cover
Contact Name
Gusti Ayu Made Suartika
Contact Email
ayusuartika@unud.ac.id
Phone
+6289685501932
Journal Mail Official
ruang-space@unud.ac.id
Editorial Address
R. 1.24 LT.1, Gedung Pascasarjana, Universitas Udayana, Kampus Sudirman Denpasar Jalan P.B. Sudirman, Denpasar 80232, Bali (Indonesia).
Location
Kab. badung,
Bali
INDONESIA
RUANG: JURNAL LINGKUNGAN BINAAN (SPACE: JOURNAL OF THE BUILT ENVIRONMENT)
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23555718     EISSN : 2355570X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal RUANG-SPACE mempublikasikan artikel-artikel yang telah melalui proses review. Jurnal ini memfokuskan publikasinya dalam bidang lingkungan binaan yang melingkup beragam topik, termasuk pembangunan dan perencanaan spasial, permukiman, pelestarian lingkungan binaan, perancangan kota, dan lingkungan binaan etnik. Artikel-artikel yang dipublikasikan merupakan dokumentasi dari hasil aktivitas penelitian, pembangunan teori-teori baru, kajian terhadap teori-teori yang ada, atau penerapan dari eksisting teori maupun konsep berkenaan lingkungan terbangun. Ruang-Space dipublikasi dua kali dalam setahun, setiap bulan April dan Oktober, oleh Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana yang membawahi Program Keahlian Perencanaan dan Pembangunan Desa/Kota; Konservasi Lingkungan Binaan; dan Kajian Lingkungan Binaan Etnik.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 144 Documents
PERUMAHAN MULTI-LANTAI DAN DIMENSINYA: PEMBANGUNAN HUNIAN MASYARAKAT PERKOTAAN BERPENGHASILAN RENDAH DI INDONESIA Suartika, Gusti Ayu Made
e-Jurnal : Ruang-Space (JURNAL LINGKUNGAN BINAAN) Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This article questions the idea that multi-storey housing is an appropriate solution to the demand for affordable houses in urban areas, including Indonesian cities. It holds that problems pertaining to urban settlements cannot be separated from a high and uncontrolled flow of people into the city for economic reasons. In addition, it also promotes the idea that development of housing units does not merely address the problem of shelter. More importantly is the principle of constructing a flourishing community. Thus, the instigation of appropriate policies and strategies in handling a need for low income homes should be approached holistically. Following from this, consideration of political, legal-judicial, economic, technological, health, socio-cultural aspects should be included. Other items might include personal security, sustainability, and the provision of basic infrastructure. The basic principle here is the idea of constructing homes not housing. This article is structured into four sections. The first part lays out the context. The second section outlines practices involved in the provision of public housing in Indonesia including multi-storey development. The third section discusses the pros and cons of this process, using relevant experiences and case studies worldwide. The final section summarises prior discussions towards appropriate policy making in low income housing provision. The article concludes with a suggestion that the development of high-rise housing units should be thoroughly examined before adopting it as a general policy. Keywords: Urbanisation, urban density, multi-storey housing unit, policies and strategies in housing provision  Abstrak Artikel ini mempertanyakan ide tentang pembangunan perumahan multi-lantai sebagai solusi yang tepat dalam menangani kebutuhan perumahan yang layak di daerah perkotaan, termasuk kota-kota di Indonesia. Tulisan ini memandang bahwa, permasalahan perumahan di perkotaan berkaitan erat dengan terjadinya perpindahan penduduk yang tidak terkontrol menuju ke kota, untuk alasan ekonomi. Selain itu, paper ini mempromosikan ide bahwa pembangunan perumahan tidak hanya menangani masalah perumahan. Tetapi prinsip yang lebih penting disini adalah proses membangun sebuah komunitas serta mengakomodasi perkembangannya. Sehingga, instigasi kebijakan dan strategi berkenaan penanganan kebutuhan akan perumahan untuk golongan kurang mampu di daerah perkotaan harus didekati secara holistik. Beranjak dari ide ini, maka prosesnya harus melibatkan pertimbangan atas aspek politik, legal-judisial, ekonomi, teknologi, kesehatan, dan sosial-budaya. Elemen lain yang juga penting untuk diperhatikan disini adalah pertimbangan akan keamanan, sustanabilitas, dan ketersediaan infrastruktur pokok permukiman. Satu