Buletin Alara
ISSN : -     EISSN : -
Buletin Alara terbit pertama kali pada Bulan Agustus 1997 dengan frekuensi terbit tiga kali dalam setahun (Agustus, Desember dan April) ini diharapkan dapat menjadi salah satu sarana informasi, komunikasi dan diskusi di antara para peneliti dan pemerhati masalah keselamatan radiasi dan lingkungan di Indonesia
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 8, No 1 (2006): Agustus 2006" : 6 Documents clear
ANALISIS UNSUR KELUMIT MELALUI PANCARAN SINAR-X KARAKTERISTIK Akhadi, Mukhlis
Buletin Alara Vol 8, No 1 (2006): Agustus 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.964 KB)

Abstract

PENDAHULUANPenemuan sinar-X oleh fisikawan Jerman Wilhelm Conrad Roentgen pada tahun 1895 ternyata mampu mengantarkan ke arah terjadinya perubahan mendasar dalam bidang kedokteran. Manusia mendapatkan jalan dalam memanfaatkan sinar-X penemuan W.C. Roentgen terutama untuk radiodiagnosa dalam bidang medis. Sinar X mampu membedakan kerapatan dari berbagai jaringan dalam tubuh manusia yang dilewatinya. Dengan penemuan sinar-X ini, informasi mengenai tubuh manusia menjadi mudah diperoleh tanpa perlu melakukan operasi bedah. Proses pembuatan gambar anatomi tubuh manusia dengan sinar-X dapat dilakukan pada permukaan film fotografi. Gambar terbentuk karena adanya perbedaan intensitas sinar-X yang mengenai permukaan film setelah terjadinya penyerapan sebagian sinar-X oleh bagain tubuh manusia. Daya serap tubuh terhadap sinar-X sangat bergantung pada kandungan unsur-unsur yang ada di dalam organ. Tulang manusia yang didominasi oleh unsur Ca mempunyai kemampuan menyerap yang tinggi terhadap sinar-X. Karena penyerapan itu maka sinar-X yang melewati tulang akan memberikan bayangan gambar pada film yang berbeda dibandingkan bayangan gambar dari organ tubuh yang hanya berisi udara seperti paruparu, atau air seperti jaringan lunak pada umumnya. Jadi pada prinsipnya, bayangan gambar anatomi terbentuk karena adanya perbedaan kemampuan dalam menyerap maupun meneruskan sinar-X yang ada di dalamk organ.
PEMANFAATAN RADIOISOTOP UNTUK MENCEGAH RESTENOSIS PADA JANTUNG Awaludin, Rohadi
Buletin Alara Vol 8, No 1 (2006): Agustus 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.229 KB)

Abstract

PENDAHULUANJumlah penderita penyakit jantung terus meningkat dari hari ke hari, diikuti dengan angka kematian yang menunjukkan kenaikan. Salah satu bentuk serangan jantung adalah terjadinya penyempitan pembuluh darah jantung yang mengakibatkan pasokan oksigen dan zat lainnya ke organ tersebut tidak lancar. Penderita penyempitan pembuluh darah ini dapat ditangani menggunakan metode angioplasty, yaitu metode penanganan dengan melebarkan pembuluh darah yang menyempit. Pembuluh darah dilebarkan dengan cara memasukkan balon yang dapat digelembungkan ke daerah penyempitan menggunakan catheter melalui pembuluh darah. Untuk mencegah terjadi- nya penyempitan kembali (restenosis), dipasang “penyangga” pembuluh darah (coronary stent) yang sering disebut dengan stent. Di Amerika Serikat, pemasangan stent dapat menurunkan terjadinya restenosis dari 50% menjadi 20%. Sedangkan di Jepang dilaporkan bahwa metode ini berhasil menurunkan terjadinya restenosis menjadi 30%. Penggunaan stent telah direkomendasikan oleh badan pengawas obat dan makanan Amerika Serikat, Food and Drug Administration (FDA) pada tahun 1994 [1,2]. Pemasangan stent ternyata belum mampu menuntaskan terjadinya restenosis. Penyempitan kembali setelah pemasangan stent dapat terjadi karena pertumbuhan sel secara tidak normal di daerah bekas penyempitan. Oleh sebab itu, terjadinya resteno- sis dapat dicegah dengan cara menekan pertumbuhan sel ini. Beberapa upaya telah dilakukan untuk menekan terjadinya pertumbuhan sel ini, diantaranya pemanfaatan radiasi pengion. Radiasi pengion telah terbukti efektif untuk menekan pertumbuhan sel dan diharapkan dapat menjadi solusi untuk tantangan ini [1,3].
LAYANAN PEMANTAUAN DOSIS TARA PERORANGAN EKSTERNAL DI LABORATORIUM KESELAMATAN, KESEHATAN, DAN LINGKUNGAN PTKMR – BATAN *) Rohmah, Nur; Tuyono, Tuyono; Herlina, Nina; Syaifudin, Rofiq
Buletin Alara Vol 8, No 1 (2006): Agustus 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.251 KB)

