cover
Filter by Year

Analysis
Aspirator
ASPIRATOR - Journal of Vector-borne Diseases Studies is an open access, peer-reviewed, online journal fully dedicated to publishing quality manuscripts on all aspects of tropical vector-borne diseases, i.e malaria, dengue, lymphatic filariasis, chikungunya, schistosomiasis, leptospirosis.
Articles
120
Articles
Potensi Kemunculan Kembali Malaria Di Wilayah Yang Mempunyai Riwayat Endemis Malaria Kabupaten Pangandaran

Hakim, Lukman ( Loka Litbang P2B2 Ciamis ) , Fuadzy, Hubullah ( Loka Litbang P2B2 Ciamis ) , Ruliansyah, Andri ( Loka Litbang P2B2 Ciamis )

Aspirator : Jurnal Penelitian Penyakit Tular Vektor Vol 10, No 1 (2018)
Publisher : Ministry of Health Republic of Indonesia, NIHRD

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Wilayah Kabupaten Pangandaran mempunyai riwayat malaria tinggi. Meskipun pada saat sekarang jumlah kasusnya sedang menurun, pada suatu waktu akan meningkat kembali karena malaria merupakan re-emerging disease atau penyakit yang bisa muncul kembali sesuai dengan perubahan fenomena alam biasanya dalam periode lima atau sepuluh tahunan, misalnya mengikuti perubahan lingkungan yang berkaitan dengan perkembangan nyamuk Anopheles spp. serta mobilisasi penduduk. Penelitian dilakukan dengan identifikasi pola penyakit dan pola curah hujan, indentifikasi unit pelayanan kesehatan yang dapat menjangkau desa endemis malaria, identifikasi parasit malaria, identifikasi pengetahuan, sikap dan perilaku serta mobilisasi penduduk, identifikasi faktor lingkungan dan entomologi malaria. Semua data terkumpul, dianalisis untuk mengetahui potensi kemunculan kembali (reemerging) malaria menggunakan analisis dynamic system. Penelitian ini dilaksanakan di 4 desa di 4 Kecamatan di Kabupaten Pangandaran, yaitu Desa Pamotan di Kecamatan Kalipucang, Desa Pangandaran di Kecamatan Pangandaran, Desa Cibenda di Kecamatan Parigi, dan di Desa Pangkalan Kecamatan Langkaplancar. Sampel penelitian parasitologi adalah anak berumur <10 tahun di lokasi penelitian, sedangkan sampel KAP adalah orang dewasa di lokasi penelitian. Sampel yang berhasil diperiksa spesimen parasitologinya sebanyak 509 orang, yaitu 117 orang dari Desa Pamotan, 130 orang dari Desa Pangkalan, 147 orang dari Desa Pangandaran Kecamatan  Pangandaran dan 115 orang dari Desa Cibenda Kecamatan Parigi.Sedangkan sampel KAP sebanyak 1.137 orang, yaitu 296 orang dari Desa Pamotan, 280 orang dari Desa Pangkalan, 281 orang dari Desa Pangandaran dan 280 orang dari Desa Cibenda.

Teknik Serangga Mandul Nyamuk Culex quinquefasciatus sebagai Upaya Pengendalian Vektor Filariasis di Kota Pekalongan

Sunaryo, Sunaryo ( Balai Litbang P2B2 Banjarnegara ) , lestari, eva, Ramadhani, Tri ( Balai Litbang P2B2 Banjarnegara )

Aspirator : Jurnal Penelitian Penyakit Tular Vektor Vol 10, No 1 (2018)
Publisher : Ministry of Health Republic of Indonesia, NIHRD

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Filariasis merupakan penyakit yang disebabkan infeksi cacing filarial dan ditularkan melalui gigitan nyamuk betina. Upaya pengendalian filariasis masih terbatas pada pengobatan penderita dan mencegah infeksi sekunder, sedangkan pengendalian terhadap nyamuknya belum optimal.Teknik Serangga Mandul (TSM) merupakan cara pengendalian vektor yang ramah lingkungan, efektif, dan potensial. Desain penelitian adalah quasi eksperimental dengan rancangan pre postest control group design. Lokasi penelitian di Kelurahan Padukuhan Kraton, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan. Teknik Serangga Mandul dilakukan dengan melakukan iradiasi terhadap nyamuk jantan di laboratorium (BATAN) dengan dosis (0 Gy, 60 Gy, 65 Gy, 70 Gy, 75 Gy dan 80 Gy). Nyamuk jantan yang terpapar iradiasi dilakukan pengujian kemandulan, daya tahan hidup, daya saing kawin dan jarak terbang. Nyamuk jantan Culex quinquefasciatus yang berasal dari laboratorium Balai Litbang P2B2 Banjarnegara  pasca  iradiasi dosis 60 Gy,65 Gy,70 Gy,75 Gy dan 80 Gy diperoleh angka sterilitas tinggi yaitu antara 95,35 %-98,53 % yang artinya peluang untuk berkembang biak hanya 1,5-4,5 %. Umur nyamuk pasca iradiasi tanpa dikawinkan rata-rata mencapai 35 hari, daya saing kawin skala laboratorium hampir mendekati normal (0,7-0,8), daya saing kawin skala semi lapangan lebih rendah dibanding nyamuk normal (0,04-0,2), jarak terbang  nyamuk hanya tertangkap  pada radius 100 m. Pemanfaatan radiasi sinar gamma untuk memandulkan Culex quinquefasciatus efektif pada dosis 70 Gy dan bisa dilakukan dengan untuk intervensi pengendalian Culex quinquefasciatus pada lingkup yang terbatas.

Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Masyarakat pada Peningkatan Kasus Malaria di Kabupaten Purworejo Tahun 2015

Trapsilowati, Wiwik ( Balai Besar Peenelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit )

Aspirator : Jurnal Penelitian Penyakit Tular Vektor Vol 10, No 1 (2018)
Publisher : Ministry of Health Republic of Indonesia, NIHRD

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

There has been increased of malaria cases in Purworejo District, especially in Sendangsari Village, Bener District in 2015. The one influence factors of malaria transmission was behavior, it consist of knowledge, attitude and practice domains. The aims this study was described of the knowledge, attitudes and practices of the community and conduct interventions related to survey results. The research method were cross-sectional to collect data of the knowledge, attitudes and practices and one group pretest posttest design to measure the intervention. The number of samples obtained as many as 90 respondents. The results showed that there was a significant relationship between education and knowledge, as well as knowledge with attitude (p < 0.05). While variables relationship of knowledge with practice/action and attitude with practice/action showed an insignificant (p > 0,05). The result of the intervention by direct information showed that knowledge of the respondents between before and after intervention has increased significantly (p < 0,05). Based on these results, it was necessary to encourage local community leaders, both formal and non-formal, for cooperate with the community to protecting themselves and their environment so as not to be potential transmission of malaria.

Penerapan Peraturan Desa Tentang Penemuan dan Pengawasan Pengobatan Kasus Malaria Berbasis Masyarakat

Kesuma, Agung Puja ( Balai Litbang P2B2 Banjarnegara )

Aspirator : Jurnal Penelitian Penyakit Tular Vektor Vol 10, No 1 (2018)
Publisher : Ministry of Health Republic of Indonesia, NIHRD

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

ABSTRACT, Purbalingga is one of  malaria-endemic areas in Central Java. In 2012, government  developed a model of malaria control as Village Regulation for detection and Monitoring  of  Malaria treatment with Community-Based Treatment of Malaria Cases. Research aim is to evaluate the Regulation (Perdes) effectiveness on the incidence of malaria in Tetel. This research is an evaluation study of the policy with qualitative method. The research conducted in Tetel, Pengadegan District, Purbalingga, in March to October 2015. The datas collected by in-depth interviews on community leaders and health care workers, focus group discussion (FGD) on a group of men and women, and  documents review. Datas were analyzed using content analysis. The Regulation socialized through village health forum meetings and other group meetings. Malaria case detection have done by the community  that reported to JMD to immediately take blood preparations. Monitoring of malaria treatment by JMD with follow-up action. Cases of malaria in Tetel tends to decrease even to zero after implementation of the regulation. The implementation of regulation can reduce and control the incidences of malaria in Tetel. Implementation of regulation also can be used as an example for other villages that still have problems with malaria.  

Toksisitas Ekstrak Metanol Daun Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) Terhadap Larva Nyamuk Aedes aegypti Instar III

Adrianto, Hebert ( Universitas Ciputra Surabaya )

Aspirator : Jurnal Penelitian Penyakit Tular Vektor Vol 10, No 1 (2018)
Publisher : Ministry of Health Republic of Indonesia, NIHRD

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penyakit vektor yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dipertimbangkan sebagai masalah kesehatan yang serius di dunia. Penggunaan insektisida kimia untuk mengontrol nyamuk Ae. aegypti dapat menyebabkan resistensi pada populasi nyamuk, masalah kesehatan, dan masalah lingkungan. Ekstrak dari daun jeruk nipis (Citrus aurantifolia) dapat digunakan sebagai alternatif larvasida Ae. aegypti. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui toksisitas ekstrak metanol (CH3OH) daun jeruk nipis (C. aurantifolia) terhadap larva Ae. aegypti dan melihat visualisasi kerusakan yang terjadi pada tubuh larva Ae. aegypti setelah paparan ekstrak 24 jam. Penelitian eksperimen laboratorium dengan enam konsentrasi dan lima kali ulangan. Kematian larva dihitung setelah 24 jam perlakuan. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisa dengan probit. Hasil penelitian menunjukkan (1) ekstrak dapat menyebabkan mortalitas larva dengan LC50 dan LC99 setelah 24 jam adalah 2.197 ppm dan 4.266 ppm. (2) ekstrak dapat menyebabkan kerusakan morfologi tubuh larva Ae. aegypti seperti saluran pencernaan rusak, kepala (cephal) lepas, bulu (setae) lateral hilang, gumpalan ekstrak dalam tubuh, leher panjang, dan tubuh transparan.

UPAYA PENGENDALIAN VEKTOR DEMAM BERDARAH DENGUE DI DAERAH ENDEMIS KOTA BANDUNG (STUDI KASUS PADA KELOMPOK KASUS DAN KONTROL )

Prasetyowaty, Heni ( Loka Litbang P2B2 Ciamis )

Aspirator : Jurnal Penelitian Penyakit Tular Vektor Vol 10, No 1 (2018)
Publisher : Ministry of Health Republic of Indonesia, NIHRD

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Upaya pengendalian vektor  memerlukan peran serta aktif masyarakat yang berkesinambungan sehingga harus didukung dengan pengetahuan yang baik tentang DBD. Tujuan penelitian untuk melihat perbedaan pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap upaya pengendalian vektor DBD pada rumah tangga kelompok kasus dan kontrol (non kasus) di Kota Bandung. Jenis penelitian studi kasus-kontrol yang sesuai dengan perbandingan 1: 2 dengan jumlah sampel kasus DBD 261 dan kontrol sebanyak 522 rumah tangga. Lokasi penelitian di wilayah kerja Puskesmas dengan kasus DBD tinggi, yaitu Dago, Sekejati, Kopo, dan Cipamokolan. Usia responden mengelompok pada rentang 40 – 60 tahun, sedangkan pendidikan terakhir responden adalah tamat SMP dan SMA. Hasil analisa data menunjukkan terdapat perbedaan pengetahuan antara rumah tangga  kasus dan kontrol (p-value 0,015) dan tidak ada beda pada variabel sikap (p-value 0,520). Riwayat pengendalian vektor terdapat perbedaan antara dua kelompok pada upaya PSN aktif (p-value 0,005) dan penggunaan kelambu (0,008). Secara keseluruhan berdasarkan hasil uji Odds Ratio menunjukkan bahwa variabel pengetahuan  (OR 1,410) dan PSN (OR 1,719) memiliki hubungan dengan upaya pengendalian vektor. Sehingga masih perlu ditingkatkan  promosi kesehatan mengenai upaya pengendalian vektor di lingkungan keluarga, pemahaman mengenai penyakit DBD, serta mengoptimalkan program satu rumah satu jumantik.   Kata kunci: pengetahuan, sikap, pengendalian vektor, Kasus-Kontrol, Kota Bandung

Front Metter

astriani, yoke ( Loka Litbangkes pangandaran )

Aspirator : Jurnal Penelitian Penyakit Tular Vektor Vol 10, No 1 (2018)
Publisher : Ministry of Health Republic of Indonesia, NIHRD

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Berbagai Faktor yang Memengaruhi Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kota Bandung

Respati, Titik, Raksanagara, Ardini ( Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran ) , Djuhaeni, Henni ( Universitas Islam Bandung ) , Sofyan, Asep ( Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung ) , Faridah, Lia ( Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran ) , Agustian, Dwi ( Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran ) , Sukandar, Hadyana ( Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjara )

Aspirator : Jurnal Penelitian Penyakit Tular Vektor Vol 9, No 2 (2017)
Publisher : Ministry of Health Republic of Indonesia, NIHRD

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract. Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) reemerged as a significant public health problem, which reflects the difficulty in sustaining DHF control program. Community-based strategy to control Aedes aegypti breeding sites needs to be understood. The objective of this study is to understand contributed factors to DHF based on characteristics, the availability of basic sanitation, knowledge, perception, and attitude towards DHF prevention program. A survey conducted to 2035 households in 12 districts and 16 villages in Kota Bandung in April to June 2015 using stratified random sampling method. A questionnaire was administered to collect information on variables related to economic status, knowledge on DBD, risk perception and practices associated with Aedes aegypti breeding sites, also basic sanitation facilities. The analysis used was correlation and generalized estimating equation (GEE). Results showed that gender, basic sanitation availability, knowledge about dengue in general, knowledge about DHF symptoms, and perception about the disease contribute to dengue cases (p ≤ 0.05). The conclusion of this study is factors contributed to dengue cases were sex, education, basic sanitation, knowledge about dengue in general, knowledge about DHF symptoms and perception about the disease. Program planning should also include factors and the need for the local community.Keywords: knowledge, attitude, risk perception, basic sanitation, dengueAbstrak. Munculnya kembali Demam Berdarah Dengue (DBD) sebagai masalah kesehatan masyarakat yang utama menunjukkan sulitnya mempertahankan kelangsungan program pencegahan dan pemberantasan penyakit ini. Pengetahuan yang memadai mengenai DBD dan metode untuk mencegahnya harus dapat dimengerti oleh masyarakat sebelum mereka mau berpartisipasi aktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian DBD di Kota Bandung. Penelitian ini merupakan survei pada 2035 rumah tangga di 12 kecamatan dan 16 desa di Kota Bandung pada Bulan Mei – Juni 2015 yang dilakukan dengan metode stratified random sampling. Kuesioner dipergunakan untuk mengetahui faktor-faktor karakteristik, pengetahuan mengenai DBD, persepsi risiko dan sikap dalam pemberantasan sarang nyamuk serta fasilitas sanitasi dasar. Analisis data menggunakan analisis korelasi serta Generalized Estimating Equation (GEE). Hasil menunjukkan jenis kelamin, pendidikan, ketersediaan sanitasi, pengetahuan umum mengenai DBD, pengetahuan mengenai gejala DBD, dan persepsi mengenai DBD menjadi faktor yang memberikan pengaruh terhadap kejadian DBD (p<0,005). Simpulan penelitian adalah faktor yang memengaruhi kejadian DBD di Kota Bandung adalah jenis kelamin, pendidikan tinggi, sanitasi, pengetahuan umum mengenai DBD, pengetahuan mengenai gejala DBD dan persepsi mengenai DBD. Perencanaan program sebaiknya mengikut sertakan faktor karakteristik lokal masyarakat.Kata Kunci: DBD, sanitasi dasar, persepsi, pengetahuan, pencegahan

Konfirmasi Anopheles sinensis dan Anopheles vagus sebagai Vektor Malaria di Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan

Budiyanto, Anif ( loka baturaja litbangkes ) , Ambarita, Lasbudi Pertama ( Loka Litbang P2B2 Baturaja ) , Salim, Milana ( Loka Litbang P2B2 Baturaja )

Aspirator : Jurnal Penelitian Penyakit Tular Vektor Vol 9, No 2 (2017)
Publisher : Ministry of Health Republic of Indonesia, NIHRD

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract. Muara Enim Regency is one of endemic malaria area in South Sumatera Province. The number of malaria clinical cases in 2015 is 9.382 cases with positive confirmed by microscopy is 143 cases (Annual parasite incidence = 0,26%o). There were no information or publication confirmed the vector of malaria in this regency. The aims of this study was to confirm species of Anopheles as malaria vector and its biting behavior in Muara Enim Regency. The study carried out two activity that were mosquito collection (indoor and outdoor) starts from 18.00 hours until 06.00 in the morning, and survey of the breeding habitat of pre-adult mosquito. The total of Anopheles mosquitoes collected were 1.443 and 200 mosquitoes were prepared for sporozoit identification by ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay) method. Two species of Anopheles (of four mosquitoes), Anopheles sinensis and An. vagus, were confirmed sporozoit positive. Anopheles sinensis tends to bite outdoors while An. vagus prefer indoors. Both species actively biting at 9 p.m. until 4 a.m.Keywords: Anopheles sinensis, Anopheles vagus, Malaria Vector, Muara Enim RegencyAbstrak. Kabupaten Muara Enim merupakan kabupaten endemis malaria di Provinsi Sumatera Selatan. Angka kasus malaria klinis pada tahun 2015 berjumlah 9.382 penderita dan kasus malaria positif berjumlah 143 penderita (API=0,26 %o). Sampai saat ini belum diketahui spesies nyamuk Anopheles yang menjadi vektor malaria di Kabupaten Muara Enim. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui spesies nyamuk Anopheles yang menjadi vektor malaria di Kabupaten Muara Enim dan bagaimana perilaku menggigitnya. Kegiatan yang dilakukan adalah survei entomologi dengan melakukan penangkapan nyamuk dewasa dari jam 18.00-06.00 WIB dan survei tempat perkembangbiakan nyamuk di lokasi penelitian. Sebanyak 1.443 ekor nyamuk Anopheles spp. berhasil dikoleksi, dan 200 ekor diantaranya diperiksa dengan metode ELISA untuk mengetahui adanya sporozoit. Empat ekor dikonfirmasi mengandung sporozoit yaitu spesies An. sinensis dan An. vagus. Anopheles sinensis lebih suka menggigit di luar rumah sedangkan An. vagus lebih suka menggigit di dalam rumah. Keduanya aktif menggigit pada jam 21.00-04.00 WIB.Kata Kunci: Anopheles sinensis, Anopheles vagus, Vektor malaria, Kabupaten Muara Enim

The Distribution of Culex spp (Diptera: Culicidae) in Selected Endemic Lymphatic Filariasis Villages in Bandung District West Java Indonesia

Astuti, Endang Puji ( Loka Litbang P2B2Ciamis ) , Ipa, Mara ( Loka Litbang P2B2 Ciamis ) , Wahono, Tri ( Loka Litbang P2B2 Ciamis ) , Ruliansyah, Andri ( Loka Litbang P2B2 Ciamis ) , Hakim, Lukman ( Loka Litbang P2B2 Ciamis ) , Dhewantara, Pandji Wibawa ( Loka Litbang P2B2 Ciamis )

Aspirator : Jurnal Penelitian Penyakit Tular Vektor Vol 9, No 2 (2017)
Publisher : Ministry of Health Republic of Indonesia, NIHRD

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak. Data entomologis terkait aspek bionomik dan distribusi nyamuk vektor lymphatic filariasis di Kabupaten Bandung masih sangat sedikit meskipun kabupaten ini sudah mengimplementasikan POPM Filariasis dari tahun 2009. Tujuan penelitian adalah mengindentifikasi spesies nyamuk potensial penular lymphatic filariasis dan habitatnya di wilayah endemis filariasis yaitu Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung. Survei dilaksanakan selama 2 bulan yaitu September – Oktober 2013 di dua desa Kecamatan Majalaya. Kegiatannya adalah pencidukan larva (termasuk plotting habitat, salinitas, temperatur air, pH), penangkapan nyamuk dewasa menggunakan metode human landing (dalam dan luar rumah) serta resting (dinding rumah dan kandang ternak). Hasil penangkapan nyamuk memperoleh enam spesies yang berhasil diidentifikasi. Culex quinquefasciatus dan Cx. tritaeniorhynchus adalah nyamuk yang dominan tertangkap dengan puncak gigitan antara jam 21.00-01.00 WIB. Terdapat lima tempat perkembangbiakan potensial yang teramati disekitar desa tersebut yang terdiri dari kolam ikan yang terbengkalai dan persawahan dengan salinitas 0‰, temperatur air 28,5-29°C, pH 6-7. Meskipun MHD dan MBR vektor filariasis yaitu Cx. quinquefasciatus di wilayah tersebut relatif rendah, penularan masih dapat terjadi karena didukung dengan kondisi lingkungan dan keberadaan nyamuk vektor tersebut di wilayah iniKata kunci: lymphatic filariasis; tempat perkembangbiakan; Cx. quinquefasciatus; kepadatan, BandungAbstract. Bandung district has been implemented mass drug administration (MDA) program since 2009, but little is known about entomological data especially about bionomic aspects and distribution of lymphatic filariasis (LF) mosquito vectors. This study was aimed to identify potential LF mosquito species and its potential breeding sites in two LF endemic villages in Majalaya, Bandung district. The observational study was conducted in September-October 2013. Mosquito larvae were collected by a scoop and adult mosquitos were captured through indoor-outdoor human-landing and resting collection to identify species diversity and density. Six species filariasis mosquito vectors were identified. The primary LF vectors, Culex quinquefasciatus and Cx. tritaeniorhynchus were found as dominant species with peak landing time between 9 p.m. – 1 a.m. Five potential breeding sites was identified near to villages including neglected fish-pool and paddy field with salinity 0‰, water temperature 28.5-29°C, pH 6-7. The Man-Hour Density (MHD) and Man-Biting Rate (MBR) of Cx. quinquefasciatus was relatively low, however, transmission may potentially occur due to their existence and the availability of favorable environmental conditions across the villages.Keywords: lymphatic filariasis; breeding site; Cx. quinquefasciatus; man-biting density, Bandung