Majalah Kedokteran Bandung
ISSN : -     EISSN : -
Articles 648 Documents
Demografi Diabetes Melitus Tipe-I pada Anggota Ikatan Keluarga Penyandang Diabetes Anak dan Remaja (IKADAR)

Faisal, Endang Triningsih

Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 2 (2010)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Diabetes melitus (DM) tipe-1 merupakan penyakit kronik karena ketergantungan insulin dari luar tubuh. Dalam pengobatan penyakit tipe ini perlu pegawasan yang ketat dan membutuhkan kesadaran dan pengertian pasien dan orangtua. Ikatan Keluarga Penyandang Diabetes Anak dan Remaja (IKADAR) merupakan perkumpulan anggota pasien DM, sehingga dapat saling membantu. IKADAR belum banyak dikenal luas. Dari data 167 anggota IKADAR, ditemukan perempuan lebih banyak dari laki-laki. Hanya 99 anggota yang dapat ditelusuri melalui telepon, Mayoritas bertempat tinggal di Jabotabek, 66 anggota berobat dengan biaya sendiri, 54% berkisar umur 5-10 tahun. Pengertian tentang penyakit DM ditemukan 22,2% belum mengerti penyakit maupun penanganan DM, namun sebagian besar pasien tersebut menyatakan IKADAR berperan bagi pengobatan.Demography Study Diabetes Mellitus Type 1 of Diabetes Mellitus Family MemberDiabetes mellitus (DM) is classified as a chronics disease due to its property of external insulin dependency. Intensive monitoring, as well as awareness and good understanding from the patients and their patients are prerequisite to achieve excellent result in the management this disease. Ikatan Keluarga Penyandang Diabetes Anak dan Remaja (IKADAR) is an association of DM patients together with their family which aims to facilitate the members to help and share each other. Unfortunately, IKADAR hasnt been widely known. Currently IKADAR has 167 members but only 99 members could be reached by telephone, the majority time in Jabotabek, sixty six had their medication paid out of pocket, fifty-four percent were 5-10 years of age. As many as 22.2% found to having no comprehensive understanding about DM and the management. The majority of patients suggest that IKADAR play a big role in their treatment. DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n2.14

Karakteristik dan Faktor Risiko Obstetrical Brachial Plexus Palsy pada Bayi Baru Lahir

