cover
Filter by Year
Balaba
Balaba (Berita dan Media Komunikasi Loka Litbang P2B2 Banjarnegara) terbit 2 kali setahun (Juni dan Desember). Merupakan majalah ilmiah populer didistribusikan secara gratis terbatas di lingkungan Kementerian Kesehatan dan lembaga penelitian / perguruan tinggi ternama di wilayah Provinsi Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur.
Articles
207
Articles
Efektivitas Ekstrak Daun Tembakau (Nicotiana tabacum L) dari Semarang, Temanggung, dan Kendal Sebagai Larvasida Aedes aegypti L

Handayani, Sri Wahyuni ( B2P2VRP ) , Prastowo, Dhian ( B2P2VRP ) , Boesri, Hasan ( B2P2VRP ) , Oktsariyanti, Ary ( B2P2VRP ) , Joharina, Arum Sih ( B2P2VRP )

BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA VOL 14, NO 1 JUN (2018)
Publisher : Vector and Animal Borne Disease Control Unit of Banjarnegara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan permasalahan kesehatan di Indonesia. Penyebaran DBD melalui vektor nyamuk. Pengendalian vektor merupakan tahapan penting dalam mencegah DBD. Adanya resistensi insektisida membuat pengendalian vektor terhambat, sehingga diperlukan penelitian inovasi insektisida nabati, salah satunya tembakau (Nicotiana tabacum L). Penelitian bertujuan menguji efektivitas larvasida ekstrak tembakau terhadap larva Aedes aegypti serta menganalisis kandungan nikotin dari tembakau yang dikoleksi dari tiga tempat, yaitu Semarang, Temanggung, dan Kendal; menggunakan desain penelitian eksperimental murni, dan dilaksanakan Maret-Desember 2013. Tembakau diekstraksi dengan etanol lalu diuji pada larva Ae. aegypti instar tiga. Hasil pengujian memperlihatkan ekstrak tembakau Temanggung paling aktif sebagai larvasida diikuti Semarang dan Kendal, sedangkan untuk  mendapatkan respon biologis 90% kematian dari jumlah total sampel larva diperlukan konsentrasi ekstrak tembakau Kendal pada konsentrasi 447ppm, Semarang 241ppm, dan Temanggung 212ppm. Efek larvasida ekstrak tidak berbanding lurus dengan kadar nikotin ekstrak tembakau, yaitu tembakau Semarang (4,69%), Temanggung (3,61%), dan Kendal (1,85%). Kata kunci: ekstrak tembakau, larvasida, LC90, nikotin.   ABSTRACT Dengue fever (DF) is a health problem in Indonesia. The spread of DF occurs through mosquito vectors. Vector control is one of important methods in dengue prevention. However, the occurence of insecticide resistance leads the need of new inovation of botanical insecticide, such tobacco (Nicotiana tabacum L). The research aimed to know larvicidal effectivity of tobacco extracts against Aedes aegypti larvae, and also analyzed nicotine content of tobacco leaves which collected from three sites: Semarang, Temanggung, and Kendal; used  experimental design and carried out on March-December 2013. Tobacco leaves was extracted with etanol then tested to Aedes aegypti larvae three. The results showed that tobacco leaves from Temanggung was the most active as larvicides, then were followed from Semarang and Kendal. The analysis result showed that to reach 90% death from total number of larvae samples (LD90), required tobacco extract of Kendal at concentration 447ppm, Semarang 241ppm, and Temanggung 212ppm. Larvicidal effects of tobacco leaf extract was unproportional to the content of nicotine, namely Semarang (4,69%), Temanggung (3,61%), and Kendal (1,85%). Keywords: tobacco extract, larvacide, LC90, nicotine.

Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Pencegahan Leptospirosis Paska Peningkatan Kasus di Kabupaten Tangerang

Pujiyanti, Aryani ( Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit, Salatiga,Jawa Tengah,Indonesia ) , Negari, Kusumaningtyas Sekar ( Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit, Salatiga,Jawa Tengah,Indonesia ) , Trapsilowati, Wiwik ( Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit, Salatiga,Jawa Tengah,Indonesia )

BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA VOL 14, NO 1 JUN (2018)
Publisher : Vector and Animal Borne Disease Control Unit of Banjarnegara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Upaya pengendalian leptospirosis didasari dari pemahaman masyarakat yang benar tentang penyakit dan cara pencegahannya. Kondisi lingkungan Desa Pagedangan Ilir berisiko untuk penularan leptospirosis. Paska peningkatan kasus leptospirosis  di wilayah tersebut, perlu dilakukan studi pengetahuan dan perilaku kesehatan untuk mengetahui kemampuan masyarakat dalam melakukan upaya pencegahan leptospirosis. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan hubungan pengetahuan dengan perilaku masyarakat dalam pencegahan leptospirosis. Jenis penelitian adalah explanatory research dengan rancangan cross sectional. Pengumpulan data dilakukan di Desa Pagedangan Ilir pada Bulan September-Oktober tahun 2015. Pengambilan sampel menggunakan proportional random sampling di setiap Rukun Warga (RW) dengan mewawancarai sejumlah 100 orang responden. Hasil wawancara menunjukkan sebesar 49% responden memiliki pengetahuan yang rendah dan 80% memiliki perilaku pencegahan leptospirosis yang kurang baik. Sumber informasi tentang leptospirosis lebih banyak diperoleh dari teman/kerabat. Ada hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku pencegahan leptospirosis (p value<0,00). Perilaku keseharian masyarakat untuk mencegah leptospirosis seperti penggunaan alat pelindung diri, penanganan bangkai, dan pengendalian tikus masih kurang baik.   Kata kunci: pengetahuan, perilaku, leptospirosis, Tangerang.   ABSTRACT Control efforts of l leptospirosis were conducted  based on correct understanding of the disease and how to prevent it. Environmental conditions of Desa Pagedangan Ilir categorized as a risk area for leptospirosis transmission. After increasing cases of leptospirosis in the region, it is necessary to study knowledge and health behavior of leptospirosis prevention. The objective of the study was to analyse the relationship between knowledge and community behavior in preventing leptospirosis. The type of research is analytic research with a cross sectional design. Data collection was conducted in Desa Pagedangan Ilir in September-October 2015. Sampling was using proportional random sampling in every RW (Rukun Warga) by interviewing 100 respondents. Results of this study showed that 49% of respondents had low knowledge and 80% had poor leptospirosis prevention behavior. Sources of information about leptospirosis more obtained from friends/relatives. There was a significant relationship between the level of knowledge with leptospirosis prevention behavior (p value <0.00). The daily behavior of people to prevent leptospirosis such as the use of personal protective equipment, handling of carcasses, and rat control were still not good. Keywords: knowledge, behavior, leptospirosis, Tangerang.  

Bionomik Mansonia uniformis dan Mansonia dives sebagai Vektor Filariasis pada Beberapa Wilayah di Kalimantan

