Majalah Kedokteran Bandung
ISSN : -     EISSN : -
Articles 648 Documents
Hubungan Antara Indeks Massa Tubuh dengan Jumlah CD4 pada Penderita HIV yang Mendapat Pengobatan ARV

Miftahrachman, -, Wicaksana, Rudi

Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 4 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Efek merugikan obesitas pada populasi umum dalam hubungannya dengan mortalitas dan morbiditas untuk terjadi penyakit kardiovaskular telah diketahui dengan baik, namun pada penderita HIV hubungan berat badan dengan morbiditas dan mortalitas penyakit tersebut masih perlu dikaji lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan mencari hubungan antara IMT dan CD4. Uji potong lintang dengan pendekatan deskriptif analitik dari data sekunder rekam medik penderita HIV yang berobat ke poliklinik Teratai RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada tahun 2007–2011. Variabel yang diteliti adalah IMT dan jumlah CD4 (p=0,0001) dengan uji korelasi Spearman dan uji Kruskal Wallis. Dari 936 penderita HIV rata-rata IMT 19,4 dan jumlah CD4 rata-rata 151 sel/mm3 . Terdapat hubungan positif antara IMT dengan nilai CD4, dengan kekuatan hubungan kategori sedang (r=0,409). Dengan mengkategorikan IMT, didapatkan perbedaan rata-rata CD4 antara keempat kategori IMT tersebut (p=0,0001), nilai CD4 rata-rata dan rentangnya dari yang terendah sampai yang tertinggi berturut-turut: underweight: 75 (1–1.329), normoweight: 229 (4–1.047), overweight: 259 (2–1.275), obese: 447 (71–654). Peningkatan IMT berhubungan dengan peningkatan jumlah CD4, menggambarkan penurunan morbiditas, mortalitas serta risiko progresivitas HIV. [MKB. 2015;47(4):237–41] Kata kunci: CD4, HIV, indeks massa tubuh (IMT)Correlation between Body Mass Index and CD4 Level in HIV Patients with Antiretroviral TherapyThe adverse consequence of overweight and obese condition in major population related to it’s mortality and morbidity of specific diseases like coronary heart disease has been well known. However, in immunocompromised patients, in the context of body weight with it’s morbidity and mortality needs further examination. The objective of this research was to find out the relationship between BMI and CD4 level, which describes disease progressivity from HIV patients whom already had antiretroviral (ARV) therapy. We conducted cross sectional method with descriptive analytic from secondary data of medical records from HIV patients who came to Teratai Polyclinic of Hasan Sadikin General Hospital Bandung from 2007 to 2011. From 936 HIV patients analyzed, median BMI was 19,4 with range between 12.1–36.2 kg/m2, median CD4 was 151 cells/mm3 with range between 1–1,329. The r value was 0.409, suggested positive correlation significance between BMI and CD4 value, CD4 value increased parallel with the increasing of BMI, with intermediate p value (p=0.0001). Since we categorized BMI, the median of CD4 between all categories (p=0.0001), range from the smallest to the highest was underweight:75 (1–1,329), normoweight: 229 (4–1,047), overweight: 259 (2–1,275), obese: 447 (71–654) cells/mm3, respectively. As conclusion, increasing of BMI related to enhancement of CD4 level, suggests reduction of HIV morbidity and mortality. [MKB. 2015;47(4):237–41]Key words: Body mass index (BMI), CD4, HIV DOI: 10.15395/mkb.v47n4.623

Perbandingan Angka Kejadian Batuk Pascabronkoskopi pada Kelompok Premedikasi Kombinasi Kodein 10 mg dan Klorfeniramin Maleat 4 mg dengan Premedikasi Tunggal Kodein 10 mg

Saputra, Maulidar, Zulfariansyah, Ardi, Rismawan, Budiana

Majalah Kedokteran Bandung Vol 50, No 4 (2018)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.15395/mkb.v50n4.1512

