Majalah Kedokteran Bandung
ISSN : -     EISSN : -
Articles 648 Documents
Radiasi Eksternal Karsinoma Nasofaring sebagai Penyebab Gangguan Dengar Sensorineural

Haryanto, Rakhmat ( Bagian Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Bedah Kepala dan Leher Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung ) , Saefuddin, Ongka M. ( Bagian Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Bedah Kepala dan Leher Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung ) , Boesoirie, Thaufiq S. ( Bagian Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Bedah Kepala dan Leher Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 3 (2010)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Radiasi berperan penting pada pengobatan kanker kepala leher karena reseksi bedah sering tidak memungkinkan, tetapi menimbulkan efek samping gangguan dengar sensorineural. Penelitian observasional rancangan longitudinal ini untuk mengetahui pengaruh radiasi terhadap gangguan dengar sensorineural penderita karsinoma nasofaring di Bagian THT-KL Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung periode Februari–Agustus 2006. Didapatkan 28 laki-laki dan 7 perempuan, yang satu atau kedua telinganya tidak terganggu pendengaran sensorineural, usia 12–72 tahun, dan memenuhi kriteria inklusi. Seluruh penderita mendapat radiasi dan pemeriksaan audiometri serta timpanometri sebelum, durante 2.000 cGy, 6.600 cGy, dan satu bulan pascaradiasi. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji Chi-kuadrat, Mc-Nemar, dan eksak Fisher. Hasil penelitian menunjukkan kejadian gangguan dengar sensorineural durante 2.000 cGy adalah 7 kasus (10%), 6.600 cGy 22 kasus (31,4%), dan pascaradiasi 24 kasus (34,3%). Hubungan antara durante 6.600 cGy dan 2.000 cGy pada kelompok preradiasi normal sangat bermakna (p=0,001), sedangkan antara pascaradiasi dan durante 6.600 cGy tidak bermakna (p= 0,5). Pada usia >30 tahun gangguan dengar sensorineural 37,0% durante 6.600 cGy (p=0,031) dan 40,7% pascaradiasi (p=0,018). Simpulan, radiasi karsinoma nasofaring dapat menyebabkan gangguan dengar sensorineural selama dan pascaradiasi, serta usia >30 tahun merupakan faktor prognosis gangguan dengar sensorineural. [MKB. 2010;42(3):108-14].Kata kunci: Gangguan dengar sensorineural, karsinoma nasofaring, radiasiNasopharyngeal Carcinoma External Radiation As Causal of Sensorineural Hearing LossRadiation has an important role on nasopharyngeal carcinoma therapy because surgery is often difficult, however it cause sensorineural hearing loss as side effect. Longitudinal observational study was conducted to know the effect of radiation on sensorineural hearing loss of nasopharyngeal carcinoma patients at Ear, Nose, and Throat Department, Hasan Sadikin Hospital, February-August 2006. Twenty eight male and 7 female, with no sensorineural hearing loss in one or both ears, age 12–72 years, and met inclusion criteria, were included in this study. All patients received >radiation and underwent audiometry and tympanometry prior-,during-radiation with a 2.000 cGy and 6,600 cGy, and one month postradiation. Data was analyzed using Chi-square, Mc-Nemar, and exact Fisher test. The results showed that incidence of sensorineural hearing loss were 7 cases (10%) on 2,000 cGy, 22 cases (31.4%) on 6,600 cGy, and 24 cases (34.3%) on postradiation. The relationship between duration 6,600 cGy and 2,000 cGy in the normal preradiation group were significant (p= 0.001), whereas postradiation and duration with 6,600 cGy was not significant (p= 0.5). Sensorineural hearing loss on >30 years was 37.0% on duration 6,600 cGy (p=0.031) and 40.7% postradiation (p=0.018). In conclusion, radiation on nasopharyngeal carcinoma can induce sensorineural hearing loss during- or postradiation and age >30 years is prognostic factor for sensorineural hearing loss. [MKB. 2010;42(3):108-14].Key words: Nasopharyngeal carcinoma, radiation, sensorineural hearing loss

Hubungan Cedera Servikal dengan Fraktur Depresi Tulang Frontal pada Cedera Kepala Ringan