Ridha, Muhammad Rasyid

BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA VOL 14, NO 1 JUN (2018)
Publisher : Vector and Animal Borne Disease Control Unit of Banjarnegara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Nyamuk Mansonia tersebar di seluruh dunia dan beberapa spesies berperan sebagai vektor penyakit.  Mansonia uniformis diketahui berperan sebagai vektor Rift Valley Fever (RVF) dan filariasis, sedangkan Ma. dives berperan sebagai vektor filariasis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas menghisap darah, perilaku istirahat, dan kepadatan fluktuasi setiap jam Ma. uniformis dan Ma. dives. Penangkapan nyamuk dilakukan di dalam dan luar rumah dengan metode human landing collection dan resting collection dari pukul 18.00 sampai 06.00. Hasil penelitian menunjukkan aktivitas menghisap darah Ma. uniformis dan Ma. dives di semua daerah penelitian bersifat eksofagik, sedangkan perilaku istirahat Ma. uniformis di Desa Dadahup, Pulau Ku’u dan Bangkal Ulu bersifat indoor resting, sedangkan di Kelurahan Mandomai bersifat outdoor resting. Perilaku istirahat Ma. dives di daerah penelitian lebih banyak yang bersifat indoor resting yaitu Kelurahan Mandomai dan Desa Bangkal Ulu, sedangkan Desa Dadahup bersifat outdoor resting. Fluktuasi puncak aktivitas menghisap darah dan istirahat pada Ma. uniformis di dalam dan luar rumah umumnya pada pukul 19.00-22.00, sedangkan pada Ma. dives pada pukul  23.00-01.00. Perilaku nyamuk pada suatu daerah berbeda, sehingga metode pengendalian juga berbeda. Kata kunci: bionomik, Mansonia uniformis, Mansonia dives, filariasis, Kalimantan   ABSTRACT Mansonia mosquitoes spread across the globe and several species as a vector. Ma. uniformis were known a vectors of Rift Valley Fever (RVF) and filariasis, while Ma. dives is vector of filariasis. This research aims to behavior of Ma. uniformis and Ma. dives in the form habits of blood sucking activity, resting behavior, and fluctuations density in several areas of Borneo. Natural population of Ma. uniformis and Ma. dives were collected by human landing collection and resting collection from 18:00 to 06:00 outdoor and indoor. The results showed bite activities. Ma. uniformis and Ma. dives in all areas of research are exophagic, while the rest conduct Ma. uniformis in the village Dadahup, Pulau Ku’u and Bangkal Ulu is indoor resting, while in Mandomai is outdoor resting. Behavior breaks Ma. dives in the area a lot more research that is indoor resting namely Mandomai and Bangkal Ulu Village, while the Dadahup village is exophilic. Highest fluctuations activity suck blood and rest on Ma. Uniformis in and out the house generally at 19.00-22.00, while at Ma. dives at 23.00-01.00. The behavior of mosquitoes is a difference, so the controlling method is also different. Keywords: bionomic, Mansonia uniformis, Mansonia dives, filariasis, Kalimantan

Keanekaragaman Jenis dan Perilaku Nyamuk pada Daerah Endemis Filariasis di Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan

Juhairiyah, Juhairiyah ( Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu, Kementerian Kesehatan RI ) , Hidayat, Syarif ( Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu, Jl. Loka Litbang Gunung Tinggi Kab.Tanah Bumbu Kalimantan Selatan 666 ) , Hairani, Budi ( Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu, Jl. Loka Litbang Gunung Tinggi Kab.Tanah Bumbu Kalimantan Selatan 666 ) , Fakhrizal, Deni ( Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu, Jl. Loka Litbang Gunung Tinggi Kab.Tanah Bumbu Kalimantan Selatan 666 ) , Setyaningtyas, Dian Eka ( Balai Litbang P2B2 Tanah Bumbu, Jl. Loka Litbang Gunung Tinggi Kab.Tanah Bumbu Kalimantan Selatan 666 )

BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA VOL 14, NO 1 JUN (2018)
Publisher : Vector and Animal Borne Disease Control Unit of Banjarnegara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kabupaten Barito Kuala merupakan salah satu daerah endemis filariasis tipe Brugia malayi dengan 2 spesies nyamuk sebagai vektor yaitu Culex quinquefasciatus dan Mansonia uniformis. Perlu dilakukan penelitian di daerah endemis filariasis di Kabupaten Barito Kuala untuk mengetahui lebih lanjut keanekaragaman jenis nyamuk dan aktivitas nyamuk menghisap darah. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan desain potong lintang, dilakukan di dua desa endemis filariasis. Nyamuk dikumpulkan dengan metode Hand Catches dan Human Landing Collection. Jenis nyamuk yang ditemukan di Desa Antar Raya terdiri atas 12 spesies dari 3 genus. Spesies yang paling mendominasi adalah Cx. tritaeniorhynchus sedangkan di Desa Karya Jadi ditemukan sebanyak 10 spesies nyamuk dari 4 genus dengan spesies yang paling mendominasi yaitu Ma. uniformis. Ditemukannya Ma. Uniformis dan Cx. quinquefasciatus di wilayah penelitian mengindikasi daerah tersebut berisiko terjadi penularan filariasis. Aktivitas nyamuk Ma. uniformis menghisap darah pada sore dan pagi hari, sedangkan Cx. quinquefasciatus bervariasi dan bersifat endofilik dan eksofilik.   Kata kunci:  keanekaragaman, nyamuk, filariasis     ABSTRACT Barito Kuala District is one of filariasis endemic area with two mosquito species known as Brugia malayi vector: Culex quinquefasciatus and Mansonia uniformis. Hence, it was necessary to conduct a study in endemic areas of filariasis in Barito Kuala to explore further about diversity of mosquito species and their biting activity. This was an observational study with cross-sectional design performed in two filariasis endemic villages. Mosquitoes were collected by Hand Catches and Human Landing Collection method. There were 12 mosquitoes species of 3 genus found in Antar Raya Village with Cx. tritaeniorhynchus as the most dominant species, while 10 mosquitoes species of 4 genus found in Karya Jadi Village with Ma. uniformis as dominant species. Mansonia uniformis and Cx. quinquefasciatus which found in this study indicated as risk factor for filariasis transmission. Biting activity of Ma. uniformis increased in the afternoon and the morning, while Cx. quinquefasciatus was vary, both endophilic and exophilic. Keywords: diversity, mosquitoes, filariasis.

Pengendalian Vektor Malaria di Daerah Endemis Kabupaten Purworejo, Indonesia

Setiyaningsih, Riyani, Trapsilowati, Wiwik ( Jl.HASANUDIN NO.123 SALATIGA 50721 ) , Mujiyono, Mujiyono, Lasmiati, Lasmiati

BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA VOL 14, NO 1 JUN (2018)
Publisher : Vector and Animal Borne Disease Control Unit of Banjarnegara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Purworejo merupakan daerah endemis malaria dengan peningkatan kasus tertinggi terjadi pada tahun 2015 sebesar 1411 kasus. Pengendalian yang tepat dapat dilakukan apabila diketahui bionomik vektor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui spesies, perilaku, resistensi dan pengendalian vektor. Metode yang dilakukan adalah koleksi nyamuk, koleksi jentik, survei habitat nyamuk, resistensi nyamuk, dan evaluasi efektivitas pengendalian vektor. Penelitian dilakukan di Desa Sendangsari, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, An. barbirostris menghisap darah di dalam, di luar rumah, dan kandang. Anopheles balabacensis menghisap darah di dalam rumah dan kandang, An. maculatus, An. aconitus, An. kochi, An. Indifinitus, dan An. vagus ditemukan menghisap darah di kandang. Hasil uji resistensi An. maculatus terhadap insektisida permetrin 0,75% adalah resisten. Pengendalian vektor yang dilakukan adalah Indoor Residual Spraying (IRS) dan penggunaan kelambu berinsektisida. Tempat perkembangbiakan positif jentik adalah kobakan di sekitar ladang dan kolam tidak terpakai. Berdasarkan bioassay efektivitas aplikasi IRS terhadap An. maculatus menunjukkan setelah satu bulan aplikasi sudah tidak efektif. Uji efektivitas pemakaian kelambu selama tiga bulan masih efektif membunuh An. maculatus.   Kata kunci: malaria, IRS, kelambu   ABSTRACT Purworejo is the endemic area of ​​malaria with the highest case increase occurring in 2015 amounted to 1411 cases. Appropriate control can be performed effectively based on vector bionomics. The aims of study were to determine species, behavior, resistance, and control methods of malaria vectors. Methods were larva andmosquitoes collection, breeding place of mosquitoes surveys, resistance of mosquito and evaluation of the effectiveness of vector control. The research was conducted in Sendangsari Village, Bener District, Purworejo Regency The result of the research showed that An. barbirostris sucked blood indoor, outdoor, and cage. An. balabacensis sucked blood indoor and cage. An. maculatus, An. aconitus, An. kochi, An. Indifinitus, and An. fagus were found to suck blood in the cage. An. maculatus showed resistance to insecticide permetrin 0,75% Indoor Residual spraying (IRS) and the use of insecticide treated bed nets were the vector control perfomed in the area of study. The breeding place of mosquito were in hole around unused fields and pond. Based on bioassay test, the effectiveness of IRS application for one months were not effectively kill An. maculatus while the use of mosquito nets for three months were still effectively kill An. maculatus. Keywords: malaria, IRS, bednet