Abstract

Bronkoskopi merupakan tindakan esensial dalam penegakan diagnosis maupun terapetik pada saluran pernapasan. Beberapa penelitian menunjukkan kejadian batuk yang tinggi baik selama tindakan maupun setelah bronkoskopi. Saat ini belum ada konsensus tentang pemberian premedikasi yang optimal mengurangi kejadian batuk pada pasien yang menjalani bronkoskopi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan efektivitas pemberian premedikasi kodein dengan kombinasi kodein-klorfeniramin maleat (CTM) dalam mengurangi batuk setelah bronkoskopi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan secara prospektif terhadap 52 subjek penelitian yang menjalani bronkoskopi di Rumah Sakit Paru Rotinsulu pada bulan Desember 2017–Februari 2018. Pada penelitian ini data numerik diuji dengan uji t tidak berpasangan, untuk data kategorik diuji dengan uji chi-square. Hasil penelitian ini didapatkan angka kejadian batuk pascabronkoskopi pada kelompok pasien yang diberikan premedikasi dengan kombinasi kodein 10 mg dan CTM 4 mg lebih rendah dibanding dengan kelompok yang diberikan premedikasi tunggal dengan kodein 10 mg pada semua pengukuran dengan perbedaan bermakna (p<0,05). Simpulan penelitian ini adalah pemberian premedikasi dengan kombinasi kodein 10 mg dan CTM 4 mg lebih efektif menurunkan kejadian batuk pascabronkoskopi dibanding dengan premedikasi tunggal Kodein 10 mg.Kata kunci: Batuk pascabronkoskopi, premedikasi kodein, premedikasi kodein-CTM Comparison of Postbronchoscopic Cough Incidence betweeb Patients Premedicated with 10 mg Codeine  and 4 mg Chlorpheniramine Maleate Combination and premedicated with 10 mg Codeine OnlyBronchoscopy is an essential airway procedure for diagnostic and therapeutic purposes that could cause discomfort and complications. Some studies have shown that cough complaint is often made during and after the procedure. There is no consensus that explains how to optimally premedicate a patient to reduce cough. The objective of this study was to understand the difference in the effectiveness of codeine and codeine and chlorpheniramine maleat (CTM) combination as a premedication to prevent coughing after bronchoscopy. This was a double blind, prospective experimental study in Rotinsulu Pulmonary Hospital from December 2017 to February 2018. Fifty two patients who were undergoing bronchoscopy under general anesthesia were randomly allocated to codeine group (n=26) and  Codeine-CTM Group (n=26). It was showed that the incidence of cough after bronchoscopy in the group using combination of 10 mg Codeine and 4 mg CTM premedication was lower than in the group with 10 mg Codeine premedication in all measurements. Therefore, premedication using 10 mg codeine and 4 mg CTM combination is more effective to reduce the incidence of cough after bronchoscopy when compared to the single premedication with codeine 10 mg.Key words: Postbronchoscopic cough, premedication with codeine, premedication with codeine-CTM

Ekspresi Protein B-RAF Mutan pada Karsinoma Tiroid Papilifer yang Bermetastasis ke Kelenjar Getah Bening Regional

Achmad, Dimyati, Sebastian, Jeremy, Hernowo, Bethy S., Rizki, Kiki A.

Majalah Kedokteran Bandung Vol 45, No 4 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