Arifin, Muhammad Zafrullah ( Department of Neurosurgery, Universitas Padjadjaran, Hasan Sadikin Hospital, Bandung, Indonesia ) , Gunawan, Wienorman ( Department of Neurosurgery, Universitas Padjadjaran, Hasan Sadikin Hospital, Bandung, Indonesia )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pemahaman mekanisme cedera kepala penting dalam menentukan pola cedera secara anatomis. Fraktur depresi tulang frontal terjadi bila terdapat gaya mekanis yang cukup kuat pada kepala. Dalam hal ini pada aksis fleksi dan ekstensi. Gerakan fleksi ekstensi berlebihan dilaporkan berhubungan dengan cedera servikal. Penelitian analitik retrospektif di Departemen Bedah Saraf RS Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari 2008–Desember 2009 ini bertujuan untuk melihat hubungan cedera servikal dengan fraktur depresi tulang frontal pada penderita cedera kepala ringan. Uji statistik menggunakan chi-kuadrat dan Pearson correlation. Didapatkan 354 kasus cedera kepala ringan dengan 17 (4,8%) kasus fraktur depresi tulang frontal, 14 (3,9%) kasus cedera servikal termasuk satu kasus dengan keduanya. Mekanisme cedera kepala terbanyak adalah kecelakaan bermotor, terjatuh dari ketinggian, dan benturan benda tumpul di bagian kepala. Hasil analisis statistik menunjukkan hubungan signifikan fraktur depresi tulang frontal dengan cedera servikal (p=0,000). Tidak didapatkan hubungan penggunaan helm dengan risiko cedera servikal (p=0,157). Simpulan, fraktur depresi tulang frontal pada kasus cedera kepala ringan merupakan indikator adanya cedera servikal. [MKB. 2011;43(3):122–7].Kata kunci: Cedera kepala ringan, cedera servikal, fraktur depresi tulang frontalCorrelation of Cervical Injury to Frontal Depressed Fracture in Mild Head InjuryAn understanding of head injury mechanism has a major role in predicting the anatomical injury. Frontal depressed fracture occurs if a substantial force is applied to the head. In this case, the flexion and extension axis. Overflexion and over-extension movement was reported to have correlation with cervical injury. This study was to find out the correlation cervical injury and frontal depresses fracture in mild head injury cases. A retrospective analytic study was carried out, chi-square and Pearson correlation test were performed using records of patients consulted to Neurosurgery Department of Dr. Hasan Sadikin Hospital in January 2008–December 2009. There were 354 cases of mild head injury with 17 (4.8%) cases of frontal depressed fracture, 14 (3.9%) cervical injuries, included one with both. The cause of the trauma were riding motorcycle, fell from height, and blunt trauma to the head. The statistical analysis showed a significant correlation between cervical injury and frontal depressed fracture (p=0.000). There was no correlation between helmet utilization and risk of cervical injury (p=0.157). In conclusion, fracture in mild head injury cases is an indicator of cervical injury. [MKB. 2011;43(3):122–7].Key words: Cervical injury, mild head injury, frontal depressed fracture

Efek Oksigen Konsentrasi Tinggi Pascaoperasi Laparotomi pada Peritonitis terhadap Tingkat Infeksi Luka Operasi

Djaya, Wildan ( Rumah Sakit Bhayangkara Indramayu ) , Rudiman, Reno ( Departemen Bedah Digestif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Lukman, Kiki

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Metode sederhana untuk menambah tekanan oksigen secara adekuat pada perfusi jaringan yaitu dengan menambah konsentrasi oksigen yang diinspirasi pada penderita pascalaparotomi. Untuk melihat efektivitas oksigen konsentrasi tinggi tersebut dilakukan uji klinis di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Dilakukan uji klinis secara random pada 102 penderita yang menjalani laparotomi karena peritonitis lokal atau difus serta membagi penderita dalam dua grup masing-masing 51 penderita untuk mendapatkan oksigen 30% dan 80% selama 2 jam pascaoperasi. Oksigen 30% didapat dari nasal kanul dengan oksigen 3 liter, sedangkan oksigen 80% diperoleh dari nonrebreathing mask dengan oksigen 10 liter. Penanganan anestesi dilakukan standar dan semua penderita mendapat antibiotik profilaksis. Dengan menggunakan protokol single blind, luka dievaluasi saat penderita pulang atau hari ke-7 jika masih dirawat dan 2 minggu pascaoperasi. Uji klinis dilakukan di subbagian Bedah Digestif RSHS selama periode Oktober 2009–Mei 2010. Dari 51 penderita yang diberi oksigen 80%, terdapat 2 (4%) penderita mengalami infeksi luka operasi dibandingkan dengan 9 dari 51 penderita (18%) yang diberi 30% oksigen. Durasi perawatan di rumah sakit sama pada kedua grup penderita. Simpulan, pemberian terapi oksigen konsentrasi tinggi pascaoperasi dapat menurunkan insidensi infeksi luka operasi. [MKB. 2012;44(3):165–9].Kata kunci: Infeksi luka operasi, laparotomi, oksigen, peritonitisEffect of Laparotomy Post-Operative High Concentration Oxygen in Peritonitis to Surgical Wound Infection Level A simple method to improve oxygen pressure to tissue perfusion adequately is by increasing the concentration of inspired oxygen.We therefore tested the hypothesis that the supplemental administration of oxygen during the post-operative period decreases the incidence of wound infection.We randomly assigned 102 patients at Dr. Hasan Sadikin Hospital who underwent exploratory laparotomy due to local and diffuse peritonitis to receive 30 percent or 80 percent inspired oxygen for two hours post-operation. The 30% oxygen was obtained from the nasal canule and 3 litres of oxygen whereas 80% oxygen was obtained from non-rebreathing mask and 10 litres of oxygen. Using the single-blind protocol, wounds were evaluated before the patients were discharged or 7 days post-operative and then two weeks after surgery. The clinical trial was performed at Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung between October 2009–May 2010. From the 51 patients who received 80% oxygen, 2 (4%) had surgical-wound infections, whereas from the 51 patients given 30 percent oxygen, 9 (18%) had surgical-wound infections. The length of hospital stay for both groups were the same. In conclusion that post-operative administration of high concentration ofoxygen can reduce the incidence of surgical-wound infections. [MKB. 2012;44(3):165–9]. Key words: Laparotomy, oxygen, periotonitis, surgical wound infection DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n3.83

