Jurnal Teknik PWK
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : -     EISSN : -
Articles 283 Documents
PERILAKU MASYARAKAT DALAM PENGGUNAAN JALUR PEDESTRIAN DI KORIDOR JALAN PROF. H. SOEDARTO, S.H.

Panduri, Rona ( Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro ) , Suwandono, Djoko ( Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro )

Jurnal Teknik PWK Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 No. 2 Tahun 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Ruang kota milik publik bertindak sebagai generator interaksi sosial dan budaya. Pola perilaku masyarakat sendiri yang menentukan cara menggunakan ruang yang sudah diciptakan. Oleh karena itu, desain perkotaan harus didasarkan pada bagaimana memenuhi nilai-nilai kemanusiaan. Walaupun desain perkotaan sudah disesuaikan dengan kebutuhan manusia, masih banyak terdapat masalah yang terjadi sehubungan dengan perilaku masyarakat itu sendiri.Salah satu masalah yang dihadapi kota metropolitan di Indonesia adalah ketidakteraturan penggunaan pedestrian. Sebagai obyek penelitian, peneliti memilih koridor Jalan Prof. H. Soedarto, Semarang karena koridor ini sudah mengalami masalah tersebut. Masalah yang terdapat di wilayah penelitian berupa pemanfaatan pedestrian untuk aktivitas selain berjalan kaki seperti berdagang dan parkir. Pendekatan penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan bersifat deskriptif karena penelitian ini menjelaskan perilaku masyarakat dalam memanfaatkan pedestrian, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pilihan orang berjalan kaki dan berdagang di pedestrian, serta menjelaskan hubungan penggunaan pedestrian pejalan kaki dan PKL sehingga menggambarkan pola perilaku penggunaan pedestrian. Hasil dari analisis ini adalah untuk mengetahui perilaku penggunaan pedestrian dengan dan ketidakdisiplinan yang ditinjau dari fungsi lahan dan bangunan sehingga dapat diketahui pola berjalan kaki di koridor Jalan Prof. H. Soedarto, S.H. untuk kenyamanan dan keamanan.

PARTISIPASI MASYRAKAT DALAM PEMBANGUNAN SANITASI PERKOTAAN DI KELURAHAN ROWOSARI KECAMATAN TEMBALANG KOTA SEMARANG

Turnip, Venny V. S ( Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro ) , Alie, Mohammad Mukti ( Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro )

Jurnal Teknik PWK Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 No. 2 Tahun 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Prasarana sanitasi merupakan kebutuhan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Namun masih terdapat wilayah yang tidak memiliki prasarana sanitasi yang memadaiakibat kurangnya pemeliharaan sehingga tidak dapat berfungsi dengan semestinya. Untuk itu diperlukan peran dari masyarakat agar terciptanya suatu pembangunan yang berkelanjutan melalui program Sanitasi Perkotaan Berbasis Masyarakat (SPBM).Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji bentuk patisipasi masyarakat dalam program SPBM serta untuk mengetahui factor yang mempengaruhi bentuk partisipasi masyarakat baik faktor internal maupun faktor eksternal. Selain itu penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik masyarakat di Dusun Kebuntaman Kelurahan Rowosari Kecamatan Tembalang Kota Semarang.Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan gabungan kuantitatif dan kualitatif. Teknik Analisis yang digunakan meliputi analisis deskriptif kuantitatif. Program pembangunan sanitasi di Kelurahan Rowosari melibatkan partisipasi masyrakat, dimana masyarakat turut berperan dan dilibatkan selama program berjalan. Masyarakat turut berpartisipasi dalam tahap sosialisasi, tahap pelaksanaan, serta partisipasi dalam tahap pengendalian dalam mendukung perbaikan sanitasi. Pata tahap prencanaan masyarakat terlibat dalam perencanaan pembangunan MCK dan IPAL Komunal yaitu dengan turut mengahadiri pertemuan serta dalam bentuk uang dan makanan yang pada saat pertemuan berlangsung. Pada tahap kosntruksi masyarakat memberikan partisipasinya dalam bentuk tenaga, sementara masyarakat turut pula memberikan partisipasinya dalam bentuk uang pada tahap operasional.

KARAKTERISTIK PENINGKATAN PENGELOLAAN SAMPAH OLEH MASYARAKAT MELALUI BANK SAMPAH

Setyaningrum, Ike ( Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro )

Jurnal Teknik PWK Vol 4, No 2 (2015): Volume 4 No. 2 Tahun 2015
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Sampah menjadi persoalan kompleks di kota-kota besar di Indonesia, oleh karena itu diperlukan adanya penyelesaian yang komprehensif dan terintegrasi serta didukung oleh semua lapisan masyarakat. Salah satu kota besar yang mengalami permasalahan mengenai pengelolaan sampah adalah Kota Semarang. Pengelolaan sampah yang optimal membutuhkan alternatif-alternatif. Salah satu alternatif yang diresmikan oleh Pemerintah Kota Semarang dalam menangani masalah pengelolaan sampah yaitu pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui program Bank sampah. Bank Sampah Sari Asri adalah kelompok sosial di Kota Semarang yang didirikan oleh masyarakat di Kelurahan Tandang dan didukung oleh yayasan ChildFund dan KOMPASS dengan tujuan untuk keberlanjutan lingkungan yang berfokus pada penanganan masalah pengelolaan sampah khususnya sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga. Bank Sampah Sari Asri merupakan salah satu terobosan untuk mengurangi dampak yang merugikan dalam pengelolaan sampah yang kurang optimal. Program Bank Sampah Sari Asri terbukti sebagai salah satu upaya peningkatan pengelolaan sampah oleh masyarakat di Kelurahan Tandang. Karena didalam program bank sampah mengandung unsur konsep 3R, yaitu reduce, reuse, dan recycle yang mampu mengurangi volume sampah. Namun dalam pelaksanaannya, masih terdapat masyarakat yang tidak memahami dan melaksanakan program-program yang dicanangkan oleh Bank Sampah Sari Asri.

PENGARUH DAYA TARIK PASAR TRADISIONAL DAN PASAR MODERN TERHADAP PREFERENSI KONSUMEN (Studi Komparasi Pasar Karangayu dan Giant Superdome)

Asribestari, Ratna ( Mahasiswa Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro ) , Setyono, Jawoto Sih ( Dosen Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro )

Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Perkembangan pasar moden di Kota Semarang, cukup pesat. Munculnya berbagai jenis pasar nontradisional dapat meningkatkan kompetisi antara pasar tradisional dengan pasar modern, seperti yang terjadi pada Pasar Karangayu dan Giant Superdome yang memiliki lokasi yang berdekatan. Hal ini didukung dengan adanya perubahan perilaku masyarakat yang kini semakin modern mengakibatkan kecenderungan perpindahan tempat belanja dari pasar tradisional menuju pasar modern. Dalam menarik pengunjung, setiap pasar harus memiliki daya tarik tersendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh daya tarik pasar terhadap preferensi konsumen. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah studi komparasi antara Pasar Karangayu dan Giant Superdome. Dalam penelitian ini yang menjadi objek adalah konsumen yang melakukan belanja di kedua pasar tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat beberapa hal yang menjadi daya tarik Pasar Karangayu, yaitu variasi barang, harga barang dan fasilitas umum sedangkan daya tarik Giant Superdome adalah kenyamanan, variasi barang, harga barang, kondisi fisik pasar, fasilitas pasar. Aksesibilitas menjadi daya tarik kedua pasar namun adanya limitasi berupa pulau jalan yang memisahkan antara lajur jalan mengurangi kemudahan aksesibilitas pasar terutama bagi konsumen yang berada di seberang pasar. Dari hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa ada pengaruh antara daya tarik pasar terhadap preferensi konsumen, yaitu Giant Superdome lebih disukai daripada Pasar Karangayu. Rekomendasi yang dapat dirumuskan pada penelitian ini adalah penataan lokasi pasar modern dengan memperhatikan pasar tradisional yang telah ada.

ANALISIS PERKEMBANGAN STRUKTUR RUANG KAWASAN BERSEJARAH KAMPUNG KAUMAN KOTA SEMARANG

Theresiana, Ester ( Mahasiswa Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro ) , Dewi, Santy Paulla ( Dosen Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro )

Jurnal Teknik PWK Vol 2, No 3 (2013): Volume 2 No 3 Tahun 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kampung Kauman Semarang merupakan sebuah pusat permukiman pertama di Semarang yang tumbuh di sekitar Masjid Kauman dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Perkampungan ini tertata rapi dan memiliki pola perkampungan yang unik sehingga menjadikan toponim bagi perkampungan-perkampungan yang tersebar di kawasan ini sesuai dengan keadaan, sifat, maupun aktivitas masyarakat. Berdasarkan kebijakan RTRW Kota Semarang tahun 2010-2030 kawasan Kampung Kauman termasuk dalam Bagian Wilayah Kota I, yang diarahkan sebagai kawasan perkantoran, perdagangan jasa dan campuran. Hal tersebut menyebakan kawasan ini berkembang dengan sangat pesat. Terjadi perubahan aktivitas disekitar kawasan Kampung Kauman Semarang dari permukiman menjadi perdagangan dan jasa yang berdampak juga pada penggunaan lahan di kawasan ini, lahan-lahan permukiman yang ada berubah fungsi menjadi tempat usaha karena keterbatasan lahan di kawasan ini. Selain itu terdapat pula permasalahan banjir rob yang sering menggenangi kawasan ini ketika air laut pasang atau saat musim penghujan, hal tesebut mendorong masyarakat menciptakan hunian yang nyaman dengan menambah jumlah lantai bangunan. Dengan adanya berbagai permasalahan tersebut, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui perkembangan yang terjadi di kawasan Kampung Kauman Kota Semarang pada tahun 2003 dan tahun 2013. Hasil dari analisis yang telah dilakukan adalah adanya pengalihfungsian guna lahan oleh masyarakat dari permukiman menjadi perdagangan jasa dikarenakan perubahan aktivitas yang terjadi, perluasan tempat usaha, penambahan jumlah lantai bangunan pada tempat usaha yang digunakan sebagai tempat usaha sekaligus sebagai hunian, dan penambahan jumlah lantai bangunan pada hunian untuk mengamankan harta benda dan keluarga dari ancaman banjir rob. Penambahan jumlah lantai bangunan ini menyebabkan perkembangan bangunan dikawasan ini secara vertikal atau berkembang ke atas. Kampung Kauman sebagai kawasan yang akan terus berkembang memerlukan pengarahan perkembangan yang khusus agar siap menerima peningkatan aktivitas yang sangat pesat. Rekomendasi yang diberikan antara lain penegasan izin pengendalian pembangunan baik luasan lahan terbangun maupun jumlah lantai bangunan, pendataan jumlah bangunan yang diperuntukkan sebagai perdagangan dan jasa secara berkala, serta pengoptimalan potensi ekomoni dan budaya. 

PROSES INOVASI PADA KLASTER KAMPOENG BATIK LAWEYAN KOTA SURAKARTA

Maruli S, Ridho, Alie, Mohammad Mukti

Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 2 (2013): Mei 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Pelaku usaha di Klaster Kampoeng Batik Laweyan menerapkan inovasi sebagai solusi dari permasalahan yang ada. Inovasi-inovasi ini diterapkan pada rantai nilai produksi (pada input, proses, output dan pemasaran). Sumber inovasi berasal dari pelaku usaha dalam klaster, permintaan pasar atau konsumen, dan pihak akedemisi. Pelopor utama pada klaster ini adalah Alpha Fabela, Bambang Slamento dan Saud Efendi. Motivasi utama mereka melakukan inovasi untuk meneruskan industri batik yang sudah menjadi warisan budaya turun temurun sedangkan motivasi utama pengikut melakukan inovasi adalah keuntungan ekonomi. Proses adopsi inovasi-inovasi ini mengalami beberapa tahapan, yaitu: kesadaran, ketertarikan, percobaan, evaluasi dan pengangkatan. Sedangkan difusi inovasi terjadi melalui saluran komunikasi FPKBL dan interaksi sosial pelaku usaha. Inovasi-inovasi ini berhasil meningkatkan daya saing produk batik Laweyan, terlihat dari wilayah pemasarannya yang tidak hanya di dalam negeri tetapi sampai ke luar negeri.

PERUBAHAN KARAKTERISTIK PERMUKIMAN PESISIR PADA KAWASAN WISATA PANTAI ALAM RANDUSANGA INDAH KABUPATEN BREBES

Putra, B Chandra Anggitya ( Mahasiswa Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro ) , Pigawati, Bitta ( Dosen Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro )

Jurnal Teknik PWK Vol 2, No 3 (2013): Volume 2 No 3 Tahun 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kawasan Pantai Alam Randusanga Indah (PARIN) merupakan salah satu wilayah pariwisata potensial (WPP) pantai utara yang memiliki penggunaan lahan yang terdiri dari perikanan (budidaya dan tangkap), hutan mangrove, pertanian (sawah terintrusi), permukiman minoritas dan pariwisata (wisata pantai). Kawasan wisata yang terletak di Kelurahan Randusanga Wetan dan Randusanga Kulon tersebut memiliki karakteristik guna lahan spesifik karena di kawasan wisata yang berfungsi untuk menjalankan aktivitas wisata terdapat fungsi lain berupa kawasan permukiman.Perkembangan aktivitas pariwisata di Kawasan Pantai Alam Randusanga Indah (PARIN) telah mempengaruhi perubahan guna lahan di sekitar kawasan wisata dan  mempengaruhi perubahan kondisi fisik lingkungan permukiman dan penggunaan permukiman masyarakat pesisir di sekitarnya. Penelitian ini  bertujuan  untuk  mengkaji bentuk perubahan karakteristik permukiman pesisir kawasan wisata Pantai Alam Randusanga Indah di Kelurahan Randusanga Kulon dan Randusanga Wetan berdasarkan indikator perubahan lingkungan fisik permukiman dan perubahan penggunaan permukimannya. Hasil penelitian menunjukan bahwa telah terjadi perubahan karakteristik permukiman pesisir pada kawasan wisata Pantai Alam Randusanga Indah yang meliputi Kelurahan Randusanga Wetan dan Randusanga Kulon Wetan. Perubahan karakteristik lingkungan fisik permukiman masyarakat pesisir ditunjukan dari peningkatan kualitas jaringan jalan, peningkatan kualitas hunian, peningkatan kualitas permukiman, dan peningkatan kualitas permanensi bangunan. Sementara kualitas jaringan persampahan di permukiman masyarakat pesisir mengalami penurunan. Sementara perubahan karakteristik penggunaan permukiman masyarakat Perubahan penggunaan permukiman sebagian besar dilakukan oleh masyarakat yang memiliki hunian di sekitar akses masuk wisata pantai. Penggunaan permukiman yang semula hanya hunian biasa beralih menjadi warung/toko/jasa karena peluang usaha yang disebabkan keberadaan kawasan wisata pantai.

ANALISIS KINERJA PELAYANAN BUS RAPID TRANSIT (BRT) KORIDOR II TERBOYO-SISEMUT (Studi Kasus: Rute Terboyo – Sisemut Kota Semarang)

Dwiryanti, Aprisia Esty ( Mahasiswa Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro ) , Ratnasari R, Anita ( Dosen Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro )

Jurnal Teknik PWK Vol 2, No 3 (2013): Volume 2 No 3 Tahun 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Kota Semarang sebagai salah satu kota besar yang mengalami peningkatan jumlah kendaraan pribadi. Sehingga mengakibatkan kemacetan diruas-ruas jalan Kota Semarang.  Pertumbuhan kendaraan pribadi baik mobil atau sepeda motor mengakibatkan tidak nyamannya lingkungan meningkat, kemacetan dan kapasitas jalan yang sudah tidak mampu lagi menampung kendaraan-kendaraan di masa mendatang. Oleh karena itu pemerintah Kota Semarang mengembangkan transportasi missal yaitu Bus Rapid Transit. Namun masyarakat kurang minat untuk menggunakan angkutan umum karena merasa pelayanan yang tidak baik. Studi ini bertujuan untuk merumuskan kinerja pelayanan BRT Koridor II di Kota Semarang secara berkelanjutan dengan pengoptimalisasi penggunaan BRT rute Terboyo-Sisemut Semarang. Sehingga dapat menemuken faktor – faktor permasalahan yang mempengaruhinya sehingga dapat dirumuskan langkah – langkah perbaikan dan peningkatan mutu pelayanannya, dan rekomendasi perbaikan kualitas pelayanan kepada operator. Studi ini dengan menerapkannya sustainable transportation atau transportasi berkelanjutan. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa kinerja pelayanan berdasarkan persepsi menunjukkan cukup memuaskan. Namun ada beberapa persepsi yang merasa kurang yaitu pelayanan operator, perpindahan moda, ketetapan waktu dan waktu tunggu. Sedangkan berdasarkan penelitian dengan standar Departemen Perhubungan menunjukkan baik. Terdapat tiga kriteria yang kurang baik yaitu headway, frekuensi, awal dan akhir pelayanan..Dari hasil kedua tersebut dibandingkan sehingga faktor-faktor yang kurang yaitu kenyamanan, kemudahan pencapaian dan efisiensi.

PEMODELAN INTERAKSI AKTIVITAS PASANGAN SUAMI ISTRI PEMILIK KENDARAAN PRIBADI (Studi Kasus: Kecamatan Pedurungan)

Fauzia, Shofa, Manullang, Okto Risdianto

Jurnal Teknik PWK Vol 2, No 1 (2013): Volume 2 No 1 Tahun 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Rumah tangga merupakan kumpulan individu yang mendiami dalam satu rumah dengan variasi aktivitas untuk tiap-tiap individunya. Dengan berumah tangga maka secara tidak langsung kegiatan tiap-tiap individu akan saling bergantungan dan dapat mempengaruhi keputusan perjalanan tiap individunya. Individu dalam rumah tangga yang memiliki aktivitas paling tinggi tingkatannya yaitu pasangan suami istri. Untuk menunjang pergerakan perjalanan mereka, mereka membutuhkan moda transportasi dengan aksesibilitas yang tinggi. Pada tingkat rumah tangga moda transportasi yang digunakan adalah angkutan umum penumpang (AUP). Dugaan sementara pelayanan angkutan umum penumpang (AUP) yang berada di Kecamatan Pedurungan masih belum cukup untuk memenuhi permintaan pergerakan masyarakat. Sehingga, pada rumah tangga beralih menggunakan moda transportasi kendaraan pribadi. Kendaraan pribadi berupa sepeda motor  dan mobil dipilih karena dianggap mampu untuk melayani pergerakan perjalanan berbasis aktivitas pasangan suami istri. Maka, peneliti perlu melakukan studi dengan pertanyaan penelitian (Research Question), yaitu “Bagaimana model interaksi aktivitas pasangan suami istri pemilik kendaraan pribadi di Kecamatan Pedurungan?”. Penelitian ini akan menguji beberapa hipotesis hubungan variabel yang dikembangkan dari studi teoritis dan empiris. Metode statistik AMOS 16.0 digunakan untuk menilai hubungan signifikansi antar variabel. Hasil penelitian ini adalah hubungan nilai signifikansi antara variabel endogen dan eksogen terhadap faktor hambatan ayah, aksesibilitas ayah, hambatan ibu, dan aksesibilitas ibu. Penelitian ini memberikan beberapa rekomendasi sehingga diharapkan dapat dijadikan arahan bagi pemerintah untuk menyusun suatu kebijakan mengenai kepemilikan kendaraan pribadi

KAPASITAS LEMBAGA MASYARAKAT DALAM KEGIATAN PENATAAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN BERBASIS MASYARAKAT DI JAWA TENGAH

Fultanegara, Anggun Aprinasari ( Mahasiswa Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro ) , Asnawi, Asnawi ( Dosen Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro )

Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar |

Abstract

Fenomena kemiskinan merupakan fenomena kompleks yang seolah-olah menjadi momok yang susah untuk dicari solusinya. Fenomena ini menjadi perhatian khusus bagi pemerintah, salah satunya Provinsi Jawa Tengah dengan tingkat kemiskinan sebesar 16,56% yang masih berada di atas tingkat kemiskinan nasional 13,33% (BPS, 2010). Upaya pemerintah dalam mempercepat penanggulangan kemiskinan salah satunya adalah kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Masyarakat melalui pengokohan kelembagaan. Akan tetapi, kinerja dari lembaga tersebut bervariatif ada yang berhasil dan ada yang kurang berhasil dalam menjalankan kegiatan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji kapasitas kelembagaan dalam kegiatan Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Masyarakat. Penelitian ini mencoba mengkomparasikan dua BKM, yaitu BKM Sejahtera Mandiri Kabupaten Kendal dan BKM Podosugih Kota Pekalongan. Kapasitas kelembagaan diukur dengan dari tiga indikator, yakni aspek individu, kelompok, dan lembaga. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif serta menggunakan teknik analisis skoring dan pengumpulan data kuesioner. Dari hasil analisis skoring menunjukkan menunjukkan kapasitas BKM Podosugih dengan skoring 945 pada kelas I yaitu sangat baik, sedangkan BKM Sejahtera Mandiri dengan skoring 897 pada kelas II yaitu baik dalam menjalankan kegiatan. Dengan melihat kapasitas kelembagaan ldi Kelurahan Kebondalem dan Podosugih, diperlukan penguatan kapasitas kelembagaan agar dapat berlangsung efektif dalam upaya penataan kawasan lingkungan.

Page 1 of 29 | Total Record : 283