Handoyo, Andreas Vincent, Ismiarto, Yoyos Dias

Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 2 (2010)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Obstetrical brachial plexus palsy (OBPP) merupakan cedera sebagian/seluruh plexus brachialis akibat proses kelahiran. Insidensi di negara berkembang berkisar 0,15%. Faktor risiko meliputi intrapartum dan intrauterin. Dibedakan tiga jenis OBPP yaitu Duchenne Erb, Klumpke, dan whole arm palsy. Penelitian bersifat retrospektif, melihat karakteristik dan faktor risiko terjadinya OBPP di RS. Hasan Sadikin, Bandung, periode Januari 2002-April 2007. Data diperoleh dari catatan medik bagian perinatologi, kemudian dilakukan analisis binary logistic regression. Hasil penelitian menunjukkan insidensi OBPP 0,141%, seluruhnya Erb palsy dan kehamilan tunggal. Sebanyak 68,75% presentasi belakang kepala, 50% lahir spontan, 18,75% disertai meconeal staining, 62,5% berat lahir ≥3.500 g, 56,25% laki-laki, 68,75% asfiksia, 12,5% distosia bahu, dan 6,25% fraktur klavikula. Faktor risiko yang bermakna adalah presentasi kaki (OR 9,357; 95%CI), letak lintang (OR 5,136; 95%CI), ekstraksi vakum (OR 5,240;95%CI), ekstraksi forseps (OR 4,320; 95%CI), ekstraksi bokong/kaki (OR 14,411; 95%CI), berat lahir 3.500- 3.999 g (OR 4,571; 95%CI), berat lahir ≥ 4.500 g (OR 57,759; 95%CI), asfiksia (OR 5,992; 95%CI) dan asfiksia berat (OR 6,094; 95%CI). Sectio Cesarea cenderung protektif {OR 0,244; 95%CI; p=0,062 (>0,05)}. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa faktor risiko yang terutama berperan adalah presentasi kaki, ekstraksi bokong, dan berat lahir >4.500 g.Characteristics and Risk Factors of Obstetrical Brachial Plexus Palsy in Newborn BabyObstetrical brachial plexus palsy (OBPP) is an injury of entire or part of brachial plexus correlated with delivery process. Incidence in developing countries is around 0.15%. Risk factors include intrapartum and intrauterine. Three types of OBPP are Duchenne Erb, Klumpke, and whole arm palsy. This was a retrospective study of characteristic and risk factors of OBPP in Hasan Sadikin Hospital, Bandung, period January 2002-April 2007. Data were collected from perinatology ward medical records, and analyzed using binary logistic regression. OBPP incidence was 0.141%. All were Erb palsy and single pregnancy, 68.75% were head-occiput posterior presentation, 50% were spontaneous birth, 18.75% had meconeal staining, 62.5% had birth weight ≥3,500 g, 56.25% were male, 68.75% asphyxia, 12.5% shoulder dystocia, and 6.25% clavicle fracture. Risk factors significantly correlated were foot presentation (OR 9.357; 95%CI), transverse fetal position (OR 5.136; 95%CI), vacuum, forceps, breech/foot extraction (OR 5.240;95%CI, 4.320; 95%CI, 14.411; 95%CI, respectively), birth weight 3,500-3,999 g (OR 4.571;95%CI), birth weight ≥4,500 g (OR 57.759; 95%CI), asphyxia (ORs 5.992; 95%CI), and severe asphyxia (OR 6.094; 95%CI). Sectio cesarea tend to have protective effect {OR 0.244; 95%CI; p=0.062 (>0.05)}. The important risk factors of OBPP are foot presentation, breech/foot extraction, and birth weight >4,500 g.DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n2.9

Efikasi Terapi Kombinasi Salep Kalsipotriol 0,005% dan Klobetasol Propionat 0,05% Dibanding Klobetasol Propionat 0,05% pada Psoriasis Vulgaris

Indriyani, Dian ( Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Rumah Sakit Hasan Sadikin ) , Sutedja, Endang ( Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Rumah Sakit Hasan Sadikin ) , Suwarsa, Oki ( Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Rumah Sakit Hasan Sadikin )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 1, No 42 (2010)
Publisher : Majalah Kedokteran Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Psoriasis adalah penyakit eritropapuloskuamosa kronik residif. Obat yang paling sering digunakan untuk terapi penyakit ini adalah kortikosteroid topikal, tetapi penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan berbagai efek samping. Kalsipotriol merupakan obat topikal selain kortikosteroid yang memiliki efek samping yang lebih ringan. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan skor psoriasis area and severity index (PASI) sebelum dan sesudah pengobatan dengan kombinasi salep kalsipotriol 0,005% dengan salep klobetasol propionat 0,05% dan monoterapi salep klobetasol propionat 0,05% pada penderita psoriasis vulgaris. Skor psoriasis area severity index (PASI), digunakan untuk mengukur berat ringannya psoriasis dan mengevaluasi perbaikan lesi. Desain penelitian adalah uji klinik dengan rancangan acak secara double blind. Uji Mann-Whitney dan Wilcoxon digunakan untuk menganalisis data skor PASI sebelum dan sesudah pengobatan. Penelitian dilakukan di poliklinik I.K. Kulit danKelamin RS. Hasan Sadikin Bandung dari bulan November 2007- Januari 2008 dengan subjek penelitian sebanyak 44 orang yang dibagi dalam dua kelompok. Derajat keparahan penyakit dinilai dengan skor PASI yang dinilai sebelum, satu minggu, dan dua minggu setelah pengobatan. Kesimpulan: Penggunaan terapi kombinasi salep kalsipotriol 0,005% dan klobetasol propionat 0,05% selama dua minggu memiliki efikasi yang lebih baik dibandingkan monoterapi salep klobetasol propionat 0,05%, secara statistik sangat bermakna (p<0,001).Efficacy Combination Therapy of 0.005% Calcipotriol and 0.05%Clobetasol Propionat Compared to 0.05% Clobetasol Propionat Ointment in Psoriasis VulgarisPsoriasis is a chronic relapsing erythropapulosquamous skin disease. Topical corticosteroid is the most common treatment for psoriasis, but it can cause many side effect on longterm used. Calcipotriol ointment is the other topical treatment for psoriasis and has minimal side effect. The study was a double blind randomized clinical trial, compared psoriasis area and severity index score before and after treatment combination therapy of 0.005% calcipotriol ointment 0.05% and clobetasol propionat ointment with 0.05% clobetasol propionat alone. Psoriasis area severity index (PASI) score was used to evaluate severity degree and imprvoment of psoriasis. Mann-Whitney and Wilcoxon test were used for statistical analysis of PASI score before and after treatment. Study was conducted at Dermatology and Venereology outpatient Department of Hasan Sadikin Hospital Bandung period November 2007 to January 2008 with fourty four psoriasis vulgaris patients were enrolled in this study, divided into two groups. The assesment of the severity of skin lesions psoriasis area and severity index was performed at baseline, after one week and two weeks treatment. Conclusion: the use of daily 0.005% calcipotriol ointment combined with 0.05% clobetasol propionate