AbstrakKarsinoma tiroid papilifer (KTP) dapat tumbuh progresif dan sekitar 33−61% kasus secara klinis telah metastasis ke kelenjar getah bening (KGB) regional pada saat diagnosis ditegakkan. Mutasi gen B-RAF dihubungkan dengan sifat biologis progresivitas KTP. Mutasi gen B-RAF akan mengkode protein B-RAF mutan yang bertindak sebagai regulator sentral pada jalur mytogen activated-pathway kinase (MAPK) dalam proses proliferasi dan dediferensiasi. Mutasi gen B-RAF dapat diidentifikasi pada tingkat deoxyribosenucleic acid (DNA), ribonucleic acid (RNA), dan protein. Masih terdapat kontroversi antara hubungan mutasi B-RAF dan metastasis KGB regional. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan protein B-RAF mutan dengan metastasis ke KGB regional pada KTP. Penelitian ini merupakan penelitian observasional rancangan kuantitatif, studi kasus kontrol berpasangan. Penelitian dilakukan di Subbagian Bedah Onkologi, Kepala dan Leher, Departemen Ilmu Bedah dan Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/ Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Sampel penelitian terdiri atas 38 kasus KTP dengan metastasis dan 38 kasus kontrol tanpa metastasis ke KGB regional yang dirawat di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung pada periode Januari 2003−Desember 2010 dan dipilih berdasarkan proses matching. Masing-masing kelompok diperiksa B-RAF mutan dengan metode imunohistokimia. Hubungan antara tiap variabel bebas dan variabel tergantung diuji menggunakan analisis bivariat Uji McNemar.Hasil penelitian menunjukkan protein B-RAF mutan memiliki hubungan bermakna (p=0,023) dengan metastasis ke KGB regional pada KTP. Terdapat protein B-RAF mutan pada KTP mempunyai risiko untuk metastasis ke KGB regional sebesar 5,92 kali dibandingkan dengan tanpa mutasi B-RAF. Penelitian ini juga menunjukkan prevalensi B-RAF mutan sebesar 65,8% (32 kelompok kasus dan 18 kelompok kontrol). Simpulan, protein B-RAF mutan memiliki hubungan dengan metastasis ke KGB regional pada KTP. [MKB. 2013;45(4):245–50]Kata kunci: Imunohistokimia, karsinoma tiroid papilifer, metastasis ke KGB regional, mutasi B-RAFMutant B-RAF Protein Expression in Regional Lymph Node Metastasized Papillary Thyroid CarcinomaPapillary thyroid carcinoma (PTC) can become progressive and in about 33−61% of cases it has metastasized to regional lymph nodes at diagnosis. Mutation of B-RAF gene correlated with the biological characteristic of lymph node progressivity. Mutation of B-RAF will encode mutant B-RAF protein which acts as the central regulator on mytogen activated-pathway kinase (MAPK) pathway in terms of proliferation and dedifferentiation processes. B-RAF gene mutation can be identified at deoxyribosenucleic acid (DNA), ribonucleic acid (RNA) and protein levels. There are still controversies in corelation between B-RAF mutation and regional lymph node metastasis. The purpose of this study was to discover the correlation between mutant B-RAF protein and regional lymph node metastasis on PTC. This is a quantitative observational paired case-control study. The study was conducted at the Surgical Oncology, Head and Neck Division Departement of Surgery and Pathology Anatomy Departement, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran/Dr. Hasan Sadikin General Hospital Bandung in April 2011–January 2012. The sample consisted of 38 PTC cases with metastasis and 38 control cases without regional lymph node metastasis treated in Dr. Hasan Sadikin Hospital between January 2003–December 2010 which have been selected based on the matching process. Each group was examined using the immunohistochemistry method. Correlation between each dependent and non-dependent variables were tested using McNemar bivariate analysis. The results showed that mutant B-RAF protein have a significant correlation (p=0.023) with lymph node metastasis in PTC. The risk of metastasis in B-RAF mutant group was 5.92 times higher than without mutation. This study also showed that from 76 PTC cases studied, the prevalence of mutant B-RAF was about 65.8% (32 in cases and 18 in control group). In conclusion, there is a correlation between mutant B-RAF protein and regional lymph node metastasis in papillary thyroid carcinoma. [MKB. 2013;45(4):245–50]Key words: B-RAF mutation, immunohystochemistry, papillary thyroid carcinoma, regional lymph node metastasis DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v45n4.200

Perbandingan Latihan Kontinu Intensitas Sedang dan Latihan Interval Intensitas Tinggi terhadap Kontrol Glukosa Darah

Atsari, Nadhila, Susanto, Hermawan, Argarini, Raden

Majalah Kedokteran Bandung Vol 48, No 4 (2016)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.15395/mkb.v48n4.909

