Buletin Alara
ISSN : -     EISSN : -
Buletin Alara terbit pertama kali pada Bulan Agustus 1997 dengan frekuensi terbit tiga kali dalam setahun (Agustus, Desember dan April) ini diharapkan dapat menjadi salah satu sarana informasi, komunikasi dan diskusi di antara para peneliti dan pemerhati masalah keselamatan radiasi dan lingkungan di Indonesia
Articles 6 Documents
Search results for , issue " Vol 7, No 3 (2006): April 2006" : 6 Documents clear
APOPTOSIS DAN RESPON BIOLOGIK SEL SEBAGAI FAKTOR PROGNOSA RADIOTERAPI KANKER Nurhayati, Siti; Lusiyanti, Yanti
Buletin Alara Vol 7, No 3 (2006): April 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (949.548 KB)

Abstract

Kanker merupakan masalah paling utama dalam bidang kedokteran dan merupakan salah satu dari 10 penyebab kematian utama di dunia serta merupakan penyakit keganasan yang bisa mengakibatkan kematian pada penderitanya karena sel kanker merusak sel lain. Sel kanker adalah sel normal yang mengalami mutasi/perubahan genetik dan tumbuh tanpa terkoordinasi dengan sel-sel tubuh lain. Proses pembentukan kanker (karsinogenesis) merupakan kejadian somatik dan sejak lama diduga disebabkan karena akumulasi perubahan genetik dan epigenetik yang menyebabkan perubahan dalam pengaturan normal kontrol molekuler perkembang biakan sel. Perubahan genetik tersebut dapat berupa aktivasi proto-onkogen dan atau inaktivasi gen penekan tumor yang dapat memicu pembentukan tumor. Berbagai macam percobaan (bahkan sampai jutaan) telah dilakukan untuk mempelajari karakteristika suatu kanker dengan menggunakan hewan percobaan seperti tikus, mencit, anjing, domba, bahkan organisme bersel tunggal, dll [1].
TINDAKAN PROTEKTIF TERHADAP KELENJAR TIROID PADA KECELAKAAN RADIASI Syaifudin, Mukh; Nazir, Fadil
Buletin Alara Vol 7, No 3 (2006): April 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.603 KB)

Abstract

Kata-kata ”radiasi” dan ”nuklir” bagi orang awam adalah sesuatu yang menakutkan. Hal ini cukup beralasan karena nuklir pertama kali dikenali karena efek negatifnya. Hal ini juga tidak selamanya benar karena radiasi terbukti merupakan suatu alat dan teknologi yang telah dipergunakan secara meluas untuk membantu kebutuhan manusia seperti dalam hal kesehatan, makanan dan pertanian, industri, energi dan lingkungan. Banyak data dan informasi mengenai pemanfaatan teknologi berbasis radiasi ini, bahkan tidak dapat diperoleh atau dilakukan melalui teknologi lain, dan hasilnya pun dapat diandalkan (impresif). Sebagai contoh lebih dari 25 juta prosedur pencitraan nuklir dilakukan setiap tahunnya di seluruh dunia untuk diagnosa penyakit, dan setiap tahun hampir 10 juta orang memanfaatkan radiofarmasi (obat mengandung zat radioaktif) terutama untuk pengobatan kanker. Pada saat yang sama, teknik molekuler dan radioisotop saat ini sedang digunakan untuk mengembangkan teknologi dan pengukuran yang lebih efektif untuk melawan dan memberantas penyakit infeksi seperti malaria, hepatitis dan tuberkulosis. Teknologi berbasis radiasi yang telah terbukti efektif selama berpuluh-puluh tahun ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia pada hampir setiap sektor kehidupan.
KONSEKUENSI KECELAKAAN REAKTOR CHERNOBYL TERHADAP KESEHATAN DAN LINGKUNGAN Alatas, Zubaidah
Buletin Alara Vol 7, No 3 (2006): April 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.42 KB)

Abstract

Kecelakaan nuklir yang paling parah dalam sejarah industri nuklir terjadi pada tanggal 26 April 1986 di Unit 4 reaktor instalasi daya nuklir Chernobyl di negara yang dulu dikenal sebagai Republik Ukrainian, Soviet Union. Ledakan yang menghancurkan pengungkung dan struktur inti reaktor (Gambar 1) menimbulkan kebakaran selama 10 hari dan menyebabkan terjadinya pelepasan sejumlah besar materi radioaktif ke lingkungan. Awan yang berasal dari reaktor yang terbakar tersebut menyebarkan berbagai jenis radionuklida, terutama yodium (131I) dan cesium(137Cs), ke hampir seluruh bagian Eropa. Radionuklida 131I, senyawa yang mempunyai organ target kelenjar tiroid dan berumur paro pendek (8 hari), terlepas ke lingkungan dalam jumlah yang banyak pada beberapa minggu pertama kecelakaan. Sedangkan radionuklida 137Cs yang mempunyai waktu paro lebih lama (30 tahun), memberikan kontribusi paparan radiasi eksterna dan interna pada tubuh, masih terdeteksi keberadaannya dalam tanah dan pada beberapa makanan yang berasal dari beberapa wilayah di Eropa. Deposit radionuklida paling besar terjadi di wilayah sekitar reaktor yang sekarang dikenal sebagai Negara Belarus, Federasi Rusia, dan Ukraina (Gambar 2).
PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA RADIASI DI PTKMR Evalisa, Maria; Alatas, Zubaidah
Buletin Alara Vol 7, No 3 (2006): April 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.83 KB)

