnya manusia pertama dan leluhur masyarakat Wologai. Pola tata ruang Kampung Adat Wologai berbentuk melingkar dibuat berdasarkan hubungan kekerabatan, dan bertujuan untuk membentuk interaksi dan persaudaraan yang kuat dalam kehidupan bermasyarakat. Kata kunci: kampung adat, Wologai, pola, ruang, adat istiadat

Detil Publikasi

Swanendri, Made

RUANG-SPACE, Jurnal Lingkungan Binaan (Space : Journal of the Built Environment) Vol 5 No 2 (2018): October 2018
Publisher : Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Fenomena Media Periklanan terhadap Citra Kota Denpasar, Studi Kasus di Beberapa Persimpangan Jalan Utama Kota Denpasar

Kusuma Putra, I Gusti Ngurah Bagus, Suartika, Gusti Ayu Made

RUANG-SPACE, Jurnal Lingkungan Binaan (Space : Journal of the Built Environment) Vol 5 No 2 (2018): October 2018
Publisher : Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengambil lokasi di beberapa persimpangan jalan utama Kota Denpasar. Di persimpangan jalan keindahan atau kejelekan sudut-sudut kota akan terlihat. Penempatan media periklanan pada persimpangan jalan walaupun tetap bisa mewadahi beberapa kegiatan secara bersamaan, tetap mengakibatkan adanya berbagai gangguan. Penelitian ini dilaksanakan untuk mendapatkan tiga tujuan. Pertama mengidentifikasi kondisi eksisting media periklanan pada obyek penelitian. Kedua mengkaji permasalahan sebagai akibat digunakannya persimpangan jalan sebagai berdirinya media periklanan berdasarkan fungsi dan regulasi. Ketiga melihat alternative arah penataan kedepan berdasarkan korespondensi yang berkaitan dengan citra kota. Dalam penelitian ini menggunakan alat analisis deskriptif kualitatif, yang didukung oleh dokumentasi foto terkait 22 media dari lima persimpangan yang disurvey. Hasil penelitia nmenunjukkan terjadinya pelanggaran dengan banyaknya titik reklame yang tidak berijin. Sebagian besar tampilan langgam dan material media periklanan tidak mengaplikasikan tampilan tradisi sebagai ciri citra kota budaya. Hasil masukan responden 65% menunjukkan ketidakpuasan terhadap kondisi media periklanan saa tini. Dengan 67% faktor ketidakpuasan diakibatkan perfomansi media yang tidak mencerminkan citra kota budaya. Kata kunci: media periklanan, persimpangan jalan, estetika budaya

Transformasi Permukiman Bali Aga di Desa Pakraman Timbrah Kabupaten Karangasem

Swanendri, Ni Made, Susanta, I Nyoman

RUANG-SPACE, Jurnal Lingkungan Binaan (Space : Journal of the Built Environment) Vol 5 No 2 (2018): October 2018
Publisher : Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak Artikel ini menampilkan hasil studi tentang transformasi permukiman Desa Timbrah yang merupakan salah satu permukiman Bali Aga di Kabupaten Karangasem. Studi ini difokuskan pada dua elemen fundamental yaitu pola spasial dan bentuk-bentuk terbangun dimana dua elemen dengan karakteristik unik unik tersebut secara tradisi membentuk permukiman Desa Timbrah. Elemen--elemen spasial ini melambangkan kompleksitas dari sistem sosio-budaya yang meliputi keyakinan, mata pencaharian, jenis kelamin, pengetahuan, pertahanan, waktu, territorial dan sebagainya. Dalam perkembangannya, masyarakat akan saling berhubungan dengan berbagai kongenitas yang dibawa oleh modernitas yang terjadi secara global serta kekuatan lain yang berasal dari dalam. Beberapa dampak yang teramati akibat pengaruh ini adalah termasuk (namun tidak terbatas pada) modifikasi dalam sistem nilai, cara orang menjalani hidup mereka, dan formasi demografis. Kondisi ini menjadi pendorong untuk melakukan kajian yang dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Temuan-temuan dalam studi ini menunjukkan bahwa hampir semua rumah di Timbrah (karang paumahan) telah mengalami transformasi/perubahan dengan berbagai variasi. Kondisi ini terutama disebabkan oleh peningkatan kebutuhan ruang untuk hidup, efisiensi dalam pemanfaatan ruang, status sosial, aktualisasi diri serta akomodasi terhadap perubahan gaya hidup penghuni. Proses transformasi yang terjadi berjalan perlahan yang dilandasi oleh kesadaran untuk melestarikan pengetahuan dan nilai-nilai setempat. Ini menunjukkan bahwa secara tidak langsung upaya-upaya untuk menjaga keajegan identitas Timbrah sebagai komunitas Bali Aga yang unik senantiasa dilakukan disetiap kesempatan. Kata kunci: pola spasial, permukiman tradisional, gang sempit, bale agung, masyarakat Timbrah