Abstract

Pencegahan diabetes melitus tipe 2 (DMT2) dapat dilakukan dengan memperbanyak latihan fisik. Latihan kontinu intensitas sedang (LKIS) dan latihan interval intensitas tinggi (LIIT) diketahui dapat meningkatkan kontrol glukosa pada orang dengan resistensi insulin/DMT2. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan efek LIIT dan LKIS pada orang sehat terhadap kontrol glukosa darah, yaitu glukosa darah puasa (GDP) dan tes toleransi glukosa oral (TTGO). Laki-laki (n=27), usia (20,07±0,62), IMT (23,94±3,59) kg/m2 berpartisipasi dalam kelompok LKIS, LIIT, atau kontrol. Latihan Ergocycle dilakukan 3 sesi/minggu selama 4 minggu; LKIS dengan total durasi 46 menit/sesi (intensitas sedang 50-60% denyut jantung cadangan [HRR] selama 40 menit); LIIT dengan total durasi 24 menit/sesi (6 siklus; 2 menit intensitas tinggi 80–90% HRR + 1 menit intensitas sedang 50–60% HRR). Kontrol tidak mendapat intervensi latihan. GDP dan TTGO (120’ setelah beban glukosa) diperiksa 3 hari sebelum dan setelah program latihan. Hasil penelitian menunjukkan GDP menurun pada semua kelompok, tetapi hanya LKIS yang menunjukkan penurunan signifikan (p=0,048). TTGO ditemukan tidak berubah di semua kelompok (p>0,05). LKIS memiliki potensi untuk meningkatkan kontrol glukosa darah pada subjek dewasa muda. Penelitian lanjutan dengan modifikasi dosis latihan diperlukan untuk mengetahui efek LIIT lebih lanjut. [MKB. 2016;48(4):194–9]Kata kunci: kontrol glukosa darah, latihan interval intensitas tinggi, latihan kontinu intensitas sedangComparison of Moderate Intensity Continuous Training and High Intensity Interval Training on Blood Glucose ControlAbstractType 2 diabetes mellitus (T2DM) can be prevented by intensive physical exercise/training. Moderate intensity continuous training (MICT) and high intensity interval training (HIIT) are known to improve glucose control in people with insulin resistance and T2DM. The purpose of this study was to compare the effects of MICT and HIIT in healthy people on blood glucose levels, which was measured through fasting blood glucose (FBG) and oral glucose tolerance test (OGTT). Healthy men (n=27), aged (20.07 ± 0.62), BMI (23.94 ± 3.59) kg/m2 participated in either MICT, HIIT, or Control group (n=9 each group). Ergocycle exercise were performed 3 times/week for 4 weeks; MICT with a total duration of 46 minutes/session (moderate intensity 50-60% heart rate reserve [HRR]) for 40 minutes); HIIT with a total duration of 24 minutes/session (6 cycles; 2 mins high intensity 80-90% HRR + 1 min moderate intensity 50-60% HRR). Controls did not receive any programmed training. FBG and OGTT (120’ after glucose load) were checked 3 days before and after the exercise program. This study found that FBG decreased in all groups but only the MICT group showed a significant reduction (p=0.048). OGTT was found unaltered in all groups (p>0.05). MICT has the potential to improve blood glucose control in healthy young adult subjects. However, further research with exercise dose modification is required to elucidate the effects of HIIT. [MKB. 2016;48(4):194–9]Key words: Blood glucose control, high intensity interval training, moderate intensity continuous training

Aktivitas Antimikrob Fraksi Ekstrak Etanol Buah Pinang (Areca catechu L) pada Bakteri Methicillin Resistant Staphylococcus aureus

Nursidika, Perdina, Saptarini, Opstaria, Rafiqua, Nurul

Majalah Kedokteran Bandung Vol 46, No 2 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Infeksi merupakan penyakit penyebab kematian di Indonesia. Salah satu penyebab perkembangan penyakit infeksi di Indonesia adalah resistensi bakteri terhadap antibiotik standar. Methicillin resistant Staphylococcus aureus (MRSA) merupakan penyebab utama infeksi nosokomial dan komunitas.Telah dilakukan uji aktivitas antimikrob fraksi dari ekstrak etanol buah pinang (Areca catechu L) pada bakteri MRSA. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi Stikes Jenderal Achmad Yani Cimahi, Laboratorium Farmakologi Institut Teknologi Bandung, dan Laboratorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Bandung pada Mei–Juni 2011. Aktivitas antimikrobekstrak dan fraksi diuji menggunakan metode broth microdilution, bioautografi, dan scanning electron microscope (SEM). Hasil pengujian menunjukkan bahwa fraksi yang paling efektif ialah fraksi air dengan minimum inhibitory concentration (MIC) 256 µg/mL. Hasil bioautografi menunjukkan bercak kromatogram kromatografi lapis tipis (KLT) yang memberikan hambatan terhadap bakteri uji adalah bercak dengan Rf 0,6. Bercak ini diduga merupakan senyawa fenolat karena memberikan hasil positif dengan penyemprotan FeCl3. Hasil SEM menunjukkan bakteri uji yang telah dipapar dengan tanaman uji diduga mengalami kerusakan pada membran atau bagian yang lebih dalam, sehingga sel bakteri menciut dan bergelembung hingga rusak.Simpulan, ekstrak etanol buah pinang dapat menghambat pertumbuhan bakteri MRSA. [MKB. 2014;46(2):94–9]Kata kunci: Aktivitas antimikrob, Areca catechu, microdilution, MRSA, SEM Antimicrobial Activity of Betel Nut Ethanolic Extract Fractions in Methicillin Resistant Staphylococcus aureusInfection is the major cause of death in Indonesia. Antibiotic resistant is responsible for this progression. Methicillin resistant Staphylococcus aureus (MRSA) is known as the main cause of nosocomial and community infections.The antimicrobial activity of ethanolic extract fractions of betel nut (Areca catechu L) was studied on MRSA. The research was performed at the Microbiology Laboratory, School of Health Sciences, Jenderal Achmad Yani University, Cimahi, the Pharmacology Laboratory of Bandung Institute of Technology, and Research and Development of Ocean Geology Laboratory in May–June 2011.The antimicrobial activities of the extract and fraction were tested by microdilution broth method, bioautography and scanning electron microscope (SEM). The most effective result showed by water fraction with minimum inhibitory concentration (MIC) was 256 µg/mL. Bioautography result showed a spot on thin layer chromatography (TLC) chromatogramof water fraction which inhibited the bacterial growth, which was the spot with Rf 0.6. The spot was suggested as a phenolic substance due to positive result to FeCl3. The electron microscope image showed the breakdown of membrane cell/inner site of bacteria which was exposed by betel nut extract and fractions in which the bacteria was shrinked, bubbled and broken.In conclusion, betel nut ethanolic extract has the ability to inhibit MRSA. [MKB. 2014;46(2):94–9]Key words: Antimicrobial activity, Areca catechu, microdillution, MRSA,SEM DOI: 10.15395/mkb.v46n2.280