Penggunaan Metode Jaring Penghalang (Barrier) sebagai Metode Alternatif Koleksi Nyamuk Anopheles di Lapangan

Shinta, Shinta ( Pusat Upaya Kesehatan Masyarakat Jalan Percetakan Negara 29, Jakarta Pusat 10560 ) , Wigati, Wigati ( Balai Besar Penelitian Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit )

BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA VOL 14, NO 1 JUN (2018)
Publisher : Vector and Animal Borne Disease Control Unit of Banjarnegara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Metode jaring penghalang (barrier) merupakan metode alternatif koleksi nyamuk, meminimalkan kontak kolektor terhadap gigitan nyamuk. Penelitian bertujuan memperkenalkan metode jaring penghalang sebagai metode alternatif koleksi nyamuk di lapangan. Penelitian dilakukan di Kabupaten Pesawaran dan Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung, bulan Januari sampai Juni 2011. Jaring penghalang berukuran 25x2 meter dibentangkan dengan penyangga bambu, dipasang di daerah yang memisahkan habitat perkembangbiakan nyamuk Anopheles dengan pemukiman penduduk. Hasil penangkapan nyamuk di Kabupaten Pesawaran dengan metode jaring penghalang; An. subpictus 72,5 per orang per malam; An. sundaicus, 20,51 per orang per malam; An. barbumbrosus 0,13 per orang per malam. Penggunaan metode umpan orang luar (UOL) di Kabupaten Pesawaran, An. tesselatus 23,75 per orang per malam; An. sundaicus 11,25 per orang per malam. Hasil penangkapan nyamuk di Kabupaten Lampung Selatan dengan metode jaring penghalang, An. sundaicus 1,25 per orang per malam; An. vagus 1 per orang per malam; An. annularis dan An.subpictus 0,25 per orang per malam. Sedangkan dengan metode umpan orang luar (UOL) di Kabupaten Lampung Selatan, An. sundaicus 150,625 per orang per malam bulan Mei, bulan Juni An. tesselatus 54,375 per orang per malam. Kesimpulannya, metode jaring penghalang (barrier) dapat dijadikan metode alternatif dalam memperbanyak koleksi nyamuk istirahat di luar rumah. Kata kunci: jaring penghalang, metode alternatif, koleksi nyamuk Anopheles   ABSTRACT Barrier net was introduced as alternative method for mosquitoes collection to minimize mosquitoes bites to collectors. The aim of study was to introduce barrier net, as alternative method for collecting mosquitoes in field. The study was conducted in Pesawaran and South Lampung Regency, Lampung Province, from January to June 2011. Barrier net was 25x2 meters expanded, and tied by bamboo. Barrier net was installed in area, separated from breeding habitats of Anopheles to communities. The result showed that in Pesawaran Regency, caught by barrier net, An. subpictus 72,5 per person per night; An. sundaicus 20,51 per person per night; An. barbumbrosus 0,13 per person per night. Otherwise, by outdoor human landing collection, An. tesselatus 23,75 per person per night and An. sundaicus 11,25 per person per night. In South Lampung Regency, caught by barrier net, An. sundaicus 1,25  per person per night; An. vagus 1,0 per person per night; An. annularis and An. subpictus 0,25 per person per night, while, by outdoor human landing collection, An. sundaicus 150,625 per person per night on May, whereas, on June, An. tesselatus 54,375 per person per night. The conclusion was, barrier net could be as alternative method for getting  mosquitoes resting collection. Keywords: barrier net, alternative method, Anopheles mosquitoes collection 