Apakah Epidural Preemtif Menghambat Stres Pembedahan dengan Sempurna?

Ahmad, Muh. Rumli ( Departemen Anestesiologi, Terapi Intensif dan Manajemen Nyeri Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin-RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar ) , Bisri, Tatang ( Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 45, No 3 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Analgesia preemtif adalah pemberian regimen analgesik sebelum onset stimulus noksius. Kerusakan jaringan akibat pembedahan menimbulkan rangsang noksius, melalui dua jalur input noksius ke susunan saraf pusat (SSP), melalui jalur neural dan jalur sirkulasi. Penelitian uji klinik tersamar ganda mengikutsertakan 48 pasien yang menjalani pembedahan orthopedi tungkai bawah. Dibagi 2 kelompok: kelompok I (n=24) diberikan bupivakain 0,25% 10 mL dan kelompok II (n=24) diberikan NaCl 0,9% melalui epidural sebagai kontrol sebelum dilakukan induksi. Kedua kelompok diberikan anestesi umum. Selama pembedahan pada kelompok I diberikan 5 mL bupivakain 0,25% selang 90 menit, sedangkan pada kelompok kontrol diberikan 5 mL NaCl 0,9% dengan selang waktu yang sama. Pascabedah kedua kelompok diberikan bupivakain 0,25% secara kontinu 4 mL/jam sampai 24 jam pascabedah. Pengukuran kadar sitokin: tumor necrosis factor- α (TNF-α), interleukin-1β (IL-1β), IL-6 dan IL-10 dilakukan sebelum induksi anestesi, pascabedah dini, jam ke-4, 8, dan 24 pascabedah. Kelompok I memperlihatkan dinamika kadar proinflamasi lebih rendah dibandingkan dengan kelompok II namun secara statisik tidak bermakna (p>0,05). Sebaliknya, kadar sitokin antiinflamasi lebih tinggi pada kelompok epidural, namun tidak berbeda bermakna (p>0,05). Intensitas nyeri pada 4 jam, 8 jam, 24 jam pascabedah secara nyata lebih rendah pada kelompok I (p<0,05). Respons hemodinamik juga ditemukan lebih rendah pada kelompok I walaupun tidak berbeda nyata ( p>0,05) kecuali pada pascabedah dini namun tidak secara sempurna. Simpulan, pemberian analgetik epidural preemtif menghasilkan analgesia disertai hemodinamik yang stabil dibandingkan tanpa epidural preemtif, namun epidural premtif tidak dapat menekan produksi sitokin proinflamasi dan antiinflamasi. [MKB. 2013;45(3):147–54]Kata kunci: Epidural preemtif, hemodinamik, intensitas nyeri, sitokin Does Preemptive Epidural Analgesia Completely Blok Surgical Stress Responses?Preemptive analgesia is initiating an analgesic regimen before the onset of the noxious stimulus. Damages to the tissue caused by surgical trauma generate noxious response conveyed to the central nervous system (CNS) by two pathways, neural pathway and circulatory pathway. This study is a double- blinded clinical trial that included 48 patients undergoing lower extremity orthopedic surgery. The subjects were divided into two groups: group I (n=24) received 10 mL bupivacaine 0.25% from epidural route, and group II (n=24) received 10 mL NaCl 0.9% from epidural route as the control group before induction of anesthesia. Both groups were anesthetized under general anesthesia. Group I received 5 mL bupivacaine 0,5% every 90 minutes and group II received 5 mL NaCl 0,9 with similar time intraoperatively. Post-operatively, both groups received continuous bupivacaine 0,25% 4 mL/ hour until 24 hours after surgery. Measurements of cytokine levels: tumor necrosis factor-α (TNF-α), interleukin- 1β (IL-1β), IL-6 and IL-10 were done before induction of anesthesia, in the early post-operative period, at 4, 8, and 24 hours after surgery. Group I showed lower level proinflammatory cytokines level compared with group II but the difference was not statistically significant (p>0.05). The level of anti-inflammatory cytokine was higher in group I, but the difference was not statistically significant (p>0.05). Pain intensity at 4 hours, 8 hours, 24 jam hours post operative was lower significantly (p<0.05) Hemodynamic responses was lower in group I but not significant (p>0.05) excepst at early postoperative period (p<0.05). Generally, preemptive epidural analgesia was able to suppress the cytokine responses, but not completely. In conclusion, preemptive epidural analgesia is associated with better analgesia and better hemodynamic stability compared without preemptive epidural, but unable to suppress the production of proinflammatory and anti-inflammatory cytokines. [MKB. 2013;45(3):147–54]Key words: Cytokines, hemodynamic, pain intensity, preemptive epidural DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v45n3.144