Perbedaan Intensitas Penyengatan Meningeal Hasil MRI antara Sekuens T2 FLAIR Post Contrast dan T1WI Post Contrast Gadolinium-DTPA dalam Mendeteksi Penyangatan Meningeal pada Kasus Meningitis Tuberkulosis

Hendarin, Arie, Soetikno, Rista D., Nugraha, Harry Galuh

Majalah Kedokteran Bandung Vol 49, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.15395/mkb.v49n3.1117

Abstract

Diagnosis meningitis TB terutama pada kasus possible dan probable sulit ditegakkan. Pemeriksaan MRI kepala dengan kontras Gadolinium-DTPA adalah modalitas radiologi yang paling sensitif untuk membantu mendiagnosis penyakit ini. Penyangatan meningeal di daerah basal merupakan gambaran MRI yang paling banyak ditemukan pada meningitis TB. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan peningkatan intensitas sinyal meningen sekuens T2-FLAIR dengan T1WI pada pasien meningitis tuberkulosis menggunakan pemeriksaan MRI kepala dengan kontras Gadolinium-DTPA di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Januari 2015–Juni 2016. Subjek penelitian sebanyak 21 orang dengan meningitis TB dilakukan pemeriksaan MRI kepala dengan kontras Gadolinium-DTPA. Analisis statistik komparatif dilakukan untuk menguji perbedaan peningkatan intensitas sinyal meningen sekuens T2-FLAIR post contrast dengan T1WI post contrast. Hasil penelitian menujukkan rerata peningkatan intensitas sinyal meningen sekuen T2-FLAIR (∆T2-FLAIR) sebesar 360,59±182,19 aμ sedangkan T1WI (∆T1WI) sebesar 126,47±72,57 aμ. Hasil uji statistik menggunakan uji T pada derajat kepercayaan 95% menunjukkan perbedaan yang bermakna ∆T2-FLAIR dengan ∆T1WI pada nilai p=0,000. Sebagai simpulan didapatkan peningkatan intensitas sinyal meningen sekuens T2-FLAIR post contrast lebih besar daripada T1WI post contrast pada kasus meningitis TB.  [MKB. 2017;49(3):172–78]Kata kunci: Meningitis tuberkulosis, MRI sekuens T1WI dan T2-FLAIR, penyangatan meningealDifference between Gadolinium-DTPA Enhanced T2 FLAIR Sequence and T1WI Sequence MRI in Detecting Meningeal Enhancement in Tuberculous MeningitisThe diagnosis of TB meningitis, especially in possible and probable cases, is difficult. Contrast-enhanced MRI of the head with Gadolinium-DTPA is the most sensitive imaging modality that supports diagnosis of this disease. The most common presentation of TB meningitis in MRI is basal meningeal enhancement. The objective of this study was to determine the difference in the increase of T2-FLAIR and T1WI sequence meningeal signal intensity of in patients with tuberculous meningitis using contrast-enhanced MRI of the head with Gadolinium-DTPA in Dr. Hasan Sadikin General Hospital from January 2015–June 2016. Contrast enhanced MRI examination was conducted in 21 subjects with TB meningitis. Statistical analysis was performed to examine the difference in the increase in meningeal signal intensity of post contrast T2-FLAIR and post contrast T1WI. The result showed that the mean increases in meningeal signal intensity of T2-FLAIR (ΔT2-FLAIR) and T1WI (ΔT1WI) were  360.59±182.19 au and 126.47±72.57 aμ respectively. Statistical test results using T test at 95% confidence level indicated that there was a difference between ΔT2-FLAIR and ΔT1WI at p-value=0.000. In conclusion, the mean increase in meningeal signal intensity of post contrast T2-FLAIR is greater than in the post contrast T1WI in TB meningitis. [MKB. 2017;49(3):172–78]Key words: Meningeal enhancement, T1WI and T2-FLAIR sequence MRI, tuberculous meningitis