Abstract

PENDAHULUANPada saat ini perkembangan pemanfaatan radiasi pengion di berbagai bidang terutama industri dan kesehatan semakin meningkat seiring dengan laju perkembangan pemanfaatan iptek nuklir di berbagai bidang. Pemanfaatan radiasi pengion disamping memberikan manfaat, juga dapat memberikan dampak radiologis atau resiko terkena pajanan radiasi bagi para pekerja selama melaksanakan pekerjaannya. Dalam pemanfaatan radiasi pengion, faktor keselamatan terhadap para pekerjanya harus mendapat prioritas utama. Hal tersebut didasarkan pada Peraturan Pemerintah (PP) RI No.63 Tahun 2000 tentang Keselamatan dan Kesehatan terhadap Radiasi Pengion (α,β,γ,x,n), yang umum disebut keselamatan radiasi. Dalam pasal 10 disebutkan bahwa “Pengusaha instalasi harus mewajibkan setiap pekerja radiasi untuk memakai peralatan pemantau dosis perorangan, sesuai dengan jenis instalasi dan sumber radiasi yang digunakan (ayat 1)”. Untuk itu, para pekerja radiasi perlu memakai peralatan pemantau dosis perorangan untuk mendapatkan layanan pemantauan dosis tara perorangan secara rutin terutama dari sumber radiasi eksternal, sehingga dosis yang diterima oleh para pekerja radiasi selama menjalankan pekerjaannya dapat diketahui. Sedangkan pada ayat 2 disebutkan bahwa “Peralatan pemantau dosis perorangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus diolah dan dibaca oleh instansi atau badan yang telah terakreditasi dan ditunjuk oleh Badan Pengawas”. Laboratorium Keselamatan, Kesehatan, dan Lingkungan (LKKL) – Unit Keselamatan, Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi – Badan Tenaga Nuklir Nasional merupakan laboratorium penguji yang telah terakreditasi oleh Komite Akreditasi Nasional (LP-206-IDN) dan ditunjuk oleh Badan Pengawas (BAPETEN).
SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN RADIASI Jumpeno, B.Y. Eko Budi
Buletin Alara Vol 8, No 1 (2006): Agustus 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.127 KB)

Abstract

PENDAHULUANPemanfaatan tenaga nuklir pada saat sekarang ini sudah sangat luas, mencakup hampir semua sendi kehidupan manusia, misalnya bidang kesehatan, industri, pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pembangkitan energi dan lain sebagainya. Data bulan Juni 2005 yang ada pada Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) tercatat 3162 izin pemanfaatan di bidang industri dan 2958 izin pemanfaatan di bidang kesehatan. Izin pemanfaatan tersebut tidak termasuk izin pemanfaatan zat radioaktif dan/atau sumber radiasi lainnya (misalnya pesawat sinar-X dan mesin berkas elektron atau dikenal dengan nama MBE) untuk keperluan penelitian, pendidikan dan pelatihan yang umumnya dimiliki oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan institusi pendidikan tinggi yang memiliki laboratorium pengguna zat/radioaktif dan/atau sumber radiasi, misalnya Program Studi Teknik Nuklir, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Namun sebagaimana teknologi lainnya, teknologi nuklir juga memiliki dampak negatif apabila tidak ditangani dengan benar. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan (manajemen) yang tepat dalam hal pemanfaatan tenaga nuklir khususnya pemanfatan zat radioaktif dan/atau sumber radiasi lainnya. Sistem manajemen yang digunakan di dalam pengelolaan zat radioaktif dan/atau sumber radiasi lainnya dikenal dengan sebutan sistem manajemen keselamatan radiasi atau disingkat SMKR.
PEMANTAUAN LINGKUNGAN PADA KEGIATAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR Sutarman, Sutarman
Buletin Alara Vol 8, No 1 (2006): Agustus 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.14 KB)