Pengaruh Hiperglikemia dan Vitamin E pada Kadar Malonaldehida dan Enzim Antioksidan Intrasel Jaringan Pankreas Tikus

Suarsana, I Nyoman ( Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana ) , Utama, Iwan H. ( Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana ) , Agung, I Gusti ( Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana ) , Suartini, Ayu ( Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pencegahan kerusakan jaringan pankreas akibat radikal bebas pada kondisi hiperglikemia kronik sangat penting dan vitamin E dapat bertindak sebagai pemusnah radikal bebas dalam mencegah perkembangan diabetes melitus. Tujuan penelitian ini untuk mengamati pengaruh vitamin E pada kondisi hiperglikemia pada aktivititas enzim superoxide dismutase (SOD), glutathione peroxidase (GPx), dan kadar malondialdehyde (MDA) pada jaringan pankreas tikus. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, tahun 2010. Sebanyak 15 ekor tikus putih jantan strain Spraque Dawley umur 3 bulan digunakan dalam penelitian ini. Tikus percobaan dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan. Kelompok kontrol negatif (K0), kelompok tikus hiperglikemia (K1), serta kelompok tikus hiperglikemia dan diberi vitamin E dosis 7 mg/200 g bb/hari (K2). Kelompok hiperglikemia diberi larutan 50% glukosa, dosis 1,5 cc/ekor per oral dua kali sehari. Perlakuan diberikan selama 1 bulan. Kadar glukosa darah diperiksa menggunakan metode biosensor glukosa oksidase. Enzim SOD, GPx, dan MDA dianalisis menggunakan metode spektrofotometri. Kadar glukosa darah perlakuan K2 sebesar 153,5±8,2 mg/dL tidak berbeda (p>0,05) bila dibandingkan dengan perlakuan K1 sebesar 154,1±5,7 mg/dL. Aktivitas SOD perlakuan K2 sebesar 43,21±3,32 U/g lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan K1 sebesar 31,99±3,55 U/g (p<0,05). Aktivitas GPx perlakuan K2 sebesar 10,44±0,54 U/g tidak berbeda bermakna (p>0,05) bila dibandingkan dengan perlakuan K1 sebesar 9,39±0,59 U/g. Kadar MDA perlakuan K2 sebesar 20,27±0,87 pmol/g lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan K1 sebesar 25,24±0,82 pmol/g (p<0,05). Simpulan, kadar SOD dan GPx rendah, sedangkan kadar MDA tinggi pada pankreas tikus dalam kondisi hiperglikemia. Pada tikus hiperglikemia yang diberi vitamin E, aktivitas SOD dan GPx tinggi, sedangkan kadar MDA rendah. [MKB. 2011;43(2):72–6].Kata kunci: Enzim antioksidan, hiperglikemia, pankreas tikus, vitamin EHiperglycemic and Vitamin E Effect on Malondialdehyde and Antioxidant Intracellular Enzyme in Rat Pancreatic TissuePrevention of pancreatic tissue damage by free radicals under conditions of hyperglycemia chronic would be important and vitamin E can act as scavengers of these oxygen radicals in preventing the development of diabetes mellitus. This study aims was to evaluate the effect of vitamin E on the hyperglycemia conditions on the blood glucose, enzyme superoxide dismutase (SOD), glutathione peroxidase (GPx), and malondialdehyde (MDA) levels in rat pancreatic tissue. Research conducted at the Laboratory of Biochemistry Faculty of Veterinary Medicine Udayana University, in 2010. A total of 15 male rats white of strains Spraque Dawley old 3 months used in this study. All of rats were divided into three groups. Negative control group (K0), group of rats hyperglycemia (K1), and group of hyperglycemia and given vitamin E dose of 7 mg/200 g bw/day (K2). Hyperglycemia group was given 50% glucose solution doses of 1.5 cc/head orally twice daily. Treatment was conducted for 1 month. Blood glucose level was measured by using glucose oxidase biosensor method. Pancreatic SOD, GPx activities, and MDA levels were measured by using spectrophotometric methods. Blood glucose levels in the K2 treatment of 153.5±8.2 mg/dL was not significantly different (p>0.05) when compared with the K1 treatment of 154.1±5.7 mg/dL. Activities of SOD enzymes in the K2 treatment of 43.21±3.32 U/g higher than the K1 treatment of 31.99±3.55 U/g (p<0.05). Activities of GPx enzymes in the K2 treatment of 10.44±0.54 U/g was not significantly different (p>0.05) when compared with K1 treatment of 9.39±0.59 U/g. MDA level in the K2 treatment of 20.27±0.87 pmol/g lower than the K1 treatment of 25.24±0.82 pmol/g (p <0.05). In conclusion, SOD and GPx enzymes levels are low whereas MDA level is high in the rat pancreatic under conditions of hyperglycemia. The hyperglycemic rat by treatment with vitamin E shows high SOD and GPx levels and low MDA levels. [MKB. 2011;43(2):72–6].Key words: Enzyme antioxidant, hyperglycemia, pancreatic rat, vitamin E