lagi prinsip dasar yang diusung disini adalah usaha untuk membangun rumah, bukan tempat tinggal. Artikel ini distrukturisasi menjadi empat bagian. Bagian pertama memaparkan konteks diskusi. Bagian kedua menjelaskan praktek-praktek yang terlibat dalam pengadaan perumahan untuk publik di Indonesia, termasuk pembangunan multi-lantai. Bagian ketiga mendiskusikan potensi dan hambatan dalam pembangunan perumahan multi-lantai, dengan memakai pengalaman serta beberapa kasus dari beberapa negara di dunia. Bagian terakhir menyimpulkan diskusi-diskusi sebelumnya menuju pembangunan kebijakan yang tepat berkenaan pengadaan perumahan untuk kelompok berpendapatan rendah di kota. Artikel ini menyarankan bahwa pebangunan unit perumahan bertingkat tinggi harus secara seksama dikaji sebelum mengadopsinya sebagai sebuah kebijakan yang umum. Kata kunci: Urbanisasi, urban densitas, rumah susun, kebijakan dan strategi dalam pengadaan perumahan
KAJIAN ALIH FUNGSI RUANG TERBUKA HIJAU DI KOTA DENPASAR Riana, I Nengah; Widiastuti, -; Primayatna, Ida Bagus Gde
e-Jurnal : Ruang-Space (JURNAL LINGKUNGAN BINAAN) Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Denpasar city is both the capital as well as the major growth center in Bali. This growth however has caused problems for open space provision. Green open space in urban areas is a necessary part of spatial planning in order to maintain water catchment areas to improve urban environmental compatibility, creation of an urban environment that is safe, comfortable, fresh, beautiful and healthy, and to provide a balance between the natural environment, the built environment and the public realm. The transformation of open space to urban uses in cities is ubiquitous and impacts on spatial planning. This study aims to determine the extent of land conversion in Denpasar and the reasons for such change. Quantitative analysis is used to focus on the form of land use change and the logic behind it. The study concentrates on open space conversion. Data was collected by observation, questionnaires and interview. The final results of this research will hopefully enrich the field of regional development and urban spatial planning, and provide a useful stimulus in the forward planning of Denpasar. Preliminary results suggest that land conversion predominantly serves residential land use (94.12%). Dominant factors that affect its transfer are due to its strategic location (69.50%) and blocked irrigation channels (30.1%). The analysis demonstrates that many open green spaces are located in strategic areas with a complete infrastructure that supports land conversion but are located beside irrigation channels than cannot function optimally. Keywords: land conversion, green open space, urban open space  Abstrak Denpasar merupakan ibu kota Provinsi dan pusat pertumbuhan di Bali. Pesatnya pertumbuhan kota memunculkan permasalahan terkait pengadaan ruang terbuka hijau. Ruang terbuka hijau pada kawasan perkotaan merupakan bagian dari penataan ruang kota dengan tujuan menjaga ketersediaan lahan, sebagai kawasan resapan air, menjaga keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan, meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan, menciptakan lingkungan perkotaan yang aman, nyaman, segar, indah dan bersih. Fenomena alih fungsi banyak terjadi di kota-kota besar dan berdampak pada tata ruang kota secara menyeluruh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui fenomena alih fungsi lahan yang terjadi di kota Denpasar dan alasan akan terjadinya perubahan ini. Denga menerapkan pendekatan kuantitatif, penelitian ini memfokus kajiannya pada: jenis alih fungsi, faktor mempengaruhi alih fungsi, dan faktor dominan yang mempengaruhi alih fungsi ruang terbuka hujau di Kota Denpasar. Data diperoleh dengan melakukan observasi, penyebaran kuesioner dan wawancara. Hasil analisis menunjukan bahwa mayoritas alih fungsi dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan tempat tinggal (94,12%). Sedangkan faktor yang mempengaruhi alih fungsi adalah lokasi yang strategis (69,50%) dan saluran irigasi tidak berfungsi dengan maksimal (30,1%). Alih fungsi ini juga didorong karena ruang terbuka hijau banyak berlokasi di kawasan strategis dengan infrastruktur yang lengkap sehingga menarik masyarakat untuk melakukan alih fungsi, khususnya jika saluran irigasi yang ada tidak bisa difungsikan secara optimal. Kata kunci: alih fungsi, ruang terbuka hijau, ruang terbuka perkotaan