Abstract

Kemajuan tingkat kehidupan suatu bangsa biasanya dilihat dari peningkatan kebutuhan energi listrik oleh masyarakat. Jumlah penduduk yang terus meningkat memerlukan energi listrik untuk membantu dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, misalnya untuk kegiatan rumah-tangga, komersil, industri, dan transportasi. Energi listrik tidak tersedia dalam bentuk siap pakai, namun dapat diperoleh dari sumber daya alam melalui berbagai proses konversi dari beberapa pembangkit, misalnya Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) menggunakan sumber daya alam air, Pusat Listrik Tenaga Uap (PLTU) menggunakan sumber daya alam batubara atau minyak atau gas, Pusat Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) menggunakan bahan bakar nuklir (uranium), dan masih banyak lagi sumber daya alam yang dapat dipakai untuk pembangkit energi listrik (angin, matahari, panas bumi, gelombang laut, dan biomasa). Seluruh kegiatan pembangkit energi listrik dapat menimbulkan dampak negatif terhadap manusia dan lingkungan.
TEKNOLOGI NUKLIR DALAM PENGENDALIAN VEKTOR PENYAKIT MALARIA Nurhayati, Siti
Buletin Alara Vol 8, No 1 (2006): Agustus 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.579 KB)

Abstract

Penyakit malaria merupakan penyakit yang sampai saat ini masih menjadi masalah utama kesehatan masyarakat di dunia dan Indonesia khususnya yang belum bisa ditangani secara tuntas. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi parasit Plasmodium sp yang disebarkan oleh nyamuk betina Anopheles sp dan ditularkan dari orang sakit ke orang yang sehat melalui gigitan nyamuk tersebut sebagai vektor malaria [1]. Tercatat ada 4 spesies parasit penyebab malaria yaitu Plasmodium ovale, Plasmodium malariae, Plasmodium vivax dan Plasmodium falciparum. Yang terakhir ini yang paling ganas, karena dapat menyebabkan kematian, terutama pada anak-anak dibawah usia lima tahun. Parasit yang ditularkan lewat nyamuk biasanya masuk ke hati dan berubah menjadi merozoites, masuk ke aliran darah, menginfeksi sel darah merah dan berkembang biak. Gejala tiap jenis malaria biasanya berupa meriang, panas dingin menggigil dan keringat dingin. Dalam beberapa kasus yang tidak disertai pengobatan, gejala-gejala ini muncul kembali secara periodik. Jenis malaria yang paling ringan adalah malaria Tertiana yang disebabkan oleh Plasmodium vivax, dengan gejala demam yang dapat terjadi setiap dua hari sekali setelah gejala pertama terjadi (dapat terjadi selama 2 minggu setelah infeksi). Demam rimba (jungle fever), malaria aestivo- autumnal atau disebut juga malaria tropika, disebabkan oleh Plasmodium falciparum merupakan penyebab sebagian besar kematian akibat malaria. Organisme bentuk ini sering menghalangi jalan darah ke otak, menyebabkan koma, mengigau serta kematian. Malaria kuartana yang disebabkan oleh Plasmodium malariae, memiliki masa inkubasi lebih lama dari pada penyakit malaria tertiana atau tropika; gejala pertama biasanya tidak terjadi antara 18-40 hari setelah infeksi terjadi. Gejala tersebut kemudian akan terulang kembali setiap 3 hari dan ini merupakan jenis malaria yang paling jarang ditemukan, disebabkan oleh Plasmodium ovale dan mirip dengan malaria teriana.

Page 1 of 1 | Total Record : 6