Toksisitas Akut per Oral Ekstrak Etanol Daun Dewa (Gynura pseudochina (Lour.) DC) terhadap Kondisi Lambung Tikus Jantan dan Betina Galur Wistar

Astri, Yesi ( Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang, jalan KH Bhalqi 13 Ulu Plaju Palembang Indonesia 30263 ) , Sitorus, Truly ( Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung ) , Sigit, Joseph I. ( Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung ) , Sujatno, Muchtan

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Toksisitas oral akut merupakan efek samping yang terjadi dalam waktu singkat melalui pemberian tunggal peroral ataupun dengan dosis berulang dalam waktu 24 jam dan dapat terjadi pada setiap organ tubuh. Traktus gastrointestinal sangat potensial terhadap paparan agen toksik yang tampak sebagai gambaran erosi dan tukak. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental uji toksisitas akut per oral dan dilakukan di laboratorium Farmakologi Klinik RS Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Juli–September 2009. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui toksisitas akut ekstrak etanol daun dewa terhadap lambung dengan menghitung indeks tukak ekstrak etanol daun dewa (Gynura pseudochina (Lour.) DC) pada tikus galur Wistar. Untuk mengatasi dampak negatif, tindakan penelitian ini dilakukan dengan pendekatan 3R (reduction, refinement, dan replacement). Indeks tukak dinilai dengan menentukan jumlah dan diameter tukak melalui pembedahan hewan coba pada hari ke-15 dan dilakukan pemeriksaan secara mikroskopis dengan penilaian histopatologi. Data dianalisis dengan uji Kolmogorov-Smirnov yang dilanjutkan dengan one sample t-test pada Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) for windows versi 13.0 pada derajat kepercayaan 95%. Indeks tukak antar kelompok tikus jantan dan betina menunjukkan perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol dan kelompok ekstrak etanol dosis >1,625 g/kgBB (p<0,05). Simpulan, pemberian ekstrak etanol daun dewa pada tikus galur Wistar menyebabkan tukak lambung pada dosis >1,625 g/kgBB. [MKB. 2012;44(1):38–43].Kata kunci: Gynura pseudochina (Lour.) DC, indeks tukak, toksisitas oral akutAcute Oral Toxicity of Ethanol Extract of Dewa Leaf (Gynura pseudochina (Lour.) DC) to Male and Female Wistar Rats’ Gaster MucosaAcute oral toxicity is the adverse effects occurring within a short time of oral administration of a single dose of a substance or multiple doses given within 24 hours through body’s organs. Gastrointestinal tract potentially influenced by toxic materials exposure, shown as gastric erosion and ulcer. This is an acute oral toxicity experimental research, held in Pharmacology laboratorium of Dr. Hasan Sadikin Hospital on July–September 2009. This research aims to determine ethanol extract of Dewa leaf acute toxicity to gaster by measuring ulcer index of ethanol extract of Dewa leaf (Gynura pseudochina (Lour.) DC) in Wistar rats. This research approached with 3R (reduction, refinement and replacement) to overcome negative impact. Ulcer index determined by ulcer’s quantity and diameter due to rats necropsy at 15th day, and histopathology examined. The results are statistically analyzed using Kolmogorov-Smirnov test and then continued with one sample T-test on Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) for windows version 13.0, at 95% confidence interval level. Ulcer index significantly different between control group and ethanol extract of Dewa leaf group dose >1.625 g/kgBB (p<0.05). In conclusion, ethanol extract of Dewa leaf on Wistar rats cause gastric ulcer at dose >1.625 g/kgBB. [MKB. 2012;44(1):38–43]Key words: Acute oral toxicity, Gynura pseudochina (Lour.) DC, ulcer index DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n1.71 

Polimorfisme Gly972Arg Gen IRS-1 dan Cys981Tyr Gen PTPN1 sebagai Faktor Risiko pada Sindrom Metabolik dengan Riwayat Berat Bayi Lahir Rendah