SISTEM SPASIAL DAN TIPOLOGI RUMAH PANGGUNG DI DESA LOLOAN, JEMBRANA (BALI) Pramesti, Dinar Sukma
e-Jurnal : Ruang-Space (JURNAL LINGKUNGAN BINAAN) Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Loloan is one of many unique villages located across the Jembrana Regency (Bali). Historically this community is descended from the Bugis ethnicity who sailed from Celebes Island to Bali. It is believed they were the first Muslim missionaries to spread Islamic beliefs on the island. Their arrival was acknowledged by the King of Jembrana who then provided them with land to settle. They populated this newly formed settlement with Bugis styles stilt houses, an unfamiliar form of home to the Balinese. The community has over time developed a distinctive living environment, extending the Bugis traditions. Given different resources as well as other natural circumstances compared to those found back home in Bugis, the Loloan community developed a range of stilt houses. The objective of this paper is to study the typology of stilt houses existing in this community, and the underlying factors determining their physical forms. The study was conducted using qualitative methods. The analysis was carried out by examining the spatial structure and architectural forms at both macro (settlement) and micro (houses) levels. Data collection was done by carrying out a literature study, interviews and physical observation. Research findings show there are four types of stilt houses in the Loloan community. Determining factors behind the emergence of this typology include socio cultural aspects, economic conditions, activities of the inhabitants, communal interactions taking place in the domestic sphere, building age, land availability and preferences of individuals living in the house. Key words: typhology, stilt house, spatial structure, house form  Abstrak Loloan merupakan salah satu dari beragam komunitas unik yang ada di Kabupaten Jembrana. Secara historis, Komunitas Loloan berasal dari Bugis yang berlayar dari Pulau Sulawesi ke Bali. Mereka dipercaya sebagai penyebar Agama Islam pertama yang datang ke Bali. Raja Jembrana pada waktu itu menyambut kedatangan mereka dengan memberi sebuah area untuk bermukim di Loloan. Mereka membangun beragam rumah panggung gaya Bugis, sebuah struktur yang tidak lazim ada di beragam permukiman di Bali. Seiring waktu, komunitas Loloan memunculkan sebuah permukiman yang berbeda. Karena adanya perbedaan sumber daya pendukung dan kondisi hidup dibanding dengan yang mereka temukan di Bugis, masyarakat Loloan telah memunculkan beragam bentuk rumah panggung. Tujuan artikel ini adalah menstudi tipologi wujud rumah panggung di Loloan beserta faktor-faktor yang menentukan keberadaannya. Studi ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Analisa dilakukan terhadap struktur spasial dan bentuk arsitektur, baik yang ada di leval makro (permukiman) maupun mikro (rumah). Data pendukung diperoleh melalui studi literatur, wawancara dan observasi fisik. Temuan studi menunjukan bahwa terdapat empat tipe rumah panggung di Loloan. Adapun faktor-faktor yang melatarbelakangi kemunculan tipe rumah ini melingkup aspek sosial budaya, ekonomi, aktivitas penghuni, umur dan kondisi bangunan, interaksi komunal, ketersediaan lahan, dan preferensi individu yang tinggal di dalamnya.Kata kunci: tipologi, rumah panggung, struktur ruang, bentuk arsitektur
KONSEP ARSITEKTUR RUMAH ADAT SUKU SASAK DI DUSUN SEGENTER, KECAMATAN BAYAN, LOMBOK UTARA – NTB Wirata, I Made; Sueca, Ngakan Putu
e-Jurnal : Ruang-Space (JURNAL LINGKUNGAN BINAAN) Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Traditional housing in Dusun Segenter deploys unique concepts in building structure, spatial pattern and architectural form. The house is organized based on the belief systems of the community, its norms and a sacred: profane orientation. The purpose of this study is to explain the concept of spatial patterns, shapes and facade forming the house of the Segenter. Phenomenology is used as the chosen qualitative method. Results of this study indicate that the main building site of Segenter village is based on traditions and customs that have been handed down from generation to generation by order of papuk baloq who is the head of the Village. The orientation and placement of the spaces in the main building like paon, amben beleq and klepok are based on the location of the door and the position of sakenem building. There is also an inan