Abstract

Aplikasi radiasi di berbagai bidang disertai dengan risiko kesehatan bagi para pekerjanya. Berbagai efek radiasi baik yang termasuk sebagai efek deterministik maupun stokastik telah cukup dikenal. Untuk mencegah dan mengurangi efek radiasi tersebut harus dilakukan upaya proteksi dalam setiap aplikasi radiasi, antara lain upaya berupa pengawasan terhadap kesehatan para pekerja radiasi.
SANGAT PENTING, PEMERIKSAAN KESEHATAN PEKERJA RADIASI Tetriana, Devita; Evalisa, Maria
Buletin Alara Vol 7, No 3 (2006): April 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.587 KB)

Abstract

Penggunaan teknologi nuklir untuk kebutuhan manusia telah berkembang pesat meliputi seluruh lapangan kehidupan. Walaupun jelas sekali manfaat telah dipetik oleh umat manusia dari penggunaan teknologi nuklir, sisi bahaya yang dapat ditimbulkan- nya tidak boleh diabaikan terutama bagi mereka yang karena tugasnya langsung berhadapan dengan bahaya ini. Masalahnya adalah menjaga agar dalam menggunakan teknologi nuklir yang melibatkan penggunaan radiasi pengion, dosis radiasi yang diterima oleh pekerja radiasi harus selalu berada dalam batas-batas yang diijinkan, sehingga risiko yang diterima baik oleh pekerja radiasi maupun oleh penduduk secara keseluruhan tidak berlebihan. Ketentuan Keselamatan Radiasi tertuang dalam Penjelasan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 63 tahun 2000 mengenai ”Keselamatan dan Kesehatan Terhadap Pemanfaatan Radiasi Pengion”. Secara umum PP ini dimaksudkan sebagai pelaksanaan Undang-undang Nomor 10 Tahun 1997 tentang Ketenaganukliran. Didalamnya diatur tidak saja keselamatan kerja, tetapi juga keselamatan masyarakat dan lingkungan hidup serta tanggung jawab dan kewenangan Badan Pengawas, penguasa instalasi, petugas proteksi radiasi, serta pekerja radiasi dalam pemanfaatan tenaga nuklir sesuai dengan pola kerja yang selalu melaksanakan budaya keselamatan (safety culture), sehingga jelas siapa yang bertanggung jawab apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dalam pemanfaatan tersebut. Sasaran PP adalah terwujudnya situasi agar setiap pemanfaatan tenaga nuklir berwawasan keselamatan dan lingkungan.
PERKEMBANGAN TENAGA NUKLIR DI DUNIA Suhariyomo, Gatot
Buletin Alara Vol 7, No 3 (2006): April 2006
Publisher : BATAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.317 KB)

Abstract

Percobaan senjata nuklir buatan manusia telah menambah radioaktivitas yang telah ada secara alami dalam skala dunia. Walaupun percobaan senjata nuklir dikurangi secara besarbesaran sejak tahun 1962, ketakutan akan perang nuklir tetap ada. Pembangunan tenaga nuklir untuk maksud damai berjalan terus dan harus dipercepat, karena persediaan bahan bakar fosil (seperti bensin, minyak tanah dan lain-lain) sudah menipis. Hal ini berarti dengan bertambahnya tenaga nuklir, kekurangan energi listrik dapat diatasi. Akan tetapi volume limbah radioaktif harus diantisipasi, dipantau dan dikendalikan, seperti yang harus dilakukan terhadap bahan berbahaya dan beracun (B3) [1]. Letusan gunung St. Helens lebih berbahaya dibandingkan dengan bencana nuklir di Three Mile Island (TMI) pada tahun 1979, karena gunung tersebut mengeluarkan jauh lebih banyak zat dan sinar radioaktif ke atmosfer [2]. Jika dioperasikan secara layak, reaktor nuklir tidak memberikan resiko kesehatan yang berarti. Kecelakaan nuklir terhitung sebagai kecelakaan berdampak besar, namun berpeluang kecil untuk terjadinya kecelakaan. Hal ini terjadi dalam bencana Chernobyl pada tahun 1986, yakni melelehnya inti sebuah reaktor nuklir yang menyebabkan lolosnya radioaktif. Tetapi di Amerika Serikat dan beberapa negara tidak ada reaktor yang desainnya serupa dengan reaktor Chernobyl. Resiko dan pengelolaan limbah tenaga nuklir (titik awal dan akhir daur bahan bakar) juga merupakan persoalan yang umum diperdebatkan. Akan tetapi hal ini sudah banyak diantisipasi dengan salah satu metode pengelolaan limbah puluhan bahkan ratusan km di bawah tanah yang dikungkung beton di sekelilingnya atau juga disebut penyimpanan limbah lestari. Pada makalah ini akan dikemukakan tentang perkembangan tenaga nuklir di dunia, sekaligus pokok-pokok permasalahannya serta pengelolaan limbah nuklir ke lingkungan, dan pemecahan untuk menganalisa permasalahan yang ada. Hal ini perlu diketahui sebagai bahan pertimbangan untuk dapat mengantisipasi hal-hal yang tidak diharapkan mungkin terjadi, mengingat pemerintah Indonesia berencana akan membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di masa yang akan datang.

Page 1 of 1 | Total Record : 6