Kandungan Total Polifenol dan Aktivitas Antioksidan dari Ekstrak Metanol Akar Imperata cylindrica (L) Beauv. (Alang-alang)

Dhianawaty, Diah, Ruslin, -

Majalah Kedokteran Bandung Vol 47, No 1 (2015)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Hipertensi disebabkan oleh banyak faktor, di antaranya aktivitas enzim konversi angiotensin, angiotensin-converting enzyme (ACE), dan reactive oxygen species (ROS). Ekstrak metanol akar Imperata cylindrica (alang-alang) terbukti mempunyai aktivitas antihipertensi. Studi menunjukkan berbagai terapi antioksidan dapat menurunkan tekanan darah. Senyawa polifenol dari tumbuh-tumbuhan mempunyai banyak manfaat, di antaranya sebagai antioksidan, oleh karena itu dilakukan studi ekperimental untuk mengukur kandungan polifenol total menggunakan metode spektrofotometri sinar tampak pereaksi Folin-Ciocalteu, dan uji aktivitas antioksidan dengan metode 1,1-difenil-2-pikrilhidrazil (DPPH). Penelitian dilakukan periode Juli sampai Desember 2014. Hasilnya, ekstrak mempunyai kandungan total polifenol sebesar 1,53% ekivalen asam galat (EAG) dan aktivitas antioksidan IC50  sebesar 0,32 mg/mL. Senyawa fenol mempunyai kemampuan mendonorkan atom hidrogen pada radikal bebas DPPH yang menyebabkan DPPH tereduksi dan ditandai dengan perubahan warna DPPH dari ungu menjadi kuning. Dengan demikian, aktivitas antioksidan ekstrak metanol akar Imperata cylindrica didukung oleh senyawa polifenol. Simpulan, ekstrak mempunyai kandungan polifenol total 1,53% (EAG) dan aktivitas antioksidan IC50 0,32 mg/mL. Senyawa polifenol mendukung aktivitas antioksidan ekstrak. [MKB. 2015;47(1):60–4]Kata kunci: Aktivitas antioksidan, Imperata cylindrica, kandungan polifenol totalTotal Polyphenol Content and Antioxidant Activity of Methanol Extract of Imperata cylindrica (L) Beauv. (Alang-alang) RootHypertension is caused by many factors, including by the activity of angiotensin converting enzyme (ACE), reactive oxygen species (ROS). Methanol extract of Imperata cylindrica (alang-alang) root has been proven as having anti-hypertensive activities. Study shows various antioxidant therapies can decrease blood pressure. Polyphenol compounds of plants have many benefits, including as an antioxidant. Therefore, an experimental study was performed to measure the total polyphenol content using visible spectrophotometry method-Folin-Ciocalteu reagent as well as to test the antioxidant activity using 1,1-diphenyl-method 2-pikrilhidrazil (DPPH) from July to December 2014. The results showed that the extract had a total polyphenol content of 1.53% galad acid aquevalent (GAE) and antioxidant activity IC50 0.32 mg/mL. The polyphenol compounds have the ability to donate hydrogen atom to DPPH free radical, which leads to reduced DPPHmarked by the color change of DPPH from purple to yellow. Thus, antioxidant activity of methanol extract of Imperata cylindrica root was supported by the presence of polyphenol compounds. In conclusion, the extract has a total polyphenol content of 1.53% (GAE) and antioxidant activity IC50 0.32 of 0.32 mg/mL. The presence of polyphenol compounds supports the antioxidant activity of the extract. [MKB. 2015;47(1):60–4]Key words: Antioxidant activity, Imperata cylindrica, total polyphenol content DOI: 10.15395/mkb.v47n1.398   