Pengaruh Radioterapi Eksternal Terhadap Fungsi Sel Rambut Luar Koklea Penderita Karsinoma Nasofaring

Nurmasari, Shinta, Samiadi, Dindy, Purwanto, Bambang

Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 2 (2010)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pilihan utama pengobatan karsinoma nasofaring adalah radioterapi. Pemberian radioterapi dosis tinggi menimbulkan kerusakan struktur jaringan, salah satunya adalah gangguan pendengaran. Gangguan di koklea timbul akibat kerusakan struktur sel rambut akibat degenerasi stria vaskularis, atrofi spiral ligamen, dan membran basilaris.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui fungsi sel rambut luar koklea akibat radioterapi penderita karsinoma nasofaring. Tipe penelitian adalah studi analitik observasional dan dilakukan di Bagian IK.THT-KL/RS. Hasan Sadikin Bandung mulai Maret sampai September 2007. Dilakukan pemeriksaan audiometri, timpanometri, danemisi otoakustik (otoacoustic emission)/OAE sebelum radioterapi, serta pemeriksaan timpanometri serta OAE saat radioterapi dan satu bulan pascaradioterapi. Untuk menguji pengaruh radioterapi eksternal digunakan uji McNemar dan uji Z. Diperoleh 42 telinga dari 27 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi. Didapat 18 lakilakidan 9 perempuan. Hasil penelitian menunjukkan insidens gangguan fungsi sel rambut luar koklea sebesar 9,6% pada dosis 2.000 cGy, 61,5% pada 4.000 cGy, 81,1% pada 6.600 cGy, dan 82,8% satu bulan pascaradiasi. Hubungan gangguan fungsi sel rambut luar koklea memberikan nilai sangat bermakna pada dosis 4.000 cGy sampai 6.600 cGy (p<0,001). Kesimpulan penelitian radioterapi eksternal penderita karsinoma nasofaring menyebabkan gangguan fungsi sel rambut luar koklea.