bale which is always located in the middle of the house. Both east-west and north-south orientation are also implemented in the Segenters traditional house. The facade of the traditional building is the embodiment of the three main constituent elements - sacral value (reflecting the dominance of roof elements using inan bale construction; karang lamin; and its gable horns); orientation; and privacy. The material used is widely available around the village. The selected building material in use prioritizes consideration for comfort, adaptation to local climate, as well as accommodation for the functions and activities of residential space. Keywords:  spatial pattern, architectural concept, Sasak Ethnicity, traditional house, Dusun Segenter  Abstrak Rumah adat Dusun Segenter memiliki konsep yang unik, baik dalam tata bangunan, pola ruangan dan bentuk arsitekturnya. Rumah adat ditata berdasarkan sistem kepercayaan, norma-norma setempat, serta orientasi sakral profan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan konsep pola keruangan, bentuk dan fasade rumah adat Dusun Segenter. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penataan dan penetapan lokasi bangunan utama rumah adat Dusun Segenter dilakukan berdasarkan tradisi yang diwariskan secara turun temurun atas perintah papuk baloq. Ruangan-ruangan yang ada di dalam bangunan utama yaitu paon, klepok dan amben beleq memiliki orientasi ruangan dan perletakan ruangan berdasarkan perletakan pintu dan letak bangunan sekenem, sedangkan inan bale selalu berada di tengah ruangan. Konsep sumbu timur-barat serta utara-selatan diterapkan di bangunan rumah adat Segenter. Tampak bangunan rumah adat merupakan perwujudan dari tiga unsur utama yang menonjol yaitu nilai kesakralan; orientasi; dan privasi. Nilai kesakralan dicerminkan dengan dominasi elemen atap yang terbentuk dari kontruksi inan bale, karang lamin serta gable horns dari bangunan rumah adat. Material yang digunakan adalah material yang banyak tersedia di sekitar desa. Pemilihan material bangunan mengutamakan kenyamanan, adaptasi dengan iklim setempat, serta pengakomodasian fungsi-fungsi ruang dan aktivitas di dalamnya. Kata kunci: pola ruang, konsep arsitektur, Suku Sasak, rumah adat, Dusun Segenter
CITRA KOTA BLAHKIUH (BADUNG, BALI) MENURUT KOGNISI PENGAMAT Avianthi Irawan, Ni Made Dhina
e-Jurnal : Ruang-Space (JURNAL LINGKUNGAN BINAAN) Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The study of Blahkiuh city image is important in order to expose the features that make the city both comprehensible and recognized by its people. The present study is about the survey, analysis and method by which this understanding can take place. There are three main components, - identity, structure and meaning of Blahkiuh city, which in term of hierarchy is classified as a city class IV. Data collection was initially conducted by giving selected individuals three stimuli, namely iconic (photos of their surroundings), graphic (sketches of objects/elements which are easy to remember and give meaning to specific areas), and verbal. After that they were given a series of structured and unstructured questions using the ‘open-closed’ method. This study uses both quantitative and qualitative approaches, assisted by the Statistical Program for Social Science (SPSS). The program uses the method of data analysis frequency and z score in order to determine the identity and the structure of the city as well as bivariat correlation analysis to discover two variables. These are the identity and structure which reveal the meaning of the city. The study is also supported by the use of qualitative analysis. Using this technique, 27 city elements generating identity were revealed, some of which were sourced from the kingdom heritage. The 27 elements were allocated to 6 nodal points in Blahkiuh. However only 4 nodal points were considered as forming the elemental city structure. These 4 points provide the easiest orientation, and generate most identity and impact. In conclusion, the data analysis using SPSS shows that the image of Blahkiuh city is one which has a historical value (having close relation with the existence of Singasari Kingdom and Puri Mayun Kingdom in 17 Century, and colonialization in 19 Century), On top of these Blahkiuh has potentials to be developed as a city of a great cultural significance, educational opportunity, business potential especially agro-business development. Keywords: cognition, identity, spatial structure, meaning  Abstrak Penelitian tentang citra kota Blahkiuh penting untuk dilaksanakan agar kota itu bisa dipahami dan dikenali oleh masyarakat. Studi yang didokumentasikan melalui artikel ini adalah tentang survey, analisa dan metode dimana pemahaman ini dikaji lebih lanjut. Ada tiga komponen kajian dalam konteks ini, yaitu: identitas, struktur dan makna dari Kota Blahkiuh yang dalam hierarkhi kota dikategorikan ke dalam kota kelas IV. Aktivitas pengkoleksian data awal dilaksanakan dengan memberikan group responden tiga stimulus berupa: stimulus ikonik dengan menunjukkan foto lingkungan sekitar pada pengamat; stimulus grafis dengan memperlihatkan sketsa obyek/elemen yang mudah diingat dan memberikan makna pada kawasan khusus; dan stimulus verbal. Kemudian para responden serangkaian pertanyaan tersruktur maupun tidak terstruktur. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif, yang dibantu dengan program SPSS (Statistical Program for Social Science). Analisa data dilaksanakan dengan metode frekuensi dan z score untuk mencari identitas dan struktur kota serta, serta korelasi bivariat untuk mengetahui korelasi dua variabel. Kedua variabel dimaksud adalah indentitas dan struktur sebagai elemen dasar dalam memahami makna pembangun image sebuah kota. Penelitian ini selanjunya didukung oleh analisis kualitatif. Dari penelitian ini ditemukan bahwa Kota Blahkiuh memiliki 27 elemen pembentuk identitas kota, dan beberapa diantaranya berupa elemen-elemen artefak peninggalan kerajaan. Dua puluh tujuh elemen yang disebutkan di atas tersebar di enam titik lokasi/ruas jalan Blahkiuh. Namun hanya empat titik lokasi/ruas jalan yang menurut kognisi/persepsi pengamat dianggap sebagai struktur elemen kota yang paling mudah digunakan sebagai pusat orientasi dan memberi kesan paling kuat serta memiliki makna khusus terhadap Kota Blahkiuh. Dari analisis data dengan menggunakan program SPSS bisa disimpulkan bahwa citra Kota Blahkiuh adalah sebuah kota yang memiliki nilai historis, dilihat dari keberadaan Kerajaan Singasari dan Puri Mayun yang dibangun di abad 17 dan adanya peninggalan masa kolonialisme di abad 19. Selain itu Kota Blahkiuh memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi kota budaya, pendidikan, pusat bisnis khususnya agro-bisnis. Kata kunci: kognisi, identitas, struktur ruang, makna
THE NEW URBAN DESIGN – A SOCIAL THEORY OF ARCHITECTURE ? Cuthbert, Alexander R.
e-Jurnal : Ruang-Space (JURNAL LINGKUNGAN BINAAN) Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Over the last ten years and 1000 pages of text, I outlined a unified field theory which I refer to as The New Urban Design. Possessing the same structure, the three books can be read in series or in parallel, and may best be described as a matrix of possibilities (Cuthbert 2003, 2006, 2011). In this paper I revisit some of the ideas in these texts that need to be more fully developed. Important among them are the undeniable effects of this new field for architecture and urban planning, and an expanded brief on the use of Marxian modes of production to support social analysis in these disciplines. From this perspective we can at least develop some truth as to the historical progress of urban form. In redefining urban design as an independent field, architecture and urban planning subsequently become different regions of thought from what they had previously entertained, namely during the period when they colonised urban design and shared the spoils between them. Extending this argument even further, it is clear that neither discipline, nor the resulting mainstream urban design (i.e. one produced by architects and planners) - have had resort to a social theory of their own existence. All so called theories of architecture and urban planning, have failed with good reason. Architecture has relied almost exclusively on aesthetics and technology for its self awareness. Despite the fact that social theory began to penetrate planning theory in the 1970’s, this did not change the idea that planning can have no internally generated theory other than the trivial, since it is an epiphenomenon of the state. It is not an independent factor in urbanisation, and therefore can have no consciousness of its own that is any more than ideological in the Marxist use of the term. In conclusion, the paper suggests that if the weltanshuung of the New Urban Design is persuasive, this has wide ranging implications