Eksplorasi Dosis Efektif Ekstrak Etanol Daun Kipahit sebagai Antipiretik Alami

Agustin, Firda, Andriyanto, Andriyanto, Manalu, Wasmen

Majalah Kedokteran Bandung Vol 49, No 3 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | | DOI: 10.15395/mkb.v49n3.1124

Abstract

Tanaman kipahit merupakan salah satu tanaman yang berpotensi sebagai sediaan alami antipiretik. Penelitian bertujuan mengetahui dosis efektif ekstrak etanol daun kipahit (Tithonia diversifolia) sebagai antipiretik. Sebanyak 24 ekor tikus putih jantan galur Sprague–dawley dengan bobot badan 150–200 g dibagi menjadi 6 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan tersebut ialah tikus percobaan tidak diinduksi demam dan tanpa pemberian sediaan antipiretik (kontrol 0), tikus percobaan diinduksi demam tanpa mendapatkan sediaan antipiretik (kontrol –), tikus percobaan diinduksi demam dan diberi sediaan ekstrak etanol daun kipahit (EEDK) dosis 100 mg/kg BB (perlakuan 1), 200 mg/kg BB (perlakuan 2), 300 mg/kg BB (perlakuan 3), dan 400 mg/kg BB (perlakuan 4). Induksi demam dilakukan dengan menyuntikkan vaksin DTP–HB–Hib dosis 0.2 mL/200 g BB IM. Pemberian EEDK dilakukan secara per oral pada 90 menit pascainduksi demam. Pengamatan dilakukan dengan mengukur suhu rektal tikus menggunakan termometer digital (tingkat ketelitian 0,1ºC) pada menit ke–0 (sebelum injeksi DTP–HB–Hib atau suhu normal), 90, 120, 150, dan 180 pascainduksi demam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian EEDK mampu menurunkan suhu rektal tikus dibanding dengan kontrol negatif. Pemberian EEDK terbaik dalam menurunkan suhu rektal tikus percobaan terdapat pada dosis 100 dan 200 mg/kg BB. Simpulan, penelitian ini  menunjukkan bahwa daun kipahit memiliki aktivitas antipiretik. [MKB. 2017;49(3):139–44]Kata kunci: Daun, demam, ekstrak etanol, kipahit Exploration of Kipahit Leaf Ethanol Extracts as Natural AntipyreticsKipahit plant is one of the plants that have the potential to be used as natural antipyretics. This study was conducted to explore  the effective doses of ethanol extract of kipahit leaf (Tithonia diversifolia) as an antipyretics. Twenty four male sprague–dawley white rats weighed150–200 g were divided into 6 groups and replicated 4 times. The experiment included  experimental rats without fever induction and without administration of antipyretic substance (control 0), experimental rats with induced fever without administration of antipyretic substance (negative control), experimental rats with induced fever and  ethanol extract of kipahit leaf (EEDK) with various doses: 100 mg/kg BW (treatment 1), 200 mg/kg BW (treatment 2), 300 mg/kg BW (treatment 3), and 400 mg/kg BW (treatment 4). Fever was induced by injecting DTP–HB–Hib vaccines intramuscularly at a dose of 0.2 mL/200 g BW. Administration of EEDK was conducted orally at 90 minutes pos-injection of DPT–HB–Hib vaccines. The antipyretic effects of EEDK were observed by measuring rectal temperature by using digital thermometer (correction factor 0.1ºC) in 0 minute (before the injection of DTP–HB–Hib or normal temperature), 90, 120, 150, and 180 minutes post–fever induction. The result showed that the administration of EEDK decreased rectal temperature as compared to negative control. The optimum doses of EEDK administration that decreased rectal temperature were 100 and 200 mg/kg BW. It is concluded that the EEDK has an effect. [MKB. 2017;49(3):139–44]Key words: Ethanol extract, fever, kipahit, leaf