cover
Contact Name
Dr. Mukh. Syaifudin
Contact Email
ptmkr@batan.go.id
Phone
7513906
Journal Mail Official
ptmkr@batan.go.id
Editorial Address
PTMKR - BATAN, Jl. Lebak Bulus Raya No. 49 Jakarta Selatan 12440, Po.box 7043 JKSKL
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Buletin Alara
ISSN : 14104652     EISSN : -     DOI : -
Buletin Alara terbit pertama kali pada Bulan Agustus 1997 dengan frekuensi terbit tiga kali dalam setahun (Agustus, Desember dan April) ini diharapkan dapat menjadi salah satu sarana informasi, komunikasi dan diskusi di antara para peneliti dan pemerhati masalah keselamatan radiasi dan lingkungan di Indonesia
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 8, No 2 (2006): Desember 2006" : 6 Documents clear
MENANGANI KANKER DENGAN RADIOPEPTIDA Awaludin, Rohadi
Buletin Alara Vol 8, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.703 KB)

Abstract

PENDAHULUANPeptida adalah rangkaian asam amino yang dihubungkan dengan ikatan peptida. Zat ini memainkan berbagai peran penting yang spesifik di dalam tubuh seperti chemical messenger, neurotransmiter serta pemacu dan penghambat metabolisme tertentu. Zat ini mendapat perhatian besar para peneliti dari berbagai disiplin ilmu karena potensi yang disimpannya dalam menyelesaikan masalah kesehatan. [1] Istilah peptida biasanya digunakan untuk rangkaian asam amino dengan jumlah kurang dari 100 buah. Peptida berikatan secara spesifik dengan protein tertentu yang merupakan reseptornya. Di dunia penanganan kanker, peptida telah dikembangkan untuk diagnosis dan terapi dengan mengadopsi konsep magic bullet yang dikemukakan oleh Paul Ehrlich, penerima hadiah nobel kedokteran pada tahun 1908.[2] Konsep magic bullet, yang sering dinamakan pula targeted terapy adalah konsep penanganan sebuah penyakit dengan mengirimkan bahan aktif secara spesifik ke sumber penyakit, tidak menyebar ke seluruh tubuh. Jadi pembawa (carrier) bahan aktif seperti sebuah peluru kendali yang dapat dipandu untuk menuju sasaran [1].
PEMERIKSAAN ABERASI KROMOSOM PADA PEKERJA RADIASI Lusiyanti, Yanti
Buletin Alara Vol 8, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.034 KB)

Abstract

PENDAHULUANPemeriksaan kesehatan pekerja radiasi merupakan suatu kegiatan yang mutlak perlu dilakukan pada setiap fasilitas yang memanfaatkan radiasi pengion. International Atomic Energy Agency (IAEA) telah memberikan pedoman untuk pelaksanaan pemeriksaan kesehatan ini dalam publikasi Basic Safety Standards atau Standar Keselamatan Dasar yang diterbitkan pada tahun 1996. Di Indonesia, beberapa ketentuan hukum yang berkaitan dengan pemeriksaan kesehatan juga telah berlaku, yaitu Undang-Undang No 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran pasal 16 ayat (1) yang menyatakan bahwa “setiap kegiatan yang berkaitan dengan pemanfaatan tenaga nuklir wajib memperhatikan kesehatan, keamanan dan ketentraman, kesehatan pekerja dan anggota masyarakat serta perlindungan terhadap lingkungan hidup”. Kemudian Keputusan Kepala BAPETEN No. 01/Ka-BAPETEN/V-99 tentang Ketentuan Keselamatan Kerja Terhadap Radiasi. Selain itu juga ada Peraturan Pemerintah RI No. 63 tahun 2000 tentang Keselamatan dan Kesehatan Terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion, dan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 172/MENKES/PER/III/1991 tentang Pengawasan Kesehatan Pekerja radiasi. Pada saat tubuh terpajan radiasi, sel dapat mengalami kerusakan sitogenetik yaitu kerusakan yang terjadi pada aspek genetik sel, khususnya kromosom bergantung pada dosis yang diterima. Kromosom terdapat di dalam inti sel dan merupakan struktur yang terdiri dari rangkaian panjang molekul asam deoksiribonukleat (DNA) dengan matriks protein, dan memegang peranan sebagai pembawa sifat dari suatu individu. Kromosom manusia berjumlah 23 pasang mengandung ribuan gen yang merupakan suatu rantai pendek dari DNA yang membawa kode informasi genetik tertentu dan spesifik. Secara normal, kromosom terdiri dari lengan atas dan lengan bawah yang dihubungkan dengan sentromer. Radiasi dapat menyebabkan terjadinya perubahan struktur kromosom. Perubahan yang dimaksud dapat berupa: (1). kromosom disentrik yaitu kromosom dengan dua sentro- mer yang terbentuk dari penggabungan dua patahan kromosom; (2). fragmen asentrik yaitu delesi pada lengan kromosom sehingga terbentuk fragmen kromosom tanpa sentromer;(3). kromosom cincin yang terbentuk karena adanya penggabungan patahan antar lengan kromosom. Kromosom disentrik merupakan bentuk aberasi yang paling spesifik akibat radiasi pengion dan merupakan Gold Standard untuk  diaplikasikan dalam pengkajian efek radiasi. Jumlah kromosom disentrik yang terbentuk akibat paparan radiasi latar dari alam pada tubuh adalah sekitar 1–2 dalam 1000 sel darah limfosit.
PERENCANAAN TANGGAP MEDIK PADA KEDARURATAN NUKLIR *) Wiharto, Kunto
Buletin Alara Vol 8, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.359 KB)