Permana, Hikmat ( Departemen Ilmu Penyakit Dalam ) , Nugraha, Gaga Irawan ( Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakir Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Kariadi, Sri Hartini K. S. ( Departemen Ilmu Penyakit Dalam )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 3 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Peningkatan prevalensi obesitas terjadi di seluruh dunia dan dapat mengenai semua tingkatan usia. Faktor risiko peningkatan sindrom metabolik berhubungan dengan perubahan gaya hidup, obesitas, dan berat lahir rendah. Penelitian ini dilakukan bertujuan menganalisis genotipe IRS-1, genotipe PTPN1, dan berat bayi lahir rendah (BBLR) sebagai risiko terhadap sindrom metabolik. Pada tahun 2009 terkumpul sebanyak 97 BBLR dan 100 bayi berat lahir normal (BBLN) berusia 20–21 tahun. Penelitian kohort retrospektif ini merupakan bagian penelitian kohort sebelumnya di kecamatan Tanjung Sari pada tahun 1989. Peran genotipe IRS-1, genotipe PTPN1, dan BBLR terhadap sindrom metabolik diuji dengan regresi logistik multipel. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan bermakna genotipe IRS-1 dan PTPN1 dengan faktor-faktor sindrom metabolik, tetapi hanya genotipe IRS-1 berhubungan signifikan dengan trigliserida (p=0,006). Polimorfisme Gly972Arg gen IRS-1 pada BBLR mempunyai nilai prediksi terhadap peningkatan tekanan darah diastol, lingkaran perut, dan trigliserida. Polimorfisme Cys981Tyr gen PTPN1 menunjukkan faktor risiko terhadap tekanan darah sistol dan kolesterol high density lipoprotein (HDL). Polimorfisme Gly972Arg gen IRS-1 merupakan faktor dominan sebagai penyebab peningkatan tekanan darah diastol, lingkaran perut, dan trigliserida. Simpulan, polimorfisme Cys981Tyr gen PTPN1 merupakan faktor risiko peningkatan tekanan darah sistol dan kolesterol HDL. Bayi berat lahir rendah merupakan faktor risiko peningkatan gula darah puasa. [MKB. 2012;44(3):170–8].Role of Polymorphism Gly972Arg Gene IRS-1 and Cys981Tyr Gene PTPN1 as Risk Factors in Metabolic Syndrome with History of Low Birth WeightIncreasing prevalence of obesity occurs worldwide and can affect all ages levels. Risk factors of increasing metabolic syndrome were associated with changes in lifestyle, obesity and low birth weight (LBW). This study was aimed to analyze the genotype IRS-1, genotype PTPN1 and LBW in metabolic syndrome risk factors. In 2009, this restrospective cohort study was comprised of 97 LBW and 100 normal birth weight (NBW), aged 20–21 years old, from the previous cohort study in District Tanjung Sari since 1989. The role of IRS-1 gene, PTPN1 gene and LBW in the metabolic syndrome factors were analyzed using multiple logistic regressions. The result showed there were no significant relationship between IRS-1 and PTPN1 genotype with metabolic syndrome factors but only IRS-1 genotype was significantly associated with trygliceride (p=0.006). Gly972Arg IRS-1 gene polymorphism in LBW has predictive value of increasing diastolic blood pressure, waist circumference and trygliceride. Cys981 Tyr PTPN1 gene polymorphism showed a risk factor for systolic blood pressure and high density lipoprotein (HDL) cholesterol. Gly972Arg IRS-1 gene polymorphism was a dominant factor to increase diastolic blood pressure, waist circumference and trygliceride. In conclusions, Cys981 Tyr PTPN1 gene polymorphism is a risk factor of increased systolic blood pressure and HDL cholesterol, and LBW is the risk factor increasing fasting glucose level. [MKB. 2012;44(3):170–8]. DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n3.137