for education, practice and the development process at all scales of operation. Keywords: urban design, social theory, mainstream logic, ideology  Abstrak Dalam sepuluh tahun terakhir penulis telah memaparkan sebuah kesatuan teori yang direpresentasikan ke dalam 1000 halaman tulisan (tiga buku), yang Penulis pandang sebagai The New Urban Design. Dengan menerapkan struktur yang baru, ketiga buku ini bisa dibaca secara beruntun (seri) maupun secara pararel, dan juga bisa dideskripsikan sebagai matrik yang menawarkan beragam kemungkinan (Cuthbert 2003, 2006, 2011). Dalam paper ini, Penulis meninjau kembali beberapa ide terkait, yang perlu dikaji lebih lanjut. Beberapa hal penting yang perlu digarisbawahi disini adalah, dampak dari kemunculan bidang urban design yang tidak bisa dihindari terhadap dunia kearsitekturan dan urban planning, dan pengenalan lebih lanjut dari penerapan moda-moda produksi sesuai konsepsi Marxisme dalam mendukung analisis sosial berkenaan kedua disiplin ini. Dari perspektif ini, kita, paling tidak bisa membangun kebenaran akan kemajuan historis dari sebuah tatanan perkotaan. Dalam meredefinisikan urban design sebagai disiplin yang independan, arsitektur dan urban planning selanjutnya menjadi bidang yang berbeda dibanding dengan pemahaman kita sebelumnya. Khususnya pada masa-masa dimana arsitektur dan  urban planning mendominasi urban design. Melanjutkan argumentasi ini, urban design secara umum (yang didefinisikan oleh para arsitek maupun urban planner) belum memiliki teori-teori sosial yang dibangun berdasarkan keberadaannya. Semua yang disebut dengan teori tentang arsitektur ataupun urban planning telah gagal untuk alasan-alasan tertentu. Arsitektur secara ekslusif bersandar pada estetika dan teknologi untuk kebangkitannya. Meskipun dalam kenyataannya teori-teori sosial telah pada awalnya mempenetrasi teori tentang planning di tahun 1970s, ini tidak merubah ide bahwa planning belum memiliki kemampuan untuk membangun teorinya sendiri secara internal. Ini dikarenakan oleh perencanaan sebagai sebuah epiphenomenon dari negara. Ini bukan faktor independan dalam pertumbuhan sebuah kota, dan sehingga bisa memiliki kesadaran dari dirinya sendiri yang melebihi ideologi dalam konteks pemikiran Marxisme. Sebagai kesimpulan paper ini menyarankan bahwa, jika perspektif dari new urban design sangat persuasif, ini memiliki implikasi terhadap pendidikan, praktek dan proses pembangunan pada beragam skala dan operasionalnya. Kata kunci: perancangan kota, teori sosial, logika, ideologi
TRANSFORMASI PEMANFAATAN RUANG KOMUNAL PADA PERMUKIMAN TRADISIONAL BALI DI DESA PEKRAMAN PEDUNGAN Nutrisia Dewi, Ni Made Emmi
e-Jurnal : Ruang-Space (JURNAL LINGKUNGAN BINAAN) Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract Communal spaces of Pedungan Village (Denpasar, Bali) have played important roles within the community. They have acted as places for various communal activities and interactions which over time have grown in type and scale. This takes place in line with level of physical and social development the Pedungan Village has been through. It is written based on a study aiming at how functions of these communal spaces have been transformed, as well as factors behind this transformation. The study achieves its objective by first, analysing the use/s of each communal space by certain groups within its communities and how these uses have changed. Second, it develops typologes of functional transformation experienced by many forms of communal spaces of Pedungan Village. In doing so, it implements qualitative research approaches and a naturalistic research paradigm. It is discovered that communal spaces have been transformed bith in functions and spatial structures. Major factors behind this transformation include systems of belief, customs and traditions, an increasing need for space, economic considerations, and the location of the communal space being studied. This study finds that the most functional transformations have taken place in communal spaces of a balai banjar. Such a trend however, does not happen on communal spaces where religious/ritual activities are performed. This is bcause ritual places are sacred and therefore cannot be amended, both in their uses and structures as is the case of other public spaces. Keywords: communal space, spatial use, spatial transformation  Abstrak Ruang-ruang komunal telah memiliki peran yang penting dalam keseharian di Desa Pekraman Pedungan (Denpasar, Bali). Ruang-ruang ini telah menjadi wadah bagi masyarakat dalam beraktivitas dan berinteraksi, dan fungsi ini telah mengalami perkembangan baik secara tipe maupun skala dari waktu ke waktu. Artikel ini diulis berdasarkan sebuah studi yang bertujuan untuk menstudi bagaimana fungsi ruang-ruang komunal telah ditransformasi beserta faktor-faktor yang melandasinya. Dalam mencapai tujuannya, studi ini menerapkan pendekatan penelitian kualitatif dan paradigma naturalistik. Hasil studi menemukan bahwa ruang-ruang komunal di Desa Pedungan tidak hanya telah mengalami transformasi secara fungsi, namun juga secara struktur keruangan. Faktor utama yang mempengaruhi terjadinya transformasi termasuk sistem kepercayaan, tradisi dan adat istiadat, peningkatan kebutuhan akan ruang, pertimbangan ekonomi, dan lokasi dari site dimana ruang komunal tersebut berada. Lebih lanjut studi ini menemukan bahwa, ruang komunal yang paling banyak mengalami trasnformasi adalah ruang-ruang yang ada di balai banjar. Tetapi berbeda dengan balai banjar, ruang-ruang komunal di tempat-tempat berfungsi religius/ritual mengalami transformasi yang paling sedikit. Ini dikarenakan adanya pandangan akan ruang-ruang yang berada di sebuah tempat ritual bernilai sakral yang tidak bisa dirubah semudah mentransformasi ruang-ruang komunal lainnya.Kata kunci: ruang komunal, pemanfaatan ruang, transformasi ruan
BOOK REVIEW Cuthbert, Alexander R.
e-Jurnal : Ruang-Space (JURNAL LINGKUNGAN BINAAN) Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Author                         : Abidin Kusno Year of publication      : 2010 Title                             : The Appearances of Memory. Mnemonic Practices of Architecture and Urban Form in Indonesia. Publisher                      : Durham and London, Duke University Press, Pages                           : 332 ISBN                            : 978 0 8223 4647 0
PEMANFAATAN LAHAN PRA DAN PASCAREKLAMASI DI PULAU SERANGAN Darmawan, I Gede Surya
Ruang-Space: Jurnal Lingkungan Binaan (Journal of The Built Environment) Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Reclamation of the Serangan Island, south of Bali, a controversial decision, has expanded thephysical size of the Island from 111 to 481 hectares between 1995 and 1998. The project wascarried out by PT. Bali Turtle Island Development (BTID), who also has been the legal owner ofthe reclaimed land since then. In consequence, there are two types of areas existing. The first isthat of the residential area of existing local inhabitants, and second is the reclaimed land of theBTID. This article discusses the pattern of land use changes and factors underlining the spatialchanges taking place on Serangan Island before and in the aftermath of reclamation activity.While land use changes are inevitable, there are several reasons. These include physicaldimensions of the reclaimed and non-reclaimed land, as well as economic; socio-cultural; policyand political factors.
PERUBAHAN PEMANFAATAN LAHAN PELABA PURA DI DESA PEKRAMAN PANJER, KOTA DENPASAR Wisnawa, Kadek
Ruang-Space: Jurnal Lingkungan Binaan (Journal of The Built Environment) Vol 2, No 1 (2015): April 2015
Publisher : Program Studi Studi Magister Arsitektur Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study has two purposes. The first is to find out the importance of tanah pelaba pura(communal land dedicated to a temple) to the the pengemong pura (community members who actas caretakers to the temple). The second is to study how views of pengemong pura towards tanahpelaba pura have shifted which consequently influence the use of communal land. The studyimplements naturalistic research approaches. Tabulation and verification of the data collectedthroughout the study have been presented in maps, matrices and charts. Changes in views on anduses of tanah pelaba pura have been divided into five different time frames: Period I before 1980- this was when the new land administration was introduced by the Indonesian State; Period II of1990 - this was the beginning of the implementation of land consolidation policy; Period III of1995 when tanah pelaba pura was used for communal purposes to build public facilities; PeriodIV of 2003-2005, when there were huge political and economic pressures placed upon the tanahpelaba pura; and Period V of 2010-2012 when the economic value of this communal landdetermines its use rather than socio-cultural concerns.

Page 1 of 15 | Total Record : 144