Daya Antibakteri dan Waktu Kontak Infusa Teh Hijau (Camellia sinensis) Terhadap Salmonella typhi Secara In Vitro

Setiawan, Dione Margareth, Masria, Sadeli, Chrysanti, Chrysanti

Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 2 (2010)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

The hijau (Camellia sinensis) memiliki beragam efek farmakologik, di antaranya sebagai antibakteri. Salmonella typhi penyebab demam tifoid, masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara tropis terdapat 20 juta kasus dan 600.000 kematian per tahun di seluruh dunia. Penelitian ini ingin mengetahui daya antibakteri dan lamanya waktu kontak infusa teh hijau dari berbagai merek kemasan terhadap Salmonella typhi secara in vitro dengan menggunakan teknik difusi sumur, selanjutnya data dianalisis dengan ANAVA dan uji t-independen. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung pada bulan Maret-April 2009. Hasil menunjukkan infusa dengan konsentrasi 40% (b/v) kemasan komersial Indonesia memberikan rata-rata diameter daerah hambat 3,376±0,334 mm dan 3,571± 0,217 mm pada kemasan Jepang (p<0,05); 0,707±0,000 mm pada konsentrasi di bawah 40% rata-rata daerah hambat. Tidak terdapat perbedaan antara kemasan Indonesia dan Jepang (p>0,551). Terdapat kekeruhan pada media cair Muller-Hinton dibandingkan dengan media kontrol pada konsentrasi di bawah 40% Teramatinya pertumbuhan koloni S. typhi pada agar Muller-Hinton konsentrasi 5% dan 10%. Tidak teramati penurunan jumlah koloni S. typhi konsentrasi kurang atau sama dengan 40% pada pengamatan waktu kontak 0 sampai 60 menit (p>0,05; á=0,05). Kesimpulan menunjukkan teramatinya daya antibakteri infusa teh hijau pada kemasan dengan konsentrasi 40%. Belum teramatinya daya antibakteri infusa dan pengaruh waktu kontak positif pada reduksi pertumbuhan koloni S. typhi pada kemasan dengan konsentrasi di bawah 40%.Antibacterial Activities and Time Contact Green Tea Infussion (Camellia Sinensis) Againsts Salmonella Typhi by In VitroGreen tea (Camellia sinensis) contains cathecin which has been reported to have various pharmacologic properties, such as an antibacterial agent. Salmonella typhi, as agent of typhoid fever, remains a public health problem in tropical countries; about 20 million cases and 600.000 deaths annually all over the world. Objectives of this research were to observe the antibacterial activities and contact time of green tea infusion againsts Salmonella typhi by in vitro experiment. The experiment took place in Microbiology Laboratory, School of Medicine, Padjadjaran University, Bandung, March-April 2009. Methods: In vitro laboratory analytic study has been conducted on green tea infusion of Indonesian and Japanese commercial package againsts Salmonella typhi. The study used agar well diffusion method and analyzed by ANAVA and t-independent test. Results: Only at concentration of 40% (w/v), Indonesian green tea infusion gave an average inhibition area of 3.376±0.334 mm diameter, and 3.571±0.217 mm on Japanese package, while below 40% were 0.707±0.000 mm with no differences between both packages (p>0.551). There has been observed any turbidity in all Muller Hinton liquid media on both packages compared with control medium, also any growth of Salmonella typhi collony in all Muller Hinton agar at concentrations below 40%. Green tea infussion on both packages has been observed to have antibacterial activities at 40% but neither been observed at concentration below 40%.DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n2.10

Kematian Neonatal dan Bayi Lahir Mati serta Hubungannya dengan Kepercayaan dan Perilaku Masyarakat

Machmud, Rizanda ( Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Komunitas, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas ) , Yunarti, Yunarti ( Antropologi Kesehatan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Andalas, Padang )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 1, No 42 (2010)
Publisher : Majalah Kedokteran Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kabupaten Cirebon memiliki angka kematian ibu dan bayi yang tinggi. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk menurunkan angka tersebut, namun belum berhasil. Penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi yang lebih mendalam tentang keterkaitan kematian bayi lahir mati dan neonatal dengan latar belakang perilaku sertakepercayaan masyarakat tentang kehamilan, persalinan, dan perawatan bayi baru lahir di desa pesisir dan pedalaman. Pendekatan penelitian menggunakan paradigma gabungan antara kualitatif dan kuantitatif (mixed paradigm) dengan menggali informasi secara mendalam mengenai faktor predisposing, faktor enabling, dan faktor reinforcing kepercayaan serta perilaku masyarakat. Penelitian dilakukan di desa Weru Lor (pedalaman) dan Suranenggala (pesisir) di kabupaten Cirebon, Jawa Barat pada tahun 2006. Hasil penelitian menunjukkan adanya stigma-stigma yang melatarbelakangi perilaku tidak rasional dalam hubungannya dengan kematian bayi lahir mati dan neonatal. Tidak terdapat perbedaan kepercayaan antara desa pedalaman dan desa pesisir. Kesimpulan penelitian ini adalah perlunya kompetensi petugas kesehatan dalam penyebarluasan informasi rasional sehingga mampu menghilangkan stigma-stigma yang tumbuh dalam masyarakat.Relationship Between Neonatal Mortality and Still Birth with Believeand Behavior of Health SocietyCirebon´s district is one of highest infant mortality and maternal mortality rate. So many efforts have been done to reduce this rate but, it´s no effect yet. The etiology of these problems isn´t known. The aim of research was to discover deeper information about relationship between neonatal mortality and social behavior background and believe ofhealth society in pregnancy, delivery and antenatal care in mainland and coastal district. A qualitative and quantitative methods were used to exploring deeper information about predisposing, enabling, and reinforcing factors in health believe and behavior in society. Location of the study were in mainland (Weru Lor) and costal village (Suranenggala) in Cirebon-West Java in 2006. This research answered the reseach question, why neonatal death are happened and why health behavior in society seems irrational. There were stigmas in society that affectinfant mortality rate. The result of research showed there were existence of stigmas which was irrational background in its relation with infant and neonatal mortality. There were no difference of local culture, knowledge, and believe among mainland and coastal countryside. Conclusion of this research is the importance of provider of health competence in dissemination of rational information so that can eliminate stigmas which grow in society.

Tricuspid Annular Plane Systolic Excursion pada Bayi Kurang Bulan dan Cukup Bulan

Rahayuningsih, Sri Endah ( Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin ) , Garna, Herry ( Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 4 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Bayi kurang bulan adalah bayi yang lahir dengan usia kehamilan kurang dari 37 minggu. Dibandingkan dengan bayi yang lahir normal, bayi kurang bulan memang cenderung bermasalah. Dengan prematurnya masa gestasi, maka dapat menyebabkan ketidakmatangan pada semua sistem organ, termasuk organ kardiovaskular. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui fungsi ventrikel kanan yang diukur dengan metode tricuspid annular plane systolic excursion (TAPSE) serta fungsi ventrikel kiri dengan metode fraksi ejeksi dan fraksi pemendekan yang dilakukan dengan ekokardiografi pada bayi kurang bulan. Subjek penelitian ini bayi cukup bulan dan kurang bulan yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu bayi sesuai masa kehamilan berusia 3–30 hari. Penelitian merupakan penelitian deskriptif analitik dengan rancangan potong lintang yang dilakukan di Departemen Ilmu Kesehatan Anak RS Dr. Hasan Sadikin Bandung, selama Juli–Oktober 2010 dengan analisis statistik menggunakan perhitungan uji t, korelasi rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan antara fungsi ventrikel kanan yang diukur dengan metode TAPSE bayi kurang bulan dan bayi cukup bulan (p=0,006). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara fraksi ejeksi bayi kurang bulan dan cukup bulan (p=0,22) dan fraksi pemendekan rata-rata pada bayi kurang bulan dan bayi cukup (p=0,20). Simpulan penelitian ini, ditemukan perbedaan fungsi ventrikel kanan yang diukur dengan TAPSE pada bayi kurang bulan lebih rendah dibandingkan dengan bayi cukup bulan. [MKB.2011;43(4):178–82].Kata kunci: Bayi cukup bulan, bayi kurang bulan, ekokardiografi, fungsi ventrikel kanan, TAPSETricuspidAnnular Plane Systolic Excursion in Preterm and Term BabiesA preterm infant is a baby born with gestational age less than 37 weeks. Preterm babies tend to have problems compared to normal ones. Premature gestational age might result in immaturity of all organ systems of the body including cardiovascular organs. The aim of this study was to find out the right ventricle function by tricuspid annular plane systolic excursion (TAPSE) and left ventricle by ejection fraction and shortening fraction using echocardiography on preterm babies. The subject of this study were term and preterm babies who fulfilled the inclusion criteria: appropiate gestational age babies 3–30 days old. This was an analytic descriptive study with cross-sectional method held in Department of Child Health Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung during July–October 2010, and statistical analysis using t–test Spearman rank correlation test. The result of the study showed that the right ventricle function examined by TAPSE method was different on preterm compared to term babies(p=0.006). No significant difference was found in the ejection fraction between preterm and term babies (p=0.22) and so did the shortening fraction (p=0.20). It was concluded that there is a difference in the right ventricle function by TAPSE method between preterm (lower) and term babies. [MKB. 2011;43(4):178–82].Key words: Echocardiography, preterm baby, right ventricle function, TAPSE, term baby

Perbandingan Keberhasilan Vaginal Birth After a Cesarean (VBAC) pada Inersia Uteri Hipotonik dengan dan tanpa Pemberian Oksitosin Drip

Setiawan, Dani ( Departemen Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Sumedang, jalan Palasari 80 Sumedang ) , Krisnadi, Sofie Rifayani ( Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung ) , Sabarudin, Udin ( Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 44, No 2 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Percobaan persalinan per vaginam dapat menjadi pilihan untuk wanita yang sebelumnya pernah mengalami seksio sesarea. Percobaan yang berhasil dinamakan sebagai vaginal birth after a cesarean (VBAC). Kegagalan VBAC sering kali disebabkan karena terjadinya inersia uteri hipotonik. Augmentasi oksitosin drip bukan merupakan kontraindikasi, pemberian augmentasi oksitosin drip merupakan upaya untuk meningkatkan angka keberhasilan VBAC akan tetapi harus diberikan dengan pemantauan kontinu. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perbedaan keberhasilan VBAC pada inersia uteri hipotonik dengan dan tanpa pemberian oksitosin drip. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan uji klinik acak terkontrol (randomized clinical trial), terhadap 40 penderita dengan riwayat seksio sesarea di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Rumah Sakit Umum Daerah Sumedang, dan Rumah Sakit Astana Anyar yang memenuhi kriteria inklusi periode Maret–Mei 2009; dilakukan perbandingan dua kelompok, yaitu kelompok dengan oksitosin drip dan tanpa oksitosin drip. Karakteristik penderita, keberhasilan VBAC, dan komplikasi ibu serta keluaran neonatus dicatat sebagai data. Uji kemaknaan perbedaan dua proporsi dengan menggunakan chi-kuadrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan VBAC secara statistik tidak memperlihatkan perbedaan bermakna antara kelompok oksitosin drip (80%) dan tanpa oksitosin drip (60%) dengan nilai p=0,168 (p>0,05), tetapi dengan interval kepercayaan 95% keberhasilan VBAC dengan oksitosin drip lebih besar 1,71 (0,72–4,06). Komplikasi pada ibu dan neonatus yang timbul pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna. Simpulan, pemberian oksitosin drip pada kasus inersia uteri hipotonik meningkatkan keberhasilan VBAC. [MKB. 2012;44(2):114–20].The Successful Comparison of Vaginal Birth After a Cesarean (VBAC) on Hypotonic Uterine Inertia with and without Oxytocin InfusionTrial of labor after cesarean section can be a choice on maternity with cesarean history. The successful trial of labor is then called vaginal birth after a cesarean (VBAC). The failure on VBAC is often caused by hypotonic uterine inertia. Oxytocin infusion augmentation is not a contraindication; it is a solution for increasing success on VBAC with requisite continuing observation. The aim of this research was to determine the successful differences of VBAC on hypotonic uterine inertia with and without oxytocin augmentation. This research was an experimental study on randomized clinical trial, using 40 patients with history of cesarean section at Dr. Hasan Sadikin Hospital and two satellite hospitals (Sumedang and Astana Anyar) during March–May 2009 which fulfilled inclusion criteria divided into two groups; the group using oxytocin infusion and the group without oxytocin infusion. The patients’ characteristic, the success on VBAC and the maternal complication also neonatal condition were noted as encode. Chi-square test was used for statistical analysis. There was no statistical significant difference of success between the group used oxytocin infusion (80%) and the group without using oxytocin infusion (60%) with p>0.05 (p=0.168), but using confidence interval 95% showed the successful on VBAC with oxytocin infusion was greater 1.71 (0.72–4.06). The maternity and neonatal complication on two groups did not indicate a significant difference. In conclusion, using oxytocin infusion on hypotonic uterine inertia can increase the success on VBAC. [MKB.2012;44(2):114–20]. DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v44n2.130

Efek Probiotik pada Kadar IgA Mencit Model Sepsis

Prasetyo, Diding Heri, Purwanto, Bambang

Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 4 (2010)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Probiotik berfungsi sebagai imunomodulator dan imunonutrisi pada penderita penyakit kritis seperti sepsis, tetapi mekanismenya belum diketahui secara pasti. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efek pemberian probiotik pada kadar IgA mencit model sepsis di Rumah Sakit dr. Moewardi/Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta periode Juli 2009–2010. Hewan uji berupa 18 ekor mencit Balb/C jantan yang dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok I tanpa diberi perlakuan (kontrol negatif), kelompok II adalah mencit model sepsis yang diinokulasi dengan lipopolisakarida (LPS)-E.coli (0,4 mg/mencit/i.p.), dan kelompok III adalah mencit model sepsis yang diinokulasi dengan LPS-E.coli serta diberi probiotik. Kadar IgA serum diperiksa dengan menggunakan ELISA. Data dianalisis secara statistik dengan one way ANOVA. Kadar IgA serum pada kelompok mencit normal 35,82±4,55 ng/mL. Pemaparan LPS-E.coli menurunkan kadar IgA serum menjadi 6,20±5,80 ng/mL. Pemberian probiotik pada mencit model sepsis, mampu meningkatkan kadar IgA serum menjadi 65,07±34,97 ng/mL. Probiotik secara bermakna meningkatkan kadar IgA serum dibandingkan dengan kelompok mencit sepsis (65,07±34,97 ng/mL vs 6,20±5,80 ng/mL, p=0,000). Simpulan, pemberian probiotik meningkatkan kadar IgA serum pada mencit model sepsis. [MKB. 2010;42(4):175–80].Kata kunci: IgA, probiotik, sepsisThe Effect of Probiotic on IgA Level in Mice Model of SepsisProbiotic is useful as immunomodulator and imunonutrition in patients with critical illness such as sepsis, but the mechanism is not entirely clear. This study was aimed to evaluate the effect of probiotic on serum IgA level in mice model of sepsis in dr. Moewardi Hospital/Faculty of Medicine, Universitas Sebelas Maret Surakarta period July 2009–2010. Eighteen males Balb/C mice were used and divided into three groups. Group I without treatment (negative control), group II which was mice model of sepsis inoculated with lipopolysaccharide (LPS)-E.coli (0.4 mg/mouse/ip), and group III was mice model of sepsis inoculated with E. coli LPS-and given probiotic. Serum IgA level was examined by ELISA. Data were analyzed statistically with one-way ANOVA. Serum IgA levels in normal mice group was 35.82±4.55 ng/mL. Exposing LPS-E. coli reduced the levels of serum IgA to 6.20±5.80 ng/mL. Administration of probiotics increased the serum IgA level to 65.07±34.97 ng/mL in mouse models of sepsis. Probiotics significantly increased serum IgA levels compared to mice model of sepsis group (65.07 ± 34.97 ng / mL vs. 6.20 ± 5.80 ng / mL, p = 0.000). In conclusion, administration of probiotics can increase the levels of serum IgA in mice model of sepsis. [MKB. 2010;42(4):175–80]. DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n4.33

Khasiat Proteksi Madu terhadap Kerusakan Hepar Tikus yang Diinduksi Etano

Muhartono, - ( Bagian Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, jalan Soemantri Brojonegoro 1 Bandar Lampung ) , D, Larasati N. ( Bagian Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, jalan Soemantri Brojonegoro 1 Bandar Lampung ) , Hanriko, Rizki ( Bagian Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, jalan Soemantri Brojonegoro 1 Bandar Lampung ) , Sutyarso, Sutyarso ( Bagian Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, jalan Soemantri Brojonegoro 1 Bandar Lampung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 45, No 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Madu merupakan salah satu produk lebah madu yang sering digunakan sebagai obat sejak zaman dahulu. Madu memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi, namun penelitian untuk mengetahui efek protektifnya terhadap kerusakan hepar akibat etanol belum dilakukan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek protektif madu terhadap kerusakan hepar tikus yang diinduksi etanol. Penelitian ini dilaksanakan pada November 2011 di laboratorium Farmakologi dan Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. Penelitian eksperimental laboratorik ini menggunakan rancangan acak lengkap terhadap 25 ekor tikus yang dibagi menjadi lima kelompok. Kelompok 1: kontrol; kelompok 2: etanol; kelompok 3, 4, dan 5: madu + etanol. Etanol 0,01 mL/ gBB diberikan per oral kepada kelompok 2, 3, 4, dan 5 selama 14 hari. Kelompok madu + etanol diberi madu per oral dosis 0,0018 mL/gBB, 0,0054 mL/gBB, dan 0,016 mL/gBB 1,5 jam sebelum pemberian etanol. Sampel hepar diambil untuk pemeriksaan histopatologi. Parameter kerusakan hepar berupa degenerasi lemak. Hasilnya menunjukkan etanol menyebabkan degenerasi lemak dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kelompok 3, 4, dan 5 menunjukkan penurunan degenerasi lemak secara bermakna (p<0,050; p<0,001; p<0,001). Perbaikan terlihat jelas pada kelompok 5. Simpulan, madu berefek protektif terhadap kerusakan hepar tikus. [MKB. 2013;45(1):16–22]The Protective Effect of Honey on Ethanol-Induced Liver Injury in RatsHoney is one of the honeybee’s’ products which are often used as medicine since a long time ago. Honey has a high antioxidant activity, but studies to investigate its protective effect on ethanol-induced liver injury have not been carried out in Indonesia. The aim of this study was to investigate the protective effect of honey on ethanol-induced rat liver injury. This study done conducted in the Pharmacology and Pathology laboratory in November 2011. This experimental laboratory study used randomized complete design on 25 rats divided into five groups. Group 1: control; group 2: ethanol; group 3, 4 and 5: honey + ethanol. Ethanol 0.01 mL/g body weight was given orally to group 2, 3, 4 and 5 for 14 days. Honey + ethanol groups were given honey at a dose of 0.0018 mL/g body weight, 0.0054 mL/g body weight, and 0.016 mL/g body weight orally at 1.5 hours prior to ethanol administration. Liver samples were taken for histopathological examination. The parameter of liver injury was fatty degeneration. The results showed that ethanol induced fatty degeneration compared to control group. Group 3, 4 and 5 showed significantly decreased fatty degeneration (p<0.050, p <0.001, p <0.001). The improvement was prominent in group 5. In conclusion, honey has a protective effect on rat liver injury. [MKB. 2013;45(1):16–22] DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v45n1.94

Page 2 of 65 | Total Record : 648