Daftar Isi

Swanendri, Made

RUANG-SPACE, Jurnal Lingkungan Binaan (Space : Journal of the Built Environment) Vol 5 No 2 (2018): October 2018
Publisher : Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pengaruh Penyebaran Fasilitas Sosial terhadap Sirkulasi Dalam Kota di Desa Dauh Puri Kelod Denpasar Barat

Krisanti, Nyoman Siska Dessy

RUANG-SPACE, Jurnal Lingkungan Binaan (Space : Journal of the Built Environment) Vol 5 No 2 (2018): October 2018
Publisher : Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak Fasilitas sosial berperan penting dalam mendukung operasional sebuah kota dan menjadi hal utama untuk mencapai kesejahteraan sebuah kota. Dilihat dari tingkat aksesibilitas yang dimiliki setiap fasilitas sosial, penggunaan terhadap fasilitas ini akan menciptakan kumpulan gerakan yang kompleks. Tidak jarang jika kondisi ini mengakibatkan sirkulasi perkotaan yang kacau balau. Dampak yang jelas terlihat adalah kekacauan sirkulasi yang mengakibatkan kemacetan lalu lintas. Kondisi inilah yang banyak ditemui oleh penduduk kota di Desa Dauh Puri Kelod, Denpasar Barat, yang menjadi dasar untuk dilakukannya penelitian tentang penyebaran fasilitas sosial dan pengaruhnya terhadap sirkulasi dalam kota. Pertama, penelitian ini menyelidiki mengenai penyebaran fasilitas sosial yang ada di Desa Dauh Puri Klod. Kedua, mengamati lalu lintas yang terjadi ketika fasilitas sosial diakses oleh penduduk kota dari titik keberangkatan tertentu, pada waktu tertentu dan dengan cara tertentu. Dan ketiga,  menganalisis bagaimana arus lalu lintas ini berpengaruh terhadap kelancaran operasi dan penggunaan jaringan jalan perkotaan di wilayah tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan paradigma naturalistik. Data primer diperoleh dengan melakukan pengamatan fisik dan wawancara individu. Studi ini menemukan bahwa kemacetan lalu lintas yang terjadi di jalur sirkulasi dan jaringan di seluruh Desa Dauh Puri Kelod sebagian dihasilkan oleh lokasi yang memiliki fasilitas sosial. Hal tersebut terjadi karena kurangnya perencanaan kota yang mengkoordinasikan masalah ini. Untuk memudahkan kondisi ini, penduduk kota sangat disarankan untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi karena mereka sangat bergantung pada bentuk transportasi seperti saat ini. Kata kunci:Pola Pergerakan, Aksesibilitas, Sirkulasi Dalam Kota, Fasilitas Sosial

Sampul Belakang

Swanendri, Made

RUANG-SPACE, Jurnal Lingkungan Binaan (Space : Journal of the Built Environment) Vol 5 No 2 (2018): October 2018
Publisher : Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract