cover
Filter by Year
Articles
42
Articles
Analisis Spasial Tingkat Kerawanan Demam Berdarah Dengue untuk Pemetaan Daerah Prioritas Penanganan Menggunakan Sistem Informasi Geografis di Kecamatan Prambanan Kabupaten Klaten

Fadhilah, Achmad, Sumunar, Dyah Respati Suryo

Geomedia: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 16, No 1 (2018): Geomoedia
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerawanan demam berdarah dengue (DBD), penentuan daerah prioritas  penanganan DBD, dan keterkaitan antara hujan terhadap kasus DBD di Kecamatan Prambanan Kabupaten Klaten. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif berbantuan Sistem Informasi Geografis. Variabel penelitian meliputi: (1) kepadatan penduduk, (2) kepadatan permukiman, (3) penggunaan lahan, (4) jarak dari sungai, (5) jarak dari tempat penampungan sampah sementara, dan (6) angka kejadian DBD. Metode pengumpulan data yang digunakan: observasi, interpretasi citra penginderaan jauh, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah skoring, buffering, dan overlay. Hasil penelitian: terdapat tiga kelas tingkat kerawanan DBD yaitu tingkat kerawanan tinggi (321,37 ha), sedang (1806,55 ha), dan rendah (544,69 ha). Daerah prioritas utama penanganan DBD di Kecamatan Prambanan berdasarkan tingkat kerawanannya adalah Desa Kemudo dan Desa Kebondalem Lor. Jenis penanganan DBD yang diprioritaskan adalah pemberantasan sarang nyamuk dan menjaga kebersihan lingkungan. Curah hujan bulanan ternyata tidak berpengaruh signifikan terhadap kejadian DBD.

Pengembangan ekowisata berbasis evolusi bentanglahan Danau Purba Borobudur kala pleistosen akhir di kawasan Borobudur

Yunanda, Irma, Praptiwi, Norma Yuni, Damayanti, Andika Eka, Nurhadi, Nurhadi

Geomedia: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 16, No 1 (2018): Geomoedia
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini dilakukan di kawasan Borobudur tepatnya di daerah bentanglahan danau Borobudur Purba Kala Peistosen dengan tujuan: (1) mengidentifikasi lokasi-lokasi yang dapat dikembangkan sebagai tujuan ekowisata di kawasan Danau Borobudur Purba, (2) mengembangkan desain ekowisata berbasis evolusi bentanglahan di kawasan Danau Borobudur Purba. Metode yang digunakan adalah deskriptif eksploratif dengan pendekatan geografi yaitu pendekatan keruangan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh wilayah Danau Purba Borobudur. Sampel diambil dengan teknik sistematik sampling dengan membuat grid untuk menentukan zona penelitian. Analisis menggunakan cara deskriptif kualitatif dilandasi konsep dasar geomorfologi. Analisis ini didukung dengan analisis  SWOT untuk menilai titik lokasi yang dapat di rekomendasikan untuk dijadikan sebagai objek ekowisata. Hasil penelitian: (1) Terdapat lima objek bekas Danau Purba Borobudur yang dapat dikembangkan sebagai objek ekowisata berbasis evolusi bentanglahan (2) Desain pengembangan ekowisata kawasan Danau Purba Borobudur yaitu menggunakan SWOT yang diharapkan dapat memberikan masukan dalam pengembangan wisata di wilayah ini.

Kajian kemampuan metode neural network untuk klasifikasi penutup lahan dengan menggunakan Citra Landsat-8 OLI (kasus di Kota Yogyakarta dan sekitarnya)

Rini, Melania Swetika

Geomedia: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 16, No 1 (2018): Geomoedia
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan: Mengkaji akurasi metode neural network untuk klasifikasi penutup lahan dengan menggunakan citra multispectral Landsat 8 dan pengaruh input parameter pada metode neural network terhadap hasil akurasi klasifikasi penutup lahan. Penelitian ini merupakan penelitian berbasis data penginderaan jauh yang mencakup analisis digital dan kerja lapangan. Analisis digital mencakup kegiatan menguji kemampuan metode neural network/Multi Layer Perceptron (MLP) dengan algoritma backpropagation untuk klasifikasi penutup lahan berbasis citra penginderaan jauh Landsat 8. Kerja lapangan dilakukan untuk mengambil sampel penelitian dan menguji hasil akurasi klasifikasi penutup lahan dengan metode jaringan syaraf. Uji akurasi menggunakan akurasi keseluruhan, akurasi produser, akurasi pemakai dan analisis kappa accuracy. Hasil penelitian menunjukan (1) nilai akurasi terbaik yang diperoleh pada metode MLP dengan 7 kelas penutup lahan yaitu overall accuracy 76,69%, kappa accuracy 0,722 serta waktu eksekusi 1,25 menit, dengan kombinasi parameter yaitu 1 hidden layer; 0,001 learning rate; 0,5 momentum factor; 0,001 RMS; dan 15000 iterasi; (2) Nilai parameter learning rate 0,001 memberikan pengaruh nilai overall accuracy yang rendah sedangkan nilai learning rate 0,01 memberikan nilai overall accuracy yang baik. Iterasi 15000 lebih optimal dibandingkan nilai iterasi 10000 dan 20000 dalam pengaruhnya terhadap nilai akurasi hasil klasifikasi penutup lahan.

Kajian pengembangan pusat pertumbuhan wilayah di Kabupaten Klaten

Ancok, Zenza Wismoyo, Nurhadi, Nurhadi

Geomedia: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 16, No 1 (2018): Geomoedia
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Penelitian ini bertujuan: (1) Menentukan kecamatan pusat pertumbuhan berdasarkan aspek aksesibilitas lokasi, ketersediaan fasilitas pelayanan publik, potensi penduduk dan keterkaitan wilayah, (2) Mengetahui karakteristik sektor basis beserta keunggulannya di pusat pertumbuhan, (3) Memberikan arahan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan di Kabupaten Klaten dalam mendukung kegiatan pengembangan wilayah, (4) Membandingan kesesuaian arahan pengembangan dengan RTRW Kabupaten Klaten. Populasi penelitian ini adalah seluruh kecamatan di Kabupaten Klaten. Pengumpulan data dengan observasi dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis scalogram, indeks sentralitas marshall, potensi penduduk, keterkaitan wilayah keruangan dan analisis kebijakan. Hasil penelitian: (1) Kecamatan Klaten Selatan, Klaten Tengah dan Klaten Utara yang merupakan perkotaan Klaten menjadi pusat pertumbuhan utama, diarahkan untuk pengembangan sektor jasa dan sektor perdagangan; (2) hasil analisis sektor basis dengan menggunakan metode LQ (Location Quotient) diperoleh dua prioritas pengembangan wilayah yaitu pertanian di 16 kecamatan dan industri di 9 kecamatan; (3) arahan pengembangan meliputi tiga wilayah pengembangan yaitu pusat pertumbuhan utama, pusat pertumbuhan alternatif dan hinterland; (4) arahan kesesuaian pengembangan wilayah dengan RTRW menunjukkan 13 Kecamatan memiliki kesesuaian dengan RTRW sedangkan satu kecamatan tidak sesuai.

Hidrogeomorfologi mataair kaki Vulkan Merapi bagian selatan

Ratih, Sholu, Awanda, Hervina Nur, Saputra, Anton Cesar, Ashari, Arif

Geomedia: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian Vol 16, No 1 (2018): Geomoedia
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Keberadaan mataair pada suatu wilayah merupakan potensi sumberdaya alam yang perlu dimanfaatkan secara optimal. Lereng selatan Vulkan Merapi sebagai bagian dari vulkan strato muda memiliki potensi sumber mataair. Dalam upaya melakukan pengelolaan mataair informasi mengenai distribusi spasial mataair sangat diperlukan. Penelitian ini dilaksanakan pada lereng selatan Vulkan Merapi dengan tujuan: (1) menganalisis pola persebaran mataair berdasarkan satuan bentuklahan, (2) menganalisis pengaruh kondisi morfologi terhadap persebaran mataair. Metode yang digunakan mencapai tujuan adalah survei geomorfologis dengan pengambilan sampel secara sistematik. Analisis data dilakukan secara deskriptif-eksploratif dengan memperhatikan aspek spasial didukung analisis SIG dengan nearest neighbour analysis. Hasil penelitian: (1) pada lereng selatan Vulkan Merapi terdapat pemunculan mataair dengan pola mengelompok pada satuan bentuklahan kaki vulkan dan dataran kaki vulkan. Pola mengelompok ini mengindikasikan sistem sabuk mataair. (2) kondisi geomorfologis berpengaruh terhadap persebaran mataair, terutama faktor bentuklahan, proses geomorfologi, dan litologi. Anomali persebaran mataair pada bagian timur merupakan contoh pengaruh proses geomorfologi berupa vulkanisme aktif yang membatasi keterdapatan mataair.

PENYUSUNAN SISTEM INFORMASI BAHAYA DAN RISIKO BENCANA ERUPSIGUNUNGAPI MERAPI PASCA ERUPSI 2010 BERBANTUAN PENGINDERAAN JAUHDAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Arif Ashari, Bambang Syaeful Hadi, Sriadi Setyawati ,

GEOMEDIA Volume 13 Nomor 1 Mei 2015
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.333 KB)

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian tahun pertama mengenai penyusunan sisteminformasi bahaya dan risiko bencana erupsi Gunungapi Merapi pasca erupsi 2010, dengantujuan untuk menyusun peta tingkat dan sebaran bahaya pasca erupsi 2010 berdasarkanbasis data baru kondisi morfologi Gunungapi Merapi, pada lereng selatan dan barat Gunungapi Merapi. Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalahmetode eksploratif-survei, dengan pendekatan geografi yaitu keruangan, kelingkungan,dan kewilayahan. Populasi dalam penelitian ini adalah kawasan rawan bencana GunungapiMerapi yang secara geomorfologi termasuk ke dalam satuan kerucut gunungapi, lerenggunungapi, kaki lereng gunungapi, dataran kaki gunungapi, dan dataran fluvial gunungapi.Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposif sampling yaitu pada setiap satuanmedan. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, interpretasi citra penginderaanjauh, dan dokumentasi. Analisis yang digunakan antara lain analisis SIG dengan teknikoverlay dan buffering, analisis pengharkatan, analisis risiko, dan anaisis deskriptif. Hasilpenelitian menunjukkan tingkat bahaya erupsi di daerah penelitian meliputi tingkat bahayaerupsi rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi. Tingkat bahaya erupsi rendah palingbanyak dijumpai di daerah penelitian yaitu meliputi 62,17% wilayah, tingkat bahaya sedangmeliputi 31,66% wilayah, tingkat bahaya erupsi tinggi meliputi 1,55% wilayah, sedangkantingkat bahaya erupsi sangat tinggi meliputi 0,15% wilayah. Faktor yang mempengaruhitingginya tingkat bahaya erupsi adalah jarak dari kepundan dan alur sungai yang relatifdekat, kemiringan lereng, unit relief, tutupan lahan, dan fasies gunungapi. Distribusi spasialtingkat bahaya secara umum membentuk pola gradasi menjauhi kepundan gunungapi,namun demikian terdapat pula variasi keruangan dalam skala lokal yang dipengaruhi olehperbedaan karakteristik medan pada setiap satuan medan.Kata kunci: bahaya, erupsi, penginderaan jauh, sistem informasi geografis

WIND ENERGY AS AN ALTERNATIVE ENERGY SOURCE(Study Case at South Coastal of Yogyakarta Special Province, Indonesia)

Widiyanti, Baiq Liana

GEOMEDIA Volume 13 Nomor 1 Mei 2015
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.578 KB)

Abstract

The need of larger quantity of energy to fulfill the demand of energy, especially thefossil fuel, forced the government of almost all nation try to find the new kind of energy orknown as alternative energy resources. Fossil fuel as non-renewable energy resources wouldbe decreased by the time if the using of it not under controlled. This kind of energy resourcesused to handle almost all the people need of energy, such as for domestic uses, industrial,tourism, etc. The used of fossil fuel for that purposed mostly for generated the electricitypower (by built the power plant). Many natural energy resources can used to generateelectricity power plant, but there always be some advantages and bad impact, especially forthe environments. One of environmental friendly alternative energy resources is exploitingthe form of wind power.Keyword: alternative energy, wind energy, windmills farms, human well-being.

DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP IMBANGAN AIR SECARA METEOROLOGISDENGAN MENGGUNAKAN METODE THORNTHWAITE MATHER UNTUK ANALISISKEKRITISAN AIR DI KARST WONOGIRI

Gentur Adi Tjahjono, Pipit Wijayanti, Rita Noviani,

GEOMEDIA Volume 13 Nomor 1 Mei 2015
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.704 KB)

Abstract

Perubahan Iklim Global juga dirasakan di Indonesia. Berdasarkan data curah hujanantara 1978-2005 telah terjadi kecenderungan penurunan curah hujan denganpeningkatan suhu sebesar 0,04 – 0,047° C/tahun. Karst Wonogiri yang terletak diKabupaten Wonogiri selalu mengalami masalah tahunan berupa kekeringan di musimkemarau. Penelitian ini berjudul Dampak Perubahan Iklim terhadap Neraca Air SecaraMeteorologi dengan Metode Thornthwaite-Mather untuk Analisis Kekritisan Air di KarstWonogiri. Tujuan penelitian ini adalah: 1). mengetahui kondisi curah hujan tahunanselama perubahan iklim di Karst Wonogiri, 2). mengetahui nilai kemampuan menahanair/Water Holding Capacity (WHC) di Karst Wonogiri, dan 3). menganalisis neraca airsecara meteorologis berdasarkan metode Thornthwhite Matter di Karst Wonogiri.Metode analisis imbangan air yang digunakan adalah Thorthwaite Mather untukmenentukan ketersediaan air. Hasil penelitian yang diperoleh adalah: (1) Kondisi curahhujan tahunan di Karst Wonogiri masih termasuk kategori sedang, dengan tebal hujantahunan bisa mencapai 2000 mm. Fluktuasi curah hujan tahunan tidak terlalu tinggi (200-500 mm per tahun); (2) Perhitungan nilai WHC sebesar 112,92 menunjukkan bahwakemampuan lahan di wilayah penelitian untuk menyimpan dan mengikat air termasukrendah yang disebabkan oleh jenis tanah yang ada memiliki solum tanah dangkal hinggasedang serta struktur tanah kersai dan pasiran. Jenis vegetasi penutup yang berupapalawija dengan zone parakaran dangkal juga mempengaruhi besarnya nilai WHC; (3)Analisis neraca air secara meteorologis dapat disimpulkan bahwa ketersediaan air daricurah hujan di wilayah ini termasuk cukup tinggi dengan 7-8 bulan yang surplus. (4)Indeks kekritisan air sebesar 0,56 termasuk dalam kategori mendekati kritisKata kunci: Perubahan iklim, imbangan air

STUDI TEMPERATUR UDARA TERKINI DI WILAYAH DI JAWA TENGAH DAN DIY

Purwantara, Suhadi

GEOMEDIA Volume 13 Nomor 1 Mei 2015
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.661 KB)

Abstract

Artikel ini dikembangkan dari penelitiaan dengan judul Studi Revisi Rumus Braakdan Mock tentang Gradien Suhu Udara di Jawa Tengah dan DIY” ini berawal dari hasilperhitungan gradien suhu udara menurut rumus Braak yang sudah tidak sesuai denganfakta lapangan. Banyak wilayah pegunungan yang dulu relatif dingin sekarang sudahtidak dingin seperti dulu lagi. Masyarakat merasa temperatur udara semakin panas. Untukitu dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui suhu udara di permukaan air laut,perbedaan suhu udara per seratus meter hingga ketinggian 2000an meter, dan selisihhasil perhitungan dengan formula Braak dengan data di wilayah penelitian. Populasidalam penelitian ini ad alah semua udara yang ada di wilayah permukaan bumi di PulauJawa bagian Tengah. Penelitian ini bersifat penelitian kuantitatif berdasarkan hasilpengukuran langsung dan perekaman data sekunder. Penelitian ini menggunakaninstrumen thermometer, dan formulir isian data. Pengumpulan data sekunder diperolehdari instansi-instansi yang terkait dengan masalah dan tujuan penelitian antara lain : datatemperatur. Dalam penelitian ini analisis dilakukan dengan memasukkan hasil pengukuranprimer yang dirata-rata kemudian dimasukkan dalam rumus Braak. Hasil penelitianmenunjukkan perbedaan suhu udara berdasar perbedaan tinggi tempat masih mengikutirumus Braak, hanya suhu udara di permukaan laut yang sering para penelitimenggunakan angka 26,3⁰C, menjadi 28,5⁰C. Temperatur udara berdasarkan datamenunjukkan bahwa terjadi peningkatan yang sangat nyata. Wilayah pantai yangmerupakan wakil permukaan air laut bersuhu udara bulan April Mei 2012 sebesar 28,5⁰C,suhu udara pada 800 m sebesar 24⁰C, dan suhu udara pada ketinggiaan udara 2100meter sebesar 16,25⁰C. Pada ketinggian 800 meter, perbedaan temperatur hasilperhitungan rumus Braak dengan data lapangan hanya 23,62 ˚C dengan 24 ˚C, atau 1,2%,sedangkan di wilayah dengaan ketinggian 2100 meter, perbedaan temperatur hasilperhitungan rumus Braak dengan data lapangan hanya 16,70 ˚C dengan 16,25 ˚C, atau2,1%.Kata kunci: temperature udara, gradien suhu

DIVERSIFIKASI PERDESAAN BERASOSIASI DENGAN INDUSTRI PARIWISATABERPERAN DALAM MEMBENTUK KARAKTER BANGSASTUDI DI KECAMATAN UNGARAN BARAT KABUPATEN SEMARANG

Su Ritohardoyo, Puji Hardati, R. Rijanta,

GEOMEDIA Volume 13 Nomor 1 Mei 2015
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (103.554 KB)

Abstract

Industri pariwisata merupakan salah satu kegiatan sektor non-pertanian diperdesaan. Keberadaannya menjadi salah satu alternatif sumber lapangan pekerjaan danpendapatan rumah tangga. Industri pariwisata di perdesaan akan mendorong prosesdiversifikasi perdesaan. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji diversifikasi perdesaanberasosiasi dengan industri pariwisata dan peranannya dalam membentuk karakterbangsa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diversifikasi perdesaan yang berasosisasidengan industri pariwisata distribusinya tidak merata ke seluruh wilayah. Desa-desa yangterdeversifikasi sangat kuat terdistribusi secara keruangan pada desa-desa denganaksesibilitas yang tinggi. Keberadaan lokasi wisata menjadi salah satu modal utamadalam mendorong diversifikasi perdesaan berasosiasi dengan industri pariwisata.Pariwisata berperan dalam mengenalkan dan melestarikan kearifan lokal dan berperandalam membentuk karakter bangsa terutama gererasi mudaKata kunci: Diversifikasi Perdesaan, Industri pariwisata.