Potensi Daya Tolak Ekstrak Daun Marigold (Tagetes erecta L.) terhadap Nyamuk Aedes aegypti

Marini, Marini ( Loka Litbang P2B2 Baturaja ) , Nimah, Tanwirotun ( Loka Litbang P2B2 Baturaja ) , Mahdalena, Vivin ( Loka Litbang P2B2 Baturaja ) , Komariah, Rahayu Hasti ( Loka Litbang P2B2 Baturaja ) , Sitorus, Hotnida ( Loka Litbang P2B2 Baturaja )

BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA VOL 14, NO 1 JUN (2018)
Publisher : Vector and Animal Borne Disease Control Unit of Banjarnegara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Nyamuk Aedes aegypti adalah vektor penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang merupakan masalah kesehatan yang penting di Indonesia. Marigold (T. erecta L.) jenis tanaman yang populer di masyarakat dan banyak digunakan sebagai obat tradisional serta sebagai tanaman pengusir nyamuk. Penelitian ini bertujuan untuk menilai daya proteksi ekstrak etanol daun marigold sebagai repelen terhadap nyamuk Ae. aegypti. Tanaman marigold (T. erecta L.) diperoleh dari kebun petani di Desa Kerinjing Kota Pagaralam, Provinsi Sumatera Selatan. Proses ekstraksi dilakukan di Laboratorium Farmasi dan Laboratorium Genetika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sriwijaya pada bulan Juni 2016 dengan cara maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Uji daya proteksi nyamuk dilakukan di Laboratorium Entomologi Loka Litbang P2B2 Baturaja pada bulan Agustus-Oktober 2016. Repelen dibuat dengan campuran cleansing milk sebagai pengencer dengan konsentrasi 25%, 30%, 35%, 40%, dan 45%. Metode pengujian repelen mengacu pada WHOPES 2009 dengan modifikasi. Hasil uji fitokimia menggunakan metode uji warna terhadap ekstrak daun marigold berhasil mengidentifikasi senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin. Hasil pengujian daya proteksi menunjukkan bahwa losion ekstrak daun marigold tidak efektif sebagai repelen terhadap nyamuk Ae. aegypti dengan daya proteksi diatas 90% hanya bertahan selama dua jam setelah pengolesan, yaitu pada konsentrasi 30%. Kata kunci: ekstrak daun, marigold, repelen, demam berdarah dengue, Aedes aegypti   ABSTRACT Aedes aegypti is vector of Dengue Hemorrhagic fever (DHF) which still considered as important health problem in Indonesia. The marigold (T. erecta L.) is a well-known plant in the community and widely used as traditional medicines and repellent mosquitoes plant. This study aims to assess the repellency effect of ethanol extract of marigold leaves againts Ae. aegypti. The marigold were obtained from the farmers’ garden in Kerinjing Village, Pagaralam, Sumatera Selatan Province. The extraction process was carried out in Pharmaceutical Laboratory and Genetics Laboratory Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Sriwijaya University in June 2016. Maceration process used solvent ethanol 70%. The repellency test was done in Entomology Laboratory of Loka Litbang P2B2 Baturaja in August to October 2016. The repellent was made with mixture of cleansing milk as diluent with concentration of 25%, 30%, 35%, 40%, and 45%. The method of repellent test was referred to WHOPES 2009 with modification. The phytochemical test showed that marigold leaf extract had compound of alkaloid, flavonoid, saponin, and tannin. The repellency test showed that the lotion of marigold leaf extract was ineffective as repellent againts Ae. aegypti with complete  protection above 90% after two hours aplication at concentration 30%. Keywords: leaf  extract, marigold, repellent, dengue hemorrhagic fever, Aedes aegypti

Hubungan Program Penanggulangan Malaria dengan Kasus Malaria di Kabupaten Lahat Tahun 2016