Efek Pemberian Niasin terhadap Glukosa Darah pada Tikus Wistar dengan Obesitas

Hermawan, Robby ( Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Hasan Sadikin ) , Sitorus, Trully D. ( Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Hasan Sadikin ) , Sastramihardja, Herri S. ( Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Hasan Sadikin )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Niasin memiliki kontroversi mengenai efeknya terhadap pengaturan glukosa darah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui efek niasin terhadap kadar glukosa darah pada tikus Wistar dengan obesitas yang diinduksi diet. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan desain paralel yang menggunakan randomisasi di laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Unpad periode Juli 2008–Maret 2009. Penelitian dilakukan pada tikus jantan galur Wistar. Pertama, semua subjek penelitian diinduksi menjadi obesitas dengan diet tinggi lemak selama 10 minggu. Tikus yang memenuhi kriteria dibagi dalam dua kelompok secara acak. Kelompok pertama diberikan plasebo. Kelompok kedua diberikan niasin. Niasin dan plasebo diberikan selama 20 hari. Dosis niasin yang diberikan sebesar 0,135 mg/gBB/hari. Glukosa darah puasa (GDP) dan tes toleransi glukosa oral (TTGO) diukur pada hari ke-21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol dan perlakuan baik pada GDP maupun TTGO. GDP kelompok niasin lebih rendah 4,0 mg/dL (IK95% -0,342–8,4) dibandingkan dengan kelompok kontrol, dengan p=0,068, sedangkan hasil TTGO kelompok niasin lebih tinggi 0,8 mg/dL (IK95% -5,6–7,1) dibandingkan dengan kelompok kontrol, dengan p=0,800. Disimpulkan pemberian niasin tidak menyebabkan perbedaan kadar GDP dan TTGO pada tikus jantan galur Wistar dengan obesitas yang diinduksi diet. [MKB. 2011;43(1):16–20].Kata kunci: Glukosa darah puasa, niasin, obesitas, tes toleransi glukosa oralThe Effect of Niacin to the Blood Glucose in Obese Wistar RatsNiacin has many controversies about its effect to the management of the blood glucose. The objective of the research was to know the effect of niacin to the blood glucose in obese wistar rats. This research was an experimental laboratory study with a parallel design using randomization. Male Wistar rats were used in this research. All rats were induced to be obesed with high-fat feeding for 10 weeks. Rats that fulfill the criteria were randomly divided into two groups. The first group was given the placebo. The second group was given the niacin. The niacin and the placebo were given for the next 20 days. The niacin dose was 0.135 mg/g body weight/day. Fasting blood glucose (FBG) and oral glucose tolerance test (OGTT) were taken on the 21st day. The results showed that there were not any significant differences in FBG and OGTT between control and treated group. The FBG of the niacin group was 4.0 mg/dL (95% CI -0.342–8.4) lower than the control group, with p=0.068. The OGTT result of the niacin group was 0.8 mg/dL (95% CI -5.6 –7.1) higher than the control group, with p=0.800. This study concludes that taking niacin does not cause differences in FBG and OGTT results in the male Wistar rats with diet induced obesity. [MKB. 2011;43(1):16–20].Key words: Fasting blood glucose, niacin, obesity, oral glucose tolerance test

Efek Rimpang Kunyit (Curcuma longa L.) dan Bawang Putih (Allium sativum L.) terhadap Sensitivitas Insulin pada Tikus Galur Wistar

Sovia, Evi ( Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, jalan Ganesa 10 Bandung 40132 ) , Sukandar, Elin Yulinah ( Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, jalan Ganesa 10 Bandung 40132 ) , Sigit, Joseph I. ( Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, jalan Ganesa 10 Bandung 40132 ) , N. Sasongko, Lucy Dewi ( Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung, jalan Ganesa 10 Bandung 40132 )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 4 (2011)
Publisher : Majalah Kedokteran Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Ekstrak kunyit dan bawang putih telah diketahui mempunyai efek antidiabetik, tetapi mekanisme kerjanya belum diketahui. Penelitian ini mengamati efek tiga ekstrak rimpang kunyit (Curcuma longa L.) dan bawang putih (Allium sativum L.), yaitu ekstrak heksan, etil asetat, dan etanol terhadap kadar glukosa darah dengan tes toleransi glukosa. Selanjutnya, ekstrak yang paling efektif dan komponen aktifnya (kurkuminoid dan S-metil sistein) diuji dengan tes toleransi insulin. Empat puluh ekor tikus galur Wistar dibagi menjadi 8 kelompok, yaitu kelompok normal, kelompok yang hanya diberi emulsi tinggi lemak (kontrol), dan sisanya selain diberi emulsi tinggi lemak juga masing-masing diberi ekstrak kunyit dengan dosis 50 mg/kgBB, ekstrak bawang putih dengan dosis 50 mg/kgBB, kurkuminoid dengan dosis 25 mg/kgBB, S-metil sistein dengan dosis 25 mg/kgBB, kombinasi ekstrak kunyitbawang putih dengan dosis masing-masing 25 mg/kgBB, dan kombinasi kurkuminoid-S-metil sistein dengan dosis masing-masing 12,5 mg/kgBB selama 10 hari. Resistensi insulin dievaluasi dengan tes toleransi insulin.Penelitian dilakukan pada bulan Agustus–Oktober 2010 di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) InstitutTeknologi Bandung (ITB). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa KTTI (konstanta tes toleransi insulin) hewankelompok ekstrak bawang putih (7,2±0,84), kurkuminoid (7,14±0,74), dan kombinasi kurkuminoid-S-metil sistein(7,46±0,64) secara bermakna (p<0,05) lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol positif (3,2±1,92).Simpulan, ekstrak bawang putih, kurkuminoid, dan kombinasi kurkuminoid-S-metil sistein meningkatkan sensitivitas insulin. [MKB. 2011;43(4):153–9].Kata kunci: Ekstrak bawang putih, ekstrak kunyit, tes sensitivitas insulin Effect of Turmeric Extract (Curcuma longa L.) and Garlic Extract (Allium sativum L.) on Insulin SensitivityStudies have shown the antidiabetic effect of turmeric and garlic. However their mechanism of action remain unknown. In this study, we investigated the effect of three turmeric (Curcuma longa L.) and garlic extracts (Allium sativum L.), that are, hexane, ethyl acetate and ethanol extract on blood glucose levels with glucose tolerance test. Furthermore the most effective extracts and its active compound (curcuminoid and S-methyl cysteine) tested with insulin tolerance test. Forty Wistar rats were divided into 8 groups that was normal group, group that treated with a high fat emulsion (control group) and remaining groups were treated with a high fat emulsion and turmeric extract 50 mg/kgBW, garlic extract 50 mg/kgBW, curcuminoid 25 mg/kgBW, S-methyl cysteine 25 mg/kgBW, turmeric-garlic extract combination each 25 mg/kgBW and curcuminoid-S-methyl cysteine combination each 12,5 mg/kgBW for 10 days. Insulin resistance was evaluated by insulin tolerance test. This study conducted from August–October 2010 at Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB). Results of this study showed that insulin tolerance test constanta (KITT) were bigger in animals that treated with garlic extract (7.2±0.84), curcuminoid (7.14±0.74) and combination of curcuminoid-S-methyl cysteine (7.46±0.64) compared with positive control group (3.2±1.92). In conclusions garlic extract, curcuminoid and combination of curcuminoid and S-methyl cysteine improve insulin sensitivity. [MKB. 2011;43(4):153–9]Key words: Garlic extract, insulin sensitivity test, turmeric extract

Efek Antihiperkolesterol Jus Buah Belimbing Wuluh (Averhoa bilimbi L.) terhadap Mencit Galur Swiss Webster Hiperkolesterolemia

Surialaga, Samsudin ( Bagian Biokimia, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung- Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin ) , Dhianawaty, Diah ( Bagian Biokimia, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung- Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin ) , Martiana, Anna ( Bagian Biokimia, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung- Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin ) , A. S, Andreanus ( Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 45, No 2 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kadar kolesterol darah yang melebihi batas normal merupakan pemicu bermacam penyakit. Tujuan penelitian untuk mengetahui efek antihiperkolesterol jus buah belimbing wuluh, dilakukan pada bulan Maret–Juni 2011 di Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung. Mencit galur Swiss Webster dibagi menjadi dua kelompok yaitu pencegahan dan pengobatan, tiap kelompok dibagi menjadi empat subkelompok: kontrol negatif hidup normal, tiga subkelompok lainnya kontrol positif, pembanding dan uji (belimbing) diberi pakan tinggi kolesterol dan propiltiourasil 0,26 mg/20 gBB/hari. Pada ketiga subkelompok pencegahan perlakuan di atas disertai pemberian berturut-turut 20 mg tragakan, simvastatin 0,026 mg/20 gBB/hari, dan 0,12 g jus belimbing/20 gBB/hari selama 30 hari. Untuk kelompok pengobatan setelah 30 hari ketiga subkelompoknya diberi tragakan, simvastatin, dan jus belimbing seperti subkelompok pencegahan selama 30 hari. Kadar kolesterol diukur dengan spektrofotometer dan diuji dengan analysis of variance (ANOVA) dilanjutkan dengan uji student-t. Pada kelompok pencegahan perbedaan kadar kolesterol subkelompok kontrol positif 158,5 mg/dL dan belimbing 129,7 mg/dL bermakna (p<0,01), pada kelompok pengobatan tidak bermakna. Simpulan, jus belimbing wuluh dapat mencegah peningkatan kadar kolesterol tetapi tidak dapat mengobati. [MKB. 2013;45(2):125–9]Kata kunci: Antihiperkolesterolemia, Averhoa bilimbi L., belimbing wuluhAnti-hypercholesterol Effect of Averhoa bilimbi L. Fruit Juice on Swiss Webster Strain Mice HypercholesterolemiaBlood cholesterol level which were higher than normal is a trigger of various diseases. The objective of the research was to know the anti-hypercholesterol effect of Averhoa bilimbi L. fruit juice, done in March–June 2011 at School of Pharmacy Institute Technology of Bandung. Webster strain mice were divided into two groups there were preventive and curative. Each group was divided into four subgroups: negative control was normal life, the three subgroups other positive control, reference and test (Averhoa) received high-cholesterol meal and 0.26 mg/20 gBW/day of prophylthiouracyl. At preventive group the treatment above was participated with 20 mg tragacanth, 0.026 mg/20 gBW/day simvastatin, and 0.12 g juice/20 gBW/day respectively during 30 days. For curative group 30 days later the three subgroups other received tragacanth, simvastatin, and juice as subgroups of preventive group during 30 days. The cholesterol levels were measured with spectrophotometer and were examined with analysis of variance (ANOVA) and were continued with student-t test. At preventive group the different of cholesterol level between subgroup control positive 158.5 mg/dL and Averhoa 129.7 mg/dL was significant p<0.01, at curative group were not significant. In conclusion, Averhoa fruit juice can prevent increasing of cholesterol level, but cannot cure. [MKB. 2013;45(2):125–9]Key words: Anti-hypercholesterolemia, Averhoa bilimbi L., small carambola DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v45n2.113

Page 3 of 65 | Total Record : 648