Abstract

PENDAHULUANDewasa ini pemanfaatan tenaga nuklir telah mempunyai lingkup yang demikian luas, baik di penelitian, kesehatan maupun industri, seperti yang tercantum pada Laporan Keselamatan Nuklir di Indonesia Tahun 2002 yang dipublikasikan oleh BAPETEN. Hingga tanggal 31 Desember 2002, tidak kurang dari izin untuk operasi 3 buah reaktor nuklir dan 33 izin pemanfaatan zat radioaktif/sumber radiasi di Badan Tenaga Nuklir Nasional telah diterbitkan. Selain itu telah pula diterbitkan sebanyak 2504 izin di sektor industri (radiografi, logging, gauging, dsb), dan 2338 izin di sektor kesehatan (radiodiagnostik, radioterapi, kedokteran nuklir)[1]. Pemanfaatan tenaga/teknologi nuklir tersebut pada umumnya dilaksanakan dengan menggunakan bahan radioaktif atau pesawat  pembangkit radiasi baik yang dilakukan di dalam suatu fasilitas maupun di lapangan. Dengan pesatnya perkembangan pemanfaatan radiasi tersebut untuk kegiatan pem- bangunan, apalagi dengan adanya opsi nuklir untuk keperluan pemenuhan kebutuhan energi ke depan yang tidak akan mampu lagi untuk dipenuhi dengan sumber energi konvensional maka di samping kegunaannya yang sangat besar bagi kesejahteraan manusia, potensi kecelakaan yang mungkin dapat terjadi dan dapat menimbulkan keadaan darurat perlu dicermati dan diantisipasi penanggulangannya  tidak terkecuali dari aspek medik.Menurut International Basic Safety Standards, yang dimaksud dengan kecelakaan adalah setiap kejadian yang tidak dikehendaki termasuk kesalahan operasi, kegagalan peralatan atau kesalahan-kesalahan lain, yang mempunyai akibat atau berpotensi menimbulkan akibat yang tidak dapat diabaikan dari segi proteksi atau Keselamatan [2]. Kecelakaan radiasi didefinisikan sebagai kejadian tak terduga yang meliputi pemaparan/pemajanan berlebih atau kontaminasi pada seseorang dan atau lingkungan dengan bahan radioaktif. Sedangkan menurut PP No. 63 Tahun 2000 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion, maka yang dimaksud dengan Kecelakaan Radiasi adalah kejadian yang tidak direncanakan termasuk kesalahan operasi, kegagalan fungsi alat atau kejadian lain yang menjurus timbulnya dampak radiasi, kondisi paparan radiasi dan atau kontaminasi yang melampaui batas Keselamatan [3].
PENGENALAN TEKNIK FISH UNTUK DETEKSI ABERASI KROMOSOM TRANSLOKASI AKIBAT RADIASI PENGION Lusiyanti, Yanti; Indrawati, Iwiq; Purnami, Sofiati
Buletin Alara Vol 8, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.319 KB)

Abstract

Perkembangan teknologi nuklir telah menjadi salah satu penopang pembangunan. Oleh karena itu aplikasi teknologi nuklir dalam segala bidang seperti energi listrik, industri, makanan dan pertanian, kesehatan, perlindungan lingkungan dan lain sebagainya merupakan topik yang sedang hangat dibicarakan. Di Jepang misalnya, sumbangan ekonomi total dari aplikasi teknik nuklir non-energi adalah kurang lebih 45% dari 150 milyar dolar US pada tahun 2000 lalu. Sedangkan di bidang pembangkit listrik, sebagai salah satu contoh, bahwa satu dari tiga lampu di Jepang berasal dari sumber energi nuklir. Di tingkat dunia, energi nuklir pun secara nyata ikut berperan dalam penyediaan listrik sebesar 25% di 17 negara penggunanya [1]. Pertumbuhan ekonomi terus bertambah di negara-negara sedang berkembang, terutama negara dengan jumlah penduduk sangat besar seperti Indonesia, yang akan terus bertambah kebutuhan ekonomi perkapitanya, juga biaya konsumsi untuk hidup yang lebih baik. Disamping besarnya pemanfaatan teknologi nuklir untuk kesejahteraan manusia, segi keselamatannya pun harus diperhitungkan, bahkan selalu diutamakan sehingga perlu suatu tindakan pemantauan agar dosis radiasi yang diterima seseorang karena pekerjaannya atau tindakan medik untuk diagnosis atau terapi tidak melebihi batas yang diijinkan. Selama proses penggunaan secara normal maupun saat terjadi kecelakaan radiasi pengion maka tubuh dapat menerima sejumlah tertentu dosis radiasi. Indikator biologik akibat pajanan radiasi pada tubuh meliputi kerusakan yang terjadi pada sistem hematopoetik, sel germinal atau sel dalam sistem imunitas, cairan tubuh, komponen biologik membran sel dan karakteristik genetik atau sitologik. Di samping itu terdapat gejala lain seperti epilasi, edema, eritema, dan absces. Perubahan sitogenetik merupakan indikator yang dapat diandalkan yang dapat dikaji menggunakan sel limfosit darah tepi. Penghitungan aberasi kromosom pada sel limfosit merupakan suatu metode yang sangat sensitif untuk digunakan sebagai dosimeter biologi. Aberasi kromosom yang diinduksi oleh radiasi pengion pada sel limfosit dibagi dalam dua kelompok utama, yaitu aberasi tidak stabil (kromosom disentrik, fragmen asentrik dan kromosom cincin sentrik), dan aberasi stabil (translokasi dan inversi). Kromosom disentrik diyakini sebagai indikator kerusakan yang paling dapat diandalkan di antara aberasi tidak stabil dan digunakan sebagai dosimeter biologi pada individu yang terpajan secara akut dalam kasus kecelakaan radiasi yang pemeriksaannya harus dilakukan sesegera mungkin [2].
EFEK PEWARISAN AKIBAT RADIASI PENGION Alatas, Zubaidah
Buletin Alara Vol 8, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.267 KB)

Abstract

Paparan radiasi pada tubuh dapat menimbulkan kerusakan baik pada tingkat moleku- ler, seluler ataupun jaringan/organ. Dosis radiasi harus mencapai tingkat ambang tertentu untuk dapat menimbulkan kerusakan akut, tetapi tidak sama halnya untuk kerusakan genetik atau induksi kanker. Secara teori, dosis radiasi sangat rendah sudah cukup untuk menimbulkan kerusakan, berarti bahwa tidak ada tingkat dosis radiasi yang dapat dinyatakan aman bagi manusia. Pada saat yang bersamaan, tidak ada tingkat dosis yang berbahaya secara homogen. Bahkan pada dosis yang relatif lebih tinggi tidak setiap orang akan mengalami tingkat kerusakan yang sama karena adanya perbedaan tingkat kemampuan dan ketepatan mekanisme perbaikan terhadap kerusakan yang timbul akibat radiasi. Kematian sel terjadi bila tubuh terpajan radiasi dengan dosis relatif tinggi. Bila dalam waktu yang tidak terlalu lama, tubuh tidak mampu untuk menggantikan sejumlah sel yang mengalami kematian, maka akan timbul efek akut yang dapat segera diamati secara klinik. Pada rentang dosis rendah, radiasi dapat menginduksi terjadinya serangkaian perubahan pada tingkat molekuler dan seluler yang tidak menyebabkan kematian sel tetapi menyebabkan perubahan pada materi genetik sel sehingga terbentuk sel baru yang bersifat abnormal. Sel seperti ini berpotensi untuk mengarah pada pembentukan kanker dan/atau kerusakan genetik yang dapat diwariskan. Kerusakan yang terjadi dapat diperbaiki tanpa kesalahan sehingga struktur DNA kembali seperti semula dan tidak menimbulkan perubahan fungsi pada sel. Tetapi dalam kondisi tertentu, proses perbaikan tidak berjalan sebagaimana mestinya sehingga walaupun kerusakan dapat diperbaiki tetapi tidak secara tepat atau sempurna sehingga menghasilkan DNA dengan struktur yang berbeda, yang dikenal dengan mutasi. Kerusakan yang terjadi pada sebuah sel somatik yang tidak dapat mengalami proses perbaikan secara benar dan tepat maka akan terjadi mutasi somatik. Tetapi bila kerusakan terjadi pada sel telur atau sel sperma, maka akan terjadi mutasi genetik. Sebuah mutasi genetik berpotensi untuk menimbulkan perubahan yang dapat diamati pada generasi berikutnya.
APLIKASI PERUNUT ISOTOP DALAM BIDANG BIOMEDIKA Darlina, Darlina
Buletin Alara Vol 8, No 2 (2006): Desember 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (699.403 KB)

Abstract

Mahluk hidup dan segala sesuatu yang ada Mahluk hidup dan segala sesuatu yang ada di alam terdiri dari berbagai macam sel, dan jaringan yang tersusun oleh atom atom yang berbeda. Setiap atom terdiri dari sebuah inti yang mengandung proton dan  neutron serta lapisan luar yang terdiri dari elektron yang bergerak mengelilingi inti. Jika jumlah proton sama dengan jumlah elektron maka muatan listrik atom dikatakan neutral. Jumlah proton atau elektron membedakan suatu unsur kimia yang satu dengan yang lainnya. Sebuah unsur yang identik dari sifat materi kimia dapat sedikit berbeda dalam beratnya. Karakteristik ini dapat diterangkan bahwa atom pada unsur yang sama dapat mempunyai jumlah neutron yang berbeda dalam intinya. Perbedaan bentuk ini dikenal dengan nama isotop. Contoh unsur karbon yang mempunyai 3 isotop alamiah yaitu C-12, C-13, C-14. Ketiga isotop ini mempunyai sifat kimia yang sama karena jumlah protonnya sama tetapi jumlah neutronnya berbeda, hal ini mempengaruhi sifat fisik pada tiap atom. Jika jumlah neutron sama atau lebih dari jumlah proton maka inti jadi stabil dan disebut isotop stabil. Bila jumlah neutron lebih sedikit dari jumlah proton inti tidak stabil maka inti akan melepaskan energinya berupa radiasi. Isotop dengan inti tidak stabil ini dikenal dengan nama radioisotop [1]. Awal mula isotop digunakan sebagai perunut dalam bidang biologi adalah George Hevesy’s bekerja sama dengan Hans Geiger dan Ernst Rutherfod bereksperimen meng- gunakan Thorium-B untuk mempelajari absorbsi dan lokalisasi unsur Pb di tanaman pada tahun 1923. Untuk mempelajari fisiologi mahluk hidup diperlukan unsur isotop yang aktif secara biologi dan mempunyai berat molekul yang ringan. Setelah ditemukannya deuterium oleh H.C. Urey pada tahun 1932 kemudian diikuti oleh sejumlah penemuan isotop-isotop radioaktif. Pemakaian perunut radioisotop mulai dikembangkan setelah Ernest O. Lawrence pada tahun 1932 berhasil membuat siklotron yang dapat meng- hasilkan radioisotop’artifisial” (buatan), kemudian diikuti oleh produksi radiosodium yang diperoleh dengan menembak sodium dengan deutron pada tahun 1934, sehingga membuka jalan untuk membuat perunut bernilai secara fisiologi.Pemakaian radioisotop mulai digunakan dalam bidang Biomedika setelah George Hevesy’s, Otto Chiewitz, Hardin Jones, Waldo Cohn dan John Lawrence dengan sukses dalam menggunakan P-32 untuk berbagai penelitian mengenai metabolisme pada tahun 1936 [2]. Kemudian John Lawrence menggunakan P-32 untuk penelitian pada penyakit Leukimia.

Page 1 of 1 | Total Record : 6