Margarethy, Indah ( Loka Penelitian dan Pengembangan Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Baturaja ) , Yenni, Aprioza ( Loka Penelitian dan Pengembangan Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Baturaja ) , Wurisastuti, Tri ( Loka Penelitian dan Pengembangan Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Baturaja ) , Salim, Milana ( Loka Penelitian dan Pengembangan Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Baturaja ) , Santoso, Santoso ( Loka Penelitian dan Pengembangan Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Baturaja )

BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA VOL 14, NO 1 JUN (2018)
Publisher : Vector and Animal Borne Disease Control Unit of Banjarnegara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Malaria masih menjadi masalah kesehatan di Kabupaten Lahat karena memiliki Annual Parasite Incidence (API) tertinggi di Provinsi Sumatera Selatan yaitu sebesar 2,94‰ pada tahun 2014 dan menurun pada tahun 2015 sebesar 2,57‰. Tingginya angka kesakitan malaria di Kabupaten Lahat sehingga diperlukan penanggulangan malaria secara komprehensif baik secara promotif, preventif, dan kuratif yang akan berdampak pada penurunan angka kesakitan malaria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan program penanggulangan malaria dengan angka kesakitan malaria di Kabupaten Lahat. Desain penelitian ini adalah deskritif analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian ini dilakukan terhadap 31 orang pengelola program malaria di puskesmas di Kabupaten Lahat. Metode yang digunakan adalah wawancara dengan menggunakan kuesioner untuk memperoleh data kuantitatif, serta pengumpulan data sekunder malaria dari Dinas Kesehatan Kabupaten Lahat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase puskesmas yang melakukan upaya promotif yaitu penyuluhan sudah cukup tinggi (93,5%), namun masih belum bermakna secara statistik terhadap stratifikasi wilayah berdasarkan Annual Paracite Insidence (API). Upaya preventif yang banyak dilakukan adalah pembagian kelambu dan yang terendah adalah penyebaran ikan pemakan jentik. Program penanggulangan malaria yang berhubungan dengan angka kesakitan berdasarkan angka API di Kabupaten Lahat adalah kegiatan pembagian obat Artemisinin-base Combination Treatment (ACT) pada penderita positif malaria (p value = 0,008).   Kata kunci: program penanggulangan malaria, annual parasite incidine, artemisinin-base combination treatment, Lahat ABSTRACT Malaria is still a health problem in Lahat Regency because it has the highest Annual Parasite Incidence (API) in South Sumatera Province which is 2.94‰ in 2014 and decreased to 2.57‰ in 2015. The high rate of malaria morbidity occured in Lahat Regency so it is important to conduct comprehensive malaria prevention by promotive, preventive, and curative to decrease malaria morbidity rate. This study aims to determine the relationship between malaria prevention program with malaria morbidity rate in Lahat Regency. The design of this research was descriptive analytic with cross sectional approach. This research was conducted on 31 malaria program managers at puskesmas in Lahat Regency. The method used was interview using questionnaires to obtain quantitative data, while secondary malaria data was obtained from Lahat District Health Office. The results showed that the percentage of puskesmas that conducted promotive efforts by counseling was quite high (93,5%), but still not statistically significant to the stratification of area based on API-rate. The most prevalent preventive measures was the distribution of nets and the lowest was the spread of larvivorous fish. Malaria prevention programs which had significant impactto morbidity based on API-rate in Lahat was the distribution of Artemisinin-base Combination Treatment (ACT) given to people with malaria positive (p value = 0,008). Keywords: malaria control program, annual parasite incidence, artemisinin-base combination treatment, Lahat 

Aspek Kekinian tentang Penelitian Demam Berdarah Dengue di Pulau Jawa dan Sekitarnya

Ikawati, Bina ( Environmental Health, Animal Borne Disease Control Unit Banjarnegara, National Institute of Health Research and Development, Ministry of Health of Republic of Indonesia, Indonesia )

BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA VOL 14, NO 1 JUN (2018)
Publisher : Vector and Animal Borne Disease Control Unit of Banjarnegara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Incidence Rate/IR DBD di Indonesia pada tahun 2015 sampai 2017 menurun 44,43%, meskipun tahun 2016 terjadi peningkatan 53,61% dari rerata kejadian DBD tahun 2015 (IR DBD per 100.000 penduduk tahun 2015 sampai 2017 adalah 50,75; 77,96; 22,55). Lima subsistem yang berkaitan dengan penularan DBD yaitu manusia, virus dengue, nyamuk Aedes, lingkungan fisik, dan biologis. Penelitian tentang kelima subsistem dan berbagai upaya pengendalian telah dilakukan di Indonesia. Tulisan ini merupakan literature review yang membahas hal tersebut. Wilayah pencarian pada situs ejournal.litbang.kemkes.go.id, portalgaruda.org, e-resources.perpusnas.go.id, www.hindawi.com, www.researchgate.net, dan who.int dengan kata kunci Aedes aegypti dan Demam Berdarah Dengue. Beberapa penelitian menunjukkan hasil yang berbeda tergantung kondisi lokasi (iklim, ketinggian tempat, kondisi ekologi). Perilaku manusia terkait penggunaan obat anti nyamuk, virus dengue yang ditemukan di alam, Aedes sebagai vektor (tempat perkembangbiakan potensial, transovari, resistensi vektor terhadap insektisida), serta kondisi iklim (suhu dan kelembaban) yang mendukung turut berkontribusi terhadap kejadian DBD. Pengendalian vektor merupakan upaya penanggulangan DBD yang efektif. Penggunaan Bacillus thuringensis, Romanomermis iyengari dan Wolbachia, pembuatan repelen dan larvasida dari berbagai tanaman, peningkatan perilaku masyarakat terkait PSN, serta aplikasi teknik serangga mandul dikembangkan dari berbagai penelitian. Hasil-hasil penelitian tersebut dapat diadopsi sebagai alternatif untuk mengendalikan vektor dan dilaksanakan secara terpadu berdasarkan konteks lokal spesifik. Kata kunci: Aedes aegypti, demam berdarah, Indonesia, penelitian   ABSTRACT Incidence Rate/IR DHF in Indonesia 2015 to 2017 decreased 44.43%, although in 2016 there was an increase of 53.61% from incidence in 2015 (DHF IR per 100,000 population in 2015 until 2017 was 50,75;77,96; 22.55). Five subsystems related to DHF transmission are human, dengue virus, Aedes mosquito, physical and biological environment. Research on these five subsystems and various control efforts has been done in Indonesia. Literature review was used to discuss it in this article. Search area on the site ejournal.litbang.kemkes.go.id, portalgaruda.org, e-resources.perpusnas.go.id, www.researchgate.net, www.hindawi.com and who.int with keywords Aedes aegypti, Dengue Haemorhagic Fever. Several studies showed different results depending on the study site conditions (climatic,altitude,ecological conditions). Human behavior associated with the use of anti-mosquito, dengue virus, Aedes as a vector (potential breeding places, transovary phenomena, insecticide vector resistance), and climate conditions (temperature and humidity) that contribute to the incidence of DHF. Vector control is the most effective measure in DHF control program. The use of Bacillus thuringensis, Romanomermis iyengari, and Wolbachia, the manufactured repellents and larvasides from various plants, the improvement of eradication of mosquito breeding sites related community behavior, and the application of sterile insect techniques have been developed from various studies. The results of such research can be adopted as alternative to control vectors and implemented in integrated manner based on the specific local context. Keywords: Aedes aegypti, dengue fever, Indonesia, research

Back Matter, Vol 14, No.1 Juni 2018

Editor, Editor

BALABA: JURNAL LITBANG PENGENDALIAN PENYAKIT BERSUMBER BINATANG BANJARNEGARA VOL 14, NO 1 JUN (2018)
Publisher : Vector and Animal Borne Disease Control Unit of Banjarnegara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract