cover
Filter by Year
Language Horizon
ISSN : -     EISSN : -
Articles
130
Articles
OVERGENERALISATION PERSPECTIVE: THE EFFECT OF MISPRONUNCIATION PRODUCED BY JAPANESE GAMERS IN ONLINE COMPETITIVE GAME

AKBAR PUTRA, MISBACHUDDIN

Language Horizon Vol 6, No 1 (2018): Volume 6 tahun 2018
Publisher : Language Horizon

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak Sebagai artefak di era modern, video game saat ini mampu menjadi salah satu dari budaya popular, Di era baru permainan multiplayer penggunaan sistem Voice Chat (VC) menjadi umum dikalangan pemain permainan digital. Semenjak kemunculannya di konsol milik Sega, Dreamcast VC menjadi salah satu fitur utama permainan online. Sejarah VC menunjukkan bahwa sistem ini lahir di Jepang yang merupakan rumah bagi banyak perusahaan permainan digital Pada 2018 Jepang menduduki peringkat ketiga dari seratus negara dengan pemasukan dari permainan digital terbanyak. Hal ini menunjukkan bahwa pemain dari Jepang sangat banyak hingga menjadi salah satu sumber pemasukkan negaranya. Salah satu permainan digital berbasis jaringan yang diteliti adalah Tom Clancy’s Rainbow Six Siege, sebuah permainan berbasis menembak dalam sudut pandang orang pertama yang diproduksi oleh Ubisoft. Mengingat bahwa permainan ini memiliki basis pemain dari seluruh dunia, maka ada kemungkinan pemain dari Jepang akan bertemu dengan pemain dari negara lain yang memiliki latar belakang bahasa yang berbeda. Untuk menjaga komunikasi, Bahasa Inggris digunakan untuk saling bertukar informasi antar pemain (callouts) karena Bahasa Inggris adalah lingua franca. Permasalahan yang muncul atas penggunaan Bahasa Inggris sebagai bahasa utama adalah banyaknya pemain asal Jepang yang tidak bisa mengucapkan bahasa Inggris dengan lancar dan masih menggunnakan aturan bahasa Jepang saat berbicara bahasa Inggris. Penelitian ini menampilkan bagaimana pemain Jepang melakukan callouts dalam bahasa Inggris ketika bermain Tom Clancy’s Rainbow Six Siege. Berdasarkan teori Brown tentang generalisasi suara, diindikasikan adanya tiga macam generalisasi yang terjadi pada pemain Jepang saat melakukan callouts yaitu generalisasi berdasarkan bunyi, tulisan, dan campuran keduanya. Ada juga masalah yang timbul karena generalisasi yang mengakibatkan kebingungan pada saat callouts. Kata Kunci: Esports, Callouts, Overgeneralisasi, Segmental, Tom Clancy’s Rainbow Six Siege Abstract As a modern human’s artefact, video game is one of nowadays pop culture. With many innovations towards gaming since the invention of the first game “Tennis for two” in 1958, video game developer tries their best to comes with a new idea of gaming technology. In the new era of Multiplayer Game, the term of voice chat (VC) has become common in the community. Since its first appearance in the year 2000 in Sega console Dreamcast, VC becomes the main feature of online gaming. The history of VC comes from Japan which also a country where there many big game companies founded. In 2018 Japan placed in the third place out of hundred counties with high gaming revenue which means that there is much Japanese player in many available online games. One of the online competitive games is Tom Clancy’s Rainbow Six Siege, a First Person Shooting (FPS) game produced by Ubisoft. Since this is an online based game with many players around the world, there is a chance when a Japanese player meeting with a player from another country with a different language. To maintaining communication, the English language is used to exchanging information to each other (callouts) since English is lingua franca. The problem is not many Japanese players could speak English fluently, yet they still use the rules of Japanese language as their primary to speak English. This research shows how Japanese players are doing callouts in the English language while playing Tom Clancy’s Rainbow Six Siege. Brown’s theory of sound generalisation is used to indicate their generalisation. It founded that the generalisation happens in Japanese gamers are based on three types of generalisation which are by sound, orthography, and mixed. There are some problems occur because of generalisation that could give confusion in understanding callouts. Keywords: Esports, Callouts, Overgeneralization, Segmental, Tom Clancy’s Rainbow Six Siege

HEDGES IN INTERVIEW OF SUNDAY TELEVISION PROGRAM JULIA GILLARD

MILADIYAH, ZAKIYATUL, ARIYANTI, LISETYO

Language Horizon Vol 6, No 1 (2018): Volume 6 tahun 2018
Publisher : Language Horizon

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract This study examines the use of hedges in politic field, especially in interview of Sunday television program that has focus in Julia Gillard’s Utterances. The purpose of this study is to find out and describe about the types of hedges expressions and how do hedges expressions serve a function in Julia Gillard’s responds in the interview by using theories of Francoise Salager-Meyer in Miller (1994) about the typology of hedges expressions, and the function of hedges expressions. The method that is used in this research is quantitative method which is focused in analyzing the use of hedges in an interview of Julia Gillard’s at Sunday program. The result shows that the types of hedges mostly used in the interview are modal auxiliary verbs, such as can, could, will, would, should and shouldnot. The other types of hedges belong to modal lexical verbs; adjectival, adverbial, and nominal modal phrase; approximators of degree, quantity, frequency, and time; introductory phrases; and if clause. In this research the compound hedges type does not be found. While the functions are minimize the threat to face; ways of being more precise in reporting result; and as a politeness strategy. It is also possible that in each of the functions contain some of hedges types.Keywords: Hedges, Forms of Hedges, Kind of hedges Used by Julia Gillard, Sunday ProgramAbstrakPenelitian ini meneliti hedges di bidang politik, terutama dalam wawancara program televisi hari Minggu yang berfokus pada ucapan Julia Gillard. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menjelaskan tentang jenis-jenis hedges dan bagaimana fungsi hedges bekerja dalam respon Julia Gillard dalam wawancara dengan menggunakan teori-teori Francoise Salager-Meyer dalam Miller (1994) tentang tipologi hedges, dan fungsi hedges. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif yang difokuskan dalam menganalisis penggunaan hedges dalam wawancara dengan Julia Gillard di Sunday program. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hedges yang paling banyak digunakan dalam wawancara adalah kata kerja modal tambahan, seperti can, could, will, would, should, danshould not. Hedges lainnya termasuk modal kata kerja leksikal; frase modal kata sifat, kata keterangan, dan nominal; perkiraan derajat, kuantitas, frekuensi, dan waktu; frasa pengantar; dan jika klausa. Dalam penelitian ini, tipe gabungan hedges tidak ditemukan. Sementara fungsi hedges dalam ucapan Julia Gillard adalah meminimalkan ancaman yang akan dihadapi; cara lebih tepat dalam melaporkan hasil; dan sebagai strategi kesopanan. Dalam hal ini, memungkinkan bahwa di masing-masing fungsi bisa terdiri dari beberapa jenis hedges.Kata kunci: Hedges, Bentuk Hedges, Jenis Hedges yang Digunakanoleh Julia Gillard, Program Minggu

MISPRONUNCIATION OF JAVANESE SEGMENTAL SOUNDS PRODUCED BY AUSTRALIANS IN VIDEOS ENTITLED BAHASA JAWA RASA BULE 1 AND BAHASA JAWA RASA BULE 2

WAHYU SRI UTAMI, ALFIAH

Language Horizon Vol 6, No 1 (2018): Volume 6 tahun 2018
Publisher : Language Horizon

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract This study investigates mispronunciation of Javanese segmental sounds produced by twelve Australians in two videos entitled ‘Bahasa Jawa Rasa Bule 1’ and ‘Bahasa Jawa Rasa Bule 2’. The aims of this study are to figure out kinds of mispronunciation applied by the subjects, the factors that influenced mispronunciation, and intelligibility of mispronunciation in carrying the message. This study applied qualitative research design because it provides explanation in understanding phenomena of foreigners who speak Javanese in two videos taken from youtube. The results shows that the subjects has problem in pronouncing ten Javanese vowel sounds: [ə], [e], [U], [ɔ], [i], [ɪ], [a], [u], [ɛ], and [o]. While in consonant sounds category, the subjects has problem in pronouncing seven Javanese consonant sounds: [Ɂ], [r], [d], [n], [t], [c], and [ŋ]. Substitution rules applied by all subjects while the two others rules named segment insertion/segment deletion and metathesis are only applied by some of them. Factors influenced mispronunciation of Javanese segmental sounds are: lack of knowledge of Javanese language and phonology, the differences between Javanese and English system, the age of acquiring Javanese as foreign language, and the frequency of the subjects using Javanese in communication. In terms of the message of the mispronounced sounds which can be understood, there are two categorize applied: intelligible and unintelligible. Intelligible stands for the mispronounced sounds which can be recognize and understood while unintelligible is vice versa. Subject 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, and 12 are considered as intelligible while the rest two subjects named subject 10 and subject 11 are considered as unintelligible. Keywords: mispronunciation, Javanese, Australians Abstrak Penelitian ini mengusut kesalahan pelafalan unit bunyi bahasa Jawa yang dituturkan oleh duabelas orang Australia dalam dua video yang berjudul ‘Bahasa Jawa rasa Bule 1’ dan ‘Bahasa Jawa Rasa Bule 2’. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis kesalahan pelafalan yang diterapkan oleh subjek penelitian, faktor-faktor yamg mempengaruhi kesalahan pelafalan, dan kejelasan kesalahan pelafalan dalam membawa pesan. Penelitian ini didesain secara kualitatif untuk memberikan penjelasan tentang fenomena orang-orang asing yang berbicara bahasa Jawa dalam dua video yang diambil dari youtube. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek penelitian mempunyai kesulitan dalam melafalkan sepuluh vokal bahasa Jawa: [ə], [e], [U], [ɔ], [i], [ɪ], [a], [u], [ɛ], dan [o]. Sementara pada bunyi konsonan, subjek penelitian mempunyai kesulitan dalam melafalkan tujuh bunyi konsonan bahasa Jawa: [Ɂ], [r], [d], [n], [t], [c], dan [ŋ]. Kaidah subtitusi diterapkan oleh semua subjek, sementara dua kaidah lainnya yakni penambahan atau pengurangan unit dan kaidah metatesis hanya diterapkan oleh beberapa subjek. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesalahan pelafalan unit bunyi bahasa Jawa antara lain: kurangnya pengetahuan tentang kebahasaan dan fonologi bahasa Jawa, perbedaan sistem antara bahasa Inggris dan bahasa Jawa, usia saat memperoleh bahasa Jawa sebagai bahasa asing, dan frekuensi penggunaan bahasa Jawa dalam komunikasi yang dilakukan oleh subjek penelitian. Dalam hal kesalahan pelafalan bunyi bahasa yang masih bisa dimengerti, terdapat dua kategori yang diterapkan yaitu: dapat dimengerti dan tidak dapat dimengerti. Kategori dapat dimengerti dimaksudkan untuk kesalahan pelafalan bunyi bahasa yang masih bisa dikenali dan dipahami, sementara kategori tidak dapat dimengerti dimaksudkan sebaliknya. Subjek 1,2,3,4,5,6,7,8,9, and 12 dikategorikan dapat dimengerti, sementara dua subjek lainnya yakni subjek 10 dan subjek 11 dikategorikan tidak dapat dimengerti. Kata kunci: kesalahan pelafalan, bahasa Jawa, penutur Australia

GAYA BICARA ORANG KULIT PUTIH KEPADA ORANG KULIT HITAM DAN SEBALIKNYA DALAM FILM "12 YEARS A SLAVE"

WAHYU SETYADJI, DENNY

Language Horizon Vol 6, No 1 (2018): Volume 6 tahun 2018
Publisher : Language Horizon

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract Speech style is a variation of speech which is used when people have a conversation with the others. In the middle of 18th century in America when people was divided by their skin color, white people with their privilege and black people who got a slavery system. In those era, white people and black people would have a variation of speech style being used. In this study the characters that being analysed werewhite people and Black people in the movie.They are the main focus in this study. Hence, the writer intends to analyse 1) What types of speech style are used by white people to black people characters and vice versa in 12 Years A Slave movie ?and 2) How does social context in the middle of 18th century in America influence speech style used in 12 Years A Slave movie?This study was conducted by using qualitative method and speech situation proposed by Dell Hymes where the setting and scene, participants, ends, act sequences, key, instrumentalities, norms of interaction and interpretation, and genre are considered to determine someone speech style. Then, the result gotten from this study shows that are 5 data of formal style, 37 data of consultative style, and 2 data of casual style. There are no frozen style and intimate style found in the “12 Years A Slave” movie. The majority of speech style that being used is consultative style. Keywords : SpeechStyle, Social Context, White People, Black People,12 Years A Slave Abstrak Gaya bicara adalah variasi dari bicara yang di gunakan saat seseorang sedang berkomunikasi denga orang lain. Di pertengahan abad ke 18 di Amerika, ketika orang – orang di bedakan dari warna kulit mereka, orang kulit putih dengan kekuasaannya dan orang kulit hitam yang menjadi budak mereka. Di era tersebut, orang kulit putih dan juga orang kulit hitam pasti memiliki banyak variasi dalam gaya berbicara mereka yang merek gunakan. Dalam penelitian ini karakter yang akan di teliti adalah orang kulit putih dan orang kulit hitam yang ada di dalam film tersebut. Mereka adalah fokus utama dalam penelitian ini. Oleh sebab itu, penulis bertujuan untik menganalisis 1) apa tipe gaya berbicar yang orang kulit putih kepada orang kulit hitam dan sebaliknya di dalam film “12 Years a Slave”? dan 2) bagaimana konteks sosial di pertengahan abad ke 18 di Amerika dapat mempengaruhi gaya berbicara yang ada di dalam film “12 Years a Slave”?. Penelitian ini di lakukan dengan menggunakan metode kualitatif dan situasi berbicara yang di kemukakan oleh Dell Hymes dimana setting dan scene, orang yang berpartisipasi, akhir dari komunikasi, tindakan yang di timbulkan, alat, norma berinteraksi dan interpretasi, dan genre merupakan hal yang di pertimbangkan untuk menentukan gaya berbicara seseorang. Dan hasil yang di dapatkan di dalam penelitian ini menunjukan bahwa terdapat 5 data gaya formal, 37 data gaya konsultatif, dan 2 data gaya kasual. Gaya baku dan intim tidak di temukan di dalam film “12 Years a Slave”. Kata Kunci : Gaya Bicara, Konteks Sosial , Orang Kulit Putih, Orang Kulit Hitam,12 Years A Slave

Lexical Relation Analysis Referring to Muslims on Donald Trump’s Speech; Ban All Muslims Travel to United States of America

YAQIN, HUSNUL

Language Horizon Vol 6, No 1 (2018): Volume 6 tahun 2018
Publisher : Language Horizon

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstract This research reviews Donald Trump’s dictions which refer to Muslims in his campaign speech. He keeps arguing that terrorism attacks in America are mostly performed by Muslims which leads to be one of his campaign concerns on banning Muslims travel to America. It becomes issue of debate over the world since the policy program hits sentimental field. Thus, knowing how the tight-loose expression level of them turns to be the interest of this study. The study focuses on semantic relation theory by Riemer and uses qualitative method to reveal the goal. There are various lexical relation terms arise over Donald Trump’s dictions to refer Muslims. They provide variant meanings which can be variation terms to use by speaker. Those terms come over four lexical relations, Antonym, Synonym, Meronym and Hyponym. Donald Trump tended to use tighter meaning words to address Muslims. Hyponymy covers more semantic components than others on componential analysis which indicates looser meaning among others. While in turn, Donald Trump should not use antonymy form to avoid misunderstanding on his audiences. It also indicates tighter meaning since it mostly does not cover any component.

BILL PORTER’S SPEECH STYLE IN DOOR TO DOOR MOVIE: SOCIOLINGUISTICS PERSPECTIVE

WULANDARI, YENNI, Setiawan, Slamet

Language Horizon Vol 4, No 2 (2016):
Publisher : Language Horizon

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak Kesuksesan dalam penjualan produk ditentukan oleh kesuksesan individual dalam berkomunikasi. Pelanggan bisa memberikan respon baik atau buruk berdasarkan gaya bahasa dan kejelasan ucapan yang disampaikan oleh seorang salesman. Penelitian ini menganalisis gaya bahasa seorang salesman yang mengidap penyakit cerebral palsy karena banyak orang yang meremehkan kemampuannya dalam hal berkomunikasi. Penelitian ini menggunakan teori milik Joos (1967), Hymes (1974), dan Maassen & Povel (1985) untuk menjawab rumusan masalah berdasarkan pandangan sosiolinguistik. Deskriptif kualitatif digunakan dalam penelitian ini untuk menjelaskan bagaimana orang yang mengidap penyakit cerebral palsy membentuk gaya bahasa mereka dan faktor yang mempengaruhi mereka menggunakan gaya bahasa tertentu dalam berkomunikasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa kejelasan ucapan orang yang mengidap cerebral palsy menurun jika kalimat yang diucapkan semakin panjang. Hal itu di sebabkan penyakit cerebral palsy mempengaruhi sistem gerak otot disekitar mulut saat orang yang mengidap penyakit cerebral palsy memproduksi suatu ucapan. Sehingga, penderita lebih banyak menggunakan gaya bahasa casual untuk menciptakan komunikasi yang baik dengan lawan bicara.  Kata Kunci:gaya bahasa, film Door to Door, salesman, cerebral palsy, Sosiolinguistik Perspektif   Abstract Successful selling depends on successful interpersonal communication. Positive or negative response from the customer to the salesman depends on the use of speech style and the intelligibility of the utterances. This study analyses the speech style of door to door salesman who has cerebral palsy in Door to Door movie. This is due to the fact that many people underestimate the ability of cerebral palsy person especially in communication. Joos (1967), Hymes (1974), and Maassen & Povel (1985) theories are employed to analyse research questions in this study, based on sociolinguistics perspective. Descriptive-qualitative is applied in this study to describe the way how cerebral palsy person constructs his speech style and the factors trigger him to use certain type of speech style in conversation. This study found that the intelligibility of cerebral palsy person decreased when utterance length increased. It is because cerebral palsy affects muscle control around the mouth when he produces the utterance. The result confirms that casual style is the most style used by cerebral palsy person to build up successful communication with the interlocutor. Keywords: speech style, Door to Door Movie, salesman, cerebral palsy, Sociolinguistics perspective  

INTERCULTURAL NONVERBAL COMMUNICATION AMONG PLAYERS OF MANCHESTER UNITED FOOTBALL CLUB IN ENGLAND

KUMALA B, PRAMESTI, Setiawan, Slamet

Language Horizon Vol 4, No 2 (2016):
Publisher : Language Horizon

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak Permasalahan sederhana yang terjadi di sepak bola Liga Inggris adalah mengenai bahasa yang digunakan  oleh pemain lokal Inggris dan luar Inggris. Sebuah klub seperti Manchester United yang memiliki hampir setengah persentase dari keseluruhan skuad tentu mengalami permasalahan seperti ini. Beberapa pemain luar Inggris tidak familiar dengan berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris secara verbal akan menyebabkan bahasa sebagai penghalang di dalam tim. Komunikasi nonverbal antar budaya adalah media untuk sekelompok individu dengan bermacam kewarganegaraan dan penghalang bahasa dalam situasi tertentu. Dalam proses tersebut melibatkan bahasa tubuh yang dimengerti secara semi-universal oleh anggota kelompok. Highlight pertandingan dari musim 2012/2013 hingga musim 2015/2016 adalah fokus utama dalam studi ini. Dokumentasi menjadi instrumen dalam studi ini, sedangkan metode deskriptif kualitatif digunakan untuk mengalisis data. Hasil dari studi menunjukkan bagaimana pemain membangun komunikasi di dalam lapangan. Sumber data adalah screenshot yang diambil dari video highlight pertandingan maupun individual diunduh dari Youtube dan alamat web klub. Kata Kunci: komunikasi antar budaya, komunikasi dalam lapangan, Manchester United.   Abstract A cliché complication in English Premier League football is about languages which are used by English and non-English players. A club like Manchester United which possess nearly half percentage of non-English players in the whole squad certainly have this problem. Several non-English players are not quite familiar in communicating verbally in English. It surely emerges language barrier among the players. Intercultural nonverbal communication is a medium for a group of individuals with assorted nationalities and language barrier to communicate in particular circumstances. Match highlights from season 2012/2013 until 2015/2016 are the main focus in this study. Documentation is the instrument for this study. It applies descriptive qualitative method in analysing the data. The results of the study show how players build up their communication whilst playing with nonverbal behaviours. Keywords: Intercultural communication, on-the-pitch communication, Manchester United.

CONVERSATIONAL IMPLICATURE AS THE REPRESENTATIVE OF THATCHER-INTERLOCUTORS RELATIONSHIP IN IRON LADY MOVIE

SELA ARDINE, LYDIA, Ariyanti, Lisetyo

Language Horizon Vol 4, No 2 (2016):
Publisher : Language Horizon

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implikatur percakapan yang digunakan oleh Margaret Thatcher berdasarkan hubungan Thatcher dengan lawan bicaranya. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana Thatcehr menyampaikan implikatur percakapan dan bagaiman dia membentuk implikatur melalui hubungan solidaritas yang terjalin antara dia dan lawan bicara. Subjek dari penelitian adalah Margaret Thatcher sebagai karakter utama dalam film Iron Lady. Data yang digunakan dalam penelitian ini diambil dari ucapan Thatcher yang diklasifikasikan berdasarkan teori milik Grice (1975) tentang implikatur dan teori milik Holmes (1992) tentang social distance. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa Thatcher menyampaikan implikatur menggunakan violating maksim dari kuantitas karena dia ingin membuat knotribusi ucapannya tidak spesifik. Dia juga menggunakan maksim dari kualitas untuk menunjukan kontribusi ucapannya agar terlihat salah.  Selain itu, maksim dari relavansi digunakan untuk menunjukan bahwa Thatcher ingin membuat kontribusi ucapannya tiodak relevan, dan di juga melakukan violate maksim cara untuk menunjukan eskspresi yang tidak jelas. Penelitian ini juga menunjukan bahwa partisipan dalam percakapan menetukan jenis implikatur yang akan digunakan. Generalized implicature adalah tipe yang paling banyak digunakan oleh Thatcher ketika dia berbicara dengan orang-orang yang tidak dekat karena tidak membutuhkan pengetahuan khusus antara partisipan, sedangkan particularized implicature banyak di ucapkan oleh Thatcher untuk menyampaikannya kepada orang-orang terdekat karena tipe ini membutuhkan pengetahuan khusus yang harus diketahui oleh partisipan yang mengindikasikan bahwa hubungan mereka terjalin dekat satu sama lain. Kata kunci: ucapan, sistem kerjasama,film Iron Lady, implikatur percakapan. Abstract The aim of this study is to analyze conversational implicature that are used by Margaret Thatcher through Thatcher-interlocutors relationship. The questions are about how she delivered her conversational implicature, and  how she generated her implicature through high solidarity and low-solidarity relationship among them. The subject of this study is Margaret Thatcher as the main character in movie: IRON LADY. The data  are taken in Thatcher’s utterances that are classified by Grice’s theory of implicature, and Holmes’s theory of social distance. The method of this study is qualitative approach.As the results, it is found that the ways she delivered her implicature are violating maxim quantity since she wanted to make her contribution is not specific, she violated maxim of quality in order to make her contribution be false, then violated maxim of relevance since she wanted to make her contribution is not relevant , and violated  maxim of manner since she wanted to make an obscurity of expression. It is also found that the use of types of her implicature depends on the participants. Generalized implicature is mostly used by Thatcher when she tlked with low-solidarity people since it does not need any specific knowledge, while particularized implicature is mostly used when she talked with high solidarity people since it needs specific context that indicates the participants in conversation are connected each other. keywords: utterance, cooperative principle, Iron Lady’s movie, conversational implicature

TRANSITIVITY AND IDEOLOGY IN EMMA WATSON’S SPEECH FOR THE HEFORSHE CAMPAIGN (CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS)

MAHARANI HEMAS, SELA, Ariyanti, Lisetyo

Language Horizon Vol 4, No 2 (2016):
Publisher : Language Horizon

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak Penelitian ini fokus terhadap analisis transitivitas dan ideologi dalam pidato Emma Watson untuk kampanye HeForShe dengan menggunakan kerangka teoritis analisis wacana kritis Fairclough. Sistem transitivitas yang dikemukakan oleh Halliday juga digunakan sebagai alat untuk menganalisis data linguistik yang telah diangkat oleh Faiclough dalam kerangka teoritis analisis wacana kritisnya. Hasil analisis menunjukan bahwa diantara enam tipe proses transitivitas yang disebutkan oleh Halliday, hanya terdapat lima proses yang digunakan oleh Emma Watson dalam pidatonya, yaitu proses material, proses mental, proses verbal, proses wujud, dan proses relasional. Proses relasional paling sering digunakan oleh Emma Watson untuk menggolongkan dan mendeskripsikan dirinya sebagai salah satu pejuang hak-hak wanita (feminists). Proses ini juga digunakan untuk menegaskan pandangannya terhadap feminisme, kesetaraan gender, dan persatuan. Emma Watson menginginkan masyarakat untuk memiliki pandangan yang lebih tepat terhadap feminisme dan gerakan pejuang hak-hak wanita bahwa hal-hal tersebut bukan tentang membenci kaum pria, namun untuk memperjuangkan hak-hak wanita dan sebagai usaha untuk mencapai kesetaraan gender. Berbicara mengenai keinginan besarnya untuk mencapai kesetaraan gender, dia juga menekankan dalam pidatonya bahwa ketidaksetaraan gender adalah sebuah masalah yang serius yang harus dipecahkan, tidak hanya oleh kaum wanita, namum kaum pria juga sebagai kunci bagi kesuksesan mereka, sehingga gagasan mengenai persatuan juga digambarkan di sini. Untuk menyampaikan pandangannya dan mempengaruhi masyarakat sehingga memiliki pemikiran yang sama seperti dirinya, proses mental merupakan proses lain yang sering digunakan dalam pidatonya, disusul oleh proses material. Proses-proses tersebut digunakan untuk mendukung gagasan yang telah dinyatakan melalui proses relasional sehingga dia dapat meyakinkan masyarakat dan mendapat simpati mereka dengan menunjukan perasaan, pemikiran, keinginan, dan aksi-aksinya yang telah dilakukan sebagai bukti. Tipe-tipe lainnya yaitu proses verbal dan proses wujud jarang digunakan, sedangkan proses tingkah laku tidak ditemukan. Kata Kunci: pidato, wacana, analisis wacana kritis, transitivitas, ideologi Abstract This research focuses on the analysis of transitivity and ideology in Emma Watson’s speech for the HeForShe campaign by using Fairclough’s theoretical framework of critical discourse analysis. Transitivity system that is proposed by Halliday is also used as the tool to analyze the linguistic data which has been adopted by Fairclough in his critical discourse analysis framework. The results show that among six types of transitivity processes which are mentioned by Halliday, there are only five processes that are used by Emma Watson in her speech, those are; material process, mental process, verbal process, existential process, and relational process. Relational process is mostly used by Emma Watson in order to classify and describe herself as one of feminists. It is also used to define her views toward feminism, gender equality, and unity. Emma Watson wants people to have more correct views toward feminism and feminist movements that it is not about man-hating but to fight for women’s rights and as the effort to achieve gender equality. Talking about her big pretention to achieve gender equality, she also emphasizes in her speech that gender inequality is a serious problem that has to be solved, not only by women, but men’s supports are also as the key to their success, so that the idea of unity is also represented here. In order to deliver her views and to influence people to have similar thought as her, mental process is another type that is used mostly in her speech, followed by material process. Those processes are used to support the idea that she has stated through relational process so that she can convince people and get their sympathy by showing her emotion, thinking, inclination, and also any actions that have been done by her as proofs. The other types, which are verbal process and existential process are rarely used, while behavioral process is not found. Key words: speech, discourse, critical discourse analysis, transitivity, ideology

FLOUTING MAXIMS TO CREATE HUMOR IN MOVIE THIS MEANS WAR

AGUSTINIA, MAULIDA, Ariyanti, Lisetyo

Language Horizon Vol 4, No 2 (2016):
Publisher : Language Horizon

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Abstrak Dalam studi pragmatik, adanya humor di dalam sebuah percakapan dapat disebabkan oleh pelanggaran pada maksim percakapan. Pelanggaran pada maksim percakapan ini akan berorientasi pada situasi yang komikal yang akan membuat sebuah percakapan menjadi lucu. Studi ini dilakukan untuk menemukan bagaimana melanggar maksim percakapan digunakan untuk menciptakan humor. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan bahwa humor dalam film This Means War adalah hasil dari melanggar maksim percakapan. Penelitian ini mencari jenis maksim apa saja yang dilanggar dan mengeksplorasi bagaimana karakter melanggar maksim percakapan. Data penelitian ini diambil dari percakapan berisi humor diantara empat karakter utama dalam film yang dipilih Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam menciptakan humor, karakter melanggar keempat maksim percakapan. Maksim kualitas adalah yang paling sering dilanggar untuk membuat percakapan humoris dan karakter menggunakan konsep retoris overstatement di sebagian besar pelanggaran. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pandangan dan informasi tambahan dalam studi humor di bidang pragmatik untuk peneliti selanjutnya yang tertarik untuk mempelajari humor. Kata Kunci: melanggar maksim, humor, implikatur, konsep retoris.   Abstract In pragmatics, the existence of humor in conversation can be compelled by flouting four conversational maxims. The flouting of the maxims will result in ludicrous situation that will make the conversation become humorous. This study involves discovering how flouting conversational maxims are used to create humorous conversation. The aim of this study is to show that the humors in comedy-romance movie This Means War are the result of flouting the maxims. This study examines the type of maxims flout in the movie and explores how the characters flout the maxims. The data of this study are taken from the humorous conversation withhold by four main characters in This Means War  movie. The results show that in delivering the humor characters flout four maxims of conversation. The maxim of quality is the most flouted maxim which is used to create humorous conversation and the characters use the rhetorical concept of overstatement in most of the flouting. This study is expected to provide an additional view and information in the study of humor in pragmatics for the next researchers who are interested in studying about humor Keywords:flouting maxims, humor, implicature, rhetorical concepts.